Nur Kholis, Mohammad Maulana
LPPM Institut Pesantren KH. Abdul Chalim

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Ayat Toleransi Prespektif Ibnu Jarir Ath-Thobari Nur Kholis, Mohammad Maulana
Al-Mada: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya Vol 2 No 1 (2019): Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : LPPM Institut Pesantren KH. Abdul Chalim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (834.863 KB) | DOI: 10.31538/almada.v2i1.225

Abstract

Ibnu Jarir Ath-Thabari he is one of the mufassir scholrs who handed dwon the verse of the Quran using the Bil Ma’stur method (interpreting the verse with periwayatan). He sendiai manpret the Al Baqarah verse 256 with the periwayatan path, both from the hadist and the mufassirin before, in lafadz “there is no complusion to (enter) Islam as someone is not forced to convert to Islam, the latters Alif and Lam actually entered lafadz to clarify the lafadz that Allah intended in his word there is no complusiaon to enter it, nemely Islam. And bloch Came in. Alif and Lam as a subtitute for the latter ha wich was hidden in the lafadz call, than the meaning the verse when Allah is haigh and great, there is no compulistion to enter His religion, in fact the ruth is clear from the wrong path. In my opinion, this opinion is more concred with verse revelation, in Lafadz uall the most apropriate opinio about the meaning in my opinion is, that every person who was adultery with Allah, then mean worshiping other than him, sometimes by forcing others for worship him, sometime people on the basis ofthe  willingness of the those who worship themselves. The wor ship was also in the form of humans, ghost, statuse, idols, and others.
Hukum Mengamalkan Hadist Dhaif dalam Fadhail A'mal: Studi Teoritis dan Praktis Nur Kholis, Mohammad Maulana
Al-Tsiqoh : Jurnal Ekonomi dan Dakwah Islam Vol 1 No 2 (2016): Dakwah Islam
Publisher : Institut Pesantren KH Abdul Chalim Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB)

Abstract

Di era sekarang muncul golongan baru yang mengaku ahli sunnah tetapi tidak paham sunnah, hanya belajar dari buku, tidak duduk dihadapan para guru, tidak memiliki sanad keilmuan yang muttasil kepada Rasulullah, hobinya mendhoifkan hadist, suka membid’ahkan amalan, bahkan mengkafirkan sesama, suka menghukumi sohih dan dhoif suatu hadist sesuai dengan hawa nafsunya sendiri. Golongan ini beranggapan bahwa hadist dhoif harus ditolak dan tidak boleh diamalkan, hadist shohih dan hasan saja yang boleh diamalkan. Tentunya anggapan ini sangat bertentangan dengan pandangan para muhadisin dan fuqoha’. Maka dari itu, penelitian ini dikaji untuk mencari informasi yang detail dan akurat berkaitan dengan hukum mengamalkan hadist dhaif dalam fadhoil a’mal, bahkan dalam syariat islam dengan pendekatan teoritis dan praktis. Dari penelitian ini, penulis mengambil kesimpulan dengan yakin bahwa hadist dhaif dapat diamalkan dengan syarat tingkat kedhaifan hadist tidak syadid (sangat lemah) apalagi maudlu (palsu), hadist dhaif tersebut masuk dalam salah satu kaidah islam dan ketika mengamalkan hadist tersebut tidak meyakini kebenarannya. Ini adalah kesepakatan para muhadisin dan fuqoha’. Sehingga anggapan orang yang mengatakan bahwa hadist dhoif tidak boleh diamalkan adalah anggapan yang salah