Maskhur, Maskhur
IAIN Pekalongan

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

FORMALISASI DAN TRANSFORMASI PENDIDIKAN PESANTREN Takrifin, Ahmad; Muhlisin, Muhlisin; Maskhur, Maskhur; Ula, Miftahul
Jurnal Penelitian Vol 5 No 2: Nopember 2008
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.015 KB) | DOI: 10.28918/jupe.v5i2.244

Abstract

Kajian ini menyimpulkan bahwa upaya formalisasi pendidikan pesantren yang dilaksanakan pada beberapa pesantren di Kota Pekalongan dengan orientasi "setengah hati", tidak diikuti pendirian lembaga pendidikan formal, justru berdampak negatif terhadap perkembangan pesantren. Sebaliknya, jika diikuti dengan pendirian lembaga pendidikan formal seperti MTs dan MA maka berpengaruh terhadap perkembangan pesantren secara kondusif. Formalisasi pesantren juga berdampak terhadap pergeseran pola kepemimpinan pesantren, dari kepemimpinan individu ke kepemimpinan kolektif yayasan; dari sistem pendidikan tradisional ke sistem pendidikan persekolahan; dari kurikulum kitab kuning oriented ke kurikulum integrative; dan dari metode tradisional salafi yang kyai oriented (weton, sorogan, hapalan, ceramah) ke metode student oriented (diskusi, resitasi, problem solving, kerja kelompok) dan lain-lain. Yang menarik, ketika pesantren-pesantren yang diteliti memformalisasikan pendidikannya, kurikulum pesantren salaf yang berbasis kitab kuning tetap dipertahankan, sedangkan ilmu umum hanya dijadikan pendukung ilmu agama yang ada di kurikulum salaf. Ilmu umum dipandang sebagai kebutuhan/tantangan modernisasi pendidikan.
CORAK PENGALAMAN KEAGAMAAN MAHASISWA STAIN PEKALONGAN Takrifin, Ahmad; Maskhur, Maskhur; Untung, Moh. Slamet; Fateh, Moh.
Jurnal Penelitian Vol 6 No 2: Nopember 2009
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.253 KB) | DOI: 10.28918/jupe.v6i2.224

Abstract

Riset ini mengkaji pengalaman keagamaan mahasiswa STAIN Pekalongan dan pengaruhnya terhadap perubahan (konversi) keagamaan mereka dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasil kajian menunjukkan bahwa corak pengalaman keagamaan mahasiswa STAIN Pekalongan sangat mempengaruhi konversi keagamaan mereka. Corak kesadaran beragama mereka sebagai dampak konversi keagamaan mereka pun ada yang berpengaruh positif dan ada juga yang negatif,  baik bersifat drastis maupun bertahap. Temuan lain, konversi keagamaan tidak selalu terjadi pada masa usia dewasa pertengahan (40-60 tahun) yang dianggap  sebagai masa kematangan beragama, tetapi bisa terjadi pada masa remaja akhir dan dewasa awal (18-39 tahun). Faktor yang mempengaruhinya pun bermacam-macam, ada internal: kepribadian dan pembawaan maupun eksternal: keluarga, pendidikan, organisasi kemasyarakatan, tradisi keagamaan, dan lain-lain.
Harmoni Client Centered Therapy Dalam Bimbingan Konseling Kelompok Dengan Al-Qur’an Surat Ar-Ra‘d Ayat 11 Lalis, Lalis; Maskhur, Maskhur
RELIGIA Vol 21 No 1: April 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.368 KB) | DOI: 10.28918/religia.v21i1.1496

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep Client Centered Therapy sebagai salah satu teknik bimbingan dan konseling kelompok dalam perspektif Al-Qur’an surah Ar-Ra’d ayat 11. Lebih khususnya, analisis difokuskan pada bagaimana Client Centred Therapy teori memandang manusia, tujuan terapi, teknik-teknik dalam proses terapi, serta hubungan antara konselor dengan konseli. Artikel ini berbasis pada penelitian deskriptif-kualitatif. Data diperoleh melalui teknik triangulasi, yang kemudian dianalisis secara interaktif. Hasil penelitian menunjukan bahwa teknik layanan bimbingan dan konseling kelompok dengan mengacu pada teori Client Centered Therapy selaras dengan al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 11. Teori Client Centered Therapy dan al-Qur’an surah Ar-Ra’d ayat 11, keduanya memandang bahwa teknik layanan bimbingan dan konseling kelompok mengandung makna pemberian kesempatan, peran, dan sekaligus penghargaan terhadap para konseli sebagai individu yang aktif, potensial, dan berdaya dalam menentukan arah bagi kebaikan pribadinya.