Wahyudiono, Ahmad Dian
PERHATI-KL

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan kadar leptin serum dengan derajat rinitis alergi Wahyudiono, Ahmad Dian; Retnoningsih, Endang; Rahaju, Pudji
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 41, No 1 (2011): Volume 41, No. 1 January - June 2011
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.611 KB) | DOI: 10.32637/orli.v41i1.56

Abstract

Background: Allergic rhinitis is a global health problem that could impair the patient’s quality of life. Recent studies had showed the role of leptin, a hormone that produced by adipose tissue, on sensitization process which can increase the serum level of B cells and IgE. Purpose: To define the relationship between serum leptin level with the degree of allergic rhinitis based on ARIA and VAS.Methods: This study involved 38 subjects with cross sectional design. Statistical analysis included t-test, logistic regression and Kruskal-Wallis. Results: This study showed serum leptin level has correlation with the degree of allergic rhinitis based on ARIA (p<0.05), specifically on the intensity of allergic rhinitis (p<0.05), but not with the degree of allergic rhinitis based on VAS. Conclusion: Serum leptin level has a role on the degree of allergic rhinitis specifically on the intensity but not on the severity of allergic rhinitis symptoms. Controlling the serum leptin level can be considered as health promotion for patient with allergic rhinitis. Further research focusing on controlling serum leptin level for allergic rhinitis symptoms is recommended. Keywords: allergic rhinitis, serum leptin level, degree of allergic rhinitis   Abstrak :  Latar belakang: Rinitis alergi merupakan masalah kesehatan global dan dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya. Beberapa penelitian telah menunjukkan peran leptin, hormon yang diproduksi oleh jaringan lemak, pada proses sensitisasi yang ditandai dengan kemampuan leptin meningkatkan sel B dan IgE. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kadar leptin serum dengan derajat rinitis alergi. Metode: Penelitian ini melibatkan 38 subjek dengan desain potong lintang untuk mengetahui hubungan kadar leptin serum dengan derajat rinitis alergi pada penderita rinitis alergi. Analisis statistik yang digunakan adalah uji t, uji regresi dan Kruskal-Wallis.Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar leptin serum berhubungan dengan derajat rinitis alergi berdasarkan ARIA (p<0,05) khususnya dengan intensitas keluhannya (p<0,05), namun tidak berhubungan dengan derajat rinitis berdasarkan VAS. Kesimpulan: Kadar leptin serum berhubungan dengan derajat rinitis alergi terutama pada intensitas keluhan dan bukan pada beratnya keluhan. Pengendalian kadar leptin serum dapat dipertimbangkan sebagai upaya memperbaiki kesehatan penderita rinitis alergi. Penelitian lebih lanjut yang menekankan pada pengendalian kadar serum leptin disarankan untuk mengendalikan keluhan rinitis alergi. Kata kunci: rinitis alergi, kadar leptin serum, derajat rinitis alergi
Hubungan kadar Interleukin-6 kolesteatoma dengan derajat kerusakan tulang pendengaran pasien otitis media supuratif kronis Widyatama, I Ketut Hary; Handoko, Edi; Wahyudiono, Ahmad Dian
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 44, No 2 (2014): Volume 44, No. 2 July - December 2014
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.165 KB) | DOI: 10.32637/orli.v44i2.89

Abstract

Latar belakang: Kolesteatoma adalah lesi keratin non-neoplastik yang berhubungan dengan proliferasi sel epitel dengan karakteristik morfologi yang menyimpang. Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) yang disertai dengan adanya kolesteatoma dapat mengganggu keseimbangan antara pembentukan tulang dengan resorpsi tulang. Kolesteatoma dapat menghasilkan sitokin-sitokin seperti interleukin-6 (IL-6) yang berperan dalam proses destruksi tulang pendengaran. Tujuan: Mengetahui distribusi derajat kerusakan tulang pendengaran pada pasien OMSK dengan kolesteatoma, rerata kadar IL-6 pada kolesteatoma, dan adanya hubungan antara kadar IL-6 pada kolesteatoma dengan derajat kerusakan tulang pendengaran pada pasien OMSK dengan kolesteatoma. Metode: Penelitian ini melibatkan 6 pasien dengan OMSK dengan kolesteatoma yang dilakukan operasi mastoidektomi. Satu pasien menderita OMSK dengan kolesteatoma bilateral dan dilakukan operasi mastoidektomi pada kedua telinganya. Derajat kerusakan tulang pendengaran dinilai dengan menggunakan kriteria Saleh danMills, sedangkan kadar IL-6 pada kolesteatoma diukur dengan menggunakan instrumen ELISA. Hasil:Derajat kerusakan tulang pendengaran tertinggi yang ditemukan adalah derajat 3 (28,57%), sedangkan derajat kerusakan tulang pendengaran yang terbanyak adalah derajat 2 (42,86%). Kadar IL-6 pada kolesteatoma yang tertinggi adalah 2290 pg/mL, sedangkan rerata kadar IL-6 pada kolesteatoma adalah 1778,57±392,616 pg/mL. Kesimpulan: Kadar IL-6 pada kolesteatoma tidak berhubungan dengan derajat kerusakan tulang pendengaran pada pasien OMSK dengan kolesteatoma (p=0,885).Kata kunci: Kadar IL-6 kolesteatoma, derajat kerusakan tulang pendengaran, OMSK dengan koles-teatoma. ABSTRACTBackgrounds: Cholesteatoma is non neoplastic keratinized lesion related to epithelial cell proliferation with deviated morphologic characteristic. Chronic Suppurative Otitis Media (CSOM) with cholesteatoma may cause imbalance between bone formation and resorption. Cholesteatoma may produce cytokines such as interleukin-6 (IL-6) which has a role in ossicle destruction. Objectives: To evaluate the distribution of ossicle destruction degree in CSOM with cholesteatoma patients, mean of IL-6 level in cholesteatoma and the relationship between IL-6 level in cholesteatoma and ossicle destruction degree in CSOM with cholesteatoma patients. Methods: This study involved 6 CSOM with cholesteatoma patients who underwent mastoidectomy. One patient had bilateral CSOM with cholesteatoma and underwent mastoidectomy in both ears. Ossicle destruction degree was determined by using Saleh and Mills criterias whereas IL-6 level in cholesteatoma was measured by using ELISA kit. Results: The highest ossicle destruction degree was the third degree (28.57%), whereas the most common ossicle destruction degree was the second degree (42.86%). The highest IL-6 level in cholesteatoma was2290 pg/mL, whereas mean of IL-6 level in cholesteatoma was 1778.57 ± 392.616 pg/mL. Conclusions: IL-6 level in cholesteatoma didn’t have relationship with ossicle destruction degree in CSOM with cholesteatoma patients (p=0,885).Keywords: IL-6 level in cholesteatoma, ossicle destruction degree, CSOM with cholesteatoma.
Hubungan Pemberian Kanamisin dengan Kejadian Ototoksik pada Penderita Tuberkulosis Multi Drug Resistance Wahyudin, William; Indrasworo, Dyah; Wahyudiono, Ahmad Dian
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 2 (2018): Volume 48, No. 2 July - December 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.043 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i2.266

Abstract

Latar Belakang: Ototoksik merupakan salah satu efek samping kanamisin yang sulit dihindari. Ototoksisitas kanamisin ditandai dengan gangguan pendengaran sensorineural yang progresif dan sering irreversible dimulai dari frekuensi lebih dari 8000 Hz yang akhirnya akan mengenai frekuensi yang lebih rendah jika terapi dilanjutkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kanamisin pada pasien tuberkulosis multi drug resistance (TB MDR) terhadap munculnya ototoksik dengan pemeriksaan audiometri. Metode: Penelitian observasional longitudinal dengan pendekatan cohort ini mengevaluasi fungsi pendengaran sebelum dan setelah pemberian kanamisin pada pasien TB MDR. Pemeriksaan fungsi pendengaran menggunakan audiometri nada murni. Kanamisin adalah aminoglikosida pilihan pada pasien dengan TB MDR yang akan diberikan secara injeksi intramuskular. Hasil: Uji Friedman’s menunjukkan ditemukan perubahan yang bermakna pada hasil pengukuran audiometri pada frekuensi tinggi antara pasca injeksi kanamisin bulan pertama, kedua, hingga kelima dengan hasil pengukuran sebelum terapi (p>0,05). Diagnosis ototoksisitas menggunakan kriteria American-Speech-Language-Hearing-Association (ASHA) dapat dideteksi sejak bulan pertama pemberian kanamisin (25%). Kesimpulan: Ada hubungan antara kejadian ototoksik dengan pemberian kanamisin pada penderita TB MDR. Telah terjadi ototoksisitas sejak injeksi kanamisin bulan pertama yang dideteksi dengan menggunakan pemeriksaan audiometri, dan bermakna secara statistik. Introduction: Ototoxicity is one of common side effects of kanamycin which is hard to avoid. Ototoxicity can be detected by a progressive and irreversible high frequency sensorineural hearing loss that can further affect low frequency if the therapy is continued. Kanamycin is the drug-of-choice  for TB MDR through intramuscular (IM)  injection. Purpose: This study aims to determine whether kanamycin can cause ototoxicity in patient with MDR TB  by using audiometry examination. Method: An observational longitudinal study with cohort design, evaluating patient’s hearing threshold before and after kanamycin IM injection once per month using pure tone audiometry. Result: A significant alteration in high pitch before and after injection of kanamycin was revealed with Friedman’s test (p<0.05) for hearing threshold using pure tone audiometry. Furthermore, using American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) the diagnosis of ototoxicity can be established since the first month of kanamycin injection in 25% of the subjects, and also 25% in the second month of injection. Conclusion: There is a significant connection between ototoxicity with kanamycin injection in MDR TB patients, statistically proven.  The ototoxicity can happen since the first month of injection, which can be detected using pure tone audiometry.