Cahyono, Arie
PERHATI-KL

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Ekstraksi benda asing gigi palsu di esofagus dengan esofagotomi servikal Cahyono, Arie; Hermani, Bambang; Hadjat, Fachri; Rahman, Sukri
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 42, No 1 (2012): Volume 42, No. 1 January - June 2012
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.986 KB) | DOI: 10.32637/orli.v42i1.36

Abstract

Background: Foreign body in the esophagus should be removed as soon as possible under optimal conditions to prevent complications. Esophagoscopy is a safe and effective procedure for foreign bodies removal in most cases, but in some cases esophagoscopy could not be performed or failed to extract the foreign body, necessitating surgery such as esophagotomy. Objective: To illustrate the cervical esophagotomy technique as a management of esophageal foreign bodies. Case: A 53-years old woman with a foreign body (dentures) in the esophagus that failed to be removed by esophagoscopy and need cervical esophagotomy. Management: Cervical esophagotomy was performed after esophagoscopy failed to remove the foreign body. Conclusion: Cervical esophagotomy is needed in cases of esophageal foreign body in which of esophagoscopy could not be performed or failed to remove the foreign body. Keywords : foreign body, denture, esophagus, cervical esophagotomy  Abstrak :  Latar Belakang: Benda asing di esofagus harus sesegera mungkin dikeluarkan dalam kondisi yang optimal untuk mencegah terjadinya komplikasi. Esofagoskopi adalah cara yang aman dan efektif untuk ekstraksi benda asing pada sebagian besar kasus, namun pada beberapa kasus tindakan esofagoskopi tidak dapat dilakukan atau gagal mengeluarkan benda asing, sehingga diperlukan tindakan bedah berupa esofagotomi. Tujuan: Kasus ini diajukan untuk mengilustrasikan teknik esofagotomi servikal sebagai penatalaksanaan benda asing esofagus. Kasus: Dilaporkan satu kasus wanita 53 tahun dengan benda  asing gigi palsu di esofagus yang gagal dikeluarkan dengan esofagoskopi sehingga diperlukan tindakan  esofagotomi servikal untuk mengambilnya. Penatalaksanaan: Dilakukan esofagotomi servikal setelah esofagoskopi gagal mengeluarkan benda asing. Kesimpulan: Esofagotomi servikal dilakukan untuk mengeluarkan benda asing di esofagus apabila tindakan esofagoskopi tidak dapat dilakukan atau gagal mengeluarkan benda asing. Kata kunci : benda asing, gigi palsu, esofagus, esofagotomi servikal.
Hubungan obstructive sleep apnea dengan penyakit sistem kardiovaskuler Cahyono, Arie; Hermani, Bambang; Mangunkusumo, Endang; Perdana, Riski Satria
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 41, No 1 (2011): Volume 41, No. 1 January - June 2011
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.162 KB) | DOI: 10.32637/orli.v41i1.57

Abstract

Background: Obstructive sleep apnea (OSA) is a disease characterized by periodic upper airway collapse during sleep, which could result in either apnea, hypopnea or both. OSA is very often  undetected but it is strongly associated with variety of medical complication, among others cardiovascular diseases.Purpose: To inform ENT specialists about the pathogenesis and pathophysiology of OSA and its complications. Literature review: Recent data from several studies has documented the association between OSA and cardiovascular disorders such as hypertension, heart failure, arrhytmia and atherosclerosis. The undetectable cardiovascular complication that lead by OSA could make the management of cardiovascular  disorders uneffective. Conclusion: A good understanding can help physicians to diagnose, manage and  prevent cardiovascular complication that caused by OSA. Keywords: obstructive sleep apnea, apnea, hipopnea, cardiovascular disease   Abstrak :  Latar belakang: Obstructive sleep apnea (OSA) adalah suatu penyakit yang ditandai dengan peristiwa kolapsnya saluran napas bagian atas secara periodik pada saat tidur yang mengakibatkan apnea, hipopnea atau keduanya. Gejala klinis OSA sering tidak terdeteksi, namun diduga dapat meningkatkan risiko berbagai macam komplikasi medis antara lain kelainan kardiovaskuler. Tujuan: Agar para ahli THT dapat mengerti mengenai patogenesis dan patofisiologi OSA dan komplikasinya. Tinjauan pustaka: Beberapa penelitian telah menyatakan tentang adanya hubungan antara OSA dengan penyakit kardiovaskuler seperti hipertensi, gagal jantung, aritmia dan arteriosklerosis. Patofisiologi OSA pada komplikasi kardiovaskuler yang sulit dideteksi dapat menyebabkan penatalaksanaan penyakit kardiovaskuler menjadi kurang efektif. Kesimpulan:Pemahaman yang baik dapat membantu menegakkan diagnosis dan melakukan tatalaksana yang tepat untuk mencegah komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan OSA.Kata kunci: obstructive sleep apnea, apnea, hipopnea, penyakit kardiovaskuler
Pneumotoraks dan pneumomediastinum sebagai komplikasi trakeostomi darurat Cahyono, Arie
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 40, No 2 (2010): Volume 40, No. 2 July - December 2010
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v40i2.6

Abstract

Background: Tracheostomy is a surgical procedure making an opening into the trachea to provide anairway passage. It can cause complications such as subcutaneous emphysema, pneumothorax andpneumomediastinum. Purpose: To remind ENT specialists and general practitioners about the risk ofpneumothorax and pneumomediastinum in tracheostomy procedure and its management. Case: Wereported one case of 62 years old man who had grade 3 airway obstruction and had to be tracheostomizedand got   subcutaneous emphysema, pneumothorax and pneumomediastinum as complications. Case management:   Water sealed drainage (WSD) was inserted and he also underwent chest physiotherapy.Conclusion: Tracheostomy which was done in emergency can increase the risk of pneumothorax andpneumomedistinum complications, and could be avoided if the patient had come sooner. The insertion ofWSD combined with chest physiotherapy were the treatment of choice for patient with massive pneumothraxand pneumomediastinum after tracheostomy.Key words : tracheostomy, emphysema, pneumothorax, pneumomediastinum. Abstrak : Latar belakang: Trakeostomi adalah tindakan bedah membuat lubang di trakea untuk membebaskan jalan napas. Tindakan ini dapat menyebabkan komplikasi berupa emfisema subkutis, pneumotoraks danpneumomediastinum. Risiko komplikasi meningkat pada trakeostomi darurat. Tujuan: Kasus ini diajukanuntuk membahas pneumotoraks dan pneumomediastinum sebagai komplikasi trakeostomi sehingga dokterumum dan dokter spesialis THT dapat meningkatkan kewaspadaannya. Kasus: Dilaporkan satu kasuslaki-laki 62 tahun yang menderita sumbatan jalan napas grade 3 sehingga perlu tindakan trakeostomidarurat Pasca tindakan terjadi emfisema subkutis disertai pneumotoraks luas dan pneumomediastinum.Penatalaksanaan: Dilakukan pemasangan water sealed drainage (WSD) dan dikombinasikan denganfisioterapi dada. Kesimpulan: Trakeostomi yang dilakukan darurat dapat meningkatkan risiko tejadinyapneumotoraks dan pneumomediastinum, yang dapat dihindari jika pasien lebih cepat didiagnosis.Pemasangan WSDdengan fisioterapi dada merupakan terapi pilihan pada pasien pneumotoraks luas danpneumomediastinum pasca trakeostomi. Kata kunci: trakeostomi, emfisema, pneumotoraks,pneumomediastinum.