YI.Wicaksono, YI.Wicaksono
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS PENGEMBANGAN FUNGSI BANDARA TUNGGUL WULUNG CILACAP SEBAGAI BANDARA KOMERSIAL Jumanto, Jumanto; Pradana, Ridwan; Riyanto, Bambang; YI.Wicaksono, YI.Wicaksono
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.08 KB)

Abstract

Kabupaten Cilacap, Banyumas dan Banjarnegara termasuk wilayah paling berpotensi di Jawa Tengah. Data BPS tahun 2006-2015 menyatakan sektor wisatawan mengalami rata-rata pertumbuhan tiap tahun sebesar 18,07% dan sektor industri dengan pertumbuhan rata-rata PDRB sebesar 33,65%. Untuk mendukung perkembangan potensi-potensi tersebut diperlukan peranan tiap sisi moda transportasi, termasuk transportasi udara yang berlokasi di Bandara Tunggul Wulung Cilacap. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peningkatan jumlah penumpang dan pesawat terbang sampai tahun rencana 2035, mengevaluasi kondisi eksisting serta menganalisis kebutuhan fasilitas udara meliputi runway, taxiway dan apron sampai tahun rencana 2035 sesuai pesawat rencana yang digunakan. Pertumbuhan jumlah penumpang dianalisis menggunakan Metode Kesesuaian Dengan Variabel Bebas dengan menganggap prosentase pertumbuhan jumlah penumpang sama dengan pertumbuhan jumlah wisatawan. Y= (Xn x 18,07%) + Xn, Y: penumpang pada tahun yang dihitung, Xn: penumpang tahun sebelumnya dan 18,07%: prosentase pertumbuhan rata-rata wisatawan. Analisis untuk tahun rencana 2035 menghasilkan total penumpang datang dan berangkat berjumlah 324.128 orang. Untuk pertumbuhan pergerakan jumlah pesawat terbang dianalisis dengan memperkirakan jumlah penumpang agar dapat ditampung sebanyak 80% (load factor 80%) tiap tahunnya oleh pesawat rencana ATR 72-500 dan Cessna C208B Grand Caravan. Sehingga menghasilkan total pergerakan pesawat pada tahun rencana 2035 sebanyak 8030 pergerakan dengan rincian 4380 untuk ATR 72-500 dan 3650 untuk Cessna C208B Grand Caravan. Rute yang ditempuh adalah Cilacap ? Jakarta (60%), Cilacap ? Bandung (20%) dan Cilacap ? Semarang (20%). Sesuai hasil tersebut disimpulkan bahwa runway dan apron Bandara Tunggul Wulung Cilacap tidak mampu melayani kebutuhan sampai tahun rencana, sehingga runway dengan dimensi 1.400 m x 30 m perlu dilakukan penambahan panjang menjadi 1.600 m dengan lebar tetap 30 m dan apron dengan dimensi 125 m x 90 m juga perlu dilakukan penambahan panjang menjadi 257 m dengan lebar tetap 90 m, kemudian untuk taxiway dengan dimensi 110 m x 18 m tidak memerlukan pengembangan karena masih mencukupi. Frekuensi penerbangan yang sedikit pada tahun rencana 2035 menyebabkan hasil analisis tebal perkerasan tambahan rencana pada runway dan apron kurang dari tebal perkerasan eksisting. Oleh karena itu, tebal perkerasan tambahan runway dan apron pada penerapannya disamakan dengan tebal perkerasan eksisting. Tahapan pengembangan Bandara Tunggul Wulung Cilacap dimulai dengan perpanjangan pada daerah runway. Setelah itu, dilanjutkan dengan pengembangan pada daerah apron. Pengembangan bandara dilakukan secara bertahap supaya biaya yang dikeluarkan tidak langsung banyak dalam satu waktu, tetapi bertahap menyesuaikan kebutuhan.
ANALISIS KELAYAKAN TERMINAL PENUMPANG 1A BANDAR UDARA INTERNASIONAL SOEKARNO – HATTA Nurdin, Rio; Asisi, Hayning Santa; YI.Wicaksono, YI.Wicaksono; Setiadji, Bagus Hario
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL Volume 6 ,Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.4 KB)

Abstract

Terminal 1 Bandar Udara Internasional Soekarno ? Hatta terbagi menjadi 3 sub-terminal yaitu 1A, 1B dan 1C. Terminal 1A hanya dioperasikan oleh maskapai Lion Air. Kepadatan penumpang pada terminal 1A terjadi karena kapasitas terminal tidak sebanding dengan pertumbuhan penumpang per tahunnya. Penumpang peak hour dianalisis berdasarkan SNI 03-7046-2004 dan SKEP/77/VI/2005. Analisis ini bertujuan untuk evaluasi kelayakan terminal penumpang 1A pada check in counter, ruang tunggu keberangkatan, dan baggage claim. Hasil dari forecasting tahun 2024 didapatkan penumpang berangkat sebesar 2.943 penumpang per jam dan penumpang datang sebesar 3.189 penumpang per jam. Tahun 2014 dan 2024, kondisi eksisting check in counter dan baggage claim device tidak memadai untuk penumpang peak hour, tetapi ruang tunggu keberangkatan masih memadai untuk melayani penumpang peak hour. Analisis berdasarkan metode FIFO (first in first out) pada tahun 2014 dibutuhkan minimum 37 loket check in counter untuk melayani 1.828 penumpang berangkat per jam dan 7 buah baggage claim device untuk malayani 2.058 penumpang datang per jam sedangkan, pada tahun 2024 dibutuhkan minimum 60 loket check in counter dan 11 baggage claim device. Ruang tunggu keberangkatan masih memadai untuk melayani penumpang peak hour tahun 2014 dan tahun 2024 dengan Level Of Service (LOS) kategori Excellent Level Of Comfort. Adanya kepadatan pada check in counter dan baggage claim terminal 1A, memunculkan rencana maskapai Lion Group akan beroperasi di terminal 1A, 1B dan 1C. Kondisi eksisting dari terminal 1A, 1B dan 1C memiliki 75 check in counter dan 15 baggage claim device, sehingga dengan rencana tersebut dapat mengatasi kepadatan pada check in counter dan baggage claim sampai tahun 2021 dengan asumsi distribusi penumpang yang merata ke terminal 1A, 1B dan 1C. Selain distribusi penumpang yang merata, kepadatan juga dapat diatasi dengan adanya check in online dan pemisahan check in counter dengan bagasi dan tanpa bagasi. 
ANALISIS KERUSAKAN DAN PENANGANAN RUAS JALAN PURWODADI - GEYER Junoto, Bambang; Supranyoto, Supranyoto; Pudjianto, Bambang; YI.Wicaksono, YI.Wicaksono
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL Volume 6 ,Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.741 KB)

Abstract

Jalan raya Purwodadi- Geyer merupakan bagian dari ruas Purwodadi ? Solo. Berdasarkan fungsinya,termasuk jalan kolektor primer, berfungsi menghubungkan kabupaten Grobogan dengan kota Solo. Ruas jalan Purwodadi-Geyer terdiri dari tipe jalan 4/2 D dengan perkerasan lentur  serta 2/2 UD  dengan perkerasan lentur dan perkerasan beton semen. Sepanjang jalan tersebut terdapat banyak kerusakan jalan dan yang paling parah terjadi pada perkerasan lentur. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan jalan antara lain muatan berlebih (overload), kegagalan struktur, tanah dasar dan lingkungan yang berkaitan dengan drainase jalan. Kendaraan niaga dengan muatan berlebih di indikasi menjadi faktor utama pada kerusakan jalan ruas jalan Purwodadi-Geyer. Hal ini sesuai data lalu lintas harian rata-rata tahun 2012 dan tahun 2013 dimana golongan 6A dan 6B mendominasi dengan presentase masing- masing sebesar 20,58% serta 20,91%. Untuk  itu kami mencoba menganalisa kerusakan dan ketebalan perkerasan ruas jalan Purwodadi-Geyer pada khususnya. Sehingga memberikan solusi peningkatan kualitas pelayanan jalan,sesuai dengan umur rencana.Dari hasil analisis didapatkan CBR tanah dasar rencana sebesar 3,3 %. Untuk Pertumbuhan lalu lintas pertahun didapatkan nilai 8,196 % serta untuk jalan tipe 2/2 UD nilai DS sebesar 1,84 . Dimana nilai tersebut sudah tidak memenuhi standart yang disyaratkan sehingga di lakukan pelebaran menjadi tipe 4/2 D. Mengenai nilai dari indeks tebal perkerasaan lentur yang ada untuk tahun 2015 didapatkan 11,80 dan  lapis overlay di dapatkan tebal sebesar 9 cm. Untuk tebal perkerasan lentur rencana hingga akhir 2025 didapatkan ITP sebesar 15,00. Dengan susunan perkerasan pada pelebaran jalan sebagai berikut AC 19 cm, LPA 20 cm, LPB 35 cm. Sedangkan hasil dari evaluasi eksisting beton semen tebal 25 cm hanya mampu melayani masa layannya sampai akhir 2018 dan didapatkan nilai betal beton semen rencana hingga akhir 2025 dengan tebal 26,5 cm. Dengan penambahan tebal beton 1,5 cm, maka dikonversi ke  perkerasan lentur sehingga nilai tebal komposit sebesar 4 cm. Dari hasil analisis kami menyimpulkan untuk perkerasan ruas jalan Purwodadi-Geyer, berkaitan dengan kapasitas jalan perlu dilalukan pelebaran jalan. Mengenai lapis permukaan, khususnya pada perkerasan lentur perlu dilakukan peningkatan dengan cepat untuk mengurangi kerusakan yang ada.
ANALISIS KINERJA SIMPANG DAN RUAS JALAN DI KAWASAN JALAN PAHLAWAN, KOTA BANDUNG Bimaputra, Ardhitya; Wuri Bemby, Wafi Granita; Kushardjoko, Wahyudi; YI.Wicaksono, YI.Wicaksono
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.223 KB)

Abstract

Kebutuhan manusia saat ini semakin meningkat mengikuti perkembangan zaman. Akibatnya, tingkat mobilisasi dan kebutuhan transportasi guna memenuhi kebutuhan tersebut juga mengalami peningkatan. Hal ini mendorong ketersediaan prasarana transportasi yang baik menjadi sebuah keharusan, terutama di kota-kota besar, seperti Kota Bandung. Saat ini, kemacetan dan antrian kendaraan terlihat semakin parah di beberapa titik, terutama di jalan akses masuk dan keluar Kota Bandung, seperti kawasan Jalan Pahlawan. Di kawasan ini terdapat simpang yang menjadi salah satu titik rawan kemacetan, yaitu Simpang Pahlawan. Simpang ini mempengaruhi simpang yang ada di sekitarnya, yakni Pertigaan Brig J. Katamaso dan Perempatan Cisokan.Tugas Akhir ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi kinerja simpang; Simpang Pahlawan, Pertigaan Brig J. Katamso, Perempatan Cisokan dan ruas jalan; Jalan Pahlawan, Jalan Surapati, Jalan PH. H. Mustofa, Jalan Brig J. Katamso, Jalan Cisokan, Jalan Terusan Cisokan. Selain itu, untuk mengembangkan alternatif solusi peningkatan kinerja dan tingkat pelayanan simpang dan ruas jalan yang ditinjau. Langkah-langkah kerja meliputi; persiapan dan pengamatan pendahuluan, identifikasi masalah, survei dan pengumpulan data, analisis data kondisi eksisting, dan pengembangan alternatif solusi peningkatan kinerja dan tingkat pelayanan.Kinerja dan tingkat pelayanan simpang dan ruas jalan tinjauan pada kondisi eksisting tergolong buruk. Nilai derajat kejenuhan kondisi eksisting; ruas Jalan Brig J. Katamso 1,17, Perempatan Cisokan 1,381, Pertigaan Brig J. Katamso 1,372, Simpang Pahlawan berkisar 0,781 ? 1,429. Kinerja dan tingkat pelayanan Simpang Pahlawan masih kurang baik meskipun dilakukan optimasi sinyal dengan pengaturan-empat fase, dengan nilai derajat kejenuhan berkisar 0,912 ? 0,915.Efektifitas tiap skenario terhadap kinerja dan tingkat pelayanan simpang dan ruas jalan yang ditinjau, dilihat dari nilai derajat kejenuhan:-  Skenario 1, yaitu skenario one way di Jalan Brig J. Katamso, dapat meningkatkan kinerja dan tingkat pelayanan ruas Jalan Brig J. Katamso menjadi 0,66, Perempatan Cisokan menjadi 0,85, Pertigaan Brig J. Katamso menjadi 0,303. Akan tetapi, kinerja dan tingkat pelayanan ruas Jalan Surapati, Jalan PH. H. Mustofa, dan Simpang Pahlawan masih buruk.- *Penulis Penanggung Jawab Skenario 2, yaitu pelebaran ruas Jalan Brig J. Katamso menjadi 12 m, pada pendekat Jalan Cisokan sebesar 1.8 m, pada pendekat Jalan Pahlawan (Selatan) sebesar 2.5 m disertai pengaturan dengan APILL di Perempatan Cisokan dan Pertigaan Brig J. Katamso, dapat meningkatkan kinerja dan tingkat pelayanan ruas Jalan Brig J. Katamso menjadi 0,66, Perempatan Cisokan berkisar 0,757 ? 0,793, Pertigaan Brig J. Katamso berkisar 0,687 ? 0,721. Akan tetapi, nilai derajat kejenuhan Simpang Pahlawan masih berkisar 0,800 ? 0,890.-  Skenario 3, yaitu seperti Skenario 2 ditambah dengan pengadaan overpass melintang pendekat Jalan Surapati dan Jalan PH. H. Mustofa disertai pelebaran ruas jalan tersebut menjadi 15 m, dapat meningkatkan kinerja dan tingkat pelayanan di semua simpang dan ruas jalan yang ditinjau. Nilai derajat kejenuhan yang diperoleh dengan skenario ini tidak melebihi batas yang disyaratkan (? 0,85), yakni berkisar 0,687 ? 0,799.Berdasarkan rekapitulasi hasil evaluasi dan analisis, Skenario 3 dipilih menjadi skenario terbaik untuk peningkatan kinerja dan tingkat pelayanan simpang dan ruas jalan yang ditinjau. Dengan demikian, untuk tercapainya kinerja dan tingkat pelayanan lokasi tinjauan yang lebih baik adalah dengan merealisasikan Skenario 3.Kebutuhan manusia saat ini semakin meningkat mengikuti perkembangan zaman. Akibatnya, tingkat mobilisasi dan kebutuhan transportasi guna memenuhi kebutuhan tersebut juga mengalami peningkatan. Hal ini mendorong ketersediaan prasarana transportasi yang baik menjadi sebuah keharusan, terutama di kota-kota besar, seperti Kota Bandung. Saat ini, kemacetan dan antrian kendaraan terlihat semakin parah di beberapa titik, terutama di jalan akses masuk dan keluar Kota Bandung, seperti kawasan Jalan Pahlawan. Di kawasan ini terdapat simpang yang menjadi salah satu titik rawan kemacetan, yaitu Simpang Pahlawan. Simpang ini mempengaruhi simpang yang ada di sekitarnya, yakni Pertigaan Brig J. Katamaso dan Perempatan Cisokan.Tugas Akhir ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi kinerja simpang; Simpang Pahlawan, Pertigaan Brig J. Katamso, Perempatan Cisokan dan ruas jalan; Jalan Pahlawan, Jalan Surapati, Jalan PH. H. Mustofa, Jalan Brig J. Katamso, Jalan Cisokan, Jalan Terusan Cisokan. Selain itu, untuk mengembangkan alternatif solusi peningkatan kinerja dan tingkat pelayanan simpang dan ruas jalan yang ditinjau. Langkah-langkah kerja meliputi; persiapan dan pengamatan pendahuluan, identifikasi masalah, survei dan pengumpulan data, analisis data kondisi eksisting, dan pengembangan alternatif solusi peningkatan kinerja dan tingkat pelayanan.Kinerja dan tingkat pelayanan simpang dan ruas jalan tinjauan pada kondisi eksisting tergolong buruk. Nilai derajat kejenuhan kondisi eksisting; ruas Jalan Brig J. Katamso 1,17, Perempatan Cisokan 1,381, Pertigaan Brig J. Katamso 1,372, Simpang Pahlawan berkisar 0,781 ? 1,429. Kinerja dan tingkat pelayanan Simpang Pahlawan masih kurang baik meskipun dilakukan optimasi sinyal dengan pengaturan-empat fase, dengan nilai derajat kejenuhan berkisar 0,912 ? 0,915.Efektifitas tiap skenario terhadap kinerja dan tingkat pelayanan simpang dan ruas jalan yang ditinjau, dilihat dari nilai derajat kejenuhan:-  Skenario 1, yaitu skenario one way di Jalan Brig J. Katamso, dapat meningkatkan kinerja dan tingkat pelayanan ruas Jalan Brig J. Katamso menjadi 0,66, Perempatan Cisokan menjadi 0,85, Pertigaan Brig J. Katamso menjadi 0,303. Akan tetapi, kinerja dan tingkat pelayanan ruas Jalan Surapati, Jalan PH. H. Mustofa, dan Simpang Pahlawan masih buruk.*Penulis Penanggung Jawab Skenario 2, yaitu pelebaran ruas Jalan Brig J. Katamso menjadi 12 m, pada pendekat Jalan Cisokan sebesar 1.8 m, pada pendekat Jalan Pahlawan (Selatan) sebesar 2.5 m disertai pengaturan dengan APILL di Perempatan Cisokan dan Pertigaan Brig J. Katamso, dapat meningkatkan kinerja dan tingkat pelayanan ruas Jalan Brig J. Katamso menjadi 0,66, Perempatan Cisokan berkisar 0,757 ? 0,793, Pertigaan Brig J