Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Finansial Perbanyakan Benih Jagung Hibrida Adri, Adri; Mildaerizanti, Mildaerizanti; Suharyon, Suharyon
Jurnal Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi|JIITUJ| Vol 3 No 2 (2019): Volume 3, Nomor 2, Desember 2019
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.587 KB) | DOI: 10.22437/jiituj.v3i2.8197

Abstract

Kebutuhan terhadap jagung semakin meningkat, baik untuk pangan, pakan ternak, maupun bahan baku industri. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pemerintah dalam peningkatan produksi jagung menuju swasembada berkelanjutan.  Varietas unggul merupakan salah satu komponen yang dapat meningkatkan hasil dengan nyata, varietas hibrida memiliki potensi hasil lebih tinggi dibanding komposit sehingga penggunaan benih  jagung hibrida mampu meningkatkan hasil jagung persatuan luas panen. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menghasilkan varietas-varietas jagung hibrida dengan potensi hasil yang tinggi, yang tidak kalah bersaing dengan jagung hibrida swasta lainnya, hanya saja belum terdiseminasi dengan baik. Guna memperoleh nilai tambah bagi petani dan terdesiminasinya benih jagung Balitbangtan, maka dilakukan rintisan penangkaran benih jagung hibrida tingkat petani. Penelitian dilaksanakan di Desa Rawa Medang, Kecamatan Batang Asam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2017 seluas 1 ha. Rintisan ini dikemas dalam Model Sekolah Lapang Kedaulatan Pangan Terintegrasi Desa Mandiri Benih Jagung. Hasil penelitian diperoleh benih jagung sebanyak 1 ton/ha. Usahatani perbanyakan benih jagung hibrida ini layak dan menguntungkan secara ekonomi, hal ditunjukkan oleh nilai R/C 1,69, TIP 591 kg/ha dan TIH Rp 14.775/kg. dilihat dari biaya produksi maka biaya tenaga kerja lebih tinggi 14,8 % dibandingkan biaya untuk pembelian saprodi. 
Analisis Rekayasa Sub Sistem Penujang Pada Kegiatan UPBS Kedelai Di Lahan Kering (Studi Kasus di Desa Suo-Suo, Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo Jambi) Suharyon, Suharyon; Yarda, Yarda
Jurnal Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi|JIITUJ| Vol 3 No 2 (2019): Volume 3, Nomor 2, Desember 2019
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.767 KB) | DOI: 10.22437/jiituj.v3i2.8198

Abstract

Dalam upaya mengembangkan sistem usahatani di suatu wilayah diperlukan pendekatan hubungan antara kelompok tani dengan kelembagaan lain yang mendukung. Dengan terjalinnya kerja sama kelembagaan yang mantap, masalah yang dihadapi petani bisa diserahkan sekaligus diharapkan terjadi difusi teknologi melalui lembaga atau institusi terkait di daerah. Dengan memberdayakan kelembagaan yang mendukung adopsi teknologi yang diberikan kepada kelompok tani FSA (Farming System Analysis) dalam bentuk kerja sama akan membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi petani. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka perlu dilakukan kajian analisis rekayasa kelembagaan penunjang teknologi usahatani. Kegiatan ini dilaksanakan di desa Suo-Suo, Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo dengan tujuan menemukan perlakuan/intervensi yang efektif dan meningkatkan pemberdayaan, serta kerja sama kelembagaan guna menjamin adopsi teknologi sistem usahatani lahan kering yang berkelanjutan. Pendekatan yang digunakan adalah SWOT ANALYSIS yaitu identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Metodologi yang digunakan dalam kegiatan ini dengan menerapkan metode Participatory Research Appraisal (PRA), untuk menggali masalah yang dihadapi oleh petani. Alternatif intervensi yaitu dibentuknya beberapa kelompok tani atau dapat disebut Gapoktan yang diberi nama Poktan Sukajaya, diskusi singkat tentang sistem usaha tani kedele, meneliti kebutuhan mendesak kelompok tani, dan menghubungkannya dengan lembaga pendukung. Bedasarkan hasil PRA maka permasalahan yang diperioritaskan adalah (1) jadwal pertemuan kelompok masih kurang, (2) jalan usahatani kelokasi masih jalan tanah, kalau datang hujan agak sedikit terganggu, (3), cuaca/iklim, (4) hama dan penyakit (hama kepik pada daun) , dan (5)  Modal. Tujuan menemukan perlakuan/intervensi yang efektif dan meningkatkan pemberdayaan, serta kerja sama kelembagaan guna menjamin adopsi teknologi sistem usahatani lahan kering yang berkelanjutan.
Kinerja Kelompok Tani Dalam Sistem Usahatani Padi Lahan Rawa Dan Metode Pemberdayaannya: Studi Kasus Pada Kegiatan Padi Sawah Di Lahan Sub Optimal Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi Firdaus, Firdaus; Suharyon, Suharyon
Jurnal Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi|JIITUJ| Vol 3 No 2 (2019): Volume 3, Nomor 2, Desember 2019
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.743 KB) | DOI: 10.22437/jiituj.v3i2.8200

Abstract

Terdapat 17 kelembagaan dalam usahatani padi dimana kelompok tani mempunyai  peran yang cukup penting dalam hampir setiap tahapan usaha tani. Namun mayoritas kelompok masih dalam tingkatan pemula dengan kinerja yang rendah. Indikator kinerja kelompok tani berdasarkan SK Mentan No. 41/Kpts/OT.210/1992 mendekati sempurna sehingga implementasinya menuntut usaha yang serius. Dari hasil pengamatan di lapangan diketahui bahwa faktor-faktor yang menentukan kinerja kelompok tani adalah jumlah anggota, struktur dan aset kelompok, status anggota kelompok dalam pemilikan lahan, kredibilitas pengurus, dan kelembagaan penunjang. Tiga metode pemberdayaan kelompok yang dapat diterapkan meliputi : 1) sosialisasi program yang diawali dengan perkenalan antara fasilitator dan petani dan dilajutkan dengan penjelasan enam isu penting tentang program yaitu : apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana; 2) menerapkan pendekatan partisipatif dan bottom up; 3) mengikutsertakan ibu tani yang berperan sebagai motivator dalam adopsi serta sosialisasi teknologi.
ASSESSMENT AND FINANCIAL ANALYSIS FOR CITRUS (CITRUS SINENSIS) IMPROVEMENT PROGRAM IN JAMBI Izhar, Lutfi; Hernita, Desi; Salwati, Salwati; Suharyon, Suharyon
Journal of Tropical Horticulture Vol 3, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Indonesian Society for Horticulture (Perhimpunan Hortikultura Indonesia Komisariat Aceh)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1437.202 KB) | DOI: 10.33089/jthort.v3i1.42

Abstract

The agricultural problems currently cover-up with limited land, water, infrastructure, production facilities and infrastructure, access to finance and institutions. These problems cause the quantity and quality of agricultural products to be stumpy. One effort that can eliminate these problems is through the assessment of a comprehensive, integrated agricultural development program.  The objectives of this study was: (1) to determine the amount of citrus farming income, and (2) to analyze the economic and institutional feasibility of citrus farming in Bunga Tanjung Village, Betara District, west Tanjung Jabung region. This study was conducted in Bunga Tanjung Village, Betara District, West Tanjung Jabung, Jambi, from 2017-2019. Approach to the activities through coordination and program integration from the Regional Government. Efforts to increase the production of citrus plants are currently experiencing challenges due to doubtful economic viability. Data collected in this study includes primary data in the form of information from farmers and secondary data such as a profile of study area, demographics, social and economic potential data. Primary data was collected by interviewed farmers using a questionnaire. The sample was randomly determined citrus farmer population with 40 respondents. Data analysis techniques include tabulation analysis used to recognize the farmer's economic conditions and feasibility. The results of this study indicated that citrus productivity had increased continuously by applying environmentally friendly cultivation technology i.g. Fertilizing, controlling pests and diseases, removing water shoots, pruning shapes, and pruning unproductive branches. Citrus production of non-demonstration plots was 3.145 kg, and demonstration was 4.960 kg, there was an increase of 1.815 kg or 36.59% with an average of R/C ratio for demonstration plots was 2.51 while non-demonstration citrus of 2.20. This means that the cultivation of the citrus plant is feasible to continue.