This Author published in this journals
All Journal Wahana Teknik
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI HARGA AIR PADA BENDUNGAN SELOREJO KECAMATAN NGANTANG KABUPATEN MALANG Nugroho, Dandy
Wahana Teknik Vol 2, No 1 (2013): Wahana Teknik
Publisher : Wahana Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.54 KB)

Abstract

Bendungan Selorejo terletak di Kecamatan Ngantang KabupatenMalang. Banyaknya sedimen dari hulu sungai yang menumpukpada Bendungan Selorejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malangmerupakan masalah yang sering terjadi. Hal ini mengakibatkantampungan air pada bendungan berkurang, sehingga mengurangikinerja pasokan pembangkit listrik tenaga air dan irigasi untukmasyarakat. Studi ini dilakukan untuk mengetahui berapa rupiah harga jualair untuk pembangkit listrik yang harus dibayar oleh PJB dan hargajual air untuk irigasi yang nantinya akan ditanggung oleh petani untukbiaya operasional dan pemeliharaan Bendungan Selorejo. Pembahasandimulai dengan menganalisa besar biaya?biaya yang ada, yakniterdiri dari biaya konstruksi awal pembangunan, biaya PLTA, biayaoperasional dan pemeliharaan rutin serta biaya echosounding. Setelahitu dilakukan analisa manfaat yang pada akhirnya menghasilkananalisis ekonomi yang terdiri dari B/C, B-C, IRR, dan Analisasensitivitas. Pembahasan studi ini meliputi tahun 2009 dengan tingkatsuku bunga 11%.Menurut data yang diperoleh, harga air pada alternatif 1 yaituberdasarkan Rencana Kerja Operasional Perusahaan (RKOP) padatahun 2009 secara ekonomi mengalami kerugian, dengan harga PLTAsebesar Rp.72,6 per kWh dan pada kondisi eksisting irigasi tidakdikenakan biaya. Karena harga air pada alternatif 1 (RKOP) secara ekonomitidak layak, maka dilakukan alternatif 2 untuk menaikkan harga airagar tidak mengalami kerugian (dilihat dari nilai B/C > 1). Denganmempertimbangkan segi ekonomi konsumen. Dimana pada alternatif2 memiliki nilai IRR dan B/C terbesar dan memberikan manfaat yang maksimal. Setelah melalui analisis ekonomi, harga air yang layak sebagai berikut PLTA Rp.414 per kWh dan harga air irigasi sebesar Rp.2,0/m3 pada kondisi normal atau kondisi yang paling mínimum, dengan nilai B/C > 1, B-C = Rp. 50.794.386.096, IRR = 11,1%.Kata Kunci: harga air, B-C, B/C, IRR, dan Analisa Sensitivitas
MODIFIKASI OUTLET COAL BUNKER DAN OUTLET COAL FEEDER UNTUK MENGATASI PLUGGING BATUBARA DI PLTU TANJUNG AWAR-AWAR TUBAN Nugroho, Dandy; Sunarto, Sunarto
Wahana Teknik Vol 6, No 1 (2017): Wahana Teknik
Publisher : Wahana Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1436.49 KB)

Abstract

Pertumbuhan penduduk yang pesat selalu di imbangi dengan tuntutan akan kebutuhan primer dan sekunder, sehingga konsumsi manusia akan sesuatu semakin kompleks mengingat kebutuhan manusia akan listrik semakin bertambah maka PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai satu-satunya perusahaan penyedia energi listrik di indonesia dituntut untuk dapat menyediakan energi listrik yang murah dan handal.Kebutuhan energi listrik di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat ditandai dengan pertumbuhan industri yang terus meningkat, Permintaan konsumsi energi tersebut perlu disertai dengan pembangunan pusat-pusat listrik yang nantinya akan dikelola oleh swasta maupun pemerintah, Proyek percepatan 10.000 MW  dan Proyek 35.000 MW yang diadakan oleh pemerintah merupakan salah satu program usaha memenuhi kebutuhan energi tersebut, Salah satu proyek percepatan 10.000 MW adalah pembangunan PLTU Tanjung Awar-awar yang terletak di Jl.Tanjung awar-awar Kecamatan  Jenu Kabupaten Tuban.PLTU Tanjung awar-awar dengan beban maksimal 2 x 350 MW pada bulan Februari 2014 memasuki fase Commercial on Date (COD) maka PLTU Tanjung Awar-awar perlu mengoperasikan unit dengan kehandalan dan kinerja yang memenuhi kontrak kinerja perusahaan. Saat ini PLTU Tanjung Awar-awar memiliki 6 pulverizer system, yang mana masing masing pulverizer memiliki tanggungan beban 70 MW. Masing-masing pulverizer system terdiri dari beberapa peralatan utama di antaranya coal bunker, coal feeder dan coal mill.Permasalahan yang terjadi adalah seringnya terjadi plugging batubara. Plugging ini sering sekali terjadi pada outlet coal bunker, outlet coal feeder. Intensitas terjadinya plugging ini ± 4 kali setiap shift atau ± 4 kali dalam setiap 8 jam. Plugging batubara ini apabila tidak segera teratasi dalam 600 detik dapat menyebabkan coal mill trip dan unit derating. Saat ini pada masing-masing coal bunker terdapat dredging yang di gunakan untuk mengatasi plugging batubara tersebut, tetapi adanya dredging ini kurang efektif.Berdasarkan hasil analisa, penyebab terjadinya plugging batubara adalah sistem dredging kurang optimal, dan kualitas batubara itu sendiri. Saat ini untuk mengatasi plugging batubara telah dilakukan berbagai cara diantaranya penambahan helper untuk memukul outlet coal bunker, modifikasi dredging, modifikasi inlet coal feeder dan pembuatan tombak plugging. Perbaikan untuk mengatasi plugging batubara tersebut juga dinilai kurang efektif karena plugging batubara tetap masih terjadi dan memunculkan permasalahan baru, yaitu menambah beban kerja operator, membahayakan keselamatan kerja operator dan pengeluaran biaya rutin untuk pembayaran helper plugging.Permasalahan inilah yang melandasi dilakukannya Modifikasi outlet coal bunker dan outlet coal feeder untuk mengatasi plugging batubara dan mencapai daya mampu terbaik PLTU Tanjung Awar-awar.