Articles

Found 3 Documents
Search

AKTIVITAS ANTIBAKTERI SENYAWA ISOLAT DAUN MUNDU (Garcinia dulcis) TERHADAP BAKTERI PATOGEN GRAM POSITIF Tamhid, Hady Anshory; Hertiani, Triana; Wahyuono, Subagus
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 11, No 2 (2015): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas ampisilin terhadap bakteri MRSA setelah dikombinasi dengan uap minyak kayu manis menggunakan metode kontak Tamhid, Hady Anshory; Nugraha, Arde Toga; Fadilah, Aditya
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 13, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol13.iss2.art4

Abstract

Intisari Latar belakang: Resistensi bakteri terhadap antibiotik telah mendorong dilakukan berbagai upaya  penelitian untuk mencari alternatif pengganti antibiotik yang lebih baik. Namun penelitian untuk mencari antibiotik yang baru menghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bakteri MRSA (Methicillin ResistantStaphylococcus aureus) merupakan salah satu bakteri yang resisten terhadap antibiotik golongan penisilin termasuk ampisilin. Kombinasi antibiotik dengan minyak atsiri dapat menjadi pilihan alternatif untuk mengatasi resistensi bakteri terhadap antibiotik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibiotik ampisilin terhadap bakteri MRSA setelah dikombinasi dengan minyak atsiri kulit batang kayu manis (Cinnamomum burmannii)Metode: Minyak atsiri kulit batang kayu manis (KKM) diisolasi menggunakan metode destilasi uap-air dan diidentifikasi komponenya menggunakan GC-MS. Metode uji untuk menentukan aktivitas antibiotik dan kombinasinya dengan KKM digunakan metode difusi dan kontak gas.Hasil: Setelah dilakukan isolasi minyak atsiri kulit batang kayu manis, diperoleh jumlah rendemen sebesar 0,24% dengan lima komponen utama yang terkandung didalamnya, yaitu cinnamaldehyde (64,84%), 1,8-cineole (6,4%), dan benzyl benzoate (6,33%). Hasil uji aktivitas menunjukkan rata-rata diameter zona hambat ampisilin tunggal terhadap bakteri MRSA adalah sebesar 10,67 mm, sedangkan antibiotik ampisilin yang telah dikombinasi dengan minyak atsiri KKM sebesar 23,67 mm. Kesimpulan: Kenaikan aktivitas antibakteri ampisilin setelah dikombinasi dengan KKM adalah 121,84%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan minyak atsiri KKM berpotensi sebagai terapi suportif bila digunakan bersama dengan ampisilin untuk mengatasi infeksi MRSA.Kata kunci: ampisilin, bakteri MRSA, minyak atsiri, kayu manis, kontak gas
Hepatoprotective Effect of Corn Silk Infusion in Male Wistar Rats Ramadani, Arba Pramundita; Tamhid, Hady Anshory; Sadrina, Tika Luthfi; Jasno, Jasno; Mustafidah, Mabrurotul
EKSAKTA: Journal of Sciences and Data Analysis VOLUME 1, ISSUE 1, February 2020
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/EKSAKTA.vol1.iss1.art8

Abstract

The use of medicinal plants in treating various disease has been reported since long time ago, including for hepatic disease. Corn silk contains phytochemicals of medical benefit such as flavonoids compounds which act as antioxidant agents and has been widely reported possess hepatoprotective effect. Using a model of carbon tetrachloride (CCl4)-induced hepatotoxicity in 36 male Wistar rats, this study investigated the effect of corn silk infusion and assessed using enzymes produced by the liver in plasma [alkaline phosphatase (ALP) and liver glutathione (GSH)]. The corn silk infusion (in 50, 100, and 200 mg/kg BW doses) were administered 24 hours after CCl4-induction liver damage with 3ml/kg BW CCl4 in olive oil (1:1, v/v), intraperitoneally for seven days. Along with corn silk groups, distilled water (0.2 mL/kg BW) and Curcumin (100 mg/kg BW) were given for induction and drug control, respectively. In the end of the study (8th day), the level of both ALP dan GSH were measured. The differences among groups for GSH and ALP level were statistically calculated using ANOVA method.  The result showed that the corn silk infusion is active at 200 mg/kg BW based on both ALP (18.74% decreased) and GSH (5-7% increased) level. Moreover, the flavonoid compound was detected on the infusion that may contribute on its hepatoprotective activity. In conclusion, corn silk infusion owned hepatoprotective effect in male Wistar rats.