Fitmawati -
Kampus Bina Widya Jln. HR. Soebrantas KM 12.5, Pekanbaru, 28293, Indonesia

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengetahuan Tumbuhan Obat Dukun Sakai Desa Sebangar Duri Tiga Belas dan Desa Kesumbo Ampai Duri Kabupaten Bengkalis Irawan, Yulisa Resti; -, Fitmawati; -, Herman
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 5, No 1 (2013): March 2013
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v5i1.2571

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan 13.466 pulau yang termasuk kedalam 33 provinsi dengan berbagai suku dan budaya. Keanekaragaman tumbuhan yang tinggi, berpadu dengan budaya etnik yang ada menghasilkan sistem pengetahuan dan budaya yang terkait dengan pemanfaatan tumbuhan yang ada. Budaya pengobatan dan penggunaan tumbuhan obat sudah berkembang lama dan diwariskan secara turun-temurun. Modernisasi menggerus tradisi dan pengetahuan pengobatan tradisional dan penggunaan tumbuhan obat di Suku Sakai Duri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengetahuan tumbuhan obat secara tradisional di Suku Sakai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, wawancara dan survey langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan ada 250 jenis tumbuhan obat yang digunakan oleh suku Sakai yang berasal dari Desa Sebangar dan Desa Kesumbo Ampai. Berdasarkan familinya kelompok Zingiberaceae lebih banyak digunakan di Sebagar, sedangkan Famili Annonaceae lebih banyak digunakan di Desa Kesumbo Ampai. Berdasarkan bagian tanaman yang digunakan daun merupakan organ yang paling bayak digunakan di kedua tempat, sedangkan berdasarkan habitus tumbuhan berhabitus pohon lebih umum digunakan di kedua tempat.Indonesia have the high natural resources and biodiversity with 13.466 islands in 33 provinces with various of ethnics and cultures. The high plant diversity combined with the variety of ethnics might result in the diversity of knowledge system of relationship between the society cultures and their plants cultures. The traditional treatment cultures and use the medicinal plants have been evolving for centuries that have been conserved from generation to generation. The presence of culture modernization has caused erosion of traditional knowledge of the society especially in the medicinal plants knowledge of Sakai Duri and Duri 13 ethnics. The aim of this study was to collect the information about the medicinal plant knowledge in Sakai ethnic. This study used descriptive method to collect all informations about the medicinal plant knowledge. The study has found 250 species of medicinal plants used by Sakai ethnic in Sebangsar Village and Kesumbo Ampai Village. Based on the family, the plants from Zingiberaceae family have been used more intensively by the society of Sebangar village, whereas the plants from Annonaceae family have been used more intensively by the people in Kesumbo Ampai village. The organ or part of the plants that is mostly used in both village was leave organ/part. Based on the habitus, the trees are mostly used in both sites and there were 35 tree species used in Sebangsar village compared to 42 species in Kesumbo Ampai village.
Studi Etnobotani Famili Zingiberaceae dalam Kehidupan Masyarakat Lokal di Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi, Riau Hartanto, Salpa; -, Fitmawati; Sofiyanti, Nery
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 6, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v6i2.3105

Abstract

Kecamatan Pangean di Kabupaten Kuantan Singingi memiliki sejarah yang lama dalam pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya sebagai bahan makanan, obat atau prosesi ritual. Penelitian ini bertujuan memperlihatkan peranan Zingiberaceae oleh Masyarakat di Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi dan untuk kajian botani, etnomedisin, etnoekonomi, etnofarmakologi, etnoekologi serta etnoantropologi. Pengumpulan data dihasilkan dengan menggunakan kuisioner terhadap Masyarakat yang mengetahui manfaat Zingiberaceae dalam kehidupan sehari-hari, spesimen famili Zingiberaceae dikumpulkan dari lapangan. Karakter morpologi dikoreksi untuk identifikasi spesimen. Total dari sebelas spesies yang ditemukan adalah Curcuma Domestica, Zingiber officinale, Kaemferia galanga, Alpinia galanga, Zingiber cassumunar, Curcuma xanthoriza, Zingiber argenteum, Costus spesiosus, Zingiber sp., Globba pendula dan Alpinia mutica. Secara umum, semua spesies ini berperawakan herba. Dokumentasi kajian etnomedisin yang menggunakan famili Zingiberaceae dengan tumbuhan obat lainnya untuk memperoleh dosis yang tepat. Kajian etnoekonomi memiliki nilai ekonomi yang rendah dari famili Zingiberaceae. Kajian etnoekologi menunjukkan bahwa famili Zingiberaceae lebih banyak dibudidayakan dalam penggunaannya daripada berasal dari hutan, sedangkan dalam bidang antropologi, masyarakat memanfaatkan famili ini untuk ritual tertentu. Famili ini juga memberikan efek farmakologi jika masyarakat tidak memiliki takaran dan penyajian yang tepat.Pangean District in Kuantan Singingi has long history in using variuos kinds of plant in their daily life, either for food, medicine or rituals. The study was aimed to reveal the role of Zingiberaceae by the society of Subdistrict of Pangean, District of Kuantan Singingi, Riau Province, and to study the botany, as well as the role of plants in ethnomedicine, ethnoeconomy, ethnopharmacology, ethnoecology and ethnoanthropology fields. Data collection was conducted by distributing quetionaires to people who know the use of Zingiberaceae in daily life, the Zingiberaceae specimens were collected from the field. Morphological characters were carefully examined for species identification. A total of eleven Zingiberaceae species were identified in this study i.e Curcuma Domestica, Zingiber officinale, Kaemferia galanga, Alpinia galanga, Zingiber cassumunar, Curcuma xanthoriza, Zingiber argenteum, Costus spesiosus, Zingiber sp., Globba pendula and Alpinia mutica. Generally, all of these species were herbaceous. Ethnomedicine study documented the use of Zingiberaceae with other medicinal plants to get accurate dosage. Ethnoeconomic study revealed the low economic value of Zingibeaceae. Ethnoecological study showed that the cultivated Zingiberace was more common used than wild species, while the study of ethnoanthropology showed that people used some Zingiberaceae for specific rituals. This family give farmacological effect if the people didnt use the correct dosage and preparation.
Analisis Keanekaragaman Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) pada Tiga Tipe Habitat di Pulau Padang Kepulauan Meranti Rahayu, Yeni; -, Fitmawati; -, Herman
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 5, No 1 (2013): March 2013
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v5i1.2569

Abstract

Pulau Padang memiliki areal penanaman sagu (Metroxylon sagu Rottb.). Menurut pengetahuan masyarakat lokal terdapat tiga tipe habitat kebun sagu di Pulau Padang, yaitu Gambut, Kilang Manis, dan habitat bertanah liat. Produktifitas sagu berkorelasi dengan ketiga tipe habitat tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap keanekaragaman sagu pada tiga tipe habitat di Pulau Padang dan menentukan tipe habitat yang mendukung produktifitas sagu yang tinggi, sebagai informasi dasar bagi upaya konservasi habitat sagu. Sebanyak 19 individu sagu telah dikoleksi dari tiga tipe habitat dan diamati karakter morfologi dan agronominya. Hasil karakterisasi ditemukan tiga tipe variasi sagu yaitu sagu duri, sagu sengke, dan sagu bemban. Analisis kluster menunjukan bahwa tanaman sagu mengelompok pada tiga kelompok utama berdasarkan asal habitat dan keberadaan durinya pada tingkat kesamaan 31-88%. Berdasarkan analisis komponen utama membagi tanaman sagu menjadi 5 kelompok, cenderung mengelompok juga berdasarkan asal habitat dan keberadaan duri dengan nilai akumulasi keragaman dua komponen utama 58%. Tipe habitat kilang manis direkomendasikan sebagai habitat sagu yang perlu dikonservasi di pulau Padang.Padang Island has a large sago plantation areas. Indigeneous people recognize three habitat types of sago in Padang island, i.e. peat, kilang manis and clay soil. The productivity of sago is closely correlated to the habitat types. The aims of this research were to reveal the diversity of Sago palms in three habitat types in Padang Island and to determine the habitat types which support high productivity of sago as the information base for conservation of sago habitats. The nineteen sago individuals were collected from three habitats and their morphological and agronomic characters were observed. The result of sago characterization obtained three variations of sago in Padang Island, namely Duri, Sengke and Bemban. The cluster analysis showed that sago dendrograms, which was grouped into three main groups based on similarities of origin and the presence of spines with 31-88% similarity coefficient. The principal component analysis classified the diversity of sago into five groups with 58% accumulated value of diversity. Furthermore, Kilang manis, which in recent study is known as a part of Peat habitat, needs to be conserved for sago plantation area.