Articles

Found 3 Documents
Search

SERBA-SERBI SURAT DINAS DAN PERMASALAHANNYA -, Suyatno
Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Budaya Asing (FBBA), Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1693.668 KB) | DOI: 10.26714/lensa.5.2.2015.155-160

Abstract

Surat dinas adalah sarana yang paling efektif bagi suatu intansi pemerintah atau perusahaan untuk berkomunikasi secara tertulis dengan instansi atau perusahaan lainnya. Kemajuan teknologi memang telah berhasil menciptakan alat -alat yang lebih canggih (sophisticated technology) seperti telepon, HP (handphone), HT (Hand Talky), televisi, faksimile, jaringan internet, radar, modem,dll., namun hal -hal yangberupa informasi, perjanjian, keputusan, dan segala urusan kedinasan lainnya masih membutuhkan surat sebagai pengesahannya, surat jugalah dengan tanda tangan,stempel, atau materai sebagai tanda bukti yang memiliki kekuatan hukum dan otentik.Menyusun surat dinas yang baik tidaklah mudah. Sebagai bentuk komunikasi tulisan, surat menuntut penggunaan bahasa yang tidak saja benar menurut tata bahasa dan ejaan, tetapi juga jelas, efektif dan mampu mengungkapkan maksud yang ingin disampaikan oleh instansi/perusahaan pengirimnya. Sebagai bentuk dokumentasiyang otentik, surat dinas sangat mungkin dibaca orang, diperbanyak, dan disimpan dalam jangka waktu yang lama untuk suatu ketika dilihat kembali. Oleh karena itu, bentuk, isi, dan bahasa sebuah surat dinas menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan. Di bawah ini disajikan beberapa petunjuk tentang diksi (pemilihan kata),ketepatan, kebakuan, keumuman, kehematan, kehalusan makna, contoh surat dinasyang kurang tepat, perbaikan surat dinas, dan beberapa penjelasan. Diharapkanmakalah ini dapat menuntun Anda dalam menguasai surat dinas.
PENGARUH TATA LETAK INSTRUMEN GAMELAN JAWA DI PANGGUNG PENDHAPA ISI SURAKARTA TERHADAP PARAMETER AKUSTIK BAGI PENGENDANG -, Suyatno
Instrumentasi Vol 37, No 1 (2013)
Publisher : LIPI Press, Anggota IKAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.674 KB) | DOI: 10.14203/instrumentasi.v37i1.9

Abstract

Dalam paper ini dibahas analisa parameter akustik tataletak instrumen Gamelan Jawa bagi salah satu pemain Gamelan, yaitu Pengendang (pemain kendang). Pada permainan atau pagelaran Gamelan Jawa, pemain kendang adalah seniman yang seringkali bertindak seolah-olah sebagai konduktor. Sebagai pemimpin, pengendang bertugas mengatur ritme dan tempo permainan didasarkan pada respon yang diterima oleh telinga kiri dan kanan (IACC). Berdasarkan persepsi nada-nada yang didengarnya, pemain kendang memberikan komando melalui nada-nada kendang yang dimainkan. Nada-nada yang dihasilkan oleh instrumen gamelan menyebabkan medan suara dengan karakteristik tertentu. Karena sifatnya, secara teoritis medan suara yang dihasilkan oleh masing-masing instrumen untuk sampai ke pemain sangat dipengaruhi oleh karakter ruang dimana permainan dilakukan. Dalam penelitian ini, sebagai panggung pagelaran adalah Pendhapa ISI Surakarta. Pendhapa ISI Surakarta merupakan ruang pagelaran semi terbuka yang menghasilkan lebih banyak bunyi langsung untuk sampai pada pendengar terutama bagi pemain. Dari penelitian ini diperoleh nilai parameter akustik yang didengarkan oleh Pengendang pada permainan gending “Gambyong Pareanom” adalah Listening Level sebesar 98 dB, Tau-e sebesar 24.9 ms, tau-1 sebesar 2 ms serta IACC sebesar 0,81. Nilai ini menunjukkan bahwa pagelaran Gamelan Jawa pada Pendhapa ISI Surakarta menghasilkan karakter akustik tertentu. Namun karakteristik tersebut ‘belum’ menunjukkan preferensi optimum yang dibutuhkan oleh pemain kendang. Untuk itu, diperlukan pengujian lebih lanjut berbasis psiko dan phisio akustik agar dapat menjamin komunikasi antar pemain melalui nada-nada. Kata kunci: Gamelan Jawa, tataletak instrumen, pendhapa, Pengendang, Listening Level, Tau-e, tau-1, IACC.
COMPARISON OF ALLEGORY SYMBOLS IN O NOVEL BY EKA KURNIAWAN AND ANIMAL FARM BY GEORGE ORWELL Islakhiyah, Mazro'atul; -, Suyatno; Kasiyun, Suharmono
Tell : Teaching of English Language and Literature Journal Vol 8, No 1 (2020): APRIL
Publisher : English Department FKIP Universitas Muhammadiyah Surabaya Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.429 KB) | DOI: 10.30651/tell.v8i1.4399

Abstract

: This study aims to examine the comparison of allegorical symbols in O's novel by Eka Kurniawan and Animal Farm by George Orwell, which includes comparison of symbolic shapes and their meanings. This study was a qualitative research with a comparative literary approach. This data were in the forms of allegory symbols, meaning symbols in the form of words, sentences and paragraphs in both novels. Data sources used were two novels entitled O and Animal Farm, as well as other supporting books. The results of this study indicate that there are similarities and differences in terms of the shape and meaning of symbols in both novels. The shape of the animal symbol is the form that dominates both novels. Based on the meaning, both novels the same describe the state of a country. These similarities and differences are based on the basis of affinity in comparable literature.