Nuryanti .
Politeknik Manufaktur Negeri Bandung Jl Kanayakan No. 21 – Dago, Bandung - 40135

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PENERAPAN SIRIP DALAM (INTERNAL FIN) UNTUK MENGHASILKAN UAP SUPERHEAT PADA PEMBANGKIT UAP ., Nuryanti; Sumardi S., Adhitya; ., Suyono
Jurnal Teknik Mesin Vol 14, No 1 (2013): APRIL 2013
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.24 KB) | DOI: 10.9744/jtm.14.1.35-39

Abstract

Permasalahan energi sekarang ini telah menjadi salah satu hal utama yang menjadi perhatian semua kalangan baik itu upaya dalam mencari sumber energi alternativ non fosil maupun upaya-upaya pengefisienan energi. Adapun salah satu upaya pengefisienan energi tersebut adalah dengan melakukan perancangan dan pembuatan system Pembangkit uap superheat yang menggunakan sirip dalam (internal fin). Uap superheat yang memiliki temperatur di atas 150 ºC diharapkan dapat memberikan pemanasan yang lebih baik dibandingkan dengan pemanasan hanya dengan menggunakan air mendidih. Kegunaan sirip yang sebelumnya sebagai salah satu media pembuang kelebihan kalor maka dalam perancangan pembangkit uap superheat digunakan untuk memberikan kalor tambahan yaitu dengan memasangnya di dalam ketel pembangkit uap. Ketel dibuat dengan bahan stainless steel dengan ketebalan 2 mm dan berdiameter 20 cm. Sedangkan sirip-sirip terbuat dari material yang sama namun dengan ketebalan 0.52 mm dengan dimensi 3 X 10 cm2 sebanyak 10 buah. Air yang dipanaskan hingga mencapai keadaan uap jenuh akan mengalir melewati sirip-sirip dalam. Uap jenuh yang semula memiliki temperatur 100 oC setelah melewati sirip dalam akan mendapatkan tambahan kalor sehingga memiliki temperature rata-rata 175 oC atau telah memasuki fasa superheat. Adapun debit aliran uap superheat rata-rata 5.4 ml/menit. Adanya pemasangan sirip dalam telah meningkatkan penambahan kalor pada uap superheat hingga 60%. Dalam percobaan pemanasan sampel makanan yang sama antara direbus secara konvensional dan menggunakan uap superheat maka setelah diamati selama 15 menit hasil dengan menggunakan uap superheat menunjukkan kondisi yang lebih matang.
DESKRIPSI TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN IMUNISASI PENTAVALEN PADA BAYI DI BIDAN PRAKTEK MANDIRI (BPM) INDARWATI MRANGGEN JATINOM KLATEN ., Nuryanti; ., Kemaludin; Winarningrum, Ika
STIKES DUTAGAMA KLATEN Vol 7 No 2 (2015): JURNAL ILMU KESEHATAN STIKES DUTA GAMA KLATEN
Publisher : STIKES DUTAGAMA KLATEN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5737/v7i2.349

Abstract

Background: Coverage DPT1 and HB1 in Klaten regencyin 2013 some 17 947 (101.6%), coverage of DPT3 + HB3 there are 18 264 (103.4%). DO Drop out or full immunizationin Klaten regencyin 2013 amounted to -2.6%. Research Objectives: to know the phenomenon of the description of the level of knowledge of mothers about infant pentavalent immunization. Research  Methods: This study is a qualitative descriptive with cross sectional approach. The population in this study are all mothers with infants aged 2-4 month sin by ± 38 informants. Sampling Quota sampling with a number of 14 informants. Research  Results: The knowledge of mothers about infant pentavalent immunization. in-depth interviews of high category (25,0%), moderate (25,0%), low (50,0%), knowledge of mothers about the benefits of immunization pentavalent low categorized (83.3%), low categorized pentavalent immunization schedule (33.3%), concomitant effects after being given a pentavalent immunization categorized high (83.3%). Conclusion: Description of the level of knowledge of mothers about infant immunization with pentavalent low category (83.3%).