Articles

Found 3 Documents
Search

PEWARISAN KARAKTER KUALITATIF DAN KUANTITATIF PADA HIPOKOTIL DAN KOTILEDON TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM L.) SILANGAN IPB T64 X IPB T3 Mustafa, Marlina; Syukur, Muhamad; Hadi Sutjahjo, Surjono; ., Sobir
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.37 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.155-164

Abstract

ABSTRACTHypocotyl and cotyledon are potentially used as effective morphological markers since they can be detected earlier. Information on inheritance of tomato hypocotyl and cotyledon was not available. The aims of this research was to study the inheritance of qualitative and quantitative characters of tomato hypocotyl and cotyledon. This research used six population, P1 green hypocotyl (IPB T64), P2 purple hypocotyl (IPB T3), F1, F1R, BCP1, BCP2, and F2. Analysis of qualitative characters used Mendelian and gene action of quantitative characters used joint scaling test. The results of Mendelian indicated that the character of hypocotyl color was controlled by two genes of dominant-recessive epistasis. The gene controlling purple color was dominant to the green color gene. Based on the F2 distribution test, hypocotyl length, cotyledon length and width were controlled by polygenes. There was no influence of maternal effect. The results of the joint scaling test showed gene action of hypocotyl length was controlled by additive gene with influence of additive-dominant epistasis. Length and width of the cotyledon were controlled by additive gene and influence of duplicate epistasis effect. All characters had high level of broad sense heritability and medium level of narrow sense heritability.Keywords: cotyledone, gene action, heritability, hypocotyle, morphology marker.ABSTRAKHipokotil dan kotiledon berpotensi untuk dijadikan sebagai marka morfologi yang efektif karena dapat dideteksi lebih dini. Informasi pola pewarisan karakter hipokotil dan kotiledon tomat belum banyak tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pola pewarisan karakter kualitatif dan kuantitatif dari hipokotil dan kotiledon tomat sebagai marka morfologi pada tahap awal pertumbuhan tanaman. Penelitian ini menggunakan enam set populasi yaitu P1 hipokotil hijau (IPB T64), P2 hipokoti ungu (IPB T3), F1, F1R, BCP1, BCP2, dan F2. Karakter kualitatif menggunakan analisis Mendel dan pendugaan aksi gen karakter kuantitatif menggunakan analisis skala gabungan. Hasil analisis Mendel menunjukkan bahwa karakter warna hipokotil dikendalikan oleh dua pasang gen epistasis dominan-resesif. Gen pengendali warna ungu bersifat dominan terhadap warna hijau pada hipokotil tomat. Panjang hipokotil, panjang dan lebar kotiledon dikendalikan oleh banyak gen dan tidak ada pengaruh tetua betina berdasarkan uji sebaran populai F2. Hasil analisis skala gabungan menunjukkan bahwa aksi gen karakter panjang hipokotil dikendalikan oleh gen aditif dengan pengaruh epistasis aditif dominan, panjang dan lebar kotiledon dikendalikan oleh gen dominan dengan pengaruh epistasis duplikat. Semua karakter yang diamati memiliki nilai heritabilitas arti luas dalam tingkatan yang tinggi, sedangkan heritabilitas arti sempit dalam tingkatan yang sedang.Kata kunci: aksi gen, heritabilitas, hipikotil, kotiledon, marka morfologi.
KEANEKARAGAMAN CEMPEDAK [ARTOCARPUS INTEGER (THUNB.) MERR.] DI PULAU BENGKALIS DAN PULAU PADANG, RIAU ., Muchlis; Chikmawati, Tatik; ., Sobir
Floribunda Vol 5, No 7 (2017)
Publisher : PTTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32556/floribunda.v5i7.2017.204

Abstract

Muchlis, Tatik Chikmawati & Sobir. 2017. The Diversity of Chempedak [(Artocarpus integer (Thunb.) Merr.] in Bengkalis and Padang Islands, Riau. Floribunda 5(7): 239–252. —  Chempedak [Artocarpus integer (Thunb.) Merr.]  is a native tropical fruit plant of Indonesia. Riau is one of chempedak distribution regions in Indonesia but the information about its diversity is very limited. The aims of the research are to characterize the morphological characters of chempedak’s accessions in Riau and to describe the diversity. The research was conducted in Bengkalis and Padang Islands, Riau province using exploration method. As many as 21 accessions of chempedak and two accessions of jackfruits were observed using 83 characters based on descriptor of jackfruit (Artocarpus heterophyllus). The analysis of similarity and clustering based on morphological data were done using Simple Matching coefficient and Unweighted Pair Group Method with Arithmatic Average (UPGMA) method. The diversity of chempedak in Riau were observed on shape of (crown crop, leaf blade, apex & base of leaf, inflorescences, fruit, spine, flake, seed), stalk length, fruit surface and flake colour. The result produced a dendrogram of chempedak in Riau with the similarity index ranged 44 –83%. Dendrogram grouped all chempedak in Riau were not clustered based on island origin.Keywords: Bengkalis Island, dendrogram, morphological character, Padang Island, Simple Matching coefficient, tropical fruits.  Muchlis, Tatik Chikmawati & Sobir. 2017. Keanekaragaman Cempedak [Artocarpus integer (Thunb.) Merr.] di Pulau Bengkalis dan Pulau Padang, Riau. Floribunda 5(7): 239–252. —   Cempedak [Artocarpus integer (Thunb.) Merr.] adalah tanaman buah tropis asli Indonesia. Riau merupakan salah satu daerah persebaran cempedak di Indonesia, namun informasi tentang keanekaragamannya terbatas. Tujuan penelitian ini adalah mengkarakterisasi ciri morfologi aksesi-aksesi cempedak di Riau dan mengungkapkan keanekaragamannya. Penelitian dilakukan di Pulau Bengkalis dan Pulau Padang, Provinsi Riau menggunakan metode jelajah. Sebanyak 21 aksesi cempedak dan 2 aksesi nangka diamati menggunakan 83 ciri berdasarkan deskriptor nangka (Artocarpus heterophyllus). Analisis keserupaan dan pengelompokan berdasarkan data morfologi menggunakan koefisien SM dan metode UPGMA. Keanekaragaman cempedak di Riau ditemukan pada bentuk-bentuk (kanopi, helaian daun, pangkal & dan ujung helaian daun, perbungaan, buah, duri, bulbus, biji), tangkai perbungaan, permukaan buah, dan warna bulbus. Hasil dendrogram menunjukkan bahwa cempedak di Riau memiliki indeks kemiripan sebesar 44–81%. Dendrogram menunjukkan bahwa cempedak di Riau tidak mengelompok berdasarkan asal pulau.Kata kunci: Buah tropis, ciri morfologi, dendrogram, koefisien Simple Matching, Pulau Bengkalis, Pulau Padang.
APLIKASI ROOT ZONE COOLING SYSTEM UNTUK PERBAIKAN PEMBENTUKAN UMBI BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA VAR. AGGREGATUM) ., Nurwahyuningsih; Suhardiyanto, Herry; ., Sobir
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 5 No. 2 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The aim of this research can be formulated as follows: to analyze the effect of different root zone temperature to some extent the temperature is 10oC, 15oC, control and vernalization of plant growth and the formation of shallot bulbs by using aeroponic system. The experimental design used was a draft Plots Divided (Split Plot Design), which is arranged in a randomized block design with four replications. The main plot is a vernalization treatment (without vernalization and with vernalization). The subplots in the form of a nutrient solution temperature at 10oC, 15oC, and without cooling system as a control. The parameters measured were the number of leaves, the number of tillers, the number of bulbs, the weight of bulbs and the wet weight of root. There are no interaction between the annealing temperature by vernalization to the number of leaves, the bulb number, the weight of bulbs, and the weight of the roots. Cooling temperatures nutrient solution to improving root growth and bulb formation of shallot. Optimal root growth can improve nutrient uptaken by plants then can improve plant growth and bulb yield larger and heavier. Temperatures suitable for shallot cultivation in lowland tropical for producing tubers with quenching temperature is 10°C, non vernalization.Abstrak Tujuan pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: menganalisa pengaruh perbedaan suhu zona perakaran dengan beberapa taraf suhu yaitu 10oC, 15oC, kontrol dan vernalisasi terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah dan pembentukan umbi dengan menggunakan aeroponik sistem. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan empat ulangan. Petak utama adalah perlakuan vernalisasi (tanpa vernalisasi dan dengan vernalisasi). Anak petak berupa suhu pendinginan larutan nutrisi 10oC, 15oC, dan tanpa pendinginan sebagai kontrol. Parameter yang diamati adalah jumlah daun, jumlah anakan, jumlah umbi, berat umbi, dan berat basah akar. Tidak terjadi interaksi antara suhu pendinginan dengan vernalisasi terhadap jumlah daun, jumlah umbi, bobot umbi, dan berat akar. Pendinginan suhu larutan nutrisi mampu meningkatkan pertumbuhan perakaran dan pembentukan umbi tanaman bawang merah. Pertumbuhan akar yang optimal mampu meningkatkan serapan unsur hara oleh tanaman yang dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman, menghasilkan umbi yang lebih besar dan lebih berat. Suhu yang cocok untuk budidaya bawang merah didataran rendah tropika basah untuk memproduksi umbi adalah dengan pendinginan suhu 10oC, non vernalisasi.