Tri Hanggono Achmad
Departemen Ilmu Penyakit THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala 3Departemen Biokimia dan Biomolekuler Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

Relationship between C677T Methylenetetrahydrofolate Reductase Gene Polymorphism and Homocysteine in Cerebral Palsy Gamayani, Uni; Machfoed, M. Hasan; Idjradinata, Ponpon; Achmad, Tri Hanggono
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : International Journal of Integrated Health Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.652 KB)

Abstract

Objective: To observe the relationship between methylenetetrahydrofolate reductase (MTHFR) C677T gene polymorphism and homocysteine levels in cerebral palsy (CP) children. Methods: This cross-sectional study was conducted in several hospitals, school for children with special needs, and rehabilitation centers in Bandung from March to November 2014, on children with CP aged 4–14 years who met the inclusion criteria. Genotyping was performed using polymerase chain reaction (PCR)-restriction fragment length polymorphism (RFLP) and direct sequencing. Homocysteine serum level was measured using chemiluminescent microparticle immunoassay (CMIA) method. Statistical analysis was conducted using t test. Results: In this study, 150 CP children had MTHFR C677T gene polymorphism with a frequency of 18%, consisting of TT homozygotes (4%), CT heterozygotes (14%), and T allele (11%. The mean serum level of homocysteine in CP with C677T MTHFR gene polymorphism was 8.22 (±1.89) µmol/L, higher than those without polymorphism (p=0.046). Conclusions: A relationship between MTHFR C677T gene polymorphism and homocysteine level in children with cerebral palsy is found in this study. Keywords: Cerebral palsy, homocysteine, methylenetetrahydrofolate reductase polymorphism DOI: 10.15850/ijihs.v4n1.682
MODIFIKASI METODE ISOLASI SEL ENDOTEL PEMBULUH DARAH OTAK (EPDO) TIKUS: TEKNIK DASAR KULTUR SEL PRIMER DI BIDANG NEUROSAINS Faried, Ahmad; Zafrullah Arifin, Muhammad; Sutiono, Agung Budi; Halim, Danny; Djuwantono, Tono; Achmad, Tri Hanggono
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 4
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1444.737 KB)

Abstract

Metode konvensional isolasi sel endotel pembuluh darah otak (EPDO) masih tergolong sulit, sehingga upaya mendapatkan populasi murni sel ini adalah tantangan. Pada penelitian ini dilakukan isolasi endotel dari tikus Wistar dan mencit C57/Bl6, berdasarkan protokol the care and use of laboratory animals, Universitas Gunma, Jepang. Modifikasi metode isolasi adalah menggunakan gradasi bovine serum albumin (BSA), bukan Dextran-70 yang umumnya dipakai, untuk memisahkan sel EPDO yang bersatu menjadi sel EPDO tunggal. Penelitian ini dilakukan di laboratorium sel kultur, Universitas Padjadjaran bekerjasama dengan Universitas Gunma, Jepang, Januari 2008?Juni 2009. Uji hasil isolasi dan karakteristik sel EPDO dilakukan dengan teknik imunofloresen. Ekspresi tight junction ZO-1, menunjukkan sel EPDO membentuk selapis sel utuh, rapat, tidak bertumpuk dan kompak, sesuai dengan karakteristik dinding EPDO. Fenotip sel EPDO dikonfirmasi dengan acethylated LDL, faktor von Willebrand dan CD31. Penghancuran kapiler dengan collagenase/dispase masih menghasilkan populasi sel yang terkontaminasi perisit. Kontaminasi dimurnikan dengan menggunakan puromycin, tingkat pemurnian sel EPDO mencapai 98,3%. Simpulan, teknik modifikasi berhasil mengisolasi sel EPDO tikus dan mencit, tanpa melakukan intervensi genetik. Puromycin dapat digunakan untuk memurnikan sel EPDO. [MKB. 2010;42(4):161?8].Kata kunci: Metode modifikasi isolasi sel EPDO, pembuluh sawar otak, teknik pemurnian Isolation Modified-Method of Mouse-Brain Microvessel Endothelial Cells: Primary Cell Culture Technique in NeuroscienceIsolation method to obtain pure BMVECs is hard to be done consistently and remains a challenge. In this study, we isolated BMVECs from Wistar rat and C57/Bl6 mouse from Japan SLC. All procedures performed according to guidelines for the care and use of laboratory animals of Gunma University, Japan. The modification of isolation method was using bovine serum albumin (BSA) gradation, not Dextran-70 in which generally used, to separate clusters of BMVECs into single cell. This study was done at Universitas Padjadjaran, in colaboration with Gunma University, Japan, January 2008?June 2009. Further,characteristic and purification results were proven by imunofluorescene staining. The results showed that staining of tight junction, ZO-1, formed a monolayer, tightly packed, non-overlapping and contact-inhibited BMVECs, as expected for a vessel wall endothelial. ECs phenotype confirmed by acethylated LDL, von Willebrand and CD31. The digestion of capillaries generated contaminating pericytes. Contamination was purified using puromycin and the results considered satisfactory (98.3%). In conclusion, our modification procedure allows the isolation of primary rat and mouse BMVECs, which form an endothelial-like monolayer in few days. Puromycin can be used for purification of primary rat and mouse BMVECs. [MKB. 2010;42(4):161?8].Key words: Blood brain barrier, isolation modified-method of mouse-BMVECs, purification methods DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n4.30
HUBUNGAN STATUS INSTABILITAS MIKROSATELIT DAN EKSPRESI P53 DENGAN ETIOPATOLOGI ADENOKARSINOMA KOLOREKTAL PADA ORANG INDONESIA DI KELOMPOK USIA KURANG DARI 40 TAHUN Lukman, Kiki; Dewayani, Brigitta M.; Hernowo, Bethy S.; Hanafi, Basrul; Achmad, Tri Hanggono; Sugandi, Suwandi
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8084.818 KB) | DOI: 10.24198/ijas.v2i1.2730

Abstract

Epidemiologically, the percentage of colorectal adenocarcinoma (CRC) in the age group ≤40 years old in Indonesia is higher than in the West European, North American and other developed Asian countries with different clinico-pathological features. In the afromentioned countries, the carcinogenesis pathway of this group is hereditary which show high microsatellite instability (MSI), whereas the age group >40 years old is sporadic of which show chromosomal instability (CIN) with the mutation of p53 gene. To elucidate the carcinogenesis pathway with its molecular characteristics of this group among Indonesians, a cross sectional study was conducted by performing the immunohistochemical detection of MLH1 and MSH2 expression (MSI status), and mutated p53 gene expression (CIN) in the CRC group ≤40 years old and >40 years old at Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung, from May 2008 until November 2009. Thirty nine CRC patients, consisting of 22 patients of  ≤40 years old and 17patients >40 years old, were eligible for this study. The CRC patients of ≤40 years old showed 4 MSI high,  1 MSI lowand 17 MSS (microsatellite stable), associated with 10 p53 positive and 12 p53 negative status. In the CRC group of >40 years old, there was no MSI high, but 4 MSI low and 13 MSS were found, associated with 11 p53positive and 6 p53negative status. There was no significant difference with regards to the association between MSI status and p53 expression in both groups (p MSI=0.95, p p53=0.23).
REAKSI SILANG RESPONS IMUN HUMORAL VIRUS A/H1N1 PANDEMI/2009 DAN SEASONAL/2006 PADA REMAJA PERIODE KELAHIRAN TAHUN 1990-1996 DHAMAYANTI, MEITA; ACHMAD, TRI HANGGONO; KARTASASMITA, CISSY B; IDJRADINATA, PONPON
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8874.663 KB) | DOI: 10.24198/.v3i2.16830

Abstract

GAMBARAN MOTIVASI MENJADI DOKTER PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN dewi, sari puspa; Arya, Insi Farisa; -, Achadiyani; Achmad, Tri Hanggono
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 September 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.133 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v1i1.10338

Abstract

Dokter adalah profesi yang luhur dan dibutuhkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan kedokteran merupakan pendidikan yang tidak mudah dan membutuhkan motivasi yang kuat untuk menyelesaikannya. Motivasi internal maupun eksternal telah diketahui dapat memengaruhi proses belajar maupun hasil belajar mahasiswa. Dengan mengetahui motivasi mahasiswa maka program studi dapat merancang kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi mahasiswa kedokteran memilih pendidikan dokter dan persepsinya terhadap profesi dokter. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode fenomenologi. Seluruh mahasiswa yang masuk tahun 2014, pada bulan pertamanya ditugaskan menuliskan motivasi memilih program pendidikan dokter. Esai tersebut lalu dianalisis untuk mendapatkan kesamaan tema. Seluruh mahasiswa sebanyak 281 orang (209 perempuan, 72 laki-laki) menyatakan bahwa motivasi menjadi dokter terutama adalah untuk menolong dan menjaga kesehatan masyarakat. Motivasi lain adalah ingin mempelajari tubuh manusia lebih mendalam. Yang lain menyatakan faktor agama dan dorongan keluarga. Hampir semua mahasiswa memandang profesi kedokteran adalah profesi yang selalu dibutuhkan. Beberapa mahasiswa memandang profesi dokter masih menjanjikan kesejahteraan secara finansial. Data ini menunjukkan bahwa mahasiswa tahun pertama masih memiliki motivasi yang luhur untuk menjadi dokter. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menempuh pendidikan. Penelitian lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan motivasi mereka setelah lulus dokter.Kata kunci: motivasi, mahasiswa, profesi dokter
Perbedaan Kadar Adiponektin, Asimetrik Dimetilarginin Plasma, dan Respons Vasodilatasi Arteri Brakialis antara Dewasa Muda dengan Riwayat Bayi Berat Lahir Rendah dan Normal Purnomowati, Augustine; K.S. Kariadi, Sri Hartini; Achmad, Tri Hanggono; C. Mose, Johanes; Setianto, Budhi
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.954 KB)

Abstract

Adiponektin mempunyai efek antiaterogenik, antiinflamasi, sensitizer insulin, dan berperan penting dalam mengatur pertumbuhan janin. Hipoadiponektinemia dapat menyebabkan disfungsi endotel. Risiko penyakit kardiovaskular meningkat pada subjek dengan riwayat bayi berat lahir rendah (BBLR). Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kadar adiponektin, asimetrik dimetilarginin (ADMA) plasma dan respons vasodilatasi arteri brakialis melalui tes flow mediated brachial artery (FMBA) antara dewasa muda dengan riwayat BBLR dan bayi berat lahir normal (BBLN), serta korelasi kadar adiponektin dengan fungsi endotel pada BBLR. Penelitian kohor retrospektif dilakukan periode November 2009–Januari 2010 berasal dari Growth Study Cohort Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Sebanyak 134 subjek dipilih secara simple random, terdiri atas 67 BBLR dan 67 BBLN yang karakteristik umumnya sama. Analisis multivariat melalui Hotelling’s trace menunjukkan FMBA, kadar ADMA, dan adiponektin berbeda bermakna (p<0,001) antara BBLR dan BBLN. Analisis simultaneous confidence interval menunjukkan kadar adiponektin plasma dan FMBA bermakna lebih rendah (p=0,015 dan p<0,001) pada BBLR dibandingkan dengan BBLN. Korelasi tidak bermakna antara kadar adiponektin dan ADMA (r=-0,16; p=0,176) dan FMBA (r=0,13; p=0,281) BBLR. Kecil peran adiponektin pada disfungsi endotel, mungkin variabel lain berperan, seperti tumor necrosis factor α. Simpulan, terdapat perbedaan kadar adiponektin plasma dan FMBA antara dewasa muda dengan riwayat BBLR dan BBLN, tetapi kecil peran adiponektin pada disfungsi endotel dewasa muda dengan riwayat BBLR. [MKB. 2012;44(1):1–6].Kata kunci: Adiponektin, asimetrik dimetilarginin, BBLR, tes flow mediated brachial arteryDifferences of Plasma Adiponectine, Asymmetric Dimethylarginine and Brachial Artery Vasodilatation Response in Young Adult with Low and Normal Birth Weight HistoryBeside an anti-atherosclerotic, anti-inflammation effect, and a sensitizer insulin, adiponectin also play an important role in fetal growth. Hypoadiponectinemia may lead to endothelial dysfunction. Low birth weight (LBW) has increase risk of cardiovascular disease. The aim of this study was to analyze the differences of plasma adiponectin, asymmetric dimethylarginine (ADMA) level and vasodilatation response of brachial artery by doing flow mediated brachial artery (FMBA) test between young adults with LBW and normal birth weight (NBW), and the role ofadiponectin level in endothelial function of the LBW. This was a retrospective cohort study during November 2009– January 2010, 134 subjects were randomly selected from the Growth Study Cohort of Tanjungsari Sumedang. They consisted of 67 LBW and 67 NBW young adults, with similar basic characteristics. A multivariate analysis via Hotelling’s trace showed that there was a significant difference (p<0.001) for FMBA, ADMA, and adiponectin level, but simultaneous confidence interval measurements indicated that the rate of FMBA and the level of plasma adiponectin were significantly lower (p<0.001, p=0.015, respectively) in LBW compared to NBW. The correlation between adiponectin and ADMA level (r=-0.16, p=0.176), and FMBA (r=0.13, p=0.281) in LBW were not significant, suggesting a small role of plasma adiponectin in endothelial dysfunction of young adults with LBW, other variables could play a role such as tumor necrosis factor α. In conclusions, the level of plasma adiponectin and FMBA are different between LBW and NBW, but the role of adiponectin may be small in endothelial dysfunction in young adults with LBW. [MKB. 2012;44(1):1–6].Key words: Adiponectin, asymmetric dimethylarginine, flow mediated brachial artery, LBW test DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.72
Aktivitas Polifenol Teh Hijau (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) Sebagai Imunomodulator melalui Respons Supresi Imunoglobulin E (IgE) pada Rinitis Alergika Yusni, -; Husni T. R,, Teuku; Achmad, Tri Hanggono
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.857 KB)

Abstract

Rinitis alergika adalah kondisi inflamasi mukosa nasal yang diakibatkan oleh interaksi antara alergen dan imunoglobulin E (IgE). Imunomodulator merupakan bagian terpenting dalam pengobatan rinitis alergika dan salah satu tanaman obat yang mempunyai aktivitas imunomodulator adalah teh hijau (Camellia sinensis L.) terutama polifenol. Tujuan penelitian adalah menganalisis aktivitas polifenol teh hijau sebagai imunomodulator pada pasien rinitis alergika. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni–Desember 2011 di laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Unsyiah Banda Aceh dan pemeriksaan IgE dilakukan di laboratorium swasta. Desain penelitian adalah quasi experimental dengan rancangan pretest-posttest with control group. Subjek penelitian adalah 12 pasien rinitis alergika, yaitu 6 orang sebagai kelompok kontrol (diberikan plasebo) dan 6 orang sebagai kelompok perlakuan (diberikan kapsul polifenol teh hijau 2x350 mg/hari, selama 14 hari). Analisis data menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji-t (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan kadar imunoglobulin E sesudah pemberian perlakuan pada kelompok perlakuan lebih rendah dibanding dengan kelompok kontrol (1.475,2±940,7 vs 494,3±366,5 IU), namun tidak bermakna (p=0,05). Simpulan pemberian polifenol teh hijau  menurunkan sekresi IgE, namun tidak bermakna dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.  [MKB. 2015;47(3):160–66]Kata kunci: Imunoglobulin E, imunomodulator, polifenol teh hijau (Camellia sinensis L.), rinitis alergika Activity of Green Tea (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) Polyphenols as Immunomodulator through Response of Suppression Immunoglobulin E (IgE) in Allergic RhinitisAbstractAllergic rhinitis is an inflammatory condition of the nasal mucosa caused by  interactions between allergens and immunoglobulin E (IgE). Immunomodulatory is an important part of the treatment of allergic rhinitis. One of the medicinal plants that have immunomodulatory activities is green tea (Camellia sinensis L.), specifically polyphenols. The purpose of this study was to analyze the activity of green tea’s polyphenols as an immunomodulator in patients with allergic rhinitis. This study was conducted in  June to December 2011 in the laboratory of Physiology, Faculty of Medicine Unsyiah with the IgE examinations conducted in private laboratories. This study is a pretest-postest quasi experimental study with control group design. Subjects were 12 patients with allergic rhinitis;  6 people were included in the control group (placebo) and 6 in the treatment group (green tea’s polyphenols 2x350 mg/day, for 14 days). Analysis of the data was performed using the  normality test, homogeneity test, and t-test (p<0.05). The results showed that the levels of immunoglobulin E after the administration of green tea’s polyphenols in the treatment group was lower than the control group (1.475.2±940.7 vs 494.3±366.5 IU), but not significantly (p=0.05). In conclusion, the administration of green tea’s polyphenols can insignificantly decrease the secretion of IgE. Hence, further research is required. [MKB. 2015;47(3):160–66]Key words: Allergic rhinitis, immunoglobulin E,  immunomodulator, green tea’s polyphenols (Camellia sinensis L.)DOI: 10.15395/mkb.v47n3.596
Deteksi Natrium/Iodide Symporter (NIS) pada Galur Sel Kanker Payudara SKBR3 dengan Imunositofluoresens Elliyanti, Aisyah; Wikayani, Tenny Putri; Noormartany, Noormartany; Masjhur, Johan S.; Achmad, Tri Hanggono
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.099 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v48n1.728.1

Abstract

Galur sel SKBR3 adalah model kanker payudara positif human epidermal growth factor receptor2 (HER2). Pemberian kemoterapi memperlihatkan respons lengkap hanya pada 50% pasien kanker payudara dengan tipe positif HER2. Kemampuan jaringan tumor menangkap dan mengakumulasi iodium radioaktif dihubungkan dengan ekspresi natrium/iodide symporter (NIS). Tujuan penelitian ini adalah menilai ekspresi dan distribusi NIS pada galur sel SKBR3 serta menilai efek induksi epidermal growth factor (EGF) pada ekspresi NIS menggunakan imunositofluoresens-ISF. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kultur Sel, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FKUP) mulai bulan September 2013 sampai dengan April 2014. Sel SKBR3 ditumbuhkan pada plat kultur dan ditunggu hingga konfluen 70%. Sel dibagi atas dua kelompok, yaitu kelompok yang diberi induksi dan kontrol. Induksi EGF diberikan dengan dosis 50 ng/mL. Pemeriksaan ISF menggunakan antibodi primer rabbit polyclonal antibody anti NIS dan antibodi sekunder goat anti rabbit IgG polyclonal antibody. Data hasil pengamatan dinilai secara semikuantitatif. Natrium/iodide symporter tampak terekspresi dan terdistribusi di sitoplasma. Sel yang diinduksi dengan EGF memperlihatkan peningkatan ekspresi NIS di sitoplasma dan distribusinya di membran sel secara bermakna. Sel SKBR3 mengekspresikan NIS yang terdapat di sitoplasma. Induksi EGF meningkatkan ekspresi NIS dan distribusinya di membran sel. Temuan ini dapat mengarah potensi kemampuan sel kanker payudara menangkap dan mengakumulasikan iodium radioaktif. [MKB. 2016;48(1):15–8] Kata kunci: Ekspresi NIS , galur sel SKBR3, kanker payudara, imunositofluoresensDetection of Natrium/Iodide Symporter (NIS) in SKBR-3 Breast Cancer Cell Line Using ImmunocytofluoresenceAbstractSKBR-3 cell line is a breast cancer model for human epidermal growth factor receptor2 (HER2) positive. Only 50% of patients of this type have fully responded to chemotherapy. Natrium iodide symporter expression correlates with the uptake and ability of cells to accumulate radioiodine. The aim of this study was to examine natrium/iodide symporter (NIS) expression and its distribution with and without epidermal growth factor (EGF) treatment using immunocytofluoresence (ICF). This study was conducted at the Cell Culture Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran from September 2013 to April 2014. SKBR3 cells were cultured until 70% confluent. Cells were then divided into two groups: treatment group and control group. The treatment group was treated with EGF 50 ng/mL. Cells were incubated with primary antibody rabbit polyclonal antibody anti-NIS, and then were followed with secondary-antibody goat polyclonal antibody to rabbit. Data from the observation were then assessed semi-quantitatively. Natrium/iodide symporter was seen to be expressed and distributed in the cytoplasm. Cells induced by EGF showed significant increase in NIS expression in cytoplasm and its distribution in cell membrane. It is concluded that the SKBR3 cells express NIS in cytoplasm and that EGF induction increases NIS expression and distribution in cell membrane. This finding leads to a potential ability of breast cancer cells to uptake and accumulate radioiodine. [MKB. 2016;48(1):15–8]Key words: Breast cancer, cell line SKBR-3, immunocytofluoresence, NIS expression
Status Asetilator Gen NAT2 pada Pasien Tuberkulosis dan Tuberkulosis dengan Diabetes Melitus di Kupang, Nusa Tenggara Timur Pramono, Alvinsyah Adhityo; Penggoam, Simeon; Sahiratmadja, Edhyana; Utami, Novi Vicahyani; Achmad, Tri Hanggono; Panigoro, Ramdan
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.875 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v49n1.989

Abstract

Indonesia adalah negara dengan jumlah penderita tuberkulosis (TB) terbanyak kedua  di dunia. Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu komorbid TB. Arylamine N-acetyltransferase 2 (NAT2) adalah enzim yang berfungsi memetabolisir isoniazid (INH) yang disandi oleh gen NAT2. Gen NAT2 memiliki sejumlah polimorfisme dan dapat menentukan kemampuan seseorang untuk memetabolisir obat yang disebut status asetilator. Pada individu dengan status asetilator lambat, INH dimetabolisir dengan lambat sehingga memungkinkan terjadi intoksikasi hati. Pada TB dengan DM (TBDM) status asetilator lambat dapat membuat pengobatan TB maupun DM menjadi kurang optimal. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi status asetilator pasien TBDM di RSUD Prof. WZ Johannes Kupang periode Juni–November 2011. Pada penelitian potong lintang ini DNA dari darah 122 pasien TB diisolasi dan gen NAT2 kemudian diamplifikasi dan disekuensing untuk diketahui status asetilatornya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 pasien yang memiliki glukosa serum >200 mg/dL yang dikategorikan sebagai pasien TBDM. Pada pasien TBDM didapatkan seorang dengan status asetilator cepat (NAT2*4/NAT2*4), 2 orang dengan status asetilator sedang (NAT2*13A/NAT2*6J), dan 2 orang dengan status asetilator lambat (NAT2*5/NAT2*5G, NAT2*6A/ NAT2*6A, NAT2*7B/ NAT2*7B). Pada pasien TB yang dipilih secara random berdasar usia dan jenis kelamin serupa dengan TBDM didapatkan 2 orang dengan status asetilator cepat (NAT2*4/NAT2*4) dan 3 orang dengan asetilator sedang (NAT2*4/NAT2*6A, NAT2*13A/NAT2*6J). TBDM yang memiliki status asetilator lambat berpotensi memiliki masalah ganda dalam terapi, selain dapat terjadi toksisitas hati akibat terapi dengan INH, juga dapat mengakibatkan pengobatan DM menjadi tidak optimal. Perlu dilakukan peneltian lebih lanjut terkait farmakogenetik pada TBDM. [MKB. 2016;49(1):61–6]Kata kunci: Asetilator, isoniazid, NAT2, farmakogenetik, tuberkulosis NAT2 Gene Acetylator Status of Tuberculosis and Tuberculosis with Diabetes Mellitus Patients in Kupang, Nusa Tenggara TimurIndonesia is the second highest country with TB patients in the world. Diabetes mellitus (DM) is a comorbid of TB. Arylamine N-acetyltransferase 2 (NAT2), encoded by the NAT2 gene, is an enzyme that metabolizes isoniazid (INH). NAT2 gene has some polimorphysims that may play a role in INH acetylating process. Those who are slow acetylators may develop liver intoxication as a consequence of slow INH metabolism process. Slow acetylator TBDM patients may complicate both TB and DM treatment, causing them to be less optimal. The aim of this study was to explore the acetylator status of TBDM patients in Kupang, Indonesia. A cross-sectional study was conducted by obtaining DNA of 122 TB patients in Kupang in June–November 2011. NAT2 gene was amplified and sequenced to determine the acetylator status. There were 5 TB patients who had a glucose serum level of >200mg/dL and was catagorized as TBDM. Result showed that there was 1 TBDM patient who was a rapid acetylator (NAT2*4/NAT2*4), 2 patients as intermediate acetylators (NAT2*13A/NAT2*6J), and 2 patients as slow acetylators (NAT2*5/NAT2*5G, NAT2*6A/ NAT2*6A, NAT2*7B/ NAT2*7B). Meanwhile,  there were 2 TB patients who was rapid acetylators (NAT2*4/NAT2*4) and 3 patients as intermediate acetylators (NAT2*4/NAT2*6A, NAT2*13A/NAT2*6J). Slow NAT2 acetylator TBDM patients potentially face more problems during therapy. As INH may cause liver intoxication, these patients may also experience unoptimum DM treatment. Therefore, it is strongly recommended to do a study on the role of pharmacogenomics in TBDM. [MKB. 2016;49(1):61–6]Key words: Acetylator, isoniazid, NAT2, pharmacogenetics, tuberculosis
Hubungan Peringkat Akreditasi Institusi Pendidikan Diploma III Kebidanan dengan Hasil Uji Coba Uji Kompetensi Bidan Periode Juli 2013 Kusumastuti, Ani; Achmad, Tri Hanggono; Judistiani, Tina Dewi; Hilmanto, Dany; Anwar, Anita Deborah; Dewi, Sari Puspa
Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 2, No 2 (2015): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.844 KB) | DOI: 10.24198/ijemc.v2i2.41

Abstract

Penjaminan mutu institusi pendidikan dilakukan melalui akreditasi institusi, sedangkan kualitas lulusan salah satunya dilakukan melalui uji kompetensi. Peringkat akreditasi yang baik akan menghasilkan uji kompetensi yang baik, namun berdasarkan hasil uji coba uji kompetensi bidan tahun 2012 didapatkan rerata nilai peserta dari institusi terakreditasi B memiliki nilai yang lebih rendah dari institusi yang terakreditasi C. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan nilai berdasarkan peringkat akreditasi dan hubungan peringkat akreditasi dengan nilai uji coba uji kompetensi. Penelitian dilakukan dengan  analitik cross sectional menggunakan seluruh data peserta uji coba uji kompetensi bidan periode Juli 2013 dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND) dan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Data dianalisis dengan Kruskal-Wallis, Post Hoc Mann Whitney, dan Somers’d. Perbedaan nilai didapatkan pada semua kelompok akreditasi institusi (p<0,001) dengan nilai median (minimal−maksimal) 61,67 (19,44−78,33) akreditasi A, 54,44 (1,11−77,78) akreditasi B, dan 49,44 (2,78−80,00) akreditasi C (p<0,001). Hubungan yang lemah antara peringkat akreditasi institusi pendidikan dengan nilai uji coba uji kompetensi (p<0,001), baik dibandingkan dengan nilai median (r=0,22) maupun nilai batas lulus (r=0,23). Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan nilai uji coba uji kompetensi berdasarkan peringkat akreditasi dan adanya hubungan antara peringkat akreditasi institusi dengan hasil uji coba uji kompetensi bidan. Semakin baik peringkat akreditasi institusi maka semakin baik pula hasil uji coba uji kompetensi yang didapatkan