Articles

ANALISIS DIFRAKSI SINAR-X DAN KARAKTERISASI ZNXFE(3-X)O4SEBAGAI PENYERAP GELOMBANG MIKRO OLEH PADA PERALATAN TELEKOMUNIKASI Yunasfi, Yunasfi; Nurfadilah, Siti; Mashadi, Mashadi; Adi, Wisnu Ari
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2018.19.2.3955

Abstract

ANALISIS DIFRAKSI SINAR-X DAN KARAKTERISASI ZnxFe(3-x)O4SEBAGAI PENYERAP GELOMBANG MIKRO OLEH PADA PERALATAN TELEKOMUNIKASI. Telah dilakukan analisis dan karakterisasi ZnxFe(3-x)O4 sebagai penyerap gelombang mikro pada peralatan telekomunikasi.. Sistem ZnxFe(3-x)O4 (dengan x = 0,50; 0,75; 1,0 dan 1,25) disintesis dengan mencampurkan serbuk Zn(NO3)2 dan Fe(NO3)3 sesuai dengan perbandingan molnya dengan metode sol-gel dan kemudian disintering pada suhu 1000 ºC selama 5 jam. Hasil refinement dari pola difraksi sinar-X menunjukkan bahwa sampel dengan nilai x<1 membentuk fasa ZnFe2O4 dan Fe2O3, untuk nilai x=1,0 membentuk fasa tunggal dari ZnFe2O4, sedangkan untuk nilai x>0 membentuk fasa ZnFe2O4 dan ZnO. Fasa ZnFe2O4 memiliki struktur spinel kubik (space group F d -3 m), parameter kisi  a = b = c = 8.428 Å, a = b = g = 90º. Fasa Fe2O3 memiliki struktur trigonal (space group R-3c),  parameter kisi  a = b = 5,03 Å dan c= 13,7 Å, a = b = 90º dan g=120º.  Fasa ZnO memiliki struktur kristal heksagonal (space group P 63 mc), parameter kisi a = b = 3,246 Å dan c = 5.198 Å, a = b = 90º dan g=120 º. Hasil pengukuran serapan gelombang mikro menunjukkan bahwa sistem ZnxFe(2-x)O4 dengan nilai x = 1,0 (ZnFe2O4) memiliki serapan gelombang mikro paling tinggi, yaitu ~ 91 %. Dengan demikian, ZnFe2O4 dapat diaplikasikan sebagai bahan penyerap gelombang mikro.
SINTESIS BAHAN MAGNETIK PSEUDO BROOKITE FE2TIO5 BERBASIS SUMBER DAYA MINERAL LOKAL Sardjono, Prijo; Adi, Wisnu Ari; Sudirman, Sudirman
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 3: APRIL 2013
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jsmi.2013.14.3.4416

Abstract

SINTESIS BAHAN MAGNETIK PSEUDO BROOKITE Fe2TiO5 BERBASIS SUMBER DAYA MINERAL LOKAL. Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi bahan magnet pseudobrookite Fe2TiO5 dari sumber daya alam lokal pasir besi. Mineral pasir besi diperoleh dari pesisir pantai Banten. Pasir besi ini dipreparasi dengan teknik mechanical milling untuk memperoleh ukuran partikel yang kecil. Kemudian pasir besi hasil milling dilakukan leaching dan seperator magnetic untuk menghilangkan pengotor-pengotor non magnetik. Hasil pemisahan dengan separator magnetic ditambahkan TiO2 sesuai kaidah stoikiometri untuk dibuat bahan magnet pseudobrookite Fe2TiO5. Sintesis pseudobrookite Fe2TiO5 menggunakan metode reaksi padatan melalui proses mechanical milling dan di sintering pada suhu 1.000 oC selama 5 jam. Hasil refinement dari pola difraksi sinar-X menunjukkan bahwa telah terbentuk bahan magnet pseudobrookite Fe2TiO5 dengan struktur kristal orthorombik (grup ruang C m c m), parameter kisi a = 3,7233(5) Å; b = 9,774(1) Å dan c = 9,968(1) Å, ?  = ? = ? = 90o, volume unit sel sebesar V = 362,8(1) Å3 dan kerapatan atomik sebesar ? = 4,178 g.cm-3. Hasil pengukuran sifat magnetik menunjukkan bahwa pseudobrookite Fe2TiO5 hasil sintesis bersifat soft magnet dengan medan koersivitas dan magnetisasi remanen berturut-turut adalah 461 Oe dan 0,2 emu/g. Disimpulkan bahwa telah berhasil dibuat bahan magnet pseudobrookite Fe2TiO5 dari bahan baku sumber daya alam lokal pasir besi
ANALISIS FASA DAN SIFAT MAGNETIK PADA KOMPOSIT BAFE12O19/NDFE14B HASIL MECHANICAL MILLING Sardjono, Prijo; Adi, Wisnu Ari; Sebayang, Perdamaian; Muljadi, Muljadi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jsmi.2012.13.2.4721

Abstract

ANALISIS FASA DAN SIFAT MAGNETIK PADA KOMPOSIT BaFe12O19/NdFe14B HASIL MECHANICAL MILLING. Telah dilakukan analisis fasa dan uji sifat magnetik pada bahan komposit magnet BaFe12O19/NdFe14B hasil mechanical milling menggunakan difraksi sinar-X dan GmbH Permagraph. Hasil refinement dari pola difraksi sinar-X menunjukkan bahwa sampel terdiri dari 2 fasa, yaitu fasa BaFe12O19 dan fasa NdFe14B. Sedangkan fraksi massa dari fasa BaFe12O19 dan fasa NdFe14B berturut-turut sebesar 79,89 % dan 20,11 %. Sampel bahan magnet BaFe12O19 dengan struktur kristal heksagonal (space group P 63/m m c), parameter kisi ? = 5,9033(5) Å, b = 5,9033(5) Å dan c = 23,239(2) Å, ? = ? = 90o dan ? = 120o, V = 701,3(1) Å3 dan ? = 5.7172 g.cm-3. NdFe14B dengan struktur kristal simetri tetragonal (space group P 42/m n m (No. 136)) dengan parameter kisi sebesar a = 8,865(8) Å, b = 8,865(8) Å dan c = 12,269(1) Å, ? = ? = ? = 90o, V = 964,3(1) Å3 dan ? = 7,7508 g.cm-3. Hasil pengukuran sifat magnetik menunjukkan bahwa bahan magnet NdFe14B sebelum dimilling memiliki medan koersivitas dan medan magnet rimanen berturut turut adalah 7984 Oe dan 5250 Gauss. Sedangkan untuk bahan magnet BaFe12O19 berturut-turut adalah 1625 Oe dan 1190 Gauss. Setelah dimilling selama 30 jam, medan koersivitas dan medan magnet rimanen meningkat di atas bahan magnet BaFe12O19 berturut-turut adalah 2650 Oe dan 1580 Gauss. Disimpulkan bahwa proses pencampuran ini tidak memberikan dampak rusaknya struktur fasa masing-masing. Partikel-partikel BaFe12O19 dapat dijadikan sebagai pelindung dari partikel-partikel NdFe14B yang memiliki sifat yang sangat korosif pada suhu kamar. Fasa BaFe12O19 ini relatif stabil pada suhu kamar sehingga partikel-partikel BaFe12O19 tidak mudah berubah setelah bercampur dengan partikel-partikel NdFe14B.
STUDI KAITAN DISPERSI DAN PITA FREKUENSI TERLARANG GETARAN KEKISI NI50FE50 DAN NI66FE33 Toifur, Moh.; Sujatmoko, Sujatmoko; Ridwan, Ridwan; Adi, Wisnu Ari
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5125

Abstract

STUDI KAITAN DISPERSI DAN PITA FREKUENSI TERLARANG GETARAN KEKISI Ni50Fe50 dan Ni66Fe33. Telah dilakukan telaah mengenai getaran kekisi NiFe dengan perbandingan massa keduanya 1:1 dan 1:2, untuk mengetahui kaitan dispersi mode optik dan mode akustik dari frekuensi getarnya. Kekisi dimisalkan berbentuk rantai atom1 dimensi yang dihubungkan dengan pegas seragam. Sebagaimasukan digunakan tetapan kekisi (a) 3,62009 Å yang merupakan nilai terhitung dari pola XRD untuk lapisan NiFe hasil deposisi dengan teknik sputtering pada suhu 200 oC berbantuan medan annealing 150 G serta tipikal konstanta pegas (?) 32 N/m. Hasil penelitian menunjukkan, untuk Ni50Fe50 profil kaitan dispersi terdiri dari mode optik dan akustik dan tidak ada perbedaan bentuk antara Brillouin zone pertama (0 < k < ?/2a) dengan yang lain. Sedangkan untuk Ni66Fe33 pada larik kekisi Ni-Fe terdapat perbedaan kaitan dispersi antara zone pertama (0<k<?/2a) dan kedua (?/2a<k<?/a) baik untuk mode optik maupun mode akustik. Untuk larik kekisi Ni-Ni, kaitan dispersi berupa mode optik yang terjadi pada zone pertama (0 < k < ?/a). Selain itu pada kedua jenis kekisi Ni50Fe50 dan Ni66Fe33 ditemukan lebar pita frekuensi terlarang yang sama yaitu 2,56 x 1013 Hz hingga 2,63 x 1013 Hz.
THE X-RAY DIFFRACTION ANALYSES ON THE MECHANICAL ALLOYING OF THE MG2NI FORMATION Suwarno, Hadi; Insani, Andon; Adi, Wisnu Ari
Jurnal Teknologi Bahan Nuklir Vol 3, No 2 (2007): Juni 2007
Publisher : PTBN - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadi Suwarno*, Andon Insani**, Wisnu Ari Adi** * Centre for Nuclear Fuel Technology - BATAN ** Centre for Nuclear Industry Materials - BATAN Kawasan PUSPIPTEK, Tangerang 15314 ABSTRACT THE X-RAY DIFFRACTION ANALYSES ON THE MECHANICAL ALLOYING OF THE Mg2Ni FORMATION. The synthesis and characterization of Mg2Ni compound by using mechanical alloying technique have been performed. The material is milled under the varied milling time of 20, 25, 30, 35 and 40 hours. The result of measurements by using X-ray diffractometer showed that the refinement results on X-ray diffraction pattern appear to be very good fitting between calculation and observation. It is shown that the specimens consist of three phases, namely Mg2Ni, MgO and MgNi2. For milling time between 20 hours to 25 hours, the mass fraction of the Mg2Ni phase increases from 42.19% to 51.03%. Continuous milling of the specimen up to 40 hours will reduce the Mg2Ni mass fraction to 11.86%, probably due to the presence of oxygen, and consequently will increase the mass fraction of MgNi2 compound. It is concluded that the milling time will influence the formation of Mg2Ni phase. At this research, 25 hours milling time is the best time to obtain the highest formation of Mg2Ni compound. Microstructure analyses of the specimens indicate that milling time of 30 hours is the minimum time required to reduce the particle sizes of the Mg-Ni mixed specimen from 3,5 ~10 tm into nanosize particles. It starts to agglomerate after 40 hours of milling due to the growth of magnetic properties of the powders and the change of crystal orientations into amorphous state. FREE TERMS: High energy ball milling, Crystal structure ABSTRAK ANALISIS DIFRAKSI SINAR-X TERHADAP PEMADUAN MEKANIK PADA PEMBENTUKAN Mg2Ni. Sintesa dan karakterisasi logam paduan Mg2Ni yang dibuat dengan teknik pemaduan mekanik telah dilakukan. Bahan paduan di-milling dengan waktu milling bervariasi yakni 20, 25, 30, 35 dan 40 jam. Hasil pengukuran dengan menggunakan difraktometer sinar-X menunjukkan bahwa hasil pengolahan data atas hasil cacah difraktometer sinar-X sangat sesuai dengan hasil observasi. Hasil olahan menunjukkan bahwa spesimen terdiri dari tiga fasa, yaitu Mg2Ni, MgO dan MgNi2. Untuk waktu milling antara 20 dan 25 jam, fraksi massa fasa Mg2Ni bertambah dari 42,19% menjadi 51,03%. Milling lanjutan hingga 40 jam akan mereduksi fraksi massa fasa Mg2Ni menjadi 11,86%. Hal ini mungkin disebabkan adanya oksigen di dalam mesin milling, dan sebagai konsekuensinya akan menambah fraksi massa fasa MgNi2. Disimpulkan bahwa waktu milling mempengaruhi pembentukan senyawa Mg2Ni. Pada penelitian ini, waktu milling selama 25 jam adalah waktu terbaik untuk pembentukan fasa senyawa Mg2Ni. Analisa mikrostruktur atas spesimen menunjukkan bahwa waktu milling 30 jam adalah waktu minimum yang diperlukan untuk mereduksi ukuran partikel dari 3,5~10 tm menjadi partikel ukuran nano. Setelah milling selama 40 jam spesimen mulai menggumpal yang disebabkan oleh tumbuhnya sifat magnet serbuk dan terjadinya perubahan orientasi kristal menjadi amorf.KATA KUNCI: High energy ball milling, Struktur kristal
PENGARUH EFEK SINTER PADA SIFAT MAGNETORESISTANCE BAHAN PADUAN (SM,LA)MN2GE2 Purwanto, Setyo; Wagiyo, Wagiyo; Surya P.P, Teguh Yulis; Adi, Wisnu Ari; Yamaguchi, Y.
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 2, No 1: OKTOBER 2000
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jsmi.2000.2.1.4911

Abstract

PENGARUH EFEK SINTER PADA SIFAT MAGNETORESISTANCE BAHAN PADUAN (Sm,La)Mn2Ge2. Makalah ini memaparkan hasil penelitian pada bahan (Sm,La)Mn2Ge2 yang memiliki sifat magnetoresistance pada suhu ruang. Bahan yang menjadi objek pengamatan memiliki komposisi unsur La 10,20 dan 30% berat yang dibuat dalam bentuk pelet dari cuplikan ingot yang sudah mengalami proses sinter selama 1,8 dan 16 jam pada suhu 900oC. Dari hasil pengukuran sifat magnetoresistance dengan metoda four point probe dengan medan magnet sampai sekitar 1 Tesla, diketahui terjadi peningkatan sifat magnetoresistance yang amat berarti pada cuplikan dengan komposisi La 30% yang telah dianil selama 8 jam, dari hanya sekitar 7% menjadi lebih dari 66%. Pengamatan secara sistematis terhadap struktur mikro bahan memperlihatkan bahwa peningkatan sifat tersebut berkaitan dengan pertumbuhan/growth dari populasi pola seperti domain magnetik yang ditandai dengan citra pola abu-abu putih pada hasil foto mikroskop elektron.
THE INFLUENCE OF LATTICE STRAIN TO THE CRITICAL CURRENT DENSITY OF YBCO Sukirman, Engkir; Winatapura, Didin S.; Adi, Wisnu Ari; Purwatamanggalapratala, Yustinus
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5105

Abstract

THE INFLUENCE OF LATTICE STRAIN TO THE CRITICAL CURRENT DENSITY OF YBCO. The influence of lattice strain to the critical current density of YBCO have been investigated. In this investigation it were prepared the YBCO superconductor samples which made by using a modified melt-textured growth (MMTG) method. The aim of doing this research is to investigate the relation between the critical current density and the lattice strain in YBCO superconductor. The structural and microstructural properties of the samples were characterized by the x-ray diffraction technique. The diffraction data were analyzed by means of a RIETAN software. While, the electrical properties of each samples were characterized by four point probe method. The lattice strains were then determined using the formula : <e2 hkl> = (U - Uo)/32 ln 2, where U is the refined FWHM parameters of the broadened peak due to the presence of an inhomogeneous strain field and U0 is the one due to the instrumental resolution only. The result of analysis indicate that the critical current densities and the lattice strains in YBCO samples have inversed correlation, i.e.when the lattice strain decreases, critical current increases, and conversely. The melt-process through 12 minutes may have possibly eliminated the weak links. Therefore, the critical current density increases, and the lattice strain decreases.
PEMBENTUKAN FASA Y211 DALAM MATRIKS FASA Y123 SUPERKONDUKTOR YBA2CU3OX Sukirman, E.; Adi, Wisnu Ari; Winatapura, Didin S.; P., Yustinus M.
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 8, No 3: JUNI 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jsmi.2007.8.3.4765

Abstract

PEMBENTUKAN FASA Y211 DALAM MATRIKS FASA Y123 SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3Ox. Pembentukan fasa Y211 (Y2BaCuO5) dalam matriks fasa 123 (YBa2Cu3Ox) telah diteliti. Tujuan penelitian adalah menentukan periode waktu reaksi antara fasa cair L (3BaCuO2+2CuO) dengan fasa Y211 sedemikian sehingga diperoleh 25 %berat fasa Y211 dan 75 % berat fasa Y123. Percobaan dilakukan dengan cara melelehkan pelet Y123 di atas pelet Y211 sebagai alas. Periode waktu reaksi adalah periode waktu pelelehan fasa Y123. Pembentukan fasa Y211 didasarkan pada reaksi kimia : 2YBa2Cu3Ox?Y2BaCuO5 + 3BaCuO2 +2CuO. Analisis kualitatif dan kuantitatif fasa-fasa dilakukan dengan teknik difraksi sinat-X metode Rietveld. Superkonduktivitas bahan diamati dengan uji efek Meissner. Struktur permukaan cuplikan dievaluasi dengan SEM (Scanning Electron Microscope). Kadar fasa Y211 menyusut dari 47 % berat pada t = 12 menit menjadi 18 % berat pada t = 15 menit dan kuantitas fasa Y211 meningkat lagi dengan bertambahnya periode waktu reaksi hingga dicapai harga 37 %berat pada t = 18 menit. Pada t >18 menit, kadar fasa Y211 cenderung tetap antara 33 % berat hingga 35 %berat. Semua cuplikan yang memiliki kadar fasa Y211 kurang dari 47 %berat, menampilkan efek Meissner. Strukturmikro permukaan cuplikan tidak bertekstur, serupa dengan cuplikan produk sinter. Jika reaksi fasa Y211 dan fasa cair L dilangsungkan dalam waktu t = 14 menit dan atau 16,5 menit, maka dapat dihasilkan 25 %berat dan 75 %berat berturut-turut fasa Y211 dan fasa Y123.
PENGARUH HIGH-ENERGYMILLING TERHADAP SIFAT MAGNETIK BAHAN BARIUM HEKSAFERIT (BAO.6FE2O3) Johan, Akmal; Ridwan, Ridwan; Manaf, Azwar; Adi, Wisnu Ari
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5009

Abstract

PENGARUH HIGH-ENERGYMILLING TERHADAP SIFAT MAGNETIK BAHAN BARIUM HEKSAFERIT (BaO.6Fe2O3). Telah dilakukan penelitian mengenai sifat magnetik bahan serbuk barium heksaferit dari pengaruh proses high-energy milling yang diikuti perlakuan annealing pada suhu 1000oC selama 3 jam, masing-masing pengukuran dilakukan pada suhu ruang. Hasil pengukuran pola difraksi sinar-x sebelum dan setelah proses milling 5 jam, 10 jam, 15 jam, 20 jam dan 30 jam terlihat telah terjadi deformasi terhadap struktur kristal yang ditunjukkan dengan tinggi puncak yang semakin menurun dan semakin melebar sehingga didapatkan sifat kemagnetan yang semakin menurun. Dari proses milling didapatkan nilai koersivitas intrinsik 1,68 kOe sebelum proses milling dan 1,13 kOe setelah proses milling 30 jam serta nilai magnetisasi remanen 42,5 emu/gram sebelum proses milling dan 8,16 emu/gram setelah proses milling 30 jam. Namun setelah hasil proses milling disertai perlakukan annealing pada suhu 1000oC selama 3 jamterlihat telah terjadi perbaikan dan penumbuhan struktur kristal yang mengalami deformasi akibat proses milling, dengan ditunjukkan semakin meningkatnya nilai koersivitas intrinsik yaitu 2,09 kOe sebelum proses milling dan 4,39 kOe setelah proses milling 30 jam serta nilai magnetisasi remanen setelah proses milling hingga 30 jam cenderung kembali seperti sebelum proses milling yaitu sekitar 43 emu/gram.
PENGARUH PENAMBAHAN LA TERHADAP STRUKTUR DAN REFLECTION LOSS GELOMBANG MIKRO PADA PSEUDOBROOKITE FE2-XLAXTIO5 Sarwanto, Yosef; Anggraini, Titin; Adi, Wisnu Ari; Yunasfi, Yunasfi
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2019.20.2.5381

Abstract

Telah dilakukan studi efek doping La terhadap struktur dan kehilangan refleksi menyerap gelombang mikro dari pseudobrookite Fe2TiO5 untuk membentuk senyawa sistem Fe2-xLaxTiO5 dengan mentode ko-presipitasi. Sintesis sistem Fe2-xLaxTiO5 bertujuan untuk membuat material yang dapat berfungsi sebagai peredam paparan gelombang elektromagnetik peralatan elekronik telekomunikasi. Sistem Fe2-xLaxTiO5 (x = 0,01; 0,04 dan 0,2) dibuat dari campuran FeCl3, LaCl3 dan TiCl4 sesuai dengan perbandingan molnya masing-masing. Campuran bahan ini ditambahkan larutan NH4OH sampai dengan pH 12. Endapan yang terbentuk dicuci dengan air deminineral sampai pH 7 dan kemudian dikeringkan pada suhu 100 °C, disinter pada suhu 1000 °C selama 5 jam. Semua sampel dikarakterisasi dengan XRD (X-ray diffractometer) untuk identifikasi fasa, SEM-EDS (Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive Spectroscopy) untuk pengamatan morfologi permukaan dan VNA (Vector Network Analyzer) untuk mengukur serapan gelombang mikronya. Hasil identifikasi fasa menunjukkan bahwa komposisi dengan nilai x = 0,01 dan 0,04 terbentuk 2 fasa yaitu fasa Fe2TiO5 dan FeTiO3 sedangkan  komposisi dengan nilai x = 0,2 juga terbentuk 3 fasa yaitu fasa Fe2TiO5, FeTiO3 dan La2Ti2O7. Hasil pengamatan morfologi permukaan dengan SEM-EDS, menunjukkan bahwa distribusi partikel yang tidak seragam karena memiliki beda fasa. Sedangkan hasil pengukuran serapan gelombang mikro dengan VNA menunjukkan bahwa serapan maksimal gelombang mikro diperoleh pada komposisi nilai x = 0,04 (Fe1,96La0,04TiO5) yaitu sekitar 94% pada frekuensi 10,52 GHz.
Co-Authors A Purwanto A. Purwanto Abdullah Abdullah Adel Fisli Adnyana, I Gusti Agung Putra AGUS PURWANTO Agus Sukarto Wismogroho, Agus Sukarto Ahmad S., Ahmad Akmal Johan, Akmal Andika Fajar Andon Insani Anggraini, Titin Ari Handayani Azwar Manaf Budhy Kurniawan Decky J. Indrani Delina, Mutia Deswita Deswita Didin S. Winatapura Didin Sahidin Winatapura E. Sukirman Engkir Sukirman Eric Jobiliong Fauzy, Rizky Grace Tj. S. Grace Tj. Sulungbudi Gunanto, Y E Hadi Suwarno Husniati Husniati, Husniati Iwan Setiawan Jalut, Laura Laudensia Senly Karo Karo, Pulung Kodir, Dudung Abdul Komang Ngurah Suarbawa Kurniawan, B M., M. Refai Mashadi Mashadi Moh. Toifur Mugihardjo, Herry Mujamilah Mujamilah Muljadi Muljadi Mulyawan, Ade Muslih, M. Rifai Nenni, Nenni Noviyanto, Alfian Nurmaya Arofah, Nurmaya Nurul Taufiqu Rochman Octavianus Octavianus, Octavianus P. Purwanto P., Yustinus P., Yustinus M. Perdamaian Sebayang Perdamean Sebayang Pius Sebleku Poertadji, S Prijo Sardjono Purwani, M V Purwatamanggala, Yustinus Purwatamanggalapratala, Yustinus Rachmawati, Indri Ridwan Ridwan Ryan Rizaldy S. Purwanto Safei Purnama Salim Mustofa Saptari, Sitti Ahmiatri Sari Hasnah Dewi Setyo Purwanto Siradj, Eddy S. Siregar, Riswal H. Siti Nurfadilah Siti Wardiyati Sri Mulyaningsih Sudirman Sudirman Suharno Suharno Sujatmoko, Sujatmoko Sulistioso Giat Sukaryo, Sulistioso Giat Surya P.P, Teguh Yulis Suyanti Suyanti Syahbani, Erwa Taryana, Yana Taryana, Yana Tria Madesa W, Didin Sahidin Wagiyo Wagiyo Wahyuadi, Johny Wandira, Intan Wardani, Ni Nyoman Susi Kesuma Y. E. Gunanto Yamaguchi, Y. Yasuo Yamaguchi Yohanes Edi Gunanto, Yohanes Edi Yosef Sarwanto yunasfi yunasfi Yunasfi, Yunasfi - Yusmaniar, Y. Yustinus Purwamargapratala