I Nyoman Adiputra
Pembimbing serta pengajar Program studi Fisioterapi Universitas Udayana Denpasar

Published : 33 Documents
Articles

Found 33 Documents
Search

HUBUNGAN KELELAHAN DENGAN KEMAMPUAN KERJA KARYAWAN BAGIAN HOUSEKEEPING HOTEL BINTANG TIGA DI DENPASAR Suastini, Ni Kadek; Adiputra, I Nyoman
Jurnal Ergonomi Indonesia (The Indonesian Journal of Ergonomic) Vol 1 No 2 (2015): Volume 1 No 2, 2015
Publisher : Program Studi S2 Master Ergonomi Fisiologi Kerja Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar Bekerjasama dengan Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tourism has become one of the engines of socio-economic progress for many countries. The number of  users  star hotel facilities  makes  the hotel more  extra  employees  in negotiating the arrangement of the hotel especially the housekeeping employees who workwith emphasis on physical strength as the center of activities that affect the fatigue and employability.  This study analyzed  the correlation between  fatigue  and work ability. Research  conducted  observational  (non-experimental) with a  cross-sectional  analytic 59approach. The number of respondents consisted of 31 respondents consisting of employees of the housekeeping three stars hotel in Denpasar, to fill in the questionnaire Work AbilityIndex and the 30 item questionnaire rating scale of the Japan Association of IndustrialHealth and Industrial Fatigue Research Committee of Japan. From the research, there is40.81 ± 9.35 mean of fatigue. While, the average of work ability is 41.25 ± 4.15. There is asignificant relationship between the fatigue and the work ability with the value of (p =0.011) and values of (r = -0,450). The p-value indicates there is a significant relationshipbetween fatigue and work ability, the value of r indicates the direction opposite relationshipbetween fatigue and work ability. It can be concluded that there is a relationship betweenfatigue with the work ability of employees at the hotel housekeeping. For the hotel need to know the fatigue scores of each individual to improve the employees work especially those working in the field of physical and mental.
PERBEDAAN SKOR WORK ENGAGEMENT GURU SMP NEGERI DI KECAMATAN DENPASAR UTARA PADA KELOMPOK MASA KERJA 1-4 TAHUN, 5-19 TAHUN, DAN LEBIH DARI 20 TAHUN Indraswari, Putu Gita; Adiputra, I Nyoman
Jurnal Ergonomi Indonesia (The Indonesian Journal of Ergonomic) Vol 1 No 2 (2015): Volume 1 No 2, 2015
Publisher : Program Studi S2 Master Ergonomi Fisiologi Kerja Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar Bekerjasama dengan Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Work engagement is influenced by job demand, job resources, and personal resources. However, there are differences in the results of previous studies on the relationship oflength of service with work engagement. This study aims to prove the difference ofwork engagement score on junior high school teachers in North Denpasar with 1-4 year,5-19 year, and more than 20 year length of service.  It has been  implemented anobservational study with cross-sectional design, conducted at the Junior High School, 38located in North Denpasar District, include SMPN 2 Denpasar, SMPN 3 Denpasar, SMPN 4 Denpasar, SMPN 5 Denpasar, SMPN 10 Denpasar, and SMPN 12 Denpasar. Total subjects were used in this study were 147 people. Work engagement scores were calculated using Utretch Work Engagement Scale (UWES). The length of service is classified into 1-4 years, 5-19 years, and more than 20 years. Total Work EngagementScores were compared using Kruskal-Wallis test with a significance level of 0.05. Showed that there was an increase in mean scores significantly in group 1-4 yearslength of service with a mean of 79.66 ± 12.98 and group over 20 years with a mean score of 87.01 ± 7.99 (p <0.05 ). A significant result was also obtained in the group of5-19-year length of service with mean score 80.84 ± 8.75 and group with over 20 years with  a mean score of  87.01  ±  7.99.  However,  based on the  correlation  test, the association  between  engagement and length of service is not  a significant.  It was concluded that there was difference in mean scores significantly in group work periodof 1-4 years and group over 20 and also group of 5-19-year length of service with and group with over 20 years. So that should be efforts to improve work engagement in the group of teachers with of 1-4 years and 5-19 years length of service
FUNGSI BUAH DAN DAUN TANAMAN DALAM BUDAYA BALI SEBUAH KAJIAN TERHADAP TANAMAN UPACARA Adiputra, I Nyoman
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 17 No 2 (2017)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/blje.2017.v17.i02.p03

Abstract

Tanaman dalam budaya Bali punya beberapa dimensi, seperti tanaman obat, tanaman upacara, tanaman komoditas, tanaman hias, dan tanaman magis. Sedemikian pentingnya nilai tanaman dalam masyarakat Bali sehingga sampai ada hari untuk tanam-tanaman yang disebut sebagai tumpek uduh, hari persembahan kepada dewa tanaman. Dalam tulisan ini dipaparkan fungsi daun dan buah tanaman sebagai sarana suatu upacara keagamaan. Kajian difokuskan kepada penggunaan buah sebagai phala gantung berupa buah-buahan yang tergantung pada batangnya seperti nangka, manggis, duku, mangga , pakel, wani, jeruk bali, sumaga, sabo, buah naga dan lainnya, atau umbi tanaman sebagai phala bungkah, seperti umbi keladi, umbi ketela rambat, umbi sabrang, umbi bangkuang, segala jenis ubi, umbi kacang tanah; sebagai bentuk persembahan buah/umbi tanaman dalam bentukan sesajen yang dipersembahkan kepada Ida Sanghyang Widi Wasa. Sedangkan daun diwujudkan dalam susunan sesajen catur, panca-, sapta-dala, yang dalam upakara disebut sebagai pancaatau sapta-laywan. Sapta laywan terdiri dari daun pelasa, ancak, sokasti, beringin, nagasari, cemara, dan bunga pinang muda ( belangsah) di bagian paling dalam dalam keadaan tergulung. Hal itu untuk membuat banten catur. Sedangkan untuk tetukon dalam pitra yadnya, atau pesaji untuk dewa yadnya diperlukan catur pala (buah manas, manggis, cereme, duku/ pisang, pangi) atau catur dala (don:  buah, manggis, duren, busung). Penyusunan bentuk sesajen tersebut semata-mata didasarkan atas warna buah atau daun. Orientasinya bersumber kepada tatwa pangider-ideran (arah mata angin). Air kelapa muda diperlukan dalam proses pembersihan (panglukatan), seperti nyuh bulan (di timur), nyuh  rangda (tenggara), nyuh udang (selatan), nyuh surya (barat daya), nyuh gading (barat), nyuh be julit (barat laut), nyuh mulung (utara), nyuh bojog (timur laut), nyuh sudamala (tengah-tengah). Tujuannya adalah wujud persembahan manusia dengan memanfaatkan bahan alam, demi tercapainya kelestarian (pariwerta) dan keseimbangan/keserasian alam semesta (somya), yang digerakkan oleh manusia.
PEMBERIAN DEEP TRANSVERSE FRICTION LEBIH BAIK DARIPADA MASSAGE EFFLEURAGE DALAM MENINGKATKAN LINGKUP GERAK SENDI CERVICAL AKIBAT MYOFASCIAL PAIN SYNDROME OTOT UPPER TRAPEZIUS PADA PEGAWAI LAUNDRY DI DENPASAR TIMUR Aprilia, Komang Putri; Adiputra, I Nyoman; Wahyuni, Nila
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 6 No 1 (2018): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Lingkup gerak sendi (LGS) di definisikan sebagai luasnya gerakan sendi yang terjadi pada saat sendi bergerakdari satu posisi ke posisi lain, baik secara pasif ataupun aktif. Kebiasaan yang buruk dilakukan seseorang jika dilakukansecara terus menerus (repetitive) dan dalam waktu yang lama dapat memicu timbulnya nyeri dan tegang disekitar leherserta penurunan fleksibilitas pada otot leher. Penurunan fleksibilitas otot akan mengakibatkan penurunan lingkup geraksendi cervical sehingga akan mengganggu aktivitas sehari-hari seseorang. Tujuan penelitian ini adalah untukmembuktikan intervensi Deep Transverse Friction lebih baik daripada Massage Effleurage dalam meningkatkan lingkupgerak sendi cervical akibat Myofascial Pain Syndrome pada Otot Upper Trapezius. Penelitian ini bersifat eksperimentaldengan rancangan pre dan post two group design. Sampel penelitian berjumlah 20 orang yang dibagi ke dalam duakelompok. Kelompok 1 diberikan intervensi Deep Transverse Friction sedangkan kelompok 2 diberikan intervensiMassage Effleurage. Pengukuran lingkup gerak sendi dilakukan dengan goniometer. Penelitian ini menggunakanrancangan Pre and Post Test Two Group Design. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatanlingkup gerak sendi pada intervensi Kelompok 1 sebesar 4,65 dan intervensi Kelompok 2 sebesar 1,35. Hasil Uji PairedSample T-test didapatkan perbedaan yang signifikan yaitu p=0,000 pada intervensi Kelompok 1 dan Kelompok 2. Ujiselisih Mann Whitney U-test menunjukan perbedaan yang bermakna antara Kelompok 1 dan Kelompok 2 yaitudidapatkan p=0,000. Disimpulkan bahwa intervensi Deep Transverse Friction lebih baik daripada Massage Effleuragedalam meningkatkan lingkup gerak sendi cervical. Kata Kunci: Lingkup gerak sendi leher, Deep Transverse Friction, Massage Effleurage, Goniometer
INTERVENSI ULTRASOUND DAN PERTURBATION TRAINING LEBIH EFEKTIF DIBANDINGKAN DENGAN ULTRASOUND DAN CLOSED KINEMATIC CHAIN EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PADA PENDERITA OSTEOARTHRITIS GENU GRADE 2 Kinandana, Gede Parta; Nurmawan, I Putu Sutha; Adiputra, I Nyoman
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 4 No 1 (2016): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Osteoarthritis Genu merupakan suatu kondisi degeneratif pada sendi yang menyebabkan penurunan kemampuan fungsional. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan perbedaan efektivitas antara intervensi ultrasound dan perturbation training dengan ultrasound dan closed kinematic chain exercise terhadap peningkatan kemampuan fungsional pada penderita osteoarthritis genu grade 2. Pengukuran kemampuan fungsional menggunakan indeks WOMAC. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan pre dan post test control group design. Jumlah sampel sebanyak 22 orang yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok 1 diberikan intervensi ultrasound dan perturbation training dan Kelompok 2 diberikan ultrasound dan closed kinematic chain exercise. Uji hipotesis menggunakan paired sample t-test didapatkan hasil p=0,000 dengan beda rerata 21,45±4,132 pada Kelompok 1, sedangkan pada Kelompok 2 didapatkan hasil p=0.000 dengan beda rerata 11,55±1,368. Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan kemampuan fungsional yang signifikan pada setiap kelompok. Uji perbandingan dengan independent sample t-test didapatkan beda selisih p=0,000 (p<0,05). Berdasarkan hasil uji statistik, dapat disimpulkan bahwa intervensi ultrasound dan perturbation training lebih baik dibandingkan dengan ultrasound dan closed kinematic chain exercise terhadap peningkatan kemampuan fungsional pada penderita osteoarthritis genu grade 2.
PELATIHAN TARI GALANG BULAN MENINGKATKAN KEBUGARAN FISIK PADA PELAJAR SMP DI YAYASAN PERGURUAN KRISTEN HARAPAN DENPASAR Prayana, A A Ngurah Wisnu; Adiputra, I Nyoman; Tianing, Ni Wayan
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 4 No 2 (2016): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebugaran fisik adalah kemampuan tubuh melakukan aktivitas tertentu dalam jangka waktu yang lama dan bersifat mendadak. Latihan yang dapat meningkatkan kebugaran fisik adalah Tari Galang Bulan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pelatihan Tari Galang Bulan dapat meningkatkan kebugaran fisik. Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimental dengan rancangan Pre and Post Test Control Group Design. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara consequtive sampling dan menggunakan teknik secara matching yaitu setiap kelompok mempunyai IMT dan kategori kebugaran fisik yang sama. Subjek penelitian berjumlah 32 orang siswi, di mana terdapat 16 orang untuk setiap kelompok. Pada Kelompok Perlakuan diberikan pelatihan Tari Galang Bulan dan pada Kelompok Kontrol tidak diberikan perlakuan. Tingkat kebugaran fisik di ukur dengan menggunakan standar tes kebugaran fisik menurut Cooper, berupa lari sejauh 2,4 km. Uji normalitas dan homogenitas data diuji dengan menggunakan Saphiro-Wilk Test dan Levene?s Test. Paired Sample T-test digunakan untuk menganalisis data penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan waktu tempuh pada Kelompok Kontrol dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05) dan pada Kelompok Perlakuan pemberian pelatihan Tari Galang Bulan didapatkan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Uji beda selisih dengan independent t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan di antara ke dua kelompok sebelum dan sesudah pelatihan dengan diperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,05).  Dengan persentase belum adanya perubahan pada pada Kelompok Kontrol dan adanya perubahan pada kebugaran fisik sebesar 8,36% pada Kelompok Perlakuan. Kesimpulan Pelatihan Tari Galang Bulan tiga kali dalam seminggu selama delapan minggu menunjukkan pengurangan waktu tempuh, namun perubahan ini belum menunjukkan kategori peningkatan kebugaran fisik.  
HUBUNGAN CHRONIC ANKLE INSTABILITY DENGAN KESEIMBANGAN DINAMIS PADA PEMAIN SKATEBOARD DI DENPASAR BALI Kamayoga, Dewa Alit; Silakarma, Dedi; Adiputra, I Nyoman
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 3 No 3 (2015): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skateboarders often ignore repetitive injuries that occurred while they were playing.Repetitive injuries that are not handled properly will lead to chronic ankle instability.Chronic ankle instability will lead to a condition where skateboarders will experience anunbalanced dynamic equilibrium as they are skateboarding or while doing dailyactivities. The purpose of this study was to determine the relationship of chronic ankleinstability with dynamic balance of skateboarders in Denpasar, Bali. This study was ananalytical descriptive study with a cross sectional study design. The population of thisstudy was all skateboarders that joined Persatuan Skateboarder Bali (PSB) in Denpasar.Sampling techniques in this study was Non Probability Sampling. Sample size wasobtained using saturation sampling technique. In this study, the number of samples thatmet the inclusion criteria was 60 people. Data analysis using chi-square test obtained aresult p = 0,000 (p<0,05). It can be concluded that there was a significant relationshipbetween chronic ankle instability with dynamic balance.
ECCENTRIC EXERCISE LEBIH BAIK MENURUNKAN RASA NYERI PADA TENNIS ELBOW DIBANDINGKAN DENGAN TERAPI ULTRASOUND (US) DAN STRETCHING Fauzi, Reza; Adiputra, I Nyoman; Adiatmika, I Putu Gede
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 2 No 3 (2014): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia dalam kesehariannya tidak lepas dari kegiatan yang melibatkan tangan, baik itu dalam beraktivitas maupun bekerja. Tangan merupakan anggota gerak tubuh yang sangat penting dalam aktivitas kehidupan sehari- hari manusia karena fungsinya sangat kompleks. Sehingga banyak yang mengalami gangguan muskuloskeletal di daerah lengan atau siku akibat aktivitas yang menggunakan tangan secara berlebihan. Salah satu masalah muskuloskeletal yang dapat terjadi adalah Tennis Elbow. Tennis elbow (lateral epicondylitis) adalah perasaan nyeri pada siku bagian luar terkait ekstensi pergelangan tangan yang berlebihan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eccentric exercise terhadap penurunan rasa nyeri pada tennis elbow. Metode: Penelitian eksperimental dilaksanakan Juni- Juli 2013, pada subjek yang memenuhi kriteria di klinik fisioterapi Batubulan Gianyar. Subjek berjumlah 28 orang dibagi menjadi 2 kelompok. Subjek kelompok perlakuan sebanyak 14 orang dengan intervensi eccentric exercise dan kelompok kontrol dengan subjek sebanyak 14 orang dengan intervensi US dan stretching. Data yang diukur adalah VAS (Visual Analogue Scale) sebelum dan setelah intervensi.  Hasil: Hasil pengukuran VAS sebelum dan setelah 12 kali intervensi dibandingkan dengan t- test untuk mengetahui besarnya pengaruh eccentric exercise terhadap penurunan rasa nyeri pada tennis elbow. Hasil menunjukkan adanya pengaruh eccentric exercise terhadap penurunan rasa nyeri pada tennis elbow (p< 0, 05) sampai 80, 6%. Kesimpulan: Eccentric exercise lebih baik menurunkan rasa nyeri pada tennis elbow dibandingkan dengan terapi ultrasound (US) dan stretching.
OLAHRAGA SENAM SATRIA NUSANTARA, OLAHRAGA JALAN CEPAT MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA HIPERTENSI DI LAPANGAN RENON, DENPASAR Septa Kristiawan, Mauritius; Adiputra, I Nyoman
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses penuaan pada lansia akan menghasilkan perubahan dari fisik, mental, sosial, ekonomi, dan fisiologi. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan pada struktur vena besar yang dapat mengakibatkan terjadinya hipertensi. Senam lansia dan Olahraga jalan cepat merupakan salah satu dari terapi non-farmakologi untuk penderita hipertensi. Telah dilaksanakan penelitian dengan studi cohort pada Kelompok Olahraga Senam dan Kelompok Olahraga Jalan Cepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan olahraga terhadap hipertensi pada lansia. Penelitian ini menggunakan 77 orang sampel, 58 orang laki-laki dan 19 orang perempuan. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan dengan menggunakan Sphygmomanometer melalui pengukuran langsung di Lapangan Renon Denpasar. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah olahraga. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata tekanan darah sistolik pada responden sebelum melakukan senam yaitu sebesar 140,03 mmHg dan diastoliknya sebesar 87,87 mmH, dan setelah melakukan senam sistoliknya turun 132,18 mmHg dan diastoliknya 85,46 mmHg. Nilai p <0,001 untuk Kelompok Olahraga Senam dan nilai p <0,001 untuk Kelompok Olahraga Jalan Cepat, nilai tersebut menunjukkan bahwa Olahraga Senam dan Olahraga Jalan Cepat efektif menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Olahraga senam dan Olahraga Jalan Cepat efektif menurunkan tekanan darah pada lansia hipertensi dan perlu upaya untuk meningkatkan pengetahuan lansia mengenai manfaat olahraga. Kata kunci :olahraga senam Satria Nusantara, jalan cepat, lansia, hipertensi
COMPARISON STUDY IN USING PLOUGH, TRACTOR AND CULTIVATOR FOR RICE FIELD’ LAND PREPARATION Sutjana, I.D.P.; Adiputra, I Nyoman
INDONESIAN JOURNAL OF BIOMEDICAL SCIENCES Vol. 2, No. 1 Maret 2008
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Land preparation of the rice field is one of the most important steps for paddyplantation. Formerly plough is one of the main tools for land preparation, but now thefarmer used tractor or cultivator. From the farmer experience who are used that tools forland preparation there had advantages and disadvantages. The used of plough for landpreparation for long time ago the deep of rice field soil is constant because the ploughblade can be adjusted up and down. The plough can be turn to the right or left side so thatall part of rice field except the corner can be cultivate. But for pulling the plough must bedifficult to find two cows. While if using tractor or cultivator the right or left side and thecorner of the rice field can?t be cultivate. Deep of rice filed soil become shallow so thefertility of soil reduced. Beside that using tractor or cultivator for land preparation needmore fuel. The plough were easy to carry out, but tractor and cultivator difficult to carryout because the weight more that 200 kg.