Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Jurnal Akuakultur Indonesia

PENENTUAN PH OPTIMUM UNTUK PERTUMBUHAN KEPITING BAKAU SCYLLA SERRATA DALAM WADAH TERKONTROL Hastuti, Yuni Puji; Nadeak, Horas; Affandi, Ridwan; Faturrohman, Kurnia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3175.873 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.171-179

Abstract

ABSTRACT One of the abiotic factors that affects the growth and the survival of crabs is pH. The optimum pH media will give maximum impact on mangrove crabs because it is related with the osmoregulation process. This study aimed to examine the effect of pH on the survival rate (SR) and specific growth rate (SGR) of mangrove crab Scylla serrata through the reaction of physiological condition. This study consisted of the treatments with the pH medium 5 (A), pH medium 6 (B), pH medium 7 (C), and pH medium 8 (D).  The crab?s maintenance in different pH gave a significant effect (P<0.05) on the survival rate of the crabs. The pH treatments also gave a significant effect (P<0.05) on the SGR of the crabs. The low level of crab stress at pH 7 was described by  the total value of high hemocyte and the high osmotic load so that the pH 7 was the optimum condition for the crabs. Keywords: pH, survival, specific growth rate, mangrove crabs  ABSTRAK Salah satu faktor abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting adalah pH. Media pH optimum akan memberikan dampak maksimum pada kepiting bakau karena terkait dengan proses osmoregulasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pH pada tingkat kelangsungan hidup (SR) dan laju pertumbuhan spesifik (SGR) kepiting mangrove Scylla serrata melalui reaksi kondisi fisiologis. Penelitian ini terdiri atas perlakuan dengan media pH 5 (A), sedang pH 6 (B), sedang pH 7 (C), dan menengah pH 8 (D). Pemeliharaan kepiting di pH yang berbeda memberikan pengaruh yang signifikan (P<0,05) pada tingkat kelangsungan hidup kepiting. Perlakuan pH juga memberikan efek yang signifikan (P<0,05) pada SGR dari kepiting. Rendahnya tingkat stres kepiting pada pH 7 digambarkan oleh nilai total hemosit tinggi dan beban osmotik tinggi sehingga pH 7 adalah kondisi optimum untuk kepiting. Kata kunci: pH, kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, kepiting mangrove
OPTIMIZATION OF SALINITY RANGE FOR REARING GLASS EEL ANGUILLA BICOLOR BICOLOR Hesti Lukas, Ade Yulita; Djokosetiyanto, Daniel; Budiardi, Tatag; Sudrajat, Agus Oman; Affandi, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3383.063 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.215-222

Abstract

ABSTRACT Fasting is one of a method that used for measured growth of fish in a shorter period of time. This study was aimed to determine the optimum range of salinity for improve the survival and growth of glass eel Anguilla bicolor bicolor. It used a completely randomized design (CRD) with four salinity treatments and three replications, namely (A) 0 g/L, (B) 10 g/L, (C) 20 g/L, and (D) 30 g/L. The fish used were of glass eel A. bicolor bicolor with 0.15?0.23 g of weight. The experiment was conducted in an aquarium of 60×30×30 cm with a volume of 30 Liters and at a stocking density of 2 g/L for 14 days. During the maintenance, glass eels were fasted for have a significantly of biomass decline. Data collection was done at the start and the end of maintenance. Parameters measured included survival (%) and the rate of decline in absolute biomass (g). Physical and chemical parameters included temperature, dissolved oxygen, and pH which were measured daily, while ammonia and alkalinity were measured every seven days. Result showed that survival was not significantly different between treatments (P>0.05), while the rate of decline in absolute biomass was significantly different between treatments (P<0.05). Treatments of 0 g/L salinity was the lowest survival than the others. While treatment of 10 g/L salinity was the lowest rate of decline in absolute biomass. According to research, the optimum salinity was 10 g/L, and after analysis with quadratic regression analysis, the optimum range of salinity were 5.00?13.40 g/L. Keywords: optimum salinity, survival, growth, glass eel, Anguilla bicolor bicolor  ABSTRAK Pemuasaan merupakan salah satu metode pengukuran perubahan bobot ikan yang dipelihara dalam waktu singkat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kisaran salinitas optimum untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan glass eel Anguilla bicolor bicolor. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan empat perlakuan salinitas dan tiga ulangan, yaitu (A) 0 g/L, (B) 10 g/L, (C) 20 g/L, dan (D) 30 g/L. Penelitian dilakukan selama 14 hari.  Ikan yang digunakan adalah glass eel A. bicolor bicolor dengan bobot 0,15?0,23 g dengan padat tebar 2 g/L. Pemeliharaan dilakukan di akuarium berukuran  60×30×30 cm dengan volume air 30 Liter/akuarium. Selama pemeliharaan glass eel dipuasakan sehingga diperoleh penurunan biomassa yang signifikan. Pengambilan sampel data dilakukan setiap tujuh hari berupa kelangsungan hidup (%) dan laju penurunan biomassa mutlak (g). Parameter fisika kimia air berupa ammonia dan alkalinitas dilakukan setiap tujuh hari, sedangkan suhu, oksigen terlarut (DO), dan pH dilakukan setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangsungan hidup tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,05) sedangkan laju penurunan biomassa mutlak berbeda nyata antar perlakuan (P<0,05). Berdasarkan hasil penelitian, salinitas 10 g/L, 20 g/L, dan 30 g/L  menunjukkan kelangsungan hidup 100%, sedangkan salinitas 0 g/L memberikan kelangsungan hidup terendah. Salinitas 10 g/L menunjukkan pemakaian energi terendah untuk metabolisme tubuh sehingga memberikan penurunan bobot biomassa terendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya.  Hasil penelitian menunjukkan salinitas optimum adalah 10 g/L, dan setelah dihitung menggunakan analisis regresi kuadratik, maka kisaran salinitas optimum adalah 5,00?13,40 g/L.   Kata kunci: salinitas optimum, kelangsungan hidup, pertumbuhan, glass eel, Anguilla bicolor bicolor
OPTIMUM SALINITY FOR GROWTH OF MANGROVE CRAB SCYLLA SERRATA SEED IN RECIRCULATION SYSTEMS Hastuti, Yuni Puji; Affandi, Ridwan; Safrina, Mafatih Devi; Faturrohman, Kurnia; Nurussalam, Wildan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2897.309 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.50-57

Abstract

ABSTRACT One of the abiotic factors that affects the growth and the survival of crabs is salinity. The optimum salinity media will give maximum impact on mangrove crab Scylla serrata due to the osmoregulation process. This study aimed to examine the effect of salinity on the survival rate (SR) and spesific growth rate (SGR) of mangrove crab through the reaction of physiological condition. The treatments were rearing mangrove crab at the salinity medium of 15 ppt (A), 20 ppt (B), 25 ppt (C), and 30 ppt (D). Result showed that different salinity performed a significant effect (P<0.05) on the survival rate and specific growth rate of the crabs. The low level of stress, shown by the high value of total hemocyte and the low osmotic pressure, has made salinity of 25 ppt was the optimum condition for the mangrove crab rearing. Keywords: salinity, survival, specific growth rate, mangrove crab  ABSTRAK Salah satu faktor abiotik yang memengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting adalah salinitas. Salinitas media optimum akan memberikan efek yang maksimal pada kepiting bakau Scylla serrata sehubungan dengan proses osmoregulasi tubuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh salinitas pada kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan spesifik kepiting bakau melalui reaksi kondisi fisiologis. Penelitian ini terdiri atas perlakuan salinitas media 15 ppt (A), 20 ppt (B), 25 ppt (C), dan 30 ppt (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan salinitas media pemeliharaan kepiting bakau memberikan perbedaan nyata (P<0,05) pada kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan spesifik kepiting bakau. Rendahnya tingkat stres pada salinitas 25 ppt dijelaskan dengan tingginya jumlah total hemosit dan rendahnya tekanan osmotik sehingga salinitas 25 ppt merupakan kondisi optimum bagi pemeliharaan kepiting bakau. Keywords: salinitas, kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, kepiting bakau
GROWTH OF OFF-FLAVOURS-CAUSED PHYTOPLANKTON IN MILKFISH CULTURE FERTILIZED WITH DIFFERENT N:P Azis, Rahmadi; Affandi, Ridwan; Nirmala, Kukuh; Prihadi, Triheru
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3018.594 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.58-68

Abstract

ABSTRACT Milkfish culture in ponds currently use inorganic fertilizers for growing phytoplankton. Giving of urea and SP (superphosphate) too much in the pond environment will cause eutrophication and often cause fish smell of mud (off-flavours). Off-flavours in fish is caused by two chemical compounds those are geosmin and 2-methylisoborneol (MIB). Research was performed to evaluate the growth of off-flavours-caused phytoplankton in milkfish culture fertilized by different N:P. This study used nine ponds. Ponds are used for fish rearing area of 600 m2. Fish reared in ponds at the density of 1 fish/m2 for 90 days. The study were showed that types of phytoplankton obtained were the phylum Chlorophyta, Cyanophyta, Bacillariophyta, Dinoflagellate, Glaocophyta, and Euglenophyta. Percentage abundance of phytoplankton that produced geosmin and MIB (Cyanophyta) in each treatment was less than 50% of the percentage of total phytoplankton. Organoleptic scores showed that the treatment pond G (N:P ratio 4) score of 7 (not fresh, no off-flavours). Organoleptic scores of treatments with N:P ratio 5, 15 and 30 in pond A (freshwater pond) and pond B (brackish water pond) were 8 (fresh, no off-flavours). Keywords: extensive pond-culture, phytoplankton, N:P ratio, organoleptic  ABSTRAK Budidaya bandeng di tambak saat ini menggunakan pupuk anorganik untuk menumbuhkan fitoplankton. Pemberian pupuk urea dan SP (superphosphate) yang berlebihan pada lingkungan budidaya akan menyebabkan kondisi perairan tersebut menjadi sangat subur dan sering menyebabkan ikan bau lumpur off-flavours. Bau lumpur di ikan disebabkan oleh dua senyawa kimia yaitu geosmin dan 2-methylisoborneol (MIB). Penelitian dilakukan untuk menguji pertumbuhan fitoplankton penyebab bau lumpur pada tambak ikan bandeng dipupuk dengan N:P berbeda. Penelitian ini menggunakan sembilan petak tambak. Tambak yang digunakan berukuran 600 m2. Ikan ditebar di tambak dengan kepadatan 1 ikan/m2 dan dipelihara selama 90 hari. Hasil penelitian menunjukkan fitoplankton yang didapatkan antara lain berasal dari filum Chlorophyta, Cyanophyta, Bacillariophyta, Dinoflagellata, Glaocophyta, dan Euglenophyta. Kelimpahan fitoplankton Cyanophyta lebih kecil dibandingkan dengan fitoplankton bukan Cyanophyta yaitu di bawah 50%. Skor organoleptik perlakuan tambak G (rasio N:P 4) yaitu 7 (kurang segar, tidak bau lumpur). Skor organoleptik perlakuan rasio N:P 5, 15, dan 30 di tambak A (tambak air tawar) dan tambak B (tambak air payau) adalah 8 (segar, tidak bau lumpur). Kata kunci: budidaya kolam ekstensif, fitoplankton, rasio N:P, organoleptik
THE EFFECT OF TEMPERATURE ON THE PHYSIOLOGICAL CONDITION AND GROWTH PERFORMANCE OF FRESHWATER EEL ELVER ANGUILLA BICOLOR BICOLOR MCCLELLAND, 1844 Fekri, Latifa; Affandi, Ridwan; Rahardjo, Muhammad Fajar; Budiardi, Tatag; Simanjuntak, Charles Parningotan Haratua; Fauzan, Tezza; Indrayani, Indrayani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3406.807 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.181-190

Abstract

ABSTRACT This study aimed to analyze the effect of water temperature on the physiological condition and growth performance of freshwater eel elver Anguilla bicolor bicolor (McClelland, 1844). This study was conducted in March 2017 at the Physiology Laboratory of Aquatic Animal, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University. The study used a completely randomized design with five different levels of temperature (22°C, 24°C, 26°C, 28°C, and 30°C) as treatments with two replications. The size of elver was 2?3 g. Fish were fed with 1 mm pellet containing 45% of protein. The feeding level was 7 % of fish biomass and the feeding frequency was two times a day. The results showed that temperatures range from 24?30°C could be used for freshwater eel elver rearing and 28?30°Cwere the best temperatures to support survival and growth performance of eel elver. A temperature of 24°C was the best temperature that could reduce the metabolism rate and did not cause stress on the elver. Keywords: elver, physiological conditions, growth performance, metabolism, temperature  ABSTRAK Penelitian dengan tujuan menganalisis pengaruh suhu terhadap kondisi fisiologis dan kinerja pertumbuhan elver ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor McClelland, 1844) telah dilakukan pada bulan Maret 2017 di Laboratorium Fisiologi Hewan Air FPIK IPB. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan suhu berbeda (22°C, 24°C, 26°C, 28°C, dan 30°C) dengan masing-masing dua ulangan. Ukuran benih yang digunakan 2?3 g. Pakan yang diberikan berupa pellet berukuran 1 mm dengan kadar protein 45%. Jumlah pakan yang diberikan (FR) adalah 7% dari biomassa ikan dan diberikan dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran suhu 24?30°C dapat digunakan dalam pemeliharaan elver ikan sidat, dan suhu 28?30°C merupakan suhu yang sangat baik untuk mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan elver ikan sidat. Suhu media 24°C adalah suhu terbaik yang dapat menekan laju metabolisme dengan tidak menyebabkan stres pada elver ikan sidat. Kata kunci: elver, kondisi fisiologis, kinerja pertumbuhan, metabolisme, suhu  
SUBSTITUTION TIME OF NATURAL FOOD BY ARTIFICIAL DIET ON SURVIVAL RATE AND GROWTH OF PACIFIC WHITE SHRIMP (LITOPENAEUS VANNAMEI) POSTLARVAE DURING REARING IN LOW SALINITY MEDIA Taqwa, Ferdinand Hukama; Djokosetiyanto, Daniel; Affandi, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.776 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.38-43

Abstract

This research was conducted to determine natural food substitution time by artificial diet   after salinity acclimatization from 20 ppt until 2 ppt, which can increase survival and growth of (Litopenaeus vannamei) postlarvae during rearing period. Design experiment was completely randomized design with five treatments and three replications of natural food Chironomus sp.  (60% of crude protein) substitution time by artificial diet (40% of crude protein) at day: 1 (A), 7 (B), 14 (C), 21 (D) and full natural food without artificial diet (E) during 28 days rearing period. White shrimp postlarvae and rearing media in this experiment based from best result of earlier research that is PL25 from acclimatization in media 2 ppt with addition of potassium 25 ppm to freshwater media.  The densities of PL25 white shrimp were 20 PLs/50 liters of 2 ppt media. The result of this experiment showed that the use of artificial diet as soon as after salinity acclimatization (PL25) gave best performance production compared to which only that was given natural food Chironomus sp. during experiment or with treatment by artificial diet substitution at day-7, day-14 or day-21, shown with the highest value of food consumption level, protein retention, energy retention, daily growth rate and food efficiency. Survival rate of PL54 was above 80% and not significant different between treatment. That is supported by chemical-physical value of water quality still in range appropriate to survival rate of white shrimp post larvae during a rearing period. The result of this experiment indicated that requirement nutrient of PL25 in low salinity did not fulfilled if only rely on natural food, so that require artificial diet with nutrition content to support growth and survival rate of white shrimp post larvae more maximal. Key words: salinity, natural food, artificial diet, Pacific white shrimp   ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan yang tepat selama masa pemeliharaan postlarva udang vaname di media bersalinitas rendah setelah melalui masa aklimatisasi penurunan salinitas dari 20 ppt hingga 2 ppt, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Rancangan percobaan berupa rancangan acak lengkap dengan perlakuan yang diterapkan berupa waktu penggantian pakan alami Chironomus sp. (kadar protein 62%) oleh pakan buatan (kadar protein 40%) pada hari ke-1 (A), ke-7 (B), ke-14 (C), ke-21 (D) dan pakan alami (E) selama masa pemeliharaan. Postlarva udang vaname dan media pemeliharaan yang dipergunakan selama percobaan mengacu pada hasil terbaik yang didapatkan dari penelitian pendahuluan yaitu berupa PL25 hasil aklimatisasi di media bersalinitas 2 ppt  dengan penambahan kalium 25 ppm ke media air tawar pengencer. Padat tebar sebanyak 20 ekor/50 liter/wadah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pakan buatan yang diberikan segera setelah masa aklimatisasi salinitas (pada awal pemeliharaan PL25) memberikan performa produksi budidaya terbaik bila dibandingkan dengan yang hanya diberi pakan alami selama masa pemeliharaan maupun waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan pada hari ke-7, ke-14 dan hari ke-21 yang ditunjukkan dengan tingkat konsumsi pakan, retensi protein, retensi energi, laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan yang tertinggi.  Kelangsungan hidup di akhir pemeliharaan (PL54)  di atas 80% dan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Hal ini ditunjang oleh nilai fisika kimia air yang berada dalam kisaran yang layak selama masa pemeliharaan. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi pada stadia PL25 di media bersalinitas rendah tidak terpenuhi jika hanya mengandalkan pakan alami sehingga perlu ditunjang dari pakan buatan dengankandungan nutrisi yang dapat mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang lebih maksimal. Kata kunci: salinitas, pakan alami, pakan buatan, udang vaname.
OPTIMIZATION OF STOCKING DENSITY IN INTENSIFICATION OF MUD CRAB SCYLLA SERRATA CULTIVATION IN THE RESIRCULATION SYSTEM Hastuti, Yuni Puji; Nirmala, Kukuh; Rusmana, Iman; Affandi, Ridwan; Kuntari, Wahyu Budi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3535.327 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.253-260

Abstract

ABSTRACT This study aimed to determine optimum stocking density of mud crab Scylla serrata through the applied of different stocking density in every treatment in recirculation system. Experimental design used was complete randomized design (CRD) with three density treatments which were 5 (P1), 10 (P2), and 15 ind/container (P3). All treatments replicated three times. The crab with the average of body weight 150 g/ind cultured in a plastic box (40×30×30 cm). Crab was cultured within 60 days and were fed two times a day by at satiation method. The result showed that P2 treatment gave the best result of mangrove crabs production performance among all treatments with 73.33±5.77% survival rate, 0.68±0.01 g/ind/day absolute growth rate and food conversion ratio 10.11±0.01. Treatment P1 gave the good response of stress, it indicated by the lowest glucose of all tretamnets at the level of 31.91 mg/dL in the end of treatment periods. The water quality during study period was fluctuative as affected by different stocking density in the treatments. Keywords: mud crab, stocking density, production performance  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan padat tebar optimal kepiting bakau Scylla serrata melalui penerapan kepadatan tebar yang berbeda pada setiap perlakuan dalam sistem resirkulasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan yaitu 5 (P1), 10 (P2), dan 15 ekor/wadah pemeliharaan (P3) dengan tiga ulangan. Kepiting bakau yang digunakan memiliki berat rata-rata 150 g/ekor. Wadah pemeliharaan yang digunakan selama pemeliharaan adalah kontainer plastik yang berukuran 40×30×30 cm. Pemeliharaan kepiting bakau dilaksanakan selama 60 hari dan diberikan pakan berupa ikan rucah dua kali sehari secara at satiation. Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P2 memberikan hasil kinerja produksi terbaik dibandingkan perlakuan lainnya dengan nilai kelangsungan hidup 73,33±5,77%, laju pertumbuhan mutlak 0,68±0,01 g/ekor/hari, dan rasio konversi pakan 10,11±0,01. Perlakuan P1 menunjukkan respons stres yang baik dengan memiliki nilai kadar glukosa paling rendah dari perlakuan lain yaitu 31,91 mg/dL pada akhir masa pemeliharaan. Kualitas air selama penelitian memiliki nilai yang fluktuatif di setiap perlakuan sebagai efek adanya perbedaan jumlah padat tebar setiap wadahnya Kata kunci: kepiting bakau, padat tebar, kinerja produksi
PAIR REPLACEMENT ON THE SPAWNING SUCCESS OF BROODSTOCK SEAHORSE (HIPPOCAMPUS BARBOURI) Syafiuddin, .; Junior, M. Zairin; Jusadi, Dedi; Carman, Odang; Affandi, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.033 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.29-37

Abstract

Seahorse, (Hippocampus barbouri) is one of marine living resources having high commercial values and has commonly been traded especially as live ornamental aquarium fish, raw material of traditional medicine and as souvenirs. This expriment was conducted to determine the succces of spawning rate by replacing the broodstock pair of seahorse. This study was done experimentally with treatment of replacement of broodstock pair after spawning under control condition. The experiment was designed to apply completely randomize design by using the following treatments: Treatment A, without replacement neither male nor female. Treatment B, spawned female broodstock  was being mated with her unpaired male broodstock.  Treatment C, a male broodstock that still brood was being mated with his unpaired female broodstock.  Treatment D, a spawned male broodstock that has released larva was being mated with his unpaired female broodstock.  Results showed that under control condition the replacement of broodstock pairs of seahorse had significantly influenced the spawning interval, number of eggs released and number of juveniles produced (P0,05).  It can be concluded that seahorse is not monogamous, either male or female after being spawned may accept other pair for the next spawning. Key words: pair replacement, broodstock, success spawning, Hippocampus barbouri   ABSTRAK Kuda laut, (Hippocampus barbouri) merupakan salah satu sumberdaya hayati laut yang memiliki nilai komersial dan telah banyak diperdagangkan terutama sebagai ikan hias, bahan baku obat tradisional dan juga sebagai suvenir. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji tingkat keberhasilan pemijahan dengan penggantian pasangan induk kuda laut pada wadah budidaya. Percobaan ini dilakukan secara ekperimental dengan perlakuan penggantian pasangan induk setelah pemijahan dalam wadah budidaya. Percobaan dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan sebagai berikut: Perlakuan  A, pemijahan   sepasang  induk kuda laut (tanpa pergantian). Perlakuan B, pemijahan induk betina yang telah memijah dengan induk jantan bukan pasangannya. Perlakuan C, pemijahan  induk  jantan  yang telah memijah (mengerami telur) dengan induk betina bukan pasangannya. Perlakuan D, pemijahan induk jantan yang telah melahirkan dengan induk betina bukan pasangannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggantian pasangan induk pada wadah budidaya sangat berpengaruh terhadap interval pemijahan, jumlah telur yang dikeluarkan dan jumlah juwana yang dihasilkan (P0,05). Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kuda laut, tidak bersifat monogami, artinya baik jantan maupun betina setelah memijah dapat menerima pasangan lain untuk pemijahan berikutnya. Kata kunci: induk, keberhasilan pemijahan, pergantian pasangan, Hippocampus barbouri
FISH OIL SUPPLEMENTATION IN COMMERCIAL DIET ON GROWTH OF ANGUILLA BICOLOR BICOLOR Mukti, Retno Cahya; Utomo, Nur Bambang Priyo; Affandi, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2808.23 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.54-60

Abstract

ABSTRACT This study was aimed to determine the effect of fish oil addition on growth performance and fatty acid composition of eel Anguilla bicolor bicolor. Freswater eel at an initial body weight of 9.90± 0.05 g were maintained in aquarium with volume of 120 L at stocking density of 1 g/L for 40 days. This research applied complete randomized design with four treatments addition of fish oil, i.e. 0%, 5%, 10%, and 15%. All treatments were carried out in triplicate. Feed given as much as 3% of the fish biomass a day for four times at 06:00, 11:00, 16:00, and 21:00. The results showed that the addition of fish oil in the diet have different effects (P<0.05) on specific growth (0.88?1.36%), feed efficiency (30.18?48.53%), protein retention (14.57?20.24%), fat retention (16.77?52.49%), energy retention (12.38?20.20%), and hepatosomatic index (1.72?2.72%) whereas the survival showed no difference (P>0.05) at 100%. In the fatty acid composition total of unsaturated fatty acid composition was 30.91?40.95%, n-3 fatty acids was 6.10?8.19%, and n-6 fatty acids were 6.18?8.19%. In conclusion, the addition of fish oil in the diet of freshwater eel Anguilla bicolor bicolor can be done up to 5% (13% fat content of diet). Keywords: Anguilla bicolor bicolor, fish oil, growth performance, fatty acid composition  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penambahan minyak ikan terhadap kinerja pertumbuhan dan komposisi asam lemak ikan sidat Anguilla bicolor bicolor. Ikan sidat dengan bobot 9,90±0,05 g dipelihara dalam akuarium dengan volume 120 L pada padat tebar 1 g/L selama 40 hari. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap terdiri atas empat perlakuan penambahan minyak ikan pada pakan sebesar 0%, 5%, 15%, dan 15%. Semua perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Pakan diberikan sebanyak 3% dari biomassa ikan dan diberikan sebanyak empat kali sehari yaitu pukul 06.00, 11.00, 16.00 dan 21.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak ikan dalam pakan memberikan pengaruh yang berbeda (P<0,05) terhadap spesific growth rate (0,88? 1,36%), efisiensi pakan (30,18?48,53%), retensi protein (14,57?20,24%), retensi lemak (16,77?52,49%), retensi energi (12,38?20,10%), dan indeks hepatosomatik (1,72?2,72%). Sintasan tidak menunjukkan adanya perbedaan (P>0,05) yaitu 100%. Pada komposisi asam lemak dihasilkan total komposisi asam lemak tidak jenuh 30,91? 40,95%, asam lemak n-3 6,10?8,19%, dan asam lemak n-6 6,18?8,19%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penambahan minyak ikan dalam pakan ikan sidat Anguilla bicolor bicolor dapat dilakukan sampai dengan 5% (kadar lemak pakan 13%). Kata kunci: Anguilla bicolor bicolor, minyak ikan, kinerja pertumbuhan, komposisi asam lemak
APPLICATION OF GAMAL GLIRICIDIA SEPIUM LEAVES COMPOST AS DEPURATION AGENT OF LEADS (PB) IN THE BODY ORGAN OF RED TILAPIA OREOCHROMIS SP. Robin, ,; Nirmala, Kukuh; Harris, Enang; Affandi, Ridwan; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3275.112 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.83-91

Abstract

ABSTRACT  This study was aimed to perform depuration of Pb contained in tilapia body. The experiments were conducted in aquarium using compost of Gliricidia sepium leaf at a concentration of 10g/L, 20 g/L, 30 g/L, 40 g/L, and 0 g/L (control). The result showed that Pb level in fish muscle immersed with compost of Gliricidia leaf at a dose of 30 g/L for five days successfully decreased to a safe limit for human consumption (<0.3 mg/kg). However, decrease of Pb level in fish liver and kidney to finally reach the safe limit required seven days. Decreasing level of lead in the organs of experimental fish along with the increasing level of Pb in compost and maintenance media indicated that Pb accumulated in fish were released into the maintenance media by compost through chelation process. To conclude, compost of G. sepium leaves can be used as the material for depuration of Pb in the body of tilapia Keywords: humic acid, fulvic acid, depuration, Gliricidia leaves, lead, red tilapia  ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk mendepurasi Pb yang terkandung di tubuh ikan nila. Percobaan dilakukan di dalam akuarium menggunakan kompos daun gamal pada konsentrasi 10 g/L, 20 g/L, 30 g/L, 40 g/L, dan 0 g/L (kontrol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Pb di daging ikan yang direndam dengan kompos daun gamal pada konsentrasi 30 g/L selama lima hari, kadarnya menurun hingga batas aman untuk dikonsumsi manusia (<0,3 mg/ kg). Penurunan Pb di hati dan ginjal untuk mencapai kadar aman membutuhkan waktu yang lebih lama, yakni tujuh hari. Seiring dengan menurunnya kadar Pb dalam organ ikan uji, kisaran Pb dalam kompos dan media budidaya meningkat, menunjukkan bahwa Pb dari tubuh ikan dilepaskan ke media budidaya dan terjadi proses khelat oleh kompos. Dengan demikian, kompos daun gamal bisa digunakan sebagai bahan pendepurasi Pb dari tubuh ikan nila. Kata kunci: asam humat, asam fulvik, depurasi, daun gamal, timbal, nila merah
Co-Authors , Suharsono . Sulistiono . Syafiuddin . Yonvitner, . ., Efriyeldi ., Jimmi Abdul Rahman Singkam Agus Alim Hakim, Agus Alim Agus Oman Sudrajat Agus Salim Agus Suprayudi, Agus Ahlina, Hadra Fi Akhmad Firmansyah, Akhmad Ali Mashar Alimuddin Alimuddin Am Azbas Taurusman Andi Gunawan Angelika, Iska Arif Wibowo Asbar Laga, Asbar Atminarso, Dwi Azam B. Zaidy Bahiyah, nFN Bakhris, Vera Dewiana Bambang Kiranadi Bambang Widigdo Batu, Djamar Tumpal Floranthus Lumban Benny Heltonika CECEP KUSMANA Chadijah, Andi Chair Rani Charles P.H. Simanjuntak, Charles P.H. Charles Parningotan Haratua Simanjuntak Charles PH Simanjuntak Daniel Djokosetiyanto Daniel R Monintja Daniel R Monintja, Daniel Dedi Jusadi Dedi Soedarma DEDI SOEDHARMA DEDY DURYADI Dedy Duryadi Solihin DEDY DURYADI SOLIHIN Dendi Hidayatullah, Dendi Desrita Desrita Didik Wahju Hendro Tjahjo Dietriech G Bengen Dietriech G Bengen, Dietriech Dinar Tri Soelistyowati Djadja S . Sjafei, Djadja Djamar T.F. Lumban Batu, Djamar T.F. Lumban Eddy Supriyono Efriyeldi, Efriyeldi Enang Harris Enang Harris Surawidjaja, Enang Harris Endah Purnamawati, Endah Epa Paujiah, Epa Etty Riani Fachrudin, Ahmad Farida Nur Rachmawati Fauzan, Tezza Fauziah, Rika Ferdinand Hukama Taqwa Harpasis S. Sanusi Haryani, Gadis Sri Haryono . Haryono Haryono Haryono, nFN Hayono, Hayono Hayono, Hayono Hedianto, Dimas Angga Henni Syawal Herdiana, Lella Hesti Lukas, Ade Yulita Hukom, F. Damianus Ilham Zulfahmi, Ilham Iman Rusmana IMAN SUPRIATNA INDRAYANI INDRAYANI Ing Mokoginta Isdradjad Setyobudiandi Ismane, M. Apuk Ismudi Muchsin Jack Mamangke, Jack Jusmaldi, . Jusmaldi, Jusmaldi Jusmaldi, nFN Kadarwan Soewardi Kamal, Mukhlis Kardiyo Praptokardiyo KARTINI, Nidya Kartini, Nidya Kasful Anwar Koeswinarning Sigit Kukuh Nirmala Kuntari, Wahyu Budi Kurnia Faturrohman, Kurnia Kurniawati H Ekosafitri, Kurniawati La Eddy Latifa Fekri Lenny S Syafei, Lenny Leuwol, Cathrine Ferlianova Lubis, Delismawati Lumban Batu, Djamar Tumpal Floranthus M F Rahardjo M F Rahardjo, M M Mukhlis Kamal, M Mukhlis M. Agus Setiadi M. F. Rahardjo, M. F. M. Zairin Junior M. Zairin Junior Mafatih Devi Safrina, Mafatih Devi Manan, Hardono Mas Tri Djoko Sunarno, Mas Tri Djoko Mennofatria Boer Menofatria Boer Mia Setiawati Millaty, Radhita Mohammad Mukhlis Kamal MOZES R. TOELIHERE Mozes R. Toelihere Mozes Toelihere Muchammad Sri Saeni, Muchammad Muhammad Jamal Muhammad Mukhlis Kamal, Muhammad Mukhlis Mulyadi . Mulyadi Mulyadi Mulyani, Yuli Wahyu Tri Murhum, Mufti Murniarti Brojo Mustakim, Moh Nadeak, Horas Nasmi, Jannesa NASTITI KUSUMORINI Norce Mote, Norce Norman Razieb Azwar Nugroho, Thomas Nur Bambang Priyo Utomo Nurhidayat Nurhidayat Nurhidayat, nFN Nurlisa A Butet, Nurlisa A Nurlisa Alias Butet, Nurlisa Alias ODANG CARMAN Odilia Rovara Purnama Sukardi Purnamawati, , Putri, Adinda Kurnia Rahadjo, M F Rahadjo, M F Rahardjo, M. Fadjar Rahardjo, MF Rahardjo, MF. Rahardjo, MF. Rahardjo, Muhammad Fajar Rahmadi Azis, Rahmadi Retno Cahya Mukti Riani H, Etty Riri Ezraneti Rita Rachmawati, Rita Robin, , Ronny Irawan Wahju Roza Elvyra Rudhy Gustiano Saddon Silalahi, Saddon Salsabila, Sahda Sata Yoshida Srie Rahayu, Sata Yoshida Srie Selviana, Elen Simanjuntak, Charles P. H. Siti Nurul Aida, Siti Nurul Siti Sofiah Sjafei, Djadja S. Sjafei, Djadja Subardja Sjafei, Djadja Subardja Soedharma, Dedy Sri Murtini Sri Wahyuni Srihadi Agungpriyono Sudarto Sudarto Sukenda Sukenda Sulistiono . Sulistiono Sulistiono Sulistiono, nFN Suradi Suradi Suradi Wijaya Saputra Sutrisno Sukimin Suwardi, Surachman Syarif, Ahmad Fahrul Syarif, Ahmad Fahrul Tarigan, Nurbety Tatag Budiardi Tjahjo Winanto, Tjahjo TRI PRARTONO tri wahyuni Tridesianti, Siska Triheru Prihadi, Triheru Triramdani, Nurfitri Triyanto Tyas, Nanik Mustikaning Untung Susilo Utomo, Bambang Priyo Utomo, Nur Bambang Priyo Wahyudi, Setyo Wasmen Manalu Watanabe, Seiichi Wildan Nurussalam, Wildan Yandes, Zulfa Yani Hadiroseyani Yulfiperius, nFN Yulfiperius, Yulfiperius Yulia Sistina Yulintine, Yulintine Yulvian Sani Yuni Puji Hastuti Yunizar Ernawati Yusfiati, nFN Yusnarti Yus Zairin Junior