Norma Afiati
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 31 Documents
Articles

Found 31 Documents
Search

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PUPUK KADAR AMONIAK TINGGI DENGAN PROSES GABUNGAN MICROALGAE DAN NITRIFIKASI-DENITRIFIKASI AUTOTROFIK Sumantri, Indro; Sumarno, .; Afiati, Norma
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses biologis konvensional untuk penghilangan urea dan amonium pada air limbah pabrik urea menggunakan proses algae mikro atau proses nitrifikasi-denitrifikasi heterotrofik.  Proses yang menggunakan berbagai mikro algae mempunyai keunggulan input hara hanya senyawa P dan mampu menghilangkan urea secara total tetapi tidak mampu menghilangkan kandungan amoniumnya.  Proses nitrifikasi-denitrifikasi heterotrofik  membutuhkan input karbon organik yang tinggi pada proses denitrifikasinya sehingga biaya pengolahan menjadi tinggi. Tujuan penelitian dengan skala bangku ini untuk mengevaluasi kemampuan sistem gabungan proses algae mikro dan nitrifikasi-denitrifikasi autotrofik.  Algae mikro yang digunakan merupakan spesies algae yang tahan terhadap konsentrasi amonium tinggi dan mampu menghilangkan amonium selain urea.  Untuk proses nitrifikasi-denitrifikasi  menggunakan lumpur nitrifying yang bersifat autotrofik sebagai biokatalis.   Penyediaan lumpur nitrifying secara teknis sangat mudah.  Lumpur nitrifying berasal dari lumpur aktif yang diperoleh dari unit pengolahan limbah industri partikel board yang telah diaklitimasi pada kondisi konsentrasi amonium tinggi dan autotrofik. Keunggulan masing-masing proses tersebut bila digabung akan menghasilkan proses yang lebih efisien dan murah. Penelitian ini dilakukan dengan kondisi sebagai berikut : kadar SVI mikro algae 25 mL/L, kadar SVI lumpur 100 mL/L, laju aerasi yang digunakan 5 L/menit, waktu tinggal limbah 1 hari, rasio Ndan P : 20 : 1. Sedangkan sebagai variabel yang digunakan adalah beban amoniak antara 1000 – 3000 mg/L. Penurunan kadar amoniak yang diukur dilakukan pada akhir pengolahan yaitu setelah  bak lumpur. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa prosentase penurunan kadar amoniak bisa mencapai 67 %. Kata kunci : proses mikroalga, proses nitrifikasi-denitrifikasi autotrofik, pengayaan dan breeding lumpur nitrifikasi  
ANALISIS TROPHIC STATE INDEX CARLSON AIR MUARA SUNGAI BANJIR KANAL TIMUR, SEMARANG Khasani, Andro; Afiati, Norma; Sulardiono, Bambang
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSungai Banjir Kanal Timur merupakan salah satu sungai besar yang dimiliki Kota Semarang. Sungai ini berfungsi dalam sistem drainase dan pengendalian banjir. Beberapa aliran sungai mengalir ke Sungai Banjir Kanal Timur dan berakhir di muara. Muara merupakan segmen yang akan menampung semua beban yang berasal dari sungai. Oleh karena itu, status trofik perairan di muara, khususnya Sungai Banjir Kanal Timur perlu dievaluasi dalam rangka pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya alamnya. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Mei 2016 di muara Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualitas air melalui status kesuburan perairan di muara Sungai Banjir Kanal Timur, berdasarkan metode Trophic State Index (Carlson, 1977) dan metode STORET dalam Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air dan PP RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Variabel utama yang digunakan pada Analisis TSI Carlson adalah kandungan total N, total P, klorofil-a, dan kecerahan air (angka Secchi disk). Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan penentuan lokasi sampling bersifat purposive sampling. Hasil yang diperoleh dari analisis TSI (Carlson, 1977) berkisar 53 ? 57. Kriteria TSI menunjukkan bahwa TSI TP < TSI SD > TSI CHL dan TSI TP > TSI SD > TSI CHL. Pendugaan interpretasi hubungan tersebut menjelaskan bahwa fosfor membatasi biomasa alga (rasio TN/TP lebih besar dari 33:1), dan nilai TSI Chl yang rendah disebabkan beberapa faktor lain selain fosfor seperti, pemangsaan oleh zooplankton, kandungan nitrogen, dan sebagainya yang sifatnya mengurangi biomasa algae. Di sisi lain, analisis (Indeks STORET) menggunakan Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air menghasilkan skor, yaitu -8. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesuburan perairan muara Sungai Banjir Kanal Timur, Semarang menurut TSI (Carlson 1977) berada pada status eutrofik ringan atau (Indeks STORET, Kepmen LH No. 115 / 2003) termasuk kategori perairan tercemar ringan. Kata Kunci : Status Mutu Perairan, Trophic State Index Carlson (1977),  Kepmen  LH No. 115 Tahun 2003, muara Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. ABSTRACTEast Banjir Kanal River is one of the largest river owned by the city of Semarang. The river has a main function as drainage system and flood control of the city. Several streams flowing into the East Banjir Kanal River and end at the estuary. As estuary accommodates all loads from the river, therefore, the trophic status of waters in particular for East Banjir Kanal River needs to be evaluated in the context of environmental management and utilization of natural resources. This work was conducted during May 2016 in the estuary of East Banjir Kanal River. The objective was to determine river water quality using Trophic State Index by Carlson (1977) and the STORET method in the Decree of the Minister of Environment of The Republic of Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003 regarding Guideline for the Determination of Water Quality Status and The Government Regulation of The Republic of Indonesia No 81/2001 regarding Water Quality Management and Water Pollution Control. The main variables used in the analysis of Trophic State Index by Carlson, 1977 are total N, total P, chlorophyll-a and water clarity. Descriptive method is used to determine random sampling points. The average results of all stations analysed by means of Trophic State Index (Carlson, 1977) ranged from 53-57. The interpretation showed that TSI TP < TSI SD > TSI CHL and TSI TP > TSI SD > TSI CHL, these mean that phosphorus limit the biomass of algae (the ratio TN/TP larger than 33:1). Furthermore, lower TSI Chl values in all sampling point were due to several factors other than phosphorus, such as predatory zooplankton, nitrogen which worked to reduce algal biomass. The STORET analysis in the Decree of the Minister of Environment of The Republic of Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003 about Guideline for the Determination of Water Quality Status gives an overall score of  minus 8. It is concluded that by applying both methods, the estuary of the East Banjir Kanal, Semarang during the course of the study were on light eutrophic status and categorized as lightly polluted waters. Keywords:  Water Quality Status, Trophic State Index Carlson (1977), Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003, Estuary of East Banjir Kanal River Semarang. 
STRUKTUR POPULASI TIRAM (SACCOSTREA CUCCULLATA BORN, 1778) PADA EKOSISTEM MANGROVE DAN NON-MANGROVE DI SEMARANG, JAWA TENGAH Rismawati, Ulfah; Afiati, Norma; Suprapto, Djoko
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tiram (Saccostrea cuccullata), merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting. Pengambilan tiram umumnya dilakukan secara tidak teratur baik jumlah, ukuran dan waktunya sehingga diduga hal tersebut berpengaruh terhadap struktur populasi. Penelitian ini dilakukan di Pantai Mangkang yang merupakan daerah bermangrove dan Pantai Maron yang non-mangrove, Semarang Jawa Tengah selama bulan Juli ? September 2014, yang bertujuan untuk mengkaji perbedaan struktur populasi tiram berdasarkan perbedaan pada ekosistem mangrove dan non-mangrove. Metode survei deskriptif digunakan dalam penelitian ini dengan teknik pengambilan sampel bersifat purposive random. Jumlah sampel tiram yang terkumpul selama tiga bulan (Juli ? September, 2014) pada daerah bermangrove yaitu 209 individu, sedangkan pada daerah non-mangrove berjumlah 253 individu. Kisaran panjang cangkang tiram pada ekosistem mangrove yaitu 12,00 ? 82,20 mm dan untuk berat basah total yaitu 1,01 ? 55,03 g. Pada daerah non-mangrove kisaran panjang cangkang yaitu 21,30 ? 82,00 mm dan berat basah totalnya 2,04 ? 83,45 g. Kerapatan populasi tiram di daerah bermangrove berkisar 16 ? 96 individu/m2 dan pada daerah non-mangrove yaitu 24 ? 104 individu/m2. Pola distribusi pada ekosistem mangrove dan non-mangrove umumnya mengelompok. Sifat pertumbuhan yang didapat dari analisis hubungan panjang berat yaitu alometrik negatif, dimana b<3. Pada pengamatan Indeks STORET (Kepmen LH No. 115, 2003) diperoleh hasil yaitu perairan Pantai Mangkang (Mangrove) dan Pantai Maron (Non-Mangrove) masuk kategori perairan tercemar sedang. Oysters (Saccostrea cuccullata) is the one of the fisheries resource that has an important economic value. Collection of oysters usually done in irregular either total, size and time allowing allegedly this impact on the structure of population. This research is conducted in Mangkang Beach wich is a mangrove areas and Maron beach is a non-mangrove areas, Centtral Java Sea during July ? September 2014 with a purpose to study the differences of structure population based on mangrove and non-mangrove areas. Methods that used in this study was descriptive survey with purposive random sampling. Variable observed  i.e  physic, chemist, biology, social and economic factors. Total of sample that collected during three months (July ? September) in mangroves areas 209 individuals and in non-mangrove areas 253 individuals. The range of shell length in mangroves ecosystem is 12,00 ? 82,20 mm and the total weight is 1,01 ? 55,03 g. In non-mangrove ecosystem the range of shell length is 21,30 ? 82,00 mm and the total weight is 2,04 ? 83,45 g. Population density of oyster in mangrove and non-mangrove areas is generally clumped. Correlation of length and weight of oysters has a meaning negative allometric both of mangrove and non-mangrove, wich  b<3. Sex ratio of oysters both of mangrove and non-mangrove areas is not balanced, wich the male less than female. The results of STORET Index (Kepmen LH No. 115, 2003) categorised that both the waters in mangrove and non-mangrove ecosystem as relatively contaminated.
ANALISIS BIOKONSENTRASI KADMIUM (CD) PADA KERANG HIJAU (PERNA VIRIDIS) DI PERAIRAN PONCOL, DESA BULU, KABUPATEN JEPARA, JAWA TENGAH Rahma, Dwi Aprilia; Afiati, Norma; Rudiyanti, Siti
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPoncol merupakan salah satu pesisir yang terdapat di Kabupaten Jepara. Meningkatnya aktivitas masyarakat di sekitar perairan Poncol memicu peningkatan konsentrasi limbah yang masuk ke dalam perairan. Salah satu limbah yang berbahaya adalah logam berat. Hal tersebut menjadi landasan dilakukannya penelitian mengenai analisis biokonsentrasi kadmium pada kerang hijau di perairan Poncol, Desa Bulu, Jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2016, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui konsentrasi kadmium pada air dan jaringan lunak kerang hijau, dan untuk mengetahui angka faktor biokonsentrasi kadmium terhadap jaringan lunak kerang hijau. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan penentuan lokasi sampling menggunakan teknik random sampling, 3 stasiun sampling yang sudah ditentukan yaitu, stasiun 1 di muara, stasiun 2 di perairan pantai dekat dengan keluarnya limbah dari kegiatan domestik, dan stasiun 3 di perairan pantai dekat dengan pemukiman warga dan tempat berlabuhnya perahu nelayan. Analisis kadmium pada air dan jaringan lunak kerang hijau dilakukan di Laboratorium BBTPPI, Semarang. Hasil perhitungan konsentrasi kadmium dalam air pada stasiun 1 diperoleh angka rata-rata sebesar 0,63 µg/ml, pada stasiun 2 sebesar 0,53 µg/ml, dan pada stasiun 3 sebesar 0,64 µg/ml. Konsentrasi kadmium dalam jaringan lunak kerang hijau pada stasiun 1 diperoleh angka rata-rata sebesar 0,91 µg/mg, pada stasiun 2 sebesar 0,83 µg/mg, dan pada stasiun 3 sebesar 0,93 µg/mg. Hasil perhitungan angka bioconcentration factor (BCF) pada jaringan lunak kerang hijau berkisar antara 1,44 hingga 1,57. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dapat disimpulkan bahwa kadar konsentrasi kadmium pada air dan kerang hijau di perairan Poncol tergolong rendah dan masih berada di bawah ambang batas baku mutu. Angka bioconcentration factor logam berat kadmium pada jaringan lunak kerang hijau termasuk dalam kategori akumulatif rendah (BCF < 100). Kata Kunci : Biokonsentrasi; Logam Berat Kadmium; Kerang Hijau (P. viridis); Perairan Poncol - Jepara ABSTRACTPoncol is one of the coastal areas in the district of Jepara. The increasing activity surrounding Poncol waters may increase the concentration of waste that flows into the waters. One of various hazardous wastes that way come into the coast is a heavy metal. Therefore it is needed to study the Analysis Bioconcentration Cadmium on Green Mussels in Poncol Waters, Bulu, Jepara. This work was conducted in May-June 2016. The purpose of this study to determine the concentration of the heavy metal cadmium both in the water and the soft tissue of green mussels, and further to measure the cadmium bioconcentration factor in the soft tissues. Survey method is used to determine random sampling points, 3 sampling stations that has been determined, at station 1 close to estuaries, at station 2 in coastal waters close to the disposal of wastewater from domestic activities, and at station 3 in coastal waters close to the residential area and  close to berth of fishing boats. Analysis of cadmium in the water and the soft tissue of green mussels were conducted in Laboratory BBTPPI, Semarang. The result showed that Cd concentration in water at station 1 obtained an average rate are at 0.63 µg/ml, at station 2 at 0.53 µg/ml and at station 3 at 0.64 µg/ml. Cd concentration in the soft tissues of green mussels at Station 1 obtained an average rate of 0.91 µg/mg, at station 2 at 0.83 µg/mg, and at station 3 of 0.93 µg/mg. The result of the calculation of the value of bioconcentration factor (BCF) in soft tissue mussels ranged from 1.44 to 1.57. Based on the result, we can concluded that the levels of concentration of heavy metal cadmium in the water and  the green mussels was low and below on quality standards. The rate of bioconcentration factor (BCF) of heavy metal cadmium in soft tissue green mussels was in the category of low accumulative (BCF <100).  Keywords: Bioconcentration; Heavy Metal Cadmium; Green Mussels; Poncol Coastal Waters ? Jepara 
KANDUNGAN BAHAN ORGANIK SEDIMEN DAN KADAR H2S AIR DI DALAM DAN DI LUAR TEGAKAN MANGROVE DESA BEDONO, KABUPATEN DEMAK Sa?diyah, Halimatus; Afiati, Norma; Purnomo, Pujiono Wahyu
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan mangrove dapat memproduksi bahan organik dari proses dekomposisi serasah yang jatuh yang menjadi penyuplai nuterien ke lingkungannya. Proses tersebut menggunakan oksigen terlarut yang apabila oksigen terlarut habis maka proses tersebut beralih ke proses dekomposisi secara anaerob yang menyebabkan terbentuknya senyawa H2S. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kandungan bahan organik sedimen dan kadar H2S air di dalam dan di luar kawasan mangrove serta untuk mengetahui hubungan kandungan kadar H2S air dengan bahan organik sedimen dan oksigen terlarut di kawasan mangrove desa Bedono. Metode penelitian adalah metode survey. Penelitian ini dilakasanakn pada bulan Mei- Juni 2017 di lokasi yang mewakili kawasan mangrove dan lingkungan sekitarnya. Data yang diukur adalah suhu air, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus, oksigen terlarut, pH, bahan organik sedimen dan H2S air yang dilaksanakan empat kali dengan selang pengukuran dua minggu. Hasil yang didapat yaitu suhu air 28-31oC, kecerahan 14,5-68 cm, kedalaman 33-165 cm, kecepatan arus 0-0,1 m/s, oksigen terlarut , pH 5-6, bahan organik sedimen 7,73-20,27%, H2S air 0,003-0,037 mg/l. Kandungan bahan organik sedimen dan kadar H2S air tertinggi di dalam kawasan mangrove dengan rata-rata 16,36% dan 0,031 mg/l, dan terendah di luar kawasan mangrove dengan rata-rata 9,78% dan 0,01 mg/l. Kadar H2S tinggi di dalam kawasan mangrove dan lebih rendah di luar kawasan mangrove. Kadar H2S air dengan bahan organik sedimen dan oksigen terlarut berhubungan linier dengan persamaan H2S= 0,027 + 0,001BOS- 0,006 DO (r= 0,7246, BOS= Bahan Organik Sedimen, DO= Dissolved Oxygen). Mangroves produce organic matter from the decomposition of falling leaves, twigs etc, which supply nutrient to the environment. The process uses dissolved oxygen; when dissolved oxygen exhausted, it switches into anaerobic decomposition which causes the formation of H2S compounds. This study aims to knowing differences in sediment organic materials and H2S within and adjacent of mangrove areas and to determine the relation of H2S with sediment organic materials and dissolved oxygen in the mangrove areas of Bedono. Survey method is refered, and the study was conducted in May - June 2017 on locations representing mangrove areas and the surrounding environment. The data measured are water temperature, brightness, depth, current speed, dissolved oxygen, pH, sediment organic materials and H2S in the water. Sampling was conducted four times every fortnight. The result of the water temperature is  28-31 ° C, brightness 14.5 to 68 cm, 33-165 cm depth, current speed 0-0.1 m/s, dissolved oxygen 2-5,2 mg/l, pH 5-6, sediment organic material 7,73 to 20.27%, H2S 0.003 to 0.037 mg/l. Sediment organic materials and H2S were highest within the mangrove area, with an average 16.36% and 0.031 mg/l, and the lowest outside of mangrove area with an average 9.78% and 0.01 mg/l. H2S higher in the inside of  the mangrove areas compared to the outside of it. The relation of H2S with sediment organic materials and dissolved oxygen is linearly related according to the equation H2S= 0.027+ 0.001SOM- 0.006DO (r= 0.7246, SOM= Sediment Organic Materials, DO= Dissolved Oxygen).
TROPHIC STATE INDEX (TSI) DI HABITAT RAJUNGAN (PORTUNUS PELAGICUS LINNAEUS, 1758) PANTAI BETAHWALANG, KABUPATEN DEMAK Latifah, Lulu Adilla; Afiati, Norma; Purnomo, Pujiono Wahyu
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Betahwalang di desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak merupakan perairan habitat rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) dengan intensitas penangkapan sepanjang tahun. Sebagai habitat rajungan, perairan Betahwalang direncanakan menjadi kawasan lindungan laut daerah yang dikelola masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, perlu dievaluasi status trofik perairannya dalam rangka pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya hayatinya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui status kesuburan perairan di habitat rajungan berdasarkan metode Trophic State Index (TSI) Carlson (1977) dan Kepmen LH No. 115/ 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air dan Kepmen LH No. 51/2004 tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut. TSI Carlson menggunakan 3 komponen utama, yaitu total fosfor, klorofil a, dan kecerahan air untuk menduga status trofik perairan. Metode deskriptif dengan teknik penentuan lokasi sampling bersifat purposive random digunakan dalam penelitian ini. Hasil yang diperoleh dari analisis TSI Carlson (1977), berkisar antara 60-68, sementara skor status mutu air dari analisis Kepmen LH No.115/2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air dan Kepmen LH No. 51/2004 tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut adalah -20. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pantai Betahwalang berada pada status eutrofik sedang dan termasuk kategori perairan tercemar sedang untuk biota air laut. Betahwalang aquatic water in Betahwalang village, Bonang district, Demak Regency, is a blue swimming crab (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) habitat with fishing intensity throughout the year. Accordingly, trophic status of the water in Betahwalang needs to be evaluated for sustainable management of the crab. The purpose of this study is to determine the fertility status of the water in blue swimming crab habitat based on Trophic State Index (TSI) Carlson (1977) and Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No.115/2003 regarding Guideline for the Determination of Water Quality Status and Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No.51/2004 regarding the Standard Quality of Sea Water for Marine Biota. TSI by Carlson (1977, 2005) applying three main components, i.e. total phosphorus, chlorophyll-a, and water transparency to assess trophic status of the water. Descriptive method is used in this study, for which sampling location was determined by using purposive random. The result from the analysis of TSI Carlson (1977) is among 60-68, while the score of water quality status analysed using Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No.115/2003 about Guideline for the Determination of Water Quality Status and Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No.51/2004 about the Standard Quality of Sea Water for Marine Biota is -20. Based on the results of this research, it is concluded that Betahwalang beach is on medium eutrophic status and categorized as medium polluted water for marine biota.
STUDI MORFOMETRI DAN FAKTOR KONDISI SOTONG (SEPIELLA INERMIS: ORBIGNY, 1848) YANG DIDARATKAN DI PPI TAMBAKLOROK, SEMARANG Rochman, Nur; Afiati, Norma; Haeruddin, -
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

S. inermis merupakan spesies kompleks dan umumnya memiliki ukuran yang kecil dengan sirip yang sempit. S. inermis dapat ditemukan pada perairan dengan kisaran kedalaman 10-20 meter. Sifat pertumbuhan penting untuk dipelajari baik melalui studi panjang berat, faktor kondisi, dan morfometri karena dapat digunakan untuk upaya pengelolaan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dimana pelaksanaannya melalui teknik survei dan pengambilan sampel menggunakan metode systematic random sampling. Data yang digunakan adalah data panjang mantel (mm) dan berat (gram) dari S. inermis serta pengukuran beberapa variabel morfometri (mm). Dari hasil penelitian hubungan panjang berat S. inermis mengikuti persamaan W = 0,00129 L2,4978. Hal tersebut menunjukkan bahwa sifat pertumbuhan dari S. inermis adalah allometrik negatif. Itu berarti bentuk tubuhnya kurus dan pertambahan panjangnya lebih cepat dari pertambahan berat. Sementara itu berdasarkan hasil pengukuran morfometri menunjukkan variasi sifat pertumbuhan antara variabel-variabel yang diperbandingkan. Lengan memiliki kecepatan tumbuh yang lebih cepat dibandingkan dengan mata, kepala, dan tentakel. Hal itu karena peran lengan yang sangat penting dalam proses kehidupannya untuk menangkap dan menaklukkan buruannya.
BIOMASSA KANDUNGAN KARBON DAN SERAPAN CO2 PADA TEGAKAN MANGROVE DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE BEDONO, DEMAK Prakoso, Teguh Budi; Afiati, Norma; Suprapto, Djoko
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 6, No 2 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKEmisi CO2 yang terakumulasi di atmosfer menyebabkan terjadinya perubahan iklim secara global. Untuk mengurangi dampak perubahan iklim, salah satu upaya yang dapat dilakukan saat ini adalah meningkatkan penyerapan karbon dan/atau menurunkan emisi di atmosfer. Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis sebagai pereduksi karbon melalui proses sekuestrasi (C-sequestration). Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung kerapatan, kandungan karbon dan serapan CO2 serta mengetahui hubungan korelasi kerapatan mangrove dengan kandungan karbon pada tegakan mangrove. Penelitian dilakukan dengan metode non-destructive sampling menggunakan persamaan alometrik. Pendekatan persamaan alometrik yang digunakan yaitu model alometrik biomassa pohon untuk jenis atau tipe ekosistem mangrove yang sudah tersedia atau dikembangkan di lokasi lain. Hasil pengukuran menunjukkan kerapatan tegakan mangrove di area tanam tahun 2004, 2007, dan 2010 adalah 1460 individu/ha, 1868 individu/ha, dan 2128 individu/ha. Biomassa pada area tanam tahun 2004 sebesar 206,77 ton/ha (103,39 ton C/ha, dan menyerap 379,09 ton CO2/ha). Area tanam tahun 2007 memiliki biomassa 293,73 ton/ha (146,86 ton C/ha, dan menyerap 538,50 ton CO2/ha), dan area tanam tahun 2010 memiliki biomassa 260,02 ton/ha (130,01 ton C/ha, dan menyerap 476,67 ton CO2/ha). Berdasarkan hasil penelitian, kerapatan jenis dan umur tegakan mangrove merupakan faktor yang mempengaruhi besarnya biomassa. Hasil uji regresi-korelasi menunjukkan, perubahan kerapatan mangrove akan berpengaruh secara signifikan pada ekosistem mangrove dalam menyimpan karbon dan menyerap CO2 dari atmosfer. Kata Kunci: Mangrove, biomassa, karbon, kerapatan jenis ABSTRACTEmissions of CO2 that accumulated in the atmosphere causes global climate change.  To reduce the impact of climate change, one of the efforts is increased carbon sequestration. The mangrove ecosystem has ecological function as reducing carbon through sequestration process (C-sequestration). Aimed of this research to calculate the density, carbon content and absorption ability CO2 as well as knowing the correlation of mangrove density with carbon sequestration in mangrove. The method used in this research is use non destructive sampling method with allometric equation. The approach allometric equations were used that tree biomass allometric models for the type or types of mangrove ecosystems that are already available or developed in other locations. The measurement results of mangrove density in planting area 2004, 2007 and 2010 were 1,460 individuals/ha, 1868 individuals/ha, and 2128 individuals/ha. Biomass at the planting area in 2004 amounted to 206.77 ton/ha (103.39 ton C/ha, and absorbs 379.09 ton CO2/ha). Planting area in 2007 have biomass 293.73 ton / ha (146.86 ton C/ha, and absorbs 538.50 ton CO2/ha), and the planting area in 2010 have biomass 260.02 ton/ha (130.01 ton C/ha, and absorbs 476.67 ton CO2/ha). Based on the research results, the density of mangrove species and age are factors that influence the amount of tree biomass. The results of regression-correlation analysis showed, if mangrove density change significantly, it can influence the mangrove ecosystem in carbon sequestration and absorb CO2 from the atmosphere. Keywords: Mangrove, biomass, carbon, mangrove density
KELIMPAHAN LARVA IKAN SAAT PASANG DAN SURUT DI PERAIRAN SEKTAR LOKASI WISATA BAHARI DUKUH MOROSARI DESA BEDONO, KABUPATEN DEMAK Rachmawan, Dicky Setya; Afiati, Norma; Widyorini, Niniek
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Morosari merupakan kawasan pesisir yang memiliki dinamika tinggi akibat dari adanya objek wisata bahari, dimana akan  berpengaruh  pada struktur komunitas sumberdaya perikanan, salah satu diantaranya adalah larva ikan yang ada diperairan tersebut. Larva ikan merupakan fase massa kritis dimulai bagi ikan, dimana pembentukan organ tubuh belum terbentuk secara sempurna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan larva ikan berdasarkan pasang surut yang terdapat di perairan sekitar lokasi wisata bahari Dukuh Morosari Desa Bedono, Kabupaten Demak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan penentuan titik sampling secara purposive yang dilakukan di 6 stasiun baik pada saat pasang dan surut. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah larva ikan yang tertangkap sebanyak 1156 ind/600m3 terdiri dari 8 famili yakni: Ambassidae (551 ind/600m3), Belonidae (33 ind/600m3), Engraulidae (118 ind/600m3), Gobiidae (8 ind/600m3), Lutjanidae (7 ind/600m3), Mugilidae (130 ind/600m3), Nemipteridae (206 ind/600m3), Oryziatidae (103 ind/600m3). Larva famili Ambassidae merupakan larva yang paling banyak tertangkap, sedangkan larva yang tertangkap dengan jumlah paling sedikit ialah famili Lutjanidae. Hasil uji Independent-Sample T test ialah tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelimpahan larva ikan saat pasang dan surut pada setiap stasiun maupun setiap pengulangan. Jumlah larva ikan pada saat pasang 613 ind/600m3 dan pada saat surut 543 ind/600m3.  Morosari waters are coastal areas that have high dynamics due to the existence of marine tourism object, which will affect the structure of the fishery resources community, one of which is the fish larvae that existed in these waters. Fish larvae is a critical mass phase begun for fish, where the formation of organs has not been fully formed. This study aims to determine the type and fish larvae abundance based on High Tide and Low Tide at Around Waters Marine Tourism Morosari of Bedono Village, Demak. The research was conducted in July 2017. The research method used a survey with purposive sampling conducted at 6 stations both at High Tide and Low Tide. The results showed that the number of fish larvae caught were 1156 ind/600m3 consisting of 8 families: Ambassidae (551 ind/600m3), Belonidae (33 ind/600m3), Engraulidae (118 ind/600m3), Gobiidae (8 ind/600m3), Lutjanidae (7 ind/600m3), Mugilidae (130 ind/600m3), Nemipteridae (206 ind/600m3), Oryziatidae (103 ind/600m3). The family larvae of Ambassidae are most caught larvae, while the larvae caught with the least amount are the Lutjanidae family. The result of the Independent-Sample T test is no significant different between the abundance of fish larvae during tidal and low tide at each station and every repetition. Number of fish larvae at high tide 613 ind / 600m3 and at low tide 543 ind / 600m3.
KONDISI KUALITAS AIR KOLAM BUDIDAYA DENGAN PENGGUNAAN PROBIOTIK DAN TANPA PROBIOTIK TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE SANGKURIANG (CLARIAS SP) DI CIREBON, JAWA BARAT Pratama, Farizan Adiya; Afiati, Norma; Djunaedi, Ali
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan lele sangkuriang termasuk dalam kelas Pisces dari filum Chordata yang tidak mempunyai sisik, berbentuk memanjang serta licin. Probiotik berasal dari bahasa Yunani pro dan bios yang berarti ?untuk kehidupan?. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kualitas air dan pengaruh penggunaan probiotik terhadap ikan lele sangkuriang antara kolam yang menggunakan probiotik dan tanpa probiotik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2015 di Desa Kertasura dengan Kelompok Tani Kersa Mulya Bakti dan Desa Dukuh dengan Kelompok Tani Mina Mulya Kecamatan Kapetakan Cirebon, Jawa Barat. Metode pengambilan sampel air pada setiap kolam penelitian bersifat metode stratifikasi, yaitu dengan menganggap bahwa perairan memiliki beberapa lapisan atau karakteristik berbeda yang terdiri dari 3 stasiun dengan 2 pengulangan untuk setiap stasiun. Selanjutnya dilakukan pengujian kualitas air meliputi uji oksigen terlarut, amoniak dan asam sulfida. Kemudian pengukuran pertumbuhan ikan lele dengan mengukur panjang dan berat ikan lele. Kolam probiotik memiliki kualitas air yang lebih baik yaitu konsentrasi awal amoniak 0,07 ppm, dengan konsentrasi akhir 0,04 ppm dan konsentrasi H2S awal 0,003 ppm, dengan konsentrasi akhir 0,002 ppm. Pada kolam tanpa probiotik memiliki konsentrasi awal amoniak 0,11 ppm, dengan konsentrasi akhir 0,08 ppm dan konsentrasi awal H2S 0,004 ppm, konsentrasi akhir 0,004 ppm. Pada kolam probiotik pertambahan panjang total ikan (L) 3,2 cm/2 minggu dan pertambahan berat total ikan (W) 16,3/2 minggu gr sedangkan pada kolam tanpa probiotik pertambahan panjang total ikan (L) 1,4 cm/2 minggu dan pertambahan berat total ikan (W) 11,6 gr/2 minggu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kualitas air kolam probiotik lebih baik dari kolam tanpa probiotik. Pengaruh penggunaan probiotik berdampak positif pada ikan lele ditinjau dari pertambahan panjang dan berat.The sangkuriang catfish belongs to class Pisces of the Chordata phylum. The fish has an elongated body without scales. The word probiotic comes from Greek words pro and bios, meaning ?for life?. The objective of this study is to investigate the difference of water quality between probiotic pond and non-probiotic pond, and their effect on sangkuriang catfish. The research was conducted on July, 2015 at Kertasura Village with Tani Kersa Mulya Bakti Group and at Dukuh Village with Tani Mina Mulya Grup, Kapetakan District, Cirebon-West Java. The sampling method is the stratification method, which assumes that the waters have multiple layers or different characteristics. The samples were taken on 3 stations with 2 repetition for each station. Hereafter, the water quality analysis includes testing dissolved oxygen, ammonia and hydrogen sulfide, by catfish growth measured from it?s legth and weight. Probiotic pond has a better water quality with the initial ammonia concentration of 0.07 ppm and final ammonia concentration of 0.04 ppm. This pond also has an initial H2S concentration of 0.003 ppm and final H2S concentration of 0.002 ppm. In the non-probiotic pond, the initial ammonia concentration was 0.11 ppm, with final ammonia concentration of 0.08 ppm, and the initial H2S concentration of 0.004 ppm, with final H2S concentration of 0.004 ppm. Growth measured as the total length of fish in probiotic pond (L) was 3.2 cm/2 week and the total weight of fish (W) was 16.3 gr/2 week while on the non-probiotic pond, the total length of fish (L) was 1.4 cm/2 week and the total weight of fish (W) was 11.6 gr/2 week. Thus, the implementation of probiotic has a positive effect to the growth of catfish, as can be seen from the length and weight of the catfish during this study.