Articles

Found 31 Documents
Search

Perbedaan Jumlah Perdarahan Saat Persalinan Pada Ibu Primigravida Yang Melakukan Dan Tidak Melakukan Senam Hamil Selama Kehamilan Trimester III Herayono, Febby; Basyir, Vaulinne; Afriwardi, Afriwardi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) masih cukup tinggi di Indonesia, karena disebabkan oleh perdarahan, eklamsi dan infeksi. American College of Obstetricans and Gynecologist merekomendasikan senam selama kehamilan agar persalinan lancar dan mengurangi komplikasi saat persalinan. Tujuan penelitian adalah menentukan perbedaan antara jumlah perdarahan saat persalinan pada Ibu primigravida yang melakukan dan tidak melakukan senam hamil selama kehamilan trimester III. Jenis penelitian adalah rancangan comparative study. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Andalas dan Lubuk Buaya dari Oktober 2018 sampai Januari 2019. Jumlah sampel adalah 44 orang di bagi menjadi 2 kelompok, yaitu pertama 22 orang ibu yang melakukan senam hamil dan 22 orang ibu yang tidak melakukan senam hamil. Pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Analisis data menggunakan system komputerisasi dengan uji independent t-test. Hasil penelitian didapatkan rerata jumlah perdarahan pada ibu yang senam hamil 489,18 cc dan pada ibu yang tidak senam hamil 501,86 cc. Tidak terdapat perbedaan jumlah perdarahan pada ibu yang melakukan dan tidak melakukan senam hamil dengan nilai (p=0,786).
Analisis Upaya Pelayanan Kesehatan di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Propinsi Sumatera Barat Indika, Pudia M.; Afriwardi, Afriwardi; Sulastri, Delmi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPrestasi Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Sumatera Barat menunjukan ketidakstabilan di tingkat nasional. Siswa yang berobat ke fasilitas kesehatan rata – rata perbulan 50 orang dari 137 orang (36,5%). Tujuan penelitian adalah menganalisis upaya pelayanan kesehatan olahraga di PPLP Sumatera Barat. Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian didapatkan bahwa upaya pelayanan kesehatan di PPLP Sumatera Barat telah memiliki kebijakan untuk pemeriksaan kesehatan awal calon siswa dan belum terlaksana secara terpusat. Pemantauan kesehatan hanya dilakukan bagi siswa yang mengalami keluhan. Pengobatan dilakukan oleh tenaga tenaga paramedis yang telah ditunjuk. Evaluasi dilakukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dan hasil evaluasi kesehatan dapat dilihat website sentra keolahragaan.Kata kunci: pelayanan kesehatan olahraga, PPLPAbstractEducation and Sport Training Student Centre (ETSC) of West Sumatra performance show instability at the national level. Students of ETSC visited health facility average of 50 of 137 people (36,5%) monthly. The objective of this study was to analyze the health care effort ETSC sport in West Sumatra. The study design used a qualititave approach with in-depth interviews and a Focus Group Discussion (FGD). The results showed that the health care efforts in ETSC of West Sumatra has had a policy for initial medical examinations of prospective students and have not done centrally. Health monitoring is done only for students who have complaints. Treatment is done by skilled paramedics who have been appointed. Evaluation conducted by the Ministry of Youth and Sports of the Republic of Indonesia and the health evaluation results can be seen websites sports centres.Keywords: health services sports, education and sport training student centre
Gambaran Tekanan Darah pada Pasien Sindrom Koroner Akut di RS Khusus Jantung Sumatera Barat Tahun 2011-2012 Ariandiny, Meidiza; Afriwardi, Afriwardi; Syafri, Masrul
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenyakit jantung koroner merupakan penyakit degeneratif dengan permasalahan yang serius karena prevalensinya yang terus meningkat. Keadaan yang mengkhawatirkan dari penyakit jantung koroner adalah pada fase akut atau disebut dengan sindrom koroner akut. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya sindrom koroner akut adalah tekanan darah yang tinggi yang mengakibatkan pecahnya plak aterosklerotik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran tekanan darah pada pasien sindrom koroner akut di RS Khusus Jantung, Sumatera Barat dan mengetahui jenis hipertensi yang terjadi. Penelitian dilakukan dengan mengambil data sekunder yaitu data tekanan darah awal masuk rumah sakit pada pasien sindrom koroner akut di RS Khusus Jantung, Sumatera Barat pada bulan Maret-April 2013. Penelitian ini merupakan studi deskriptif observasional dengan total sampling. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat. Hasil penelitian dari 145 data ditemukan bahwa hipertensi (tekanan darah tinggi) sebanyak 88 pasien (61%), prehipertensi sebanyak 33 pasien (23%), dan normotensi sebanyak 24 pasien (16%), dengan jenis hipertensi yaitu hipertensi kombinasi sebanyak 53 pasien (60%), hipertensi sistolik sebanyak 20 pasien (23%) dan hipertensi diastolik sebanyak 15 pasien (17%). Kelompok usia yang terbanyak yaitu usia 46-55 tahun (30%) diikuti kelompok usia 66-75 tahun (25%), 56-65 tahun (24%), >76 tahun (10%), 36-45 tahun (0,8%), dan < 35 tahun (0,2%) dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 74% dan perempuan sebesar 26%. Kesimpulan dari hasil penelitian adalah gambaran tekanan darah pada pasien sindrom koroner akut yang terbanyak yaitu hipertensi dengan jenis hipertensi kombinasi. Kelompok usia terbanyak yaitu usia 46-55 tahun dengan jenis kelamin laki-laki.Kata kunci: tekanan darah, hipertensi, sindrom koroner akutAbstractCoronary heart disease is a degenerative disease. It becomes serious because the prevalence continues increase. The worst condition is the acute phase which is called acute coronary syndrome. The high blood pressure is one of the risk factors of acute coronary syndrome because it lead atherosclerotic plaques ruptured. This research aims is to describe the blood pressure and the type of hypertension in patients with acute coronary syndromes in The Heart Hospital, West Sumatera. This research took the secondary data of admission blood pressure in patients hospitalized with acute coronary syndrome in The Heart Hospital, West Sumatera, March - April 2013. This research is an observational descriptive study with a total sampling. Data analysis was performed univariate analysis. The results of 145 data were 88 patients (61%) had hypertension (high blood pressure), 33 patients (23%) were prehypertension, and 24 were normotensive (16%). The type of hypertension were 53 patients with combination hypertension (60%), 20 patients with systolic hypertension (23%) and 15 patients with diastolic hypertension (17%). Based on the age classification of hypertension, found that 46-55 years were 30%, 66-75 years were 25%, 56-65 years were 24%, > 76 years were 10%, 36-45 years were 0.8%, and < 35 years were 0.2%. based on gender classification of hypertension found that male gender were 74% and women were 26%. The conclusion of this research find that the largest blood pressure in patients with acute coronary syndromes is hypertension, the largest type of hypertension is combination hypertension, the largest age classification is 46-55 years, and the largest gender classification is male.Keywords:blood pressure, hypertension, acute coronary syndrome
Hubungan Antara Tingkat Aktivitas Fisik dengan Fungsi Kognitif pada Usila di Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur Muzamil, Milfa Sari; Afriwardi, Afriwardi; Martini, Rose Dinda
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakGangguan kognitif merupakan masalah yang sering terjadi pada golongan usia lanjut. Prevalensi gangguan kognitif tinggi pada negara yang memiliki populasi usila yang tinggi. Indonesia merupakan negara keempat dunia yang memiliki populasi usila tertinggi dan diperkirakan akan menjadi ketiga tertinggi pada 2020. Antara usaha preventif yang dilakukan adalah dengan beraktivitas fisik. Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah ada hubungan antara tingkat aktivitas fisik terhadap fungsi kognitif pada usila. Jenis penelitian ini adalah studi cross sectional dengan metode non probability sampling. Populasi penelitian adalah usila ≥60 tahun yang berada di Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Total sampel seramai 51 orang dengan 13 laki-laki dan 38 perempuan. Tingkat aktivitas fisik dinilai menggunakan General Practice Physical Activity Questionnaire (GPPAQ) dan fungsi kognitif dinilai menggunaan Mini Mental State Examination (MMSE). Data diolah dengan uji statistik chi square menggunakan program SPSS. Hasil univariat didapatkan persentase usila yang aktif sebanyak 29.4% dan yang kurang aktif 70.6%. Persentase usila dengan fungsi kognitif yang normal sebanyak 82.4% dan yang mengalami penurunan 17.6%. Hasil bivariat didapatkan ada hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kognitif dimana nilai p = 0.044 (p < 0.05). Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kognitif usila di Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur.Kata kunci: fungsi kognitif, aktivitas fisik, usia lanjutAbstractCognitive impairment is common and highly age-related in the world. The prevalence of cognitive impairment is high in the country with high proportion of elderly. Indonesia is the fourth country with the highest population of elderly and estimated to be the third highest in 2020. Little attention has been paid to the identification of modifiable lifestyle habits for its prevention. This study aimed to determine whether there is a relationship between the level of physical activity and cognitive function in the elderly. This study was a cross sectional study with non probability sampling method. The study population was elderly ≥ 60 years who reside in the Village of Jati, East Padang district and fit the inclusion and exclusion criteria. There were 51 samples with 13 males and 38 females. The level of physical activity was measured by using General Practice Physical Activity Questionnaire (GPPAQ) and the cognitive function was assessed by using Mini Mental State Examination (MMSE). Data processed by the chi-square statistical tests using SPSS. Results of univariate analysis level of physical activity showed the percentage of active elderly is 29.4% and less active is 70.6%. Elderly with normal cognition is 82.4% and with impaired cognition is 17.6%. Results of bivariate analysis showed a significant relationship exists between the level of physical activity and cognitive function in the elderly p = 0.044 (p < 0.05). This study showed that there is a relationship between the level of physical activity and cognitive function in the elderly.Keywords: cognitive function, physical activity, elderly
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Penjual Es Campur Tentang Zat Pewarna Berbahaya dengan Kandungan Rhodamin B dalam Buah Kolang Kaling di Kota Padang Hidayah, Rizki; Asterina, Asterina; Afriwardi, Afriwardi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) dewasa ini sangat beragam dan sering berakibat buruk terhadap kesehatan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Padang pada Juni 2016 di empat kecamatan di Kota Padang mendapatkan lima dari 75 sampel makanan yang diperiksa mengandung rhodamin B. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan penjual es campur tentang zat pewarna berbahaya terhadap kandungan rhodamin B dalam buah kolang kaling di Kota Padang. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah cluster random sampling dan sampel penelitian adalah 11 pasar tradisional yang ada di Kota Padang dengan jumlah sampel yang didapatkan sebanyak 31 sampel. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2016 sampai April 2017. Analisis data menggunakan uji Fisher. Hasil penelitian menunjukan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan (p = 0,935) dan pengetahuan tentang zat pewarna berbahaya (p = 0,283) dengan kandungan rhodamin B pada buah kolang kaling. Simpulan dari penelitian ini, baik tingkat pendidikan maupun pengetahuan penjual tentang zat pewarna berbahaya tidak terdapat hubungan yang bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan penjual yang relatif rendah dan pengetahuan yang cukup tidak menjadi faktor yang menentukan makanan yang dijual tidak sehat dan tidak layak konsumsi.
Hubungan Perilaku Merokok dengan Ketahanan Kardiorespirasi (Ketahanan Jantung-Paru) Siswa SMKN I Padang Besta Rizaldy, Amanda; Afriwardi, Afriwardi; Susanty Sabri, Yessy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAda banyak faktor yang dapat mempengaruhi ketahanan kardiorespirasi pada remaja, salah satunya adalah perilaku merokok. Merokok pada masa remaja akan mengganggu kebugaran, khususnya ketahanan kardiorespirasi karena efek dari zat yang terkandung didalamnya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan perilaku merokok dengan ketahanan kardiorespirasi pada remaja. Ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross-sectional study yang dilakukan pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Padang (SMK N 1 Padang) dengan jumlah subjek sebanyak 111 orang. Pengumpulan data melalui kuesioner dan tes ketahanan kardiorespirasi. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMK N 1 Padang yang merokok memiliki ketahanan kardiorespirasi yang kurang baik yaitu sebanyak 55,1% siswa, sedangkan sebanyak 40,5% pada siswa yang tidak merokok memiliki ketahanan kardiorespirasi yang cukup baik. Setelah dilakukan analisis melalui uji chi-square, disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan ketahanan kardiorespirasi (p<0,05).Kata kunci: perilaku merokok, ketahanan kardiorespirasi, remaja AbstractThere are many factors correlate to cardiorespiratory endurance of the teenagers, one of them is smoking behavior. Smoking behavior in teenagers will affect the physical fitness, especially for the cardiorespiratory endurance because of the effect from the substances in cigarette. The objective of this study was to determine the correlation between smoking behavior and the cardiorespiratory endurance of the teenagers. This was an analytical research with cross-sectional study design. This study was done for the students of Vocational Senior High School 1 Padang with the total subjects were 111 peoples. The data was collected by questionnaire and cardiorespiratory endurance’s test. This study used chi-square test for the statistical analyze. The result of this research found that most of the smoker students of SMK N 1 Padang have a low cardiorespiratory endurance, the percentage was 55,1% and 40,5% of the non-smoker students had a good enough cardiorespiratory endurance. The chi-square test result conclude that there is a significant relation between smoking behavior and the cardiorespiratory endurance (p<0,05).Keywords: smoking behavior, cardiorespiratory endurance, teenagers
Pengaruh Pemberian Susu Coklat Terhadap Kadar F2Isoprostan pada Siswa di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Sumatera Barat Ilham, Dezi; Afriwardi, Afriwardi; Yerizel, Eti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latihan fisik yang berlebihan dapat meningkatkan produksi radikal bebas di dalam tubuh. Peningkatan radikalbebas ini kalau tidak dinetralisasi oleh antioksidan di dalam tubuh, maka terjadilah stres oksidatif yang dapatmenyebabkan terjadinya peroksidasi lipid, sehingga menghasilkan produk senyawa F2-isoprostan yang dapatberdampak terhadap berbagai masalah kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruhpemberian susu coklat terhadap kadar F2-isoprostan. Penelitian ini merupakan eksperimental pre and post test controlgrup design terhadap 36 siswa atlet, yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Subjek dibagi dua kelompok yaituyang diberikan perlakuan susu coklat dan kontrol susu putih. Susu diminum setelah latihan fisik rutin atlet sebanyaksatu kali sehari selama 15 hari. Kadar F2-isoprostan dinilai sebelum dan sesudah secara ELISA. Data dianalisisdengan paired sample t-Test, bermakna bila p<0,05. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar F2-isoprostan sebelumperlakuan pada kelompok susu coklat adalah 65,98±14,61 pg/ml dan sesudah perlakuan adalah 45,55±13,74 pg/ml.Rerata kadar F2-isoprostan sebelum perlakuan pada kelompok kontrol susu putih adalah 54,24±20,44 pg/ml dansesudah perlakuan adalah 48,80±20,23 pg/ml. Kesimpulan yang diperoleh ada pengaruh yang bermakna dari reratakadar F2-isoprostan sebelum dan sesudah perlakuan baik pada kelompok perlakuan susu coklat dan kelompok kontrolsusu putih.Kata kunci: latihan fisik, radikal bebas, F2-isoprostan, susu coklatAbstract Excessive physical exercise can increase the production of free radicals in the body. The increase in freeradicals if not neutralized by antioxidants in the body and it caused oxidative stress which can cause lipid peroxidation,resulting in F2-isoprostane product compounds that can affect a variety of health problems. The objective of this studywas to determine the influence of milk chocolate on F2-isoprostane levels. This study was an experimental pre andpost test control group design to the 36 student athletes, who meet the inclusion and exclusion criteria. The subjectswere divided in two groups: the treatment given milk chocolate and white milk is given control, drunk after a routinephysical exercise athlete, once a day for 15 days. F2-isoprostane levels were assessed before (pre) and after (post) byELISA, the data were analyzed by Paired Sample t-Test, significant if p <0.05. The results showed average levels ofF2-isoprostane before treatment group was 65.98 ± chocolate milk 14.61 pg / ml and after treatment was 45.55 ±13.74 pg / ml. Average F2-isoprostane levels before treatment in the control group was 54.24 ± white milk 20.44 pg /ml and after treatment was 48.80 ± 20.23 pg / ml. There is a significant influence on the mean levels of F2-isoprostaneboth before and after treatment in the treatment group and the control group of milk chocolate and white milkKeywords: physical exercise, free radicals, f2-isoprostane, milk chocolate
Hubungan Mobilisasi Dini dengan Proses Penyembuhan Luka pada Pasien Pasca Laparatomi di Bangsal Bedah Pria dan Wanita RSUP Dr. M. Djamil Padang Ditya, Wira; Zahari, Asril; Afriwardi, Afriwardi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Mobilisasi dini merupakan kebijakan untuk secepat mungkin membimbing penderita turun dari tempat tidur dan berjalan. Tatalaksana ini adalah salah satu faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka pasca pembedahan serta dapat mengurangi risiko komplikasi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara mobilisasi dini dengan proses penyembuhan luka pada pasien pasca laparatomi di bangsal bedah pria dan wanita RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional study dengan jumlah sampel 31 responden yang diambil secara consecutive sampling technique. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis dengan uji chi-square dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara mobilisasi dini dan proses penyembuhan luka pasca laparatomi (p = 0,003). Pasien mobilisasi dini dengan penyembuhan luka yang baik sebanyak 14 responden (77,8%) dan buruk 4 responden (22,2%). Responden tanpa mobilisasi dini dengan penyembuhan luka yang baik berjumlah 3 responden (23,1%), sedangkan yang buruk 10 responden (76,9%). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara mobilisasi dini dengan proses penyembuhan luka pasien pasca laparatomi di bangsal bedah pria dan wanita RSUP Dr M. Djamil Padang.Kata kunci: laparatomi, mobilisasi dini, proses penyembuhan luka AbstractEarly mobilization is policy to guide the patients out of their bed to walk as soon as possible. Early mobilization is one of the factors that affect post surgical wound healing and may reduce the risk of complications. The objective of this study was to determine the relationship between early mobilization and wound healing process for post laparatomy patients in men and women surgical ward of Dr. M. Djamil General Hospital Padang. The design of this study was a cross sectional to 31 respondents by consecutive sampling technique. Data were collected through questionnaire and observation, then analyzed by chi-square test with 95% confidence interval.The results show there was a significant relationship between early mobilization and wound healing process (p = 0.003). Patients of early mobilization with good wound healing were as many as 14 respondents (77,8%) and bad as many as 4 respondents (22,2%). Respondents without early mobilization who are in good wound healing were 3 respondents (23,1%) while bad ones are 10 respondents (76,9%). Based on the results of the study, it can be concluded that there is a relationship between early mobilization and wound healing process for post laparatomy patients in men and women surgical ward of Dr. M. Djamil General Hospital Padang.Keywords: laparatomy, early mobilization, wound healing process
Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Tekanan Darah pada Siswa SMK N 1 Padang Farabi, Aulia Fash; Afriwardi, Afriwardi; Revilla, Gusti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi dapat mengganggu fungsi organ lain terutama organ vital seperti jantung dan ginjal. Hipertensi tidak hanya menyerang di usia tua saja, tetapi juga remaja. Merokok merupakan salah satu faktor pencetus hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dan tekanan darah pada siswa SMK N 1 Padang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah 111 orang siswa kelas XI SMK N 1 Padang. Penilaian status merokok dengan menggunakan kuesioner Global Youth Tobacco Survey (GYTS) yang telah disadur dan digabungkan dengan indeks Brinkman dan penilaian tekanan darah dengan sphygmomanometer air raksa serta stetoskop. Hasil penelitian didapatkan siswa bukan perokok sebanyak 68 orang (61,3%) dan perokok ringan sebanyak 43 orang (38,7%). Rata- rata tekanan darah sistolik siswa sebesar 112,57 mmHg dan tekanan darah diastolik siswa sebesar 70,05 mmHg. Didapatkan tekanan darah sistolik perokok ringan lebih rendah 2,1 mmHg dibandingkan bukan perokok dan tekanan diastolik perokok ringan lebih rendah 2,92 mmHg dibandingkan bukan perokok. Hasil analisis data statistik kebiasaan merokok dengan tekanan darah sistolik didapatkan p = 0,15. Hasil analisis data statistik kebiasaan merokok dengan tekanan darah disatolik didapatkan p = 0,078. Sedangkan hasil analisis data statistik kebiasaan merokok dengan mean arterial pressure (MAP) didapatkan p = 0,094, Simpulan penelitian ini menunjukan tidak terdapat hubungan kebiasaan merokok dengan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan MAP.
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Derajat Kerusakan Sendi pada Pasien Osteoartritis Lutut di RSUP Dr. M. Djamil Padang Mutiwara, Endang; Najirman, Najirman; Afriwardi, Afriwardi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakOsteoartritis lutut adalah salah satu penyakit sendi degeneratif  yang sering ditemukan di Indonesia. Pada pemeriksaan radiologi sendi lutut penderita osteoartritis terdapat kelainan yang dapat dinilai berdasarkan kriteria Kellgren dan Lawrence. Salah satu faktor resiko utama yang mengakibatkan kerusakan sendi pada penderita osteoartritis lutut adalah kegemukan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan derajat kerusakan sendi pada penderita osteoatritis lutut di RSUP Dr M Djamil. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan jumlah sampel 24 pasien. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi  menurut American College of Rheumatology 1997 di Poli Rematik RSUP Dr M Djamil, dilakukan penghitungan IMT dan penilaian derajat kerusakan sendi berdasarkan pemeriksaan Rontgen dengan menggunakan kriteria Kellgren dan Lawrence. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji chi-square. Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 88,9% pasien yang bertubuh gemuk memiliki derajat osteoartritis yang lebih berat. Analisis uji chi-square terhadap  IMT dengan derajat kerusakan sendi pada pasien osteoartritis lutut memperlihatkan hubungan yang bermakna dengan nilai p = 0,003 (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh dan derajat kerusakan sendi pada pasien osteoartritis lutut.Kata kunci: osteoartritis lutut, IMT, derajat kerusakan sendi AbstractKnee osteoarthritis is a common degenerative joint disease in Indonesia. The radiograph of knee osteoarthritis shows changes of knee joint which assessed based on Kellgren and Lawrence criteria. One of the major risk factor that lead joint damage in patient with knee osteoarthritis is obesity. The objective of this study was to determine association between Body Mass Index (BMI) and degree of joint damage in knee osteoarthritis patient at DR. M. Djamil hospital. This was a cross sectional study on 24 knee osteoarthritis patients that fulfilled American College of Rheumatology 1997 criteria. These patients  came to Rheumatic Poly in DR. M. Djamil hospital, then were measured the BMI and described the degree of joint demage based of Kellgren and Lawrence criteria. Statistical analysis was performed using chi-square test. The result showed 88.9% patients who were obese have a higher degree of joint damage. Chi-square test for BMI and degree of knee osteoarthritis showed significant association with p value 0.003 (p<0.05). The conclusion in this study, there is a significant association between BMI and degree of joint damage in knee osteoarthritis patients. Keywords:  knee osteoarthritis, BMI, degree of joint damage