Articles

Found 8 Documents
Search

Hubungan Fungsi Keluarga dengan Status Gizi Anak di Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung pada Tahun 2016 Hanifah, Ulfi Ainun; Arisanti, Nita; Agustian, Dwi; Hilmanto, Dany
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.557 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i4.12498

Abstract

Malnutrisi merupakan salah satu masalah kesehatan yang dialami oleh kebanyakan negara berkembang yang dapat disebabkan oleh faktor langsung maupun tidak langsung salah satunya faktor keluarga. Setiap keluarga memiliki fungsi keluarga yang dapat memberi pengaruh terhadap aspek kehidupan setiap anggotanya. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara fungsi internal dan eksternal keluarga terhadap status gizi anak di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung Tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode potong lintang yang melibatkan 251 pasangan ibu dan anak balita di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung Tahun 2016. Data penelitian diambil pada bulan September- November 2016 dengan pengisian kuesioner APGAR serta SCREEM oleh responden untuk menilai fungsi keluarga dan melakukan pengukuran berat serta tinggi badan balita untuk menentukan nilai Z score (berat terhadap tinggi) sebagai status gizi balita. Selanjutnya hubungan keduanya dianalisis menggunakan perhitungan koefisien korelasi spearman. Tidak terdapat hubungan yang signifikan pada fungsi internal keluarga (p = 0,304; r = -0,065) dan fungsi ekternal keluarga (p = 0,116; r = -0,100) terhadap status gizi anak. Dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini, fungsi keluarga tidak memberikan pengaruh pada status gizi anak di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Penelitian mengenai fungsi keluarga dengan menggunakan instrumen kuesioner APGAR Keluarga dan SCREEM dibutuhkan proses analisis yang lebih lanjut.Kata kunci: APGAR keluarga, Fungsi Keluarga, SCREEM, Status Gizi Anak
Nasopharyngeal bacterial carriage and antimicrobial resistance in underfive children with community acquired pneumonia Kartasasmita, Cissy B.; Duddy, Heda M.; Sudigdoadi, Sunaryati; Agustian, Dwi; Setiowati, Ina; Ahmad, Tri H.; Panigoro, Ramdan
Medical Journal of Indonesia Vol 11, No 3 (2002): July-September
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.086 KB) | DOI: 10.13181/mji.v11i3.70

Abstract

Pathogens in nasopharynx is a significant risk factor of pneumonia. According to WHO, isolates to be tested for antimicrobial resistance in the community should be obtained from nasopharyngeal (NP) swabs. The aim of this study is to know the bacterial patterns of the nasopharynx and cotrimoxazole resistance in under five-year old children with community acquired pneumonia. The study was carried out in 4 primary health clinic (Puskesmas) in Majalaya sub-district, Bandung, West Java, Indonesia. All underfive children with cough and/or difficult breathing and classified as having non-severe pneumonia (WHO guidelines) were placed in Amies transport medium and stored in a sterile jar, before taken to the laboratory for further examination, in the same day. During this nine month study, 698 children with clinical signs of non-severe pneumonia were enrolled. About 25.4% (177/698) of the nasopharyngeal specimens yielded bacterial isolates; i.e. 120 (67.8%) were positive for S pneumoniae, 21 for S epidermidis and alpha streptococcus, 6 for Hafnia alvei, 5 for S aureus, 2 for B catarrhalis, and 1(0.6%) for H influenza and Klebsiella, respectively. The antimicrobial resistance test to cotrimoxazole showed that 48.2% of S pneumoniae strain had full resistance and 32.7% showed intermediate resistance to cotrimoxazole. This result is almost similar to the other studies from Asian countries. It seems that H influenza is not a problem in the study area, however, a further study is needed. (Med J Indones 2002; 11: 164-8) Keywords: nasopharyngeal swab, S pneumoniae, cotrimoxazole
Nasopharyngeal bacterial carriage and antimicrobial resistance in underfive children with community acquired pneumonia Kartasasmita, Cissy B.; Duddy, Heda Melinda; Sudigdoadi, Sunaryati; Agustian, Dwi; Setiowati, Ina; Ahmad, Tri Hanggono; Panigoro, Ramdan
Paediatrica Indonesiana Vol 41, No 6 (2001): November 2001
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi41.6.2001.292-5

Abstract

Lung puncture is the best way to determine the etiology of pneumonia since it yields the highest rate of positive cultures. However, this procedure is difficult, especially for a study in the community. According to WHO, isolates to be tested for antimicrobial resistance in the community should be obtained from nasopharyngeal (NP) swabs. Previous studies support the use of NP isolates to determine antimicrobial resistance patterns of isolates from children with pneumonia. The aim of our study was to know the bacterial patterns of the nasopharynx in underfive children with community acquired pneumonia and their antimicrobial resistance. The study was carried out in 4 Primary Health Clinics in Majalaya sub-district, Bandung, Indonesia. All underfives with cough or difficult breathing and classified as having non-severe pneumonia (WHO guidelines), were included in the study. Nasopharyngeal swabs (CDC/WHO Manual) were obtained by the doctor, the swabs were placed in Amies transport medium and stored in a sterile jar before taken to the laboratory in the same day. All children were treated with co-trimoxazole. During the nine month study, 698 children with clinical signs of non-severe pneumonia were enrolled. About 25% of the nasopharyngeal specimens yielded bacterial isolates; the two most frequently found were S. pneumoniae and S. epidermidis. The antimicrobial resistance test to co-trimoxazole showed 48.2% S. pneumoniae strain had full resistance and 32.7% showed intermediate resistance to co-trimoxazole. This result is almost similar to other studies from Asian countries. It seems that H. influenzae is not a problem in the study area; however, further studies are needed.
FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU PENGGUNAAN AIR BERSIH PADA MASYARAKAT KUMUH PERKOTAAN BERDASAR ATAS INTEGRATED BEHAVIOR MODEL Raksanagara, Ardini S.; Santanu, Ayu Mutiara; Sari, Sri Yusnita Irda; Sunjaya, Deni K.; Arya, Insi Farisya Deasy; Agustian, Dwi
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v49n2.1059

Abstract

Kebutuhan air bersih semakin meningkat terutama di wilayah perkotaan. Kelurahan Tamansari merupakan wilayah kumuh yang berlokasi di tengah Kota Bandung, 60% penduduk menggunakan air bersih perpipaan sisanya menggunakan sumber air tanah, namun tidak semua sumber air dilindungi secara benar sehingga berpotensi terkontaminasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang memengaruhi perilaku penggunaan air bersih pada masyarakat kumuh perkotaan dengan mengaplikasikan teori Integrated Behavior Model. Penelitian potong lintang dilakukan pada 188 rumah tangga di 10 RW pada bantaran sungai Cikapundung di Kelurahan Tamansari. Survei dilakukan menggunakan kuesioner dan ceklist observasi pada sumber air perpipaan (PDAM), sumur terlindungi (ST), dan sumur tidak terlindungi (STT). Hasil penelitian menunjukkan sikap, norma yang dipersepsikan dan faktor personal memengaruhi niat untuk menggunakan air bersih pada ketiga jenis sumber air yang digunakan. Pada pengguna PDAM tidak ada faktor yang signifikan memengaruhi perilaku. Pada pengguna ST perilaku dipengaruhi oleh faktor kepentingan menggunakan air bersih. Pada pengguna STT faktor niat, hambatan lingkungan dan kebiasaan memengaruhi perilaku menggunakan air bersih. Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku khususnya di wilayah kumuh perkotaan berbeda-beda berdasar atas sumber air bersih yang digunakan sehingga upaya promosi kesehatan untuk melakukan perubahan perilaku harus dikembangkan sesuai dengan jenis sumber air yang digunakan. [MKB. 2017;49(2):122?31]Kata kunci: Air bersih, integrated behavior model , kumuh perkotaan, perilaku  Integrated Behavior Model: Factors Influencing Clean Water Use among  Urban Slum DwellersThe increasing need for clean water, especially in urban area, is becoming more prominent. Tamansari Urban Village is a slum area located in the center of Bandung City. Sixty percents of its dwellers use pipe water as the clean water source while the rest uses ground water. However, not all water sources are protected correctly that there is a potential for contamination. This study aimed to analyze factors influencing clean water use behavior among urban slum dwellers by applying the Integrated Behavior Model. A cross-sectional study was performed on 188 households in 10 RW (neighborhood unit) on Cikapundung River Bank in Taman Sari Urban Village. Questionnaires and observation checklists were used for piping water source (Local Water Company, PDAM), protected wells, and unprotected wells. The results of this study showed that the attitude, perceived norms, and personal factors influenced the intention to use clean water for the three clean water sources. Among PDAM users, no significant factor was seen to influence behavior. Among protected well users, the behavior was influenced by the interest factor in using clean water. Among unprotected well users, attitude, environmental barriers, and habit influenced the behavior of using clean water. Factors influencing behaviors, especially in urban slum areas, are different based on the source of clean water used; hence, the implementation health promotion through behavioural change should be adapted to the type of water source used. [MKB. 2017;49(2):122?31]Key words: Behavior, clean water, integrated behavior model, urban slum 
PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PENGUATAN OTOT KUADRISEP TERHADAP MASSA BEBAS LEMAK EKSTREMITAS BAWAH DAN KEKUATAN OTOT KUADRISEP PADA PENDERITA OSTEOARTRITIS LUTUT DENGAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK RENDAH DAN TINGGI Salsabila, Susan; Moeliono, Marina Annette; Sastradimadja, Sunaryo Barki; Agustian, Dwi
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 4 (2018): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Osteoartritis (OA) lutut lebih sering menyebabkan rasa sakit dan disabilitas dibanding OA sendi lainnya. Kualitas otot ekstremitas bawah yang terdiri dari massa otot ekstremitas bawah dan kekuatan otot kuadrisep adalah salah satu faktor risiko OA lutut. Massa bebas lemak ekstremitas bawah (MBLEB) adalah representasi massa otot ekstremitas bawah. Tingkat aktivitas fisik merupakan faktor yang mempengaruhi MBLEB dan kekuatan otot kuadrisep. Latihan penguatan otot kuadrisep merupakan upaya meningkatkan MBLEB dan kekuatan otot kuadrisep. Metode: Sebanyak 42 orang subjek wanita penderita OA lutut mengikuti penelitian ini. Dilakukan wawancara untuk mendapatkan data karakteristik, dan tingkat aktivitas fisik serta asupan energi dengan meotode recall 2 x 24 jam. Pengukuran MBLEB menggunakan segmental Multifrequency Bio-Impedance Analyzer (BIA) Tanita MC180A dan kekuatan otot kuadrisep menggunakan dinamometer isometrik BASELINE® Evaluation Instrument dilakukan sebelum dan sesudah pemberian latihan penguatan otot kuadriseps dengan frekuensi 3 kali seminggu selama 8 minggu. Hasil: Latihan penguatan otot kuadrisep tidak meningkatkan MBLEB, namunmeningkatkan kekuatan otot kuadrisep secara bermakna (p=0,00) pada tingkat aktivitas fisik rendah dan tingkat aktivitas fisiktinggi. Perbedaan perubahan antara tingkat aktivitas fisik fisik rendah dan tinggi tidak berbeda pada MBLEB, dan berbeda bermakna pada kekuatan otot kuadrisep baik ektremitas kiri (p=0,01) ataupun kanan (p=0,04). Kesimpulan: Pemberian latihan penguatan otot kuadrisep tidak meningkatkan MBLEB namun meningkatkan kekuatan otot kuadrisep. Perubahan MBLEB antara aktivitas fisik rendah dan tinggi tidak berbeda, sedangkan perubahan kekuatan otot kuadrisep berbeda. Kata kunci: osteoartritis lutut, latihan penguatan otot kuadrisep, massa bebas lemak ekstremitas bawah, kekuatan otot kuadrisep
Upaya Pengendalian Aedes aegypti di Desa Cibeusi dan Cikeruh Kecamatan Jatinangor berdasar atas Populasi Nyamuk Faridah, Lia; Lavemita, Cica; Sumardi, Uun; Fauziah, Nisa; Agustian, Dwi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v6i1.2586

Abstract

Masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang umum terjadi dalam beberapa tahun terakhir adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes spp. Salah satu daerah endemis DBD adalah Kecamatan Jatinangor, kasus DBD tertinggi terjadi di Desa Cibeusi dan kasus terendah di Desa Cikeruh pada tahun 2014. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang (cross sectional) dilaksanakan dari bulan September hingga November 2016. Teknik pengambilan sampel diambil secara sengaja (purposive sampling) dari dalam rumah di Desa Cibeusi dan Cikeruh. Setiap desa dipasang 10 perangkap nyamuk untuk 10 rumah meliputi luas wilayah 100×100 m2. Evaluasi hasil tangkapan dilakukan setiap 3 hari untuk setiap minggu selama 3 bulan. Data yang dicari adalah perbedaan jumlah nyamuk rata-rata dan upaya pengendalian Aedes aegypti di kedua desa. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji t tidak berpasangan. Pada equal variance assumed, Sig. (2-tailed) sebesar 0,711 (p<0,05), hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah nyamuk rata-rata di kedua desa tidak berbeda bermakna secara statistik pada probabilitas 0,05. Upaya pengendalian Aedes aegypti yang telah dilaksanakan di Desa Cibeusi pada tahun 2016 adalah larvasidasi, sementara Desa Cikeruh melaksanakan fogging. Simpulan, upaya pengendalian vektor yang dilaksanakan Puskesmas Jatinangor dalam menurunkan angka kejadian DBD masih kurang. ASSESSMENT OF AEDES AEGYPTI CONTROL EFFORT IN CIBEUSI AND CIKERUH VILLAGES JATINANGOR SUB-DISTRICT BASED ON THE POPULATION OF MOSQUITOThe dengue hemorrhagic fever (DHF) is a common public health problem in Indonesia over the past few years which is transmitted by the bite of Aedes spp. One of the DHF endemic area is the Jatinangor sub-district, in 2014 Cibeusi village that had the highest number of DHF cases whereas the lowest number was recorded in Cikeruh village. This study used cross sectional design and it was conducted from September until November 2016. The sampling technique was purposive sampling from the residencies in Cibeusi and Cikeruh village. Each village was set up 10 mosquito traps for 10 houses covering an area 100×100 m2. Evaluation of the catches was done every 3 days per week for 3 months. Data to be found is the difference in mean number of mosquitoes and Aedes aegypti control efforts in both villages. The data collected was analyzed with unpaired t-test. Sig. (2-tailed) value at equal variance assumed was 0.711 (p<0.05), this showed that there was no statistically significant difference in the mean number of Aedes aegypti or it is not significant at 0.05 probability in both villages. Aedes aegypti control efforts on 2016 which have been held in Cibeusi village was larvaciding, while fogging activities in Cikeruh village as a control efforts. In conclusion, there is still lacking of vector control efforts undertaken by Jatinangor Public Health Center in reducing DHF incidence.
Hubungan Fungsi Keluarga dengan Status Gizi Anak di Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung pada Tahun 2016 Hanifah, Ulfi Ainun; Arisanti, Nita; Agustian, Dwi; Hilmanto, Dany
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.557 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i4.12498

Abstract

Malnutrisi merupakan salah satu masalah kesehatan yang dialami oleh kebanyakan negara berkembang yang dapat disebabkan oleh faktor langsung maupun tidak langsung salah satunya faktor keluarga. Setiap keluarga memiliki fungsi keluarga yang dapat memberi pengaruh terhadap aspek kehidupan setiap anggotanya. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara fungsi internal dan eksternal keluarga terhadap status gizi anak di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung Tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode potong lintang yang melibatkan 251 pasangan ibu dan anak balita di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung Tahun 2016. Data penelitian diambil pada bulan September- November 2016 dengan pengisian kuesioner APGAR serta SCREEM oleh responden untuk menilai fungsi keluarga dan melakukan pengukuran berat serta tinggi badan balita untuk menentukan nilai Z score (berat terhadap tinggi) sebagai status gizi balita. Selanjutnya hubungan keduanya dianalisis menggunakan perhitungan koefisien korelasi spearman. Tidak terdapat hubungan yang signifikan pada fungsi internal keluarga (p = 0,304; r = -0,065) dan fungsi ekternal keluarga (p = 0,116; r = -0,100) terhadap status gizi anak. Dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini, fungsi keluarga tidak memberikan pengaruh pada status gizi anak di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Penelitian mengenai fungsi keluarga dengan menggunakan instrumen kuesioner APGAR Keluarga dan SCREEM dibutuhkan proses analisis yang lebih lanjut.Kata kunci: APGAR keluarga, Fungsi Keluarga, SCREEM, Status Gizi Anak
BERBAGAI FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA BANDUNG Respati, Titik; Raksanegara, Ardini; Djuhaeni, Heni; Sofyan, Asep; Agustian, Dwi; Faridah, Lia; Sukandar, Hadyana
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 9 No 2 (2017): Jurnal Aspirator Volume 9 Nomer 2 2017
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.153 KB)

Abstract

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) reemerged as a significant public health problem, whichreflects the difficulty in sustaining DHF control program. Community-based strategy to control Aedesaegypti breeding sites needs to be understood. The objective of this study is to understand contributedfactors to DHF based on characteristics, the availability of basic sanitation, knowledge, perception, andattitude towards DHF prevention program. A survey conducted to 2035 households in 12 districts and 16villages in Kota Bandung in April to June 2015 using stratified random sampling method. A questionnairewas administered to collect information on variables related to economic status, knowledge on DBD, riskperception and practices associated with Aedes aegypti breeding sites, also basic sanitation facilities. Theanalysis used was correlation and Generalized Estimating Equation (GEE). Results showed that gender, basic sanitation availability, knowledge about dengue in general, knowledge about DHF symptoms, andperception about the disease contribute to dengue cases (p ? 0.05). The conclusion of this study is factorscontributed to dengue cases were sex, education, basic sanitation, knowledge about dengue in general,knowledge about DHF symptoms and perception about the disease. Program planning should also include factors and the need for the local community.