Churun Ain
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 40 Documents
Articles

Found 40 Documents
Search

ANALISIS KONSENTRASI LOGAM BERAT TIMBAL (PB) DAN KADMIUM (CD) DI SUNGAI SILANDAK, SEMARANG HEAVY METAL LEAD (PB) AND CADMIUM (CD) CONCENTRATION ANALYSIS IN SILANDAK RIVER, SEMARANG Hanifah, Nisrina Nurfitria; Rudiyanti, Siti; Ain, Churun
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 8, No 3 (2019): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSungai Silandak terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah yang menerima limbah dari hasil kegiatan transportasi, industri dan domestik masyarakat sekitar. Limbah tersebut mengandung logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) yang mengalami perubahan konsentrasi disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya curah hujan. Curah hujan menyebabkan debit air menjadi lebih tinggi sehingga terjadi proses pengenceran konsentrasi pada badan perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi Pb dan Cd yang kemudian dibandingkan dengan baku mutu lingkungan, perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober ? Desember 2018 serta hubungan debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik sampling purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan empat kali (pada Oktober ? Desember 2018) di lima stasiun. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Pb = 0,03 ? 0,003 mg/l dan Cd = 0,001 ? 0,005 mg/l. Konsentrasi tersebut berada di bawah baku mutu lingkungan menurut PP No. 82 Tahun 2001 (Pb < 0,03 mg/l dan Cd < 0,01 mg/l) namun beberapa masih berada di atas baku mutu lingkungan menurut Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 (Pb > 0,008 mg/l dan Cd > 0,001 mg/l). Terdapat perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober ? Desember 2018, (Sig. < 0,05) Pb = 0,048 dan Cd = 0,037. Debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd menunjukkan hubungan yang cukup erat, Pb (R = 0,576) dan Cd (R = 0,563).ABSTRAKSungai Silandak terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah yang menerima limbah dari hasil kegiatan transportasi, industri dan domestik masyarakat sekitar. Limbah tersebut mengandung logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) yang mengalami perubahan konsentrasi disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya curah hujan. Curah hujan menyebabkan debit air menjadi lebih tinggi sehingga terjadi proses pengenceran konsentrasi pada badan perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi Pb dan Cd yang kemudian dibandingkan dengan baku mutu lingkungan, perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober ? Desember 2018 serta hubungan debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik sampling purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan empat kali (pada Oktober ? Desember 2018) di lima stasiun. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Pb = 0,03 ? 0,003 mg/l dan Cd = 0,001 ? 0,005 mg/l. Konsentrasi tersebut berada di bawah baku mutu lingkungan menurut PP No. 82 Tahun 2001 (Pb < 0,03 mg/l dan Cd < 0,01 mg/l) namun beberapa masih berada di atas baku mutu lingkungan menurut Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 (Pb > 0,008 mg/l dan Cd > 0,001 mg/l). Terdapat perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober ? Desember 2018, (Sig. < 0,05) Pb = 0,048 dan Cd = 0,037. Debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd menunjukkan hubungan yang cukup erat, Pb (R = 0,576) dan Cd (R = 0,563).  ABSTRACTThe Silandak River is located in Semarang City, Central Java, that receives a lot of waste from the transportation, industrial, and local?s (domestic) activities. These waste contained the heavy metal Lead (Pb) and Cadmium (Cd), that concentration in waters caused by many factors, one of which is rainfall. Rainfall caused a rise in water discharge and causes a dilution of concentration in the waters. The purpose are to identify Pb and Cd concentration that will be compared with the quality of the environment, the difference of Pb and Cd concentration in October ? December 2018, and also the correlation of water discharge with Pb and Cd concentration. The survey method was used in this study with purposive sampling for the sampling method. The sampling was done four times (in October ? December 2018) at five stations. The result showed concentration of Pb = 0,03 ? 0,003 mg/l and Cd = 0,001 ? 0,005 mg/l. The concentration are below the quality standards according to The Government Regulation No. 82, Year 2001 (Pb < 0,03 mg/l and Cd < 0,01 mg/l), but some are still above the quality standards according to Minister of Environment Decree No. 51, Year 2004 (Pb > 0,008 mg/l dan Cd > 0,001 mg/l). There is a difference in the Pb and Cd concentration on October ? December 2018, (Sig. < 0,05) Pb = 0,048 and Cd = 0,037. The water discharge and the concentration of Pb (R = 0,576) and Cd (R = 0,563) showed a quite strong relationship.
HUBUNGAN KERAPATAN LAMUN (SEAGRASS) DENGAN KELIMPAHAN SYNGNATHIDAE DI PULAU PANGGANG KEPULAUAN SERIBU Tishmawati, Rr. Nadia Chairina; Suryanti, -; Ain, Churun
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Panggang terletak di Taman Nasional Kepulauan Seribu yang memiliki ekosistem lamun dengan cukup baik. Banyak biota yang berasosiasi dengan lamun, salah satunya famili Syngnathidae yang merupakan unsur kekayaan keanekaragaman hayati laut yang terdiri dari seahorses, pipefishes dan sea dragon. Tingginya harga pasar dan manfaat yang begitu besar bagi manusia, membuat permintaan komoditas tersebut meningkat dari waktu ke waktu sehingga mengancam kelestarian jenis tersebut di habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan lamun, mengetahui kelimpahan famili Syngnathidae, serta mengetahui hubungan antara kerapatan lamun dengan kelimpahan famili Syngnathidae di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2014 di perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode observasi dengan metode samplingnya random sampling. Pengambilan sampel syngnathidae dilakukan pada ketiga stasiun lamun dengan kerapatan jarang, sedang, dan padat. Penghitungan pemetaan lamun dan kelimpahan Syngnathidae menggunakan kuadran 1m x 1m dan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 6 jenis lamun yaitu Enhallus acoroides, Cymodoceae serulata, Thalasia hemprichii, Syringodium isoerifolium, Halodule uninervis, dan Cymodoceae rotundata. Jumlah tegakan lamun pada kerapatan jarang 6185 tegakan/ 75m2, kerapatan sedang 13429 tegakan/ 75m2, dan kerapatan padat 26920 tegakan/ 75m2. Famili syngnathidae yang didapatkan di Pulau Panggang yaitu sebanyak 3 spesies pada kerapatan padat sejumlah 10 individu/ 75m2, kerapatan sedang 6 individu/ 75m2, dan pada kerapatan jarang 3 individu/ 75m2. Hasil analisa statistika kerapatan lamun dengan kelimpahan Syngnathidae terdapat korelasi r = 0.996, menunjukan korelasi erat sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh melimpahnya syngnathidae. Panggang Island is located in the National Park of Kepulauan Seribu that has good enough seagrass ecosystem. Many biota associated to seagrass, is  Syngnathidae family is one of the elements of marine biodiversity which consists of seahorses, pipefishes, and sea dragon. The high market price and benefits to humans have made its demand commodity for this been increasing time to time, so threaten its sustainability in its habitat. This study aims to determine the density of seagrass, the abundance of family Syngnathidae as well as the relationship between the density of seagrass with the abundance of Syngnathidae family in the Panggang Island, Kepulauan Seribu. The research was conducted in May-June 2014 at Panggang Island waters, Kepulauan Seribu. The method used in this study is observation sampling using random sampling. The sampling of Syngnathidae at three stations seagrass on the difference density which are rarely, medium, and high. The calculation of seagrass mapping abundance Syngnathidae using 1m x 1m quadrant, were done in three times repetition. The results showed that there are six types of seagrass which are Enhallus acoroides, Cymodoceae serulata, Thalasia hemprichii, Syringodium isoerifolium, Halodule uninervis, and Cymodoceae rotundata. The number of seagrass stands obtained at a rarely 6185 stands/ 75m2, medium 13429/ 75m2, and high density 26920 stands/ 75m2. There are three species of Syngnathidae obtained in the Panggang Island in which at high density 10 individuals/ 75m2, at medium density 6 individuals/ 75m2, and at rarely density 3 individual/ 75m2. The result of statistical analysis showed closed correlation between seagrass density and Syngnathidae abundance with the r value of = 0.996, so that higher density of seagrass will be followed by abundance Syngnathidae.
KANDUNGAN KLOROFIL-A DAN FITOPLANKTON DI LOKASI YANG BERBEDA DI SUNGAI WULAN, KABUPATEN DEMAK Dewi, Hilda Kumala; Hendrarto, Boedi; Ain, Churun
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Sungai Wulan adalah sungai yang melewati tiga kabupaten yaitu Grobogan, Kudus dan Demak. Sungai Wulan yang terletak di Kabupaten Demak, mempunyai dua percabangan yaitu Wulan Lama dan Wulan Baru. Sungai ini digunakan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan seperti kegiatan perikanan, domestik dan transportasi. Di hilir sungai juga terdapat daerah mangrove. Dampak dari kegiatan manusia tersebut kemungkinan akan berpengaruh terhadap kualitas perairan, hal tersebut diduga berdampak terhadap keberadaan fitoplankton serta kandungan klorofil-a. Penelitian dilakukan pada bulan Maret ? April 2016 bertujuan untuk mengetahui kandungan klorofil-a, fitoplankton dan status perairan berdasarkan kandungan klorofil-a dan kelimpahan fitoplankton. Metode yang digunakan adalah metode survei lapangan dengan teknik purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan di tiga lokasi yang berbeda yaitu dekat pemukiman (Stasun 1), Wulan Baru (Stasiun 2), dan Wulan Lama (Stasiun 3). Analisis Kruskal-Wallis untuk mengetahui perbedaan kandungan klorofil-a antar stasiun dan analisis Cluster untuk mengetahui kemiripan berdasarkan komunitas fitoplankton dan variabel lingkungan antar stasiun. Hasil penelitian menunjukkan kandungan klorofil-a berkisar antara 0,4955 - 1,3527 mg/l. Tidak ada perbedaan yang nyata kandungan klorofil-a per stasiun pada taraf kepercayaan 95% (0,05). Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 9.458 ? 12.422 ind/l. Fitoplankton yang didapatkan terdiri dari 35 genera yang terdiri dari 5 kelas yaitu Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Dynophyceae, Chlorophyceae dan Euglenophyceae. Stasiun 2 dan Stasiun 3 mempunyai kemiripan komunitas fitoplankton dan variabel lingkungan dibandingkan dengan Stasiun 1. Status perairan Sungai Wulan berdasarkan kandungan klorofil-a tergolong oligotrofik dan berdasarkan kelimpahan fitoplankton tergolong mesotrofik.Kata Kunci: Klorofil-a; Fitoplankton; Sungai Wulan  ABSTRACTWulan River is a river that passes through three regencies there are Grobogan, Kudus and Demak. Wulan River located in Demak Regency, has two branches there are Wulan Lama and Wulan Baru. This river has been used a lot by the residents for many activities such as fishery activities, domestic and transportation. There is also mangrove area in the downstream of Wulan River. The impact of those human activities presumably will affect the quality of the waters, it is also presumed to impact the existence of phytoplankton and the contents of chorophyl-a. This research was conducted on March - April 2016 aimed to know the contents of chlorophyl-a, the type and abundance of phytoplankton and the status of waters based on the content of chlorophyll-a and the abundance of phytoplankton. This research used survey method and purposive a sampling teqnique. The sampling was conducted in three different locations, that is in the nearby people residence (Station 1), Wulan Baru (Station 2) and Wulan Lama (Station 3). The Kruskal-Wallis analysis was used to determine differences of chlorophyll-a between the stations and Cluster analysis was used to determine similarity groups based on the phytoplankton community and environment variables between stations. The results showed chlorophyll-a range between 0,4955 - 1,3527 mg/l. There is no significant difference between the content of chlorophyll-a per station at the level of 95% (P < 0,05). The abundance of phytoplankton ranged between 9.458 ? 12.422 ind/l. The phytoplankton was obtained consisting of 35 genus consisted of 5 classes, namely Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Dynophyceae, Chlorophyceae and Euglenophyceae. Both Station 2 and Station 3 had a more similarity in the community of phytoplankton and the environment variable compared to the Station 1. The status waters of the Wulan Rivers based on the contents chlorophyll-a was classified into oligotrophic and based on the abundance of phytoplankton was classified into mesotrophic. Keywords: Chlorophyl-a; Phytoplankton; Wulan River 
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON PADA PERAIRAN YANG DITUMBUHI ECENG GONDOK SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN DI DANAU RAWA PENING, SEMARANG Tyas, Eritrina Ardining; Hutabarat, Sahala; Ain, Churun
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 6, No 2 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSecara ekologis, Danau Rawa Pening kondisinya telah banyak mengalami perubahan yang diindikasikan oleh tidak terkontrolnya pertumbuhan tanaman akuatik seperti eceng gondok yang umumnya berkaitan dengan proses eutrofikasi. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui kualitas perairan berdasarkan struktur komunitas plankton pada perairan yang ditumbuhi eceng gondok di Rawa Pening. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2016. Metode yang digunakan adalah observatif dan pengambilan teknik sampling secara purposif dan uji laboratorium. Lokasi pengambilan sampel yaitu stasiun 1 merupakan daerah yang terdapat eceng gondok cukup tinggi (kerapatan tinggi dengan persentase berkisar >70-100%). Stasiun 2 merupakan daerah yang terdapat eceng gondok relatif sedang (kerapatan sedang dengan persentase berkisar 40-70%). Stasiun 3 merupakan daerah yang terdapat eceng gondok relatif rendah (kerapatan rendah dengan persentase berkisar <40%) serta stasiun 4 merupakan daerah yang tidak terdapat eceng gondok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan Fitoplankton berkisar 620-15690 Ind/L. Jenis Fitoplankton yang ditemukan terdiri dari 4 kelas yaitu Chlorophyceae, Bacillariophyceae, Cyanophyceae , Xanthophyceae. Kelimpahan Zooplankton berkisar 620-1608 Ind/m3. Jenis Zooplankton yang ditemukan terdiri dari 5 kelas yaitu  Zoomastigopora, Pytomastigopora, Euglenaphyceae, Rotiferaceae Ciliata, Crustacea. Kualitas perairan di Danau Rawa Pening masih pada batas-batas yang layak untuk kehidupan plankton.Kata Kunci: Plankton, Eceng Gondok, Danau Rawa Pening.  ABSTRACT                Ecologically, Lake Rawa Pening has been extensively amended condition indicated by the uncontrolled growth of aquatic plants such as water hyacinth which is generally related to the process of eutrophication. The goal of the research is to find out the quality of the waters of the plankton community structure based on waters covered by water hyacinth in the Lake Rawa Pening. This research was carried out in Oktober and November 2016.  The method used is observatif field and taking of sampling in purposive and laboratory. The location of sampling is divided into four stations and each station is divided into two points. Station 1 is that there is water hyacinth is quite high (high density with a percentage ranging <70-100%). Station 2 is the area contained relatively water hyacinth are medium density (percentage of 40-70%). Station 3 is the station contained water hyacinth is relatively low (low density with a percentage ranging from 40%) as well as station 4 is there is no water hyacinth. The results showed that Phytoplankton abundance range 620-15690 Ind/L.  Types of Phytoplankton found consists of 4 classes namely Chlorophyceae, Cyanophyceae, Bacillariophyceae, Xanthophyceae. The abundance of Zooplankton range 620-1608 Ind/m3. Types of  Zooplankton found consists of 5 classes, namely Zoomastigopora, Pytomastigopora, Euglenaphyceae, Rotiferaceae Ciliata, Crustacea. The quality of the waters of Lake Rawa Pening is still within the limits that are reasonable for the life of the plankton. Saprobik index (SI) of 2 and the value of Tropical Saprobik Index (TSI) of 1,33 this indicated that these waters are in a phase of Oligosaprobik toward ?-mesosaprobik.. Keywords: Plankton, Eichhornia crassipes, Lake Rawa Pening. 
ANALISIS TOTAL BAKTERI COLIFORM DI SUNGAI BANJIR KANAL BARAT DAN SILANDAK, SEMARANG ANALYSIS OF TOTAL COLIFORM BACTERIA IN BANJIR KANAL BARAT AND SILANDAK RIVERS, SEMARANG Asih, Dilia Puspita; Ain, Churun; Widyorini, Niniek
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Banjir Kanal Barat dan Silandak merupakan sungai besar yang berada di Kota Semarang. Terdapat berbagai aktivitas di sepanjang aliran sungai tersebut, diantaranya aktivitas domestik dan industri dimana buangan limbah masuk ke dalam badan sungai sehingga menyebabkan penurunan kualitas perairan. Salah satu mikroorganisme yang terkandung dalam limbah domestik yang berperan sebagai indikator pencemaran yaitu bakteri coliform sehingga perlu dilakukan perhitungan total coliform guna mengetahui adanya pencemaran di Sungai Banjir Kanal Barat dan Silandak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan total coliform, status mutu air berdasarkan PP Nomor 82 Tahun 2001 kelas II dan hubungan antara total coliform dengan bahan organik dan BOD (Biological Oxygen Demand) di Sungai Banjir Kanal Barat dan Silandak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei. Pengambilan sampel terdiri dari 2 stasiun (A dan B) yang masing-masing terdapat 5 titik dan 2 kali pengulangan (P1 dan P2). Variabel utama yang dianalisis yaitu total coliform, bahan organik dan BOD, variabel pendukung yang diukur yaitu temperatur, salinitas, DO (Dissolved Oxygen ) dan pH. Berdasarkan hasil penelitian, jumlah total coliform pada stasiun A berkisar antara 240-16000 MPN/100 mldan 23-5400 MPN/100 ml pada stasiun B. Nilai total coliform pada titik A2 dan B2 pada P1 serta A5 P2telah melebihi bakumutu. Hubungan antara total coliform dengan bahan organik yaitu sangat lemah (nilaiPearson Correlation = 0,15). Hubungan antara total coliform denganBOD yaitu lemah (nilaiPearson Correlation= 0,378). Banjir Kanal Barat and Silandak Rivers are large rivers in Semarang. There are various activities along the river flow, including domestic activities and industries where waste effluents enter the river bodies causing a decrease in water quality. One of the microorganisms contained in domestic waste that as an indicator of pollution is coliform bacteria, so it is necessary to calculate the total coliform in order to find out the pollution in the Banjir Kanal Barat and Silandak Rivers. This study aims to determine abundance of total Coliform, water quality status based on PP No. 82 of 2001 class II and relationship between the total coliform with organic matter and BOD (Biological Oxygen Demand) in the Banjir Kanal Barat and Silandak Rivers. The method used in this study is survey method. Sampling consisted of 2 stations (A and B), each of which had 5  points and 2 repetitions (P1 and P2). The main variables analyzed were total coliform, organic matter and BOD, the supporting variable analiyzed were temperature, salinity, DO (Dissolved Oxygen ) and pH. Based on the results of the study, the total number of coliform at station A ranged from 240-16000 MPN/100 ml and 23-5400MPN/100 ml at station B. The total value of coliform at points A2 and B2 at P1 and A5 P2 has exceeded the standard. The relationship between total coliform and organic matter is very weak (Pearson Correlation value = 0.15). The relationship between total coliform and BOD is weak (Pearson Correlation value = 0.378). 
KANDUNGAN NITRAT DAN FOSFAT AIR PADA PROSES PEMBUSUKAN ECENG GONDOK (EICHHORNIA SP.) (SKALA LABORATORIUM) Juwitanti, Eko; Soedarsono, Prijadi; Ain, Churun
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) merupakan unsur hara (nutrien) yang diperlukan oleh tumbuhan air untuk pertumbuhan dan perkembangan hidupnya. Unsur tersebut ada dalam bentuk nitrat (NO3) dan fosfat (PO4). Tingginya kandungan nitrat dan fosfat pada perairan Rawa Pening terlihat dengan banyaknya eceng gondok yang tumbuh disana. Akan tetapi, kegiatan masyarakat sekitar yang hanya mengambil batang eceng gondok dan membuang kembali akar dan daunnya ke perairan berpotensi untuk meningkatkan kadar nitrat dan fosfat air di Rawa Pening. Kandungan unsur hara yang terlalu tinggi akibat dari proses pembusukan yang terjadi secara terus-menerus dapat mengakibatkan perairan mengalami keadaan yang terlalu subur (eutrofikasi). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandungan nitrat dan fosfat air pada proses pembusukan Eceng Gondok. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimen skala laboratorium. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu wadah percobaan yang berisi akar, batang, dan daun eceng gondok. Data yang diukur meliputi kadar nitrat (NO3), kadar fosfat (PO4), berat Eceng Gondok, suhu, pH air, dan DO. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2013 hingga Juli 2013 di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan Jurusan Perikanan Universitas Diponegoro, Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kandungan nitrat dan fosfat air tertinggi yaitu pada pembusukan daun eceng gondok dengan kadar nitrat 1,599 ? 2,053 mg/l dan kadar fosfat 0,025 ? 0,099 mg/l. Sedangkan pada batang mengandung nitrat antara 0,651 ? 1,271 mg/l dan fosfat sebesar 0,011 ? 0,074 mg/l. Kandungan terendah terdapat pada akar, dengan kadar nitrat 0,350 ? 0,944 mg/l dan kadar fosfat 0,009 ? 0,051 mg/l. Berat eceng gondok menyusut setelah 4 minggu terbukti dari berat awal masing-masing 200 gr dan berat akhir pada akar yaitu 96,6 gr, pada batang 72,6 gr dan pada daun eceng gondok 56,3 gr. Hasil analisis data kandungan nitrat dan fosfat air dengan Anova One Way terdapat perbedaan yang signifikan antara akar, batang dan daun diperoleh nilai signifikansi 0,00 untuk nitrat dan 0,021 untuk fosfat (p < 0,05).
PEMANFAATAN MAKROZOOBENTOS SEBAGAI BIOINDIKATOR PENCEMARAN LOGAM PB DAN CD DI PERAIRAN TELUK SEMARANG Gaus, Irzzan; Haeruddin, Haeruddin; Ain, Churun
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran Pb dan Cd yang terjadi di perairan Teluk Semarang. Penelitian dilakukan di 2 (dua) stasiun penelitian berbeda yaitu perairan Tambak Lorok (stasiun I) dan perairan Mangunhardjo (stasiun II). Analisa kandungan logam berat pada sedimen dilakukan dengan menggunakan AAS. Perhitungan kandungan bahan organik dilakukan dengan metode Gravimetri. Perhitungan kandungan karbon organik dilakukan dengan mengonversi dari kandungan bahan organik. Karbon merupakan unsur yang dapat mengikat unsur-unsur lain di perairan. Proses identifikasi makrozoobentos dilakukan dengan metode check list. Rata-rata konsentrasi logam berat Pb dan Cd yang didapatkan di stasiun I sebesar 15,709 mg/kg dan <0,004 mg/kg, sedangkan rata-rata konsentrasi logam berat Pb dan Cd di stasiun II sebesar 12,283 mg/kg dan <0,004 mg/kg. Famili makrozoobentos tertinggi yang didapatkan pada kedua stasiun adalah famili Archidae dan Nereidae. Analisa makrozoobentos menghasilkan nilai keanekaragaman pada stasiun I sebesar 1.3008 dan pada stasiun II sebesar 1.00424; nilai keseragaman pada stasiun I sebesar 0.80823 dan pada stasiun II sebesar 0.9141; dan nilai dominasi pada stasiun I sebesar 0.32426 dan pada stasiun II 0.38776. Nilai korelasi antara logam berat dengan karbon organik sebesar 0,632, logam berat dengan kelimpahan makrozoobentos sebesar 0,591, dan karbon organik dengan kelimpahan makrozoobentos sebesar 0,496. Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa adanya hubungan yang cukup kuat antar ketiga variabel tersebut. Nilai keseragaman makrozoobentos mendekati 1 yang menunjukkan spesies cukup beragam dan tidak terjadi dominasi di kedua stasiun. Nilai keanekaragaman makrozoobentos pada kedua stasiun berada pada nilai 1>a< 3 yang menunjukkan bahwa terjadi pencemaran sedang pada kedua perairan tersebut. This research supposed to know the level of Pb and Cd pollution that occurred in Semarang Bay waters. The research was conducted in 2 (two) different research stations that were in Tambak Lorok (station I) and Mangunhardjo (station II) waters. Analysis of heavy metals in organic contents used AAS. Calculated the organic matter contents used Gravimetri method. Calculated the organic carbon with covertion from organic matter contents. Carbon is an element that can bind other elements in the water. Macrozoobenthos identify processed used check list method. The average concentration of heavy metal of Pb and Cd from station I 15,709 mg/kg and <0,004 mg/kg, and average of heavy metal concentration of Pb and Cd from station II 12,283 mg/kg and <0,004 mg/kg. Macrozoobentos analysis resulted value of diversity in station I was 1.3008 and in station II was 1.00424; uniformity value in station I was 0.80823 and value from station II was 0.9141;  and dominance value from ststion I was 0.32436 and value of dominance from station II was 0.38776. Correlation value between heavy metal and organic carbon is 0,632, heavy metal and macrozoobenthos abundance is 0,591, and organic carbon and macrozoobenthos abundance is 0,496. Those correlation value indicated that there is a relation between the three variables. Uniformity value approached to one (1) that means existence of species good enough diverse and that mean there was no domination in those two (2) stations, and macrozoobenthos diversity?s value in the two (2) stations was 1> a <3 that mean there was indicated moderate pollution in both of research station.
EFISIENSI PENGGUNAAN OIL WATER SEPARATOR PADA KAPAL PENANGKAP IKAN UNTUK PENCEGAHAN PENCEMARAN MINYAK DI LAUT (STUDI KASUS KM. MANTIS) DI BBPPI SEMARANG Setiawan, Teguh Edi; Haeruddin, -; Ain, Churun
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cemaran minyak akan berdampak pada penurunan daya dukung lingkungan yang dapat mengganggu kehidupan organisme perairan. Cemaran minyak dapat berasal dari limbah cair kamar mesin kapal. Berdasarkan ketentuan IMO (International Maritime Organization) yaitu harus kurang dari 15 ppm. Kapal berukuran di atas 100 GT diwajibkan menggunakan OWS (Oil Water Separator) sebagai alat pemisah air dan minyak. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang mencoba menerapkan penggunaan OWS pada kapal penangkap ikan berukuran di bawah 100 GT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penggunaan OWS, dan perbedaan toksisitas minyak sebelum dan setelah diolah dengan OWS terhadap Chlorella vulgaris. Penelitian dilaksanakan pada bulan November ? Desember 2013. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan menganalisis kandungan minyak. Dilanjutkan analisis efisiensi OWS dan uji toksisitas minyak terhadap alga Chlorella vulgaris sebelum dan setelah diolah dengan OWS. Kemudian dilakukan uji statistika T berpasangan apabila distribusi data normal dan uji wilcoxon apabila distribusi data tidak normal dengan taraf signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan OWS mampu mereduksi kandungan minyak dari sebelum diolah dengan OWS antara 2.083,60 mg/L - 29.246,60 mg/L menjadi  8,40 mg/L - 23,20 mg/L setelah diolah, tingkat efisiensi mencapai 99,3% - 99,9%. Hasil analisis statistik uji wilcoxon pada hasil uji toksisitas (p < 0,05) OWS mampu mengurangi toksisitas limbah cair kamar mesin mengandung minyak sebelum dan setelah diolah dengan OWS terhadap Chlorella vulgaris. Oil pollution results in the reduction of environmental capacity which can disturb the life of aquatic organism. The waste water from engine room of the vessel is one of the source oil pollution. Based on IMO (International Maritime Organization) recommendation which are less than 15 ppm. Vessel measuring above 100 GT must use OWS (Oil Water Separator) as the equipment to separate water and oil. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) semarang has tried to apply the usage of OWS at the fishing vessel measuring under 100 GT. This research has intended to determine the efficiency of using OWS, and the difference of oil toxicity before and after processed OWS to Chlorella vulgaris. The research was carried in November ? December 2013. The methods used are laboratory experimental by analyzing oil continued by OWS efficiency analysis and testing oil toxicity on Chlorella vulgaris before and after processed using OWS. After that, data was analyzed using paired sample T-test if the data distribution was normal or wilcoxon test if the data distribution was abnormal using significancy level 95%. The result that OWS was able to reduce the oil content from 2.083,60 mg/L - 29.246.60 mg/L before processed, and 8,40 mg/L - 23,20 mg/L after processed with OWS, with efficiency level attained 99,3% - 99,9%. The statistical analysis using wilcoxon test at toxicity test (p<0,05) that OWS was able to reduce waste water from engine room that contains oil and it has proven by comparing the toxic level before and after processed using OWS to Chlorella vulgaris.
VALUASI EKONOMI PEMANFAATAN WADUK WADASLINTANG KABUPATEN WONOSOBO (THE ECONOMIC VALUATION OF UTILIZATION WADASLINTANG RESERVOIR OF WONOSOBO REGENCY) Manullang, Panogu; Saputra, Suradi Wijaya; Ain, Churun
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waduk Wadaslintang merupakan waduk yang terletak di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Waduk ini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, diantaranya untuk perikanan tangkap, keramba jaring apung, pariwisata, air bersih, dan  PLTA. Pemanfaatan waduk Wadaslintang  belum terukur secara ekonomi sehingga perlu dilakukan studi tentang besarnya nilai ekonomi pemanfaatan waduk sebagai dasar upaya pengelolaan. Penelitian dilakukan pada Juni - Juli 2017 dengan tujuan untuk menghitung nilai ekonomi total pemanfaatan waduk. Metode yang digunakan untuk air bersih yaitu Contingent Valuation Method (CVM), rekreasi dengan metode Travel Cost Method (TCM), PLTA, perikanan tangkap dan budidaya KJA dengan metode Market Price Method. Metode penentuan responden untuk PLTA,perikanan tangkap dan Budidaya KJA menggunakan metode purposive sampling, air bersih menggunakan cluster sampling dan rekreasi menggunakan acidental sampling. Hasil penelitian didapatkan nilai ekonomi Perikanan Tangkap Rp.493.744.000/tahun, Nilai ekonomi Budidaya keramba jaring apung Rp.1.024.612.000/tahun, Nilai ekonomi Pariwisata Rp.426.845.468,-/tahun, Nilai ekonomi Air Bersih Rp.63.018.000/tahun, dan Nilai ekonomi PLTA Rp.101.519.999.812/tahun. Nilai ekonomi total per tahun sebesar Rp.22.778.531.066/tahun. Wadaslintang Reservoir is a reservoir located in Wonosobo regency, Central Java. This reservoir is used for various needs, such as for fishery catch, floating catch, tourism, clean water, and hydropower. Utilization of Wadaslintang reservoir has not been economically measured so it is necessary to study about the economic value of reservoir utilization as the basis of management effort. The study was conducted in June - July 2017 with the aim to calculate the total economic value of reservoir utilization. The method used for clean water is Contingent Valuation Method (CVM), recreation with Travel Cost Method (TCM) method, hydropower, capture fishery and KJA cultivation by Market Price Method method. Determination method of respondents for hydropower, capture fishery and floating catch cultivation using purposive sampling method, clean water using cluster sampling and recreation using acidental sampling. The results obtained economic value of Capture Fisheries Rp.493.744.000 / tahun, Economic value of floating catch cultivation Rp.1.024.612.000 / year, Economic value of Tourism Rp.426.845.468, - / year, the economic value of clean water Rp.63.018. 000 / year, and Economic Value of PLTA Rp.101.519.999.812 / year. Total economic value per year is Rp.22.778.531.066 / year.
DAMPAK SURFAKTAN BERBAHAN AKTIF NA-ABS TERHADAP DAYA TETAS TELUR IKAN KARPER (CYPRINUS CARPIO) DALAM SKALA LABORATORIUM Prahastuti, Maulina Septia; Sulardiono, Bambang; Ain, Churun
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan kualitas lingkungan disebabkan adanya bahan pencemar, contohnya limbah deterjen yang mengandung surfaktan berbahan aktif Na-ABS. Deterjen dapat memberikan dampak negatif terhadap proses kehidupan organisme di dalamnya, salah satunya proses penetasan telur ikan. Fase telur merupakan stadia yang rentan dan jauh lebih sensitif terkena pengaruh dari luar atau dari lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan adanya masukan mengenai dampak surfaktan terhadap daya tetas telur ikan karper (C. carpio). Tujuan penelitian ini adalah menentukan nilai LC50-96 jam dari deterjen berbahan aktif surfaktan jenis NA-ABS, dan mengetahui pengaruh kandungan surfaktan terhadap daya tetas telur ikan karper (C. carpio). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan karper (C. carpio) dan telurnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yang terdiri dari 3 ulangan. Tahap penelitian terdiri dari: uji pendahuluan, uji lanjut, Persiapan materi telur ikan, uji utama, perhitungan daya tetas telur, dan pengukuran variabel kualitas air. Perlakuan yang diberikan pada uji utama adalah pemberian deterjen terhadap telur ikan dengan konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan 100% dari nilai LC50-96 jam, yaitu 1,35 mg/L, 2,70 mg/L, 5,40 mg/L, 10,80 mg/L, dan 21,60 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50-96 jam surfaktan terhadap ikan karper (C. carpio) adalah 21,60 mg/L. Kualitas air selama penelitian, yaitu: suhu 24,37 ? 28,30oC, oksigen terlarut 2,37 ? 4,00 mg/L, dan pH 7. Hasil analisis data menggunakan ANOVA faktorial menunjukkan bahwa konsentrasi deterjen berpengaruh nyata terhadap daya tetas telur ikan karper (p<0,05), semakin besar konsentrasi deterjen maka persentase daya tetas telur setiap harinya semakin kecil. Pengaruh deterjen mulai terlihat jelas pada konsentrasi 5,40 mg/L dengan waktu kritis yaitu pada hari kedua.