Articles

Found 34 Documents
Search

KAJIAN FILOGENETIK IKAN TUNA (THUNNUS SPP) SEBAGAI DATA PENGELOLAAN DI PERAIRAN SEKITAR KEPULAUAN MALUKU, INDONESIA Akbar, Nebuchadnezzar; Aris, Muhammad; Irfan, Muhammad; Tahir, Irmalita; Baksir, Abdurrachman
Jurnal Kelautan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.679 KB) | DOI: 10.21107/jk.v11i2.3459

Abstract

Ikan tuna (Thunnus Spp) adalah ikan pelagis yang memilili kemampuan migrasi dan nilai komersial. Kondisi oseanografie Maluku Utara dan Ambon mendukung kelimpahan stok populasi sumberdaya. Pengetahuan filogenetik dapat membantu menunjukan hubungan evolusioner dari suatu organisme yang disimpulkan dari data morfologi dan molekuler. Tujuan penelitian untuk mengetahui filogenetik ikan tuna di perairan Maluku Utara dan Ambon. Penelitian ini menggunakan metode PCR-Sequencing. Analisis molekuler menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan primer CRK-CRE, elektroforesis. Rekonstruksi pohon filogenetik menggunakan metode Neighbor joining dan model evolusi Kimura 2-parameter dilakukan dengan aplikasi MEGA5. Hasil penelitian filogenetik menemukan terdapat empat empat clade spesies ikan tuna yang saling berbeda (tuna mata besar ; tuna sirip kuing ; tuna alalunga ; cakalang ). Jarak genetik tuna mata besar (T.obesus)  dengan tuna sirip kuning (T.albacares)  adalah 0.09, tuna mata besar (T.obesus)  dengan tuna alalunga (T.albacore) adalah 0.19, tuna sirip kuning (T.albacares)  dengan tuna alalunga (T.albacore),  sebesar 0.21,  tuna mata besar (T.obesus)  dengan tuna alalunga (T.albacore)  cakalang (K.pelamis) adalah 0.34, cakalang (K.pelamis) dengan tuna alalunga (T.albacore) adalah  0.39 dan tuna sirip kuning (T.albacares)  dengan Cakalang (K.pelamis) adalah 0.34. Semua hasil menunjukan perbedaan genetik yang signifikan, genetik spesies tuna berasal dari satu kelompok dan filogeografi memiliki batas distribusi yang nyata antar satu dengan yang lain.Kata Kunci :     Thunnus, Polymerase Chain Reaction (PCR), Pohon Filogenetik, primer CRK-CRE, , Neighbor joining, Kimura 2-parameter, jarak genetik, MEGA5, filogeografi.  ABSTRACTTuna (Thunnus Spp) is a pelagic fish that has migration capabilities and commercial value. The condition of North Maluku and Ambon oceanographies supports the abundance of resource population stocks. Phylogenetic knowledge can help show the evolutionary relationship of an organism inferred from morphological and molecular data. The aim of the study was to determine phylogenetic of tuna in the waters of North Maluku and Ambon. This study used the PCR-Sequencing method. Molecular analysis uses a polymerase chain reaction (PCR) with CRK-CRE primer, electrophoresis. Reconstruction of the phylogenetic tree using the Neighbor joining method and the Kimura 2-parameter evolution model was carried out with the MEGA5 application. The results of phylogenetic research found that there were four four different clades of tuna species (bigeye tuna; kuing fin tuna; alalunga tuna; cakalang). The genetic distance of big eye tuna (T.obesus) with yellow fin tuna (T.albacares) is 0.09, bigeye tuna (T.obesus) with tuna alalunga (T.albacore) is 0.19, yellow fin tuna (T.albacares) with tuna alalunga (T.albacore), for 0.21, big eye tuna (T.obesus) with alalunga tuna (T.albacore) cakalang (K.pelamis) is 0.34, cakalang (K.pelamis) with alalunga tuna (T.albacore) is 0.39 and yellow fin tuna (T.albacares) with Cakalang (K. pelamis) are 0.34. All results show significant genetic differences, genetic tuna species come from one group and filogeography has a real distribution boundary between one another.Keywords: Thunnus, Polymerase Chain Reaction (PCR), Phylogenetic Tree, CRK-CRE primer, Neighbor joining, Kimura 2-parameter, genetic distance, MEGA5, filogeography.
STRUKTUR KOMUNITAS EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN PESISIR SIDANGOLI KABUPATEN HALMAHERA BARAT, MALUKU UTARA Akbar, Nebuchadnezzar; Baksir, Abdurrachman; Tahir, Irmalita
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 4, No 3 (2015): DECEMBER 2015
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.869 KB) | DOI: 10.13170/depik.4.3.3052

Abstract

Abstract. Mangroves is important ecosystem in coastal. However, multiple  destructive activities to cause reduced mangrove area. The information about area and criteria of mangrove in Sidangoli coastal area, had been doing, however information ecology mangrove unexplored. This information is required to plan better conservation strategy of mangrove. The study was conducted to infer the ecology of mangrove in the Sidangoli coastal of west halmahera regency, North Mollucas. A total of location diveded by four and perform in November 2014. Mangrove sampling, done by the "spot check". The results showed that mangrove of thickness ranging from 145-750 meters and founded 11 specieses from 5 families of mangroves. The ecology analysis showed that frequency and density of mangrove founded station three. Whereas persent cover contained station four and value sicnificant analysis in all station. The mangrove vegetation analysis contained the high frequency, density and value sicnificant is Rhizopora stylosa and high persent cover Sonneratia alba.the overall observation of mangrove explaided that mangrove ecosystem enter in low/damage criteria.Keywords:  Mangroves;  Rhizopora stylosa; spot check; Sonneratia alba Abstrak. Mangrove merupakan ekosistem penting di kawasan pesisir. Tetapi, berbagai macam aktivitas yang bersifat destruktif telah menurunkan luas penyebaran lahan mangrove. Informasi tentang luas dan kriteria mangrove di kawasan pesisir Sidangoli, Kabupaten Halmahera Barat telah dilakukan. Akan tetapi informasi tentang nilai ekologi mangrove belum dilaporkan, sehingga perlu adanya kajian tentang anailsis ekologi mangrove. Informasi nilai ekologi dapat dijadikan sebagai data untuk dijadikan sebagi acuan dalam merencanakan strategi konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekologi mangrove dikawasan pesisir Sidangoli Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Lokasi penelitian dibagi menjadi empat dan penelitian dilaksanakan pada November 2014. Pengambilan contoh mangrove, di lakukan dengan menggunakan metode ?spot chek?. Hasil penelitian menunjukkan ketebalan mangrove berkisar 145-750 meter dan diperoleh sebanyak 11 jenis dari 5 famili mangrove. Analisis ekologi memperlihatkan bahwa nilai total kerapatan dan frekuensi tertinggi ditemukan pada stasiun  tiga. Sedangkan tutupan tertinggi pada stasiun empat serta nilai penting pada setiap stasiun adalah 300. Analisis vegetasi mangrove disetiap stasiun diperoleh kerapatan, frekuensi dan nilai penting jenis tertinggi adalah Rhizopora stylosa serta tutupan jenis tertinggi adalah Sonneratia alba. Total pangamatan jenis mangrove dan jumlah yang tersedia, menggambarkan kondisi ekosistem mangrove di pesisir Sidangoli masuk dalam kategori rendah/rusak.
FISH PROCESSING USING GEOTHERMAL SOURCES IN VILLAGE IDAMDEHE WEST HALMAHERA DISTRICT NORTH MALUKU PROVINCE Baksir, Abdurrachman; Daud, Kadri; Wibowo, Eko Setyabudi; Akbar, Nebuchadnezzar; Haji, Irfan
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 21 No. 3 (2018): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.863 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v21i3.24731

Abstract

Idamdehe village has geothermal potential that can be used for fish processing. However, until now the use of this potential has not been carried out optimally. Geothermal in this area is only used as a touristattraction for local people to visit. However, utilization for fisheries processing has not been carried out. This research aimed to observe the use of geothermal in fisheries processing. The research method was carried out with different treatments, including traditional and conventional methods. Fish samples used for processing were yellowstrip scad fish (Selaroides leptolepis). The results of the study showed the value of geothermal vapor temperature increased along with the increase of the depth of excavation, namely in 20 cm with a temperature value of 90oC, a depth of 30 cm with a temperature of 100oC. The process of fish processing using geothermal steam only took 30 minutes with a temperature of 100oC, while the conventional method using geothermal steam took 1 hour with a temperature of 100oC.
PEMANFAATAN SUMBER ENERGI PANAS BUMI UNTUK PENGERINGAN IKAN DI DESA IDAMDEHE KABUPATEN HALMAHERA BARAT PROVINSI MALUKU UTARA Baksir, Abdurrachman; Daud, Kadri; Wibowo, Eko S; Akbar, Nebuchadnezzar; Haji, Irfan
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 22 No. 3 (2019): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.395 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v22i3.28922

Abstract

Due to the location at the ring of fire, Indonesia has 252 geothermal potentials distributed in various regions, from Java to Nusa Tenggara, together with Sulawesi and Maluku. Geothermal points are found in North Maluku in Idamdehe Village, West Halmahera. Research on the usage of geothermal energy for fish processing in Indonesia, especially North Maluku, is very limited. Therefore, this study was aimed to use geothermal energy for fish processing using a modified oven. The sample used was the yellowstripe scad (Selaroides leptolepis). In situ measurement was done to obtain the geothermal steam temperature which is 70°C to 130°C. The experiments wewe done in 4 hours for the fish drying processed with three sets of temperature including 0°C, 50°C and 100°C. The results suggest geothermal as a promising energy souce for fish processing.
SEBARAN KONDISI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KAWASAN TELUK JAILOLO, KABUPATEN HALMAHERA BARAT. PROVINSI MALUKU UTARA Tahir, Irmalita; Paembonan, Rustam Effendi; Harahap, Zulhan A; Akbar, Nebuchadnezzar; Wibowo, Eko Setyabudi
JURNAL ENGGANO Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.747 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.2.2.143-155

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem utama di wilayah pesisir yang sangat produktif namun sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Pengelolaan ekosistem mengrove harus memperhatikan keterpaduan secara ekologis, ekonomis dan sosial-budaya masyarakat agar pengelolaan secara optimal dan lestari tercapai.  Potensi sumber daya ekosistem mangrove di Kawasan Teluk Jailolo cukup besar tetapi kondisi hutan mangrove belum terdata optimal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sebaran kondisi ekosistem hutan mangrove di kawasan Teluk Jailolo, dengan harapan agar pemanfaatan potensi ekosistem mangrove dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Metode yang digunakan dengan pendekatan teknologi penginderaan jauh dalam memperoleh data dan informasi spasial tentang kondisi ekosistem mangrove dan pengukuran langsung (survey lapangan) untuk memperoleh data sebaran dan kondisi ekosistem mangrove di kawasan pesisir Teluk Jailolo.  Berdasarkan hasil analisis data Citra Alos Avnir-2  bahwa luas mangrove yang terdapat di Teluk Jailolo adalah 393.77 ha, sebagian besar menyebar disekitar garis pantai bagian Timur Teluk Jailolo, dengan kategori tingkat kerapatan sangat jarang hingga lebat. Berdasarkan analisis NDVI diketahui bahwa luas mangrove untuk kategori sangat jarang 20.18 ha, jarang 91.97 ha, sedang 157.83 ha, dan lebat 123.79 ha
ASOSIASI DAN RELUNG MIKROHABITAT GASTROPODA PADA EKOSISTEM MANGROVE DI PULAU SIBU KECAMATAN OBA UTARA KOTA TIDORE KEPULAUAN PROVINSI MALUKU UTARA Abubakar, Salim; Kadir, Masykhur Abdul; Akbar, Nebuchadnezzar; Tahir, Irmalita
JURNAL ENGGANO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.77 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.3.1.22-38

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis asosiasi dan relung mikrohabitat gastropoda pada ekosistem hutan mangrove di Pulau Sibu Kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara. Pengambilan sampel dilakukan pada saat air surut dengan menggunakan metode line transect. Hasil penelitian diperoleh komposisi jenis-jenis gastropoda di Pulau Donrotu sebanyak 12 jenis yaitu Littrorina scabra, Littorina undulata, Turbo agryrostoma, Turbo chrysostoma, Turbo breneus, Nerita costata, Nerita planospira, Strombus luhuanus,, Cerithiidea cingulata, Telescopium telescopium, Telebralia sulcata dan Terebralia palustris. Pasangan jenis gastropoda yang diperoleh memiliki tipe asosiasi positif sebanyak 14 pasangan, asosiasi negatif sebanyak 11 pasangan  dan tidak ada asosiasi sebanyak 42 pasangan. Jenis gastropoda yang mempunyai relung habitat terlebar adalah Terebralia sulcata dan tersempit adalah Turbo chrysostomus.
PENILAIAN KOMUNITAS DAN KETERKAITAN LINGKUNGAN TERHADAP MANGROVE DI PESISIR DESA MINALULI, KECAMATAN MANGOLI UTARA, KABUPATEN KEPULAUAN SULA PROVINSI MALUKU UTARA Akbar, Nebuchadnezzar
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 17, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Program Studi Ilmu Lingkungan,Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.799 KB) | DOI: 10.14710/jil.17.3.507-514

Abstract

Ekosistem mangrove terdistribusi secara luas di wilayah pesisir desa Minaluli, Kecamatan Mangoli Utara. Ekosistem ini dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan penangkapan ikan, kepiting, udang dan gastropoda. Informasi tentang status dan kondisi lingkungan mangrove di wilayah ini belum tersedia. Tujuan penelitian untuk mengetahui kondisi komunitas dan keterkaitan parameter lingkungan terhadap mangrove. Penelitian dilaksanakan pada Juli 2018 di desa Minaluli, Kecamatan Mangoli Utara. Pengambilan data dilakukan pada empat stasiun menggunakan metode transect quadrant dan spot check. Analisis data mangrove meliputi kerapatan jenis, frekuensi jenis, tutupan, nilai penting jenis dan keanekaragaman jenis. Keterkaitan antara variabel lingkungan seperti substart, suhu, salinitas, pH air dan pH tanah dengan mangrove di menggunakan Analisis Komponen Utama (Principle Components Analysis). Hasil penelitian ditemukan tujuh jenis dari tiga famili mangrove. Ketebalan ekosistem mangrove di pesisir Desa Minaluli berdasarkan pengamatan adalah 80 meter (Stasiun I), 110 meter (Stasiun II), 60 meter (Stasiun III) dan 50 meter (Stasiun IV). Nilai kerapatan mangrove tertinggi (Stasiun I), frekuensi tertinggi (Stasiun I), tutupan tertinggi (StasiunI), Nilai penting keseluruhan stasiun 300 dan keanekaragaman tertinggi (Stasiun II). Keanekaragaman jenis masuk dalam kategori sedang. Karakteristik lingkungan mangrove memperlihatkan adanya keterkaitan antara variabel.Kata kunci : Analisis komponen utama, desa Minaluli, mangrove, lingkungan, tutupanlingkungan,
STRUKTUR KOMUNITAS HUTAN MANGROVE DI TELUK DODINGA, KABUPATEN HALMAHERA BARAT PROVINSI MALUKU UTARA Akbar, Nebuchadnezzar; Marus, Ikbal; Haji, Irfan; Abdullah, Suparto; Umalekhoa, Sabaria; Ibrahim, Fardan S; Ahmad, Muhajirin; Ibrahim, Abjan; Kahar, Alfiansyah; Tahir, Irmalita
JURNAL ENGGANO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.421 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.2.1.78-89

Abstract

Mangrove merupakan salah satu ekosistem penting di kawasan pesisir. Pemanfaatan yang berlebihan dapat menurunkan kuantitas dan kualitas ekosistem mangrove. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi ekosistem mangrove berdasarkan struktur komunitas. Pengambilan contoh mangrove, dilakukan dengan menggunakan metode transect quadrant dan “spot check”  (Bengen, 2004). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 12 spesis mangrove yang berasal dari 5 famili. Struktur vegetasi hutan mangrove menunjukan nilai tertinggi untuk kategori kerapatan terdapat pada stasiun I yakni dengan nilai 9,50 ind/ m2 dan diikuti oleh stasiun II dengan nilai 6,78 ind/ m2  serta nilai terendah terdapat pada stasiun III yaitu 6,56 ind/m2. Struktur komunitas hutan mangrove di Teluk Dodinga berdasarkan indeks ekologi (nilai kerapatan, frekuensi jenis, tutupan dan nilai penting)  cukup baik, sedangkan keanekaragaman spesies mangrove termasuk dalam kategori sedang. Secara umum  kondisi lingkungan masih sesuai dengan kriteria habibat mangrove
STATUS TERKINI KONDISI KOMUNITAS MANGROVE DI TAMAN WISATA PERAIRAN GILI MATRA, LOMBOK UTARA, NTB Dharmawan, I Wayan Eka; Akbar, Nebuchadnezzar
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.329 KB)

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki peranan yang sangat penting bagi keseimbangan ekosistem pesisir di pulau-pulau kecil. Taman Wisata Perairan (TWP) Gili Matra memiliki ekosistem mangrove yang kurang diperhatikan baik dalam penelitian atau pengelolaan kawasan. Pengelolaan kawasan difokuskan untuk pengembangan industri pariwisata. Tekanan yang meningkat pada komunitas mangrove di TWP Gili Matra menjadi pemicu penelitian ini dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi terkini komunitas mangrove di Pulau Gili Trawangan dan Pulau Gili Meno berdasarkan nilai persentase tutupan kanopi dan kondisi vegetasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi komunitas mangrove di dalam kawasan tergolong baik. Namun, simpangan data yang cukup lebar merepresentasikan mangrove di Pulau Gili Trawangan memiliki potensi penurunan kondisi di masa mendatang jika tidak dikelola lebih baik. Pengelolaan kawasan mangrove berbasis ekoturisme dan wisata edukasi layak dikembangkan dan diharapkan dapat mendukung pelestarian mangrove dalam kawasan. Kata Kunci: mangrove, pengelolaan, persentase tutupan kanopi, ekoturisme, wisata edukasi
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA TEWE, KECAMATAN JAILOLO SELATAN, KABUPATEN HALMAHERA BARAT PROVINSI MALUKU UTARA Akbar, Nebuchadnezzar; Ibrahim, Abjan; Haji, Irfan; Tahir, Irmalita; Ismail, Firdaut; Ahmad, Muhajirin; Kotta, Raismin
JURNAL ENGGANO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.489 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.3.1.81-97

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan habitat hidup serta tempat berkembang bagi biota bentik dan ikan. Aktivits dikawasan pesisir desa Tewe sangat tinggi, sehingga memberikan dampak pada ekosistem mangrove. Pemanfaatan tidak berkelanjutan memberikan pengaruh terhadap jumlah dan sebaran mangrove. Informasi tentang nilai ekologi mangrove sangat penting, guna memberikan gambaran kondisi mangrove saat ini. Pengambilan contoh mangrove, di lakukan dengan menggunakan metode transect quadrant dan spot check. Hasil penelitian diperoleh ketebalan hutan mangrove dikawasan Desa Tewe berdasarkan pengamatan adalah 412 meter (Stasiun I),  389  meter (Stasiun II), 367 meter (Stasiun III). Komposisi jenis hutan mangrove dari hasil pengamatan dan identifikasi diperoleh sebanyak 9 jenis dari 5 famili. Hasil analisis  menunjukan struktur komunitas hutan mangrove di Desa Tewe berdasarkan indeks ekologi (nilai kerapatan, frekuensi jenis, tutupan dan nilai penting)  baik, sedangkan keanekaragaman spesies masngrove termasuk dalam kategori sedang. Akan tetapi aktivitas pemanfaatan perlu mendapatkan perhatian khusus, sehingga kelestarian dan kehadiran mangrove tetap terjaga. Selain itu  perlu suatu pendekatan pada masyarakat untuk membantu memberikan informasi terhadap peran, manfaat dan juga strategi pengelolaan serta pelestarian mangrove kedepan.Kata kunci : Desa Tewe, indeks ekologi, ekosistem mangrove , spot check , transect quadrant