Muslim Akmal
Laboratorium Embriologi dan Histologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Published : 42 Documents
Articles

MEASUREMENT OF SERUM TESTOSTERONE IN KACANG GOAT BYUSING ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA) TECHNIQUE: THE IMPORTANCE OF KIT VALIDATION (PENGUKURAN TESTOSTERON SERUM KAMBING KACANG DENGAN TEKNIK ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA): PENTINGNYA VALIDASI KIT) G, Gholib; Wahyuni, Sri; Kadar, Okta Hilda; Adam, Mulyadi; Lubis, Triva Murtina; A, Azhar; Akmal, Muslim; Siregar, Tongku Nizwan; Armansyah, Teuku; Nugraha, Taufiq Purna
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 1 (2016): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i1.3367

Abstract

This study was conducted to validate a commercial testosterone enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) kits (DRG EIA-1559) inanalytic and biological manner for measuring serum testosterone concentrations in kacang goats. This study used 18 healthy kacang goats, six bucks ( 2 years), six kids ( 6 months), and six does ( 2 years). Blood samples were collected from jugular vein and prepared as serum. Two validation tests were performed, an analytical validation comprises a parallelism, accuracy, precision and sensitivity and a biological validation by comparing testosterone concentration from bucks, kids, and does. Testosterone concentrations were measured using ELISA technique. Data of analytical validation were analyzed descriptively and test of equality of slope was performed to see the parallelism between samples and standard curves. Analysis of variance (ANOVA) was used for biological validation data. Results of parallelism showed that sample curve was parallel to the standard curve. Accuracy, precision (% CV of intra-and inter-assay) and sensitivity of the assay were 99.65±4.27%, 10%, 15% and 0.083 ng/ml, respectively. Results of biological validation showed that the assay used were accurately measured testosterone which testosterone concentrations in bucks were significantly higher compared to kids and does (P 0.05). In conclusion, a commercial testosterone ELISA kits (DRG EIA-1559) is a reliable assay for measuring serum testosterone concentration in kacang goats. Key words: analytical and biological validations, ELISA, testosterone, kacang goat
PERBANDINGAN INTENSITAS BERAHI SAPI ACEH YANG DISINKRONISASI DENGAN PROSTAGLANDIN F2 ALFA DAN BERAHI ALAMI Hafizuddin, Hafizuddin; Siregar, Tongku Nizwan; Akmal, Muslim; Melia, Juli; rizal, Husnur; Armansyah, Teuku
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.296

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan intensitas berahi sapi aceh antara yang disinkronisasi berahi dengan prostaglandin F2 alfa (PGF2?) dan berahi alami. Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor sapi aceh betina yang dibagi atas dua kelompok. Kriteria sapi yang digunakan adalah umur 5-8 tahun, mempunyai bobot badan 150-250 kg, dan mempunyai minimal dua siklus reguler. Sapi yang digunakan mempunyai skor kondisi tubuh dengan kriteria baik, yaitu 3 atau 4 pada skala skor 5. Pada Kelompok I (KI) sapi disinkronisasi berahi mengunakan PGF2? sebanyak 5 mg/ml secara intramuskular. Pada kelompok II (KII) sapi dibiarkan memperlihatkan gejala berahi alami. Penilaian intensitas berahi dilakukan dengan memberi skor 1, 2, dan 3, berdasarkan kriteria yang dibuat oleh Kune dan Solihati (2007). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan intensitas berahi sapi aceh baik yang disinkronisasi berahi dengan PGF2? dan sapi yang mengalami berahi alami dengan skor intensitas berahi masing-masing adalah 2,40±0,84 dan 2,70±0,48.
PEMBERIAN EKSTRAK VESIKULA SEMINALIS MENINGKATKAN KUALITAS SPERMATOZOA TETAPI TIDAK MEMENGARUHI KONSENTRASI SPERMATOZOA DAN TESTOSTERON TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) Nizwan Siregar, Tongku; Akmal, Muslim; Wahyuni, Sri; Tarigan, Hermawaty; M, Mulyadi; Nasution, Idawati
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 2 (2014): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i2.2620

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak vesikula seminalis terhadap kualitas spermatozoa dan konsentrasi testosteron tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor tikus putih jantan dewasa, galur Wistar, berumur 3 -4 bulan, berat badan 250-300 g dan dibagi menjadi 4 kelompok (K1, K2, K3, dan K4), masing-masing kelompok berturut-turut diberikan 0,2 ml NaCl fisiologis, 25 ?g cloprostenol, 0,2 ml ekstrak vesikula seminalis (EVS), dan 0,4 ml EVS secara intraperitoneal. Pada akhir perlakuan, seluruh tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis. Selanjutnya, kauda duktus epididimis dinekropsi untuk dikoleksi spermatozoanya. Pemeriksaan kualitas spermatozoa, meliputi motilitas dan konsentrasi spermatozoa. Pemeriksaan konsentrasi testosteron serum darah dilakukan menggunakan teknik enzymelinked immunosorbant assay (ELISA). Motilitas dan konsentrasi (x10 6 ) spermatozoa pada kelompok K1; K2; K3; dan K4 masingmasing adalah 3,00±0,00; 3,20±0,28; 2,00±0,86; dan 3,20±0,28 dan 146,60±71,90; 187,80±60,80; 124,20±64,70; dan 129,40±27,07. Konsentrasi testosteron pada kelompok K1; K2; K3; dan K4 masing-masing adalah 5,53+1,75; 4,68+4,56; 2,51+1,33; dan 2,40+1,60 ng/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EVS mampu meningkatkan motilitas spermatozoa tetapi tidak memengaruhi konsentrasi spermatozoa dan testosteron serum darah tikus putih.
Gambaran histologis folikel ovarium sapi aceh pascavitrifikasi menggunakan etilen glikol Sayuti, Arman; Hidayah, Jamilatun; Akmal, Muslim; Panjaitan, Budianto
ARSHI Veterinary Letters Vol 3, No 1 (2019): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.3.1.3-4

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran histologis folikel ovarium sapi aceh pasca vitrifikasi menggunakan etilen glikol (EG) dengan berbagai konsentrasi berbeda yaitu 10%, 20% dan 30%. Phosphate buffered saline (PBS), 0.25 M sukrosa, 0.5 M sukrosa dan krioprotektan EG digunakan sebagai larutan vitrifikasi. Ovarium dipaparkan dengan larutan mengandung krioprotektan EG konsentrasi 10%, 20%, dan 30% selama 5 menit masing-masing pada suhu kamar, dikemas dalam straw, lalu divitrifikasi dalam nitrogen cair (-196 ⸰C), dan thawing dalam air pada 37 ⸰C. Kondisi normal dan keutuhan folikel pascavitrifikasi diamati secara histologi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ovarium setelah vitrifikasi dengan EG 10% dan 20% memperlihatkan presentase keutuhan folikel 32.83% dan 45.04%, sedangkan EG 30% memperlihatkan presentase tertinggi yaitu 54.96%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa EG 30% lebih baik dalam mempertahankan keutuhan folikel ovarium sapi aceh dibandingkan dengan EG 10%  dan 20%.
SUPLEMEN BUNGKIL INTI SAWIT TEPUNG DAUN KATUK BERPOTENSI MENINGKATKAN KUALITAS SPERMATOZOA PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA Akmal, Muslim; Reza Ferasyi, Teuku; Budiman, Hamdani; R, Razali; A, Azhari; A, Anwar; Aji Pamungkas, Fitra; Nasution, Saddat; Armansyah, T.; Hambal, Muhammad; S, Syafruddin; Sayuti, Arman
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 2 (2014): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i2.2638

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian suplemen bungkil inti sawit (BIS), tepung daun katuk (KAT), dan kombinasi bungkil inti sawit dan tepung daun katuk (BISKAT) terhadap peningkatan kualitas spermatozoa kambing jantan peranakan Ettawa (PE). Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor kambing jantan PE, berumur 1,5 tahun dengan berat badan antara 15 -20 kg dan dibagi atas empat kelompok yakni P0, P1, P2, dan P3 yang masing-masing diberi akuades, BIS 100 g/hari/ekor, kombinasi BIS 100 g/hari/ekor dan KAT 15 g/hari/ekor, dan KAT 15 g/hari/ekor. Pemberian perlakuan dilakukan selama 35 hari. Pada hari ke-36 dilakukan kastrasi dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan kualitas spermatozoa yang meliputi motilitas, viabilitas, integritas membran, dan abnormalitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplemen kombinasi BISKAT dapat meningkatkan motilitas, viabilitas, integritas membran, dan menurunkan abnormalitas spermatozoa dibanding kelompok kontrol. Disimpulkan bahwa pemberian suplemen kombinasi BISKAT berpotensi meningkatkan kualitas spermatozoa kambing PE.
INHIBIN B: KANDIDAT KONTRASEPSI PRIA BERBASIS HORMON PEPTIDA Akmal, Muslim; a, Aulanni'am; Widodo, Muhammad Aris; B. Sumitro, Sutiman; Purnomo, Basuki B.
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 5, No 1 (2011): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v5i1.391

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B sebagai kandidat kontrasepsi pria berbasis hormon peptida terhadap berat badan, berat dan panjang testis, dan duktus epididimis. Sebanyak 24 ekor tikus (Rattus novergicus) jantan strain Wistar berumur 4 bulan dengan berat badan 150-200 g dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu kontrol (KO), KI, KII, dan KIII. Kelompok kontrol, tikus hanya diinjeksi dengan 0,1 ml PBS tanpa inhibin B; Kelompok KI, KII, dan KIII tikus diinjeksi dengan 25, 50, dan 100 pg inhibin B/ekor. Injeksi dilakukan secara intra peritoneal sebanyak 5 kali dengan selang waktu 12 hari selama 48 hari. Injeksi pertama, isolat inhibin B dilarutkan dalam PBS sebanyak 0,05 ml dan diemulsikan dengan 0,05 ml Freud's complete adjuvant (FCA). Pada injeksi kedua, ketiga, keempat, dan kelima menggunakan inhibin B dalam PBS 0,05 ml dan diemulsikan dengan 0,05 ml Freud's incomplete adjuvant (FICA). Pada hari keenam setelah injeksi terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis setelah terlebih dahulu dilakukan penimbangan berat badan. Berat testis dan duktus epididimis ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik, sedangkan diameter dan panjang testis dan duktus epididimis diukur dengan menggunakan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (P 0,05) antara kelompok kontrol dan perlakuan terhadap berat badan, berat, panjang, dan diameter testis dan duktus epididimis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa inhibin B berpotensi dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria berbasis hormon peptida yang aman dan reversible.
KARAKTERISTIK SEMEN DAN KOMPOSISI KIMIA PLASMA SEMINALIS SAPI ACEH YANG DIPELIHARA DI BIBD SAREE ACEH BESAR Zulyazaini, Zulyazaini; Dasrul, Dasrul; Wahyuni, Sri; Akmal, Muslim; Abdullah, Mohd. Agus Nashri
Jurnal Agripet Vol 16, No 2 (2016): Volume 16, No. 2, Oktober 2016
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jts.v%vi%i.5803

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik dan komposisi plasma semen sapi aceh. Sampel semen dikoleksi dari 2 ekor sapi aceh jantan sehat berumur 3,0-3,5 tahun menggunakan vagina buatan. Koleksi semen dilakukan satu kali dalam seminggu selama enam minggu. Evaluasi karakteristik semen meliputi volume, warna, konsistensi, pH, konsentrasi spermatozoa, motilitas, viabilitas, abnormalitas spermatozoa dan komposisi kimia plasma semen. Data kualitas dan komposisi kimia plasma semen yang diperoleh dianalisa secara diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan semen segar sapi aceh memiliki volume 3,82 ± 0,47 ml, warna krem keputihan, konsistensi kental, pH 6,84 ± 0,17, konsentrasi 1194 ± 4,80 × 106sp/ml, persentase motilitas 77,28 ± 3,17 % dan abnormalitas 5,98 ± 1,77%. Plasma seminalis semen segar sapi aceh mengandung protein total sebanyak 1,51 ± 0,21 g/100ml, Kalium 75,80 ± 22,63 mg/100 ml dan Magnesium 32,30 ± 17,64 mg/100 ml lebih tinggi, tetapi Natrium 170,00 ± 81,60 mg/100 ml; kalsium 40,00 ± 12,76 mg/100 ml, Fosfor 16,70 ± 6,17 mg/100 ml, dan Mangan 7,08 ± 2,48 mg/100 ml lebih rendah dibandingkan dengan sapi potong. Secara umum kuantitas dan komposisi plasma seminalis semen sapi aceh yang dihasilkan cukup baik, dan memenuhi syarat untuk diproses sebagai semen beku. (The characteristics of semen and chemical composition of the seminal plasma of aceh cattle maintaned in BIBD Saree Aceh Besar) ABSTRACT. This study aim were to determine characteristics and composition of semen plasma Aceh cattle. Semen samples were collected from two healthy Aceh bulls that aged from 3.0 to 3.5 year. Samples were yielded by using an artificial vagina. Samples collecting were conducted once a week for six consecutive weeks. The evaluation of semen characteristics includes volume, color, consistency, pH, sperm concentration, motility, viability, abnormal spermatozoa and seminal plasma chemical composition. Data of semen quality and chemical composition of seminal plasma were analyzed descriptively. The evaluation showed that Aceh Cattle semen had 3.82 ± 0.47 ml volume, beige whitish color, thick consistency, 6.84 ± 0.17 pH, 1194 ± 4.80×106 sp/ml sperm concentration, 77.28 ± 3.17% motility and 5.98 ± 1.77% abnormal spermatozoa. Plasma seminalis fresh semen of Aceh Cattle contained 1,51 ± 0,21 g/100ml total protein; 75,80 ± 22,63 mg/100ml potassium and 32,30 ± 17,64 mg/100ml magnesium higher than the heifer, but 170,00 ± 81,60 mg/100ml sodium; 40,00 ± 12,76 mg/100ml calcium, 16,70 ± 6,17 mg/100ml fosfor, and 7,08 ± 2,48 mg/100ml mangan lower. It was concluded that quality and composition of seminal plasma Aceh cattle semen could be made as frozen semen.
INHIBIN B MENURUNKAN KONSENTRASI FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH) PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS): UPAYA PENGEMBANGAN KONTRASEPSI HORMON PRIA BERBASIS PEPTIDA Akmal, Muslim; A, Aulanni?am; Widodo, M. Aris; Sumitro, Sutiman B.; Purnomo, Basuki B.; Siregar, Tongku Nizwan; Hambal, Muhammad; A, Amiruddin; S, Syafruddin; Aliza, Dwinna; Sayuti, Arman; Adam, Mulyadi; Armansyah, T.; Rahmi, Erdiansyah
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i1.2788

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B terhadap penurunan konsentrasi follicle stimulating hormone (FSH) di dalamserum pada tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 24 ekor tikus putih berjenis kelamin jantan dengan strain Wistar berumur 4 bulan dengan bobot badan 150-200 g. Tikus-tikus dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu KK0, KP1, KP2, dan KP3, masing-masing kelompok terdiri atas 6 ekor. Kelompok KK0 merupakan kelompok kontrol hanya diinjeksi dengan phosphate buffer saline (PBS), sedangkan kelompok KP1, KP2, dan KP3 diinjeksi dengan inhibin B dengan dosis berturut-turut 25, 50, dan 100 pg/ekor. Injeksi inhibin B dilakukan secara intraperitoneum sebanyak 5 kali selama 48 hari dengan interval waktu 12 hari. Injeksi pertama inhibin B dilarutkan dengan0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud?s complete adjuvant (FCA). Injeksi kedua sampai kelima, inhibin B dilarutkan dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud?s incomplete adjuvant (FICA). Pada hari ke-6 setelah injeksi inhibin B terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis,lalu darah dikoleksi langsung dari jantung dan didiamkan hingga didapatkan serum untuk pemeriksaan konsentrasi FSH dengan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi inhibin B dengan dosis 100 pg/ekor menurunkan konsentrasi FSH secara nyata (P 0,05) bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan hal tersebut, inhibin B berpeluang untuk dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria hormon berbasis peptida.
EFEK PAPARAN DEKOK BIJI PINANG (ARECA CATECHU) TERHADAP MOTILITAS SPERMATOZOA TIKUS (RATTUS NORVEGICUS): UPAYA MENEMUKAN KANDIDAT ANTIFERTILITAS PRIA (THE EFFECT OF BETEL NUT EXTRACT (ARECA CATECHU) ON MICE SPERMATOZOA MOTILITY (RATTUS NORVEGICUS: EFFORT TO FIND OUT MAN ANTIFERTILITY CANDIDATE) Akmal, Muslim
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 2, No 2 (2008): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v2i2.3829

Abstract

This research was conducted to prove the ability of betel nut extract (Areca catechu) in causingdegradation of sperm motility on rats (Rattus norvegicus) strain Wistar. This research used 2-3 monthsage, 200-250 g body weight of male white rats Rattus norvegicus strain Wistar. The rats were dividedinto 5 groups in equal number, 3 rats each group. They were a control group without treatment and 4treatment groups which were given different doses of betel nut extract for 7 days, i.e., 1, 2, 3, and 4 g/200g body weight respectively. The result showed that increasing doses of betel nut extract can result indegradation of sperm motility significantly (P 0.05).Keywords: Areca catechu, Rattus norvegicus, sperm motility
THE EFFECT OF THE FOLLICLE SIZE AND FOLLICLE NUMBER PER OVARY ON OOCYTE QUALITY OF LOCAL GOAT Sayuti, Arman; Siregar, Tongku Nizwan; Akmal, Muslim; H, Hamdan; H, Hamdani
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 1, No 1 (2007): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v1i1.3120

Abstract

This research was aimed to find out the relationship between the diameter of follicle and thedifferent of follicle number on oocyte quality of local goat. The oocyte originated from the ovary was takenfrom the Slaughterhouse in Banda Aceh. The ovary was aspirated in the Histology Laboratory ofVeterinary Medicine Faculty of Syiah Kuala University, Banda Aceh. This experiment consisted of twostages, the follicles were selected and divided into 3 groups according to their diameter size. The smalldiameter size 2 mm, medium size 2-5 mm, and big size 5 mm. The second, the ovaries were dividedinto three groups based on number of follicle, i.e; 1(?5; 2(6-10); and 3 (?11). The diameters of oocytetaken from the three groups of follicle size were measured by using eyepiece micrometer, while the oocytemorphology was categorized into 4 groups. The result of regression data indicated that the biggest folliclediameter yielded the oocyte that had bigger diameter, too. The model of regression is y = 0.955 + 0.157x, y is the diameter of oocyte and x is the diameter of follicle. The close relationship (r) between the diameter offollicle and the diameter of oocyte was 0.967. There are significant differences (P 0.05) between the size offollicle and the morphology of oocyte. The oocytes originated from larger follicle tend to have bettermorphological appearance than the oocyte originated from smaller follicle.Keywords: oocyte, follicle
Co-Authors -, Aulanni?am A Gani, Fadli a, Aulanni'am a, Aulanni?am Abdul Harris Agik Suprayogi Al Azhar Amiruddin A Andi Novita Anwar A, Anwar Arman Sayuti Armansyah, TR, T. Athaillah, Farida Azhar A, Azhar Azhari A Basuki B. Purnomo Boni Anggara, Boni budianto panjaitan Chanif Mahdi Cut Dahlia Iskandar Cut Nila Thasmi, Cut Nila Darmayanti, Susi Dasrul Dasrul Desfariza, Chintya Dewi Ratna Sari Dian Masyitah, Dian Dwinna Aliza Eka Meutia Sari Erdiansyah Rahmi Fitra Aji Pamungkas, Fitra Fitriani Fitriani Flaggellata, Patrick Gholib G, Gholib Gholib Gholib, Gholib Ginta Riady Hafizuddin ., Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin, Hafizuddin Hamdan - Hamdan h Hamdan Hamdan Hamdani Budiman Hamdani H, Hamdani Hamny H, Hamny Hamny Hamny Hermawaty Tarigan, Hermawaty Hidayah, Jamilatun hidayat, nikhofebri Husmimi, Husmimi Husnur rizal husnurrizal, husnurrizal Husnurrizal, Husnurrizal I Ketut Mudite Adnyane I. Ketut Mudite Adnyane, I. Ketut Mudite Idawati Nasution Iqwal, Yuza Al Ismail Ismail Joharsyah J, Joharsyah Juli Melia Listin Handayani, Listin M Nur Salim, M Nur M. Aris Widodo Mahdi Abrar Mohd. Agus Nashri Abdullah Muhammad Agil Muhammad Aris Widodo Muhammad Hambal Muhammad Jalaluddin, Muhammad Muhammad Toras, Muhammad Mulyadi Adam, Mulyadi Mulyadi M, Mulyadi murtina lubis, triva Mustafa Sabri Nanda Yuliansyah, Nanda nengsih, nadya septia Nuzul Asmilia Okta Hilda Kadar, Okta Hilda Putra, Regi R.Wisnu Nurcahyo Rahmandi r Rastina, Rastina Razali R Razali Razali rina aulia barus Rinidar -, Rinidar Rinidar R, Rinidar Roslizawaty r Rusli -, Rusli Saddat Nasution, Saddat Sariadi Sariadi Sri Wahyuni Srihadi Agungpriyono Sugito s Sugito Sugito Sumartono . Suriadi S, Suriadi Sutiman B. Sumitro Sutiman B. Sumitro Syafruddin s Syafruddin Syafruddin T. Armansyah T. Reza Ferasyi, T. Reza Tanjung, Satria Taufiq Purna Nugraha, Taufiq Purna Teuku Armansyah Teuku Reza Ferasyi Teuku Reza Ferasyi, Teuku Tongku N Siregar Tongku N. Siregar, Tongku Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar Triva Murtina Lubis TUTY LASWARDI YUSUF Wahono Esthi Prasetyaningtyas Wahyu Sihombing, Wahyu Wibi Riawan yunanda, Ade widya Zainuddin Z Zainuddin Zainuddin Zuhrawati Zuhrawati, Zuhrawati Zulyazaini, Zulyazaini