Articles

Found 37 Documents
Search

RESPONS BEBERAPA VARIETAS PADI (ORYZA SATIVA L.) TERHADAP WERENG BATANG COKLAT (NILAPARVATA LUGENS STALL) KOLONI KARAWANG Darmadi, Dedi; Alawiyah, Tuti
Agrikultura Vol 29, No 2 (2018): Agustus, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i2.19249

Abstract

ABSTRACTResponse of rice varieties (Oryza sativa L.) to brown planthopper (Nilaparvata lugens Stall) of Karawang coloniesThe research was conducted to determine the resistant level of several rice varieties (Oryza sativa L.) against brown planthopper (Nilaparvata lugens Stall) Karawang colony. The experiment was done at the Entomology Laboratory of Pest Forcesting Institute, Jatisari, Directorate General of Food Crops, Ministry of Agriculture. It was conducted from February to June 2017. The resistant of rice varieties against brown planthopper was tested using honey dew test method with bromocressol green as indicator. Honey dew test method is one of methods to evaluate rice variety reaction against brown planthopper population origin of certain area. This is due to the production of honey dew by brown planthopper which positively correlated with the amount of liquid being drawn from the plant. This study used Duncan Test on 5% level. The result demonstrated the variation of rice resistant against brown planthopper based on the area of honey dew spot, brown planthover mortality, attacks intensity, the destruction level on plant, and the rice yield. Inpari 13 was the most toleranct rice variety against the infestation of brown planthopper of Karawang colony.Keywords: Brown planthopper, Honey dew, Paddy, Resistance, VarietiesABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat ketahanan varietas padi (Oryza sativa L.) terhadap wereng batang coklat (Nilaparvata lugens Stall) koloni Karawang. Penilitian dilaksanakan di Laboratorium Entomologi Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. Penelitian berlangsung dari Bulan Februari sampai Bulan Juni 2017. Pengujian ketahanan varietas padi terhadap wereng batang coklat dilakukan dengan menggunakan metode uji embun madu (honeydew test) dengan memakai indicator bromocressol green. Metode uji embun madu merupakan salah satu metode untuk mengevaluasi reaksi suatu varietas terhadap populasi wereng batang coklat yang berkembang di suatu wilayah tertentu, karena jumlah embun madu yang dikeluarkan oleh wereng batang coklat mempunyai hubungan yang positif dengan jumlah cairan tanaman yang dihisap. Uji lanjut yang digunakan adalah uji lanjut Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat variasi ketahanan antar varietas padi yang diuji dilihat dari luas bercak embun madu yang dihasilkan pada masing-masing varietas padi, mortalitas wereng batang coklat, intensitas serangan, tingkat kerusakan tanaman, dan bobot hasil panen padi. BErdasarkan parameter tersebut di atas, Inpari 33 merupakan varietas padi yang tahan terhadap serangan wereng batang coklat koloni Karawang.Kata kunci : Embun madu, Ketahanan, Padi, Varietas, Wereng batang coklat
PEMBELAJARAN ENSAMBEL MUSIK DI SMP NEGERI 02 SUNGAI AUA KABUPATEN PASAMAN BARAT Alawiyah, Tuti; Lumbantoruan, Jagar
SENDRATASIK UNP Vol 8, No 2 (2019): Seri A Desember 2019
Publisher : FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakThe study aims to describe the learning of musical ensembles in SMP Negeri 02 Sungai Aua, Pasaman Barat Regency. The type of research was qualitative with using descriptive analysis method. The object of this research were students and teacher in SMP Negeri 02 Sungai Aua, Pasaman Barat Regency in teaching and learning activities of cultural art (music art) with using a recording instrument which were involving 20 students of calss VII 2 in odd semester 2019/2020. This research instrument was the research. Techniques of data collection were done by conducting observations, library studies, document studies, interviews.Based on results of this study, it was concluded that the learning of the recorder ensemble is done well, but the results are not good. It is seen in term of the making and preparation of lesson plan by the teacher and found a mismatch between basic competencies with the formulation of learning objectives that must be achieved by the students. Furthermore, the subject material is not in accordance with fact, concept and procedure. The teacher does not apply the methods, strategies, approaches, techniques properly. In playing musical instrument, the teacher does not revise or correct mistakes that are made by the students in the learning of the recorder which is about fencing, blowing or both at once. The teacher does not do tone training in the interval because the teacher only often trains the students with sequential scales. It can be proven by the results of the daily practice test evaluation, the students scores are obtained 80 which based on the SKBM there are 9 of 20 students who have completed. It means that the total percentage of completeness obtained in class VII 2 is 49%. Kata Kunci: Ensamble, muzik, recorder. 
Meningkatkan Prestasi Belajar PPKn. Pada Materi Memahami Hak Dan Kewajiban Sebagai Warga Negara Melalui Pendekatan Probing Prompting Learning Alawiyah, Tuti; Akrom, Akrom
Jurnal keilmuan dan Kependidikan dasar Vol 8 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi karena prestasi belajar siswa yang rendah, nilai rata-rata siswa yaitu di bawah 50,00. Sedangkan nilai kriteria ketuntasan  minimalnya yaitu 65. Hal ini disebabkan karena siswa kurang menguasai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, kemudian aktivitas siswa masih terpusat pada guru, begitu juga siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi hak dan kewajiban sebagai warga negara menggunakan pendekatan probing prompting learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketuntasan belajar pada kegiatan siklusI ada peningkatan yaitu 33.33%. Hal ini dapat terlihat dari keaktifan siswa dalam kegiatan belajar. Sedangkan pada kegiatan siklus II juga terjadi peningkatan dari siklus I yaitu hampir 100%, sehingga prestasi belajar siswa dapat mencapai ketuntasan belajar. Dengan demikian dalam pembelajaran PPKn pada materi memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara dengan menggunakan pendekatan probing prompting learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di kelas IV.
Religious non-governmental organizations and philanthropy in Indonesia Alawiyah, Tuti
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : State Institute of Islamic Studies (STAIN) Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religious non-governmental organizations (RNGOs) and philanthropic activitiesin Indonesia have a long history. They existed prior to the creation of the nationstate. Social, political and economic changes in this country have influenced thedevelopment of non-profit organizations for more than sixty years after the Inde-pendence of the Republic Indonesia in 1945. Modernization and developmentprojects during the President Suharto era influenced the development of Non-governmental organizations (NGOs). In more recent years, RNGOs have largelydeveloped as a response to the socio-economic crisis after the downfall of Presi-dent Suharto regime. Discovering the dynamics of RNGOs in a broader context ofnon-profit organizations in Indonesia provides insights into the strengths andweaknesses of philanthropic activism in recent years. An historical overview ofnon-profit organizations, legal structures, functions, and financial resources areamong the themes that are described in this paper.Organisasi Agama Non Pemerintah (RNGOs) dan kegiatan filantropi di Indonesiamemiliki sejarah yang panjang. Mereka ada sebelum penciptaan negara bangsa.Perubahan  sosial,  politik  dan  ekonomi  di  negara  ini  telah  memengaruhiperkembangan organisasi nirlaba selama lebih dari enam puluh tahun setelah Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Modernisasi dan pembangunanproyek-proyek  selama  era  Presiden  Soeharto  memengaruhi  perkembanganorganisasi non-pemerintah (LSM). Dalam tahun-tahun terakhir, RNGOs sebagianbesar telah dikembangkan sebagai tanggapan terhadap krisis sosial-ekonomisetelah jatuhnya rezim Presiden Soeharto. Menemukan dinamika RNGOs dalamkonteks yang lebih luas dari organisasi nirlaba di Indonesia memberikan wawasanke dalam kekuatan dan kelemahan dari aktivisme filantropi dalam beberapa tahunterakhir. Sebuah gambaran sejarah organisasi non-profit, struktur hukum, fungsi,dan  sumber  daya  keuangan  adalah  salah  satu  tema  yang  dijelaskan  dalammakalah ini
PENERIMAAN INFORMASI MELALUI DIGITAL TALKING BOOK OLEH SISWA TUNANETRA Alawiyah, Tuti
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 21 No. 1, Juni 2017
Publisher : Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.984 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v21i1.268

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana penerimaan informasi melalui media pembelajaran digital talking book untuk siswa tunanetra. Penerimaan informasi pada intinya adalah mengubah pesan ke dalam bentuk yang dapat digunakan untuk memandu perilaku manusia. Proses penerimaan informasi terdiri dari tiga elemen, yaitu penyeleksian informasi, interpretasi informasi, dan retensi informasi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus. Informan adalah salah satu siswa tunanetra di MTsN 19 Jakarta. Sekolah ini adalah salah satu sekolah inklusi, sekolah yang memberikan layanan pendidikan yang menyertakan semua anak termasuk siswa berkebutuhan khusus, salah satunya siswa tunanetra dengan metode pembelajaran yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan informasi melalui digital talking book di kalangan siswa tunanetra mempunyai tantangan tersendiri. Dalam tahapan penyeleksian informasi, informan menggunakan sumber informasi dari braille dan digital talking book secara bergantian sesuai dengan kebutuhan. Perbedaan cara mengakses dari braille (indera peraba) menjadi digital talking book (indera pendengaran) menjadi persoalan tersendiri. Selain itu, dibutuhkan kemampuan khusus untuk menguasai tombol-tombol navigasi pada alat pemutar digital talking book. Dalam tahapan interpretasi informasi, informan menafsirkan konten digital talking book dibantu dengan catatan dalam huruf braille. Dalam tahapan retensi memori, informan mampu mengingat secara baik informasi yang bersifat sementara, seperti kata-kata istilah, angka-angka, dan penjelasan tentang definisi, namun memiliki keterbatasan untuk memori jangka panjang sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan informasi, di antaranya tujuan, cara bagaimana pesan itu disampaikan, dan peran keluarga. Dalam proses penerimaan informasi melalui digital talking book, pilihan untuk tetap menggunakan braille cukup tinggi. Kecenderungan informan untuk memilih untuk menggunakan braille dibandingkan dengan digital talking book karena dianggap lebih mudah, ekonomis, dan cepat, merasa berinteraksi langsung dengan tulisan, dan  indera peraba dapat optimal digunakan sehingga mengingat lebih cepat.
RELIGIOUS NON-GOVERNMENTAL ORGANIZATIONS AND PHILANTHROPY IN INDONESIA Alawiyah, Tuti
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v3i2.203-221

Abstract

Religious non-governmental organizations (RNGOs) and philanthropic activitiesin Indonesia have a long history. They existed prior to the creation of the nationstate. Social, political and economic changes in this country have influenced thedevelopment of non-profit organizations for more than sixty years after the Inde-pendence of the Republic Indonesia in 1945. Modernization and developmentprojects during the President Suharto era influenced the development of Non-governmental organizations (NGOs). In more recent years, RNGOs have largelydeveloped as a response to the socio-economic crisis after the downfall of Presi-dent Suharto regime. Discovering the dynamics of RNGOs in a broader context ofnon-profit organizations in Indonesia provides insights into the strengths andweaknesses of philanthropic activism in recent years. An historical overview ofnon-profit organizations, legal structures, functions, and financial resources areamong the themes that are described in this paper.Organisasi Agama Non Pemerintah (RNGOs) dan kegiatan filantropi di Indonesiamemiliki sejarah yang panjang. Mereka ada sebelum penciptaan negara bangsa.Perubahan  sosial,  politik  dan  ekonomi  di  negara  ini  telah  memengaruhiperkembangan organisasi nirlaba selama lebih dari enam puluh tahun setelah Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Modernisasi dan pembangunanproyek-proyek  selama  era  Presiden  Soeharto  memengaruhi  perkembanganorganisasi non-pemerintah (LSM). Dalam tahun-tahun terakhir, RNGOs sebagianbesar telah dikembangkan sebagai tanggapan terhadap krisis sosial-ekonomisetelah jatuhnya rezim Presiden Soeharto. Menemukan dinamika RNGOs dalamkonteks yang lebih luas dari organisasi nirlaba di Indonesia memberikan wawasanke dalam kekuatan dan kelemahan dari aktivisme filantropi dalam beberapa tahunterakhir. Sebuah gambaran sejarah organisasi non-profit, struktur hukum, fungsi,dan  sumber  daya  keuangan  adalah  salah  satu  tema  yang  dijelaskan  dalammakalah ini
KENDALA GURU DALAM MENERAPKAN PENILAIAN AUTENTIK DI SD KABUPATEN PIDIEKENDALA GURU DALAM MENERAPKAN PENILAIAN AUTENTIK DI SD KABUPATEN PIDIE Alawiyah, tuti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol 1, No 1 (2016): wisuda tahun 2016
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.333 KB)

Abstract

                                                        ABSTRAK       Dalam konteks persoalan penilaian autentik, yang dapat dilakukan oleh guru adalah menerapkan penilaian autentik. Penelitian ini berupaya mengungkapkan kendala guru dalam menerapkan penilaian autentik di SD Kabupaten Pidie. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) penerapan penilaian autentik di SD kabupaten Pidie, (2) kendala guru dalam menerapkan penilaian autentik di SD kabupaten Pidie, dan (3) upaya apa untuk mengatasi kendala guru dalam menerapkan penilaian autentik di SD kabupaten Pidie.            Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik observasi (pengamatan) yang diteapakan adalah teknik berpartisipasi (non-participant observation). Dalam melakukan observasi (pengamatan), peneliti bertindak sebagai pengamat penuh tanpa terlibat dalam menerapkan penilaian autentik. Selain itu didukung dengan teknik wawancara, teknik wawancara adalah dengan mewawancarai 15 orang guru kelas. Agar data hasil wawancara dapat terpercaya, peneliti menggunakan alat bantu perekam berupa alat tulis dan media elektronik seperti HP. Peneliti juga mengambil dokumen dari guu berupa RPP, rekap penilaian siswa serta rekapitulasi hasil rapor. Selanjutnya seluruh datadiolah dengan tahapan anlisis data kualitatif yaitu reduksi data, model data (data display), penarikan/verifikasi kesimpulan dan triangulasi, yakni teknik pemeriksaan keabsahan satuan data dengan memanfaatkan parameter satuan data yang lain. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2016.            Berdasarkan hasil analisis data, temuan peneliti ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, kendala yang dialami oleh guru-guru di SD Kabupaten Pidie adalah banyaknya aspek yang harus dinilai dalam penilaian Kurikulum 2013. Kedua, penilaian dilakukan bersamaan dengan proses pembelajaran, sehingga membuat proses belajar mengajar menjadi kurang efektif. Ketiga, guru merasa terbebani karena harus menjumlahkan setiap nilai yang diperoleh siswa secara keseluruhan lalu mendeskripsikan nilai yang didapat tersebut per mata pelajaran.            Simpulan penelitian ini adalah Penilaian Auntentik dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan meliputi seluruh aspek domain penilain. Penilaian ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. Untuk mengatasi kendala tersebut diharapkan ruang lingkup pada penilaian dapat diperkecil. Dan guru-guru berharap Pemerintah memberikan pelatihan yang lebih dalam lagi kepada guru-guru yang belum memahami Kurikulum 2013.       Kata Kunci: Kendala, Penilaian Autentik                                                        ABSTRAK       Dalam konteks persoalan penilaian autentik, yang dapat dilakukan oleh guru adalah menerapkan penilaian autentik. Penelitian ini berupaya mengungkapkan kendala guru dalam menerapkan penilaian autentik di SD Kabupaten Pidie. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) penerapan penilaian autentik di SD kabupaten Pidie, (2) kendala guru dalam menerapkan penilaian autentik di SD kabupaten Pidie, dan (3) upaya apa untuk mengatasi kendala guru dalam menerapkan penilaian autentik di SD kabupaten Pidie.            Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik observasi (pengamatan) yang diteapakan adalah teknik berpartisipasi (non-participant observation). Dalam melakukan observasi (pengamatan), peneliti bertindak sebagai pengamat penuh tanpa terlibat dalam menerapkan penilaian autentik. Selain itu didukung dengan teknik wawancara, teknik wawancara adalah dengan mewawancarai 15 orang guru kelas. Agar data hasil wawancara dapat terpercaya, peneliti menggunakan alat bantu perekam berupa alat tulis dan media elektronik seperti HP. Peneliti juga mengambil dokumen dari guu berupa RPP, rekap penilaian siswa serta rekapitulasi hasil rapor. Selanjutnya seluruh datadiolah dengan tahapan anlisis data kualitatif yaitu reduksi data, model data (data display), penarikan/verifikasi kesimpulan dan triangulasi, yakni teknik pemeriksaan keabsahan satuan data dengan memanfaatkan parameter satuan data yang lain. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2016.            Berdasarkan hasil analisis data, temuan peneliti ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, kendala yang dialami oleh guru-guru di SD Kabupaten Pidie adalah banyaknya aspek yang harus dinilai dalam penilaian Kurikulum 2013. Kedua, penilaian dilakukan bersamaan dengan proses pembelajaran, sehingga membuat proses belajar mengajar menjadi kurang efektif. Ketiga, guru merasa terbebani karena harus menjumlahkan setiap nilai yang diperoleh siswa secara keseluruhan lalu mendeskripsikan nilai yang didapat tersebut per mata pelajaran.            Simpulan penelitian ini adalah Penilaian Auntentik dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan meliputi seluruh aspek domain penilain. Penilaian ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. Untuk mengatasi kendala tersebut diharapkan ruang lingkup pada penilaian dapat diperkecil. Dan guru-guru berharap Pemerintah memberikan pelatihan yang lebih dalam lagi kepada guru-guru yang belum memahami Kurikulum 2013.       Kata Kunci: Kendala, Penilaian Autentik
PENGARUH PERMAINAN KECIL TERHADAP MOTOR EDUCABILITY JULIANTI, REKHA RATRI; ALAWIYAH, TUTI
JURNAL ILMIAH PENJAS Vol 2, No 2 (2016): JURNAL ILMIAH PENJAS
Publisher : UNIVERSITAS TUNAS PEMBANGUNAN SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.934 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh permainan kecil terhadap motor educability. Teknik pengumpulan data menggunakan motor educability tes atau IOWA Brace test. Penelitian ini menggunakan penelitian pendekatan kuantitatif metode eksperimen yang terdiri dari tiga tahap yaitu: pre-test, treatment dan post test. Pre-test dilakukan untuk mengetahui motor educability awal siswa sebelum mendapat perlakuan dengan permainan kecil. Treatment dilakukan dengan memberikan pembelajaran dengan menggunakan permainan kecil dan kemudian post test untuk mengetahui motor educalibity setelah diberikan perlakuan. Hasil penelitian diperoleh dengan menggunakan t-tes dan menunjukkan, permainan kecil berpengaruh terhadap motor educability peserta ekstrakulikuler Pramuka.
The Influence of Students Motivation Toward Students Achievement Alawiyah, Tuti; Sulistiyo, Urip
International Journal of Language Teaching and Education Vol 2 No 2 (2018): VOLUME 2, Number (Issue) 2, July 2018
Publisher : Universitas Jambi, Magister Program of English Education Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2523.901 KB) | DOI: 10.22437/ijolte.v2i2.5000

Abstract

This paper examines the language attitudes of Minangkabau people toward Minangkabau language (MIN) and Indonesian (BI) in West Sumatra, Indonesia. The data were collected in the form of questionnaires, in-depth interviews and participant observation with a sample of 200 Adult respondents in six research areas. This research uses a Likert scale with the categories classified into five alternatives (1 = Strongly Disagree, 2 = Disagree, 3 = Uncertain, 4 = Agree, and 5= strongly agree) and there are some tables analyzed based on yes/no questions, no=0 and yes=1. There are twelve questions on the questionnaire pertaining to the attitudes of adults. The results show that the adult attitudes can be classified into three categories, (1) positive; (2) negative; and (3) ambivalent attitudes. The third category is dominant. The term ‘ambivalent” is used for intermediate results. It is shown that the respondents expressed their feeling in both positive and negative comments in the same utterance when answering the questions related to MIN. For these responses, it is seen that there is a mixed feeling where they use “but” or “although” after expressing their positive feelings thereby countering their first statement. The evidence of the ambivalent and mixed feelings from respondents is shown. This means that Minangkabau people tend to avoid the conflict of having negative opinions; they tend to say what they mean in more indirect ways. On the other side, there is a positive attitude in response to the questions about BI. Majority of respondents have very strong positive attitudes towards BI
Modifikasi Kriptografi Hill Cipher Kunci Matriks Persegi Panjang Menggunakan Fungsi Xor Dan Fungsi Xnor Alawiyah, Tuti; Hikmah, Agung Baitul
IJCIT (Indonesian Journal on Computer and Information Technology) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : PPPM AMIK BSI Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.931 KB)

Abstract

Abstract - Cryptography is needed to store or transmit information/data. There are two important things in cryptography, which are, encryption (change an information into a form that will not be understood), and description (change the encryption back into the original message). The original message called as plaintext while the encryption form called ciphertext. Hill cipher is one of the cryptography algorithms that keeps developing. One of the development is the use of rectangle matrix as the key matrix. The use of rectangle matrix makes the ciphertext be longer than the plaintext. Those makes the message be more disguised. In this paper, the writer modifies the hill cipher algorithm by using the rectangle matrix in binary operationby adds the X-OR and XNOR logic. By adding the X-OR and XNOR logic, crypto-analyst finds difficulties in the linier equation to find the plaintext and the key matrix. Binary operation makes the ciphertext be longer than the ciphertext in the rectangle key matrix only. Length of ciphertext is lc =((((2 * lp)/m * n) * 2)/m)*n. and ((2 * lp) mod m) =0. If ((2 * lp) mod m) ≠ 0 character of lp must be adds till ((2 * lp) mod m) =0.Keywords: Cryptography, Hill Cipher, X-OR, XNORAbstrak - Kriptografi sangat diperlukan untuk menyimpan atau mengirimkan informasi/data. Kriptografi terdiri dari 2 hal penting, yaitu enkripsi (merubah informasi menjadi bentuk yang tidak dimengerti) dan deskripsi (mengembalikan informasi dari bentuk yang tidak dimengerti menjadi informasi aslinya). Informasi atau pesan asli disebut plaintext, sedangkan hasil penyandiannya disebut ciphertext. Hill cipher merupakan salah satu algoritma kriptografi yang terus berkembang. Salah satu perkembangannya adalah penggunaan matriks persegi panjang sebagai matriks kuncinya. Penggunaan matriks persegi panjang menjadikan ciphertext lebih panjang dari plaintext, sehingga pesan menjadi lebih tersamarkan. Pada tulisan ini, penulis memodifikasi algoritma hill cipher dengan matriks persegi panjang menggunakan operasi biner dengan menambahkan fungsi logika X-OR dan XNOR. Dengan penambahan fungsi logika X-OR dan XNOR, kripnatalis sulit menemukan persamaan linier untuk menemukan plaintext dan matriks kuncinya. Operasi biner memungkinkan ciphertext yang dihasilkan lebih panjang daripada ciphertext yang hanya menggunakan matriks kunci persegi panjang saja. Jumlah karakter ciphertext yang dihasilkan adalah: lc =((((2 * lp)/m * n) * 2)/m)*n. dengan lp harus memenuhi syarat ((2 * lp) mod m) =0. Jika tidak sama dengan nol (0), maka lp harus ditambah sehingga memenuhi syarat ((2 * lp) mod m) =0.Kata Kunci: Fungsi X-OR, Fungsi XNOR, Hill Cipher, Kriptografi