Articles

STUDI BANDING TATA LETAK TIPE-T DAN TIPE-I PLTN PWR Iswanto, Eko Rudi; Alimah, Siti
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol 12, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jpen.2010.12.2.1451

Abstract

ABSTRAKSTUDI BANDING TATA LETAK TIPE-T dan TIPE-I PLTN PWR. Penentuan tata letak merupakan satu dari lima tahap utama dalam umur PLTN. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi penentuan tata letak adalah ketersediaan infrastruktur, aspek ekonomi, aspek kemasyarakatan, keamanan terhadap masyarakat dan lingkungan serta kemudahan untuk dikerjakan. Faktor pertimbangan lainnya adalah terpenuhinya persyaratan desain gempa yang terkait dengan prinsip keselamatan baik terhadap pekerja, masyarakat dan lingkungan sekitar dari bahaya radiologi. Ada beberapa tipe tata letak, dua di antaranya adalah tata letak tipe T dan tata letak tipe I. Masing-masing tipe tata letak memiliki keuntungan dan kerugian, oleh karena itu tujuan dari studi ini memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing tipe tata letak PLTN. Tata letak yang baik mampu memberikan tingkat keselamatan tinggi terhadap gempa. Dengan desain gempa yang sama, tata letak tipe I mempunyai tingkat keamanan yang lebih tinggi dibanding dengan tata letak tipe T. Oleh karena itu, tata letak tipe I dapat menjadi pilihan yang baik untuk PLTN PWR kelas 1000 MWe yang rencananya akan dibangun di Indonesia.Kata Kunci: tata letak, desain gempa, PLTN, PWR ABSTRACTCOMPARATIVE STUDY T-TYPE and I-TYPE LAYOUT of PWR NUCLEAR POWER PLANTS. Determining plant layout is one of the five major stages during the life time of a nuclear power plant. Some important factors that affect in the selecting of plant layout are availability of infrastructure, economic aspects, social aspects, public and environment safety, and also easy to do. Another factor to be considered is requirements asseismic design, which refers to the principles of good security workers, communities and the environment of radiological risks. There are many layout types of nuclear power plant, two of them are T-type layout and I-type layout. Each type of the plant layout has advantage and disadvantage, therefore this study is to understand them. Good layout is able to provide a high level of security against earthquakes. In term of earthquake design, I-type layout has a higher security level than T-type layout. Therefore, I-type layout can be a good choice for PWR nuclear power plants 1000 MWe that will be built in Indonesia.Keywords: layout, aseissmic design, nuclear power plant, PWR
STUDI BANDING SISTEM DEMINERALISASI AIR PADA PLTN OPR 1000 DAN AP 1000 Priambodo, Dedy; Alimah, Siti; Dewita, Erlan
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol 11, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jpen.2009.11.2.1437

Abstract

ABSTRAKSTUDI BANDING SISTEM DEMINERALISASI AIR PADA PLTN OPR 1000 DAN AP 1000. Sistem demineralisasi air pada OPR 1000 mengadopsi metode berbasis resin penukar ion sedangkan AP 1000 berbasis membran Reverse Osmosis (RO) -Elektrodeionisasi (EDI). Penukar ion adalah proses kimia reversible (dapat balik) antara cairan dan padatan. Penukar ion menggunakan resin sebagai penangkap ion-ion pengotor yang kemudian diregenerasi setelah resin menjadi jenuh. RO adalah metode yang menggunakan tekanan untuk melewatkan larutan melalui membran, dan menangkap solute dari satu sisi dan mendapatkan solvent murni di sisi lain. Sedangkan EDI merupakan perpaduan antara elektrodialisis dengan penukar ion. Ion ditangkap oleh resin kemudian dibuang dengan memanfaatkan beda potensial listrik. Karena adanya fenomena water splitting pada EDI membuat resin yang ada tidak pernah jenuh, sehingga RO-EDI menjadi sistem demineralisasi yang sedikit menggunakan bahan kimiawi, instalasi lebih sederhana, mampu menjaga kualitas pasokan produk air demin dan ramah lingkungan. Dengan demikian di banding dengan penukar ion, RO-EDI lebih unggul sebagai sistem air demineralisasi.Kata kunci: demineralisasi air, OPR 1000, AP 1000, penukar ion, reverse osmosis, elektrodeionisasi ABSTRACTCOMPARISON STUDY OF WATER DEMINERALIZATION SYSTEM FOR THE OPR 1000 AND AP 1000 NUCLEAR POWER PLANT. OPR 1000 adopts demineralization method based on ion exchanger resin and AP 1000 adopt the method that based on Reverse Osmosis (RO)-Electrodeionization (EDI). The Ion exchange process is a reversible chemical reaction of a solution and an insoluble solid. Ion exchanger use resin as polluter ions capture and will be regenerated after its saturated. RO is method using pressure to force a solution through a membrane, retaining the solute on one side and allowing the pure solvent to pass to the other side. Whereas, EDI is a combination of ion exchange and electrodialysis. The ions is taken by ion exchange resin, and then it is discharged utilizing electric potensial difference. Due to water splitting phenomena in EDI, make resin will never be saturated, so the RO-EDI process is water demineralization system that use little chemical, more simple installation, capable to maintain demin water product quality and environmental friendly. Thereby, The RO-EDI water demineralization system is more advance then ion exchange technology.Keywords: water demineralization, OPR 1000, AP 1000, ion exchanger, reverse osmosis, electrodeionization
HTGR KOGENERASI PRODUKSI HIDROGEN UNTUK KONVERSI CO2 MENJADI METANOL Salimy, Djati Hoesen; Alimah, Siti
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol 17, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jpen.2015.17.2.2556

Abstract

ABSTRAK HTGR KOGENERASI PRODUKSI HIDROGEN UNTUK KONVERSI CO2 MENJADI METANOL. Telah dilakukan studi HTGR (High Temperature Gas-cooled Reactor) kogenerasi produksi hidrogen untuk konversi CO2 menjadi metanol. Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Tujuan studi adalah menganalisis HTGR yang dikogenerasi dengan proses produksi hidrogen untuk konversi CO2 menjadi metanol sebagai skema teknologi alternatif produksi metanol dengan proses hidrogenasi CO2. Dalam studi disimulasikan bahan baku CO2 diperoleh dengan memanfaatkan emisi CO2 dari PLTU batubara. Dengan skema ini gas alam sebagai bahan baku digantikan dengan air dan CO2, sementara kebutuhan energi panas, kukus dan listrik dipasok dari reaktor HTGR. Hasil studi menunjukkan bahwa HTGR yang dikogenerasi dengan produksi hidrogen proses termokimia siklus iodine-sulfur, dimungkinkan untuk diaplikasikan guna mengkonversi CO2 menjadi metanol. Produksi metanol dengan kapasitas sebesar 14667,7 ton/hari, mampu menghemat gas alam sebesar 15,106 juta MMBTU/tahun yang setara dengan pengurangan laju emisi CO2 sebesar 0,9 juta ton/tahun. Jika ditambah serapan emisi CO2 dari PLTU sebagai bahan baku sebesar 691428,6 ton per tahun, potensi penghematan laju emisi CO2 sebesar 1,6 juta ton/tahun. Pasokan energi panas, kukus dan listrik dari reaktor HTGR dengan daya 2×600 MWt dapat memenuhi kebutuhan proses produksi, dengan kelebihan listrik sebesar 92 MWe. Total kelebihan listrik yang dapat disambungkan ke jaringan sebesar 196 MWe, yang berasal dari PLTU batubara (104 MWe) dan reaktor HTGR (92 MWe). Kata kunci: HTGR kogenerasi, dekomposisi air, hidrogenasi CO2, metanol, emisi CO2 ABSTRACTHTGR COGENERATION TO HYDROGEN PRODUCTION FOR CO2 CONVERSION TO BE METHANOL. Study have been conducted on the application of HTGR cogeneration to hydrogen production for conversion of CO2 into methanol. The method used is literature studies. The purpose of the study is to analyze the HTGR (High Temperature Gas-cooled Reactor) cogeneration to hydrogen production for CO2 conversion to be methanol as an alternative scheme of methanol production by process of CO2 hydrogenation. This study also simulated that CO2 raw material is coming coal power plant. With the scheme, the  raw material of natural gas is replaced with water and CO2 , while the need energy of heat, steam and electricity supplied from HTGR reactor. With this scheme, the use of natural gas as a raw material, energy source of heat, steam and electricity are not needed anymore. The study shows that the process of nuclear water splitting of iodine-sulfur cycle is possible to convert CO2 into methanol. Production with a capacity of 14667,7 ton/day of methanol, will save natural gas of about to 15,106 million MMBTU yearly which is equivalent to a reduction CO2 emissions by 0.9 million ton/year. In addition with CO2 emission from coal power plant that used as raw material amount 691428,6 ton/year, potential of total  CO2 reduction is about 1,6 million ton/year. Supply of thermal energy, steam and electricity that comes from HTGR reactor with capacity of 2×600 MWt can meet the needs of the production process, with the excess electricity of 92 MWe. Total electricity that can be connected to the grid is about 196 MWe, 104 MWe from coal power plant, and 92 MWe from HTGR.Keywords: HTGR  cogeneration, water splitting, CO2 hydrogenation, methanol, CO2 emission
STRATEGI PENGELOLAAN BAHAN BAKAR BEKAS PLTN Parapak, Bandi; Alimah, Siti
PRIMA - Aplikasi dan Rekayasa dalam Bidang Iptek Nuklir Vol 6, No 12 (2009): Nopember 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK STRATEGI   PENGELOLAAN BAHAN BAKAR BEKAS PLTN. Telah dilakukan kajian strategi pengelolaan bahan bakar bekas PLTN. Bahan bakar bekas adalah satu produk samping dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Operasi teknis yang berhubungan dengan pengelolaan bahan bakar bekas yang dikeluarkan dari reaktor adalah daur ujung belakang. Daur ujung belakang dibagi menjadi tiga, yaitu ; daur sekali pakai (daur terbuka), daur tertutup dan kebijakan wait and see  (penundaan keputusan). Strategi apapun yang dipilih pada daur ujung belakang dari daur bahan bakar nuklir, fasilitas penyimpanan Away-from-Reactor (AFR) perlu dibangun. Pada daur terbuka semua bahan bakar bekas dipertimbangkan sebagai limbah dan ditujukan untuk dibuang dalam penyimpanan geologi yang dalam.  Sedang daur tertutup dibagi menjadi : (1) uranium dan plutonium diambil kembali dari bahan bakar bekas dengan olah ulang dan daur ulang untuk membuat bahan bakar mixed oxide (MOX), (2) transmutasi limbah dalam fasilitas reaktor nuklir subkritis dengan menggunakan akselerator, (3) konsep DUPIC (Direct Use of Spent PWR Fuel In CANDU). Dalam kebijakan wait and see, bermaksud, pertama kali menyimpan bahan bakar bekas dan memutuskan tahapan selanjutnya untuk olah ulang atau pembuangan. Kata kunci : bahan bakar bekas, daur terbuka, daur tertutup, wait and see ABSTRACT THE MANAGEMENT STRATEGY OF SPENT NUCLEAR FUEL. An assessment of management strategy of spent nuclear fuel has been carried out. The spent nuclear fuel  is one of the by-products of nuclear power plant. The technical operations related to the management of spent fuel   discharged from reactors are called the back-end fuel cycle. It can be largely divided into three option s : the once-through cycle, the closed cycle and the so-called ?wait and see? policy. Whatever strategy is selected for the back-end of the nuclear fuel cycle, Away-from- Reactor (AFR) storage facilities has to be constructed. For the once-through cycle, the entire content of spent fuel is considered as waste, and is subject to be disposed of into a deep underground repository. In the closed cycle, however, can be divided into : (1) uranium and plutonium are recovered from spent fuel by reprocessing and recycled to manufacture mixed oxide (MOX) fuel rods, (2) waste transmutation in accelerator-driven subcritical reactors, (3) DUPIC (Direct Use of Spent PWR Fuel In CANDU) concept. In wait and see policy, which means first storing the spent fuel and deciding at a later stage on reprocessing or disposal. Keywords : spent nuclear fuel, once-through cycle, closed cycle, wait and see
THE EFFECTIVENESS OF PROJECT BASED LEARNING ECOSYSTEMS DIORAMAS WITH JELAJAH ALAM SEKITAR APPROACH AGAINST STUDENTS’ CRITICAL THINKING ABILITY AND CREATIVITY Kurniyanti, Ratih; Tri Martuti, Nana Kariada; Alimah, Siti
Journal of Biology Education Vol 8 No 3 (2019): Desember
Publisher : FMIPA UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbe.v8i3.27141

Abstract

The purpose of this study was to analyze the effectiveness of Project Based Learning ecosystems dioramas with Jelajah Alam Sekitar approach against students? critical thinking ability and creativity, and to analyze the relationship between critical thinking ability and students' creativity in Project Based Learning ecosystems dioramas with Jelajah Alam Sekitar approach. This research method is pre-experimental design with pre-test and post-test one group design. The results showed that Project Based Learning ecosystems dioramas with Jelajah Alam Sekitar approach was effective against students' critical thinking ability and creativity. The average of critical thinking ability in post-test is 84.96 and average of creativity in post-test is 84.50. The completeness of classical learning shows "High" criteria, the classical completeness rate in post-test of critical thinking and creativity is same (89.21%). The results of the N-gain mean on the test scores of critical thinking ability and creativity are in the "High" criteria. N-gain of critical thinking ability shows "High" category (66.66%) and N-gain creativity shows "High" category (79.42%). The results of the analysis of the two average difference test (one right side) on the critical thinking ability test has t table of 1.97 < t count of 20.89. The creativity test has t table of 1.97 < t count of 31.80, so it shows a significant difference between the achievements at the pre-test and post-test. Based on these results it can be concluded that the Project Based Learning ecosystems dioramas with Jelajah Alam Sekitar approach are effective against students' critical thinking ability and creativity. The relationship between critical thinking ability and creativity shows the relation of 0.38, has a "Low" criteria, so it can be concluded that the relationship between critical thinking ability and student creativity in Project Based Learning ecosystems dioramas with Jelajah Alam Sekitar approach is low.
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN EMBRIOGENESIS HEWAN UNTUK MENGOPTIMALKAN PEMAHAMAN KOGNITIF MAHASISWA Alimah, Siti
Jurnal Pendidikan IPA Indonesia Vol 1, No 2 (2012): October 2012
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jpii.v1i2.2130

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran yang efektif dan adaptabel yang dapat memberikan pemahaman optimal tentang embriogenesis hewan pada struktur kognitif mahasiswa dan menambah keragaman sumber belajar biologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas media pembelajaran yang dikembangkan memiliki kategori baik menurut ahli dan mahasiswa sehingga dapat disimpulkan bahwa media tersebut layak digunakan sebagai sumber belajar embriogenesis hewan.   This study aims to develop an interactive learning media program which is effective, efficient, and adaptable to support an optimal understanding of embryogenesis animal for the students’ cognitive structure and provide an alternative learning resource for biology field, especially for the subject of Animal Embryology. The result of research shows that the quality of the learning media is categorized as good by experts and students as the users. It means that the media being developed is feasible to be used as a learning media to study animal embryogenesis.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN VISUAL AUDITORY KINESTHETIC (VAK) TERHADAP KEAKTIFAN SISWA Setiawan, Aji Setiawan; Alimah, Siti
Profesi Pendidikan Dasar Vol. 6, No. 1, Juli 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ppd.v1i1.7284

Abstract

This research is focused on the activeness of students in learning. The aim is to find out and analyze the use of cooperative learning type vak on student activeness abilities. This study uses an experimental method, a form of research Quasi Experimental Design with Nonequivalent Control Group Design models. The sampling technique was purposive sampling. In order to obtain an experimental class in the learning process using a cooperative learning model of jigsaw and a control class which in the learning process uses a direct teaching model. Data collected in the form of instruments of problem solving ability. Based on the results of data analysis, the average score of the experimental class posttest was 22.63 while the average posttest score of the control class was 17.13. Hypothesis test results using t test obtained t_count = 4.388, with dk = 30 + 32-2 = 60 and a significance level ∝ = 0.05, then t_table = 1.6706 is obtained. Thus t_count> t_table which is 4.388> 1.6706. Then, the effective size analysis shows the score E_s = 0.98. So it can be concluded that the use of cooperative learning model VAK type is better and more effective than the direct teaching model to increase student activity
ANALISIS PASOKAN PANAS PADA PRODUKSI HIDROGEN PROSES STEAM REFORMING KONVENSIONAL DAN NUKLIR Alimah, Siti; Salimy, Djati Hoesen
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol 17, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jpen.2015.17.1.2614

Abstract

ABSTRAK ANALISIS PASOKAN PANAS PADA PRODUKSI HIDROGEN PROSES STEAM REFORMING KONVENSIONAL DAN NUKLIR. Telah dilakukan analisis pasokan energi panas pada produksi hidrogen dengan proses steam reforming gas alam. Tujuan studi adalah untuk memahami sistem pasokan energi panas konvensional dan dengan nuklir. Metodologi yang digunakan adalah kajian literatur dan analisis berdasar perbandingan. Hasil studi menunjukkan bahwa proses dengan sumber panas bahan bakar fosil (gas alam) mampu memberikan kondisi operasi optimum temperatur 850-900oC dan tekanan 2-3 MPa, serta dengan perpindahan panas didominasi oleh perpindahan panas radiasi, sehingga fluks panas yang dapat dicapai pada tabung katalisator relatif tinggi (50-80 kW/m2) dan menghasilkan efisiensi thermal yang tinggi yaitu sekitar 85%. Sedang pada sistem dengan energi nuklir, karena tuntutan keselamatan, proses beroperasi pada kondisi yang kurang optimum temperatur 800-850oC dan tekanan 4,5 MPa, serta dengan perpindahan panas didominasi oleh perpindahan panas konveksi, sehingga fluks panas yang dapat dicapai pada tabung katalisator jauh lebih rendah (10-20 kW/m2) dan menghasilkan efisiensi thermal yang rendah sekitar 50%. Modifikasi reformer dan utilisasi panas mampu meningkatkan fluks panas sampai 40 kW/m2 sehingga efisiensi thermal dapat mencapai 78%. Meskipun demikian, aplikasi energi nuklir untuk produksi hidrogen dengan proses steam reforming mampu menghemat pembakaran bahan bakar fosil yang berimplikasi pada potensi penurunan laju emisi CO2 ke lingkungan. Kata kunci: produksi hidrogen, steam reforming, reformer, HTGR ABSTRACT HEAT SUPPLY ANALYSIS OF STEAM REFORMING HYDROGEN PRODUCTION PROCESS IN CONVENTIONAL AND NUCLEAR. The analysis of heat energy supply in the production of hydrogen by natural gas steam reforming process has been done. The aim of the study is to compare the energy supply system of conventional and nuclear heat. Methodology used in this study is an assessment of literature and analysis based on the comparisons. The study shows that the heat sources of fossil fuels (natural gas) is able to provide optimum operating conditions of temperature and pressure of 850-900oC and 2-3 MPa, as well as the heat transfer is dominated by radiation heat transfer, so that the heat flux that can be achieved on the catalyst tube relatively high (50-80 kW/m2) and provide high thermal efficiency of about 85%. While in the system with nuclear energy, due to the demands of safety, process operating at less than optimum conditions of temperature and pressure of 800-850oC and 4.5 MPa, as well as the heat transfer is dominated by convection heat transfer, so that the heat flux that can be achieved catalyst tube is relatively low (10- 20 kW/m2) and it provides a low thermal efficiency of about 50%. Modifications of reformer and heat utilization can increase the heat flux up to 40 kW/m2 so that the thermal efficiency can reach 78%. Nevertheless, the application of nuclear energy to hydrogen production with steam reforming process is able to reduce the burning of fossil fuels which has implications for the potential decrease in the rate of CO2 emissions into the environment. Keywords: hydrogen production, steam reforming, reformer, HTGR 
KAJIAN PENERAPAN REKAYASA SOSIAL DENGAN PENDEKATAN BERBASIS MASYARAKAT TERHADAP RENCANA PEMBANGUNAN RDNK Mudjiono, Mudjiono; Alimah, Siti
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol 21, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jpen.2019.21.2.5654

Abstract

Reaktor Daya Non Komersial (RDNK) yang direncanakan dibangun di Kawasan Puspiptek Serpong, akan berdampak bagi masyarakat sekitar kawasan. Untuk meminimalkan masalah sosial perlu dilakukan penerapan rekayasa sosial dengan pendekatan berbasis masyarakat. Rekayasa sosial dilakukan dengan pemberian informasi dan peningkatan pemahaman teknologi nuklir, rencana pembangunan RDNK serta pemanfaatannya kepada masyarakat. Tujuan kajian ini adalah membentuk kelompok masyarakat melalui pendekatan yang sesuai untuk meningkatkan penerimaan masyarakat dengan pelibatan aktif dalam kegiatan diseminasi. Metodologi yang digunakan adalah melalui tinjauan pustaka, pelibatan aktif dari masyarakat melalui wawancara dan diskusi kelompok stakeholder di beberapa kelurahan sekitar Kawasan Puspiptek Serpong, selanjutnya dilakukan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi interpersonal akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemanfaatan iptek nuklir. Terdapat perubahan positif dari masyarakat terhadap pemahaman iptek nuklir sebelum dan sesudah edukasi. Pemahaman ini dimengerti oleh masyarakat dengan usia bervariasi yaitu 30-70 tahun, sebagian besar berpendidikan SLTA ke atas dan memiliki pekerjaan di luar pemerintah. Dalam penelitian ini juga diperoleh kelompok masyarakat yang bersedia terlibat dalam kegiatan diseminasi yang tersebar di 8 kelurahan yaitu Setu, Muncul, Kademangan, Keranggan, Cibogo, Bakti Jaya, Pengasinan, dan Pabuaran.
KAJIAN PROBABILITAS JATUHNYA PESAWAT TERBANG DI AREA TAPAK REAKTOR DAYA EKSPERIMENTAL (RDE) PUSPIPTEK SERPONG Sugeng Budi Susilo, Yarianto; Alimah, Siti; Mellawati, June
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol 18, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jpen.2016.18.2.3224

Abstract

Telah dilakukan kajian probabilitas jatuhnya pesawat terbang di area tapak RDE di kawasan Puspiptek Serpong untuk keperluan perizinan tapak RDE. Tujuan penelitian untuk mengetahui probabilitas kejadian jatuhnya pesawat terbang di area tapak RDE. Metodologi penelitian yang digunakan meliputi pengumpulan data sekunder dan primer, identifikasi sumber potensi bahaya (bandara) di sekitar tapak RDE dan pemetaan sebarannya, penapisan awal menggunakan nilai Screening Distance Value (SDV) dan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP), serta perhitungan nilai probabilitas jatuhnya pesawat di area tapak. Penelitian dilakukan bulan Desember 2015 - Juni 2016. Hasil penelitian menunjukkan di sekitar tapak RDE terdapat 7 lapangan terbang, yaitu Soekarno Hatta (Soetta), Halim Perdanakusuma, Atang Sendjaja, Budiarto, Pondok Cabe, Rumpin dan Pulau Panjang dengan jarak berkisar 11,72 ? 79,641 km dari tapak RDE. Berdasarkan nilai SDV (bandara kecil 10 km &  besar 16 km) tapak RDE berada di luar radius SDV bandara. Namun demikian, berdasarkan KKOP (14,5 km), tapak RDE berada dalam radius KKOP dari 2 bandara yaitu Budiarto dan Pondok Cabe. Perhitungan probabilitas menunjukkan bahwa potensi jatuhnya pesawat terbang di area tapak RDE yang berasal dari Bandara Budiarto 0,0066 x 10-7 kejadian/tahun dan dari Pondok Cabe 0,0278 x 10-7 kejadian/tahun. Nilai probabilitas tersebut masih lebih rendah dibandingkan kriteria dalam laporan IAEA (10-7 kejadian/tahun) sehingga tapak RDE dikategorikan aman dari potensi jatuhnya pesawat terbang.