Widayat Alviandi
Department of Otorhinolaryngology, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Validity and reliability of the Indonesian version of tinnitus handycap inventory Bashiruddin, Jenny E.; Alviandi, Widayat; Reinaldo, Alvin; Safitri, Eka D.; Pitoyo, Yupitri; Ranakusuma, Respati W.
Medical Journal of Indonesia Vol 24, No 1 (2015): March
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.608 KB) | DOI: 10.13181/mji.v24i1.1193

Abstract

Background: To translate and assess the validity and reliability of the Indonesian version of Tinnitus Handycap Inventory (THI) as an psychometric instrument for evaluating the quality of life in tinnitus patients. This instrument will support the clinicians to determine the appropriate tinnitus management for them.Methods: A cross-sectional psychometric validation study was performed to assess the internal consistency, reliability and validity of the Indonesian version of THI in 50 subjective tinnitus patients at ENT outpatient clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital between May-August 2010. 25 question items of original THI were translated, back-translated and validated using the transcultural validation by WHO.Results: The validity test demonstrated a significant correlation in the emotional and the catastrophic scale whilst there was no significant correlation in the functional scale for item F2 and particularly for item F15. Nevertheless, the validity test on the functional scale showed a good result. This study also showed high internal consistency and reliability for the total scale (Cronbach-α = 0.91)Conclusion: The evaluation result indicated that the reliability of adapted Indonesian version of the THI in our study is relatively high and could be applied in clinical examination or further otolaryngology study by both specialists and general physicians.
GAMBARAN AUDIOGRAM NADA MURNI PENDERITA KARSINOMA KEPALA DAN LEHER YANG MENDAPAT SATU SIKLUS KEMOTERAPI CISPLATIN Rahman, Sukri; Alviandi, Widayat; Edward, Yan; Firdaus, M. Abduh; Machmud, Rizanda
Majalah Kedokteran Andalas Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v34.i1.p51-59.2010

Abstract

Sebagian besar keganasan kepala dan leher terdiagnosis sudah dalam stadium lanjut dan sering sudah inoperable. Kemoradiasi merupakan pengobatan pada keadaan seperti ini. Kemoterapi neoadjuvan (induksi) dengan cisplatin pada karsinoma kepala leher telah terbukti dapat mempreservasi organ dan menurunkan angka metastasis jauh, namun di sisi lain cisplatin menyebabkan berbagai efek samping berupa toksik terhadap berbagai organ, salah satunya ototoksikPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran audiogram nada murni penderita karsinoma kepala dan leher yang mendapat kemoterapi cisplatin.Penelitian ini merupakan uji potong lintang untuk mengetahui gambaran audiogram nada murni terhadap 25 orang penderita karsinoma kepala dan leher yang mendapat kemoterapi cisplatin 100 mg/m2 di bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL) rumah sakit (RS) Dr. M. Djamil Padang, mulai bulan April sampai bulan Desember 2009.Dari 50 audiogram yang diperiksa didapatkan nilai rerata perubahan nilai ambang dengar hantaran tulang pada masing-masing frekuensi yaitu 3,4±5,84 dB pada frekuensi 250 Hz, 2,0±3,91dB (500 Hz), 2,6±4,87 dB (1000 Hz), 3,4±5,10 dB (2000 Hz), 4,9±9,23 dB (4000 Hz), 4,7±5,84 dB (6000 Hz) dan 6,5±9,85 dB pada 8000 Hz.Setelah pemberian satu siklus kemoterapi cisplatin 100 mg/m2 sebagian besar sampel tidak mengalami perubahan ambang dengar pada frekuensi 250, 500, 1000, 2000, 4000 dan 6000 Hz, sedangkan pada frekuensi 8000 Hz, sebagian besar mengalami kenaikan nilai ambang dengar. Namun demikian nilai rerata hantaran tulang sebelum dengan setelah kemoterapi terdapat perbedaan yang bermakna pada semua frekuensi. 
Pengaruh latihan Brandt Daroff dan modifikasi manuver Epley pada vertigo posisi paroksismal jinak Kusumaningsih, Widjajalaksmi; Mamahit, Andy Ardhana; Bashiruddin, Jenny; Alviandi, Widayat; Werdhani, Retno Asti
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 45, No 1 (2015): Volume 45, No. 1 January - June 2015
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2466.573 KB) | DOI: 10.32637/orli.v45i1.105

Abstract

Latar belakang: Latihan Brandt Daroff (BD) dan latihan Modifikasi Manuver Epley (MME) merupakan rehabilitasi vestibular sebagai terapi latihan mandiri di rumah bagi penderita Vertigo PosisiParoksismal Jinak (VPPJ) yang menggunakan sistem sensori terintegrasi. Secara fisiologis, BD berperandalam proses adaptasi sistem vestibular dan MME berperan dalam reposisi otolit. Tujuan: Untukmengetahui dan membandingkan efek terapi latihan vestibular mandiri BD dan MME terhadap perbaikangangguan keseimbangan penderita VPPJ. Metode: Studi pendahuluan dengan desain kuasi eksperimenpada 23 subjek VPPJ yang diperoleh secara consecutive sampling, laki-laki dan perempuan  berusia 2060 tahun. Secara random dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok BD(n=12) dan kelompokMME(n=11)untuk latihan mandiri di rumah. Nilai  Symptoms Severity Score (SSS) dianalisis menggunakanuji McNemar dan nilai posturografi dianalisis dengan uji t berpasangan atau uji Wilcoxon Signed Rank bila sebaran data tidak normal. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna pada nilai SSS pada latihan BD danlatihan MME (p<0,05). Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada nilai posturografi dengan latihan MME.Ditemukan perbedaan bermakna (p<0,05) pada sepuluh variabel posturografi dengan latihan BD. Tidakditemukan perbedaan bermakna (p>0,05) dari nilai SSS dan posturografi antara latihan Brandt Daroff dan MME. Kesimpulan: Terdapat perbaikan bermakna nilai SSS yang lebih cepat  pada kelompok yang diberi latihan Brandt Daroff dibandingkan dengan kelompok MME. Kata kunci: VPPJ, BD, MME , SSS, PosturografiABSTRACT Background: Brandt Daroff (BD) and modified Epley maneuver (MEM) are independent vestibular rehabilitation therapeutic home program exercises for Benign Poxysmal Positional Vertigo (BPPV)patients using sensory integration. BD is an adaption process in vestibular system and MEM is based oncanalith reposition. Purpose: To find out and compare the effects of BD and MEM on improving symptomsof balance disorder in BPPV patients. Methods: A pilot study with quasi experimental design for 23BPPV subjects,  taken by consecutive sampling. Subjects are male and female, aged 20-60 years old. Byrandomization, subjects were allocated into two groups, group BD (n=12) and group MEM (n=11). Thevalue of symptoms severity was scored using McNemar test. The posturography result was evaluated byPair t test or Wilcoxon Signed Rank test. Result: There was a significant difference on SSS value (p<0,05)of BD exercise and MEM exercise. No significant difference was found on posturography scores withMEM exercise. There was a significant difference (p<0,05) on ten posturography variables using BDexercise. No significant difference was found between BD and MME from SSS and posturography value(p>0,05). Conclusion: This study found out that there was a significantly faster improvement of SSS inthe BD group compared with the MME group. Keywords: BPPV, BrandtDaroff, MEP, SSS, posturography
Peran Tes Dynamic Visual Acuity dan Tes Kalori dalam Menilai Gangguan Keseimbangan pada Pasien Tuberkulosis yang Mendapat Terapi Streptomisin Alviandi, Widayat; Bramantyo, Brashto; Bashiruddin, Jenny; Widayanti, Novra
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 2 (2018): Volume 48, No. 2 July - December 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v48i2.249

Abstract

Latar belakang: Gangguan keseimbangan merupakan efek samping pemberian streptomisin yang dapat menurunkan kualitas hidup. Saat ini belum didapatkan penelitian gangguan keseimbangan pada pasien tuberkulosis yang mendapat terapi streptomisin diperiksa menggunakan tes dynamic visual acuity (DVA) dan tes kalori. Tujuan:  Penelitian ini bertujuan untuk melihat akurasi pemeriksaan keseimbangan dengan DVA pada pasien TB yang mendapatkan streptomisin dibandingkan dengan elektronistagmografi (ENG). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperimental untuk mengetahui perubahan hasil pemeriksaan fungsi keseimbangan vestibuler pada suatu kelompok pasien TB sebelum dan setelah 56 kali pemberian streptomisin, atau bila timbul keluhan gangguan keseimbangan dengan tes DVA dan tes kalori selama April-Oktober 2014. Digunakan rancangan uji diagnostik untuk membandingkan kedua cara pengukuran setelah pengobatan. Hasil: Setelah pemberian terapi didapatkan 31 (77,5%) dari 40 subjek dengan pemeriksaan kalori dan 30 (75%) dengan pemeriksaan DVA. Rerata nilai kalori sebelum terapi sebesar 93,5±32,07°/detik dan setelah terapi sebesar 82,30±38,43°/detik, terjadi perubahan sebesar -11,25±50,55°/detik. Median nilai kenaikan DVA sebelum terapi adalah 0 (minimal 0-maksimal 2) baris dan setelah terapi adalah 3 (minimal 0-maksimal 6) baris, terjadi perubahan sebesar 3 (minimal 0-maksimal 5) baris. Sensitivitas pemeriksaan DVA 83%, spesifisitas 27%, nilai duga positif 17%, nilai duga negatif 90%, rasio kemungkinan positif 1,13, dan rasio kemungkinan negatif 0,63 dengan pemeriksaan kalori sebagai baku emas. Kesimpulan: Pemeriksaan DVA dapat digunakan sebagai skrining pemeriksaan kelemahan vestibuler perifer bilateral pada pasien tuberkulosis yang mendapat terapi streptomisin.Background: Impaired balance is the side effect of Streptomycin administration which can decrease the quality of life Up till now, there  is no research yet on dynamic visual acuity (DVA) and caloric test in tuberculosis (TB) patients receiving streptomycin therapy. Objective: This study aims to look at the accuracy of the examination using DVA in TB patients receiving Streptomycin, compared to using electronistagmography (ENG). Methods:  A pre-experimental study was used to determine changes in the vestibular function test results in a group of TB patients before and after56times administrationof Streptomycin, or when subjects complained of balance disorders, with DVA test and caloric test during April-October 2014. Designed diagnostic test was used after treatment to compare the two methods of measurement. Result: After therapy there was 31 (77.5%) out of 40 subjects with caloric examination and in 30 (75%) with DVA examination. The mean value of caloric examination before therapy was 93.5±32.07°/sec and after therapy was 82.30±38.43°/sec, the change was -11.25±50.55°/sec. The median value of increased DVA  line before therapy was 0 line and after therapy was 3 line, there was a change of 3 (minimum 0-maximum 5) line. DVA examination has a sensitivity of 83%, a specificity of 27%, positive predictive value 17%, negative predictive value 90%, a positive likelihood ratio 1.13 and a negative likelihood ratio 0.63 with caloric examination as the gold standard. Conclusion: DVA examination can be used as a screening tool in bilateral peripheral vestibular weakness in TB patients who received Streptomycin therapy.
Pemeriksaan Otoacoustic Emission (OAE) untuk menilai keberhasilan terapi metilprednisolon Bramantyo, Brastho; Bashiruddin, Jenny; Alviandi, Widayat; Risdawati, Risdawati
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 49, No 1 (2019): Volume 49, No. 1 January-June 2019
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.193 KB) | DOI: 10.32637/orli.v49i1.285

Abstract

Latar belakang: Penatalaksanaan tuli mendadak menggunakan steroid sebagai terapi utama merupakan hasil konsensus terapi tuli mendadak tahun 2010 di Madrid-Spanyol dan Cochrane systematic review tahun 2009, yang saat ini diterapkan di Divisi Neurotologi Departemen Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Evaluasi hasil pengobatan dilakukan dengan pemeriksaan audiometri dan Distortion Product Otoacoustic Emission (DPOAE). Pasien yang mengalami kesembuhan akan memperlihatkan peningkatan ambang dengar dan nilai Signal to Noise Ratio (SNR) emisi otoakustik. Tujuan: Mengevaluasi hasil terapi metilprednisolon dosis terbaru pada tuli mendadak dengan pemeriksaan DPOAE dan audiometri nada murni. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre dan post eksperimental. Diberikan terapi metilprednisolon 1 mg/kgBB dengan tapering off 20 mg setiap 5 hari. Dilakukan pemeriksaan DPOAE dan audiometri sebelum dan setelah terapi. Hasil: Total sampel yang diolah adalah 22 subjek. Penelitian ini mendapatkan perubahan yang bermakna nilai audiometri nada murni sebelum dan sesudah terapi pada semua frekuensi. Nilai SNR pada OAE sebelum dan setelah terapi rata-rata mengalami perubahan nilai pass, dengan perubahan nilai SNR pass terbanyak adalah pada frekuensi 8000 Hz (6 subjek). Tingkat perubahan ambang dengar sesudah terapi yang mengalami perbaikan paling banyak pada frekuensi 2000 Hz, 3000 Hz, 6000 Hz dengan masing-masing 16 subjek. Perbaikan emisi terjadi lebih awal dibandingkan perbaikan ambang dengar. Kesimpulan: Pada penelitian ini terdapat perubahan bermakna nilai audiometri, dan nilai DPOAE. Didapatkan hubungan bermakna perubahan SNR pada OAE dengan tingkat perubahan ambang dengar frekuensi 8000 Hz dan 10.000 Hz, setelah pengobatan metilprednisolon sesuai protokol penelitian ini. Background: Methylprednisolone as a drug of choice in sudden deafness was consented in Madrid, Spain 2010 and in Cochrane systematic review in 2009, and already applied in Neurotology Division, ENT Department Cipto Mangunkusumo Hospital. Sudden deafness treatment evaluation conducted by audiometry and Distortion Product Otoacoustic Emission (DPOAE) examinations. Hearing recovery could be assessed from the improvement of hearing threshold and Signal to Noise Ratio (SNR) of otoacoustic emission (OAE). Objective: To evaluate the current dose of methylprednisolone therapy for sudden deafness, by DPOAE and pure tone audiometry. Methods: This was a pre-post experimental study using methylprednisolone 1 mg/kg body weight tapered off 20 mg in every 5 days. DPOAE and audiometry examination were conducted pre and post therapy. Result: Total sample were 22 subjects. Significant improvement was seen in overall frequencies of audiometry examination. Pass result in SNR of OAE showed remarkable improvement in 8000 Hz (6 subjects). The level of pure tone threshold mainly increased in frequencies of 2000 Hz, 3000 Hz, and 6000 Hz, each 16 subjects. Improvement of the emision level occurred earlier than the hearing threshold. Conclusion: This study revealed significant improvement of audiometry threshold and OAE level. Significant correlation was found between SNR of OAE improvement with increased pure tone level in 8000 Hz and 10.000 Hz after methylprednisolone therapy according to the protocol of this study.