Articles

Found 33 Documents
Search

SOCIAL ECONOMIC AND ECOLOGICAL ADAPTIVE STRATEGY OF LIVELIHOOD OF SMALLHOLDERS IN THE OIL PALM EXPANSION AREAS (CASE STUDIES IN TWO VILLAGES OF CENTRAL KALIMANTAN) Kumala Putri, Eka Intan; Dharmawan, Arya Hadi; Amalia, Rizka; K. Pandjaitan, Nurmala
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 6 No. 2 (2018): Sodality
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.507 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v6i2.23226

Abstract

ABSTRACTThe impact of oil palm plantation expansion is felt by the farmers? households in Central Kalimantan, such as income change, new sources of livelihood related to oil palm, and social economy-ecology ecosystem change. For that, there needs to be an ecological socio-economic strategy. The purpose of this research is to know how socio economic-ecological strategy of farmer?s household in facing the impact of oil palm plantation expansion. Focuses on aspects of socio economic-ecological adaptation mechanisms in relation to local income and their implications for poverty alleviation. The method used is in depth interview, survey, observation and Focus Group Discussion. The analysis used in this research is descriptive qualitative-quantitative. The results showed that there are two factors causing conversion of land into palm land that is economic and policy factors. Conversion of land into oil palm in Beringin Agung Village and Pendahara Village was then addressed differently by farmer households through various adaptation strategies. Adaptation strategies carried out by farmers? households in two research sites include social economic and ecological strategy. All layers of households in Beringin Agung Village tend to have little choice of adaptation strategy because of the large number of land conversion into oil palm plantations. Meanwhile, all layers of farm households in Pendahara Village have relatively varied adaptation strategies because there are still many natural resources around there.Keywords: adaptation, farmers, households, land conversion, livelihood strategies, oil palmABSTRAKDampak ekspansi perkebunan Sawit dirasakan oleh rumahtangga petani di Kalimantan Tengah, berupa perubahan pendapatan, munculnya sumber mata pencaharian baru yang berhubungan dengan Sawit, berubahnya sosial ekonomi dan ekologi ekosistem. Untuk itu, perlu ada strategi sosial ekonomi ekologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi adaptasi sosial ekonomi ekologi rumahtangga petani dalam menghadapi dampak ekspansi perkebunan Sawit, dan berfokus pada aspek mekanisme adaptasi sosial-ekonomi-ekologi dalam kaitannya dengan ekonomi lokal dan implikasinya terhadap penanggulangan kemiskinan. Metode penelitian menggunakan in depth interview, survey, observasi dan Focus Group Discussion (FGD). Analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif-kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat dua faktor penyebab konversi lahan menjadi Sawit yaitu faktor ekonomi dan faktor kebijakan. Konversi lahan hutan menjadi Sawit disikapi secara berbeda oleh rumahtangga petani melalui berbagai strategi adaptasi bertahan hidupnya. Strategi adaptasi yang dilakukan oleh rumahtangga petani meliputi strategi ekonomi, sosial dan strategi ekologi. Semua lapisan rumahtangga di Desa Beringin Agung cenderung tidak banyak mempunyai pilihan strategi adaptasi karena telah banyaknya konversi lahan menjadi perkebunan Sawit, sehingga cenderung homogen. Sementara itu, semua lapisan rumahtangga petani di Desa Pendahara relatif heterogen strategi adaptasinya karena masih ketersediaan sumberdaya alam yang melimpah disana.Kata kunci: adaptasi, Kelapa Sawit, konversi lahan, petani, rumahtangga, strategi nafkah
STUDI KASUS PENETAPAN PERATURAN WALIKOTA LHOKSEUMAWE MENGENAI WAJIB BERBAHASA ACEH DI HARI JUMAT Amalia, Rizka; Maulizal, Heri
Jurnal Ilmiah Pesona PAUD Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.606 KB)

Abstract

Fokus tulisan ini adalah tentang pendidikan berbasis budaya. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh penetapan peraturan Walikota Lhokseumawe mengenai wajib berbahasa Aceh pada hari Jumat. Beberapa pertanyaan yang diajukan dalam artikel ini adalah: 1) Bagaimana praktik pendidikan berbasis budaya dalam lembaga pendidikan anak usia dini 2) Bagaimana problematika penetapan peraturan Walikota Lhokseumawe tentang setiap hari jumat wajib berbahasa Aceh di instansi pemerintah dan sekolah. Secara metodologis, artikel ini berangkat dari sebuah hasil penelitian kualitatif, dimana data diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Sementara teori yang digunakan dalam menganalisis data- data penelitian adalah teori Relasi Kuasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Praktik belajar berbasis budaya pada lembaga pendidikan anak usia dini di Aceh diterapkan melalui perkenalan budaya sekitar, seperti tari saman, sedati, rapai danpun dengan membiasakan anak- anak berbahasa daerah yaitu bahasa Aceh setiap hari Jumat
KOMUNIKASI SENIOR DAN JUNIOR PADA KELOMPOK PELAJAR DALAM UPAYA MEMPERTAHANKAN BUDAYA TAWURAN Amalia, Rizka; Herieningsih, Sri Widowati; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar BelakangDi sekolah yang kerap terlibat aksi tawuran terdapat kelompok pelajar informal yang anggotanya terdiri dari senior dan juga junior. Senior memiliki peranan penting dalam mempertahankan keberadaan aksi tawuran pelajar. Senior melakukan komunikasi dengan juniornya untuk menyampaikan berbagai pesan yang umumnya dilaksanakan pada kegiatan- kegiatan tertentu yang telah menjadi tradisi di sekolah tersebut. Budaya tawuran pelajar seakan sengaja dibentuk dan diturunkan kakak- kakak kelas kepada siswa yang baru masuk sekolah, agar tradisi tersebut tetap terjaga. Biasanya, siswa yang baru masuk diajarkan melakukan tawuran di hari terakhir seusai Masa Orientasi Sekolah (MOS).Senior pada kelompok pelajar di setiap sekolah memiliki tradisi yang berbeda dalam melakukan komunikasi kepada juniornya. Namun cara senior dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan cenderung bersifat koersif. Komunikasi koersif merupakan proses penyampaian pesan (pikiran dan perasaan) oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang atau kelompok lain untuk mengubah sikap, opini, perilaku, dengan gaya yang mengandung paksaan (Effendy,1992: 83-84). Senior cenderung melakukannya disertai dengan ancaman bahkan juga menggunakan kekerasan agar pesan- pesan tersebut diterima. Banyak pesan yang disampaikan selain rasa cinta terhadap sekolah seperti diantaranya adalah penanaman identitas sosial, norma- norma yang berlaku di dalam pergaulan yang mengatur hubungan dan perilaku mereka dalam kelompok, juga stereotip terhadap sekolah- sekolah tertentu yang dianggap ?rival? dan harus dimusuhi.Komunikasi antara senior dan junior dalam kelompok dapat dilihat seperti sebuah pertukaran antara manfaat yang diperoleh dan pengorbanan yang dikeluarkan. Hubungan antara dua pihak tersebut mirip dengan pertukaran ekonomis dimana orang merasa puas ketika mereka menerima kembalian yang sesuai dengan pengeluaran mereka (West and Turner, 2008: 217). Senior dapat tampil sebagai pihak yang memiliki kekuasaan dan kekuatan atas juniornya, menerapkan senioritas, dan dapat menurunkan nilai- nilai yang berlaku dalam kelompoknya. Namun mereka juga mengeluarkan pengorbanan yakni memperoleh perlakuan yang sama dariseniornya ketika mereka masih menjadi junior. Sedangkan junior mengeluarkan pengorbanan atau biaya berupa bersedia melakukan tawuran dan diposisikan di garis depan, mengikuti kegiatan- kegiatan yang ditetapkan oleh senior, serta mematuhi norma- norma yang berlaku. Junior juga memperoleh keuntungan atau ganjaran berupa diterima dan diakui sebagai bagian dari kelompok. Menjadi bagian dari kelompok memberikan kebanggaan bagi mereka, karena memperoleh prestige dari keanggotaannya terebut. Pelajar yang menjadi bagian kelompok tersebut umumnya menjadi populer dan lebih eksis dibandingkan dengan yang tidak bergabung dengan kelompok tersebut.Terkadang tawuran pelajar terjadi secara spontan ketika dua kelompok pelajar secara sengaja maupun tidak sengaja bertemu atau berpapasan di sebuah tempat. Namun terkadang tawuran terjadi karena dipicu oleh alasan sederhana seperti balas dendam karena ada pelajar yang diganggu oleh pelajar dari sekolah lain, keributan setelah pertandingan, atau hanya karena saling ejek. Bahkan seringkali tawuran terjadi karena sudah menjadi sebuah kebiasaan atau tradisi pada hari- hari tertentu di tempat yang menjadi titik rawan tawuran.Hampir setiap minggu terjadi tawuran di berbagai tempat, sehingga menggelisahkan masyarakat. Sarana umum seperti gedung, bus, dan sebagainya rusak berat akibat ulah oknum-oknum pelajar itu. Korban pun berjatuhan dari luka ringan, berat hingga tewas. (Yayasan penerus nilai-nilai perjuangan 1945,1998: 67). Dapat terlihat dengan jelas bahwa dampak tawuran merugikan banyak pihak, baik dari pelajar itu sendiri, sekolah, dan masyarakat pada umumnya. Tawuran menjadi sebuah permasalahan sosial yang tidak kunjung usai hingga saat ini.II. Perumusan MasalahAnggota dalam kelompok pelajar senantiasa selalu berganti setiap tahunnya, namun aksi tawuran pelajar tetap terjadi, bahkan jumlah kasus yang terjadi cenderung besar dan korban yang berjatuhan meningkat. Hal tersebut terjadi karena adanya komunikasi yang dilakukan oleh senior ke juniornya dalam mentransmisikan budaya kelompoknya termasuk tawuran dari generasi ke generasi. Senior sebagai pihak yang terlebih dahulu menjadi bagian dalam kelompok berperan dalam menyampaikan budaya kelompoknya tersebut kepada junior. Maka permasalahan dalampenelitian ini adalah bagaimana pengalaman komunikasi antara senior dan junior pada kelompok pelajar dalam upaya mempertahankan budaya tawuran?III. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman komunikasi antara senior dan junior pada kelompok pelajar, khususnya dalam upaya mempertahankan budaya tawuran.IV. Signifikansi penelitian1. Signifikansi teoritisSecara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi penelitian ilmu komunikasi khususnya dalam pengembangan pemikiran teoritis menggunakan teori komunikasi koersif dan pertukaran sosial (social exchange theory).2. Signifikansi praktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan menjadi rujukan dalam memahami pengalaman komunikasi yang terjadi antara senior dan junior pada kelompok pelajar dalam mempertahankan budaya tawuran.3. Signifikansi SosialPenelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan sosial. Tawuran sendiri merupakan fenomena konflik antar kelompok pelajar yang tidak kunjung usai hingga saat ini. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk membantu mencari alternatif solusi dalam permasalahan tersebut.V. Metoda PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Data primer dikumpulkan menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) kepada 8 informan yang terdiri atas 4 senior dan 4 junior dari 2 sekolah yang berbeda di Jakarta Selatan, sedangkan data sekunder diperoleh dari media massa dan data kepolisian. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis data pada pendekatan fenomenologi Moustakas (dalam Creswell, 2007:159).VI. Kesimpulan Berdasarkan temuan penelitian di lapangan dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh senior dan junior dalam kelompok pelajar memiliki tujuan tertentu yakni sebagai upaya untuk mempertahankan budaya kelompok termasuk tawuran. Budaya dipertahankan dengan cara diturunkan dari generasi ke generasi, seniorlah yang bertugas mentransmisikan budaya tersebut kepada junior. Senior menggunakan teknik komunikasi koersif yaitu dengan ancaman, paksaan hingga kekerasan fisik saat menyampaikan pesan kepada junior.Selain itu, senior melakukan beberapa teknik komunikasi persuasif yaitu pay off idea dan fear arousing. Pay off dilakukan dengan memberikan harapan kepada junior bahwa mereka akan diterima sebagai bagian kelompok serta dapat menggantikan posisi seniornya kelak. Sedangkan fear arousing dilakukan dengan memanfaatkan ketakutan junior atas konsekuensi yang akan diterima jika tidak mematuhi hal yang disampaikan senior yaitu berupa hukuman mulai bentakan hingga kekerasan fisik.Junior tidak secara instan menerima budaya yang ditransmisikan oleh senior, melainkan diawali dengan keterpaksaan serta rasa takut terhadap senior. Namun, lambat laun junior dapat menerima budaya kelompok dan menerapkannya bukan karena tuntutan senior, namun karena telah terinternalisasi ke dalam dirinya.Dalam hubungan antara senior dan junior dalam kelompok, terdapat pertukaran sosial meliputi pengorbanan yang dikeluarkan dan imbalan yang diterima. Penerapan senioritas merupakan imbalan bagi senior dan merupakan pengorbanan dari junior. Dari hal tersebut, junior memperoleh imbalan dengan diakui sebagai bagian dari kelompok. Tidak semua junior memperoleh perlakuan yang sama dari seniornya, hanya mereka yang ditunjuk atau memang menginginkan keanggotaan dalam kelompok saja. Bagi junior yang merasa memperoleh keadilan dalam hubungannya dengan senior akan terus bertahan dalam kelompok, dan juga sebaliknya.Tawuran pelajar merupakan budaya yang diturunkan oleh senior sebagai upaya untuk melindungi sekolah luar dan dalam. Senior mengenalkan bahkan memberikan didikan kepadajuniornya mengenai tawuran. Solidaritas sesama teman, stereotip, dan ?sense of belonging? yang sangat kuat terhadap kelompok serta sekolahnya merupakan faktor pendorong bagi pelajar untuk tawuran. Namun, meskipun menanamkan budaya tawuran pada junior, senior menganggap bahwa saat ini tawuran tidak lagi perlu untuk dilakukan karena telah banyak menimbulkan korban. Tawuran hanya berguna untuk melindungi diri dan kesenangan masa remaja saja.VII. Bagan TeoritikVIII.IX.X.XI.Pertukaran Sosial Senior dan Junior dalam Kelompok Pelajar Cost RewardSeniorMemperoleh perlakuan yang sama saat juniorPenerapan senioritas Junior Penerapan Senioritas Diterima sebagai anggota kelompokKomunikasi Koersif (senior menggunakan paksaan dan ancaman dan kekerasan fisik)Komunikasi persuasif (Teknik pay off dan fear arousing)?kesediaan junior untuk diberikan pengaruh oleh seniorComplience?junior mulai melakukan hal-hal yang disampaikan oleh senior.Identification?pengaruh yang diberikan senior terinternalisasi pada diri juniorInternalizationTawuran sebagai Budaya Kelompok stereotipsolidaritaskonformitas normaDAFTAR PUSTAKAAdler, Ronald B dan Rodman, George. 2006. Understanding Human Communication, 9th Edition. New York: Oxford University PressAlwasilah, A Chaedar. 2000. Pokoknya Kualitatif. Jakarta: Pustaka JayaAw,Suranto. 2010. Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha IlmuAzwar, Saifuddin. 1995. Sikap manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi ke 2. Yogyakarta: pustaka pelajarBaxter, Leslie A dan Babbie, Earl. 2004. The Basics of Communication Research. The University of OtawaBeebe, Steven A dan Masterson, John T. 2003. Communicating in Small Groups: Principles dan Practices, 7th Edition. USA: Pearson Education, IncCreswell, John W. 2007. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. Thousand Oaks, California: SAGE PublicationsDenzim, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. 2000. Qualitative Research, 3rd Edition. Thousand Oaks, California: Sage Publication, IncDeVito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia Edisi 5. Jakarta: Professional BooksEffendi, Onong Uchana. 1988. Hubungan Insani. Bandung: Remaja RosdakaryaEffendi, Onong Uchjana. 1992. Kepemimpinan dan Komunikasi. Bandung: Mandar MajuEffendi, Onong Uchana. 1992. Ilmu Komunikasi, teori, dan praktek. Bandung: Remadja KaryaEffendi, Onong Uchana. 1992. Hubungan Masyarakat. Bandung: Remadja KaryaHuraerah, Abu & Purwanto. 2006. Dinamika Kelompok: Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Refika AditamaHurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: ErlanggaKriyantono, Rachmat. 2010. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaKuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran Liaw, Ponijan. 2005. Understanding Your Communication Style. Jakarta: PT Elex Media KomputindoLiliweri, Alo. 2002. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LkiSLittlejohn, Stephen W. 1999. Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, 6th Edition. USA: Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W. 2009. Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, 9th Edition. Jakarta: Salemba HumanikaMoleong, Lexy J. 2009. Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja RosdakaryaPratikto, Riyono. 1987. Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. Bandung: Remadja KaryaRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural: kompetesi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunikasi Antaretnis. Yogyakarta: Pustaka PelajarRakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja RosdakaryaSobirin, Achmad. 2007. Budaya Organisasi. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan sekolah tinggi ilmu manajemen YKPNSusetyo, Budi D. P. 2010. Stereotip dan Relasi Antar Kelompok. Yogyakarta: Graha IlmuSunarjo dan Sunarjo, Djoenaesih S. 1983. Komunikasi, Persuasi, dan Retorika. Yogyakarta: LibertyTubbs, Steward L & Sylvia Moss. 2005. Human Communication: Konteks-konteks komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetWest, Richard & Turner, Lynn H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi Buku 1. Jakarta: Salemba HumanikaWiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: GrasindoYayasan Penerus Nilai- Nilai Perjuangan 1945. 1998. Reformasi Pendidikan Mencegah Kenakalan Remaja antar Pelajar. Jakarta: Yayasan Penerus Nilai- Nilai Perjuangan 1945.Yusuf, Yusman. 1989. Dinamika Kelompok. Bandung: Armiko.Skripsi:Iffah Irsyadina. 2007. ?Komunikasi Persuasif Pendamping dalam Program Pendampingan Anak Jalanan?. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Diponegoro. SemarangRini, Yohana Susetyo. 2011. ?Komunikasi Orangtua- Anak dalam Pengambilan Keputusan Pendidikan?. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Diponegoro. SemarangReferensi dari Media:1. CetakKompas, 25 September 2012. ?Tawuran SMA 1 tewas 2 luka?, hal 1.Kompas, 27 September 2012. ?Keberingasan Pelajar Kian Meresahkan?, hal 1.Kompas, 19 Oktober 2012. ?Sekolah Ramah Anak Atasi Tawuran?, hal 34.Kompas, 19 Oktober 2012. ?Dari Juara Menjadi Tersangka?, hal 34.2. TelevisiRCTI, 27 September 2012. Seputar Indonesia Pagi.RCTI, 30 September 2012. Seputar Indonesia Petang.3. InternetAfriyanti, Desi dan Ruqoyah, Siti. (2011). Jejak Bentrok SMA 6 dan SMA 70. Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/248472-jejak-bentrok-sma-6-dan-sma-70 diakses pada 11 Januari 2013Amelia, Mei. (2012). 5 Pelajar Tewas dalam Tawuran Sepanjang Januari-September 2012. Dalam http://news.detik.com/read/2012/09/27/160351/2040707/10/5-pelajar-tewas-dalam-tawuran-sepanjang-januari-september-2012 diakses pada 11 Januari 2013Berindra, Susie. (2011) Tawuran: Tradisi Buruk Tak Berkesudahan. Dalam http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/23/10210953/Tawuran.Tradisi.Buruk.Tak.Berkesudahan diakses pada 8 Mei 2012Cara Menanggulangi/ Mengatasi Tawuran Antar Siswa Pelajar SD, SMP, SMK, SMK, dll. (2011). Dalam http://organisasi.org/cara-menanggulangi-mengatasi-tawuran-antar-siswa-pelajar-sekolah-sd-smp-sma-smk-dll diakses pada 30 April 2012Daniel, Wahyu. 2011. Pelajar SMA 70 dan SMA 6 Tawuran di GOR Bulungan, Tiga Luka. Dalam http://news.detik.com/read/2011/07/15/232328/1682402/10/pelajar-sma-70-sma-6-tawuran-di-gor-bulungan-tiga-luka diakses pada 11 Januari 2013Edwin, Nala. (2012). Di Tengah Ujian Nasional, 4 Tawuran Terjadi di Jakarta. dalam http://news.detik.com/read/2012/04/18/175757/1895640/10/di-tengah-ujian-nasional-4-ta wuran-terjadi-di-jakarta diakses pada 11 Januari 2013More, Immanuel. (2011). tawuran Pelajar di Tengah Kemacetan. Dalam http://megapolitan. kompas.com/read/2012/07/18/2245554/Tawuran.Pelajar.di.Tengah.Kemacetan diakses pada 11 Januari 2013Muhaimin, Ramdhan. (2012). Awas! Tawuran Pecah antara SMA 70 vs SMA 6 di Bulungan. Dalam http://news.detik.com/read/2012/03/09/195404/1863198/10/awas-tawuran-pecah-antara-sma-70-vs-sma-6-di-bulungan diakses pada 11 Januari 2013Penyebab Terjadinya Tawuran Antar Sekolah. (2011). Dalam http://wartawarga.gunadarma. ac.id/2011/09/penyebab-terjadinya-tawuran-antar-sekolah/ diakses pada 3 Mei 2012Santosa, Bagus. (2012). Usai MOS, dua Tawuran Terjadi di Jakarta Selatan. Dalam http://jakarta. okezone.com/read/2012/07/18/500/665338/usai-mos-dua-tawuran-terjadi-jakarta-selatan diakses pada 30 April 2012Setiawan, Aris dan Ruqoyah, Siti. (2011). Tawuran SMA 70 dan SMA 6 Warisan Puluhan Tahun. Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/248410-tawuran-sma-70-dan-sma-6-warisan diakses pada 11 Januari 2013Setiawan, Bambang Budi. (2011). Tawuran Antar Pelajar di Jakarta. Dalam http://www.indosiar.com/ragam/salah-satu-potret-bangsa-kita-21384.html diakses pada 3 Mei 2012SMA 70 dan SMA 87 Jakarta Terlibat Tawuran. (2012). Dalam http://www.metrotvnews. com/read/newsvideo/2012/04/25/149827/SMA-70-dan-SMA-87-Jakarta-TerlibatTawuran diakses pada 8 Mei 2012Supandi, Arofah. (2011). Ratusan Pelajar ditangkap di Blok M. Dalam http://berita.liputan6.com/read/366562/ratusan-pelajar-ditangkap-di-blok-m diakses pada 10 Mei 2012Surjaya, Abdullah M. (2012). Tawuran Pelajar, Satu Tewas Dua Kritis. Dalam http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/492125/ diakses pada 8 Mei 2012 Triyuda, Pandu. (2012). Berkas 6 Tersangka Tawuran Pancoran dilimpahkan ke Kejaksaan. Dalam http://news.detik.com/read/2012/11/09/163954/2087490/10/berkas-6-tersangka-tawuran-pancoran-dilimpahkan-ke-kejaksaan diakses pada 11 Januari 2013Wahono, Tri . (2011). Kehidupan Pelajar di Jakarta Meresahkan. Dalam http://nasional. Kompas. com/read/2011/12/21/06110685/Kehidupan.Pelajar.di.Jakarta.Meresahkan diakses pada 30 April 2012Wirakusuma, K. Yudha. (2011). 105 siswa SMKN 29 Jakarta ditangkap, 4 Bom Molotov Disita. Dalam http://news.okezone.com/read/2011/12/08/338/539868/105-siswa-smkn-29-jakart- ditangkap-4-bom-molotov-disita diakses pada 11 januari 2013
THE INFLUENCE OF STORY MAPPING STRATEGY AND READING HABIT TOWARDS READING COMPREHENSION ACHIEVEMENT OF THE EIGHTH GRADE STUDENTS OF SMP N 35 PALEMBANG Amalia, Rizka
ELTE Journal (English Language Teaching and Education) Vol 7, No 1 (2019): ELTE Journal February Edition
Publisher : Program studi Magister Pendididkan Bahasa Inggris Pascasarjana Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/elte.v7i1.2999

Abstract

Abstract This study was to investigatethe influence of story mapping strategy and reading habit towards reading comprehension achievement of the eighth grade students of SMP N 35 Palembang. The population of this study was all theeighth grade students of SMP N 35 Palembang. The sample was 60 students (experimental class is consisted of 15 students? high reading habit and 15 students? low reading habit and control class is consisted of 15 students? high reading habit and 15 students? low reading habit) were taken by using two-stage random sampling. In carrying out the research, the writer used an experimental method; factorial design.The writer distributed test and reading habit questionnaire (high and low reading habit) in collecting the data. Then, in analyzing the data, the writer usedt-test and two-way ANOVA. The result of this study that; first, there was significant difference in reading comprehension achievement between the eighth grade students who had high reading habit and those who had low reading habit taught by using story mapping strategy. Second, there was significant difference in reading comprehension achievement between the eighth grade students who had high reading habit and those who had low reading habit taught byusing traditional teaching method. Third, there was significant difference in reading comprehension achievement between students who had high reading habit taught by using story mapping strategy and those who were taught by using traditional teaching method. Fourth, there was not any significant difference in reading comprehension achievement between students who had low high reading habit taught by using story mapping strategy and those who were taught by using traditional teaching method. And the last, there was significant interaction effect of story mapping strategy and reading habit on reading comprehension achievement of the eighth grade students of SMP N 35 Palembang.Keywords : Story Mapping Strategy, Students? Reading Habit, Reading Comprehension Achievement. 
STRATEGI MEDIA RELATIONS PT. ANTAM (PERSERO) TBK SEBAGAI UPAYA PENGELOLAAN CITRA Nurhayati, Meti; Amalia, Rizka; Erdianti, Nur Putri
Jurnal Ilmiah Ekonomi Bisnis Vol 21, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif-deskriptif, dimana dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui strategi apa yang digunakan oleh public relations PT. Antam (Persero) tbk sebagai upaya pengelolaan citra. Objek dari penelitian ini adalah public relations PT. Antam (Persero) tbk dan pihak-pihak yang berkepentingan didalamnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi partisipan. Teknik analisis data yang digunakan adalah model Strauss dan Corbin sedangkan untuk menguji kebenaran jawaban yang diberikan oleh informan kunci digunakan triangulasi sumber dengan informan netral. Hasil penelitian diketahui bahwa strategi yang digunakan oleh public relationsPT. Antam (Persero) tbk dalam meningkatkan citra adalahmelakukan pendekatan media relations yaitu dengan cara kontak pribadi (personal contact), pelayanan informasi pribadi (news service) dan mengantisipasi kemungkinan hal darurat(Contingency Plan).  Kata kunci: Strategi, public relation, Citra organisasi
PENGARUH KONDISI OPERASI EKSTRAKSI REAKTIF GELOMBANG MIKRO UNTUK PRODUKSI BIODISEL DARI BIJI KEMIRI SUNAN SECARA IN SITU Yulianto, Mohamad Endy; Firyanto, Rudi; Mulyaningsih, M.F. Sri; Handayani, Sri Utami; Amalia, Rizka
METANA Vol 12, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1123.31 KB) | DOI: 10.14710/metana.v12i2.9749

Abstract

Krisis energi berbasis bahan bakar fosil  telah menjadi masalah global karena ketersediaannya sangat terbatas. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari bahan bakar alternatif yang memiliki sifat dapat diperbaharui dan ramah lingkungan, diantaranya dengan penggunaan biofuel biodisel. Tujuan riset adalah mempelajari pengaruh variable proses ekstraksi reaktif gelombang mikro untuk produksi biodisel dari biji kemiri sunan. Kebaruan dan inovasi utama dari skema proses yang dikembangkan adalah pengambilan minyak kemiri sunan dan reaksi transesterifikasi terjadi pada satu tahap. Pengukuran data dilakukan di Laboratorium Bioenergi Teknik Kimia Sekolah Vokasi UNDIP dan Laboratorium Teknik Separasi Teknik Kimia UNTAG dan selama 4 bulan. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain: (i) desain dan pabrikasi alat ekstraktor reaktif gelombang mikro kapasitas 5 liter/hari, dan (ii) studi pengaruh variabel proses ekstraksi reaktif untuk produksi biodisel. Variabel proses dalam ekstraksi dan metanolisis minyak kemiri sunan sebagai upaya dalam meningkatkan produktifitas dibagi menjadi dua, yaitu: variabel tetap dan variabel berubah. Penelitian telah dilaksanakan dengan berat biji kemiri sunan sebesar 250 gr dan dan dihaluskan. Variabel berubah menggunakan parameter suhu ekstraksi reaktif 50, 55, 60, dan 65 oC, dan perbandingan umpan metanol:biji kemiri sunan pada rasio 5:1, 4:1, 3:1, dan 2:1. Hasil kajian menunjukkan bahwa alat ekstraktor reaktif gelombang mikro untuk produksi biodisel dari biji kemeri sunan telah dipabrikasi secara baik. Semakin besar rasio metanol-biji kemiri sunan, konversi minyak kemiri sunan menjadi metil ester semakin meningkat. Peningkatan  perolehan metil ester juga juga semakin besar seiring meningkatnya temperatur operasi ekstraksi reaktif. Effect of Micro-Reactive Reactive Extraction Operation Condition For Biodisel Production Of Sunan Kemiri Seed In SituThe energy crisis based on fossil fuel has become a global problem because of its limited availability. Various attempts have been done to find another alternative fuels which have renewable characteristic and environmentally friendly, by using biofuel biodiesel. The aim of this research is to study the effect of process variable microwave reactive extraction to produce biodiesel from the ?Sunan? seeds of candlenut. The main novelty and innovation of the developed process was extraction of Sunan candlenut oil and transesterification reaction occurs at one stage. Measurement was carried out in the Bioenergy Laboratory of Chemical Engineering Vocational School UNDIP and Separation Engineering Laboratory of Chemical Engineering UNTAG for 4 months. Activities carried out include: (i) designing and manufacturing reactive extractor microwave with capacity 5 liters / day, and (ii) study of the effect of reactive extraction process variable for biodiesel production. Process variables of extraction and methanolyisis from Sunan candlenut oil as an effort to increase productivity were divided into two types: independent  and dependent variable. Research has been conducted by grinding Sunan seed weight of 250 grams. Variable changed using parameter of reactive extraction temperature 50, 55, 60, and 65 ° C, and the ratio of methanol feed: Sunan seeds at  5: 1, 4: 1, 3: 1 and 2: 1. The results show that the reactive extractor microwaves produce biodiesel from the Sunan seeds has been fabricated as well. The greater the ratio of methanol- Sunan seed, the bigger of Sunan oil conversion to methyl ester. Increasing methyl ester also getting bigger with increasing operating temperature of reactive extraction.
PRODUKSI SABUN CUCI PIRING SEBAGAI UPAYA PENINGKATKAN EFEKTIVITAS DAN PELUANG WIRAUSAHA Amalia, Rizka; Paramita, Vita; Kusumayanti, Heny; Wahyuningsih, Wahyuningsih; Sembiring, Maranatha; Rani, Dina Elvia
METANA Vol 14, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.694 KB) | DOI: 10.14710/metana.v14i1.18657

Abstract

Sabun cuci piring merupakan salah satu kebutuhan dalam rumah tangga yang berfungsi sebagai penghilang kotoran dan lemak pada peralatan makan dan masak. Konsumsi sabun cuci piring yang  terus menerus setiap harinya, menyebabkan kebutuhan pengadaan sabun dengan biaya yang tidak sedikit, terlebih pada ibu-ibu kelompok pembuat jajan pasar sederhana di RT 4 RW 7 Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik. Tujuan dilaksanakannya pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberi pengetahuan dan pelatihan kepada ibu-ibu RT 4, RW 7, Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik tentang pembuatan sabun cuci piring cair guna mengurangi pengeluaran masyarakat terhadap pembelian sabun sekaligus untuk menciptakan peluang usaha baru. Dalam kegiatan pengabdian, akan dijelaskan bahan baku, prosedur kerja dan perhitungan biaya produksi pembuatan sabun cuci piring. Dari  kegiatan yang dilakukan,  mitra dapat menghasilkan luaran produk barang berupa sabun cuci piring cair sesuai dengan metode yang diberikan dalam pelatihan. Production of Dish Washer Soap as Efforts to Increase Effectiveness And Entrepreneurial Opportunity Dishwashing liquid is one of household stuff that used for removing grease and dirt from dishes. Using the dishwashing liquid continuously cause the need of its stuff at a high enough cost. The purpose of this activity is to provide knowledge and training to the making of dishwashing liquid soap in order to reduce cost as well as to create new business opportunity. In this activities, the raw materials and procedure of producing dishwashing liquid will explained, and the production costs of dishwashing manufacture will calculated. From the activities undertaken, can produce the dishwashing liquid soap in accordance with the methods given in the training.  
STUDI PENGARUH RASIO REAKTAN, PH, DAN WAKTU REAKSI TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA TEPUNG GADUNG (DIOSCOREA HISPIDA DENNST.) TERASETILASI Amalia, Rizka; Kumoro, Andri Cahyo
METANA Vol 11, No 02 (2015): Desember 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.229 KB) | DOI: 10.14710/metana.v11i02.14756

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh rasio reaktan, pH  dan waktu reaksi terhadap nilai swelling power, solubility, dan derajat substitusi tepung gadung terasetilasi. Asetilasi dilakukan dengan mendispersikan 20 gram tepung gadung ke dalam 100 mL akuades. pH diatur hingga nilai tertentu (8, 9, dan 10) dengan penambahan NaOH 1 M. Slurry diaduk selama 30 menit. Setelah itu, asam asetat dengan rasio tertentu 1:3, 1:4, dan 1:5 (berat asam asetat:berat tepung) ditambahkan secara perlahan ke dalam campuran reaksi. pH campuran dijaga ke kondisi awal dengan penambahan NaOH 1 M. Reaksi asetilasi dibiarkan berlangsung selama waktu tertentu (10, 20, 30, 40, 50, dan 60 menit,) kemudian dihentikan dengan penambahan HCl 1 M sampai pH 5,5. Tepung terasetilasi disaring dan dicuci dengan air suling sebanyak tiga kali pencucian dengan rasio berat pencucian 1:3 (b/v). Tepung terasetilasi dikeringkan pada suhu 50oC sebelum dianalisa nilai daya kembang, kealarutan, dan derajat substitusinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kondisi optimal diperoleh pada tepung yang dimodifikasi dengan rasio reaktan 1:3, pH 8, dan waktu reaksi 30 menit, dengan nilai swelling power,solubility, dan derajat substitusi sebesar 7,3 g/g; 18,6 %; dan 0,033.  kata kunci :gadung, asetilasi, swelling power, solubility, derajat substitusi Abstract The objective of this research are to investigate the effect of glacial acetic acid:flour mass ratio, pH, and reaction time on the swelling power, solubility,and degree of substitution acetylated gadung tuber flour. The acetylation was carried out by dispersing 20 grams of gadung flour in 100 mL distilled water. The pH of the dispersed system was adjusted to a certain value (8, 9 or 10) by adding of 1 M NaOH.  Then, the predetermined mass of glacial acetic acid (1:3, 1:4, and 1:5)  was added to the reaction mixture. The pH was brought back to the initial condition by adding of 100 mL 1 M NaOH. The acetylation reaction was let to occur for 10 to 60 minutes before it had been terminated by adding 1 M HCl until pH 5,5. The acetylated flour were obtained by filtration of reaction mixture. It is followed by threefold washing that used distilled water with 1: 3 (w/v). The acetylated flour then were dried in an electric oven at 50oC before analyzed to swelling power, solubility, and degree of substitution. Based on the value of swelling power and water solubility of acetylated gadung tuber flour were obtained, the best reaction condition were the ratio of glacial acetic acid/gadung tuber flour 1:3, pH 8, and the reaction time of 30 minutes with swelling power 7,3 g/g; solubility 18,6%, and degree of substitution 0,033. key words : gadung, acetylation, swelling power, solubility, degree of substitution 
IMPROVING LISTENING AND SPEAKING SKILLS BY USING ANIMATION VIDEOS AND DISCUSSION METHOD Amalia, Rizka
JURNAL PEDAGOGY Vol 2, No 1 (2014): JURNAL PEDAGOGY
Publisher : Department of English Education of STAIN Jurai Siwo Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Listening and speaking are the important skills that have to be mastered by the students. By having these skills, the students can communicate with others easily. There are many strategies that can be used to teach listening and speaking skills. One of the strategies is by using animation videos. Many students of all ages still like watching animation videos for they are interesting. Animation videos can help the students more understand because they present visual context aids that assist the students comprehend and improve their learning skills. Animation videos can be integrated with discussion method. This paper aims at providing required information about the advantages of animation videos and how to use them in the teaching and learning English activity
STUDI PENGARUH PROSES PERENDAMAN DAN PEREBUSAN TERHADAP KANDUNGAN KALSIUM OKSALAT PADA UMBI SENTHE (ALOCASIA MACRORRHIZA (L) SCHOTT) Amalia, Rizka; Y.S., Riris Yuliana; Kumoro, Andri Cahyo
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Senthe (Alocasia macrorrhiza (L) Schott) is a kind of tuber that grows widely in the tropical area. Senthe has the potential as a staple food or as a interlude food with a high carbohydrate content. However, senthe contain oxalic acid which can reduce absorption of calcium  in the digestive system and calcium oxalate which causes itchiness. The purpose of this research is to investigate the effect of soaking and boiling process toward calcium oxalate and nutritional value in the tuber chips.In this research, the variables are the thickness of slicing (0.5 cm, 1 cm, 1.5 cm), soaking time (2 hours and 4 hours,) weight ratio between tuber and volume of salt soluion (1:3, 1:4, 1:5, 1:6, 1:7) w/v , and the boiling time at (10 min, 20 min and 30 min). Based on research result obtain that the slice thickness 1 cm is the optimum value in the reduction process. While soaking weight ratio and optimum soaking time is at 1:6 (w / v) and 4 hours. Optimum boiling time is 30 minutes. Combination of all treatments can reduce the content of calcium oxalate in senthe of 79.53%. Calcium oxalate reduction in senthe is 351 mg/100g, whereas allowable oxalate levels is 71 mg/100g (Sefa-Dedeh and Agyir-Sackey, 2004), thus,the senthe is still not safe for human consumption.