Articles

Found 10 Documents
Search

PENINGKATAN USAHA KERIPIK SINGKONG RASA GADUNG MENUJU UKM YANG BERDAYA SAING rahayu, wiwit; Anam, Choiroel; Riptanti, Erlyna Wida
INOTEKS Vol 22, No 1 (2018)
Publisher : LPPM UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3672.785 KB)

Abstract

ABSTRAKKeripik singkong rasa gadung merupakan salah satu hasil olahan dari singkong yang memiliki rasa gadung. Usaha pembuatan kripik ini telah lama dilakukan oleh masyarakat di Desa Pule Kecamatan Jatisrono Kabupaten Wonogiri, diantaranya UKM Jawi rahayu dan UKM Surami. Kegitan pengabdian dilakukan dalam rangka meningkatkan usaha keripik singkong rasa gadung agar memiliki daya saing di tengah persaingan yang ketat dalam usaha pengolahan pangan.  Kegiatan yang dilaksanakan agar kedua UKM mitra menjadi UKM yang berdaya saing meliputi : 1) Pelatihan dan pendampingan manajemen usaha, 2)  Fasilitasi dan pendampingan perijinan usaha, 3) Pelatihan dan fasilitasi kemasan, serta 4) Pendampingan pemasaran.  Hasil yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan adalah  1) perbaikan manajemen usaha khususnya pembukuan keuangan,  2) UKM mitra memiliki sertifikat P-IRT, 3) Kemasan lebih marketable, dan 4) daerah pemasaran semakin luas.  Pada akhirnya kegiatan yang dilakukan dapat meningkatkan jumlah produksi, kualitas produk, dan pendapatan UKM. Kata kunci:  daya saing, keripik singkong rasa gadung,UKM 
MI KERING WALUH (Cucurbita moschata) DENGAN ANTIOKSIDAN DAN PEWARNA ALAMI Anam, Choiroel; Handajani, Sri
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 25, No 1 (2010)
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mie merupakan salah satu jenis makanan yang paling populer di masyarakat. Saat   ini mie menjadi kebutuhan masyarakat luas sebagai bahan yang dapat menggantikan makanan pokok. Mie kering adalah mie segar yang telah dikeringkan hingga kadar airnya mencapai 8-10%. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan mie kering adalah tepung terigu yang selama ini masih impor. Sehingga perlu adanya pengurangan konsumsi tepung terigu dalam pembuatan mie kering. Hal ini bisa disubstitusi dengan labu kuning. Labu kuning  adalah  tanaman  lokal  yang  melimpah  keberadaannya.  Angkak  merupakan  beras  yang  telah difermentasi dengan Monascus sp yang mengandung antosianin (pembentuk warna merah) yang bisa digunakan sebagai pewarna alami.Oleh karena itu perlu adanya penelitian guna mengetahui prosentase tepung terigu, labu kuning dan tepung angkak yang tepat dalam pembuatan mie kering yang bisa diterima oleh konsumen. Juga untuk mengetahui pengaruh penambahan labu kuning dan tepung angkak terhadap kandungan kadar air, abu dan protein, serta pengaruh terhadap kesukaan panelis terhadap parameter warna, aroma, elastisitas, rasa dan keseluruhan.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan dua faktor, faktor pertama yaitu substitusi labu kuning (0%, 20%, 30%, 40%) terhadap tepung terigu   dan faktor kedua yaitu penambahan tepung angkak (0%, 1%, 2%,3%). Hasil penelitian menunjukkan prosentase penggunaan labu kuning yang paling disukai oleh panelis yaitu mie kering dengan kombinasi perlakuan substitusi labu kuning sebesar 20% dengan tanpa penambahan tepung angkak. Semakin besar substitusi labu kuning akan meningkatkan kadar abu, sedangkan kadar air, kadar protein dan aktivitas antioksidan akan menurun secara tidak berbeda nyata. Semakin besar penambahan tepung angkak akan meningkatkan kadar abu, kadar protein dan aktivitas antioksidan, sedangkan kadar air menurun. Warna, aroma dan rasa mie kering cenderung tidak berpengaruh terhadap perlakuan substitusi labu kuning dan penambahan tepung angkak. Semakin banyak substitusi labu kuning, maka penilaian panelis terhadap parameter elastisitas akan semakin menurun secara tidak berbeda nyata. Semakin banyak penambahan tepung angkak, akan menurunkan penilaian panelis terhadap parameter elastisitas. Parameter keseluruhan cenderung tidak berpengaruh terhadap perlakuan substitusi labu kuning dan penambahan tepung angkak. Sampel dengan nilai tertinggi yaitu perlakuan substitusi labu kuning 20% tanpa penambahan tepung angkak.
Penggunaan Daging Keong Mas (Pomacea caniculata) terhadap Kualitas Kerupuk Anam, Choiroel
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 20, No 2 (2005): October
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1553.902 KB) | DOI: 10.20961/carakatani.v20i2.20502

Abstract

Research about chips made from flour falvored with gold snail has been conducted to know the characteristic of physical, chemical and organoleptic chips results. Data were analyzed with Completely Randomized Design (CRD) by single factor. The factor is ratio between tapioca flour and gold snail meat.The result show that adding snail meat at batter chips was increasing content of water, protein, ash and taste. In other side decreasing content of strach, will reduce the development and color of chips. Chemical, physical and organoleptic examination showed best result at 30% of gold snail meat as substitution at chip.
KAJIAN KARAKTERISTIK OLEORESIN JAHE BERDASARKAN UKURAN DAN LAMA PERENDAMAN SERBUK JAHE DALAM ETANOL Kawiji, Kawiji; Anam, Choiroel; Manuhara, Godras Jati; Fakhrudin, Muh Ifan
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 24, No 1 (2009): March
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3150.303 KB) | DOI: 10.20961/carakatani.v24i1.14020

Abstract

Ginger (Zingiber officinale rosc.) is one of high-production commodities in Indonesia, particulary in Central Java Province. Nevertheless, in general ginger is usually traded in fresh ginger form or simple processing result, such as dry ginger or ginger powder. Ginger oleoresin is combination of resin and atsiri (volatile) oil derives from ginger powder extraction by using organic solvent. Oleoresin is used as food and beverage flavouring substance having taste and aroma characteristic similar to the original spices. In addition to give ginger hot taste, oleoresin is also hygienic as well as contains natural antioxidant. The research aims to find out whether or not the ginger powder size and submerging duration in ethanol as well as the interaction of them affect the oleoresin characterization produced. The experimental design employed was factorial design with two factors: ginger powder size variations (20 mesh, 30 mesh, 50 mesh) and ginger powder submerging duration variations in ethanol (extraction) (24 hours, 48 hours, 72 hours). The data was obtained from the submerging analysis, density, and solvalibility in alcohol, acid and ester values, as well as phenol content affects the oleoresin characterization produced; the smaller the ginger powder size and the longer the submerging duration of ginger powder in ethanol, the higher are the values of submerging, density, acid value, ester as well as phenol content. The interaction of them only affects the oleoresin density. The range of submerging value obtained is 8-14.5%; density 1.2252-1.2809; solvability in alcohol 1:6-1:10; acid value 0.560-2.248; ester value 5.416-14. 978 as well as phenol content 3-7%.
Mengungkap Senyawa pada Nata De Coco sebagai Pangan Fungsional Anam, Choiroel
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3453

Abstract

 Nata adalah selulosa ekstraseluler yang dihasilkan dari aktiivitas bakteri Acetobacter xylinum dalam proses fermentasi, dan  merupakan salah satu makanan kesehatan yang kaya akan serat. Nata yang paling umum ditemukan adalah nata de coco dengan media fermentasi air kelapa. Faktor-faktor dominan dalam pembuatan nata adalah ketersediaan nutrisi (karbon dan nitrogen), derajat keasaman dan media fermentasi yang digunakan. Penentuan kualitas terbaik media air kelapa yang digunakan, penentuan konsentrasi nitrogen dan sukrosa yang ditambahkan serta kondisi pH optimum  akan menghasilkan nata yang maksimal.Penelitian ini bertujuan untuk mencari kualitas terbaik pada fermentasi dalam proses pembuatan nata de coco, dan mengetahui senyawa fungsional yang terdapat pada nata de coco sebagai pangan fungsional. Hasil pengujian analisa sampel nata de coco menggunakan Gas chromatography–mass spectrometry (GC-MS) menunjukkan senyawa yang sangat bermaaf bagi kesehatan tubuh manusia. Sepuluh besar senyawa fungsional yag terdapat pada nata de coco yaitu:  Benzeneacetic Acid sebagai anti fungal dan scavenger. Hexadecanoid Acid memiliki efek anti-inflamasi, anti bakteri dan anti fungi. 22-Hydroxyhopane, Tetradecanoic Acid yang mempunyai aktivitas antimikroba dan antifungal. 9-Octadecanoid Acid, ρ-Cresol  memiliki aktivitas antioksidan. 9-Octadecenamide berfungsi untuk mencegah Alzheimer, menurunkan kolesterol dan menurunkan tekanan darah, Senyawa fungsional yang lain diantaranya (Z), Phenol, 4-(2-aminoethyl), Pentadecanoic Acid, 1-Heptadecanecarboxylic acid. Komposisi kimia nata  de coco dihasilkan kadar air 95%.  abu 0,35% dan protein 0,45%. Penelitian menunjukkan peningkatkan produksi nata dengan kualitas  yang baik sesuai persyaratan standar yang telah ditetapkan dan mempunyai senyawa senyawa  yang bermanfaat sebagai pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan.
MI KERING WALUH (Cucurbita moschata) DENGAN ANTIOKSIDAN DAN PEWARNA ALAMI Anam, Choiroel; Handayani, Sri
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 25, No 1 (2010): March
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.181 KB) | DOI: 10.20961/carakatani.v25i1.15744

Abstract

Noodle is kind of most popular food. Dry noodle is raw noodle that dry till 8 - 10 % moisture contents. It’s raw material is wealth flour that imported. So that it is necessary to reduce wealth flour consumption in dry noodle production. It can substitute by yellow pumpkin. Yellow pumpkin is local plant that a lot. Angkak is fermented rice by Monascus sp that contain antosianin (red color agent) can use as natural colorant. So that, its need study to define exactly the percentage of wealth flour, yellow pumpkin and angkak flour in dry noodle production that accept by consumer. It is also to know the effect of yellow pumpkin and angkak addition on antioxidant activity and nutrient content (moisture, ash and protein content), also the effect on sensory character (color, aroma, elasticity, taste and overall). This study use factorial completely random design with two factors, first factor is the yellow pumpkin substitute (0%, 20 %, 30% and 40%) on wealth flour and second factor is the angkak flour addition (0%,1%,2%and 3%). The result of this study shown the most prefer yellow pumpkin percentage use by the panelist is dry noodle with 20 % substitute treat combine without angkak flour addition. As bigger as yellow pumpkin substitute will increase the moisture and ash content, then protein content and antioxidant activity insignificantly decrease. As bigger as angkak flour addition will increase the ash, protein content and antioxidant activity, then moisture content decrease. The dry noodle’s aroma and taste was unaffected by the yellow pumpkin substitute and angkak addition. As bigger as angkak flour addition, will decrease the elasticity score by the panelist. Overall parameter, was almost unaffected by the yellow pumpkin substitute and angkak addition. The highest score is dry noodle with 20 % yellow pumpkin substitute treat without angkak flour addition.
Karakterisasi Biokimia Lektin Makroalga Sargassum polycystum dan Turbinaria ornata Fajarningsih, Nurrahmi Dewi; Intaqta, Naomi; Praseptiangga, Danar; Anam, Choiroel; Chasanah, Ekowati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i2.562

Abstract

AbstrakKemampuan lektin untuk mengikat karbohidrat secara spesifik dan reversible dapat dikembangkan dalam berbagai aplikasi, misalnya sebagai reagen histokimia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari spesifisitas pengikatan lektin makroalga Sargassum polycystum dan Turbinaria ornata pada berbagai jenis karbohidrat, stabilitas aktivitas hemaglutinasi lektin pada berbagai rentang suhu dan pH, serta pengaruh kation divalen pada aktivitasnya. Uji penghambatan hemaglutinasi secara kualitatif dan kuantitatif dilakukan untuk mempelajari spesifisitas pengikatan lektin terhadap 20 jenis gula dan glikoprotein. Untuk melihat stabilitas aktivitasnya, lektin S. polycystum dan T. ornata diberi perlakuan pemanasan pada rentang suhu 30-100 oC, perlakuan pH 3-10 dan perlakuan kation divalen MgCl2 dan CaCl2 kemudian diuji aktivtitas hemagglutinasinya. Ekstrak kaya lektin S. polycystum dan T. ornata mampu mengenali dan mengikat 8 glikoprotein secara kualititatif, yaitu fetuin (Fe), asialo Fe (aFe), thyroglobulin from bovine (BTG), asialo BTG, thyroglobulin from porcine (PTG), asialo PTG (aPTG), asialo mucin from bovine submaxillary glands (aBSM), dan asialo transferrin (aTf), namun tidak mempunyai afinitas terhadap gula sederhana. Lektin S. polycystum memiliki spesifisitas pengikatan terbaik terhadap aFe dan transferrin (Minimum Inhibitory Concentration/MIC 250 µg/ml), sementara Lektin T. ornata memiliki spesifisitas pengikatan terbaik terhadap aPTG (MIC 31.25 µg/ml), PTG (MIC 125 µg/ml), dan BTG (MIC 250 µg/ml). Aktivitas hemaglutinasi lektin S. polycystum stabil pada suhu 30-80 oC dan suasana netral hingga basa (pH 7-10), namun kurang stabil pada suasana asam (pH 3-6). Aktivitas lektin T. ornata relatif tidak stabil pada suhu 40-100 oC, sedikit menurun pada pH sangat asam, namun stabil pada rentang pH 5-10. Keberadaan kation divalent Ca2+ dan Mg2+ sedikit menurunkan aktivitas lektin S. polycystum dan T. ornata. Biochemical Characterisation of Lectin Derived from Sargassum polycystum and  Turbinaria ornata MacroalgaeAbstractThe ability of lectins to specifically and reversibly bind carbohydrates is an important characteristics for its various applications. This research aims to study the binding specificity of Sargassum polycystum and Turbinaria ornata lectin rich extracts to various types of carbohydrates, the stability of both lectins hemagglutination activities at various temperatures and pH, and the effects of divalent cations on the lectin activities. The lectin binding specificity was studied through qualitative and quantitative hemagglutination inhibition studies. To study their activity stability, both lectins were treated at 30 to 100 oC, treated with various pH buffers (pH 3-10), treated with MgCl2 and CaCl2 followed with hemagglutination assay. Both lectins bound 8 glycoproteins tested, i.e. fetuin (Fe), asialo Fe (aFe), thyroglobulin from bovine (BTG), asialo BTG, thyroglobulin from porcine (PTG), asialo PTG (aPTG), asialo mucin from bovine submaxillary glands (aBSM), and asialo transferrin (aTf) but did not have any affinity to the simple sugars. The S. polycystum lectin bound to aFe and transferrin (MIC 250 µg/ml). Meanwhile, the T. Ornata lectin specifically bound to aPTG (MIC 31.25 µg/ml), PTG (MIC 125 µg/ml), and BTG (MIC 250 µg/ml). The hemagglutination activity of S. polycystum lectin was stable at 30-80 oC and in neutral to alkaline conditions (pH 7-10), but less stable in acidic conditions (pH 3-6). The T. ornata lectin activity was relatively unstable at 40-100 oC, slightly decreased at a very acidic pH, butwas stable in a pH range of 5-10. The presence of Ca2+ and Mg2+ divalent cations slightly decreased the lectins activities.
PERANAN JUS BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia) DALAM MEMPERTAHANKAN KUALITAS SUSU PASTEURISASI KAMBING “PERANAKAN ETAWA” SELAMA PENYIMPANAN Yuniani, Devi Rizky; Anam, Choiroel; Khusniati, Tatik; Utami, Rohula
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jthp.v10i1.19134

Abstract

Pasteurized milk stored at cool temperatures generally have a relatively short shelf life. Antibacterialactivity of noni juice in maintaining the quality of pasteurized goat's milk stored at cold temperatures wasinvestigated. Characteristics of pasteurized goat's milk examined were organoleptic performances, microbialgrowth (total plate count and psychotrophic bacteria), chemical characteristics (protein, pH and acid total) withthe addition of noni juice at variation concentrations) (0%, 5%, 7.5%, 10%, and 12.5%) and times of storage(0.5, 10, 15 and 20 storage days). The results showed that the concentration of noni juice addition of 0 % -7.5 %on the parameters of colour, flavour, taste and homogenity and still were acceptable by consumers. Theinhibitory effects of TPC amount of growth were shown in 12.5% (2.8x101-3.3x101cfu/ml), and this inhibitoryeffects weren’t significantly different between each other of concentrations) (α> 0.05). The low decrease ofprotein content was indicated at concentrations of 7.5 % and still with the value of under SNI up to 20 days ofstorage (from 3.48 to 3.19%). The lowest decrease of pH and the increase acid total titration were shown atconcentrations of 5% with the values of pH (6.40 to 6.17) and acid total (0.20 %-0.22%). Based on organoleptic,microbial and chemical characteristics, it can be concluded that the best concentration of noni juice than that theothers can be added to the pasteurized goat milk during storage was 5%.
PENGEMBANGAN PRODUK COKELAT COUVERTURE DENGAN PENAMBAHAN PANGAN FUNGSIONAL DI DESA RANDUALAS KECAMATAN KARE KABUPATEN MADIUN Ariyantoro, Achmad Ridwan; Anam, Choiroel; Kawiji, Kawiji; Minardi, S; Zulfa, Fitriyah; Purnomo, Didik; Muzayana, Eny; Atmaja, Rohmat Priya; Widiatmoko, Clysna
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 3, No 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prima.v3i2.37835

Abstract

Kabupaten Madiun memilih kakao sebagai salah satu komoditi utama yang bisa dikembangkan karena dinilai tepat dengan struktur tanah di lereng pegunungan dan sebagai daerah tujuan wisata. Petani kakao Desa Randualas, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun memiliki permasalahan yaitu harga jual biji kakao masih rendah sehingga perlu peningkatan nilai jual dengan membuat produk olahan dari biji kakao menjadi produk makanan seperti cokelat couverture. Disamping itu, pengembangan produk berbahan dasar cokelat perlu penganekargaman dengan penambahan pangan fungsional sehingga bermanfaat bagi kesehatan. Target pengabdian masyarakat ini adalah peningkatan kemampuan petani kakao untuk pengembangan produk cokelat couverture dengan penambahan pangan fungsional yang berupa tepung kecang kedelai sehingga meningkatkan pendapatan petani kakao. Kegiatan yang dilakukan adalah sosialisasi, penyuluhan, pelatihan dan praktek proses produksi cokelat couverture yang meliputi pelatihan pembuatan proses dan pengemasan produk. Hasil pengabdian ini menghasilkan meningkatnya pengetahuan petani dalam mengolah cokelat dengan penambahan pangan fungsional..
PENINGKATAN DAYA SAING KERIPIK MELALUI PERAJANG SLICE KENTANG DAN DESAIN KEMASAN DI SUMBEREJO, NGABLAK, MAGELANG Anam, Choiroel; Uchyani, Rhina; Widiyanti, Emi
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 4, No 1 (2020): June
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prima.v4i1.38110

Abstract

Title: Improved Chips Competitiveness Through Potato Slice Chopper and Packaging Design in Sumberejo, Ngablak, MagelangPotato post-harvest handling in the Merbabu agropolitan area of Sumberejo Village, Magelang Regency was needed in order to optimize both quantity and quality, so both producers and consumers were benefit. Abundant potato production was potentially being processed into potato chips and become an icon of tourist souvenirs on the Merbabu mountain slopes. The introduction of this Appropriate Technology is an effort to increase the competitiveness of processed potato products in the Merbabu slope area with various activities such as facilitation of potato chip production equipment, introduction of potato stick and slice machines, potato processing training for SMEs, improvement of packaging design, management of business legality in the form of P-IRT, and facilitation of the balance. The results of this activity were able to increase the production capacity of potato chips 17-20% per month, to increase the quality of potato chips which is more uniform and to extend product shelflife. Product diversification was produced by processing potatoes into "Merbabu Potato Donuts" and "Merbabu Potato Cake". Overall increasing in sales turnover of processed potato products and increasing product competitiveness could increase the income of the Agro Lestari Merbabu potato farmers group.