Articles

Found 18 Documents
Search

SAKARIFIKASI SERAT TANDAN KOSONG DAN PELEPAH KELAPA SAWIT SETELAH PRETREATMENT MENGGUNAKAN KULTUR CAMPURAN JAMUR PELAPUK PUTIH Phanerochaete chrysosporium dan Trametes versicolor Hermiati, Euis; Risanto, Lucky; Anita, Sita Heris; Aristiawan, Yosi; Hanafi, Ahmad; Abimanyu, Haznan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan kultur campuran jamur pelapuk putih pada proses pretreatment bahan lignoselulosa belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan kultur  Phanerochaete chrysosporium dan Trametes versicolor pada proses pretreatment serat tandan kosong dan pelepah kelapa sawit terhadap hasil sakarifikasinya. Inokulum P. Chrysosporium dan T. versicolor dituangkan ke dalam sampel substrat serat tandan kosong dan pelepah kelapa sawit (40-60 mesh) yang telah disterilkan, masing-masing sebanyak 5% (w/v), sehingga total inokulum yang ditambahkan ke dalam kedua macam substrat masing-masing 10% (w/v). Sampel diinkubasikan pada suhu ±27°C selama 4 minggu. Sebagian dari contoh diambil dan lalu diperiksa setelah masa inkubasi 1, 2, 3, dan 4 minggu. Sakarifikasi dilakukan menggunakan enzim selulase sebanyak 20 FPU per g biomassa dan β-glukosidase dalam shaking waterbath pada suhu 50°C selama 48 jam. Analisis gula pereduksi, glukosa dan xilosa dilakukan terhadap hasil sakarifikasi. Rendemen gula pereduksi, konsentrasi glukosa dan xilosa tertinggi dari tandan kosong kelapa sawit. diperoleh dari sakarifikasi serat dengan pretreatment selama 4 minggu, yaitu masing-masing 13,08%, 0,86 mg/g dan 0,13 mg/g, sedangkan rendemen gula pereduksi, konsentrasi glukosa dan xilosa tertinggi dari pelepah kelapa sawit didapatkan dari sakarifikasi substrat dengan pretreatment selama 2 minggu, yaitu masing-masing 8,98%, 0,92 mg/g dan 0,23 mg/g.
FIBER QUALITIES OF PRETREATED BETUNG BAMBOO (Dendrocalamusasper) BY MIXED CULTURE OF WHITE-ROT FUNGI WITH RESPECT TO ITS USE FOR PULP/PAPER Fatriasari, Widya; Damayanti, Ratih; Anita, Sita Heris
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 10, No 2 (2013): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Previous research on anatomical structures of pretreated large (betung) bamboo (Dendrocalamusasper) using single culture of white-rot fungi has been investigated, which revealed that the pretreatment caused the decrease in the Runkel ratioas well as the coefficient rigidity and the increase in the flexibility ratio of their corresponding bamboo fibers. However, there is no study reported on the anatomical structure changes of them caused by pretreatment using mixed culture of white-rot fungi. This paper reports the results of the research on paper/pulp quality after different treatments. Pretreatment that used Trametes versicolor fungi and lasted for 45 days inflicted intensive fiber damages compared with those of untreated bamboo (control). Fresh and barkless large (betung) bamboo chips of 2 years old, and 1.6 cm in length, were inoculated by 10% of mixed culture of white-rot fungi inoculums stock for 30 and 45 days in room temperature. There were four treatment groups of mixed culture, i.e T. versi color and P. ostreatus (TVPO); P. ostreatus and P. chrysosporium (POPC); P. chrysosporium and T.versi color (PCTV); and P.chrysosporium,  T.versicolorand  P.ostreatus  (TVPCPO).After  the  inoculation  period,  the  chips  weremacerated into separate fibers using Scultze method to analyze the fiber dimension and its derived values. The fibers were then observed regarding their macro and microscopic structures by optical microscope. Mixed culture pretreatment of white-rot fungi accelerated improvement of fiber morphology and fiber derived value characteristics, except for Muhlsteph ratio. The fiber derived values oftreated bamboo tended to improve compared to those of untreated bamboo, there by requiring milder pulping conditions. Accordingly, the treated bamboo would indicatively produce a good quality pulp (grade I) based on FAO and LPHH (Forest Product Research Report) requirements. Co-culture treatment using P. chrysosporium and P. ostreatus for 45 days produced the best fiber dimension and its derived value properties. The fungi hypae colonized on the surface area of  bamboo followed by mycelium penetration into substrate (bamboo-inner structure). The partial degradation caused by delignification indicatively attributed to the fungi activity was shown in the macroscopic images.
PEMANFAATAN LIGNIN HASIL ISOLASI DARI LINDI HITAM PROSES BIOPULPING BAMBU BETUNG (Dendrocalamus asper) SEBAGAI MEDIA SELEKTIF JAMUR PELAPUK PUTIH Anita, Sita Heris; Yuli Yanto, Dede Heri; Fatriasari, Widya
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HASIL HUTAN
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2406.752 KB)

Abstract

Lindi hitam merupakan limbah industri pulp yang belum termanfaatkan dengan baik. Pemanfaatan lignin dari lindi hitam selama ini biasanya hanya digunakan sebagai perekat. Dalam bidang mikrobiologi lignin dari lindi hitam dapat dimanfaatkan sebagai media selektif untuk isolasi jamur pelapuk putih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat lignin hasil isolasi proses biopulping sebagai media selektif untuk jamur pelapuk putih. Lignin dari lindi hitam hasil biopulping bambu, dengan proses pemasakan soda dan kraft, diisolasi dengan penambahan asam. Padatan lignin kemudian dimurnikan menggunakan larutan dioksan dan ditimbang berat serta dianalisa secara kualitatif menggunakan spektrofotometer. Lignin hasil isolasi ditambahkan pada media agar untuk uji selektifitas jamur pelapuk putih Phanerochaete crysosporium dan Trametes versicolor. Pretreatment bambu pada 30 hari inkubasi menghasilkan lignin yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan inkubasi selama 45 hari. Padatan lignin yang diperoleh dari hasil biopulping proses kraft juga lebih tinggi jika dibandingkan pada proses soda. Pengujian selektifitas jamur pada media alkali lignin menunjukkan bahwa fungi T. versicolor mensekresi enzim lebih cepat daripada P. chrysosporium.
PEMANFAATAN LIGNIN HASIL ISOLASI DARI LINDI HITAM PROSES BIOPULPING BAMBU BETUNG (Dendrocalamus asper) SEBAGAI MEDIA SELEKTIF JAMUR PELAPUK PUTIH Anita, Sita Heris; Yuli Yanto, Dede Heri; Fatriasari, Widya
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2406.752 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2011.29.4.312-321

Abstract

Lindi hitam merupakan limbah industri pulp yang belum termanfaatkan dengan baik. Pemanfaatan lignin dari lindi hitam selama ini biasanya hanya digunakan sebagai perekat. Dalam bidang mikrobiologi lignin dari lindi hitam dapat dimanfaatkan sebagai media selektif untuk isolasi jamur pelapuk putih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat lignin hasil isolasi proses biopulping sebagai media selektif untuk jamur pelapuk putih. Lignin dari lindi hitam hasil biopulping bambu, dengan proses pemasakan soda dan kraft, diisolasi dengan penambahan asam. Padatan lignin kemudian dimurnikan menggunakan larutan dioksan dan ditimbang berat serta dianalisa secara kualitatif menggunakan spektrofotometer. Lignin hasil isolasi ditambahkan pada media agar untuk uji selektifitas jamur pelapuk putih Phanerochaete crysosporium dan Trametes versicolor. Pretreatment bambu pada 30 hari inkubasi menghasilkan lignin yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan inkubasi selama 45 hari. Padatan lignin yang diperoleh dari hasil biopulping proses kraft juga lebih tinggi jika dibandingkan pada proses soda. Pengujian selektifitas jamur pada media alkali lignin menunjukkan bahwa fungi T. versicolor mensekresi enzim lebih cepat daripada P. chrysosporium.
FIBER QUALITIES OF PRETREATED BETUNG BAMBOO (Dendrocalamusasper) BY MIXED CULTURE OF WHITE-ROT FUNGI WITH RESPECT TO ITS USE FOR PULP/PAPER Fatriasari, Widya; Damayanti, Ratih; Anita, Sita Heris
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 10, No 2 (2013): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/ijfr.2013.10.2.89-99

Abstract

Previous research on anatomical structures of pretreated large (betung) bamboo (Dendrocalamusasper) using single culture of white-rot fungi has been investigated, which revealed that the pretreatment caused the decrease in the Runkel ratioas well as the coefficient rigidity and the increase in the flexibility ratio of their corresponding bamboo fibers. However, there is no study reported on the anatomical structure changes of them caused by pretreatment using mixed culture of white-rot fungi. This paper reports the results of the research on paper/pulp quality after different treatments. Pretreatment that used Trametes versicolor fungi and lasted for 45 days inflicted intensive fiber damages compared with those of untreated bamboo (control). Fresh and barkless large (betung) bamboo chips of 2 years old, and 1.6 cm in length, were inoculated by 10% of mixed culture of white-rot fungi inoculums stock for 30 and 45 days in room temperature. There were four treatment groups of mixed culture, i.e T. versi color and P. ostreatus (TVPO); P. ostreatus and P. chrysosporium (POPC); P. chrysosporium and T.versi color (PCTV); and P.chrysosporium,  T.versicolorand  P.ostreatus  (TVPCPO).After  the  inoculation  period,  the  chips  weremacerated into separate fibers using Scultze method to analyze the fiber dimension and its derived values. The fibers were then observed regarding their macro and microscopic structures by optical microscope. Mixed culture pretreatment of white-rot fungi accelerated improvement of fiber morphology and fiber derived value characteristics, except for Muhlsteph ratio. The fiber derived values oftreated bamboo tended to improve compared to those of untreated bamboo, there by requiring milder pulping conditions. Accordingly, the treated bamboo would indicatively produce a good quality pulp (grade I) based on FAO and LPHH (Forest Product Research Report) requirements. Co-culture treatment using P. chrysosporium and P. ostreatus for 45 days produced the best fiber dimension and its derived value properties. The fungi hypae colonized on the surface area of  bamboo followed by mycelium penetration into substrate (bamboo-inner structure). The partial degradation caused by delignification indicatively attributed to the fungi activity was shown in the macroscopic images.
FIBER QUALITIES OF PRETREATED BETUNG BAMBOO (Dendrocalamusasper) BY MIXED CULTURE OF WHITE-ROT FUNGI WITH RESPECT TO ITS USE FOR PULP/PAPER Fatriasari, Widya; Damayanti, Ratih; Anita, Sita Heris
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 10, No 2 (2013): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/ijfr.2013.10.2.89-99

Abstract

Previous research on anatomical structures of pretreated large (betung) bamboo (Dendrocalamusasper) using single culture of white-rot fungi has been investigated, which revealed that the pretreatment caused the decrease in the Runkel ratioas well as the coefficient rigidity and the increase in the flexibility ratio of their corresponding bamboo fibers. However, there is no study reported on the anatomical structure changes of them caused by pretreatment using mixed culture of white-rot fungi. This paper reports the results of the research on paper/pulp quality after different treatments. Pretreatment that used Trametes versicolor fungi and lasted for 45 days inflicted intensive fiber damages compared with those of untreated bamboo (control). Fresh and barkless large (betung) bamboo chips of 2 years old, and 1.6 cm in length, were inoculated by 10% of mixed culture of white-rot fungi inoculums stock for 30 and 45 days in room temperature. There were four treatment groups of mixed culture, i.e T. versi color and P. ostreatus (TVPO); P. ostreatus and P. chrysosporium (POPC); P. chrysosporium and T.versi color (PCTV); and P.chrysosporium,  T.versicolorand  P.ostreatus  (TVPCPO).After  the  inoculation  period,  the  chips  weremacerated into separate fibers using Scultze method to analyze the fiber dimension and its derived values. The fibers were then observed regarding their macro and microscopic structures by optical microscope. Mixed culture pretreatment of white-rot fungi accelerated improvement of fiber morphology and fiber derived value characteristics, except for Muhlsteph ratio. The fiber derived values oftreated bamboo tended to improve compared to those of untreated bamboo, there by requiring milder pulping conditions. Accordingly, the treated bamboo would indicatively produce a good quality pulp (grade I) based on FAO and LPHH (Forest Product Research Report) requirements. Co-culture treatment using P. chrysosporium and P. ostreatus for 45 days produced the best fiber dimension and its derived value properties. The fungi hypae colonized on the surface area of  bamboo followed by mycelium penetration into substrate (bamboo-inner structure). The partial degradation caused by delignification indicatively attributed to the fungi activity was shown in the macroscopic images.
SAKARIFIKASI SERAT TANDAN KOSONG DAN PELEPAH KELAPA SAWIT SETELAH PRETREATMENT MENGGUNAKAN KULTUR CAMPURAN JAMUR PELAPUK PUTIH Phanerochaete chrysosporium dan Trametes versicolor Hermiati, Euis; Risanto, Lucky; Anita, Sita Heris; Aristiawan, Yosi; Hanafi, Ahmad; Abimanyu, Haznan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2014.32.2.111-122

Abstract

Penggunaan kultur campuran jamur pelapuk putih pada proses pretreatment bahan lignoselulosa belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan kultur  Phanerochaete chrysosporium dan Trametes versicolor pada proses pretreatment serat tandan kosong dan pelepah kelapa sawit terhadap hasil sakarifikasinya. Inokulum P. Chrysosporium dan T. versicolor dituangkan ke dalam sampel substrat serat tandan kosong dan pelepah kelapa sawit (40-60 mesh) yang telah disterilkan, masing-masing sebanyak 5% (w/v), sehingga total inokulum yang ditambahkan ke dalam kedua macam substrat masing-masing 10% (w/v). Sampel diinkubasikan pada suhu ±27°C selama 4 minggu. Sebagian dari contoh diambil dan lalu diperiksa setelah masa inkubasi 1, 2, 3, dan 4 minggu. Sakarifikasi dilakukan menggunakan enzim selulase sebanyak 20 FPU per g biomassa dan β-glukosidase dalam shaking waterbath pada suhu 50°C selama 48 jam. Analisis gula pereduksi, glukosa dan xilosa dilakukan terhadap hasil sakarifikasi. Rendemen gula pereduksi, konsentrasi glukosa dan xilosa tertinggi dari tandan kosong kelapa sawit. diperoleh dari sakarifikasi serat dengan pretreatment selama 4 minggu, yaitu masing-masing 13,08%, 0,86 mg/g dan 0,13 mg/g, sedangkan rendemen gula pereduksi, konsentrasi glukosa dan xilosa tertinggi dari pelepah kelapa sawit didapatkan dari sakarifikasi substrat dengan pretreatment selama 2 minggu, yaitu masing-masing 8,98%, 0,92 mg/g dan 0,23 mg/g.
PEMANFAATAN LIGNIN HASIL ISOLASI DARI LINDI HITAM PROSES BIOPULPING BAMBU BETUNG (Dendrocalamus asper) SEBAGAI MEDIA SELEKTIF JAMUR PELAPUK PUTIH Anita, Sita Heris; Yuli Yanto, Dede Heri; Fatriasari, Widya
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2406.752 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2011.29.4.312-321

Abstract

Lindi hitam merupakan limbah industri pulp yang belum termanfaatkan dengan baik. Pemanfaatan lignin dari lindi hitam selama ini biasanya hanya digunakan sebagai perekat. Dalam bidang mikrobiologi lignin dari lindi hitam dapat dimanfaatkan sebagai media selektif untuk isolasi jamur pelapuk putih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat lignin hasil isolasi proses biopulping sebagai media selektif untuk jamur pelapuk putih. Lignin dari lindi hitam hasil biopulping bambu, dengan proses pemasakan soda dan kraft, diisolasi dengan penambahan asam. Padatan lignin kemudian dimurnikan menggunakan larutan dioksan dan ditimbang berat serta dianalisa secara kualitatif menggunakan spektrofotometer. Lignin hasil isolasi ditambahkan pada media agar untuk uji selektifitas jamur pelapuk putih Phanerochaete crysosporium dan Trametes versicolor. Pretreatment bambu pada 30 hari inkubasi menghasilkan lignin yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan inkubasi selama 45 hari. Padatan lignin yang diperoleh dari hasil biopulping proses kraft juga lebih tinggi jika dibandingkan pada proses soda. Pengujian selektifitas jamur pada media alkali lignin menunjukkan bahwa fungi T. versicolor mensekresi enzim lebih cepat daripada P. chrysosporium.
PENGARUH PERLAKUAN PENDAHULUAN DENGAN KULTUR CAMPURAN JAMUR PELAPUK PUTIH Phanerochaete crysosporium, Pleurotus ostreatus DAN Trametes versicolor TERHADAP KADAR LIGNIN DAN SELULOSA BAGAS Anita, Sita Heris; Hermiati, Euis; Budi Laksana, Raden Permana
JURNAL SELULOSA Vol 1, No 02 (2011): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.794 KB) | DOI: 10.25269/jsel.v1i02.23

Abstract

Conversion of lignocellulosic biomass requires pretreatment in order to separate lignin from cellulose. Several methods have been introduced for pretreatment process of lignocellulosic biomass. These are physical, physico-chemical, chemical, as well as biological pretreatment. The following investigation aimed at a biological pretreatment of bagasse using mix-culture of white-rot fungi with the objective to investigate pretreatment effect on the lignin degradation of bagasse with minimum loss of cellulose content. The white-rot fungi involved Phanerochaete crysosporium (Pc), Pleurotus ostreatus (Po), and Trametes versicolor (Tv) on degrading lignin of bagasse with minimal losses of cellulose content 5% (w/v). The culture variation are as follows Po dan Tv (1:1), Po dan Pc (1:1), Pc dan Tv (1:1) and Po, Pc dan Tv (1:1:1) they were inoculated into steamed bagasse and incubated for 1, 2, 3, and 4 weeks respectively. Chemical analysis was done to determine the weight loss, lignin, and alphacellulose content before and after pretreatment. Optimum lignin degradation was achieved after two weeks incubation for each mix-culture. The most effective lignin degradation of mix-culture Po, Pc and Tv (25,26±1,57%) with minimum cellulose loss (17,27±3,76%).Key words : pretreatment, white-rot fungi, mix-culture, baggaseINTISARIKonversi biomassa lignoselulosa membutuhkan proses perlakuan pendahuluan yang bertujuan untuk memisahkan lignin dari selulosa. Beberapa metode telah banyak diketahui untuk proses perlakuan pendahuluan biomassa lignoselulosa, diantaranya perlakuan pendahuluan secara fisika, fisika-kimia, kimia dan biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kultur campur jamur pelapuk putih Phanerochaete crysosporium (Pc), Pleurotus ostreatus (Po), dan Trametes versicolor (Tv) terhadap penurunan kadar lignin bagas dengan kehilangan minimal α-selulosa. Inokulum yang digunakan sebesar 5% (w/v) dengan variasi kultur Po dan Tv (1:1), Po dan Pc (1:1), Pc dan Tv (1:1) dan Po, Pc dan Tv (1:1:1). Kultur campur jamur diinokulasikan ke dalam bagas dan diinkubasi masing-masing selama 1, 2, 3, dan 4 minggu. Analisa kimia dilakukan untuk mengetahui kehilangan berat, kadar lignin serta selulosa bagas sebelum dan setelah perlakuan pendahuluan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan optimal kadar lignin bagas dengan kehilangan minimal α-selulosa terjadi pada waktu inkubasi dua minggu untuk setiap variasi kultur campur. Dari empat variasi kultur campur pada waktu inkubasi dua minggu menunjukkan bahwa kehilangan rata-rata lignin bagas tertinggi (325,26±1,57%) dengan kehilangan minimal α-selulosa (17,27±3,76%) terjadi pada kultur campur Pc dan Tv.Kata kunci : perlakuan pendahuluan, jamur pelapuk putih, kultur campur, bagas  
BIOPULPING BAMBU BETUNG MENGGUNAKAN KULTUR CAMPUR JAMUR PELAPUK PUTIH (Trametes versicolor, Pleurotus ostreatus dan Phanerochaete crysosporium) Fatriasari, Widya; Anita, Sita Heris; Falah, Faizatul; Adi, Triyono Nugroho; Hermiati, Euis
JURNAL SELULOSA Vol 45, No 02 (2010): BERITA SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1725.643 KB)

Abstract

This research was to study the pretreatment effect of mixed culture fungi (T.versicolor, P.ostreatus and P.crysosporium) of betung bamboo on quality of pulp kraft and to determine the effect of pretreatment compared to monoculture. Bamboo chips were inoculated at room temperature and analysed by SEM. Bamboo chips was cooked by kraft process and analysed its properties i.e yield, kappa number, delignification selectivity, freeness and pulp brightness. Results showed that mixed culture pretreatment of T.versicolor, P.ostreatus, dan P.crysosporium gave better pulp quality compared to monoculture. Each fungi treatment gives different effect on pulp properties. Pulp yield was increased which compare to without fungi treatment. If three fungi species were mixed, it showed little positive effect on pulp properties. Mixed culture pretreatment can increased freeness. Meanwhile, pulp yield and delignification selectivity were increased, and kappa number was decreased. Fungi pretreatment can increase pulp brightness level compare to control. SEM image indicated a degradation of bamboo cell wall caused by fungi activity. The longer incubation time reduced kappa number and improved pulp yield and delignification selectivity. The highest pulp quality is by a co-culturing T.versicolor and P.crysosoporium on 30 days incubation.Key words : white rot fungi, mixed culture, kraft pulping, betung bamboo, pulp quality INTISARIPenelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh perlakuan kultur campur jamur T. versicolor, P.ostreatus dan P. crysosporium pada bambu betung dengan proses pemasakan kraft terhadap kualitas pulp. Selain itu, untuk mengetahui perbedaan pengaruhnya terhadap kualitas pulp yang dihasilkan dari perlakuan kultur tunggal. Bambu diinokulasi pada suhu ruang dan dianalisa dengan SEM. Bambu dimasak dengan proses kraft dan dianalisa kualitas pulp berupa rendemen pulp, bilangan kappa, selektifitas delignifikasi, derajat giling, dan derajat putih. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan awal kultur campur T.versicolor, P.ostreatus, dan P.crysosporiummemberikan kualitas pulp yang lebih baik dibandingkan kultur tunggal ditinjau dari bilangan kappa, selektifitas delignifikasi dan rendemen. Masing-masing kombinasi perlakuan jamur memberikan respon yang berbeda. Terjadi peningkatan rendemen dibandingkan dengan kontrol. Jika ketiga spesies jamur dicampur maka kurang berpengaruh positif terhadap kualitas pulp. Perlakuan kultur campur menyebabkan pulp lebih kasar yaitu terjadi peningkatan derajat giling. Sedangkan rendemen dan selektifitas delignifikasi meningkat, serta bilangan kappa menurun. Perlakuan jamur meningkatkan derajat giling pulp dibandingkan kontrol. Pencitraan SEM menunjukkan perlakuan kultur campur menyebabkan degradasi dinding sel bambu. Bertambahnya lama inkubasi menyebabkan penurunan bilangan kappa, peningkatan selektifitas delignifikasi dan rendemen. Perlakuan terbaik adalah inokulasi secara bersamaan T.versicolor and P.crysosoporium dengan lama inkubasi 30 hari.Kata kunci : jamur pelapuk putih, kultur campur, kraft pulping, bambu betung, kualitas pulp