Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Jurnal Farmasi Klinik Indonesia

Potensi Interaksi Obat Resep Pasien Geriatri: Studi Retrospektif pada Apotek di Bandung Annisa, Nurul; Abdulah, Rizky
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.853 KB)

Abstract

Usia geriatri merupakan kelompok usia yang rentan terhadap masalah-masalah yang terkait denganpenggunaan obat, salah satunya adalah kejadian interaksi obat-obat. Dalam penelitian ini dilakukan studi untuk mengetahui interaksi potensial obat-obat. Data diproses melalui www.drugs.comdatabase.Evaluasi ini memaparkan prevalensi dan mengklasifikasikan jenis interaksi potensial berdasarkan level interaksi dan spesialisasi medik. Dari total 29.839 resep dari tujuh apotek di kota Bandung diperoleh 334 lembar resep geriatri (1,12%). Dari resep geriatri tersebut, tedapat 4 lembar resep (1,20%) dengan jumlah 1 R/ yang artinya pada resep ini tidak berpotensi untuk terjadi interaksi. Sedangkan jumlah R/pada lembar resep yang mengandung lebih dari 1 R/ adalah 1.136 dengan rata-rata jumlah R/ pada setiap lembar resep adalah 3,40. Sebanyak 131 lembar resep terdapat interaksi potensial obat-obat sebesar 39,22%. Total interaksi potensial yang terjadi adalah 210 interaksi. Interaksi potensial moderate adalah sebanyak 187 (89,05%) sedangkan severe sebanyak 23 (10,95%). Kejadian potensi interaksi moderate dan severe pada kelompok spesialisasi medik umum adalah sebanyak 85,00%, penyakit dalam 8,40%, kardiologi 2,30%, THT 2,30%, syaraf 0,76% dan gigi 0,76%.Kata kunci: Interaksi obat-obat, apotek, geriatri Potency of Drugs Interaction among Geriatric Patients Prescribing: Retrospective Study in Pharmacies in BandungAbstractGeriatric age is an age group that vulnerable to the problems which associated with drug use, one of them is the incidence of drug-drug interactions. This research, conducted to determine potential drugdruginteractions. Data processed through www.drugs.comdatabase. This evaluation explain the prevalence and classify types of potential interactions based on the level of interactions and medical specialities. Based on the total of 29.839 prescriptions from seven pharmacies in the Bandung city obtained 334 prescription sheet of geriatrics (1.12%) and from that geriatric prescriptions, there are 4 prescriptionssheets (1.20 %) that contain 1 R/, which means that in this prescriptions is do not have any potential forinteraction. The number of R/ on prescription sheets which contain more than 1 R / is 1.136 with an average number of R/ on each sheet prescriptions is 3.40. Total of 131 (39.22%) sheets of prescriptionscontain potential drug-drug interaction. Total potential interactions that occur are 210 interactions. Themoderate interaction potential is 187 (89.05%), while severe as much as 23 (10.95%). The incidence ofmoderate and severe potential interaction in the group of medical specialities are 85.50% interactionsin general practitioners, 8.40% in internist, 2.30% in cardiologist, 2.30% in ENT, 0.76% in neurologistsand 0.76% in dentist.Key words: Drug-drug interactions, community pharmacies, geriatrics
Monitoring Penggunaan Antibiotik dengan Metode ATC/DDD dan DU90% di RSUD Abepura Jayapura, Indonesia Hasrianna, Hasrianna; Annisa, Nurul; Milanda, Tiana; Pradipta, Ivan S.; Abdulah, Rizky
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.914 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.3.218

Abstract

Tingginya penggunaan antibiotik akan meningkatkan potensi penggunaannya yang tidak rasional dan berdamPak pada tingkat mortalitas, biaya, dan resistensi khususnya dalam lingkungan rumah sakit. Studi observasi dengan data retrospektif telah dilakukan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik dari April 2013–Maret 2014 menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90%. Hasil penelitian menunjukkan antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90% pada periode I adalah kotrikmoksazol 480 mg tablet(40,34 DDD/kunjungan) dan amoksisilin 500 mg tablet (4,53 DDD/kunjungan), periode II adalah sefiksim sirup kering (0,68 DDD/kunjungan), amoksisilin 500 mg tablet (0,41 DDD/kunjungan), siproflokasain 500 mg tablet (0,31 DDD/kunjungan), doksisiklin 100 mg (0,26 DDD/kunjungan), sefiksim 100 mg kapsul (0,15 DDD/kunjungan), sefadroksil 500 mg kapsul (0,12 DDD/kunjungan),seftriakson 1 gr injeksi (0,08 DDD/kunjungan), dan periode III adalah kotrimoksazol 480 mg tablet (74,85 DDD/kunjungan). Tingginya penggunaan antibiotik setiap kunjungan pada penggunaan kotrimoksasol merupakan sebuah tanda ketidakrasionalan dalam penggunaan antibiotik. Diperlukan studi kualititaf untuk mengetahui pola ketidakrasionalan dalam penggunaan antibiotik pada rumah sakit tersebut danmengembangkan model intervensi yang tepat.Kata kunci: Antibiotik, ATC/DDD, DU 90%, rumah sakitMonitoring Use of Antibiotics with ATC/DDD and DU90% Method in Abepura Hospital Jayapura, IndonesiaThe high use of antibiotics will increase its irrational use, affect the mortality rates, costs and resistance, especially in a hospital. We conducted an observational study with retrospective data to evaluate the use of antibiotics from April 2013–March 2014 using the ATC/DDD and DU90% methods. The results showed the antibiotic included DU 90% segment in the first 4 months period were cotrimoxazole tablets 480 mg (40.34 DDD per encounter) and amoxicillin tablets 500 mg (4.53 DDD per encounter), in the second period were cefixime dry syrup (0.68 DDD per encounter), amoxicillin tablets 500 mg (0.41 DDD per encounter), ciprofloxacin tablets 500 mg (0.31 DDD per encounter), doxycycline tablets 100 mg (0.26 DDD per encounter), cefixime tablets 100 mg capsules (0.15 DDD per encounter), cefadroxil tablets 500 mg capsule (0.12 DDD per encounter), ceftriaxone injection 1 g (0.08 DDD per encounter), and during the third period was cotrimoxazole tablets 480 mg (74.85 DDD per encounter). The data showed that cotrimoxazole has the highest rate of utilization per visit which is a signal for irrational use. Qualitative study is needed to describe irrational use of antibiotics in the hospital and to find the appropriate intervention model.Key words: Antibiotics, ATC/DDD, DU 90%, hospital
Monitoring Penggunaan Antibiotik dengan Metode ATC/DDD dan DU 90%: Studi Observasional di Seluruh Puskesmas Kabupaten Gorontalo Utara Pani, Sarini; Barliana, Melisa I.; Halimah, Eli; Pradipta, Ivan S.; Annisa, Nurul
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.684 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.4.280

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Monitoring penggunaan antibiotik diperlukan dalam mendukung program pemerintah khususnya Dinas Kesehatan yang menyatakan penggunaan antibiotik untuk penyakit ISPA non-pneumonia adalah kurang dari 20%. Evaluasi penggunaan antibiotik ini menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90%. Antibiotik yang digunakan untuk ISPA non-pneumonia adalah sebanyak 9 jenis dan antibiotik yang masuk dalam DU90% sebanyak 3 jenis yaitu amoksisilin 500 mg (2,723 DDD/1000 pasien-hari), siprofloksasin (0,378 DDD/1000 pasien-hari) dan sefadroksil (0,202 DDD/1000 pasien-hari). Analisis data secara kuantitatif menggunakan ATC/DDD menunjukkan bahwa antibiotik yang banyak digunakan adalah amoksisilin (500 mg) 2723 DDD/1000 pasien-hari dan yang paling sedikit yaitu amoksisilin (125 mg/5 ml) 1,5 DDD/1000 pasien-hari. Efek peresepan penggunaan antibiotik jangka pendek pada pelayanan pengobatan dasar dapat meningkatkan kejadian resistensi. Diperlukan studi kualitatif untuk mengetahui pola ketidakrasionalan penggunaan antibiotik di pusat pelayanan kesehatan masyarakat tersebut dan mengembangkan model intervensinya.Kata kunci: ATC/DDD, DU 90%, ISPA non-pneumonia antibiotikMonitoring the Use of Antibiotics by the ATC/DDD Method and DU 90%: Observational Studies in Community Health Service Centers in North Gorontalo DistrictIrrational use of antibiotics may lead to increase morbidity and mortality. Monitoring of antibiotics was required to support government programs, especially The Department of Health stating the use of antibiotics for non-respiratory diseases pneumonia was less than 20%. The evaluation of antibiotics use in this research applied ATC / DDD methods and DU 90%. The antibiotic used for non-pneumonia ARI were 9 types and the antibiotics contained DU 90% were three types namely amoxicillin 500 mg (2,723 DDD/1000 patients-year), ciprofloxacin (0,378 DDD/1000 patients-day) and cefadroxil (0,202 DDD/1000 patients-day). Quantitative data analysis using the ATC / DDD indicated that the most used antibiotic was amoxicillin (500 mg) 2723 DDD / 1000 patients-day and the least was amoxicillin (125 mg / 5 ml) 1.5 DDD / 1000 patients-day. The effects of short-term use of antibiotic prescribing in primary medical care could increase the resistance. Qualitative studies were needed to determine the pattern of irrational antibiotic use in community health service center and to develop the intervention model.Keywords: ARI non-pneumonia antibiotics, ATC/DDD, DU 90%
Potensi Interaksi Obat-Obat pada Resep Polifarmasi: Studi Retrospektif pada Salah Satu Apotek di Kota Bandung Herdaningsih, Sulastri; Muhtadi, Ahmad; Annisa, Nurul
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 4 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.424 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.4.288

Abstract

  Resep polifarmasi sangat umum terjadi dalam peresepan pasien rawat jalan maupun rawat inap di setiap fasilitas kesehatan. Polifarmasi dapat meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat-obat atau Drug-drug Interactions (DDI’s) yang sebagian besar akan menimbulkan dampak merugikan dalam terapi pasien. Tujuan dari studi ini yaitu untuk menilai potensi DDI’s pada resep rawat jalan di salah satu apotek di kota Bandung. Data diproses melalui www.drugs.com database atau Drug Interactions Checker. Studi ini memaparkan prevalensi dan mengklasifikasikan jenis interaksi potensial berdasarkan level interaksi yaitu mayor, moderat dan minor. Total resep rawat jalan periode Januari–Maret 2014 adalah sebanyak 352 lembar resep yang didalamnya terdapat sebanyak 1.111 R/. Dari total keseluruhan jumlah lembar resep, terdapat 197 (55,97%) lembar resep yang masuk dalam kriteria inklusi. Sebanyak 121 lembar resep terdapat DDI’s potensial sebesar 34,38%. Keseluruhan DDI’s potensial yang terjadi adalah sebanyak 194 interaksi. DDI’s potensial mayor sebanyak 25 (12,89%), moderat sebanyak 134 (69,07%) dan minor 35 (8,04%). DDI’s terbanyak terdapat dalam kategori mayor dan moderat yang membutuhkan perhatian lebih dan tindakan pencegahan terhadap DDI’s potensial yang mungkin terjadi oleh dokter dan apoteker untuk memaksimalkan efektivitas terapi pasien.Kata kunci: Interaksi obat-obat, pasien rawat jalan, resep polifarmasiPotential of Drug-Drug Interaction in Polypharmacy Prescription: Retrospective Study on a Drugstore in Bandung Abstract Polypharmacy prescription very commonly occurs on prescribing the outpatient and inpatient in every health facility. Polypharmacy may increase the risk of Drug-drug Interactions (DDI’s) which mostly causes harm impact in the patient’s therapy. The aim of this study was to measure the potential of DDI’s on the outpatient prescription in one of the drugstore in Bandung. The data was processed through www. drugs.com database or Drug Interactions Checker. This study described the prevalence and classification of potential interactions based on interaction level of major, moderate, and minor. The number of outpatient prescription on January–March 2014 was 352 sheets of prescriptions with 1.111 R/. From overall numbers of prescriptions, there were 197 (55.97%) sheets of prescriptions on inclusion criteria. In 121 prescriptions, there were 34.38% of DDI’s potential. All of DDI’s potential occurs was 194 interactions. The major DDI’s potential of 25 (12.89%), moderate of 134 (69.07%) and minor of 35 (8.04%). The most of DDI’s found in major and moderate level need more attention and prevention aid against DDI’s potential that may occur by doctors and pharmacists to maximize the effectiveness of patient’s therapy.Keywords: Drug-drug Interactions (DDI’s), outpatient, polypharmacy prescription
Monitoring Penggunaan Antibiotik dengan Metode ATC/DDD dan DU90% di RSUD Abepura Jayapura, Indonesia Hasrianna, Hasrianna; Annisa, Nurul; Milanda, Tiana; Pradipta, Ivan S.; Abdulah, Rizky
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2448.733 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.3.218

Abstract

Tingginya penggunaan antibiotik akan meningkatkan potensi penggunaannya yang tidak rasional dan berdamPak pada tingkat mortalitas, biaya, dan resistensi khususnya dalam lingkungan rumah sakit. Studi observasi dengan data retrospektif telah dilakukan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik dari April 2013–Maret 2014 menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90%. Hasil penelitian menunjukkan antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90% pada periode I adalah kotrikmoksazol 480 mg tablet(40,34 DDD/kunjungan) dan amoksisilin 500 mg tablet (4,53 DDD/kunjungan), periode II adalah sefiksim sirup kering (0,68 DDD/kunjungan), amoksisilin 500 mg tablet (0,41 DDD/kunjungan), siproflokasain 500 mg tablet (0,31 DDD/kunjungan), doksisiklin 100 mg (0,26 DDD/kunjungan), sefiksim 100 mg kapsul (0,15 DDD/kunjungan), sefadroksil 500 mg kapsul (0,12 DDD/kunjungan),seftriakson 1 gr injeksi (0,08 DDD/kunjungan), dan periode III adalah kotrimoksazol 480 mg tablet (74,85 DDD/kunjungan). Tingginya penggunaan antibiotik setiap kunjungan pada penggunaan kotrimoksasol merupakan sebuah tanda ketidakrasionalan dalam penggunaan antibiotik. Diperlukan studi kualititaf untuk mengetahui pola ketidakrasionalan dalam penggunaan antibiotik pada rumah sakit tersebut danmengembangkan model intervensi yang tepat.Kata kunci: Antibiotik, ATC/DDD, DU 90%, rumah sakitMonitoring Use of Antibiotics with ATC/DDD and DU90% Method in Abepura Hospital Jayapura, IndonesiaThe high use of antibiotics will increase its irrational use, affect the mortality rates, costs and resistance, especially in a hospital. We conducted an observational study with retrospective data to evaluate the use of antibiotics from April 2013–March 2014 using the ATC/DDD and DU90% methods. The results showed the antibiotic included DU 90% segment in the first 4 months period were cotrimoxazole tablets 480 mg (40.34 DDD per encounter) and amoxicillin tablets 500 mg (4.53 DDD per encounter), in the second period were cefixime dry syrup (0.68 DDD per encounter), amoxicillin tablets 500 mg (0.41 DDD per encounter), ciprofloxacin tablets 500 mg (0.31 DDD per encounter), doxycycline tablets 100 mg (0.26 DDD per encounter), cefixime tablets 100 mg capsules (0.15 DDD per encounter), cefadroxil tablets 500 mg capsule (0.12 DDD per encounter), ceftriaxone injection 1 g (0.08 DDD per encounter), and during the third period was cotrimoxazole tablets 480 mg (74.85 DDD per encounter). The data showed that cotrimoxazole has the highest rate of utilization per visit which is a signal for irrational use. Qualitative study is needed to describe irrational use of antibiotics in the hospital and to find the appropriate intervention model.Key words: Antibiotics, ATC/DDD, DU 90%, hospital
Potensi Interaksi Obat-Obat pada Resep Polifarmasi: Studi Retrospektif pada Salah Satu Apotek di Kota Bandung Herdaningsih, Sulastri; Muhtadi, Ahmad; Annisa, Nurul
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 4 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3043.622 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.4.288

Abstract

  Resep polifarmasi sangat umum terjadi dalam peresepan pasien rawat jalan maupun rawat inap di setiap fasilitas kesehatan. Polifarmasi dapat meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat-obat atau Drug-drug Interactions (DDI’s) yang sebagian besar akan menimbulkan dampak merugikan dalam terapi pasien. Tujuan dari studi ini yaitu untuk menilai potensi DDI’s pada resep rawat jalan di salah satu apotek di kota Bandung. Data diproses melalui www.drugs.com database atau Drug Interactions Checker. Studi ini memaparkan prevalensi dan mengklasifikasikan jenis interaksi potensial berdasarkan level interaksi yaitu mayor, moderat dan minor. Total resep rawat jalan periode Januari–Maret 2014 adalah sebanyak 352 lembar resep yang didalamnya terdapat sebanyak 1.111 R/. Dari total keseluruhan jumlah lembar resep, terdapat 197 (55,97%) lembar resep yang masuk dalam kriteria inklusi. Sebanyak 121 lembar resep terdapat DDI’s potensial sebesar 34,38%. Keseluruhan DDI’s potensial yang terjadi adalah sebanyak 194 interaksi. DDI’s potensial mayor sebanyak 25 (12,89%), moderat sebanyak 134 (69,07%) dan minor 35 (8,04%). DDI’s terbanyak terdapat dalam kategori mayor dan moderat yang membutuhkan perhatian lebih dan tindakan pencegahan terhadap DDI’s potensial yang mungkin terjadi oleh dokter dan apoteker untuk memaksimalkan efektivitas terapi pasien.Kata kunci: Interaksi obat-obat, pasien rawat jalan, resep polifarmasiPotential of Drug-Drug Interaction in Polypharmacy Prescription: Retrospective Study on a Drugstore in Bandung Abstract Polypharmacy prescription very commonly occurs on prescribing the outpatient and inpatient in every health facility. Polypharmacy may increase the risk of Drug-drug Interactions (DDI’s) which mostly causes harm impact in the patient’s therapy. The aim of this study was to measure the potential of DDI’s on the outpatient prescription in one of the drugstore in Bandung. The data was processed through www. drugs.com database or Drug Interactions Checker. This study described the prevalence and classification of potential interactions based on interaction level of major, moderate, and minor. The number of outpatient prescription on January–March 2014 was 352 sheets of prescriptions with 1.111 R/. From overall numbers of prescriptions, there were 197 (55.97%) sheets of prescriptions on inclusion criteria. In 121 prescriptions, there were 34.38% of DDI’s potential. All of DDI’s potential occurs was 194 interactions. The major DDI’s potential of 25 (12.89%), moderate of 134 (69.07%) and minor of 35 (8.04%). The most of DDI’s found in major and moderate level need more attention and prevention aid against DDI’s potential that may occur by doctors and pharmacists to maximize the effectiveness of patient’s therapy.Keywords: Drug-drug Interactions (DDI’s), outpatient, polypharmacy prescription
Monitoring Penggunaan Antibiotik dengan Metode ATC/DDD dan DU 90%: Studi Observasional di Seluruh Puskesmas Kabupaten Gorontalo Utara Pani, Sarini; Barliana, Melisa I.; Halimah, Eli; Pradipta, Ivan S.; Annisa, Nurul
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2722.634 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.4.280

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Monitoring penggunaan antibiotik diperlukan dalam mendukung program pemerintah khususnya Dinas Kesehatan yang menyatakan penggunaan antibiotik untuk penyakit ISPA non-pneumonia adalah kurang dari 20%. Evaluasi penggunaan antibiotik ini menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90%. Antibiotik yang digunakan untuk ISPA non-pneumonia adalah sebanyak 9 jenis dan antibiotik yang masuk dalam DU90% sebanyak 3 jenis yaitu amoksisilin 500 mg (2,723 DDD/1000 pasien-hari), siprofloksasin (0,378 DDD/1000 pasien-hari) dan sefadroksil (0,202 DDD/1000 pasien-hari). Analisis data secara kuantitatif menggunakan ATC/DDD menunjukkan bahwa antibiotik yang banyak digunakan adalah amoksisilin (500 mg) 2723 DDD/1000 pasien-hari dan yang paling sedikit yaitu amoksisilin (125 mg/5 ml) 1,5 DDD/1000 pasien-hari. Efek peresepan penggunaan antibiotik jangka pendek pada pelayanan pengobatan dasar dapat meningkatkan kejadian resistensi. Diperlukan studi kualitatif untuk mengetahui pola ketidakrasionalan penggunaan antibiotik di pusat pelayanan kesehatan masyarakat tersebut dan mengembangkan model intervensinya.Kata kunci: ATC/DDD, DU 90%, ISPA non-pneumonia antibiotikMonitoring the Use of Antibiotics by the ATC/DDD Method and DU 90%: Observational Studies in Community Health Service Centers in North Gorontalo DistrictIrrational use of antibiotics may lead to increase morbidity and mortality. Monitoring of antibiotics was required to support government programs, especially The Department of Health stating the use of antibiotics for non-respiratory diseases pneumonia was less than 20%. The evaluation of antibiotics use in this research applied ATC / DDD methods and DU 90%. The antibiotic used for non-pneumonia ARI were 9 types and the antibiotics contained DU 90% were three types namely amoxicillin 500 mg (2,723 DDD/1000 patients-year), ciprofloxacin (0,378 DDD/1000 patients-day) and cefadroxil (0,202 DDD/1000 patients-day). Quantitative data analysis using the ATC / DDD indicated that the most used antibiotic was amoxicillin (500 mg) 2723 DDD / 1000 patients-day and the least was amoxicillin (125 mg / 5 ml) 1.5 DDD / 1000 patients-day. The effects of short-term use of antibiotic prescribing in primary medical care could increase the resistance. Qualitative studies were needed to determine the pattern of irrational antibiotic use in community health service center and to develop the intervention model.Keywords: ARI non-pneumonia antibiotics, ATC/DDD, DU 90%
Potensi Interaksi Obat Resep Pasien Geriatri: Studi Retrospektif pada Apotek di Bandung Annisa, Nurul; Abdulah, Rizky
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.853 KB)

Abstract

Usia geriatri merupakan kelompok usia yang rentan terhadap masalah-masalah yang terkait denganpenggunaan obat, salah satunya adalah kejadian interaksi obat-obat. Dalam penelitian ini dilakukan studi untuk mengetahui interaksi potensial obat-obat. Data diproses melalui www.drugs.comdatabase.Evaluasi ini memaparkan prevalensi dan mengklasifikasikan jenis interaksi potensial berdasarkan level interaksi dan spesialisasi medik. Dari total 29.839 resep dari tujuh apotek di kota Bandung diperoleh 334 lembar resep geriatri (1,12%). Dari resep geriatri tersebut, tedapat 4 lembar resep (1,20%) dengan jumlah 1 R/ yang artinya pada resep ini tidak berpotensi untuk terjadi interaksi. Sedangkan jumlah R/pada lembar resep yang mengandung lebih dari 1 R/ adalah 1.136 dengan rata-rata jumlah R/ pada setiap lembar resep adalah 3,40. Sebanyak 131 lembar resep terdapat interaksi potensial obat-obat sebesar 39,22%. Total interaksi potensial yang terjadi adalah 210 interaksi. Interaksi potensial moderate adalah sebanyak 187 (89,05%) sedangkan severe sebanyak 23 (10,95%). Kejadian potensi interaksi moderate dan severe pada kelompok spesialisasi medik umum adalah sebanyak 85,00%, penyakit dalam 8,40%, kardiologi 2,30%, THT 2,30%, syaraf 0,76% dan gigi 0,76%.Kata kunci: Interaksi obat-obat, apotek, geriatri Potency of Drugs Interaction among Geriatric Patients Prescribing: Retrospective Study in Pharmacies in BandungAbstractGeriatric age is an age group that vulnerable to the problems which associated with drug use, one of them is the incidence of drug-drug interactions. This research, conducted to determine potential drugdruginteractions. Data processed through www.drugs.comdatabase. This evaluation explain the prevalence and classify types of potential interactions based on the level of interactions and medical specialities. Based on the total of 29.839 prescriptions from seven pharmacies in the Bandung city obtained 334 prescription sheet of geriatrics (1.12%) and from that geriatric prescriptions, there are 4 prescriptionssheets (1.20 %) that contain 1 R/, which means that in this prescriptions is do not have any potential forinteraction. The number of R/ on prescription sheets which contain more than 1 R / is 1.136 with an average number of R/ on each sheet prescriptions is 3.40. Total of 131 (39.22%) sheets of prescriptionscontain potential drug-drug interaction. Total potential interactions that occur are 210 interactions. Themoderate interaction potential is 187 (89.05%), while severe as much as 23 (10.95%). The incidence ofmoderate and severe potential interaction in the group of medical specialities are 85.50% interactionsin general practitioners, 8.40% in internist, 2.30% in cardiologist, 2.30% in ENT, 0.76% in neurologistsand 0.76% in dentist.Key words: Drug-drug interactions, community pharmacies, geriatrics