Raden Ario
Jurusan Ilmu Kelautan FPIK Universitas Diponegoro Semarang 50239 Telp/Faks: 024-7474698

Published : 36 Documents
Articles

Found 36 Documents
Search

STRUKTUR KOMUNITAS RUMPUT LAUT DI PERAIRAN PASIR PANJANG DESA OLIBUUKABUPATEN BOALEMO, GORONTALO Wibowo, Edi; Ario, Raden; Suryono, Suryono; Taufiq, Nur; Destalino, Destalino
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.366 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i1.19081

Abstract

Rumput laut atau seaweed termasuk tumbuhan berthallus yang banyak dijumpai hampir di seluruh pantai Indonesia, terutama wilayah pantai yang mempunyai rataan terumbu karang.  Perbedaan mendasar sistem hidupnya dengan tumbuhan darat adalah dalam pengambilan zat-zat makanan. Tumbuhan darat sangat bergantung pada akar sebagai alat pengambil/ penyerap zat hara dari substrat, sedangkan rumput laut menyerap zat hara yang dibutuhkan bagi pertumbuhannya dari medium air dengan cara difusi melalui permukaan substansi fisiknya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas rumput laut di perairan Pasir Panjang Pulau Limbah, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Metoda penelitian yang digunakan adalah bersifat diskriptif.Adapun pengumpulan data dilakukan dengan metode sample survey methods. Hasil penelitian menunjukan bahwa perairan Pulau Limbah di dominasi oleh Rumput Laut Coklat dengan kelimpahan tertinggi Padina australis. Nilai Indeks Keanekaragaman (H?) Rumput Laut tertinggi terdapat pada stasiun C dengan nilai rerata: 1,854 dan yang terendah pada Stasiun A dengan nilai rerata: 1,469. Nilai Indeks Keseragaman (E)  nilai tertinggi terdapat pada Stasiun C dengan nilai rerata: 0,679 dan terendah pada stasiun A dengan nilai rerata: 0,668. Nilai indeks Dominansi (C) tertinggi terdapat pada Stasiun A dengan nilai rerata : 0,251 dan nilai terendah stasiun B dengan nilai rerata: 0,187. Analisis Ragam (Anova) menunjukan bahwa stasiun penelitian memberikan perbedaan yang nyata (P?0,05) terhadap nilai Indeks Keanekaragaman (H?), Indeks Keseragaman (E) serta Indeks Dominasi (C).  Seaweed including thallus plants that are found almost all over the coast of Indonesia, especially on beaches that have coral reefs. Seaweed is a photosynthetic organism as well as plants on land. The fundamental difference of his life system is in the taking of food substances. Ground plants realy heavily on roots as a nutrient removal device from the substrate, while seaweed absorbs the nutrients needed for its growth from the water medium by diffusion through the surface of its physical substance. This study aims to determine the structure of seaweed communities in Limbah Island Waters, District Paguyaman Beach. The results showed that the waters of Limbah Island is dominated by brown seaweed with the highest species abundance was Padina australis. The highest index value of Seaweed diversity (H?) was found at station C with average: 1,854 and the lowest at station A with a mean of: 1,469. For uniformity index value (E) the highest value is at station C with average: 0,679 and the lowest at station A with a mean of: 0,668. The highest index value of dominance (C) is at station A with a mean of: 0,251 and the lowest value at station B with a mean of: 0,187. The result of the analysis of variance (Anova) showed that the research station give a significant difference (P?0,05) to the Diversity Index (H?), Uniformity Index (E) and Domination Index (C).
STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI MANGROVE DI KABUPATEN SAMPANG, PULAU MADURA, PROVINSI JAWA TIMUR Rosadi, Amrullah; Ario, Raden; Pribadi, Rudhi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v7i3.25911

Abstract

ABSTRAK : Vegetasi mangrove dapat ditemukan pada berbagai tipe geomorfologi pantai yang menempati area antara daratan dan perairan serta memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda-beda.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi mangrove di Kabupaten Sampang, Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur pada tipe geomorfologi yang berbeda. Penelitian di Kabupaten Sampang dilakukan di 5 lokasi, dan terbagi atas 2 tipe geomorfologi yaitu Sreseh, Taman dan Plasah untuk tipe geomorfologi tepi sungai (Lokasi I) serta Polagan dan Banyuanyar untuk tipe geomorfologi sempadan pantai (Lokasi II). Pengambilan data vegetasi dilakukan dengan metode purposive sampling dan setiap transek dibuat plot sampling. Setiap individu pohon (plot 10 m x 10 m) dan sapling (subplot 5 m x 5 m) diidentifikasi dan diukur diameternya setinggi dada (±1,3 m). Sementara seedling dihitung jumlah masing-masing jenis dan persentase penutupannya (subplot 1 m x 1 m). Hasil penelitian di Kabupaten Sampang ditemukan 16 jenis mangrove.Secara umum vegetasi pohon mangrove di Kabupaten Sampang memiliki kisaran kerapatan 1867 ind/ha ? 3433 ind/ha yang didominasi Rhizophora apiculata pada Lokasi I dan Sonneratia alba pada Lokasi II. Indeks Keanekaragaman (H?) dan Keseragaman (J?) mangrove di Kabupaten Sampang, Madura pada semua lokasi, termasuk dalam kategori rendah. ABSTRACT : Mangrove vegetation could be found in various types of coastal geomorphology which occupies an area between land and water as well as having the characteristics of different environments. This study aimed to determine the structure and composition of mangrove vegetation in Sampang, Madura Island, East Java province on different types of geomorphology. The research was conducted in five locations, and divided into two geomorphology types, which are Sreseh, Taman and Plasah for riverine geomorphology type (Location I) and Polagan and Banyuanyar for fringe geomorphology type (Location II). Vegetation data retrieval was done by using purposive sampling method and each transect made plot sampling. Each individual tree (plot 10 m x 10 m) and sapling (subplot 5 m x 5 m) were identified and measured in diameter at breast height (± 1.3 m). While seedling calculated by the amount of each species and the percentage of coverage (subplots 1 m x 1 m). The results found that there are 16 species of mangrove at Sampang. Generally, mangrove vegetation on tree category in Sampang have a range of density on 1867 ind/ha - 3433 ind/ha where dominated by Rhizophora apiculata at Location I and Sonneratia alba at Location II. Diversity Index (H ') and Evenness Index (J') of mangrove in Sampang, Madura at all locations are included on low category.
ESTIMASI SIMPANAN KARBON PADA EKOSISTEM MANGROVE DI DESA PASAR BANGGI DAN TIREMAN, KECAMATAN REMBANG KABUPATEN REMBANG Mardliyah, Riani; Ario, Raden; Pribadi, Rudhi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v8i1.24330

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Mangrove menyerap CO2 pada saat proses fotosintesis, kemudian mengubahnya menjadi karbohidrat dengan menyimpannya dalam bentuk biomasa. Tujuan penelitian untuk mengestimasi simpanan karbon pada tegakan dan substrat mangrove yang berada di Desa Pasar Banggi dan Desa Tireman, Kabupaten Rembang. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Juni - Juli 2018. Metode yang digunakan yaitu purposive sampling method dan eksploratif, dengan dasar pertimbangan berupa jenis, kerapatan serta diameter pohon mangrove. Pengambilan sampel dilakukan di tiga stasiun dengan kondisi rapat, sedang dan jarang. Setiap stasiun penelitian dibagi menjadi tiga plot penelitian, pengukuran diameter pohon dilakukan pada transek ukuran 10 x 10 m, diameter yang di ukur pada setiap plot yaitu hanya kategori pohon (diameter ? 5 cm). Berdasarkan hasil penelitian, didapat bahwa simpanan karbon pada tegakan mangrove di Desa Pasar Banggi sebesar 9.620,451 ton/ha, dan Desa Tireman sebesar 4.633,618 ton/ha, sedangkan estimasi simpanan karbon pada substrat mangrove di Desa Pasar Banggi sebesar 920,982 ton/ha dan Desa Tireman sebesar 471,929 ton/ha. Mangrove ecosystems have ecological functions as carbon sinks and stores. Mangroves absorb CO2 during photosynthesis, then convert it to carbohydrates by storing it in the form of biomass in the body parts of mangrove plants. Research on the estimation of carbon stocks is very necessary to support the improvement of world climate. The sampling was conducted on June 2018 until July 2018. This research used  purposive sampling and explorative method, with the consideration of the type, density and diameter of mangrove trees. Conducted in three stations with varying in the mangrove ecosystem conditions. Each research station was divided into three research plots, tree diameter measurements were carried out on 10 x 10 m transects, the diameter measured in each plot was only trees (? 5 cm diameter). The result of this research, it is found that carbon storage in mangrove stands Pasar Banggi Village is 9,620,451 ton/ha, and Tireman Village is 4,633,618 ton/ha. While  estimated carbon storage the mangrove substrate in Pasar Banggi Village is 920,982 ton/ha and Tireman Village is 471,929 ton/ha. These result that estimates carbon storages in mangrove stands are greater than estimates of carbon storage on mangrove substrate. The estimation of carbon storage in the mangrove stands increases with increasing of plant biomass and mangrove density, while estimates of carbon storage on the substrate are tsuspected to be more influenced by organic matterial and the location reseach. 
STUDI KELIMPAHAN GASTROPODA DI BAGIAN TIMUR PERAIRAN SEMARANG PERIODE MARET – APRIL 2012 Budi, Dinar Ayu; Suryono, Chrisna Adhi; Ario, Raden
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v2i4.3684

Abstract

Coastal environment in Eastern part of Semarang is an area that changed in ecological conditions caused by the influence of a variety of human activities such as ports activity, industries, fishing activity, and common people?s residence which causes a decrease in water quality that directly affect the presence, and abundance of gastropods in that area. Purpose of this study is to find out the abundance of gastropods in coastal water environment, Eastern part of Semarang, during periods March to April 2012. This study using the descriptive method, sample survey method, and method used in determining station is purposive sampling method. Sample collected are including water quality measurement, sediments, and samples of biota that is gastropods. Sample of gastropods taken by using the dredge, by width 138cm, height 137cm, and net 500 cm long. Samples of gastropods founded then identified in Marine Biological Laboratory, Marine Faculty, Diponegoro University. Water quality measurement including physical factors, are : depth, water brightness, temperature, substrate, and chemical factors, they are : salinity, acidity (pH), dissolved oxygen (DO), and organic content. There are 14 spesies founded, they are : Architectonica perdix, Busycon canaliculatum, Conus tenuistriatus, Engina zonalis, Fasciolaria salma, Murex trapa, Nassarius javanus, N. pullus, Natica lineata, N. tigrina, Pseudoeptunea varicose, Terebralia palustris, Trigonostoma scalariformis, and Turricula javana. Highest abundance is on station II (183,67), and the lowest abundance is station VII (2,67).
STUDI HABITAT PENELURAN PENYU SISIK (ERETMOCHELYS IMBRICATA) DI PULAU MENJANGAN KECIL KEPULAUAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA JAWA TENGAH Iary, Tasha; Santoso, Adi; Ario, Raden
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v7i3.25913

Abstract

ABSTRAK : Penyu merupakan salah satu anggota reptil berkarapas yang hidup di laut. Keberadaan penyu saat ini semakin lama semakin berkurang. Hal ini menyebabkan Penyu terdaftar dalam Apendik I Konvensi Perdagangan Internasional Fauna dan Flora Spesies Terancam (Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora - CITES). Salah satu jenis penyu yang bersifat khas dan populasinya semakin berkurang adalah penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). Kepulauan Karimunjawa diketahui menjadi salah satu habitat peneluran penyu Sisik di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Menjangan Kecil Kepulauan Karimunjawa untuk mengetahui karakteristik habitat peneluran penyu Sisik (E. imbricata) yang ditinjau dari aspek biologi dan geofisik yang terdiri dari jenis vegetasi, jenis predator yang dijumpai, lebar pantai, kemiringan pantai, suhu pasir, kadar air dalam pasir, dan pengukuran butiran pasir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif eksploratif. Hasil penelitian menunjukan beberapa karakteristik geofisik habitat peneluran penyu sisik di Pulau Menjangan Kecil meliputi kemiringan pantai yang berkisar 2,51o - 4,85o, suhu pasir antara 27? ? 28,?C, kemudian kadar air sedimen rata-rata sebesar 4,94%, dan ukuran butir pasir didominasi oleh pasir halus. Sementara karakteristik biologi meliputi vegetasi yang didominasi oleh Kelapa (Cocos nucifera), Katang (Ipomoea pes-caprae), dan Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), dan predator yang dijumpai adalah Semut Merah (Oechophylla smaragdina), Kepiting (Ocypoda sp.), dan Biawak (Varanus salvator). ABSTRACT : Turtle is one of carapaced reptiles that live in the sea. Currently, the existence of turtles progressively reduced and has been listed in Appendix I of the Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora - CITES. One of the turtles that is unique and the population was reduced is Hawksbill Turtle (Eretmochelys imbricata). Karimun Islands is known to be one of the hawksbill turtle?s nesting habitat in Indonesia. This research was conducted in Menjangan Kecil Island, Karimunjawa Islands know the nesting site characteristics of Hawksbill turtle (E. imbricata) that evaluated from various aspects including biology, such as the type of vegetation and kinds of predators, and geophysics that consist coastal width, coastal slope, sand temperature, water content in the sand, and the measurement of grains of sand. The method used in this research is descriptive exploratory. The results showed some hawskbill turtle?s geophysical characteristics of nesting site in Menjangan Kecil Island include coastal slope in the range of 2.510 - 4.850, the sand temperature between 27-28?C, the average of the water content of sediment is 4.94%, and the size of sand grains is dominated by fine sand. While the biological characteristics include vegetation that dominated by Coconut Tree (Cocos nucifera), Katang (Ipomoea pes-caprae), and Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), and the predator that encountered are red ants (Oechophylla smaragdina), crabs (Ocypoda sp.), and lizards (Varanus salvator).
SEBARAN JENIS LAMUN DI PERAIRAN PULAU LIRANG MALUKU BARAT DAYA PROVINSI MALUKU Saputro, Muhammad Adi; Ario, Raden; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v7i2.25898

Abstract

ABSTRAK : Lamun adalah tumbuh-tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang hidup pada lingkungan perairan laut dangkal, ekosistem padang lamun merupakan sebuah ekosistem pesisir yang mempunyai peranan ekologik penting bagi lingkungan laut dangkal yaitu sebagai habitat biota, produsen primer, penangkap sedimen (sediment trap) serta berperan sebagai pendaur zat hara dan elemen kelumit (trace element). Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi padang lamun adalah parameter lingkungan, yaitu suhu, salinitas, pH, DO, substrat dasar, dan kecerahan. Penelitian yang dilakukan di Perairan Pulau Lirang bertujuan untuk mengetahui kerapatan, sebaran jenis, dan parameter lingkungan yang mempengaruhi kondisi padang lamun di perairan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode eksploratif yang dilakukan di 4 lokasi penelitian, yaitu bagian utara, timur, selatan, dan barat Pulau Lirang, yang masing-masing lokasi pengamatan terbagi 3 stasiun pengamatan. Jumlah jenis lamun yang ditemukan adalah sebanyak 10 jenis lamun, yaitu  Cymodocea rotundata, C. serrulata, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia, H. uninervis, Halophila minor, H. ovalis, Syringodium isoetifolium, Thalassodendron ciliatum, dan Thalassia hempricii. Kerapatan lamun tertinggi terdapat pada stasiun T2 dengan jenis lamun Thalassia hempricii yang berjumlah 139,6 tegakan/m². Sedangkan kerapatan lamun terendah yaitu pada stasiun T1 dengan jenis lamun C. rotundata dan jumlah total 0,4 tegakan/m². Persen penutupan lamun yang didapatkan memiliki rentang nilai 0,8-68%. Nilai Indeks Morisita yang didapatkan adalah id<1 pada semua stasiun, hal tersebut termasuk dalam kategori pola penyebaran acak.
STUDI STRUKTUR KOMUNITAS PADANG LAMUN DI PULAU PARANG, KEPULAUAN KARIMUNJAWA Hidayah, Amin Nur Kolis Rela; Ario, Raden; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v8i1.24335

Abstract

Struktur komunitas lamun merupakan suatu konsep yang harus diketahui untuk mengetahui kondisi ekosistem perairan tersebut. Padang lamun memiliki peran penting dalam kehidupan yang ada dibawah laut dangkal, sehingga ekosistem padang lamun perlu untuk dijaga kelestariannya agar keberlangsungan produktivitas di ekosistem tersebut tetap seimbang. Tujuan penelitian ini adalah menghitung dan menganalisis komposisi jenis, kerapatan serta persen tutupan lamun, mengetahui indeks ekologi lamun seperti keanekaragaman, keseragaman, dominansi dan mengetahui indeks nilai penting lamun di Pulau Parang. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai September 2017. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif, terdapat 2 lokasi (A dan B) dengan 3 stasiun disetiap lokasinya. Penentuan lokasi dengan metode purposive random sampling. Pada saat penelitian, setiap stasiun menggunakan transek kuadran ukuran 1 x 1 m pada hamparan lamun. Transek ini dibagi menjadi 16 buah kisi ukuran 25 cm2. Jumlah tegakan diamati langsung secara visual. Hasil penelitian menunjukkan 4 jenis lamun, yaitu Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Thalassia hemprichii. Kisaran kerapatan lamun yang ditemukan 5?219 tegakan/m2. Rata?rata persen tutupan lamun menunjukkan nilai 17,61% (Lokasi A) dan 19,24% (Lokasi B). Indeks Nilai Penting menunjukkan Cymodocea rotundata berperan penting dalam kondisi ekosistem perairan di lokasi A dan B . Indeks ekologi lamun menunjukkan bahwa nilai keanekaragaman tergolong sedang di Lokasi A dan rendah di Lokasi B, sedangkan nilai keseragaman tergolong tinggi di Lokasi A dan sedang di Lokasi B dan nilai dominansi tergolong sedang di Lokasi A dan tinggi di Lokasi B. The seagrass community structure is the concept that must be known to determine the condition of the aquatic ecosystem. Due to the fact thar seagrass beds have an important role in life under the shallow sea, the seagrass ecosystem needs to be preserved so that the sustainability of productivity in the ecosystem remains balanced. The purpose of this study was to calculate and analyze the species composition, density and the precentage of seagrass cover, to know the index of seagrass ecology such as diversity, uniformity, dominance and to know the important value index of seagrass in Parang Island. The study was conducted from August to September 2017. The research method used a descriptive method, there were 2 locations (A and B) with 3 stations in each location. The determination of location was done by doing a purposive random sampling method. During the research, each station used a 1 x 1 m quadrant transect on a seagrass bed. This transect was divided into 16 lattice sizes of 25 cm2. The number of stands was observed visually. The results of this research showed that there were 4 types of seagrass, such as Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata and Thalassia hemprichii. The seagrass density that found was 5?219 stands / m2. The percentage of seagrass cover showed a value of 17.61% (Location A) and 19.24% (Location B). Important Value Index showed that Cymodocea rotundata plays an important role in the condition of aquatic ecosystems in locations A and B. The seagrass ecology index showed that the diversity value is classified as medium in Location A and low in Location B. Uniformity values are high in Location A and medium in Location B and dominance values are medium in Location A and high in Location B. 
STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI MANGROVE ALAMI DI KAWASAN EKOWISATA TAMAN HUTAN RAYA NGURAH RAI, BALI Hermawan, Andreas Ricky; Pribadi, Rudhi; Ario, Raden
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v3i4.8361

Abstract

Taman Hutan Raya Ngurah Rai merupakan kawasan hutan mangrove yang berada di Bali dan termasuk kawasan rehabilitasi namun memiliki vegetasi alami yang cukup luas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji komposisi dan struktur vegetasi mangrove alami di Kawasan Ekowisata Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali.Penelitian dilakukan di 5 stasiun dengan metode purposive sampling dan setiap transek dibuat plot sampling. Setiap inividu pohon (plot 10 x 10 m) dan sapling (plot 5 x 5 m) diidentifikasi serta diukur diameter serta tinggi, seedling (plot 1 x 1 m) dihitung jumlah spesies serta persentase penutupannya.Hasil penelitian di Kawasan Ekowisata Taman Hutan Raya Ngurah Rai ditemukan 6 spesies berada didalam plot dimana 5 spesies komponen mayor dan 1 spesies komponen minor. Rhizophora mucronata merupakan spesies yang mendominasi lokasi penelitian kategori pohon, sapling dan seedling. Indeks Nilai Penting (INP) kategori pohon berkisar 112% - 152 %. Indeks Keanekaragaman (H?) dan Indeks Keseragaman (J?) pada lokasi penelitian termasuk dalam kategori rendah.
PENGARUH PERBEDAAN KEDALAMAN TERHADAP FITOPLANKTON DAN ZOOPLANKTON DI PERAIRAN PULAU PANJANG, JEPARA Mulyawati, Deftika; Ario, Raden; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v8i2.25101

Abstract

Plankton merupakan sebuah kelompok organisme yang hanyut bebas di dalam lautan. Plankton dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu fitoplankton dan zooplankton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dari kelimpahan fitoplankton dan zooplankton berdasarkan perbedaan kedalaman di perairan timur Pulau Panjang Kabupaten Jepara. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode aktif yaitu dengan menarik plankton net dengan mata jaring ukuran 45µ untuk fitoplankton dan 150µ untuk zooplankton. Penarikan dilakukan menggunakan kapal selama 3-5 menit dengan kecepatan kapal 0,67 m/s pada lokasi penelitian. Penentuan stasiun penelitian berdasarkan pada perbedaan kedalaman. Kedalaman air laut yang digunakan pada saat pengambilan sampel ini adalah stasiun 1 dengan kedalaman 0 m atau permukaan air laut, stasiun 2 dengan kedalaman 1-2 m dari permukaan air laut, dan stasiun 3 dengan kedalaman 3-4 m dari permukaan air laut. Pengukuran kualitas perairan dilakukan secara in situ bersamaan dengan pengambilan sampel dilakukan. Hasil dari penelitian ini didapatkan komposisi fitoplankton sebanyak 13 genus dengan kelimpahan berkisar antara 3844,19-10869,80 individu/m3. Komposisi zooplankton di perairan didapatkan sebanyak 12 genus dengan kelimpahan berkisar antara 838,77-3250,24 individu/m3. Hubungan kelimpahan antara zooplankton dan fitoplankton di perairan ini termasuk kedalam golongan hubungan korelasi positif Plankton is a group that drifts freely in the ocean. Plankton has limited mobility. Plankton can be divided into two groups, namely phytoplankton and zooplankton. This study aims to determine the relationship of the abundance of phytoplankton and zooplankton based on rates in the east of Panjang Island, Jepara Regency. Sampling is done by the active method, namely by pulling the plankton net with a mesh size of 45µ for phytoplankton and 150µ for zooplankton. Withdrawals carried out by a ship for 3-5 minutes with a ship speed of 0.67 m/s at the study site. Determination of research stations based on differences in depth. The depth of sea water used during sampling is station 1 with a depth of 0 m or sea level, station 2 with a depth of 1-2 m from sea level, and station 3 with a depth of 3-4 m above sea level. Measurements of water quality were carried out in situ together with sampling. The results of this study obtained phytoplankton compositions as many as 13 genera with abundance ranging from 3844.19-10869.80 individuals/m3. The composition of zooplankton in the waters obtained as many as 12 genera with abundance ranging from 838.77-3250.24 individuals/m3. The relationship of abundance between zooplankton and phytoplankton in these waters is included in the group of positive correlation.
EVALUASI BEBAN PENCEMARAN TERHADAP KUALITAS PERAIRAN PESISIR KOTA SEMARANG Sulardiono, Bambang; Ario, Raden
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1007.494 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.180-186

Abstract

Penelitian inl bertujuan untuk mengetahul beban pencemaran (fisika dan klmia) dan hubungannya dengan kualitas perairan pesisir. Materi yang digunakan adalah ssmpel air dan substrat dasar yang diambil mingguan dari beberapa stasiun yang dipertlmbangan sebagal daereh lingkungan pesislr Kota Semarang yang terkena beban pencemaran. Data kualltas perairan terukur dibandingkan dengan baku mutu lingkungan sebagai Keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Kep. 02/MENKLH/I/1988). Analisis juga dilakukan terhadap hubungan beban pencemaran dengan kualitas perairannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter kualitas perairan yang melampaui ambang batas baku mutu lingkungan untuk kehidupan organisme adalah kecerehan, BOD, COD, Muatan padatan tersuspensi (MPT), dan H2S . Sedangkan beban pencemaran dan kualitas perairan cenderung pada kondisl tlngkat sedang. Produktivitas perairan tinggi kecuali di muara Sungal Babon, yang diduga dlpengaruhi oleh kegiatan manusia di daerah hulu sungal sepertl kegiatan industrl, pemukiman, dan pelabuhan.Kata kunci: pencemaran; perairan pesisir; Kota Semarang  The increasing development activities in Semarang coastal area such as industrial, urbanisation and agricultural has lead to increasing of westeload into the coastal waters and finally has caused the disturbance of the ecosystem. The aims of the research were to investigate the pollution status based on physical and chemical characteristics of the seawater and the relationship between westeload and Water quality at Semarang coastal area. Sample analysis were done at Ecodevelopment Coastal Laboratory, Jepara. The result showed that the water quality which exceeded the quality threshold according to ?Kep.02/MENKLH/I/1988" for the sea organism activities were turbidity, Dissolved/ Particuled Organic Matter (DOM/ POM), COD, BOD. and H2S . The pollution status and water quality on Semarang coastal tended to be at medium level condition. The water productivity was high, except at the canal "Babon" rivers which may be caused by human activities impact such as industrial, urbanisation, and harbour.Keyword: Pollution; coastal waters; Semarang city