Asadi Asadi
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Jl. Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111 Telp. (0251) 8337975

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN GAMBUT UNTUK TANAMAN NANAS (ANANAS COMOSUS MERR) DAN LIDAH BUAYA (ALOE BARBADENSIS MILLER) DI DESA PARIT LABAK KECAMATAN KUALA MANDOR B KABUPATEN KUBU RAYA Putra, Andre Dwi Nanda; Gunawan, Joni; Asadi, Asadi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 1: April 2014
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karakteristik lahan gambut di Desa Parit Labak Kecamatan Kuala Mandor B Kabupaten Kubu Raya sangat cocok untuk budidaya tanaman Nanas (Ananas comosus Merr) dan Lidah Buaya (Aloe Bardanensis Milller) . Nanas dan Lidah Buaya adalah tanaman industri yang memilikin peluang dan potensi untuk dikembangkan sebagai suatu komoditas unggulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesesuaian lahan di lokasi penelitian untuk pengembangan tanaman nanas (Ananas comosus Merr) dan Lidah Buaya (Aloe Bardanensis Milller) beserta kendala dan rekomendasi perbaikannya. Hasil evaluasi kesesuaian lahan sampai tingkat sub group menampilkan faktor-faktor pembatas pada SPT 1 dan SPT 2 yang mengindikasikan perlunya pengelolaan lahan dalam upaya pemanfaatan lahan. Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) menyajikan informasi spasial berupa peta kesesuaaian lahan untuk tanaman nanas dan Lidah Buaya serta informasi luas area dari  masing-masing satuan peta tanah. Hasil evaluasi lahan menunjukkan terdapat beberapa faktor pembatas pada SPT 1 yaitu ketebalan dan kematangan gambut dan pada SPT 2 ketebalan gambut. Upaya evaluasi kesesuaian lahan perlu didukung dengan pemberian rekomendasi pengelolaan antara lain rekomendasi perbaikan drainase, rekomendasi pengapuran dan rekomendasi pemupukan. Kata Kunci : Nanas Dan Lidah Buaya, Evaluasi kesesuaian lahan, Gambut.
Development and Characterization of F2 Population for Molecular Mapping of Aluminum-Toxicity Tolerant QTL in Soybean Tasma, I Made; Warsun, Ahmad; Asadi, Asadi
Jurnal AgroBiogen Vol 4, No 1 (2008): April
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keracunan aluminium merupakan salah satukendala utama dalam budidaya kedelai pada lahan masam.Pembentukan populasi F2 merupakan langkah awal yangmenentukan keberhasilan program pemuliaan tanaman. Tujuanpenelitian ini untuk membentuk dan mengkarakterisasipopulasi F2 hasil persilangan tetua toleran dan tetua pekakeracunan Al. Pembentukan populasi dilakukan menggunakanbantuan marka SSR. Dengan marka SSR populasi dapatdibentuk dengan cepat, akurat, dan efisien. Skrining genotipakedelai pada tanah masam kahat hara menghasilkan duagenotipa toleran dan dua peka. Empat persilangan tunggaldibuat untuk mendapatkan benih F1. Tanaman F1 dan F2 diidentifikasimenggunakam marka SSR Satt_070. Dua populasi(B3462 X B3293 dan B3462 X B3442) dipilih berdasarkansuperiotas fenotipa pada lahan masam dan karakteristik molekulerpasangan tetua. Karakterisasi kedua populasi di lapangmenunjukkan transgresiveness luas untuk karakter reproduksiseperti jumlah polong dan berat 100 biji. Ini mengindikasikanbahwa karakter penting lain selain karakter ketahananterhadap keracunan Al potensial untuk dipetakandari populasi ini. Metoda pembentukan populasi ini akan sangatbermanfaat bagi pemulia tanaman khususnya pemuliakedelai untuk meningkatkan efisiensi program pemuliaanketahanan terhadap keracunan Al.
Penataan Batas Wilayah Administrasi Desa, Hambatan dan Alternatif Solusi dengan Pendekatan Geospasial Asadi, Asadi
Jurnal Borneo Administrator Vol 12 No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : P3KDOD III Lembaga Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.382 KB) | DOI: 10.24258/jba.v12i2.237

Abstract

Law No. 6 of 2014 concerning Villages provides additional evidence that Indonesia has paid more attention and respect to the existence of villages. The significant amount of village expansion lately is not matched with the clarity of village boundaries that may rise in to potential conflicts. Ideally, the entire instruments to structure village boundaries must first be prepared. One of the instruments needed is the availability of large scale of basic maps (topographical maps) as the main instrument of making a village map. Unfortunately, the large-scale topographical maps are not available yet. This paper provides an alternative acceleration of village boundaries arrangement using High Resolution Satellite Imagery Data that has passed orthorectified process. By involving the community and village leaders in the process of structuring boundaries, and supported by the spirit of fraternity, all problems occured during the activity of village boundaries can be solved with the very best solution.Keywords: village boundary, High Resolution Satellite Imagery Data, spirit of fraternityUndang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan tambahan bukti bahwa negara semakin memperhatikan dan menghormati keberadaan desa. Adanya pemekaran wilayah desa yang signifikan akhir-akhir ini, tidak diimbangi dengan kejelasan batas wilayah desa,berpotensi menimbulkan konflik. Idealnya, seluruh instrumen untuk melakukan penataan batas wilayah desa harus terlebih dahulu disiapkan. Salah satu instrumen tersebut adalah tersedianya peta dasar (peta rupabumi) skala besar sebagai bahan utama pembuatan peta desa. Sayangnya ketersediaan peta rupabumi skala besar belum tersedia. Tulisan ini memberikan alternatif percepatan penataan batas wilayah desa yang dapat menggunakan Citra Satelit Resolusi Tinggi (CSRT) yang sudah melalui proses ortorektifikasi. Dengan melibatkan masyarakat dan tokoh masyarakat desa dalam melakukan proses penataan batas wilayah, dan dengan didukung semangat persaudaraan, diharapkan permasalahan batas wilayah desa dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.Kata kunci: batas desa, metode kartometrik, CSRT, semangat persaudaraan
Keragaman Karakter Morfologi, Komponen Hasil, dan Hasil Plasma Nutfah Kedelai (Glycine max L.) Putri, Priskilla Purnaning; Adisyahputra, Adisyahputra; Asadi, Asadi
Bioma Vol 10 No 2 (2014): Bioma
Publisher : Biologi UNJ Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma10(2).7

Abstract

Abstract Soybean (Glycine max L.) is annual crop that have high morphologies and yield components diversity. The research was conducted at the first season of 2011, the objective of the research were to find morphological, yield, and yield component of Soybean germplasm (Glicine max L.). The research was carried out at experimental station BB-BIOGEN Citayam, Depok, and laboratory of Gene Bank BB-BIOGEN. The experiment used randomized block design with 100 different accessions and three replications for each accession. Based on the observation, the morphological characters have many visual forms. They are as follows: growth percentage in which 19.33 – 99%; growth types were determinate and indeterminate, the leave form was triangle to sharp; purple and white flowers; yellow and black seeds color. The range of values for each characteristic component are as follows: plant height 29,23 – 104,25 cm; number of pods per plant was 23,6 – 99,82; flowering time 33 – 47 days after planting; 100 seed weight 5,98 – 20,77 gram; maturing time 75 – 96,67 days after planting; root nodule’s weight 0,004 – 0,109 gram; seed’s weight 3,15 – 11,45 gram/plant. Among the accessions, the highest yield was shown by B 4323 (643,27 gram/3,6 m2). Significant correlation was shown between soybean’s yield components and yield which were plant’s height, growth percentage, numbers of main stem’s node, numbers of pods, seeds weight for each plant and root nodule’s weight. 100 seeds weight showed significant negative correlation with soybean components.   Key words: germplasm, morphological characteristics, soybean, yield components
STRATEGI EKSTENSIFIKASI PENERAPAN PP NO 46 TAHUN 2013 DALAM UPAYA PENINGKATAN PENERIMAAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) DARI WAJIB PAJAK USAHA KECIL DAN MENENGAH KOTA MALANG Asadi, Asadi
Referensi : Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.774 KB) | DOI: 10.33366/ref.v4i2.520

Abstract

Penelitian ini untuk mengetahui peningkatan penerimaan Pajak Penghasilan dengan diterapkannya pengenaan pajak 1% dari Omset yang di atur dalam PP No 46 Tahun 2013 pada wajib pajak Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Jenis penelitian kualitatif yang mana diperkuat dengan adanya observasi dan wawancara, sedangkan jenis data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer. Hasil penelitian adalah (1) Prosedur yang digunakan sudah sesuai dengan Undang-undang yang sudah ditetapkan oleh Direktur Jendral Pajak, dengan mengadakan pemetaan Wilayah, mengamati serta melakukan penyuluhan terhadap pelaku usaha kecil dan menengah. (2) Kurangnya Sumber Daya Manusia yang ada di Kantor Palayanan Pajak Pratama Malang dan kurangnya kesadaran pelaku Usaha Kecil dan Menengah terhadap perpajakan sehingga menjadi hambatan strategi ekstensifikasi untuk pencapaian yang maksimal.
PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL DAN TEKANAN KERJA TERHADAP KINERJA AUDITOR PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK KOTA MALANG Asadi, Asadi
Referensi : Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.601 KB) | DOI: 10.33366/ref.v5i1.556

Abstract

Profesi auditor diberi kepercayaan dari klien dan pihak ketiga untuk membuktikan laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan keinginan klien yang berdasarkan standar akuntansi keuangan. Kinerja auditor saat ini menjadi sorotan dari berbagai pihak. Terjadinya kasus-kasus yang menimpa auditor menimbulkan keraguan pengguna jasa audit terhadap akuntabilitas auditor. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui kinerja auditor, namun peneliti saat ini menguji kecerdasan emosional dan tekanan kerja guna mengetahui kinerja auditor. Jumlah sampel penelitian ditentukan menggunakan metode acak sederhana artinya 70 orang auditor yang terdaftar memiliki kesempatan menjadi sampel penelitian ini, namun data yang dikembalikan responden yang mencukupi syarat untuk diolah berjumlah 39 kuesioner. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikan pada variabel kecerdasan emosional adalah 0,003. Nilai signifikan lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 yang berarti signifikan, variabel tekanan kerja menunjukkan bahwa nilai signifikan sebesar 0,017 lebih kecil dari probabilitas 0,05 berarti signifikan. Kecerdasan emosional dan tekanan kerja berpengaruh secara positif terhadap kinerja auditor
GENETIC CONTROL OF SOYBEAN RESISTANCE TO SOYBEAN POD SUCKER (Riptortus linearis L.) Asadi, Asadi; Purwantoro, Aziz; Yakub, Sahiral
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 34, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v34i1.141

Abstract

Riptortus linearis represents the most common pod sucking pest on soybean. Genetic studies on inheritance of resistance to the pest are needed. The study used B4400 and B3802 genotypes as resistant parents, Tambora as susceptible parent. Crosses were made to form F2 population of Tambora x B4400, and Tambora x B3802. A total of 10-20 seeds each of resistant and susceptible parents, 220 F2 seeds of Tambora x B4400 crosses, and 232 F2 seeds of Tambora x B3802 crosses were grown in pots, one plant/pot. The plants were infested with adult R. linearis (riptortus), at the R2 stage. The results showed that the population of riptortus in each of the F2 soybean population at 7 and 15 days after infestation were >2 insects/25 plants, which enables the study of genetic resistance to soybean pod sucker. Heritability values indicated that resistance to pod sucker was controlled by genetic factors. The resistance to riptortus in B4400 and B3802 genotypes was controlled by two recessive genes located at different loci, and interacted with each other with epistatic dominant reaction. With an assumption that B and C genes were dominant, hence the resistance genes found in both soybean genotypes were bbcc.   Keywords: genetic resistance, soybean pod sucker Riptortus linearis L.