Agus S Atmadipoera
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Intitut Pertanian Bogor Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

DISTRIBUTION HEAVY METAL IN WATER AND SEDIMENT IN THE JAKARTA BAY AT SEPTEMBER 2014 Kusuma, Anma Hari; Prartono, Tri; Atmadipoera, Agus S; Arifin, Taslim
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 6 No 1 (2015): MEI 2015
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3995.498 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.6.41-49

Abstract

Teluk Jakarta merupakan kawasan padat dengan berbagai aktivitas sehingga menjadi tempat berkumpulnya polutan dari daratan yang ditransport melalui 13 sungai yang mengalir di wilayah DKI Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan proses dan sumber logam berat melalui perbandingan profil sebaran logam berat terlarut dan terendapkan pada bulan September di Perairan Teluk Jakarta. Penelitian logam berat terlarut dan terendapkan di perairan Teluk Jakarta telah dilakukan pada bulan September 2014. Analisis logam berat terlarut dan sedimen mengikuti prosedur (APHA 2012). Hasil penelitian menunjukkan kondisi fisika-kimia perairan Teluk Jakarta untuk suhu berkisar 28,9-30,2 ºC, salinitas berkisar 29,5-30,6 psu, derajat keasaman (pH) berkisar 7,80-8,17 dan partikel tersuspensi (TSS) berkisar 25-68 mg/l. Logam berat terlarut untuk Pb berkisar 0,006-0,016 ppm, Cd berkisar 0,001-0,003 ppm, Cu berkisar 0,001-0,005 ppm, Ni berkisar 0,001-0,016 ppm dan Zn berkisar 0,003-0,097 ppm. Logam berat sedimen untuk Pb berkisar 24,86-59,32 ppm, Cd berkisar 0,32-3,49 ppm, Cu berkisar 11,42-67 ppm, Ni berkisar 19,80-39,85 ppm dan Zn berkisar 26,14,8-241,01 ppm. Sebaran logam berat terlarut yang diperkuat dengan sebaran logam berat dalam sedimen mengindikasikan sumber logam berat di perairan Teluk Jakarta sebagian besar berasal dari input materi dari daratan.
POLA MUSIMAN DAN ANTAR TAHUNAN SALINITAS PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN UTARA JAWA-MADURA Najid, Ahmad; Pariwono, John I; Bengen, Dietriech G; Nurhakim, Subhat; Atmadipoera, Agus S
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 4, No 2 (2012): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/maspari.v4i2.1383

Abstract

ABSTRACTWatermass of Java Sea is already known having a strongly connection with monsoon system in Indonesian region. Study of temperature valiability for and/or its relation to exploitation of marine and coastal resources have been done by scientists before hand. But the salinity condition is rare to studied, while the characteristic is important to the real life application. The sea surface salinity data archive, is primarily used in this study, is a monthly average within January 1994 â?? December 2010 by a spatial resolution of 1o x1o. Dataset of wind from ECMWF as a secondary parameter, have been monthly averages both for east-west (zonal) component and north-south (meridional) component, it is derived from 10 meters above sea level within period of January 1994 â?? December 2010, by a spatial resolution of 2.5o x 2.5o. Descriptive analysis have been done in order to get a complete picture of the SSS seasonal fluctuation. The results shows that SSS in Java Sea having a seasonal variability, which indicated by appearences of two SSS maximum and two SSS minimum annualy. Based on monthly average in the northern part of Java-Madura Seas, the SSS is haveing range of 32,0 PSU â?? 34,4 PSU. In the first transitional monsoon (Maret-April-Mei), SSS is relatively lower than others, i.e. NW monsoon, SE monsoon, and the second transitional monsoon, where it is found a core low SSS consentrated in the western part of Java Sea and also in south of Makassar strait.Keywords: Sea surface salinity, seasonal fluctuation, wind monsoon system, Java sea ABSTRAKMassa air Laut Jawa telah diketahui memiliki hubungan yang erat dengan sistem muson di Indonesia. Kajian variabilitas temperatur terhadap dan/atau keterkaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir juga telah banyak dilakukan. Sedangkan untuk kondisi salinitas belum banyak dikaji, padahal secara aplikasi adalah penting untuk diketahui karakteristiknya. Data arsip Salinitas Permukaan Laut (SSS), digunakan sebagai data primer dalam penelitian ini, merupakan rerata bulanan dari Januari 1994 â?? Desember 2010 dengan resolusi spasial 1o x1o. Data angin yang bersumber dari ECMWF sebagai data sekunder merupakan rerata bulanan  untuk komponen timur-barat (zonal) dan komponen utara selatan (meridional) pada ketinggian 10 meter di atas permukaan laut dari Januari 1994 â?? Desember 2010, dengan resolusi spasial 2,5o x 2,5o. Analisa deskriptif dilakukan untuk menghasilkan pemahaman yang komplit. Hasil kajian menunjukkan bahwa SSS di perairan Laut Jawa memilik variabilitas antar musim yang diindikasikan dengan dua puncak SSS maksimum dan dua lembah SSS minimum dalam setahun. Berdasarkan rerata bulanan pada tahun 1994 â?? 2010 di Laut Utara Jawa-Madura, SSS berkisar antara 32,0 PSU â?? 34,4 PSU. Musim peralihan I (Maret-April-Mei) SSS relatif terendah dibandingkan pada musim yang lain, yakni musim barat, musim timur, dan musim peralihan II, dimana SSS rendah terkonsentrasi di bagian timur laut Jawa, di selatan Selat Makasar.Kata kunci: salinitas permukaan laut, fluktuasi musiman, sistem angin muson, Laut Jawa
RANCANG BANGUN DAN UJI KINERJA WAVE BUOY SEBAGAI ALAT PENGUKUR TINGGI GELOMBANG PESISIR Munandar, Erik; Jaya, Indra; Atmadipoera, Agus S
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 1 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.712 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i1.21664

Abstract

  Gelombang di laut memiliki pergerakan yang acak dan komplek, sehingga tinggi dan periode gelombang sulit untuk diukur dan dirumuskan secara akurat. Wahana terapung seperti wave buoy dengan sensor percepatan telah banyak digunakan untuk mengukur gelombang permukaan. Penelitian ini bertujuan merancang dan membuat wave buoy sederhana sebagai pengukur tinggi gelombang di perairan pantai serta menguji coba kinerja alat yang dihasilkan pada skala laboratorium dan skala lapang, sehingga alat yang dihasilkan mampu bekerja dengan baik. Hasil perhitungan terhadap dimensi atau ukuran buoy diperoleh nilai metasentrum sebesar 2,5 dimana hal ini menunjukkan bahwa wahana pelampung stabil. Selain itu, perbedaan kecepatan pada uji coba di laboratorium berhasil diperoleh gelombang yang memiliki dua frekuensi yang berbeda, dengan galat pengukuran yang diperoleh sebesar 0,01-0,07 m dengan periode yang terukur sebesar. Kinerja alat yang dilakukan di Teluk Palabuhan Ratu diperoleh beberapa tipe gelombang yang dihasilkan. Pengujian selama 24 jam diperoleh 4 periode yang signifikan yang terbagi ke dalam tiga kelompok gelombang yakni periode 1 detik, 3,37 detik kelompok gelombang angin, 1,20 jam kelompok gelombang variasi angin dan 12 jam kelompok gelombang pasang surut. Alat yang dihasilkan dapat berfungsi dengan baik mampu menyimpan data, memiliki nilai akurasi yang tinggi dapat merekam gelombang dengan periode kecil hingga periode besar.  
HALMAHERA EDDY DISPLACEMENT IN RELATION TO PRODUCTIVITY SKIPJACK IN SURROUNDING WATERS Harsono, Gentio; Supartono, Supartono; Manurung, D; Atmadipoera, Agus S; Syamsudin, Fadlt; Baskoro, Mulyono S
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 5 No 2 (2014): NOVEMBER 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3884.945 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.5.145-152

Abstract

The water between Mindanao and New Guinea is one of areas fisheries potential skipjack (Katsuwanus pelamis) most advanced in the western pacific. The main of fisheries industry this type of dominated by purse-seine by large size (50-100 Gross Tonnage). The role of a Halmahera Eddy is very importance in the dynamics of fisheries in the region, but there is no that explain it yet. Data series arrest skipjack catch per unit of effort (CPUE) of Western Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC) for a decade the period July 2002-December 2012 analyzed in order to see the relationship between shifting Halmahera Eddy with the productivity skipjack in the study areas. The results show that the productivity skipjack in the study areas correlates strongly against a meridional shifting of Halmahera Eddy where CPUE showing an increase in skipjack with lag time on two months after Halmahera Eddy center shifted to the north. While to zonal shifting have a correlation in which weak.
POLA MUSIMAN DAN ANTAR TAHUNAN SALINITAS PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN UTARA JAWA-MADURA Najid, Ahmad; Pariwono, John I; Bengen, Dietriech G; Nurhakim, Subhat; Atmadipoera, Agus S
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 4, No 2 (2012): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.856 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v4i2.1383

Abstract

ABSTRACTWatermass of Java Sea is already known having a strongly connection with monsoon system in Indonesian region. Study of temperature valiability for and/or its relation to exploitation of marine and coastal resources have been done by scientists before hand. But the salinity condition is rare to studied, while the characteristic is important to the real life application. The sea surface salinity data archive, is primarily used in this study, is a monthly average within January 1994 â?? December 2010 by a spatial resolution of 1o x1o. Dataset of wind from ECMWF as a secondary parameter, have been monthly averages both for east-west (zonal) component and north-south (meridional) component, it is derived from 10 meters above sea level within period of January 1994 â?? December 2010, by a spatial resolution of 2.5o x 2.5o. Descriptive analysis have been done in order to get a complete picture of the SSS seasonal fluctuation. The results shows that SSS in Java Sea having a seasonal variability, which indicated by appearences of two SSS maximum and two SSS minimum annualy. Based on monthly average in the northern part of Java-Madura Seas, the SSS is haveing range of 32,0 PSU â?? 34,4 PSU. In the first transitional monsoon (Maret-April-Mei), SSS is relatively lower than others, i.e. NW monsoon, SE monsoon, and the second transitional monsoon, where it is found a core low SSS consentrated in the western part of Java Sea and also in south of Makassar strait.Keywords: Sea surface salinity, seasonal fluctuation, wind monsoon system, Java sea ABSTRAKMassa air Laut Jawa telah diketahui memiliki hubungan yang erat dengan sistem muson di Indonesia. Kajian variabilitas temperatur terhadap dan/atau keterkaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir juga telah banyak dilakukan. Sedangkan untuk kondisi salinitas belum banyak dikaji, padahal secara aplikasi adalah penting untuk diketahui karakteristiknya. Data arsip Salinitas Permukaan Laut (SSS), digunakan sebagai data primer dalam penelitian ini, merupakan rerata bulanan dari Januari 1994 â?? Desember 2010 dengan resolusi spasial 1o x1o. Data angin yang bersumber dari ECMWF sebagai data sekunder merupakan rerata bulanan  untuk komponen timur-barat (zonal) dan komponen utara selatan (meridional) pada ketinggian 10 meter di atas permukaan laut dari Januari 1994 â?? Desember 2010, dengan resolusi spasial 2,5o x 2,5o. Analisa deskriptif dilakukan untuk menghasilkan pemahaman yang komplit. Hasil kajian menunjukkan bahwa SSS di perairan Laut Jawa memilik variabilitas antar musim yang diindikasikan dengan dua puncak SSS maksimum dan dua lembah SSS minimum dalam setahun. Berdasarkan rerata bulanan pada tahun 1994 â?? 2010 di Laut Utara Jawa-Madura, SSS berkisar antara 32,0 PSU â?? 34,4 PSU. Musim peralihan I (Maret-April-Mei) SSS relatif terendah dibandingkan pada musim yang lain, yakni musim barat, musim timur, dan musim peralihan II, dimana SSS rendah terkonsentrasi di bagian timur laut Jawa, di selatan Selat Makasar.Kata kunci: salinitas permukaan laut, fluktuasi musiman, sistem angin muson, Laut Jawa
DISTRIBUSI PERCAMPURAN TURBULEN DI PERAIRAN SELAT ALOR (DISTRIBUTION OF TURBULENCE MIXING IN ALOR STRAIT) Purwandana, Adi; Purba, Mulia; Atmadipoera, Agus S
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.139 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.1.43-54

Abstract

Selat Alor merupakan kanal terdalam setelah Selat Ombai di kepulauan Alor. Kontribusinya sebagai salah satu celah keluar Arus Lintas Indonesia (Arlindo) belum banyak dikaji hingga saat ini. Selat Alor memisahkan Laut Flores dan Laut Sawu, dan memiliki sill yang tinggi di dalamnya, diduga turbulensi akibat interaksi antara aliran selat dengan topografi dasar dapat memicu percampuran dan memodifikasi properti massa air yang melaluinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkuantifikasi transformasi massa air yang melalui Selat Alor dan mengkaji kemungkinan percampuran di dalam selat berdasarkan estimasi sesaat properti percampuran, yakni percampuran turbulen menggunakan metode skala Thorpe. Penurunan CTD dilakukan di 15 stasiun di perairan Selat Alor. Diperoleh hasil bahwa kontur kedalaman yang menghubungkan Laut Flores dengan Laut Sawu adalah ~300 m pada kanal utama. Salinitas maksimum massa air Subtropis Pasifik Utara (NPSW) dar i Laut Flores di Selat Alor banyak mengalami reduksi akibat intensifnya percampuran yang diduga dipicu oleh topografi dasar dan aliran selat yang menghasilkan turbulensi. Lapisan salinitas maksimum Massa Air Subtropis Samudera Hindia Utara (NISW) pada ?? = 23,5-24,5 terdeteksi di bagian selatan selat (Laut sawu). Jejak massa air NISW menurun dan banyak tereduksi mendekati pintu selatan selat. Intrusi Massa Air Lapisan Menengah Samudera Hindia Utara (NIIW) juga dijumpai di lapisan bawah Laut Sawu, konsisten dengan profil arus pada lapisan bawah. Rata-rata nilai difusivitas vertikal eddy (K?)  di Selat Alor bagian utara memiliki orde of 10-3 m2 s-1, dan di bagian selatan memiliki orde bervariasi, 10-6-10-4 m2 s-1. Penyempitan celah Selat Alor diduga merupakan pemicu turbulensi tinggi aliran yang berkontribusi pada tingginya nilai difusivitas vertikal. Kata kunci: Arlindo, percampuran turbulen, difusivitas vertikal, Selat Alor Alor Strait is the deepest channel in Alor islands after Ombai Strait. Contribution of the strait as one of the secondary exit passages of Indonesian Throughflow (ITF) has not been studied yet. The strait separates Flores Sea and Sawu Sea, and is featured by the existence of high sill within the strait, suggested that turbulence due to interaction between strait flow and bottom topography could drive mixing and then modify the water mass properties. The purpose of this study is to investigate transformation of ITF water mass and turbulent mixing process with Thorpe scale method. A hydrographic survey has been carried out in July 2011, in which 15 CTD casts were lowered in the strait. The results show that Alor sill depth is about 300 ms in the main gate. Maximum salinity of NPSW from Flores Sea within Alor Strait is significantly reduced due to strong mixing, perhaps driven by bottom topography and strait flow which creates turbulence. NISW (Northern Indian Subtropical Water) with maximum salinity layer at ?? = 23,5-24,5 is dominant in the southern part of Alor Strait (i.e. Sawu Sea). The existence of NIIW (North Indian Intermediate Water) is also found in the deeper layer of Sawu Sea. The average value of vertical eddy diffussivity (K?) estimate in the thermocline layer and deep layer in northern part and central part of strait channel is within the order of 10-3 m2 s-1. Lower order of K? in the thermocline layer and deep layer were found in southern part of the Strait (Sawu Sea), ranging from 10-6 to 10-4 m2 s-1. These indicate that the existence of sills in the northern part and central part of Alor Strait could drive mixing significantly. Narrowing passage of Alor Strait probably contribute to the high value of vertical eddy diffusivity due to highly turbulence flow. Keywords: Indonesian Throughflow (ITF), turbulent mixing, vertical diffussivity, Alor Strait
A NUMERICAL MODELING STUDY ON UPWELLING MECHANISM IN SOUTHERN MAKASSAR STRAIT Atmadipoera, Agus S; Widyastuti, Priska
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 6 No. 2 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2667.723 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v6i2.9012

Abstract

ABSTRACT While it has been well documented in the previous studies that upwelling events in the southern Makassar Strait (MAK) during the Southeast Monsoon (SEM) period are associated with low sea surface temperature (SST) and high chlorophyll-a (Chl-a) concentrations in the seawater, the dynamic and physical processes that trigger these upwelling events are still less well understood. In the present study we proposed a mechanism of the upwelling event using a numerical model of the Regional Ocean Modeling System (ROMS).  Model validations showed a high correlation of SST climatology between the model and the NOAA-AVHRR satellite data. Moreover, velocity fields of the Indonesian Throughflow (ITF) Makassar in Libani Channel was well reproduced by proposed model, revealing an intensification of the flow centered near 120 m depth, which is in good agreement with the observation data. The model demonstrated that during the SEM period strong southeasterly winds that blow over southern Sulawesi Island can increase high vertical diffusivity and heat loss through heat flux. Hence, these physical processes lead to increased vertical mixing that, in turn, generates low SST, as a proxy of upwelling event. Furthermore, the upwelling process is enhanced by the ITF Makassar jet that creates large circular eddies flow due to complex topographic within the triangle area of southern Makassar - eastern Java Sea - western Flores Sea. The eddies generate the area of convergence offshore along the ITF pathways and divergence area in the coastal waters close to southern Sulawesi Island.  Model experiment with closing/opening Selayar Strait revealed a change of intensity and area of upwelling, suggesting that the Selayar Island forms a barrier for the outflow from MAK to northern part of Flores Sea. Keywords: Upwelling, ITF Makassar, SE monsoon winds, ROMS-AGRIF, Makassar Strait.
INTRA-SEASONAL VARIABILITY OF NEAR-BOTTOM CURRENT IN THE HALMAHERA SEA Wattimena, Marlin C; Atmadipoera, Agus S; Purba, Mulia; Koch-Larrouy, Ariane
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 6 No. 2 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1409.838 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v6i2.9003

Abstract

The secondary entry portal of the Indonesian Throughflow (ITF) from the Pacific to Indian Oceans is considered to be via the Halmahera Sea (HS). However, few ITF studies have been done within the passage. This motivated the Internal Tides and Mixing in the Indonesian Througflow (INDOMIX) program to conduct direct measurements of currents and its variability across the eastern path of the ITF. This study focused on the intra-seasonal variability of near-bottom current in HS (129°E, 0°S), its origin and correlation with surface zonal winds and sea surface height over the equatorial Pacific Ocean. The result showed a strong northwestward mean flow with velocity exceeding 40 cm/s, which represented the current-following topography with the northwest orientation. Meridional current component was much stronger than the zonal component. The energy of power spectral density (PSD) of the current peaked on 14-days and 27-days periods. The first period was presumably related to the tidal oscillation, but the latter may be associated with surface winds perturbation. Furthermore, cross-PSD revealed a significant coherency between the observed currents and the surface zonal winds in the central equatorial Pacific zonal winds (180°E-160°W), which corroborates westward propagation of intra-seasonal sea surface height signals along the 5°S with its mean phase speeds of 50 cm/s, depicting the low-latitude westward Rossby waves on intra-seasonal band. Keywords: current, equatorial Pacific Ocean,  zonal winds, sea surface height, Halmahera Sea