Ubad Badrudin
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

TEKNOLOGI AMONIASI UNTUK MENGOLAH LIMBAH JERAMI PADI SEBAGAI SUMBER PAKAN TERNAK BERMUTUDI DESA PABUARAN KECAMATAN BANTARBOLANG KABUPATEN PEMALANG Badrudin, Ubad
Jurnal Abdimas Vol 15, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hijauan merupakan sumber pakan utama ternak ruminansia yang harus disediakan dalam jumlah yang cukup. Hijauan yang umum diberikan adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan, tegalan, pematang, serta pinggiran jalan yang semakin sulit didapat, terlebih saat musim kemarau panjang. Sumber pakan ternak yang belum dimanfaatkan secara optimal yaitu jerami. Jerami merupakan bagian dari batang tanaman padi tanpa akar. Karakteristik jerami padi adalah rendahnya kandungan nitrogen, kalsium, fosfor, serta kandungan serat kasarnya termasuk tinggi, sehingga daya cerna rendah dan konsumsinya menjadi terbatas. Jerami padi yang langsung diberikan kepada ternak, daya cernanya rendah dan proses pencernaannya lambat, sehingga total yang dimakan per satuan waktunya menjadi sedikit. Upaya untuk meningkatkan nutrient jerami padi salah satunya dengan teknik amoniasi menggunakan urea. Teknologi amoniasi dapat meningkatkan daya cerna dan kandungan protein. Jerami padi yang telah diamoniasi memiliki nilai energi yang lebih besar karena kandungan senyawa karbohidrat yang sederhana menjadi lebih besar serta sangat efektif untuk membebaskan dari kontaminasi mikroorganisme dan menghilangkan aflatoksin yang ada di dalam jerami.
IbM Kelurahan Degayu yang Terinterusi Air Laut Badrudin, Ubad; Mardiana, Tri Yusufi
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 8, No 2 (2017): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v8i2.1594

Abstract

Tujuan kegiatan ini adalah untuk membentuk dan mengembangkan model budidaya tanaman padi, sayur, dan ikan lele secara bertingkat pada lahan pekarangan. Metode yang dikembangkan terdiri atas beberapa tahapan meliputi koordinasi, sosialisasi, pengadaan bahan dan alat, praktek dan pendampingan pembuatan model budidaya padi, sayur, dan ikan lele secara bertingkat di lahan pekarangan. Model ini dikembangkan dalam rangka memberikan solusi alternatif terhadap lahan yang terinterusi air laut, sehingga penyediaan bahan pangan dapat disediakan dan diproduksi di lahan pekarangan yang dimiliki oleh anggota dari kelompok tani mitra. Model ini berimplikasi terhadap penyediaan bahan pangan berupa padi, sayur, dan ikan lele yang dibutuhkan untuk memenuhi karbohidrat dan gizi keluarga. Hasil panen didapatkan tanaman cabe rawit hijau per pohon bisa menghasilkan 33 buah dengan bobot 52,66 gr; tanaman tomatmenghasilkan 5-7 buah per pohon, tanaman terong menghasilkan 2-3 buah perpohon dengan berat rata-rata 72,4 g, panjang rata-rata 16,71 cm. Tanaman padi menghasilkan 32 malai per rumpun dengan panjang rata-rata 16,86 cm dengan berat total per rumpun 57,87 gr. Panen ikan lele menghasilkan 176 kg dengan panjang rata-rata 26,64 cm dan berat rata-rata 0,13 kg.
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI ENAM GENOTIPE BAWANG MERAH YANG DIPERLAKUKAN DENGAN VARIASI PUPUK K DAN SAAT PANEN Badrudin, Ubad; Sunarto, Sunarto; Hidayat, Ponendi
Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 11, No 2 (2007): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2007.11.2.71

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk K dan saat panen enam genotipe bawangmerah yang tetap, sehingga diperoleh hasil maksimal. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan PusatPenelitian dan Pengembangan Kedelai (SRDC) Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, sejak bulanJuni sampai September 2006. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT)dengan 3 kali ulangan. Petak utama adalah pepumukan K, K0: kontrol dan K1=150 kg KCl/ha, dan anakpetak berupa kombinasi antara genotipe bawang merah dan saat panen. Keenam genotip bawang merahmenunjukkan pertumbuhan dan hasil bervariasi, tetapi bukan disebabkan oleh variasi pemupukkan K. Hasilumbi bervariasi ketika panen dilakukan pada saat yang berbeda. Umur panen 70 hst (U2) memberikan hasillebih baik daripada umur panen 60 hst (U1). Bobot kering askip tanaman per rumpun, dan diameter umbisetiap genotip bawang merah ditentukan oleh saat panen. Galur K (V3) pada umur panen 70 hst (U2)menunjukkan hasil yang paling tinggi. Jumlah umbi per rumun keenam genotip bawang merah ditentukanoleh pemberian pupuk K dan saat panen. Jumlah umbi per rumun Galur K (V3) dan varietas Tiron (V6)meningkat sejalan dengan pemberian pupuk K (K1) dan jika dipanen pada umur 70 hst (U2), sehinggadiameter umbinya menjadi kecil-kecil.Kata Kunci: bawang merah, genotipe, pupuk K, saat panen. ABSTRACTThis research project aimed to find out the proper dose of K fertilizer and harvest time for shallot, soas to gain their maximal yield. Its was carried out in Soybean Research and Development Center (SRDC)field of Jenderal Soedirman University, Purwokerto, since June until September 2006. A three replication ofSplit Plot Design arranged in Randomized Completely Block Design was employed. The main plot consistedof K0: control and K1: 150 kg KCL per hectare, whilst sub plot was combination between six shallotgenotype and harvesting time. The growth and yield of six shallot varieties varies and its variation dependedon K fertilizer and harvesting time. K application (K0 and K1) was not affect all of observed variables. Bulbyield varies when its harvest was done in different time. Harvesting time in 70 days after planting (U2)resulted higher yield than those of 60 days after planting (U1). Askip dry weight of crop per clump and bulbdiameter of each variety depended on harvesting time. K line (V3) produced the highest yield when shallotwaa harvested in 70 days after planting (U2). The number of tuber per clump for all varieties was determinedby both K application and harvesting time. The number of tuber for K line (V3) and Tiron variety (V6)increased when K fertilizer was applied and shallot was harvested in 70 days after planting (U2), and hencethe diameter of tuber decreased.Key words: shallot, genotype, K fertilizer, harvesting time.
PKM Petani Kopi Desa Sidomulyo Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan Badrudin, Ubad; Fitriyani, Nur Lulu
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 10, No 2 (2019): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v10i2.3019

Abstract

Tujuan dari pelaksanaan Program Kemitraaan Masyarakat petani kopi di Desa Sidomulyo Kecamatan Lebakbarang antara lain agar petani kopi mampu memahami dan mampu mengaplikasikan tentang teknik memanen yang baik serta dapat mengaplikasikan teknik pengolahan kopi yang lebih baik, mampu memahami dan mengaplikasikan teknik mengangkat beban serta dapat memahami teknik penguluran otot pinggang pada petani kopi dan mengaplikasikannya. Permasalahan yang dihadapi oleh kedua mitra yakni Kelompok Tani Sidodadi dan Sidodadi II adalah teknik memanen yang masih keliru serta pengolahan pasca panen yang hanya melalui teknik pengolahan kopi kering, sehingga diperoleh rasa kopi yang memiliki cita rasa yang kurang nikmat. Selain itu, masih rendahnya tingkat pemahaman teknik mengangkat yang ergonomi, serta pengetahuan yang masih rendah tentang bagaimana menyembuhkan keluhan badan pegal-pegal setelah panen kopi selain dengan obat. Berdasarkan permasalahan tersebut, metode pelaksanaan yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah (1) memberikan pelatihan tentang teknik pemanenan dan pengelolaan pasca panen buah kopi, (2) memberikan penyuluhan tentang teknik mengangkat yang benar saat panen kopi, sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan keselamatan kerja petani (menjadi lebih sehat dan hasil panen lebih produktif) dengan cara yang mudah dan (3) memberikan penyuluhan dan pelatihan tentang penyembuhan keluhan dengan latihan penguluran dengan biaya yang relatif murah dan terjangkau. Hasil dari kegiatan PKM adalah meningkatnya pengetahuan petani kopi terkait teknik memanen yang baik dan teknik pengolahan pasca panen buah kopi, meningkatnya pengetahuan tentang teknik lifting yang ergonomi, serta dapat mengetahui cara pemyembuhan keluhan badan pegal menggunakan back exercise tanpa minum obat.
TEKNOLOGI AMONIASI UNTUK MENGOLAH LIMBAH JERAMI PADI SEBAGAI SUMBER PAKAN TERNAK BERMUTUDI DESA PABUARAN KECAMATAN BANTARBOLANG KABUPATEN PEMALANG Badrudin, Ubad
Jurnal Abdimas Vol 15, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hijauan merupakan sumber pakan utama ternak ruminansia yang harus disediakan dalam jumlah yang cukup. Hijauan yang umum diberikan adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan, tegalan, pematang, serta pinggiran jalan yang semakin sulit didapat, terlebih saat musim kemarau panjang. Sumber pakan ternak yang belum dimanfaatkan secara optimal yaitu jerami. Jerami merupakan bagian dari batang tanaman padi tanpa akar. Karakteristik jerami padi adalah rendahnya kandungan nitrogen, kalsium, fosfor, serta kandungan serat kasarnya termasuk tinggi, sehingga daya cerna rendah dan konsumsinya menjadi terbatas. Jerami padi yang langsung diberikan kepada ternak, daya cernanya rendah dan proses pencernaannya lambat, sehingga total yang dimakan per satuan waktunya menjadi sedikit. Upaya untuk meningkatkan nutrient jerami padi salah satunya dengan teknik amoniasi menggunakan urea. Teknologi amoniasi dapat meningkatkan daya cerna dan kandungan protein. Jerami padi yang telah diamoniasi memiliki nilai energi yang lebih besar karena kandungan senyawa karbohidrat yang sederhana menjadi lebih besar serta sangat efektif untuk membebaskan dari kontaminasi mikroorganisme dan menghilangkan aflatoksin yang ada di dalam jerami.