Articles

Found 24 Documents
Search

EFEK TEH DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA TEA) TERHADAP KADAR LEUKOSIT IBU HAMIL Hasriani, St.; Nontji, Werna; Hadju, Veny; As?ad, Suryani; Singrang, Andi Wardihan; Bahar, Burhanuddin
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIK) Vol 13, No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIK)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Leukosit adalah system imun tubuh yang terlibat dalam pertahanan tubuh terhadap penyakit dan bahan asing. Jika terjadi peningkatan jumlah leukosit berisiko terjadi kelahiran prematur, ketuban pecah dini dan infeksi neonatus. Apabila terjadi penurunan sistem imun akan terjadi penurunan ketahanan tubuh terhadap penyakit terutama infeksi untuk memperbaiki sistem imun dipengaruhi beberapa faktor salah satunya zat gizi makro mikro. Daun kelor kaya kandungan nutrisi yang merupakan alternatif untuk menanggulangi terjadinya kekurangan zat gizi dan infeksi. Penelitian bertujuan menggambarkan efek the daun kelor (Moringa Oleifera Tea) terhadap kadar leukosit pada ibu hamil. Metode digunakan yaitu Quasi Experiment non randomized control group pretest-posttest design. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling pada ibu dengan usia kehamilan trimester III (?28 minggu) di Puskesmas Pangkajene dan Puskesmas Lawawoi Kabupaten Sidenreng Rappang. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intervensi 18 subjek dan kelompok kontrol 18 subjek. Hasil analisis rerata kadar leukosit pada kelompok teh daun kelor dari 11396±1903 menjadi 9416±1715. Pada kelompok tablet Fe dari 10658±1424 menjadi 10967±964 dengan selisih 1979 dan 308 (p=0.002) dapat disempulakn bawha terdapat perbedaan rerata nilai kadar leukosit antara kelompok teh daun kelor dan kelompok tablet Fe, dimana teh daun kelor lebih efektif menurunkan kadar leukosit ibu hamil. Kata kunci : Kadar Leukosit, Ibu Hamil, Teh Daun Kelor Effects of Moringa Oleifera Tea on Leukocyte Levels of Pregnant Women Abstract. Leukocytes are the immune system that is involved in defending the body against disease and foreign material. If there is an increase in the number of leukocytes, there is a risk of premature birth, premature rupture of membranes and neonatal infection. If the immune system declines, there will be a decrease in the body's resistance to diseases, especially infections and to improve the immune system there are several factors, one of which is the intake of micro-nutrients. Moringa leaves are rich in nutritional content which is an alternative to overcome the occurrence of nutrient deficiencies and infections. This research aims to describe the effect of Moringa Oleifera Tea on the levels of pregnant women leukocytes. The method used in this research is Quasi Experiment non randomized control group pretest-posttest design. Sampling was done by purposive sampling in third trimester of pregnant women (?28 weeks) at the Pangkajene and Lawawoi Health Center in Sidenreng Rappang Regency which were divided into two groups: an intervention group of 18 subjects and a control group of 18 subjects. The results of the average analysis of leukocyte levels in the Moringa oleifera tea group 11396±1903 to 9416±1715. In the Fe tablet group 10658±1424 to 10967±964 with the difference in 1979 and 308 (p=0.002) it can be concluded that there are differences in the average value of leukocyte levels between the Moringa oleifera tea group and the Fe tablet group, where Moringa oleifera tea is more effective in reducing leukocyte levels of pregnant Women Keywords  : Leukocyte Levels, Pregnant Women, Moringa Oleifera Tea
PENGARUH ANTARA PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI, IMPLEMENTASI STRATEGI DIFERENSIASI, DAN KUALITAS LAYANAN DALAM MENCAPAI KEUNGGULAN BERSAING PADA RUMAH SAKIT HAJI MAKASSAR Noor, Noer Bahry; Bahar, Burhanuddin; Fara, Guntur R
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 9, No 3: SEPTEMBER 2013
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.453 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v9i3.468

Abstract

Perkembangan persaingan antar perusahaan semakin ketat baik pada tingkat regional maupun global. Pada sebagian besar industri jasa, kualitas layanan secara umum diterima sebagai suatu faktor penentu (key factor). Zeithaml dan Berry menyatakan bahwa kualitas layanan merupakan strategi yang mendasar dalam upaya perusahaan meraih sukses dan keberlanjutan dalam lingkungan bisnis yang ketat. Kualitas pelayanan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti penggunaan teknologi informasi dan implementasi strategi diferensiasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh penggunaan teknologi informasi terhadap kualitas pelayanan, pengaruh kualitas pelayanan terhadap keunggulan bersaing, dan pengaruh implementasi strategi diferensiasi terhadap keunggulan bersaing. Penelitian ini merupakan penelitian explanatory adalah untuk menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui proposisi konfirmatory dan pengujian. Dalam penelitian ini teknik analisis yang digunakan Structural Equation Modelling (SEM). Perwakilan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian yang sesuai dengan menggunakan teknik analisis SEM.Teknologi informasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas pelayanan, strategi diferensiasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan kompetitif, kualitas layanan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan kompetitif. Teknologi informasi dan strategi diferensiasi dapat memengaruhi kualitas pelayanan dan kualitas pelayanan itu sendiri akan memengaruhi keunggulan bersaing rumah sakit. Kesimpulannya adalah penggunaan teknologi informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas pelayanan sedangkan strategi diferensiasi dan kualitas layanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan bersaing.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KELOR TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS AIR SUSU IBU (ASI) PADAIBU MENYUSUI BAYI 0-6 BULAN Zakaria, Zakaria; Hadju, Veni; As'ad, Suryani; Bahar, Burhanuddin
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 12, No 3: SEPTEMBER 2016
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.801 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v12i3.1077

Abstract

Daun kelor mengandung berbagai macam zat gizi serta sumber fitokemikal. Rendahnya gizi mikro yang dikonsumsi ibu menyusui akan memengaruhi kemampuan untuk menyediakan ASI dengan kandungan gizi mikro yang cukup untuk pertumbuhan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek dari ekstrak daun kelor terhadap kuantitas dan kualitas ASI pada ibu menyusui. Penelitian ini adalah double blind randomized kontroled design dan dilaksanakan di Kabupaten Maros. Subjek adalah ibu menyusui setelah seminggu melahirkan dan dibagi kedalam dua kelompok. Kelompok pertama menerima ekstrak daun kelor (EK) dua kali dua kapsul, 800mg/kapsul, (kelompok EK, n=35) dan kelompok lainnya menerima tepung daun kelor (TE) dengan dosis yang sama (kelompok TE, n=35). Kuantitas dan kualitas ASI diukur sebelum dan sesudah 3 bulan diintervensi. Diukur menggunakan metode Byerley sedangkan kualitas dinilai melalui pengukuran zat besi, vitamin C, dan vitamin E. Ana- lisis statistik menggunakan uji t sampel berpasangan dan bebas. Kuantitas ASI meningkat pada kedua kelompok EK (397±118 menjadi 661±158, p=0,001) dan TK (449±129 to 600±120, p=0,001). Peningkatan kuantitas ASI berbeda signifikan antara kelompok EK dan TK (masing-masing 263±41 vs. 151±9, p=0,40). Kadar besi, vitamin C dan vitamin E tidak berubah sebelum dan sesudah intervensi pada kedua kelompok (p>0,05). Pemberian EK dan TE dapat meningkatkan volume ASI, peningkatan volume ASI lebih tinggi pada kelompok yang mendapat EK dibanding TK, tetapi tidak berpengaruh terhadap kualitas ASI (besi, vitamin C dan vitamin E).
PENGARUH PREVENTIF MULTIMODAL ANALGESIA TERHADAP DINAMIKA KADAR IL - 1β, INTENSITAS NYERI PADA PASCABEDAH LAPAROTOMI GINEKOLOGI Hisyam, Muhammad; Bahar, Burhanuddin; Ahmad, Muhammad Ramli
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.222 KB) | DOI: 10.14710/jai.v5i2.6416

Abstract

Latar Belakang: Nyeri pascabedah merupakan permasalahan sangat penting yangdihadapi pasien pascabedah. Meskipun pengetahuan kita tentang mekanisme nyeripascabedah sudah mengalami banyak kemajuan, namun pengelolaan nyeripascabedah belum optimal dan masih sering terabaikan. Interleukin (IL) 1? adalahsalah satu sitokin proinflamasi yang kadarnya akan meningkat bila terjadi prosesinflamasi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar IL-1?, skala NRS, padakelompok yang mendapatkan epidural bupivakain 0,125% kombinasi parecoxib 40 mgdengan kelompok yang mendapatkan epidural bupivakain 0,125% yang digunakansebagai multimodal preventif analgesia pascabedah laparotomi ginekologi.Metode: Penelitian eksperimental dilakukan secara acak pada 50 pasien denganstatus fisik (ASA PS) II yang akan menjalani prosedur laparotomi ginekologi dengananestesi epidural. Subyek penelitian dibagi dalam dua kelompok perlakuan, yaknikelompok pertama dengan kombinasi parecoxib 40 mg (n=25) dan kelompok keduadengan kombinasi plasebo NaCl 0,9% (n=25). Kedua kelompok tersebut mendapatkananestesi epidural selama operasi dan sebagai analgesia pascabedah. Pengambilansampel darah pasien dilakukan 35 menit sebelum pembedahan untuk pengukurankadar IL-1 ?, selanjutnya dilakukan pada 2 jam dan 24 jam pascabedah. Analisisstatistik menggunakan uji Mann-Whitney U dan Levane test.Hasil: Rerata kadar IL-1? prabedah pada kelompok parecoxib 1,05±1,25 pg/ml, 1,24± 1,54 pg/ml untuk 2 jam pascabedah dan 1,82 ± 2,16 pg/ml pada 24 jam pascabedah.Kelompok kontrol, kadar IL-1? prabedah 1,65±1,69 pg/ml, 2,55±2,77 pg/ml untuk 2jam pasca bedah pg/ml, dan 1,96±1,97 pg/ml pada 24 jam pascabedah. Tidak adaperbedaan bermakna rerata skor NRS diam dan bergerak 2 jam, 12 jam, dan 24 jampascabedah diantara kedua kelompok sampel (p>0,05).Kesimpulan: Kombinasi epidural bupivakain 0,125% dengan parecoxib 40 mg dapatmenurunkan kadar IL-1? pada 2 jam pascabedah.
HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN ZAT GIZI MIKRO DENGAN STUNTING PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA 1 PUSKESMAS KABERE KECAMATAN CENDANA KABUPATEN ENREKANG rahmadani, Nur Amaliah; Bahar, Burhanuddin; Dachlan, Djunaedi M
Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia: The Journal of Indonesian Community Nutrition Vol 8, No 2 (2019): Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia: The Journal of Indonesian Community Nutrition
Publisher : Departement of Nutrition, Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.454 KB) | DOI: 10.30597/jgmi.v8i2.8512

Abstract

Pendahuluan: Stunting merupakan salah satu masalah gizi yang muncul sebagai salah satumasalah kesehatan di Indonesia. Global Nutrition Report tahun 2014 menunjukkanIndonesia termaksuk dalam 17 negara, di antara 117 negara, yang mempunyai tiga masalahgizi yaitu stunting, wasting dan overweight pada anak. Berdasarkan Hasil Riset KesehatanDasar pada tahun 2018 Sulawesi Selatan berada pada peringkat ke 6 provensi denganprevalensi tinggi dengan presentase 35%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan  untukmengetahui hubungan asupan zat gizi makro dan mikro pada anak usia 24-59 bulan diwilayah kerja Puskesmas Kabere Kabupaten Enrekang. Metode: Jenis penelitian yangdigunakan adalah deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian  ini adalah balita usia 24-59 bulan. Didapatkan sebanyak 105 sampel. Teknik sampling dalampenelitian ini adalah cara probability sampling menggunakan teknik purposive sampling.Asupan zat gizi makro dan mikro di ukur dengan cara wawancara langsung kepada orangtua. Hasil: Hasil penelitian ini didapatkan bahwa balita 24-59 bulan diwilayah kerja PuskesmasKabere Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang yang mengalami stunting sebanyak 46,7%dan yang normal sebanyak 53,3%. Dalam penelitian ini, didapatkan hasil berdasarkan uji statistikChi-Square bahwa terdapat hubungan yang sgnifikan antara asupan zat gizi makro (Karbohidrat,Protein, Lemak) (p<0,005) dengan stunting, terdapat hubungan yang signifikan antara asupan zat besidan zink (p<0.005), Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan kalsium denganvitamin D dengan stunting(p>0.005). Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara asupan zatgizi makro serta zat besi dan zink dengan stunting.
ANALISIS HUBUNGAN PEMAHAMAN DIABETIC LITERACY DENGAN SELF MANAGEMENT PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI RS. UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR Lusiana, Evi; Kadar, Kusrini; Bahar, Burhanuddin
Jurnal LINK Vol 15, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v15i1.3963

Abstract

Salah satu diantara peran tenaga kesehatan adalah sebagai educator atau sebagai pendidik, yang mana fokus nya adalah tingkat diabetic literacy individu, yaitu kemampuan individu dalam memperoleh, menginterpretasi serta menggunakan informasi tersebut sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan dalam hal ini adalah peningkatan self management. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara pemahaman diabetic literacy dengan self management pada pasien diabetes melitus di RS.  Universitas Hasanuddin Makassar. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan jumlah sampel 30. Sampel merupakan pasien yang datang berobat ke Instalasi Rawat Jalan Interna yang terdiagnosa penyakit diabetes melitus dengan teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan menggunakan uji statistik chi square. Hasil yang diperoleh adalah terdapat hubungan antara pemahaman diabetic literacy dengan self management dengan nilai p=0,002. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemahaman diabetic literacy pada pasien diabetes melitus dipengaruhi oleh performa tenaga kesehatan dalam melakukan komunikasi dengan pasien yang secara signifikan nantinya akan berhubungan dengan self mangement pasien dalam melakukan perawatan diri.
The Correlation between Proprotein Convertase Subtilisin/Kexin Type 9 (PCSK9) and Insulin Resistance and the Components of Atherogenic Lipoprotein Phenotype in Males with Central Obesity Yusmiati, Yusmiati; Bahar, Burhanuddin; Wijaya, Andi
The Indonesian Biomedical Journal Vol 2, No 3 (2010)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v2i3.128

Abstract

BACKGROUND: Proprotein Convertase Subtilisin/Kexin Type 9 (PCSK9) promotes the degradation of LDL receptor in hepatocytes. in vitro studies have proven that insulin increases the expression of PCSK9. Insulin resistance, a common condition in central obesity is characterized by dyslipidemia called Atherogenic Lipoprotein Phenotype (ALP). This study aimed to investigate the correlation between insulin resistance (HOMA-IR) and PCSK9, and to analyze whether this condition is related to the development of ALP in central obesity.METHODS: This is an observational study with crosssectional design. The subjects consisted of 62 male adults with central obesity, aged 30-60 years old. ELISA was used to measure plasma PSCK9.RESULTS: The mean plasma PCSK9 concentration of the samples was 283.7 ng/mL. PCSK9 had positive linear correlation with HOMA-IR (r=0.225, p=0.045) and Apo B (r=0.245, p=0.055). After controlling of HOMA-IR, PCSK9 had positive linear correlation with triglycerides (r=0.352, p=0.045). In population with HOMA-IR >2, crosstabs analysis showed that PCSK9 had significant correlation with triglycerides and Apo B with an odd ratio of 6,125 (r=0.376, p=0.037). Triglyceride showed significant negative correlation with HDL cholesterol and ratio of LDL/Apo B, but neither HOMA-IR nor PCSK9 did.CONCLUSION: In males with central obesity, PCSK9 is one of the factors mediating the occurence of ALP in insulin resistance.KEYWORDS: PCSK9, insulin resistance, atherogenic lipoprotein phenotype
Correlation between hsCRP and Anti-beta2GPI Antibody in Metabolic Syndrome Djohari, Meiriza; Arif, Mansyur; Bahar, Burhanuddin
The Indonesian Biomedical Journal Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v3i2.142

Abstract

BACKGROUND: Several researches reported that inflammatory and immunological mechanism such as autoantibody to β2-glycoprotein I (anti β2GPI) appear as related factors in initiation and progress of atherosclerosis lesion in patient with autoimmune disease. Antibody to β2GPI titers are correlated with atherosclerosis and in vitro studies showed that they enhance oxidized low density lipoprotein (ox-LDL) uptake by macrophages. Immunization with auto-antigen β2GPI elicits an immune response to influence lesion progression that mostly happens in autoimmune subjects. The metabolic syndrome (MetS) is combination of several metabolic disorders such as obesity, dyslipidemia, Diabetes Mellitus (DM) and conditions due to inflammation and stress oxidative. The Correlation between inflammatory markers such as High sensitivity C-Reactive Protein (hsCRP) and anti-β2GPI antibody in MetS needs to be further investigated.METHODS: This was an observational study with cross sectional design on subject with MetS as determined by the International Diabetes Federation (IDF) 2005’s criteria.RESULTS:There was a positive and significant correlation between hsCRP and anti-β2GPI antibody in MetS group (r=0.406; p≤0.05) as compared to non-MetS group. We found that there was elevated level of anti-β2GPI antibody in hsCRP of 3-10 mg/L.CONCLUSIONS: Anti-β2GPI antibody may be elevated in subjects with MetS who have low grade of inflammation as shown by hsCRP.KEYWORDS: metabolic syndrome, inflammation, autoantigen, atherosclerosis, obesity
THE EFFECT OF EDUCATION USING MODIFICATION MODULE TOWARDS NUTRITIONAL INTAKE DURING PREGNANCY IN KENDARI, INDONESIA tini, Kar; Syafar, Muh; Arsin, A. Arsunan; Bahar, Burhanuddin; -, Farming; yanti, Fitri
Public Health of Indonesia Vol 2, No 2 (2016): April - June 2016
Publisher : Public Health of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.163 KB)

Abstract

Background: Energy metabolism speeds up during pregnancy that requires pregnant women to have extra amount of nutritions. Provision of education on nutrition during pregnancy is an effort to prevent and tackle malnutrition.Aim: This study aimed to determine the effect of education using modification module towards nutritional intake during pregnancy in Kendari, IndonesiaMethods: This was Quasi Experimental study with pre-post design. There were 4 groups in this study, which were: 1) The group that received educational intervention using a modification module from the MHC book of the Department of Health, 2) The group that received educational intervention using MHC book of the Department of Health, 3) The group that only used modification modules from MHC book of the Department of Health, and 4) The group that only used the MHC book of Department of Health. The intervention was given for 6 months. Seventy eight of 4-months pregnant women were selected in this study. Data were collected by using 24 hours food recall instrument, and questionnaire adopted from Child and Maternal Nutrition Survey’s Questionnaire of Faculty of Public Health, Hasanuddin University. Data were analyzed by using Wilcoxon test and Kruskal Wallis test.Results: Results showed there was an effect of education by using the module modifications to the intake of nutritions during pregnancy. Increased nutrient intake was higher in pregnant women using a module class modifications.Conclusion: Education affects nutritional intake of pregnant women. Changes in nutritional intake was higher in group 1 (education modules with modifications), compared with the education group MCH handbook. It is suggested that mothers should improve the nutrition during pregnancy for the better growth of the fetus, composition and metabolic changes in the mothers body. 
THE INFLUENCE OF EDUCATION USING MODIFICATION MODULE ON KNOWLEDGE, ATTITUDE, AND BEHAVIOR OF PREGNANCY CARE IN KENDARI, INDONESIA tini, Kar; Syafar, Muh; Arsin, A. Arsunan; Bahar, Burhanuddin; yanti, Fitri; -, Farming
Public Health of Indonesia Vol 2, No 2 (2016): April - June 2016
Publisher : Public Health of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.717 KB)

Abstract

Background: Prenatal care is one way to prevent complications of pregnancy, and educational approach is the best approach to improve the knowledge of mothers about prenatal care.Aim: This study aimed to determine the influence of education on knowledge, attitude, and behavior of pregnancy care in Kendari, IndonesiaMethods: This was Quasi Experimental study with pre-post design. There were 4 groups involved in this study, which were: 1) The group that received educational intervention using a modification module from the MHC book of the Department of Health, 2) The group that received educational intervention using MHC book of the Department of Health, 3) The group that only used modification modules from MHC book of the Department of Health, and 4) The group that only used the MHC book of Department of Health. The intervention was given for 6 months. Seventy eight of 4-months pregnant women were selected by purposive sampling. Data were collected by asking the respondents to fulfill the questionnaires, which adopted from the questionnaire of Faculty of Public Health, Hasanuddin University to measure knowledge (15 items), attitude (18 items), and behaviors (15 items) of respondents. Data were analyzed by using Wilcoxon test and Kruskal Wallis test.Results: Results showed thre was an influence of education on knowledge, attitude, and behavior of pregnancy care. Improvement in knowledge, attitudes, and behavior of pregnancy care was higher in the group  of pregnant women using a modification moduleConclusion: Education through the class of pregnant woman has an impact to increase knowledge, attitude, and behavior of care of pregnant woman. It is therefore the efforts to maintain educational approach is necessary.