Articles

Found 18 Documents
Search

KARAKTERISTIK KEMISKINAN MASYARAKAT PERDESAAN PADA KAWASAN PERTAMBANGAN EMAS DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT Ibrahim, Ibrahim; Baiquni, Muhammad; Ritohardoyo, Su; Setiadi, Setiadi
MIMBAR (Jurnal Sosial dan Pembangunan) Volume 32, No. 1, Year 2016 [Accredited by Ristekdikti]
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mimbar.v32i1.1583

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada perdesaan pertambangan emas dengan tujuan bagimana karakteristik kemiskinan masyarakat pada perdesaan kawasan pertambangan emas di Kabupaten Sumbawa Barat. Metode survei digunakan dalam penelitian ini, fokus pada perdesaan kawasan pertambangan. Sampel responden sebanyak 167 rumah tanga, dipilih berdasarkan puposive sampling dari 4 desa, yang ditentukan berdasarkan perta kemiringan lereng. Analisis data menggunakan tabulasi silang dan Tabel Frekuensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat kemiskinan pada daerah penelitian bervariasi. Kondisi pendapatan dengan klasifikasi rendah pada tofografi datar (77,9%) topografi berbukit (75,3%). Kualitas perumahan dengan klasifikasi sedang pada tofografi berbukit (55,6%) topografi datar (53,5%). Pemilikan lahan pertanian dengan klasifikasi rendah pada topografi berbukit (93,8%) terendah topografi datar (82,6%). Pemilikan hewan ternak dengan klsifikasi rendah pada topografi datar (87,2%) terendah pada topografi berbukit (85,7). Pemilikan barang berharga pada klasifikasi rendah sama-sama antara topografi datar dan berbukit (98,8%). Hasil nilai gabungan menunjukan bahwa tingkat kemiskinan rendah antara topografi berbukit (84%) dan topografi datar (83,7%). Hal ini berarti bahwa karakteristik kemiskinan pada kawasan pertambangan emas di masih rendah
Social-Economics Integration of Dualistic Settlement Environment at Urban Areas in Indonesia (Case Study in Yogyakarta City) Baiquni, Muhammad
Forum Geografi Vol 14, No 1 (2000)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/forgeo.v14i1.450

Abstract

Dualistic pattern of settlement is a new phenomena in some areas of Indonesian cities. Such phenomena may reate increasing tensions which lead to emerging potential onflicts among different groups. In managing such potential conflicts, it is important to study many aspects of dualistic settlements, not only in term of physical spatial pattern but also socio-economic pattern in various strate as well as various location in the urban and it surround. This research is aimed at understanding the characteristic and process of emerging dualistic sttlements in Indonesia, further this research attempt to study the pattern and the forms of socio-economic integration of the community. The research approach is aimed at understanding the characteristic and process of emerging dualistic settlement in Indonesia, futher this research attempt to study the pettern and the form of socio-economic integration of the community.
Sustainable Tourism Development: the Adaptation and Resilience of the Rural Communities in (the Tourist Villages of) Karimunjawa, Central Java Setiawan, Budi; Rijanta, R; Baiquni, Muhammad
Forum Geografi Vol 31, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/forgeo.v31i2.5336

Abstract

From 2009 to 2015, the growth of tourism in the tourist villages (desa wisata) of Karimunjawa underwent rapid progress. However, the level of poverty in Karimunjawa remained high. Nevertheless, the involvement of rural people in the sustainable development of tourism has received only limited discussion. Therefore, this article discusses the rural communities’ adaptation and resilience in Karimunjawa with the support of sustainable development planning in tourist villages. It covers the background of sustainable development, the elements of the communities’ adaptive capacity and resilience, and the role of the regional government. Empirical evidence of variations in the capacity to respond to changes of socioeconomic and ecological environments due to tourism development is presented. In addition, a case study is used in this article to describe how the people learned from their experience, knowledge, and past efforts. To obtain the necessary information, in-depth interviews were conducted with a number of key informants in the tourist villages of Karimunjawa, which were selected via purposive and snowball sampling. The results of the research show that social resilience will increase among those communities that are capable of accessing flexible social networks. These social networks are practical tools that open up the dissemination of new information and knowledge. This is a key element for a stronger process of transformation. Furthermore, communities that have capital and financial access as well as skills will also be capable of adaptation to the transformation process.
Potensi Makanan Tradisional Kue Kolombeng Sebagai Daya Tarik Wisata Di Daerah Istimewa Yogyakarta harsana, Minta; Baiquni, Muhammad; Harmayani, Eni; Widyaningsih, Yulia Arisnani
Home Economics Journal Vol 2, No 2 (2018): October
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.701 KB) | DOI: 10.21831/hej.v2i2.23291

Abstract

Perkembangan industri pariwisata dapat memberikan peluang bagi berkembangnya produk-produk wisata, termasuk kuliner di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tingginya perkembangan industri pariwisata, memberikan peluang yang sangat besar bagi masyarakatnya, untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan pariwisata, khususnya wisata kuliner yang saat ini masih sangat terbatas jumlahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makanan tradisional sebagai Daya Tarik Wisata Kuliner di Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan menggunakan teori Daya tarik Wisata dari Damanik dan Weber, (keunikan, originalitas, otentisitas, dan keragaman).Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa makanan tradisional  Kue Kolombeng merupakan suatu produk yang berdaya tarik wisata. Daya tarik wisata pada Makanan Tradisional Kolombeng adalah karena makanan Tradisional ini memiliki keunikan, originalitas, otentisitas, dan keragaman. Keunikan dapat dilihat dari adanya kombinasi kelangkaan dan kekhasan yang melekat pada makanan tradisional Kue Kolombeng. Originalitas makanan tradisional tergambar dari keaslian bahan makanan tradisional  dengan tetap mempertahankan bahan baku lokal asli dan proses dengan ,juga menggambarkan otentisitasnya, keragaman mengarah pada variasi bentuk dan nama. 
Persepsi Masyarakat Setempat dan Pegawai Pemerintah Daerah terhadap Dampak Pembangunan Pariwisata: Studi kasus di Kawasan Kota Tua Brahmantyo - STP Trisakti Jakarta, Himawan; Baiquni, Muhammad; Fandeli, Chafid; Widodo - UGM Yogyakarta, Tri
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Vol 8, No 1 (2017): Jurnal Khasanah Ilmu - Maret 2017
Publisher : Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.217 KB)

Abstract

Abstract -Tourism development impact on the economic, environmental and social stakeholders to be around tourism destinations.  This study aims to examine how perceptions of stakeholders, namely the local community and local government employees on the impact of tourism development in the old city Jakarta area. The field survey was conducted by distributing questionnaires to local communities (kelurahan Pinangsia, Roa Malaka, Penjaringan) and local government employees in the old city Jakarta area. Descriptive statistics were used to measure the perceptions of the impact of differences in perception between the two stakeholders were analyzed using ANOVA and t-test.  The results showed that both stakeholders have a positive perception of the impact of tourism development. Significant differences were found that local communities contribute to tourism judge primarily on the social aspects, while local government officials assess that tourism contributes to the environmental aspects are also social. Keywords: the impact of tourism development, perception, local communities, government officials RegionalAbstrak - Pembangunan pariwisata berdampak terhadap aspek ekonomi, lingkungan dan sosial para pemangku kepentingan yang berada di sekitar destinasi pariwisata. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana persepsi para pemangku kepentingan yaitu masyarakat setempat dan pegawai pemerintah Daerah tentang dampak pembangunan pariwisata di Kawasan Kota Tua Jakarta. Survei lapangan dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada masyarakat setempat  (kelurahan Pinangsia, Roa Malaka, Penjaringan) dan pegawai Pemda di Kawasan Kota Tua Jakarta. Statistik deskriptif digunakan untuk mengukur persepsi dampak, perbedaan persepsi antara kedua pemangku kepentingan dianalisis menggunakan ANOVA dan t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pemangku kepentingan memiliki persepsi positif terhadap dampak pembangunan pariwisata. Perbedaan signifikan dijumpai bahwa  masyarakat setempat menilai pariwisata berkontribusi terutama pada aspek sosial, sedangkan pegawai Pemda menilai bahwa pariwisata berkontribusi pada aspek lingkungan juga sosial.Kata kunci: dampak pembangunan pariwisata, persepsi, masyarakat setempat, pegawai pemerintah Daerah
Social-Economics Integration of Dualistic Settlement Environment at Urban Areas in Indonesia (Case Study in Yogyakarta City) Baiquni, Muhammad
Forum Geografi Vol 14, No 1 (2000)
Publisher : Forum Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dualistic pattern of settlement is a new phenomena in some areas of Indonesian cities. Such phenomena may reate increasing tensions which lead to emerging potential onflicts among different groups. In managing such potential conflicts, it is important to study many aspects of dualistic settlements, not only in term of physical spatial pattern but also socio-economic pattern in various strate as well as various location in the urban and it surround. This research is aimed at understanding the characteristic and process of emerging dualistic sttlements in Indonesia, further this research attempt to study the pattern and the forms of socio-economic integration of the community. The research approach is aimed at understanding the characteristic and process of emerging dualistic settlement in Indonesia, futher this research attempt to study the pettern and the form of socio-economic integration of the community.
PEMAHAMAN BUDAYA MARITIM MASYARAKAT PANTAI DEPOK KABUPATEN BANTUL Chairunnisa, Indira; Rijanta, R; Baiquni, Muhammad
Media Komunikasi Geografi Vol 20, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v20i2.21216

Abstract

Kabupaten Bantul memiliki panjang garis pantai mencapai 17 km. Potensi perikanan yang ada di Pantai Depok tidak didukung kondisi geografi Pantai Selatan, sehingga pemanfaatan sumberdaya pesisir belum optimal. Mindset agraris yang mendarah daging dalam masyarakat juga menjadi salah satu faktor lemahnya pemanfaatan potensi laut khususnya perikanan tangkap, hal tersebut terbukti terjadi penurunan jumlah nelayan di Pantai Depok pada tahun 2018. Oleh karena itu pada penelitian ini mengeksplorasi pemahaman budaya maritim yang ada di Pantai Depok. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui indepth interview kepada masyarakat, pemerintah dan akademisi. Teori budaya maritim yang ditemukan di Pantai Depok merupakan suatu bentuk hasil interaksi masyarakat dengan laut yang didalamnya terdapat aktivitas yang mengarah kepada ekonomi pesisir, tradisi, strategi penghidupan dan kohesi sosial yang sudah memanfaatkan beberapa teknologi dengan dukungan dari institusi. Aktivitas budaya maritim yang telah terbentuk tidak terlepas dari waktu lampau atau sejarah masa lalu yang akan terus menerus berkembang seiring berjalannya waktu. Proses budaya maritim yang terus berjalan juga tidak luput dari beberapa hambatan yang dihadapi masyarakat yaitu kondisi fisik alamiah Pantai Depok yang tidak menguntungkan dan keterbatasan regenerasi nelayan.Kata kunci : Pemahaman Masyarakat; Budaya Maritim; Pantai Depok
Peran Masyarakat dan Pemerintah dalam Pengelolaan Air Limbah Domestik di Wilayah Ternate Tengah Umar, Muhammad Agus; Baiquni, Muhammad; Ritohardoyo, Su
Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.337 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13360

Abstract

ABSTRAK Air limbah domestik merupakan cairan buangan dari rumah tangga, maupun tempat-tempat umum lain yang mengandung bahan–bahan yang dapat membahayakan kehidupan makhluk hidup serta mengganggu kelestarian lingkungan. Pegelolaan awal terhadap air limbah yang dilakukan sebelum dibuang ke lingkungan merupakan suatu tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengkaji tentang  peran pemerintah dan sistem pengelolaan air limbah domestik yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Ternate, 2) Mengkaji peran masyarakat dalam  pengelolaan air limbah domestik, 3) Mengkaji faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pengelolaan air limbah domestik, 4) Menyusun alternatif strategi yang dapat dijadikan solusi dalam pengelolaan air limbah domestik di Kota Ternate. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dan pengamatan langsung di lapangan. Penelitain ini dilakukan di beberapa lokasi di wilayah Kecamatan Ternate Tengah, yaitu Kelurahan Maliaro, Kelurahan Stadion, Kelurahan Gamalama dan Kelurahan Makassar Timur. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik proportional random sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif menggunakan tabulasi silang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa sistem pengelolaan air limbah domestik yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah saat ini yaitu mengalirkan air limbah domestik melalui jaringan drainase dengan memanfaatkan kemiringan lereng daerah setempat dan akhirnya dibuang ke badan air terdekat. Tingkat peran pemerintah dalam mengelola air limbah domestik tergolong rendah. Tingkat peran masyarakat dalam pengelolaan air limbah domestik untuk jenis balck water  tergolong tinggi, namun air limbah jenis grey water tergolong rendah. Faktor-faktor yang menjadi kendala di antaranya yaitu : 1) Belum adanya lembaga pemerintah yang secara khusus bertugas untuk mengelola air limbah domestik, 2) Pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang dampak air limbah masih rendah,  3) Keterbatasan lahan dan dana, 4) Belum adanya peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan air limbah domestik.  ABSTRACT Domestic wastewater is liquid discharges from households, as well as other public places that contain ingredients that can harm living beings and interfere with environmental sustainability. Pegelolaan beginning of the wastewater is done before discharge to the environment is an act that can be done to preserve the environment. This study aims to: 1) Review of the role of government and a system of domestic waste water management has been done by the government of Ternate, 2) Assessing the role of communities in the management of domestic waste water, 3) Assessing the factors that become obstacles in the management of domestic waste water , 4) Develop an alternative strategy that can be used as a solution in the management of domestic waste water in the city of Ternate. The method used is survey and direct observation in the field. Of the research conducted at several locations in the District of Central Ternate, namely Maliaro Village, Village Stadium, Village Gamalama and Village East Makassar. The sampling is done by proportional random sampling technique. Data was analyzed using descriptive statistical analysis using cross tabulation. Based on the research that has been done, it is known that domestic waste water management system that has been carried out by local governments today is domestic waste water flow through the drainage network by utilizing the slope of the local area and eventually discharged into the nearest water body. The level of governments role in managing domestic waste water is low. The level of the communitys role in the management of domestic waste water to the type of balck water is high, but the types of gray water waste water is low. Factors that constrain among them are: 1) The absence of a government agency specifically tasked with managing domestic waste water, 2) understanding and awareness of the impact of waste water is low, 3) Limited land and funds, 4) Absence regional regulations governing the management of domestic waste water.
Pengelolaan Sumberdaya Air untuk Pengembangan Pariwisata di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Sinulingga, Roland; Baiquni, Muhammad; Purnama, Setyawan
Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): September 2015
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3233.524 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13120

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk (a) menganalisis kondisi ketersediaan air di Pulau Pari, (b) menganalisis kondisi kualitas air di Pulau Pari, (c) menganalisis kebutuhan air dan proyeksinya untuk masa yang akan datang di Pulau Pari, dan (d) merumuskan strategi pengelolaan sumberdaya air untuk pariwisata di Pulau Pari. Metode penelitian terdiri atas perhitungan neraca air, kebutuhan air, metode geometrik, analisis deskriptif, dan analisis SWOT. Pengambilan sampel air dan penduduk menggunakan metode purposive, sedangkan sampel wisatawan menggunakan metode accidental random sampling. Hasil akhir penelitian ketersediaan airtanah di Pulau Pari sebesar 290000,48 m3/tahun. Kualitas airtanah di lokasi penelitian tergolong baik. Besarnya kebutuhan air tahun 2013 sebesar 46381,947 m3/tahun. Pada tahun 2018 menjadi 54443,953 m3/tahun dan pada tahun 2023 mengalami peningkatan menjadi 63548,472 m3/tahun. Prioritas utama strategi pengelolaan sumberdaya air untuk pariwisata yaitu membuat kebijakan pembatasan pengunjung agar kelestarian pulau dan sumberdaya air tetap terjaga. ABSTRACT This study aims to (a) analyze water availability conditions in Pari Island, (b) analyze the water quality conditions in Pari Island, (c) analyze water demand and water projections for the future in Pari Island, and (d) formulate strategies management water resources for tourism in Pari Island. The research method consists of the calculation of the water balance, water requirements, geometric methods, descriptive analysis, and SWOT analysis. Water sampling and settlement using purposive method, tourist’s samples using accidental random sampling. The final results of The amount of soil water availability in Pari Island of 290000,48 m3 / year. Groundwater quality in the study area are classified as good. The amount of water demand in 2013 amounted to 46381,947 m3 / year. In 2018 became 54443,953 m3 / year and in 2023 increased to 63548,472 m3 / year. First priority water resource management strategy for tourism is make a visitor restriction policies for sustainability of water resources of the island and can make environment maintained.
Kajian Potensi Air Rawa Dan Kearifan Lokal Sebagai Dasar Pengelolaan Air Rawa Yomoth Sebagai Sumber Air Bersih Di Distrik Agats Kabupaten Asmat Provinsi Papua Hamdaningsih, Sri Sapti; Fandeli, Chafid; Baiquni, Muhammad
Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.832 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13336

Abstract

ABSTRAK Ruang  terbuka  hijau  di  sekitar  kawasan  perkotaan  yang  semakin berkurang  akan menyebabkan meningkatkan konsentrasi karbondioksida dan menurunnya konsentrasi oksigen di udara. Agar kondisi tersebut tidak terjadi atau setidaknya dapat terimbangi maka diperlukan luasan ruang terbuka hijau yang cukup agar jum­lah vegetasi penyerap karbon sebanding dengan jumlah zat- zat pencemar udara sehingga kualitas lingkungan tetap terjaga dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah  (1) menganalisis kebutuhan hutan kota di Kota Mataram un­tuk  menjaga  kualitas  lingkungan  sekarang  dan  lima  tahun  mendatang, (2) menganalisis  besarnya  kemampuan  berbagai  jenis  vegetasi  hutan  kota  dalam mengurangi akumulasi karbon di udara dan (3) menyajikan sebaran hutan kota yang dibutuhkan yang disesuaikan dengan konsep tata ruang. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Hutan Kota/Ruang Terbuka Hijau Kota Mataram yang berupa taman kota dan median jalan. Metode penelitian yang  digunakan  adalah  deskriptif  kuantitatif,  sampel  diambil  secara  purposif (purposive sampling) dimana data diambil pada titik -titik tertentu yang dianggap menarik. Pengamatan dilakukan pada petak ukur berukuran 10 x 10 m. Semua jenis  pohon  yang  ma­suk dalam  petak  ukur  dicatat  jenis,  diameter,  tinggi  dan dipangkas salah satu ran­tingnya untuk kemudian dianalisis berat keringnya dalam rangka menghitung biomassa agar diketahui tingkat penyerapan karbonnya. Hasil penelitian ini adalah (1) berdasarkan pertimbangan kebutuhan oksigen pada manusia, ternak dan ken­daraan bermotor,  maka kebutuhan luasan Hutan  Kota/Ruang  Terbuka  Hijau  di  kota  Mataram  pada  tahun  2008  sebesar 3.996,76  Ha,  sedangkan  untuk  li­ma  tahun  mendatang  yaitu  pada  tahun  2013 meningkat  menjadi  4.981,18  Ha,  (2)  luasan  Ruang  Terbuka  Hijau  di  Kota Mataram  saat  ini  ±  61.839,93 m2atau sekitar6,18 Ha sangatlah kurang bila dibandingkan dengan kebutuhan luasan Hutan Kota/Ruang Terbuka Hijau yang didasarkan pada kebutuhan oksigen tersebut dan (3) banyaknya karbon dioksida (CO2)  yang diserap dalam per­satuan luas ton/Ha pada penelitian ini terbesar terdapat pada plot V yaitu se­besar 14,895 ton/Ha dan terendah pada plot VI sebesar 3,771 ton/Ha. Me­ngingat kurangnya luasan Hutan Kota/Ruang Terbuka Hijau yang tersedia, maka diperlukan penambahan luasan dengan pendistribusian lokasi yang disesuaikan dengan pola tata ruang yang ada. ABSTRACT A  decreasing open  green  space  in  urban  areas  will  stimulate  Carbon dioxide’s concentration and on the other hand it will reduce the concentration  of Oxygen in the atmosphere. To prevent this condition or to maintain stability of air quality,  the  total  of  open  green  space  in  urban  areas  should  meet  minimum requirement, thus vegetation will be able to absorb Oxygen in equal amount of pollutants in the air to maintain the environmental quality. Research objectives are (1) to analyze the optimal requirement of urban forest in Mataram city in order to maintain the current and the next five years of environmental quality  (2). to analyze  the  capacity of  varied  urban  forest’s  vegetations in reducing  the accumulation of CO2  in the air. (3) to present   the proportion of urban forest in line with the spatial planning concept. Research was conducted around open green space in Mataram city which include city park  and  road median. Research method used is descriptive qualitative. Sample is determined  purposively  in  which  data collected  from interested and selected points. Observation was conducted on plot 10 x 10 m. All vegetation within plot areas was identified in terms of species, diameter, height and then cut of the branch to analyze the dry matter (biomass) and to identify the degree of the carbon sequestration. The research presents (1).based on minimum need of human, cattle and vehicles on the availability of Oxygen in the air, the requirement of open green space in Mataram for 2008 is about 3.996, 76 ha, while for the next five years (2013) increase about 4.981,16 ha. (2) the total of open green space in Mataram is 61.839,93 ha or about 6,18 ha in which  this figure is under minimum requirement compared  to the need of open green space based on the need of oxygen  (3) plot V shows the highest absortion of Carbon dioxide per ton/ ha (14,895 ton.ha) while plot VI presents the lowest (3,772 ton.ha). Considering the total of open green space is still under minimum requirement, it is recommended to increase the areas of urban green forest which incorporated city spatial planning.