Articles

APLIKASI PUPUK SP-36 DAN EKSTRAK PELARUT FOSFAT UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI JAGUNG LOKAL PULUT Edy, Edy; Alam, Taufan; Bakhtiar, Bakhtiar
Vegetalika Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.143 KB) | DOI: 10.22146/veg.45428

Abstract

Impor beras setiap tahun semakin meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan diversifikasi pangan pokok yang setara beras yaitu mengembangkan produk beras jagung pulen. Tujuan  penelitian adalah meningkatkan produksi jagung pulut dan efisiensi pemupukan fosfat. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dan diulang sebanyak tiga ulangan. Faktor I adalah aplikasi ekstrak pelarut fosfat (EPF) yang bersumber dari bonggol pisang yang terdiri atas 0 dan 10 liter.ha-1. Faktor kedua adalah pemupukan SP-36 yaitu 0, 50, 100 dan 150 kg.ha-1. Analisis data menggunakan ANOVA ? = 5% dan dilanjutkan uji DMRT ? = 5%. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi EPF dan 50 kg.ha-1 SP-36 meningkatkan panjang dan diameter tongkol, dan produksi biji kering per hektar serta efisiensi pemupukan P.
MANIFESTASI KLINIS, PEMERIKSAAN PENUNJANG, DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA CROUP PADA ANAK Bakhtiar, Bakhtiar
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Croup merupakan penyakit dengan kelainan pada saluran pernafasan bagian atas, dengan manifestasi klinis berupa sesak nafas, suara serak, batuk menggonggong, stridor inspirator yang kadang disertai dengan distres pernafasan.  Penyempitan di area subglotis menyebabkan  terjadinya turbulensi aliran udara dan timbul stridor yang disertai dengan nafas cepat dan dalam. Beberapa pemeriksaan penunjang diperlukan untuk diagnosis croup, yaitu pemeriksaan pencitraan terdiri dari rongent dan Computed Tomografi Scan (CT-Scan) leher. Pada kasus tertentu diperlukan pemeriksaan laringoskop atau bronkhoskopi. Tatalaksana croup sangat bergantung pada keparahan penyakit. Namun, tindakan utama yang perlu dilakukan adalah mengatasi obstruksi saluran pernafasan, sehingga kebutuhan oksigen tetap terpenuhi.   Beberapa tindakan yang dapat dilakukan adalah pemberian oksigen, nebulisasi epinefrin, kortikosteroid. Jika semua terapi tidak memberi respon yang baik, maka intubasi endotrakheal atau trakheaostomi menjadi salah satu pilihan dalam tatalaksan croup. (JKS 2016; 3: 185-190) Kata Kunci: Croup, manifestasi klinis, rongent leher, epinefrin Abstract. Croup is a disease occurs in upper airways that clinically manifests dyspnea, dysfonia, whooping cough, inspiratory stridor and sometimes accompanied by respiratory distress. Narrowing in subglottis area results in airflow turbulence and stridor followed by rapid and deep breath. Several additional examinatios are neeeded to diagnose croup, that is imaging such as cervical Roentgen and neck Computed Tomography Scan (CT Scan). In certain cases, laryngoscopy and bronchoscopy are required. Croup treatment very much depends on its severity. But the most important thing is to overcome airway obstruction so that the oxygen demand is fullfilled. Several care to deliver including giving the oxygen, epinephrin nebulisation and corticosteroids. when all the therapies stated do not response apropriately, then endotracheal intubation or tracheostomy is an option. (JKS 2016; 3: 185-190) Key words: Croup, clinical manifestations, rongent of  neck,  epinephrine
ASPEK KLINIS DAN TATALAKSANA GAGAL NAFAS AKUT PADA ANAK Bakhtiar, Bakhtiar
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Gagal nafas merupakan kondisi ketidakmampuan sistem respirasi untuk memasuk oksigen yang cukup dan membuang karbodioksida, yang disebakan oleh kelainan sistem pernafasan dan sistem lainnya, termasuk gangguan sistem saraf.  Keadaan ini menyebabkan terjadinya hipoksemia, hiperkapnia atau kombinasi keduanya. Berdasarkan tekanan parsial karbondioksida arteri (PaCO2), gagal nafas dibagi menjadi 2 tipe, yaitu tipe I dan tipe II.  Baik pada tipe I maupun II, tekanan parsial oksigen arteri (PaO2) yang rendah. Sebaliknya, PaCO2 yang normal atau rendah pada tipe I dan meningkat pada tipe II.  Gagal napas diawali oleh stadium kompensasi  berupa peningkatan upaya  nafas. Selanjutnya terjadi dekompensasi yang ditandai dengan menurunnya upaya nafas. Diagnosis gagal nafas akut ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan  fisik dan penunjang, termasuk pulse oksimetri dan analisa gas darah.  Tatalaksana gagal nafas terdiri dari tatalaksana darurat dan tindakan lanjutan. Dalam tatalaksana darurat dilakukan tidakan membuka jalan nafas dan pemberian oksigen. Dalam tatalaksana lanjutan, dilakukan stabilisasi dan mencegah perburukan, dengan  melanjutkan pemberian oksigen dan tatalaksana ventilasi, stabilisasi sirkulasi dan terapi penyakit primer. Abstract. Respiratory failure is the inability of the respiratory system to supplay sufficient oxygen and dispose carbon dioxide, which is caused by abnormalities of the respiratory system and others, including disorders of the nervous system. This situation leads to hypoxemia , hypercapnia , or a combination of both . Based on  the arterial partial pressure of carbon dioxide (PaCO2), respiratory failure were divided into 2 types: type I and type II . Both the type I and II , the arterial partial pressure of oxygen (PaO2) is low . In contrast, PaCO2 is normal or low in type I and incresed in type II. Respiratory failure is started by a compensation stage characterized by increasing work of breathing. Furthermore, it continued by decompensation stage characterized by decreasing work of breathing. The diagnosis of acute respiratory failure is established based on history, physical examination and supported examination, including pulse oximetry and blood gas analysis. Management of respiratory failure consists of the management of the emergency and follow-up. In emergency management, the primary action are airway opening and oxigen delivery. Tthe continued treatment are made stabilization and prevent deterioration, with continued oxygen administration and management of ventilation, circulation and stabilization treatment of primary disease.
PENDEKATAN DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA BRONKHIOLITIS PADA BAYI DAN ANAK Bakhtiar, Bakhtiar
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bronkiolitis  merupakan  penyakit  infeksi  saluran pernafasan  bawah akut dengan mekanisme terjadinya inflamasi pada bronkiolus, yang ditandai gambaran klinis berupa batuk, sesak nafas, whezing, distres pernafasan and usaha nafas saat ekspirasi.  Penyebab tersering dari bronkhiolitis adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV).   Diagnosis bronkhiolitis  ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan  fisis,  pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan  penunjang  Jainnya.   Tatalaksna  bronkhiolitis dilakukan dengan   eliminasi mikroorganisme penyebab, pemberian  korti.kosteroid sebagai  antiinflamasi, bronkhodilator, dan tindakan supportif seperti pemberian oksigen, cairan intravena,  dan nutrisi yang cukup. Pencegahan dilakukan dengan pemberian imunoglobulin dan vaksinasi. (JKS 2009; J:131-138) Kata kuoci:  Bronkhiolitis,RSV,  korticosteroid,bronkhodilator,vaccinasi. ABSTRACT. Bronchiolitis  is an acute lower respiratory infection disesase with mechanism  of inflammation in bronchiolus, which characterized by clinical  appearance are cough, dypsnea, wheezing, respiratory distres, and respiratoy effort in expiration.  The most common cause of bronchiolitis is Respiratory Syncytial virus (RSV). The diagnosis of bronchiolitis is based  on anamnesis, physical examination, laboratory, and other additional supportive examination. The managementof bronchiolitis is done by eliminating the ethiological microrgan.ism, administration of  corticosteroid as an antiintlammation,   bronchodilator, and supportive treatment such as administration of   oxigen,  intravenous   fluid,  and adequate nutrition.    The prevention  can be done by administrationofimunoglobulin dan vaccination. (JKS2009; J: 131-138) Keyword: Bronchiolitis,RSV, corticosteroid,bronchodilator,vaccination.
PENDEKATAN DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PADA ANAK DI SARANA PELAYANAN KESEHATAN DENGAN FASILITAS TERBATAS Bakhtiar, Bakhtiar
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Tuberkulosis pada anak masih merupakan penyakit dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi.  Hal ini diperkirakan berkaitan dengan kesulitan dalam menegakkan diagnosis, terutama diagnosis pasti, yaitu ditemukannya M. Tuberculosis dari spesimen penderita. Kemajuan teknologi diagnostik memang telah berkembang pesat, namum  hanya bisa dilakukan di pusat pelayanan kesehatan yang  lengkap. Untuk mengatasi  permasalahan ini, terutama di sarana pelayanan kesehatan dengan fasilitas  terbatas, dapat diterapkan suatu sistem  skoring. Dalam penerapannya, sistem skoring ini terdiri dari 8 parameter, yaitu: adanya kontak dengan penderita TB dewasa, uji tuberkulin, keadaan gizi, demam � 2 minggu, batuk lebih dari 3 minggu, pembesaran kelenjar linfe, pembengkakan tulang/sendi, dan foto toraks. Nilai skor masing-masing berkisar 0-3. Dengan sistem skoring ini, diagnois TB pada anak ditegakkan bila jumlah skor � 6.  Sistim skoring merupakan pendekatan diagnosis TB pada anak secara umum. Untuk diagnosis spesifik berdasarkan organ yang terlibat dibutuhkan analisis gambaran klinis yang spesifik dari organ tersebut dan pemeriksaan penunjang yang spesifik (JKS 2016; 2: 122-128) Kata Kunci: Tuberkulosis, sistem skoring, pendekatan diagnosis. Abstract. Tuberculosis in children is still a disease with high morbidity and mortality rate.  It is estimated that relates to the difficulty in establishing the diagnosis, especially a definite diagnosis, namely the discovery of M. tuberculosis from the patient specimen. Advances in technology diagnostic indeed been growing rapidly, but can only be done at the center complete health. To solve this problem, especially for services in health facilities with limited facilities, can be applied to a scoring system. In practice, the system of scoring is comprised of eight parameters: their contact with adult patients, tuberculin test, nutritional state, fever more than two weeks, the cough of more than three weeks, enlarged lymph nodes, swelling of bones and joints, and chest x-ray. The score of the eight parameters ranging from 0-3. With this scoring system, the diagnosis of TB in children is established when the total score is more than 6. Scoring System is an approach to diagnosing TB in children generally. For specific diagnosis based on the organs involved in the analysis required specific clinical features of these organs and specific investigations. (JKS 2016; 2: 122-128) Keywords: Tuberculosis, scoring system , diagnosis approach.
EFFECT OF ORGANIC MATTERS AND WATER STRESS ON PERFORMANCE OF RICE IN VEGETATIVE PHASE Ichsan, Cut Nur; Nurahmi, Erida; Rochmad, Oktrya; Bakhtiar, Bakhtiar; Efendi, Efendi; Sabaruddin, Sabaruddin
Proceedings of The Annual International Conference, Syiah Kuala University - Life Sciences & Engineering Chapter Vol 5, No 2 (2015): Life Sciences
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Drought become a major limiting factor in world cereal production. Various methods are used to solve this problem such as irrigation management by managing the soil moisture effectively for the  plants  to  grow  normally.  Another  way  to  improve  the  water  holding  capacity  with  the addition  of  organic  matter  in  soil.  Another  way  by  planting  drought  tolerant  rice  varieties. Drought-tolerant  rice  varieties  like  Inpago  8  with  various  doses  of  organic  matter  and  water stress at vegetative phase treatment done  to analyze  the  change of rice plant performance at the  vegetative  phase  of  the  rice  crop  due  to  drought  and  organic  matter  dose.    At  very  low water  content,  which  happened  repeatedly  during  the  vegetative  phase  causes  the  change  in root growth, plant height, length and width of rice leaf significantly
KARAKTERISASI PLASMA NUTFAH PADI LOKAL ACEH UNTUK PERAKITAN VARIETAS ADAPTIF PADA TANAH MASAM Bakhtiar, Bakhtiar; Kesumawati, Elly; Hidayat, Taufan; Rahmawati, Marai
Jurnal Agrista Vol 15, No 3 (2011): Volume 15 Nomor 3 Desember 2011
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi sifat agro-morfologi dan mengidentifikasi plasma nutfah padi local Aceh yang dapat beradaptasi baik pada tanah masam. Jumlah aksesi yang dievaluasi adalah 33 aksesi. Tinggi bibit pada umur 15 Hari Setelah Tanam dari varietas yang dievaluasi berkisar dari 20-40 cm. Jumlah anakan pada fase bibit berkisar antara 1 sampai 6 anakan. Tanaman terpendek yang mempunyai tinggi 90 cm adalah Kuku Balam 1 dan Tuwoti, sedangkan tanaman yang berbatang tinggi adalah Rangan dan Dupa, masing-masing secara berturut-turut mencapai 156 dan 151 cm. Warna pangkal batang umumnya hijau dan berwarna ungu serta ungu bergaris, varietas yang memiliki pangkal batang ungu adalah Cirata, Sirias, Ramos, Tition, sedangkan yang ungu bergaris adalah Cantek Puteh. Hasil uji toleransi plasma nutfah padi Aceh pada tanah masam diperoleh 9 aksesi varietas local Aceh toleran (skor 1-3). Varietas tersebut adalah Sikuneng, Leukat Jeurejak, Sambei, Bo Santeut, Leukat Adang, Itam Tangke, Pade Kapai, dan Lekat Panah. Varietas yang tergolong peka adalah Kuku Balam 1, Kuku Balam 2, Sigudang, Situ Bagendit, Cirata, Rasi Putih, Bo Padang, Danau Gaung, Limboti, Kepala Gajah Kinco, Pineung, Bo Rayek, Sirias, dan Ramos Tition.Characterization of Aceh Rice Germplasm for Developing Adapted Variety in Acid SoilsABSTRACT. The aims of this work were to make a morpho-agronomic characterization and to identify of the Aceh rice germplasm with a good adapted in acid soils. The total accession rice for evaluation were 33 varieties. The higher of seedling for evaluation were approximately 20-40 cm after 15 days planting. The number of tiller were 1-6 tillers. Kuku Balam-1 and Towoti variety showed 90 cm short plants, whereas Rangan and Dupa variety tallest which have been 156 and 151 respectively. Generally, the color of starting point was green, purple or purple with lines. The purple starting point were Cirata, Sirias, and Ramos Tition. Cantek Puteh variety was purple?s lines variety. The Aceh rice germplasm showed that 9 variety were tolerant to acid soils (skor 1-3). That variety were Sikuneng, Leukat Jeureujak, Sambei, Bo Santeut, Leukat Adang, Itam Tangke, Pade Kapai, and Leukat Panah. The sensitive variety were Kuku Balam-1, Kuku Balam-2, Sigudang, Situ Bagendit, Cirata, Rasi Putih, Bo Padang, Danau Gaung, Lomboto, Kepala Gajah Kinco, Pineung, Bo Rayek, Sirias, and Ramos Tition.
Uji daya gabung tiga galur mandul jantan dengan sepuluh galur kandidat restorer pada tanaman padi (Oryza sativa L.) Aisah, Siti; Hayati, Erita; Bakhtiar, Bakhtiar
-
Publisher : Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.796 KB)

Abstract

The purpose of this research was to obtain lines of candidates restorer that has a good combining ability against three plants Cytoplasmic Male Sterile (CMS/A). The research was conducted at the research field at PT. Syngenta Indonesia Cikampek West Java, Jati Sari, Balonggandu village. Crossed design and  analysis arranged by following  line x tester desing. Ten hybrid line restorer fertility and three line CMS planted the field using randomized complete block design with  2 replications, treatment consisting of 43 treatment so getting 86 unit experiment with the analysis resources combining ability. This research was the observed against character of high of plants, number of filled grain per clump , number of filled per clump, number of unfilled per clump, weights 1000 grains, number of productive, panicle length, persentase fertiliy panicle. The result showed that all the characters observed having had significant variance of general combining ability (GCA) and specific combining ability (SCA). Expression of the characters above controlled by the action of genes additive or non-aditif.
NIKAH WISATA; PENDEKATAN MAQASHID AL-SYARI’AH Bakhtiar, Bakhtiar
Kafa`ah: Journal of Gender Studies Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/jk.v2i2.56

Abstract

The tour marriage as is done in a certain time basically it seems nothing wrong and there is no terms of harmonious violated from the fulfillment side of harmonious and requirements. However, in terms of the purpose of marriage, the law and maqasid al-syariah contain marriage problem. In addition, there can also be equated with  mutah marriage that is allowed by syii. The type of this marriage is not appropriate with the maqasid al-syariah, not only ashliyah but also tabiiyah. Then the impact could be on the implications of the worst  neglect.Keywords : The tour marriage, maqasid al-Syariah and mudharatCopyright © 2012 by Kafa`ah All right reservedDOI : 10.15548/jk.v2i2.56
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PERUBAHAN TEGANGAN PERMUKAAN TANAH PADA PEMBUMIAN SISTEM GRID-ROD DALAM STRUKTUR TANAH DUA LAPIS (SUATU ANALISA KASUS) Tadjuddin, Tadjuddin; Gaffar, Ahmad; Bakhtiar, Bakhtiar
Jurnal Teknik Mesin SINERGI Tahun ke-11, No. 2 (2013)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin SINERGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor faktor yang menjadi penyebab turun/ rendahnya nilai tegangan permukaan tanah khususnya tegangan sentuh sentuh yang timbul saat terjadi gangguan,Besarnya tegangan sentuh dipengaruhi banyak factor shingga dalam merencanakan sisatem pembumian perlu diketahui faktor yang dominan berpengaruh terhadap tegangan sentuh tersebut. Data-data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh pada P.T PLN khususnya PIKITRING SULMAPA antara lain nilai tahanan jenis tanah, ketebalan lapisan tanah bagian pertama, tegangan kerja sistem yang direncanakan. Kegiatan ini diawali dengan menghitung: Luas Daerah Pembumian, Ukuran Minimum Elektroda Pembumian, Jumlah Minimum Batang Konduktor serta seluruh panjang batang pembumian yang diperlukan untuk selanjutnya hasilnya digunakan menghitung Tegangan Sentuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor faktor yang dominan berpengaruh terhadap rendahnya atau turunnya tegangan sentuh secara berturut turut adalah sbb: i). Perubahan jarak antara konduktor paralel(D). Semakin kecil jarak konduktor parallel maka semakin panjang elektroda grid yang dibutuhkan. Dengan semakin kecilnya nilai tahanan dari konduktor yang paralel tersebut berarti semakin memudahkan jalan arus gangguan ke tanah sehingga tegangan pada permukaan tanah menjadi semakin kecil. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa setiap penambahan 1 meter jarak konduktor paralel (dari 3 meter sampai dengan 12 meter) menyebabkan terjadinya perubaha rata-rata tegangan sentuh sebesar 11,36 %. Untuk ρ1 = 30,4 (Ω.m) dan ρ2 = 11,3 Ω.m ii), Perbandingan tahanan jenis tanah lapisan pertama dan lapisan kedua. Dan iii) kedalaman penanaman elektroda grid. Hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa semakin dalam elektroda tersebut tertanam dalam tanah (dari 0,5 meter sampai dengan kedalaman 1,0 meter) tegangan sentuh semakin kecil. Namun bila kedalaman penanaman elektroda ditambah terus melibihi 1,0 meter ternyata tegangan sentuh menjadi semakin besar. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dalam IEEE, bahwa penanaman elektroda grid akan efektif menurunkan tegangan sentuh hanya sampai pada kedalaman 1,0 meter.