Articles

Found 26 Documents
Search

CORPORATE REBRANDING FRAMEWORK OLEH CGV CINEMAS Khairunnisa, Silka; Hafiar, Hanny; Bakti, Iriana
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.12249

Abstract

Abstract. The purpose of research are to determine the stages of analysis, planning and eval-uation of corporate rebranding framework of CGV Blitz to be CGV Cinemas. This research uses descriptive method with qualitative data type. Data collection method used in this research is in-terview, observation, and literature study.The results of this research showed that CGV Cinemas has been rebranding but in reality there are still many stakeholders from CGV Cinemas that tar-geted for rebranding that still not aware of the rebranding of CGV Blitz to CGV Cinemas by doing three stages of analysis, planning and evaluation. In this study concluded that at the analysis stage, planning and evaluation, communication campaign that CGV Cinemas do to internal cus-tomer has not been able to optimally because there?s still employee that did not undetstand with CGV Cinemas concept and still miscalled the old brand.At the evaluation stage, CGV Cinemas are not doing an evaluation after communication campaign and only doing an evaluation at the time of execution of socialization in the form of question and answers and CGV Cinemas are doing evaluation in focus group discussion to some customers but those evaluation was evaluation non formal and not spread and did not have a structured results that?s why those evaluation could not be used as a measure of success while doing or after doing a rebranding to customers Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tahapan analisis, perencanaan dan evaluasi corporate rebranding framework CGV Blitz menjadi CGV Cinemas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis data kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CGV Cinemas sudah melakukan rebranding namun pada ken-yataannya masih banyak stakeholders dari CGV Cinemas yang menjadi target untuk rebranding yang masih tidak mengetahui adanya rebranding CGV Blitz menjadi CGV Cinemas dengan melakukan tiga tahapan yaitu tahapan analisis, perencanaan dan evaluasi. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa pada tahap analisis, perencanaan dan evaluasi, communication campaign yang CGV Cinemas lakukan ke internal customer masih belum optimal dikarenakan, masih ada karya-wan yang belum paham dengan konsep CGV Cinemas dan masih salah menyebut merek lamanya dan CGV Cinemas tidak mengadakan evaluasi sesudah mengadakan kampanye komunikasi dan hanya melakukan evaluasi pada saat pelaksanaaan sosialisasi dalam bentuk tanya jawab dan CGV Cinemas melakukan evaluasi focus group discussion ke beberapa customer namun evaluasi terse-but merupakan evaluasi non formal dan tidak menyeluruh serta tidak mempunyai hasil yang ter-struktur maka dari itu evaluasi tersebut tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan saat melakukan maupun sesudah melakukan rebranding terhadap customer.
KOMUNIKASI INTERNAL DALAM MEMBANGUN KOHESIVITAS KELOMPOK PEGIAT WISATA DI KABUPATEN PANGANDARAN Bakti, Iriana
Sosiohumaniora Vol 22, No 1 (2020): SOSIOHUMANIORA, MARET 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v22i1.21144

Abstract

Perkembangan komunikasi internal dalam suatu organisasi menjadi sangat penting terutama dalam membangun kerjasama kelompok. Salah satu komunitas yang fokus mengembangkan aspek pariwisata di Pangandaran yaitu Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar). Komunitas ini memiliki potensi yang cukup besara dalam melakukan koordinasi dan kerjasama untuk mewujudkan visi Pangandaran sebagai destinasi wisata dunia karena memiliki latarbelakang profesi anggotanya yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan aktivitas komunikasi internal kompepar dalam mengembangkan objek wisata berbasis alam dan kearifan lokal di Kabupaten Pangandaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskrtiptif dengan sifat data kuantitatif berdasarkan pada teknik pengumpulan data melalui observasi dan kuesioner yang dibagikan kepada responden secara acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas komunikasi internal dalam bentuk pertemuan rutin diantara anggota kompepar cukup tinggi untuk berbagi informasi dalam upaya meningkatkan pengetahuan, menjalin relasi, dan membangun kesadaran bagi para pengelola pelaku usaha pariwisata agar berpartisipasi aktif dalam kegiatan kepariwisataaan di Kabupaten Pangandaran. Sedangkan aspek kohesivitas di kalangan anggota kompepar di Kabupaten Pangandaran dapat dikategorikan tinggi dalam membangun kesamaan pandangan, meningkatkan wawasan, membagi tugas, dan melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan kelompok.
KINERJA HUBUNGAN MASYARAKAT PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN DAN KOTA DI JAWA BARAT Rahmat, Agus; Bakti, Iriana
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.067 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v4i2.8612

Abstract

Kebutuhan pemerintah Indonesia atas Humas pemerintah tidak lagi dalam tataran wacana atau sekedar konsep secara keIlmuan, keberadaan Humas pemerintah didorong atas kebutuhan pemerintah untuk menjelaskan apa yang dilakukan oleh pemerintah kepada ,asyarakat guna memperoleh dukungan dan untuk menerangkan apa dan bagaimana yang dilakukan pemerintah sehingga lingkungan masyarakat dalam dan masyarakat luar percaya. sudah sejak lama pemerintah di Indonesia termasuk pemerintah daerah memiliki Humas pemerintah, bahkan khusus di lingkungan pemerintah, profesi ini tergabung dalam wadah BakoHumas. Fakta yang ada dan berkembang mengisyaratkan sekaligus mempertanyakan mengenai kinerja Humas Pemerintah selama ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsi kinerja Humas pemerintah khususnya Humas Pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Barat. Untuk mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket. Temuan dari penelitian ini memperlihatkan bahwa: pertama, kinerja Humas pemerintah lebih banyak menerimaan teguran dibanding pujian/penghargaan atas hasil kerja; kedua, pegawai di bagian Humas pemerintah sangat sedikit yang berlatar belakang pendidikan formal komunikasi, terlebih lulusan keHumasan selain itu pegawai juga jarang mendapat pendidikan non formal bidang keHumasan; ketiga, aktivitas Humas pemerintah lebih tertumpu pada kegiatan rutin berupa penyediaan informasi bagi media. Konsekuens dari temuan penelitian ini adalah perlunya pengembangan kompetensi pegawai Humas pemerintah melalui linieritas bidang kerja dan pendidikan bagi pegawai baru dan pelatihan bidang keHumasan bagi petugas yang sudah ada.DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.2
PENGGUNAAN INSTAGRAM OLEH BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH UNTUK MENGOPTIMALKAN DESTINATION BRANDING PANGANDARAN Subekti, Priyo; Hafiar, Hanny; Bakti, Iriana
PRofesi Humas Vol 4, No 2 (2020): PRofesi Humas Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 10/E/KPT/2019
Publisher : LP3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/prh.v4i2.23545

Abstract

Perkembangan media sosial yang semakin pesat dan bertambahnya pengguna yang semakin banyak menjadikan media sosial menjadi salah satu sumber rujukan informasi oleh sebagian banyak masyarakat. Media sosial telah menciptakan sebuah pola baru dalam berkomunikasi dan berpartisipasi sosial, hal ini dapat dilihat dari banyaknya keterlibatan para pengguna dalam sebuah forum komunikasi atau platform media sosial. Saat ini banyak lembaga pemerintah, swasta dan organisasi masyarakat yang memanfaatkan media sosial menjadi salah satu media informasi untuk menjangkau masyarakat. BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Pangandaran memanfaatkan media sosial melalui akun instagram @pudalopspangandaran untuk memberitakan informasi mengenai kebencanaan, dan kegiatan yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Pangandaran untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kebencanaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data kualitatif. Analisis yang digunakan dalam meneliti penggunaan Instagram oleh BPBD Kab. Pangandaran adalah konsep The Circular Model of Some dari Regina Luttrell yang terdiri dari membagikan (Share), mengoptimalkan (Optimize), mengelola (Manage), dan melibatkan (Engage). Tingginya potensi bencana di Pangandaran menjadi salah satu latar belakang perlunya meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebencanaan. BPBD Kabupaten Pangandaran memanfaatkan instagram melalui akun @pusdalopspangandaran sebagai media informasi mengenai kebencanaan kepada masyarakat luas. Pengelolaan media sosial yang dilakukan oleh BPBD sudah cukup efektif menjangkau masyarakat khususnya masyarakat pangandaran, namun terkendala dengan kurangnya sumber daya manusia yang dapat mengelola media sosial agar tetap update.
ANALISIS FAKTOR PERSONAL PADA SUMBER KOMUNIKASI DALAM PENGELOLAAN TANAMAN OBAT KELUARGA DI JAWA BARAT Bakti, Iriana; Dewi, Evie Ariadne Shinta; Romli, Rosnandar; Budiana, Heru Ryanto
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.906 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v3i2.7403

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada upaya pemerintah melakukan penyebarluasan informasi tentang tanaman obat melalui saluran interpersonal dengan tujuan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam pengelolaan tanaman obat. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui faktor: biologis, sosiopsikologis, dan sosiogenis yang melekat pada diri narasumber (komunikator). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang menggambarkan masalah berdasarkan sifat data kualitatif sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata narasumber (komunikator) memiliki posisi penting sebagai salah satu komponen komunikasi yang dapat membangun efektivitas komunikasi interpersonal dengan anggota masyarakat. Pentingnya keberadaan narasumber ini dapat dilihat dari faktor biologis yang meliputi alasan mengelola toga karena sesuai dengan latar belakang pendidikan, dan tugas pokok dan fungsi pekerjaan yang digelutinya. Adapun dilihat dari faktor sosiopsikologis, narasumber menyatakan toga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pertolongan pertama terhadap masalah kesehatan, bisa menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat, menjadikan pekarangan rumah indah, mengurangi biaya pengeluaran keluarga untuk obat, dan bisa dibuat makanan olahan, misalnya kripik bayem. Sedangkan faktor sosiogenis menanam toga bukan pengalaman baru, masyarakat merespon positif, sesuai dengan bidang ilmu, dan menjadi jaminan dalam bertugas. DOI: 10.24198/jkk.vol3n2.4
City Branding Sawahlunto Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya Melalui Event Sawahlunto International Songket Carnival (Sisca) 2016 Fajrini, Nurkhalila; Bakti, Iriana; Novianti, Evi
PRofesi Humas : Jurnal Ilmiah Ilmu Hubungan Masyarakat Vol 2, No 2 (2018): PRofesi Humas
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.683 KB) | DOI: 10.24198/prh.v2i2.12861

Abstract

Songket Silungkang merupakan produk andalan hasil kerajinan masyarakat kota Sawahlunto. Sejarah songket dan sejarah tambang memperkuat city branding Sawahlunto dalam mewujudkan visi “Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya” yang tertuang dalam Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2001 pada event SISCa. Pada SISCa 2016, transformasi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya direalisasikan melalui konsep dan desain penampilan peserta karnaval. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan dan latar belakang penyelenggara menjadikan Sawahlunto International Songket Carnival (SISCa) 2016 dalam city branding Sawahlunto Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, pemahaman penyelenggara terkait SISCa 2016 dan tindakan komunikasi yang dilakukan penyelenggara SISCa 2016 dalam rangka city branding Sawahlunto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teori konstruksi sosial atas realitas dan konsep city branding menjadi landasan dalam membahas hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan penyelenggara menjadikan SISCa 2016 dalam city branding Sawahlunto adalah adanya keterkaitan dampak yang ditimbulkan dari SISCa 2016 tersebut yakni, dampak ekonomi dan dampak pariwisata. Pemahaman penyelenggara SISCa 2016 terkait city branding kota Sawahlunto tertuang dalam Misi SISCa 2016 sebagai bentuk transformasi visi kota dengan mengangkat konsep wisata tambang. Tindakan komunikasi yang dilakukan penyelenggara melalui tiga tahapan komunikasi, yakni (1) komunikasi tahap awal SISCa antara pemerintah dengan pihak internal dan eksternal, (2) komunikasi saat berlangsungnya SISCa 2016 secara verbal dan non verbal, dan (3) komunikasi pasca SISCa 2016 dilakukan untuk menjalin hubungan baik dalam persiapan SISCa selanjutnya. Dengan demikian, penyelenggaraan SISCa 2016 dianggap sebagai salah satu bentuk promosi daerah sebagai perwujudan visi kota Sawahlunto.
KOMUNIKASI PERSUASIF PADA PELAKSANAAN ADVOKASI PUBLIC RELATIONS Rahmi, Fathiya Nur; Hafiar, Hanny; Bakti, Iriana
Jurnal Komunikasi Global Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.255 KB) | DOI: 10.24815/jkg.v8i2.15001

Abstract

AbstractThe awareness of job providers to employ people with disabilities is directly proportional to the participation of persons with disabilities in the formal work sector which is relatively low. Another problem faced by persons with disabilities is a negative stigma attached to them. This research was conducted to find out persuasive communication conducted on the Advocacy of LSM Saujana?s Public Relations, related to elements of communicators, messages, and audiences involved in persuasive communication. The research method used in this research is a case study with qualitative analysis techniques. Data collection techniques used in this study are interviews, observation, and documentation. Researchers conducted data analysis based on Flow Analysis Models. Based on the results, there were stages of persuasive communication undertaken including the preparation of communicators, delivery of messages, the use of online and offline media in delivering messages, the behavioral changes and evaluation. The LSM Saujana used the central route in persuasive communication that was appropriate to support advocacy. The findings suggest the institution focus on messages delivered to the target audience, starting with raising awareness and focusing on behavioral change.
PEMBERDAYAAN PRANATA SOSIAL MELALUI KOMUNIKASI LINGKUNGAN: MENAKAR PELIBATAN PERAN PEREMPUAN DALAM MITIGASI BANJIR CITARUM Bakti, Iriana; Hafiar, Hanny; Budiana, Heru Riyanto; Puspitasari, Lilis
Jurnal Kawistara Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Pascasarjana UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.247 KB) | DOI: 10.22146/kawistara.24313

Abstract

The study is titled implementation of environmental communication based on the social institution in coping with the flood in the Citarum Watershed Upstream. Citarum river pollution and silting are currently in a state of particular caused by forest encroachment in the upstream, land use, household waste, animal husbandry, industry, offices, etc, so when the rainy season caused the occurrence of floods. In addition, these conditions have resulted in water quality being unfit to be utilized, both for drinking water, washing, bathing, irrigation for agriculture and so on. The actuator environment seeks to restore the Citarum Watershed upstream conditions by building public awareness so they may want to change their attitudes and behavior, one of them by not disposing of waste into the river. The selected communities are those that are incorporated in a social institution in the region. The purpose of the research is to find out about the types of institution, the reason for utilizing the institution, and the role of the environment actuator communication in a social institution. The methods used in this research is descriptive with qualitative data to describe the various realities of communication activities related to the environment by leveraging social institution in coping with the disaster of the flood in the area of Citarum Watershed Upstream. Research results showed in the region there are four types of institutions, namely the institution of religious, economic, agricultural and social. Institution related to religious activity is Majlis Talim (the place of informal Islamic teaching and education), institution related to the activity of the economy is an arisan (regular social gathering), institution related to social activity is the PKK (Family Welfare Guidance), and institution related to the agricultural activity is The Association of Farmers Group (Gapoktan). The reason for the environment actuator utilizing social institution are as the entrance (access) to carry out flood mitigation program, already familiar, easy to invited to cooperate and to expand the network. The role of the environment actuator in the institution as a communicator and facilitator in conducting dissemination of information and training of waste utilization to the members of the institutions.
Citra Kampung Adat Cireundeu pada Ritual Suraan Widyaputra, Fauzan Ahdi; Novianti, Evi; Bakti, Iriana
PRofesi Humas Vol 3, No 2 (2019): PRofesi Humas
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.371 KB) | DOI: 10.24198/prh.v3i2.14953

Abstract

Cireundeu merupakan salah satu kampung adat di Jawa Barat  yang sampai saat ini masih memelihara tradisi kearifan lokal berupa ritual Suraan yang diselenggarakan setiap tahun. Melalui tradisi ini,   Cireundeu berusaha  mempertahankan citra sebagai Kampung Adat yang masih mempertahankan tradisi peninggalan jaman dahulu ditengah modernisasi ritual ini pada dasarnya merupakan kegiatan komunikasi yang sarat dengan simbol yang mengandung makna. Studi ini bertujuan untukmenjelaskan tentang aktivitas komunikasi yang dilakukan masyarakat Kampung Adat Cireundeu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan sifat datanya kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan  observasi parsitipasif, wawancara dengan informan yang menjadi pelaku ritual, dan studi kepustakaan yangrelevan dengan masalah yang diteliti.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual upacara Satu Sura ini merupakan manifestasi dari rasa syukur masyarakat adat Cireundeu atas keberkahan yang diberikan Sang Pencipta, dan menjadi alat kontrol dalam tindakan atau pergaulan antar sesama manusia.Perilaku komunikasi yang terlihat  pada aktivitas ritual Suraan initermasuk pada perilaku terbuka, karena semua orang diperkenankan untuk terlibat di alamnya untuk mengekspresikan perasaannya, sehingga  masyarakat Kampung Adat Cireundeu merespon stimulus dalam hal ini rangkaian ritual dengan bentuk tindakan dan praktek (practice), sehingga masyarakat akan melakukan komunikasi sesuai dengan kebutuhannya. Citra yang terbangun pada Kampung Adat Cireundeu adalah kampung yang masih memelihara kearifan lokal di tengah modernisasi.
HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK INDIVIDU PETANI DENGAN KOHESIVITAS KELOMPOK TANI TANAMAN OBAT Bakti, Iriana; Novianti, Evi; Priyatna, Centurion Chandratama; Budiana, Heru Ryanto
PRofesi Humas : Jurnal Ilmiah Ilmu Hubungan Masyarakat Vol 1, No 2 (2017): PRofesi Humas
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.875 KB) | DOI: 10.24198/prh.v1i2.10294

Abstract

Petani merupakan salah satu elemen penting dalam proses pengelolaan tanaman obat di Jawa Barat. Mereka berusaha berinteraksi, baik dengan sesama anggota kelompoknya, maupun dengan kelompok lain, serta dengan para petugas yang membinanya, sehingga dari interaksi tersebut terbangun kohesivitas kelompok di antara mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) hubungan antara jenis kelamin petani dan kohesivitas kelompok tani, 2) hubungan lamanya bertani dengan kohesivitas kelompok tani, dan 3) hubungan antara luas lahan yang dimiliki dan kohesivitas kelompok tani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini survei eksplanatif. Teknik analisis menggunakan korelasional, dan rumus statistik untuk menguji hipotesis adalah rank order Spearmans. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, pedoman wawancara, dan studi kepustakaan. Populasi penelitian ini adalah kelompok tani tanaman obat di Jawa Barat. Teknik sampling yang digunakan adalah multy stage cluster sampling. Sampel penelitian berasal dari Kabupaten Bogor (K. T Lindung harapan dan K. L Tani Mekar), Kabupaten Sukabumi (Gapoktan Kamuningjaya), dan Kabupaten Majalengka (KT Melati, KT Dahlia, dan Cempaka Mukti). Seluruhnya ada 114 anggota. Hasil penelitian ini antara lain: 1) terdapat hubungan antara jenis kelamin petani dengan kohesivitas kelompok tani tanaman obat, 2) terdapat hubungan antara lamanya bertani dengan kohesivitas kelompok tani, dan 3) terdapat hubungan antara luas lahan yang dimiliki dengan kohesivitas kelompok tani. Secara umum karakteristik individu petani memiliki hubungan yang positif dengan kohesivitas kelompok tani. Petani mayoritas wanita pada umumnya memiliki kesamaan pandangan, senang pada kegiatan kelompok, menjadikan pertemuan kelompok sebagai wadah belajar untuk meningkatkan wawasan, pembagian tugas, dan kerja sama. Demikian pula dengan luas lahan yang dimiliki, relatif terbatas, menjadikan anggota kelompok tani tersebut merasa senasib dan tidak terdapat gap kepemilikan tanah, sehingga mereka bisa bekerja sama untuk mengelola tanaman obat disesuaikan dengan lahan yang ada. Lamanya bertani tidak ada hubungannya dengan kohesivitas, karena komoditas yang ditanam bukan komoditas unggulan.