Articles

PERBANDINGAN TINGKAT AUTOLISIS ANTARA OTOT DAN HATI SAPI BALI PADA BEBERAPA PERIODE WAKTU PENGAMATAN Putri, Kristi Agusti; Berata, I Ketut; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tingkat autolisis antara otot dan hati sapi bali pada beberapa periode waktu pengamatan. Spesimen diambil dari otot dan hati sapi bali yang dipotong di rumah pemotongan hewan Kota Denpasar. Spesimen yang diambil sebanyak tujuh potongan hati dan tujuh potongan otot masing-masing dari individu sapi yang berbeda-beda yang dimasukkan ke dalam tabung jaringan yang berisi Neutral buffer formalin (NBF) 10 % pada beberapa periode waktu yaitu pada jam ke-0, 2, 4, 6, 8,10, dan 12. Selanjutnya masing-masing diproses untuk pembuatan preparat histopatologi. Variabel yang diperiksa meliputi indikasi autolisis yaitu : jaringan hiperkromatik sampai hilangnya inti sel. Analisis tingkat autolisis antara otot dan hati dilakukan dengan pengamatan histopatologi jaringan di bawah mikroskop pada pembesaran 1000 kali dengan pengamatan lima lapang pandang. Data hasil penelitian berupa presentase skoring autolisis, dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hati sapi bali dengan nilai rata-rata 15,70%, 22,10%, 29,10%, 55,20%, 74,10%,93% dan 96,45% memiliki tingkat autolisis lebih cepat dibanding otot dengan nilai rata-rata 10%, 14,90%, 19%, 27,90%, 53%, 61% dan 83,70% . Hal ini mungkin terjadi karena hati memiliki jumlah enzim dan pembuluh darah yang lebih banyak dibandingkan otot. Perlu penelitian lebih lanjut tentang tingkat autolisis antara otot dan hati sapi bali yang berasal dari hewan sakit atau mati akibat penyakit infeksius
CEMARAN TIMAH HITAM DALAM DARAH SAPI BALI YANG DIPELIHARA DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR KOTA DENPASAR (BLOOD LEAD CONTAMINATION IN BALI CATTLE REARED IN THE AREA OF FINAL DISPOSAL OF DENPASAR) Berata, I Ketut; Susari, Ni Nyoman Werdi; Kardena, I Made; Ariana, I Nyoman Tirta
Jurnal Veteriner Vol 17 No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali cattle are known for having high adaptability to any environmental condition and have proven tosurvive in critical environments including landfills. The aim of this study was to determine the relationshipbetween Serum Glutamic Pyruvic Transaminase /Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGPT/SGOT) levels and lead (Pb) level in blood of bali cattle reared in the landfill Denpasar. A total of 22Balicattle were used in this study was. The blood was drawn from the jugular vein and 10 ml blood werecollected using tubes containing EDTA 0.5% and 10 mL without EDTA tubes. Levels of SGPT and SGOTwere measured by using Auto analyzer (Refloton (R) plus) method, while the measurement of Pb in bloodplasma was conducted by using atomic absorption spectrophotometry (AAS) method. Result of the SGPTand SGOT measurement obtained were relatively varied with an average of SGPT = 29.96±5.67 U/L andSGOT = 78.82±17.62.U/L. Similarly, Pb measurement results vary widely between 4.004 to 10.216 withan average of 6.595±1.85 ppm. Correlation analysis showed that there was an association between SGOTwith Pb levels. However, no correlation was observed between the SGPT with Pblevels. These resultsindicate that the levels of lead may cause pathological tissue cells in organs other than liver. Its concludedthat heavy metalPb is found in the blood of bali cattle reared in Denpasar city landfill, and it may becorrelated with the level of the SGOT and may cause pathological tissue cells organs.
UMUR SAPI BALI BERPENGARUH PADA RESPON KEKEBALAN SELULER TERHADAP VIRUS PENYAKIT JEMBRANA PASCA VAKSINASI BERATA, I KETUT
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 12 No 3 (2009)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mempelajari umur sapi Bali yang terbaik untuk divaksinasi agar respon kekebalan selulernya optimal terhadap virus penyakit Jembrana. Penelitian ini menggunakan 3 ekor sapi Bali betina yang berumur 7, 9 dan 12 bulan. Masing-masing sapi diadaptasikan 2 minggu dan diberikan obat cacing. Pemberian pakan 3 kali sehari dan air minum secara ad libitum. Vaksinasi dilakukan dengan vaksin JD.Vacc.sp.15 (produksi BBVet Denpasar) pada masing-masing sapi sebanyak 3 ml secara intramuskuler, satu bulan kemudian dilakukan booster dengan dosis dan rute yang sama. Seminggu pasca vaksinasi booster, darah perifernya diambil untuk mengisolasi limfosit dengan teknik picoll-paque gradient. Limfosit dikultur dalam media DMEM tanpa serum untuk selanjutnya dilakukan uji MTT. Uji MTT digunakan untuk menguji respon kekebalan seluler. Mitogen yang digunakan adalah protein virus Jembrana. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan respon kekebalan seluler yang bermakna (p<0,05) antara sapi umur 7 bulan dengan 9 dan 12 bulan. Tidak terdapat perbedaan respon kekebalan seluler yang bermakna (p>0,05) antara sapi umur 9 bulan dengan 12 bulan. Hasil ini menunjukkan bahwa umur sapi 12 bulan merupakan umur tepat mulai diberikan vaksinasi, karena respon kekebalan selulernya optimal. AGE OF BALI CATTLE IS TO INFLUENCE ON THE CELLULAR IMMUNE RESPONSE AGAINST JEMBRANA DISEASE VIRUS POST VACCINATION ABSTRACT The aim of this research is to study the accuratly age of Bali cattle vaccination so that could obtained the optimal cellular immune response against Jembrana virus disease. In this research was used three Bali cattles i.e. 7, 9 and 12 month of age respectively. Each of the cattles were adapted in two weeks and were given the anthelmintic treatment. The feeding was given three times daily and the drinking water ad libitum. The vaccine was inoculated by 3 ml JD.vacc.sp.15 vaccine (BBVet Denpasar production) by intramuscular route respectively. One month after first vaccination, was conducted booster by similarly dose and route respectively. One week after the booster, from the each cattle was taken its peripheral blood cells for to isolated their lymphocytes by picoll-paque gradient method. Each of this lymphocyte cells were cultured in non serum DMEM media for the MTT assay. MTT assay was used for to determine the cellular immune response. The mitogen was used whole protein of Jembrana disease virus. Result of the research showed significantly difference (p<0,05) of cellular immune response among the age 7 month with 9 and 12 month of cattles. There were not significantly difference (p>0,05) of the response between 9 with 12 month of age. This result indicated that the cattle which 9 month of age is the good timing to start the vaccination, because its cellular immune response is optimal.
PCS-7 LEAD DETECTION IN BLOOD AND LIVER OF CATTLE SOLD IN THE TRADITIONAL MARKET OF DENPASAR CITY Berata, I Ketut; Susari, Ni Nyoman Werdi; Sudira, I Wayan; Kardena, I Made
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.253 KB)

Abstract

Lead contamination in many foods is reported to endanger consumers' health. Beef as one of the food of animal origin can be contaminated by lead mainly due to the maintenance of cattle in contaminated areas. Balinese cattle that are kept in urban landfills are reported to be contaminated with high levels of lead in the blood and in other tissues with lower levels [4]. The threat of human health from eating foods that contain leads can cause anemia because leads can substitute iron in hemoglobin [2]. Lead poisoning can also cause malfunction of various organs such as liver, kidney [1], lungs, spleen [7] and brain [9] in the form of cognitive impairment [5]. The high threat due to contamination of leads to health, then the meat health check should also be made on the presence of leads. One of the inspection efforts on the presence of lead contamination in beef, then the place of sale in the traditional market is a good location for sampling examination.
PENGARUH VITAMIN E DAN ETINIL ESTRADIOL TERHADAP HISTOPATOLOGI UTERUS TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) Sandriya, Ardi; Samsuri, Samsuri; Berata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (3) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2018.7.3.243

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa vitamin E dapat memperbaiki struktur histopatologi uterus akibat efek samping etinil estradiol. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih betina yang dibagi dalam lima kelompok perlakuan, yaitu kontrol (-) tidak diberi etinil estradiol maupun vitamin E; kontrol (+) diberikan etinil estradiol dengan dosis 150 mg/kgBB/hari tanpa pemberian vitamin E, P1 diberikan etinil estradiol dengan dosis 150 mg/kgBB/hari dan vitamin E 100 mg/kgBB/hari, P2 diberikan etinil estradiol dengan dosis 150 mg/kgBB/hari dan vitamin E 150 mg/kgBB/hari, dan P3 diberikan etinil estradiol dengan dosis 150 mg/kgBB/hari dan vitamin E 200 mg/kgBB/hari. Perlakuan selama 30 hari, dan pada hari ke 31 seluruh hewan coba dinekropsi. Organ uterus diambil untuk pembuatan preparat histopatologi dengan teknik pewarnaan hematoksilin eosin (HE). Variabel yang diperiksa adalah nekrosis dan proliferasi sel epitel uterus. Hasil penelitian membuktikan pemberian suplementasi vitamin E dosis 150 mg/kgBB/hari mampu menekan proliferasi dan nekrosis sel epitel endometrium uterus tikus putih (Rattus norvegicus) sehingga vitamin E dapat digunakan sebagai antioksidan pada pasien yang sedang menggunakan etinil estradiol.
EKSTRAK ETANOL SARANG SEMUT MENYEBABKAN KERUSAKAN STRUKTUR HISTOLOGI GINJAL MENCIT Manullang, Dini Hilary; Sudira, I Wayan; Berata, I Ketut; Merdana, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 2 Agustus 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2018.v10.i02.p12

Abstract

Analisis kimia menunjukkan bahwa tumbuhan sarang semut (Myrmecodia pendans) memiliki berbagai kandungan senyawa kimia dari golongan flavonoid, tannin, tokoferol, multimineral dan polisakarida. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak etanol sarang semut terhadap gambaran histopatologi ginjal mencit (Mus musculus) jantan. Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit jantan dengan umur 10-12 minggu yang secara klinis dinyatakan sehat dengan berat 25-35 g. Secara acak seluruh mencit dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok perlakuan terdiri atas 6 ekor mencit. Kelompok P0 adalah kelompok kontrol negatif yang diberikan pakan standar dan aquades, P1 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 100 mg/kg BB, P2 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 200 mg/kg BB, P3 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 300 mg/kg BB. Setelah perlakuan selesai pada hari ke-21,  organ ginjal diambil untuk dibuat preparat histologi dan diwarnai dengan metode haematoksilin-eosin. Variabel yang diperiksa adalah perdarahan, degenerasi melemak, dan nekrosis di tubulus proksimal ginjal. Hasil uji Kruskall-Wallis menunjukkan pemberian ekstrak etanol sarang semut berpengaruh nyata (P?0,05) terhadap timbulnya perdarahan pada tubulus ginjal. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 300 mg/kg BB dapat menyebabkan perubahan histopatologi ginjal berupa perdarahan, degenerasi melemak, dan nekrosis.
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN E DAN DEKSAMETASON TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI JANTUNG TIKUS PUTIH JANTAN Pratama, Ayu Prawitasari Citra; Berata, I Ketut; Samsuri, Samsuri; Merdana, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 2 Agustus 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2018.v10.i02.p07

Abstract

Deksametason merupakan glukokortikoid sintetik yang banyak digunakan dalam masyarakat. Penggunaan deksametason dosis besar dalam jangka waktu yang panjang dapat berpengaruh terhadap jantung. Vitamin E merupakan vitamin yang larut dalam lemak dan bertindak sebagai antioksidan yang mampu mengatasi radikal bebas dan stres oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian vitamin E terhadap jantung tikus putih (Rattus norvegicus) akibat pemberian deksametason. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih jantan berumur 2-3 bulan dengan berat 200-300 gram. Tikus dikelompokkan menjadi lima kelompok perlakuan dan lima ulangan. Tikus diadaptasikan selama satu minggu selanjutnya tikus diberikan perlakuan selama 14 hari. Pada kelompok perlakuan P0 sebagai kontrol negatif tidak diberikan perlakuan. Kelompok perlakuan P1, P2, P3 dan P4 diberikan deksametason secara injeksi subkutan dengan dosis 0,13 mg/kg BB. Vitamin E diberikan peroral sebagai berikut: P2 dosis 100 mg/kg BB, P3 dosis 150 mg/kg bb, dan P4 dosis 200 mg/kg BB. Setelah 14 hari tikus dieutanasi, kemudian dinekropsi. Organ jantung diambil dan dimasukkan ke dalam neutral buffered formalin untuk fiksasi, selanjutnya dilakukan proses pembuatan preparat histopatologis dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Parameter yang diamati adalah gambaran peradangan dan nekrosis pada jantung. Hasil pengamatan histopatologi menunjukkan pemberian vitamin E secara peroral dengan dosis 200 mg/kg bb berpengaruh sangat nyata terhadap perbaikan organ jantung tikus putih yang diberikan deksametason dosis 0,13 mg/kg BB. Simpulan dari penelitian ini adalah vitamin E dapat menghambat kerusakan jantung akibat efek samping deksametason.
EFEK PEMBERIAN PROPOLIS TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS PUTIH YANG DIBERI PARASETAMOL Utami, Alviana Rizqiyah; Berata, I Ketut; Samsuri, Samsuri; Merdana, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 9 No. 1 Pebruari 2017
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Parasetamol merupakan salah satu obat antiinflamasi non steroid (AINS) yang berperan sebagai agen analgesik dan antipiretik, namun memiliki aktivitas antiinflamasi yang lemah. Parasetamol memiliki efek toksik terhadap hepar yaitu kerusakan pada hepar. Sebagai upaya untuk mencegah efek toksik dari parasetamol, diperlukan pemberian zat antioksidan yang dapat melindungi sel-sel hepar terhadap kerusakan yang disebabkan oleh parasetamol. Antioksidan tinggi terdapat pada propolis yang banyak digunakan pada saat ini. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) yang dibagi atas 5 kelompok perlakuan. Setiap kelompok perlakuan diberikan pakan dan minum standar. Perlakuan 1 (kontrol negatif) diberi pakan dan minum standar, kelompok perlakuan 2 (kontrol positif) diberikan parasetamol 250 mg/kgBB peroral, kelompok perlakuan 3 (Pp1) diberi parasetamol 250 mg/kgBB dan propolis 0,05 ml/ekor peroral, kelompok perlakuan 4 (Pp2) diberi parasetamol 250 mg/kgBB dan propolis 0,1 ml/ekor peroral, serta kelompok perlakuan 5 (Pp3) diberi parasetamol 250 mg/kgBB dan propolis 0,15 ml/ekor peroral. Perlakuan diberikan selama 10 hari dan hari ke-11 tikus dinekropsi, kemudian diambil organ heparnya untuk dibuat preparat histopatologi. Variabel yang diperiksa meliputi kongesti, degenerasi melemak, dan nekrosis dengan skoring (0: Tidak ada lesi; 1: lesi fokal; 2: lesi multifocal; 3: lesi difusa). Uji Kruskall-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada rerata kongesti pembuluh darah, degenerasi melemak, dan nekrosis dari kelompok yang diuji. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa parasetamol dosis 250 mg/kgBB dapat menyebabkan kerusakan hepar. Propolis dosis 0,15 ml/ekor dapat memperbaiki kerusakan jaringan lebih baik dibandingkan dengan dosis propolis 0,05 ml/ekor dan 0,1 ml/ekor.
GAMBARAN HISTOPATOLOGI LIMPA TIKUS PUTIH YANG DIBERI DEKSAMETASON DAN VITAMIN E Hidayati, Elsa; Berata, I Ketut; Samsuri, Samsuri; Sudimartini, Luh Made; Merdana, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 1 Pebruari 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2018.v10.i01.p03

Abstract

Deksametason merupakan obat kortikosteroid golongan glukokortikoid yang berfungsi sebagai anti-inflamasi dan imunosupresan. Efek terapi dari obat ini adalah mengurangi respon radang dan menekan sistem imun. Limpa merupakan organ yang mengkoordinasi sistem imun, sehingga penggunaan deksametason secara berkepanjangan akan berefek pada limpa. Sebagai upaya mencegah efek deksametason ke limpa, maka dibutuhkan antioksidan. Vitamin E merupakan vitamin yang larut dalam lemak dan bertindak sebagai antioksidan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap, dimana 25 ekor tikus putih jantan, dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Kontrol negatif diberi pakan dan minum. Deksametason (Harsen®) diberikan secara injeksi subkutan 0,13 mg/kg BB pada perlakuan kontrol positif, P1, P2 dan P3. Vitamin E diberikan peroral pada perlakuan P1 (100 mg/kg BB), P2 (150 mg/kg BB) dan P3 (200 mg/kg BB). Setelah 2 minggu perlakuan, semua sampel diterminasi dan diambil organ limpa untuk dibuat preparat histopatologi. Variabel yang diperiksa meliputi perdarahan dan nekrosis. Penelitian menunjukkan terjadi nekrosis pada kontrol positif, sedangkan P1, P2, P3 mengalami perbaikan kerusakan namun tidak signifikan. Perlakuan P2 menunjukkan hasil paling baik dalam mengurangi efek deksametason. Kesimpulan dari penelitian ini adalah deksametason mempengaruhi gambaran histopatologi limpa tikus putih dan Vitamin E dosis 150 mg/kg BB dapat memperlihatkan perbaikan kerusakan jaringan limpa yang lebih baik vitamin E dosis 100 mg/kg BB dan 200 mg/kg BB.
PERUBAHAN HISTOPATOLOGI HATI MENCIT (MUS MUSCULUS) YANG DIBERIKAN EKSTRAK DAUN ASHITABA (ANGELICA KEISKEI) Swarayana, I Made Indrayadnya; Sudira, I Wayan; Berata, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan histopatologi hati mencit (Musmusculus) yang diberikan ekstrak daun Ashitaba (Angelica keiskei). Penelitian inimenggunakan 25 ekor mencit jantan yang dibagi secara acak sederhana menjadi 5 grup.Grup A sebagai kontrol diberikan aquades, dan grup B, C, D, dan E masing-masingdiberikan 125 mg, 250 mg, 500 mg dan 1000 mg extrak Ashitaba secara oral. Pemberianekstrak etanol daun Ashitaba dilakukan setiap hari selama 21 hari. Pada hari ke 22 semuamencit dinekropsi dan hati diambil untuk diproses pembuatan preaparat dengan metodeembedding blocking dengan paraffin serta pewarnaan hematoxylin eosin (HE). Pemeriksaanperubahan histopatologi dilakukan berdasarkan adanya degenerasi melemak dan nekrosis.Hasil penelitian menunjukkan adanya nekrosis dan degenerasi yang ringan pada semuagrup perlakuan. Hasil analisis statistik dengan metode Kruskal Wallis menunjukkan hasilyang tidak berbeda diantara grup perlakuan. Penelitian ini membuktikan ekstrak daunAshitaba (Angelica keiskei) antara dosis 125 mg sampai 1.000 mg tidak menimbulkan efektoksik pada hati mencit.
Co-Authors AAA Mirah Adi, AAA Mirah Agnes Endang Tri H Aida Louise Tenden Rompis Anak Agung Ayu Mirah Adi ANAK AGUNG GDE ARJANA Anak Agung Gde Arjana Anak Agung Gede Arjana Anak Agung Oka Anak Agung Sagung Kendran Astari, Ni Putu Widya Aulia Insani, Aulia Budiartawan, I Komang Alit Darmawan, I Gusti Ayu Chintya Dewa Ayu Dwita Karmi Dhinar Wahyu Prasetyo DORTY PRIHASTINA SALBAHAGA Duwiri, Christine Valeri Elyda ., Elyda Erwanti Siti Rabiah, Erwanti Siti Farhan Abdul Hasan, Farhan Abdul Febilani, Elti Fitri Irawan Rahmawandani Gunawan, Stefanus Andre Gunawati, Luh Sri Gusti Agung Ayu Putu Adriyati, Gusti Agung Ayu Hendrina Konda M Meha, Hendrina Konda M Hidayati, Elsa Hidayati, Zumara Mufida Husnul Khatimah I Dewa Made Adhiwitana, I Dewa Made I GEDE ENDRA KUSUMA I GEDE SURANJAYA I Gusti Bagus Sathya Dharma, I Gusti Bagus Sathya I Gusti Ketut Suarjana I KETUT ELI SUPARTIKA I Ketut Eli Supartika I Ketut Puja I Ketut Wirata, I Ketut I Made Damriyasa I Made Indrayadnya Swarayana I Made Kardena I Made Merdana I Made Putra Wiadnyana, I Made Putra I Nengah Kerta Besung I NYOMAN MANTIK ASTAWA I Nyoman Tirta Ariana I Putu Suparman I Wayan Budiarsa Suyasa I Wayan Sudira I Wayan Wirata IB Oka Winaya Ichsantya, Bina Ida Bagus Made Oka Ida Bagus Oka Winaya Ida Bagus Oka Winaya Iwan Harjono Utama Iwan Harjono Utama Janardani, Ni Made Kunti Jayawardhita, Anak Agung Gde Kartika, Erena Hajar Ketut Budiasa Ketut ELI Supartika KETUT TONO PG Kristi Agusti Putri, Kristi Agusti Laila Gianita Veralyn Luh Eka Setiasih Luh Made Sudimartini Lusiana Flora Ndagu Made Oka Adinata Made Rahayu Kusumadewi, Made Rahayu Manullang, Dini Hilary Maria, Noviriolla MAS DJOKO RUDYANTO Muda, Gde Jasmara Muhamad Furkam Fadilah, Muhamad Furkam Nesia Masniari Helena Sibarani Ni Luh Eka Setiasih Ni Nyoman Werdi Susari Nofantri, Lidia Nugraha, Putri Nyoman Sadra Dharmawan Pratama, Ayu Prawitasari Citra Prista Oktafebri Yulestari Pujaswarini, Ni Made Hani Purnama, Komang Andika Purnata, I Dewa Nyoman Alit Putra, I Putu Agus Antara Putra, Wahyu Semadi Putri Yuliana Mangindaan Raharjo, Yudha Yaksa Crada Yoga Arum RAHMI MUSTABA Sam suri Samsuri Samsuri Sandriya, Ardi Sari Sartini, Sari Setianingsih, Ni Luh Eka Sihotang, Tanti Fitri Sri Kayati Widyastuti Tanuwijaya, Phebe Amadea Umam, Afrizal Choirul Utami, Alviana Rizqiyah Vaswani Samaria Napitupulu Wijayanthi, Kadek Karina Dewi Yanne Yanse Rumlaklak Yesi Veronica Sitepu