Articles

Found 22 Documents
Search
Journal : Buletin Veteriner Udayana

EKSTRAK ETANOL SARANG SEMUT MENYEBABKAN KERUSAKAN STRUKTUR HISTOLOGI GINJAL MENCIT Manullang, Dini Hilary; Sudira, I Wayan; Berata, I Ketut; Merdana, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 2 Agustus 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.242 KB) | DOI: 10.24843/bulvet.2018.v10.i02.p12

Abstract

Analisis kimia menunjukkan bahwa tumbuhan sarang semut (Myrmecodia pendans) memiliki berbagai kandungan senyawa kimia dari golongan flavonoid, tannin, tokoferol, multimineral dan polisakarida. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak etanol sarang semut terhadap gambaran histopatologi ginjal mencit (Mus musculus) jantan. Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit jantan dengan umur 10-12 minggu yang secara klinis dinyatakan sehat dengan berat 25-35 g. Secara acak seluruh mencit dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok perlakuan terdiri atas 6 ekor mencit. Kelompok P0 adalah kelompok kontrol negatif yang diberikan pakan standar dan aquades, P1 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 100 mg/kg BB, P2 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 200 mg/kg BB, P3 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 300 mg/kg BB. Setelah perlakuan selesai pada hari ke-21,  organ ginjal diambil untuk dibuat preparat histologi dan diwarnai dengan metode haematoksilin-eosin. Variabel yang diperiksa adalah perdarahan, degenerasi melemak, dan nekrosis di tubulus proksimal ginjal. Hasil uji Kruskall-Wallis menunjukkan pemberian ekstrak etanol sarang semut berpengaruh nyata (P?0,05) terhadap timbulnya perdarahan pada tubulus ginjal. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 300 mg/kg BB dapat menyebabkan perubahan histopatologi ginjal berupa perdarahan, degenerasi melemak, dan nekrosis.
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN E DAN DEKSAMETASON TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI JANTUNG TIKUS PUTIH JANTAN Pratama, Ayu Prawitasari Citra; Berata, I Ketut; Samsuri, Samsuri; Merdana, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 2 Agustus 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.636 KB) | DOI: 10.24843/bulvet.2018.v10.i02.p07

Abstract

Deksametason merupakan glukokortikoid sintetik yang banyak digunakan dalam masyarakat. Penggunaan deksametason dosis besar dalam jangka waktu yang panjang dapat berpengaruh terhadap jantung. Vitamin E merupakan vitamin yang larut dalam lemak dan bertindak sebagai antioksidan yang mampu mengatasi radikal bebas dan stres oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian vitamin E terhadap jantung tikus putih (Rattus norvegicus) akibat pemberian deksametason. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih jantan berumur 2-3 bulan dengan berat 200-300 gram. Tikus dikelompokkan menjadi lima kelompok perlakuan dan lima ulangan. Tikus diadaptasikan selama satu minggu selanjutnya tikus diberikan perlakuan selama 14 hari. Pada kelompok perlakuan P0 sebagai kontrol negatif tidak diberikan perlakuan. Kelompok perlakuan P1, P2, P3 dan P4 diberikan deksametason secara injeksi subkutan dengan dosis 0,13 mg/kg BB. Vitamin E diberikan peroral sebagai berikut: P2 dosis 100 mg/kg BB, P3 dosis 150 mg/kg bb, dan P4 dosis 200 mg/kg BB. Setelah 14 hari tikus dieutanasi, kemudian dinekropsi. Organ jantung diambil dan dimasukkan ke dalam neutral buffered formalin untuk fiksasi, selanjutnya dilakukan proses pembuatan preparat histopatologis dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Parameter yang diamati adalah gambaran peradangan dan nekrosis pada jantung. Hasil pengamatan histopatologi menunjukkan pemberian vitamin E secara peroral dengan dosis 200 mg/kg bb berpengaruh sangat nyata terhadap perbaikan organ jantung tikus putih yang diberikan deksametason dosis 0,13 mg/kg BB. Simpulan dari penelitian ini adalah vitamin E dapat menghambat kerusakan jantung akibat efek samping deksametason.
EFEK PEMBERIAN PROPOLIS TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS PUTIH YANG DIBERI PARASETAMOL Utami, Alviana Rizqiyah; Berata, I Ketut; Samsuri, Samsuri; Merdana, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 9 No. 1 Pebruari 2017
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2398.7 KB)

Abstract

Parasetamol merupakan salah satu obat antiinflamasi non steroid (AINS) yang berperan sebagai agen analgesik dan antipiretik, namun memiliki aktivitas antiinflamasi yang lemah. Parasetamol memiliki efek toksik terhadap hepar yaitu kerusakan pada hepar. Sebagai upaya untuk mencegah efek toksik dari parasetamol, diperlukan pemberian zat antioksidan yang dapat melindungi sel-sel hepar terhadap kerusakan yang disebabkan oleh parasetamol. Antioksidan tinggi terdapat pada propolis yang banyak digunakan pada saat ini. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) yang dibagi atas 5 kelompok perlakuan. Setiap kelompok perlakuan diberikan pakan dan minum standar. Perlakuan 1 (kontrol negatif) diberi pakan dan minum standar, kelompok perlakuan 2 (kontrol positif) diberikan parasetamol 250 mg/kgBB peroral, kelompok perlakuan 3 (Pp1) diberi parasetamol 250 mg/kgBB dan propolis 0,05 ml/ekor peroral, kelompok perlakuan 4 (Pp2) diberi parasetamol 250 mg/kgBB dan propolis 0,1 ml/ekor peroral, serta kelompok perlakuan 5 (Pp3) diberi parasetamol 250 mg/kgBB dan propolis 0,15 ml/ekor peroral. Perlakuan diberikan selama 10 hari dan hari ke-11 tikus dinekropsi, kemudian diambil organ heparnya untuk dibuat preparat histopatologi. Variabel yang diperiksa meliputi kongesti, degenerasi melemak, dan nekrosis dengan skoring (0: Tidak ada lesi; 1: lesi fokal; 2: lesi multifocal; 3: lesi difusa). Uji Kruskall-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada rerata kongesti pembuluh darah, degenerasi melemak, dan nekrosis dari kelompok yang diuji. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa parasetamol dosis 250 mg/kgBB dapat menyebabkan kerusakan hepar. Propolis dosis 0,15 ml/ekor dapat memperbaiki kerusakan jaringan lebih baik dibandingkan dengan dosis propolis 0,05 ml/ekor dan 0,1 ml/ekor.
GAMBARAN HISTOPATOLOGI LIMPA TIKUS PUTIH YANG DIBERI DEKSAMETASON DAN VITAMIN E Hidayati, Elsa; Berata, I Ketut; Samsuri, Samsuri; Sudimartini, Luh Made; Merdana, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 1 Pebruari 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1066.705 KB) | DOI: 10.24843/bulvet.2018.v10.i01.p03

Abstract

Deksametason merupakan obat kortikosteroid golongan glukokortikoid yang berfungsi sebagai anti-inflamasi dan imunosupresan. Efek terapi dari obat ini adalah mengurangi respon radang dan menekan sistem imun. Limpa merupakan organ yang mengkoordinasi sistem imun, sehingga penggunaan deksametason secara berkepanjangan akan berefek pada limpa. Sebagai upaya mencegah efek deksametason ke limpa, maka dibutuhkan antioksidan. Vitamin E merupakan vitamin yang larut dalam lemak dan bertindak sebagai antioksidan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap, dimana 25 ekor tikus putih jantan, dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Kontrol negatif diberi pakan dan minum. Deksametason (Harsen®) diberikan secara injeksi subkutan 0,13 mg/kg BB pada perlakuan kontrol positif, P1, P2 dan P3. Vitamin E diberikan peroral pada perlakuan P1 (100 mg/kg BB), P2 (150 mg/kg BB) dan P3 (200 mg/kg BB). Setelah 2 minggu perlakuan, semua sampel diterminasi dan diambil organ limpa untuk dibuat preparat histopatologi. Variabel yang diperiksa meliputi perdarahan dan nekrosis. Penelitian menunjukkan terjadi nekrosis pada kontrol positif, sedangkan P1, P2, P3 mengalami perbaikan kerusakan namun tidak signifikan. Perlakuan P2 menunjukkan hasil paling baik dalam mengurangi efek deksametason. Kesimpulan dari penelitian ini adalah deksametason mempengaruhi gambaran histopatologi limpa tikus putih dan Vitamin E dosis 150 mg/kg BB dapat memperlihatkan perbaikan kerusakan jaringan limpa yang lebih baik vitamin E dosis 100 mg/kg BB dan 200 mg/kg BB.
PERUBAHAN HISTOPATOLOGI HATI MENCIT (MUS MUSCULUS) YANG DIBERIKAN EKSTRAK DAUN ASHITABA (ANGELICA KEISKEI) Swarayana, I Made Indrayadnya; Sudira, I Wayan; Berata, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.252 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan histopatologi hati mencit (Musmusculus) yang diberikan ekstrak daun Ashitaba (Angelica keiskei). Penelitian inimenggunakan 25 ekor mencit jantan yang dibagi secara acak sederhana menjadi 5 grup.Grup A sebagai kontrol diberikan aquades, dan grup B, C, D, dan E masing-masingdiberikan 125 mg, 250 mg, 500 mg dan 1000 mg extrak Ashitaba secara oral. Pemberianekstrak etanol daun Ashitaba dilakukan setiap hari selama 21 hari. Pada hari ke 22 semuamencit dinekropsi dan hati diambil untuk diproses pembuatan preaparat dengan metodeembedding blocking dengan paraffin serta pewarnaan hematoxylin eosin (HE). Pemeriksaanperubahan histopatologi dilakukan berdasarkan adanya degenerasi melemak dan nekrosis.Hasil penelitian menunjukkan adanya nekrosis dan degenerasi yang ringan pada semuagrup perlakuan. Hasil analisis statistik dengan metode Kruskal Wallis menunjukkan hasilyang tidak berbeda diantara grup perlakuan. Penelitian ini membuktikan ekstrak daunAshitaba (Angelica keiskei) antara dosis 125 mg sampai 1.000 mg tidak menimbulkan efektoksik pada hati mencit.
HISTOPATOLOGI USUS HALUS MENCIT PASCA PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN ASHITABA (HISTOPHATOLOGICAL CHANGES ON SMALL INTESTINE OF MICE AGAINS WITH OF THE ETHANOL EXTRACT OF ASHITABA LEAVES) Wiadnyana, I Made Putra; Budiasa, Ketut; Berata, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 7 No. 1 Pebruari 2015
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.934 KB)

Abstract

The purpose of this research was to know the effects of the ethanol leaf extract ashitaba(Angelica keiskei) against the histopathologicalchanges in the small intestine of mice (Musmusculus). This research used 15 mice (Mus musculus) with in average 25-30 gram and is divided into five group of treatment. Group A, were used as a control (placebo): groups B, C, D, and Eweregiven ashitaba leaf ethanol extract byorally in dose 125 mg/kg bw, 250 mg / kg bw, 500 mg / kgbw, and 1,000 mg/kg bw as long as 21 days respectively. On the 22nd days, all of the mice wasnecropsied and the small intestine tissues was took for the histopathological prepare processing.The results of histopathological examination of the small intestine of mice were fatty degenerationat one mouse in dose 125 mg/kg bw. On the mice by dose of 250 mg/kg bw of treatment, wereshowed fatty degeneration and inflammatory lesions. On the mice by dose 500 mg/kg bw, wereobtained that three of mice were affected fatty degeneration and inflammatory lesions. On the miceby dose 1,000 mg/kg bw were obtained that three of mice suffer  inflammatory lesions. All of thetreatment of this research were not appeared necrose lesion. Conclussion of this research is thetreatment of the ethanol extract of ashitaba leaves by orally at a dose range from 125 mg/kg bw until dose 1,000 mg /kg bw as long as 21 days did not raise the significance histopathologicalchange in the small intestines of mice (Mus musculus).
STUDI PATOGENESIS PENYAKIT JEMBRANA SAPI BALI BERDASARKAN KARAKTERISTIK SELTERINFEKSI PADA JARINGAN LIMFOID DAN DARAH TEPI Berata, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol 2 No. 1 Pebruari 2010
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.352 KB)

Abstract

The aim the research is to studi pathogenesis of Jembrana disease on Bali cattlebased on the characteristic of infected cells in lymphoid tissues and peripheral bloodmononuclear cells. The healthy Bali cattle was inoculated with Jembrana disease virus(JDV) (BBVet collection). After the second day of fever, the peripheral blood of experimental cattle was took jugularis vein. Lymphocyte cells from the peripheral bloodwas isolated by picoll-paque gradient method. Then the experimental cattle was necropsied.The spleen, praescapularis lymphnode and praefemoralis lymphnode were took byaseptically, thenits were processed for to histopathological preparation. For to examine thepercentage of the infected cells in lymphoid organs, the part of each lymphoid tissues weremade suspension in phosphat buffer saline, then it was made smear preparation on theobject glass. Those peripheral lymphocyte cells, lymphocyte smears and histopathologicalpreparation were stained by indirect immunoperoxidase technique. The JDV infected cellswas appeared brown color. The intensity of brown color was examined for to determinedegree of the infection.The result showed that percentage of JDV infected cells in bothspleen andlymphnodes are similarly i.e. average 9,5%. Percentage of the JDV infected cellson peripherallymphocyte cell was average 7%. Based on the intensity of brown color wasappeared that the JDV infected cells from the lymphnodes were stronger than from spleen.The conclusion is the most of the port d?entry JDV is through the subcutaneus route.
STUDI HISTOPATOLOGI LIMPA ANJING PENDERITA DISTEMPER DIKAITKAN DENGAN SEBARAN SEL-SEL RADANG PADA OTAK DAN PARU (HISTOPHATOLOGICAL STUDY OF SPLEEN ON DOGS INFECTED WITH DISTEMPER ASSOCIATED TO INFLAMATION IN THE BRAIN AND LUNGS) Fadilah, Muhamad Furkam; Berata, I Ketut; Kardena, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 7 No. 2 Agustus 2015
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.915 KB)

Abstract

This study aim was to determine the distribution of inflammatory cells in canine distemper in terms of the level of inflammation in the spleen, brain and lungs. The sample used 20 infected dogs wihich from the spleens, brains, and lungs of the dogs were collected. These organs were processed for histophatological observation using harris hematoxilyn-eosyn stain. The inflammation of the organs examined by using binocular microscope with 200X magnification. the results showed that inflammation was observed in the spleens: 9 samples (45%) showed the presence of lymphoidcells that experienced a mild inflammation 7 (35%) moderate inflammation, and 4 (20%) severe inflammation in brain, 3 samples (15%) did not show observe inflammation, 12 (60%) mild, 5(25%) moderate inflammation, and not observed any severe inflammation in brain, pulmonary: 6(30%) mild inflammation, 11 (55%) moderate inflammation, and 3 (15%) severe inflammation. It can be concluded that the inflammation was observed microscopically in the spleen, brain and lungin the dog that infected with canine distemper virus
STUDI HISTOPATOLOGIS LAMBUNG TIKUS PUTIH YANG DIBERI PARASETAMOL DAN SUPLEMENTASI PROPOLIS Maria, Noviriolla; Berata, I Ketut; Kardena, I Made; Samsuri, Samsuri
Buletin Veteriner Udayana Vol. 9 No. 1 Pebruari 2017
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.844 KB)

Abstract

Propolis merupakan suatu zat yang dihasilkan oleh lebah yang memiliki banyak manfaat diantaranya sebagai antioksidan dan antiulkus. Parasetamol sebagai obat yang relatif aman bagi lambung, tetapi pada beberapa penelitian terakhir menyatakan parasetamol dosis tinggi meningkatkan resiko terjadinya gangguan mukosa lambung seperti terjadinya ulserasi, deskuamasi dan erosi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek pemberian propolis pada gambaran histopatologi lambung tikus putih yang diberi parasetamol dalam dosis tinggi. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap. Sampel 25 ekor tikus putih jantan, dibagi dalam 5 kelompok perlakuan, yaitu kontrol negatif (P0) atau tanpa perlakuan, kontrol positif (P) diberikan parasetamol 250 mg/kgBB, dan kelompok perlakuan diberikan parasetamol 250 mg/kgBB dengan variasi propolis bertingkat yaitu P1 (0,05 ml/tikus), P2 (0,10 ml/tikus) dan P3 (0,15 ml/tikus). Perlakuan diberikan selama 10 hari, kemudian dinekropsi dan organ lambung diambil. Sampel jaringan lambung dibuat preparat histopatologi dengan metode Kiernan (1990) menggunakan pewarnaan hematoxylin eosin (HE). Variabel yang diperiksa meliputi erosi, deskuamasi dan ulserasi epitel lambung.  Hasil menunjukkan perlakuan P terjadi kerusakan pada lambung  (deskuamasi), sedangkan seluruh perlakuan P1, P2, dan P3 berpengaruh terhadap perbaikan kerusakan akibat efek samping parasetamol. Perlakuan P3 sebagai hasil paling baik dalam mengurangi efek samping parasetamol.  Kesimpulan penelitian ini diketahui bahwa pemberian propolis dapat mengurangi efek samping perubahan histopatologi pada jaringan lambung tikus putih jantan akibat dosis parasetamol yang tinggi.
KAJIAN RETROSPEKTIF GAMBARAN HISTOPATOLOGI KASUS STREPTOKOKOSIS PADA BABI DAN MONYET DI PROVINSI BALI Veralyn, Laila Gianita; Berata, I Ketut; Supartika, I Ketut Eli
Buletin Veteriner Udayana Vol. 6 No.1 Pebruari 2014
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.604 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan distribusi lesi dan tingkat keparahan gambaran histopatologi antara babi dan monyet yang positif menderita streptokokosis dari tahun 1994-1998 di Provinsi Bali. Penelitian ini menggunakan 15 preparat histologi (metode pewarnaan Harris- Hematoksilin-Eosin) dari 15 babi positif streptokokosis dan 7 preparat histologi dari 7 monyet positif streptokokosis. Preparat histologi tersebut berasal dari organ otak, jantung, paru-paru, ginjal dan limpa. Preparat diamati dengan menggunakan mikroskop perbesaran 200x dan 400x. Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan bahwa distribusi lesi jaringan pada beberapa organ babi dan monyet tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan serta tidak terdapat perbedaan tingkat keparahan gambaran histopatologi pada organ otak, jantung, paru-paru dan limpa antara babi dan monyet. Tingkat keparahan gambaran histopatologi yang dominan pada organ otak, paru-paru dan limpa babi maupun monyet yaitu kategori lesi sedang; dicirikan dengan terjadinya kongesti diikuti infiltrasi sel radang neutrofil. Pada organ jantung, baik pada babi maupun monyet sama-sama  masuk kategori lesi ringan; dicirikan dengan terjadinya kongesti dan edema ringan. Perbedaan hanya terjadi pada organ ginjal, pada babi dicirikan dengan terjadinya hemoragi sedangkan pada ginjal monyet dicirikan dengan terjadinya kongesti yang diikuti infiltrasi sel radang neutrofil.
Co-Authors AAA Mirah Adi, AAA Mirah Agnes Endang Tri H Aida Louise Tenden Rompis Anak Agung Ayu Mirah Adi ANAK AGUNG GDE ARJANA Anak Agung Gde Arjana Anak Agung Gde Jaya Wardhita, Anak Agung Gde Jaya Anak Agung Gede Arjana Anak Agung Oka Anak Agung Sagung Kendran Aristawati, I Dewa Agung Ayu Irma Astari, Ni Putu Widya Aulia Insani, Aulia Budiartawan, I Komang Alit Darmawan, I Gusti Ayu Chintya Dewa Ayu Dwita Karmi Dhinar Wahyu Prasetyo DORTY PRIHASTINA SALBAHAGA Duwiri, Christine Valeri Elyda ., Elyda Erwanti Siti Rabiah, Erwanti Siti Farhan Abdul Hasan, Farhan Abdul Febilani, Elti Fitri Irawan Rahmawandani Gunawan, Stefanus Andre Gunawati, Luh Sri Gusti Agung Ayu Putu Adriyati, Gusti Agung Ayu Hendrina Konda M Meha, Hendrina Konda M Hidayati, Elsa Hidayati, Zumara Mufida Humaira, Sarah Husnul Khatimah I Dewa Made Adhiwitana, I Dewa Made I GEDE ENDRA KUSUMA I GEDE SURANJAYA I Gusti Bagus Sathya Dharma, I Gusti Bagus Sathya I Gusti Ketut Suarjana I Ketut Eli Supartika I KETUT ELI SUPARTIKA I Ketut Puja I Ketut Wirata, I Ketut I Made Damriyasa I Made Indrayadnya Swarayana I Made Kardena I Made Merdana I Made Putra Wiadnyana, I Made Putra I Nengah Kerta Besung I NYOMAN MANTIK ASTAWA I Nyoman Tirta Ariana I Putu Suparman I Wayan Budiarsa Suyasa I Wayan Sudira I Wayan Wirata IB Oka Winaya Ichsantya, Bina Ida Bagus Made Oka Ida Bagus Oka Winaya Ida Bagus Oka Winaya Iwan Harjono Utama Iwan Harjono Utama Janardani, Ni Made Kunti Jayawardhita, Anak Agung Gde Kartika, Erena Hajar Ketut Budiasa Ketut ELI Supartika KETUT TONO PG Kristi Agusti Putri, Kristi Agusti Laila Gianita Veralyn Luh Eka Setiasih Luh Made Sudimartini Lusiana Flora Ndagu Made Oka Adinata Made Rahayu Kusumadewi, Made Rahayu Manullang, Dini Hilary Maria, Noviriolla MAS DJOKO RUDYANTO Muda, Gde Jasmara Muhamad Furkam Fadilah, Muhamad Furkam Nesia Masniari Helena Sibarani Ni Luh Eka Setiasih Ni Nyoman Werdi Susari Nofantri, Lidia Nugraha, Putri Nyoman Sadra Dharmawan Pratama, Ayu Prawitasari Citra Prista Oktafebri Yulestari Pujaswarini, Ni Made Hani Purnama, Komang Andika Purnata, I Dewa Nyoman Alit Putra, I Putu Agus Antara Putra, Wahyu Semadi Putri Yuliana Mangindaan Raharjo, Yudha Yaksa Crada Yoga Arum RAHMI MUSTABA Sam suri Samsuri Samsuri Sandriya, Ardi Sari Sartini, Sari Setianingsih, Ni Luh Eka Sihotang, Tanti Fitri Sri Kayati Widyastuti Tanuwijaya, Phebe Amadea Umam, Afrizal Choirul Utami, Alviana Rizqiyah Vaswani Samaria Napitupulu Wijayanthi, Kadek Karina Dewi Wulandari, Meidi Andira Yanne Yanse Rumlaklak Yesi Veronica Sitepu