Sri Rahayu Budiani
Jurusan Geografi dan Ilmu lingkungan Fakultas Geografi UGM, Bulaksumur, Yogyakarta

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

DETERMINAN LOKASI SENTRA INDUSTRI KERAJINAN BAMBU DI KABUPATEN SLEMAN Yosky, Dellamanda; Budiani, Sri Rahayu
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 15, No 4 (2019): JPWK Vol. 15 No. 4 Desember 2019
Publisher : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota,Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.708 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v15i4.20594

Abstract

Industri Kecil dan Menengah Kabupaten Sleman cabang industri kerajinan didominasi oleh industri kerajinan bambu. Industri ini membentuk sentra-sentra di wilayah tertentu yang menghasilkan produk khas. Lokasi merupakan hal penting dalam industri karena berhubungan dengan efisiensi produksi dan pemasaran. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Mengetahui distribusi sentra industri kerajinan bambu di Kabupaten Sleman. 2) Mengetahui karakteristik usaha industri kerajinan bambu di Kabupaten Sleman. 3) Mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap pemilihan lokasi sentra industri kerajinan bambu di Kabupaten Sleman. Penelitian ini dilakukan secara survei. Pengambilan sampel ditentukan secara acak di masing-masing sentra dengan metode Proporsionate Stratified Random Sampling. Total responden sebanyak 87 unit usaha. Analisis dilakukan dengan hasil berupa peta, tabel frekuensi, serta analisis kuantitatif regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Lokasi sentra-sentra industri kerajinan bambu Kabupaten Sleman cenderung mengelompok di wilayah Kabupaten Sleman bagian barat dengan masing-masing sentra memiliki produk khas. 2) Industri kerajinan bambu Kabupaten Sleman didominasi oleh industri skala rumah tangga. 3) Faktor yang yang paling berpengaruh terhadap keuntungan sebagai fungsi karakteristik spesifik lokasi industri kerajinan bambu Kabupaten Sleman adalah kuantitas bahan baku. 
Value chain analysis of weaving industry Rini, Diah Ayu; Budiani, Sri Rahayu
Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol 31, No 3 (2018): Masyarakat, Kebudayaan dan Politik
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkp.V31I32018.300-309

Abstract

Value chain analysis is used to discover the distribution of the supply of raw materials and the marketing of industrial products. The research study focus was located in Gamplong Tourism Village, Sleman regency, Daerah Istimewa Yogyakarta. The aims of this research were to 1) map the value chain of the weaving industry in Gamplong Tourism Village; 2) to identify existing obstacles to the weaving industry in Gamplong Tourism Village and 3) to determine appropriate strategies to minimise the obstacles in the weaving industry in Gamplong Tourism Village. The analysis used in this research was a descriptive analysis. The respondents in this study were 47 industry actors, the distributors of raw materials and marketing individuals. Data collection was conducted using a census and in-depth interviews with the weaving industry actors. This was snowballed to the distributor. Based on the results of the research, the value chain of the weaving industrial products as a whole consists of six actors, namely raw material suppliers, raw material distributors, weaving industry actors, distributors, retail traders, and consumers. The household industry value chain differs from the small and medium industry value chain. Some of the obstacles to the Gamplong weaving industry are the length of the value chain, no labour regeneration, and less tourism village development. Therefore, strategies to reduce these obstacles include cutting down the value chains, managing human resources, and increasing the promotion strategies used.
COPING CAPACITY MASYARAKAT DAS GENDOL DALAM MENGHADAPI BENCANA ERUPSI MERAPI Budiani, Sri Rahayu; Lestariningsih, Siti Puji; Gamayanti, Priliani
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Erupsi gunungapi merupakan bencana yang potensial terjadi di Indonesia, salah satunya adalah Gunung Merapi di Pulau Jawa. Pada tahun 2010 terjadi erupsi Gunungapi Merapi yang termasuk paling dahsyat selama 10 tahun terakhir. Akibatnya, terjadi kerusakan di berbagai bidang seperti permukiman, pertanian, dan infrastruktur. Kerusakan terbesar terjadi di DAS Gendol, baik karena awan panas maupun lahar dingin. Dalam rangka menghadapi kemungkinan erupsi dimasa mendatang diperlukan analisis kemampuan masyarakat menghadapi bencana (coping capacity) untuk menyusun rencana strategis mitigasi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat sumberdaya, kesiapan dan proses evakuasi, serta coping capacity masyarakat DAS Gendol dalam mengahadapi erupsi Merapi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik wawancara terhadap  28 kepala dusun sebagai sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumberdaya paling tinggi terdapat di KRB I di DAS Gendol, sedangkan yang terendah di KRB III. Hal ini dikarenakan kekurangan sarana transportasi dan informasi di KRB III. Lain halnya di KRB I, akses jalan, transporatasi, dan informasi lebih mudah dijangkau.Kesiapan dan berlangsungnya proses evakuasi yang paling baik terjadi di KRB II dan III karena zonasi tersebut paling rawan sehingga evakuasi dilakukan lebih awal dibandingkan KRB I yang dianggap aman. Kendala yag dihadapi saat evakuasi di KRB III adalah penempatan lokasi pengungsian. Berdasarkan sumberdaya dan kesiapan proses evakusi, kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana (coping capacity) yang paling tinggi terdapat di KRB II, sedangkan terendah justru di KRB III. Tingkat coping capacity rendah justru dusun-dusun yang berbatasan dengan Sungai Gendol, yang merupakan daerah rawan terkena dampak banjir lahar dingin. Dusun-dusun tersebut meliputi Dusun Banaran, Batur, Gading, Jelapan, Kejambon Lor, dan Ngepringan 
PENGEMBANGAN SENTRA INDUSTRI KECAMATAN TEMPURAN BERDASARKAN INDEKS SPESIALISASI DAN KONSENTRASI SPASIAL DI KABUPATEN MAGELANG Putra, Andy Panca; Kurniawan, Andri; Budiani, Sri Rahayu
Media Komunikasi Geografi Vol 20, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v20i2.19274

Abstract

Keberadaan industri seringkali menjadi kutub pertumbuhan bagi perkembangan wilayah. Upaya pengembangan industri di Kecamatan Tempuran tidak didukung oleh ketersediaan data yang komprehensif mengenai industri kecil dan menengah tersebut. Minimnya ketersediaan data informasi yang komprehensif terkait industri menengah, industri kecil dan rumah tangga di Kecamatan Tempuran dapat menimbulkan permasalahan. Industri-industri yang berkembang di Kecamatan Tempuran tidak berada pada satu kawasan khusus sebagai industrial estate tetapi menyebar pada beberapa desa. Keberadaan industri bercampur dengan fungsi-fungsi lain seperti permukiman, perdagangan dan jasa, serta lahan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Konsentrasi Spasial sentra industri di Kecamatan Tempuran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif untuk mengidentifikasi konsentrasi spasial sentra industri di Kecamatan Tempuran. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat tujuh sentra industri yang teraglomerasi, yakni sentra industri kusen kayu memiliki nilai Indeks Hirschmann-Herfindhal (IHH) terbesar dengan nilai 0,8706, Sentra industri Sangkar Burung dengan nilai Indeks IHH 0,6676, sentra industri tempe dengan nilai Indeks IHH 0,5954, sentra industri Mebel Kayu dengan nilai Indeks IHH 0,5718, sentra industri Besek dengan nilai Indeks IHH 0,4867 dan sentra industri batu bata dengan nilai indeks IHH 0,4375, sedangkan sentra industri yang termasuk kategori dispersi terdapat tiga sentra, yakni, sentra industri Slondok, Sentra Industri Genteng, sentra industri Keranjang Tongkol,Kata Kunci : Sentra Industri; Indeks Spesialisasi Industri; Aglomerasi Industri
ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DALAM PENYERAPAN TENAGA KERJA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Harini, Rika; Giyarsih, Sri Rum; Budiani, Sri Rahayu
Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.117 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13285

Abstract

ABSTRAK Tantangan pembangunan dimasa depan adalah terwujudnya ntasyarakat yang adil termasuk keadilan dan pemerataan antar daerah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui perbaikan pembangunan sektoral yang bertumpu pada pembangunan pusat-pusat pertumbuhan, sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan utama yang perlu adalah mengusahakan semaksimal mungkin agar prioritas daerah sesuai dengan potensi ekonomi dan sektor-sektor unggulan wilayah dikembangkan. Selain itu program-program pembangunan ditekankan pada penciptaan kerja baik pada sektor pertanian maupun non pertanian.Penelitian ini berusaha untuk mengetahui sektor unggulan dan pertumbuhannya serta bagaimana penyerapan tenaga kerja dari masing-masing sektor perekonomian. Lokasi penelilian Daerah Istimewa Yogyakarta. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data runtun waktu (times series) antara tahun 1993-2001 berupa data PDRB dan data ketenagakerjaan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa an tar kabupaten/kota memiliki sektor unggulan yang berbeda-beda. Sektor pertanian (sektor primer) menjadi sektor unggulan pada Kabupaten Kulon Progo, Bantul dan Gunung KiduL Sedangkan di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta yang menjadi sektor unggulan hanya pada sektor sekunder dan tersier. Sektor industri pengolahan; bangunan; perdagangan, hotel dan restoran; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan menjadi sektor unggulan di Kabupaten Sleman. Sedangkan di Kota Yogyakarta sektor listrik, gas dan air bersih; perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa.Pada Kabupaten Bantu dan Kabupaten Kulon Progo memiliki nilai pertumbuhan ekonomi yang lambat jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki penyerapan tenaga kerja paling tinggi pada sektor pertanian, sedangkan untuk Kota Yogyakarta yang paling tinggi penyerapan tenaga kerjanya adalah sektor jasa.
Analisis Strategi Pemasaran Industri Tenun di Desa Wisata Gamplong Kabupaten Sleman Sari, Ratih Indah; Budiani, Sri Rahayu
Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3323.894 KB) | DOI: 10.22146/mgi.30063

Abstract

Strategi pemasaran sangat diperlukan dalam menghadapi kegiatan perdagangan yang semakin maju. Untuk itu IKM dituntut lebih inovatif agar produk yang dipasarkan tidak kalah saing dengan produk daerah lain. Penelitian ini bertujuan 1) Mengetahui faktor lingkungan internal yang berpengaruh terhadap strategi pemasaran industri tenun Gamplong, 2) Mengetahui  faktor lingkungan eksternal yang berpengaruh terhadap strategi pemasaran industri tenun Gamplong, dan 3) Mengetahui sistem pemasaran yang sesuai untuk industri tenun Gamplong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dimana data diperoleh dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan di Desa Wisata Gamplong yang merupakan sentra industri tenun di Kecamatan Moyudan. Hasil lapangan digunakan untuk analisis SWOT yang terdiri dari tabel IFAS, tabel EFAS, matriks IE, dan matriks SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor internal yang berpengaruh berupa: kepemilikan alat secara pribadi, inovasi produk dan bahan baku, harga terjangkau, kurangnya promosi, keterbatasan modal usaha, kendala komunikasi, dan kurangnya link pemasaran. Faktor eksternal yang berpengaruh berupa: pasar luas dengan posisinya sebagai desa wisata, adanya pelatihan industri, kurangnya pengetahuan tentang inovasi, konflik internal, adanya pasar global, dan regenerasi pengrajin tenun. Strategi pemasaran yang sesuai untuk industri tenun Gamplong adalah strategi menjaga dan mempertahankan.
Analisis Potensi dan Strategi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Komunitas di Desa Sembungan, Wonosobo, Jawa Tengah Budiani, Sri Rahayu; Wahdaningrum, Windarti; Yosky, Dellamanda; Kensari, Eline; Pratama, Hendra S; Mulandari, Henny; Iskandar, Heru Taufiq Nur; Alphabettika, Mica; Maharani, Novela; Febriani, Rizka Fitria; Kusmiati, Yanti
Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.55 KB) | DOI: 10.22146/mgi.32330

Abstract

Pembangunan pariwisata saat ini diarahkan kepada pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dengan pengembangan yang didasarkan atas prinsip pemberdayaan berbasis masyarakat. Salah satu desa yang potensial dikembangkan dengan prinsip-prinsip tersebut adalah Desa Sembungan. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk melihat potensi pengembangan wisata Desa Sembungan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui Desa Sembungan memiliki sumberdaya alam yang potensial, namun saat ini hanya dua objek wisata alam yang dikembangkan, yaitu Bukit Sikunir dan Telaga Cebong sehingga masih sangat mungkin untuk ditemukan objek wisata yang memiliki daya tarik. Desa Sembungan pada prinsipnya belum memenuhi prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan, sehingga perlu adanya pembenahan diberbagai aspek. Dilihat dari tujuh prinsip pembangunan pariwisata berbasis komunitas, maka Desa Sembungan masih belum memenuhi tujuh prinsip tersebut, sehingga diperlukan arahan strategi yang tepat untuk mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat di Desa Sembungan. ABSTRACT Tourism development today is directed to achieve sustainable tourism development following the community-based empowerment principles. Sembungan village is one of the potential village to be developed with those principles. Qualitative research method is used for this research. The result shows that Sembungan village has potential natural resources, but unfortunately only two attractions are developed, they are sikunir hill and telaga cebong. There are more alluring tourism objects in Sembungan village that haven’t been explored. Sembunga village has not yet manage tourism activities based on sustainable tourism principles. Accordingly, there are many aspects that need to be fixed. Tourism management also has not achieved the seven community-based tourism developments principles. Sembungan village still needs more precise strategies and plans to force sustainable community-based tourism development.
Kajian Daya Dukung Lingkungan Fisik Wisata Berkemah Telaga Cebong Desa Sembungan untuk Mendukung Pariwisata Berkelanjutan Budiani, Sri Rahayu; Puspitasari, Lucky; Adibah, Masna Naila; Fauzia, Atik; Basuki, Sandra Nisa
Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.32304

Abstract

Pariwisata di Dieng sangat diminati oleh wisatawan, salah satunya adalah wisata berkemah Telaga Cebong di Sembungan, Dieng. Aktivitas pariwisata berkemah di Telaga Cebong menunjukkan peningkatan yang dapat berpengaruh terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai daya dukung lingkungan fisik Telaga Cebong guna menetapkan jumlah maksimum wisatawan yang secara fisik dapat tercukupi oleh ruang yang disediakan telaga tersebut dan membandingkannya dengan kondisi aktual, serta merekomendasikan strategi optimalisasi objek wisata Telaga Cebong berdasarkan asas pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan rumus Physical Carrying Capacity (PCC) untuk menghitung daya dukung lingkungan fisik dengan menggunakan variabel luas wilayah wisata, luas wilayah agar wisatawan tetap merasa nyaman, dan faktor rotasi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai daya dukung lingkungan fisik Telaga Cebong adalah 404 tenda per hari. Jumlah wisatawan yang berkemah baik saat hari kerja maupun akhir pekan belum melampaui nilai daya dukung sehingga pengelolaan di kawasan Telaga Cebong perlu dioptimalkan.Tourism in Dieng is in great demand by tourists, one of which is the camping tour of Lake Cebong in Sembungan, Dieng. The activities of camping tourism in Lake Cebong show an increase that can affect the environment. This study aims to calculate the carrying capacity of Lake Cebong physical environment to determine the maximum number of tourists who can be physically satisfied by the space provided by the lake and compare it with the actual condition, and recommend the optimization strategy of Lake Cebong tourism object based on the principle of sustainable tourism. This study uses Physical Carrying Capacity (PCC) formula to calculate the carrying capacity of the physical environment by using wide varieties of tourist areas to keep tourists comfortable, and rotation factor. The calculation results show that the carrying capacity of the physical environment of Lake Cebong is 404 tents per day. The number of tourists who camp on both weekdays and weekends has not exceeded the carrying capacity so that management in Lake Cebong area needs to be optimized.
STRATEGI MENCAPAI PENGHIDUPAN BERKELANJUTAN PADA SEKTOR PARIWISATA SUKU TENGGER DI TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU Irsyad, Muhammad; Irwan, Siti Nurul Rofiqo; Budiani, Sri Rahayu
Jurnal Kepariwisataan: Destinasi, Hospitalitas dan Perjalanan Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34013/jk.v4i1.38

Abstract

Sustainable livelihood is a concept achieved through strategies for utilizing livelihood assets natural, human, social, physical, and financial (DFID, 2001; Scoones, 2009; and Ellis, 2000). The Tengger tribe of Ngadas Village in Bromo Tengger Semeru National Park area (TNBTS) earns income from the agriculture and tourism sectors. Vulnerability due to natural disasters, trend changes in tourist arrivals, and climate change affect the five livelihood assets and livelihood strategies. The objective of this study is to analyze the five livelihood assets owned and to identify livelihood strategies. The descriptive qualitative method is used to assess five livelihoods by weighting and scaling. Livelihood strategies are analyzed by using interactive analysis method with primary and secondary data obtained. The results reveal that natural asset provides the highest value of financial asset, supported by social asset and physical asset. Human asset has the lowest value compared to other assets. The consolidation strategy is the dominant strategy done by dividing works between family members, hiring laborers, and using financial reserves. Other strategies are also carried out through opening a tourism business, planting new agricultural crops, maintaining the environment and culture from damaging external influences.