Asih Budiastuti
Staf pengajar bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

FAKTOR RISIKO PENDERITA KUSTA TIPE MULTIBASILER DI RSUD TUGUREJO SEMARANG Safira, Najla Firda; Widodo, Aryoko; Wibowo, Dhega Anindita; Budiastuti, Asih
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.59 KB)

Abstract

Latar belakang: Kusta adalah salah satu masalah penyakit endemis di Indonesia, menduduki peringkat ketiga dengan jumlah kasus baru terbanyak di dunia. Buruknya stigma sosial mengakibatkan banyak penderita enggan berobat, terlambatnya diagnosis dan pengobatan sehingga terjadi disabilitas fisik serta penurunan kualitas hidup. Diketahuinya faktor risiko kusta tipe multibasiler (MB) yang menjadi sumber penyebaran penyakit, meliputi data dasar, tingkat pengetahuan dan riwayat kontak fisik diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dan tenaga kesehatan dalam pencegahan dan deteksi dini kusta.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian kusta tipe MB di Poliklinik Kusta RSUD Tugurejo Semarang. Metode: Desain penelitian analitik observasional dengan rancangan cross-sectional dilakukan pada 20 penderita kusta tipe MB dan 11 penderita kusta tipe pausibasiler yang datang berobat ke Poliklinik Kusta RSUD Tugurejo Semarang pada bulan Agustus hingga Oktober 2019 dipilih secara consecutive sampling. Data didapatkan dari kuesioner yang diisi responden. Hasil: Mayoritas responden adalah laki-laki, usia 21-40 tahun, pendidikan terakhir SMA, pekerjaan sebagai karyawan swasta dan berdomisili di Semarang. Terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan mengenai kusta dengan kusta tipe MB dengan nilai p sebesar 0,038 pada uji chi-square, mayoritas tingkat pengetahuan rendah dan tidak ada riwayat kontak fisik. Tidak didapatkan hasil bermakna untuk riwayat kontak fisik. Kesimpulan: Tingkat pengetahuan mengenai kusta merupakan faktor risiko dari kusta tipe MB.Kata Kunci: faktor risiko; kusta tipe multibasiler; riwayat kontak fisik; tingkat pengetahuan
EFEKTIVITAS MADU DALAM FORMULASI PELEMBAP PADA KULIT KERING Sinulingga, Ernia Harinda; Budiastuti, Asih; Widodo, Aryoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.017 KB)

Abstract

Latar belakang: Kulit kering atau xerosis cutis didefinisikan sebagai gambaran hilangnya atau berkurangnya kadar kelembapan pada stratum korneum. Tingkat kekeringan pada kulit kering dipengaruhi oleh faktor endogen dan eksogen. Pelembap secara umum digunakan untuk meringankan kulit kering. Banyak pelembap menggunakan bahan sintetik untuk menjaga kelembapan kulit sedangkan bahan sintetik ini memiliki efek samping dalam pemakaian jangka panjang. Salah satu bahan alami yang dipercaya dapat melembapkan kulit dan mengantikan bahan-bahan tersebut adalah madu yang bersifat humektan, emolien dan antioksidan.Tujuan: Mengetahui efektivitas madu dalam formulasi pelembap pada kulit kering.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pre-test and post-test control group design. Subjek penelitian berjumlah 24 orang wanita yang dibagi menjadi dua kelompok yang memenuhi kriteria inklusi dengan rentang usia 30-50 tahun. Kelompok perlakuan diberikan krim pelembap dengan madu, sedangkan kelompok kontrol diberikan krim pelembap tanpa madu. Uji statistik menggunakan uji Shapiro Wilk, uji Mann-Whitney dan uji Wilcoxon .Hasil: Sebanyak 10 orang (83,3%) pada kelompok perlakuan mengalami penurunan skor ODS dan 2 orang (16,7%) tidak mengalami perubahan skor ODS, sedangkan pada kelompok kontrol hanya 4 orang (33,3%) yang mengalami penurunan skor ODS, 7 orang (58,3%) tetap dan 1 orang (8,4%) mengalami kenaikan skor ODS. Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara skor ODS pre-test dan post-test pada kelompok perlakuan dengan p=0,003 (p<0,05).Kesimpulan: Madu dalam formulasi pelembap efektif menurunkan tingkat kekeringan pada kulit kering.
FAKTOR RESIKO TERJADINYA VARISES VENA TUNGKAI BAWAH (VVTB) PADA PRAMUNIAGA DI KOTA SEMARANG Pratiknyo, Kuncoro Adi; Budiastuti, Asih; Widodo, YL Aryoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.254 KB)

Abstract

Background : Lower Limb Varicose Vein (LLVV) is (a condition where) normal vein (in leg) is dilated because of venous pressure increment. LLVV can create cosmetic problem because of discomfort feeling and unattractive appearance of patient?s leg. (LLVV can create discomfort and cosmetic problem because of unattractive appearance of patient?s leg)Objective: To investigate the factors associated with the occurrence of LLVV in salesclerk in Semarang.Method: This study is an analytical observational using case control study design. The samples were taken with consecutive sampling. Subjects were female salesclerk, comprised of 33 female salesclerk with LLVV (case) and 33 female salesclerk without LLVV (control). The collected data were the characteristics of subjects and related factor to LLVV. Data analysis was performed using SPSS Windows Ver. 20.Result: There was significant correlation in subjects with family history (p=0,009) and overweight/obesity (p=0,032) to the occurrence of LLVV. Subjects with family history had 4.2 times greater risk to suffer LLVV (OR=4.2; 95% CI=1.3 to 12.9) while subjects with overweight/obesity had 3.3 times greater risk to suffer LLVV (OR=3.3; 95% CI=1.0 to 10.1). There was no significant correlation in subjects with history of prolonged standing (p=0,105) to the occurrence of VVTB (OR=7,1; 95% CI=0.8 to 62.7).Conclusion: Risk Factors associated with the occurrence of LLVV are family history and overweight/obesity.
PENGARUH PENDEKATAN BLENDED LEARNING TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA SMA NEGERI 9 SEMARANG TENTANG INFEKSI MENULAR SEKSUAL Puspita, Ike Mega; Budiastuti, Asih; Pramono, Dodik
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.17 KB)

Abstract

terkena infeksi  menular seksual, dilaporkan lebih dari 3 juta kasus  per  tahun. Masa remaja membutuhkan perhatian khusus dalam mencegah terjadinya infeksi menular seksual dan perlu adanya kesadaran tentang pencegahan dan penanganan untuk mengatasi kejadian infeksi menular seksual terutama pada remaja dengan cara memberikan pendidikan kesehatan Oleh karena itu, dengan berkembangnya teknologi, dikembangkan metode yang lebih efektif yaitu metode blended learning.Tujuan Membuktikan pengaruh pendekatan blended learning terhadap pengetahuan dan sikap siswa SMA Negeri 9 Semarang tentang infeksi menular seksualMetode Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi-expeimental dengan rancangan pretest-posttest control group design.Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 9 Semarang dengan mengambil 6 kelas yang berjumlah 210 subjek. Masing-masing kelompok perlakuan terdiri dari 2 kelasHasil Penelitian ini menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap yang bermakna pada kelompok blended learning dan ceramah sebelum dan sesudah masing-masing diberikan penyuluhan dengan pendekatan blended learning dan ceramah (p=0,000) dan tidak terdapat perbedaan bermakna pada kelompok kontrol untuk pengetahuan (p=0,152) dan sikap (p=0,315). Penelitian ini juga menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan ceramah untuk selisih pengetahuan (p=0,000) dan selisih sikap (p=0,001), terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan blended learning untuk selisih pengetahuan (p=0,000) dan selisih sikap (p=0,000), dan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok ceramah dan blended learning untuk selisih pengetahuan (p=0,170). dan selisih sikap (p=0,527 ).Kesimpulan Terdapat pengaruh pendekatan blended learning terhadap pengetahuan dan sikap siswa SMA Negeri 9 Semarang tentang infeksi menular seksual.
HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN BEDAK PADAT DENGAN DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS Khansa, Adinda Luthfia; Budiastuti, Asih; Widodo, Aryoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.593 KB)

Abstract

Latar belakang : Penggunaan kosmetik, terutama bedak saat ini sudah menjadi hal yang umum tak terkecuali pada kalangan mahasiswi. Beberapa bahan yang digunakan dalam pembuatan bedak padat bersifat komedogenik dan aknegenik, dimana hal ini akan menyebabkan timbulnya akne vulgaris. Melalui penelitian ini akan dilakukan analisa hubungan antara penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris.  Metode : penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dengan sampel  48 mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang memenuhi kriteria inklusi (mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro yang menderita akne vulgaris, menggunakan bedak padat, berusia 17-22 tahun, serta bersedia menandatangani informed consent). Data yang dikumpulkan merupakan data primer dengan pengisian kuisioner dan pemeriksaan akne vulgaris. Analisis data menggunakan uji chi square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian : tidak didapatkan adanya hubungan antara penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris (p=0,2), tidak didapatkan adanya hubungan antara frekuensi penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris (p=0,9), tidak didapatkan adanya hubungan antara durasi penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris (p=0,5).  Kesimpulan : tidak ada hubungan antara penggunaan, frekuensi penggunaan, dan durasi penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris.Kata kunci : akne vulgaris, bedak padat
BEBERAPA FAKTOR RESIKO TERJADINYA DERMATITIS SEBOROIK PADA KARYAWAN GO-JEK KOTA SEMARANG Kusuma, Rova Budi; Budiastuti, Asih; Widodo, Aryoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368 KB)

Abstract

Latar Belakang: Dermatitis Seboroik adalah penyakit kulit kronis berulang pada area yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat predileksi yang memiliki banyak kelenjar sebasea. Karyawan GO-JEK Kota Semarang diperkirakan memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena Dermatitis Seboroik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa faktor resiko Dermatitis Seboroik pada Karyawan GO-JEK Kota Semarang. Tujuan: Mengetahui beberapa faktor resiko terjadinya Dermatitis Seboroik pada Karyawan GO-JEK Kota Semarang. Metode: Penelitian ini bersifat belah lintang dilakkan pada 22 Karyawan GO-JEK Kota Semarang sebagai subjek penelitian pada bulan Mei 2018. Diagnosis Dermatitis Seboroik ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis residen ilmu kesehatan kulit dan kelamin. Data diambil dengan kuesioner meliputi hygiene perorangan, durasi terpapar keringat dan lama kerja per hari. Data dianalisis dengan program komputer secara analitik dengan menggunakan uji chi-square atau fischer test dengan tingkat kemaknaan untuk variabel uji bivariat p<0,05. Kemudian dilakukan regresi logistik. Hasil: Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa lama kerja yang lama merupakan faktor resiko Dermatitis Seboroik RP= 20,158 (IK = 1,107-367,015) p = 0,042. Simpulan: Lama kerja yang lama merupakan faktor resiko Dermatitis Seboroik.Kata Kunci: Dermatitis Seboroik, faktor resiko, lama kerja.
PENGARUH PENDEKATAN BLENDED LEARNING TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA SMA KESATRIAN 1 SEMARANG TENTANG AKNE VULGARIS Nugroho, Weni Kartika; Budiastuti, Asih; Pramono, Dodik
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.025 KB)

Abstract

Latar Belakang Akne vulgaris diderita oleh sebagian besar remaja. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran terhadap pencegahan dan penanganan untuk mengatasinya dengan cara memberikan pendidikan kesehatan. Metode ceramah sering menjadi pilihan tetapi metode ini memiliki banyak kelemahan. Oleh sebab itu, terdapat pengembangan metode yang lebih efektif yaitu blended learning.Tujuan Mengetahui pengaruh pendekatan blended learning terhadap pengetahuan dan sikap siswa SMA Kesatrian 1 Semarang tentang akne vulgaris.Metode Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi-expeimental dengan rancangan pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Kesatrian 1 Semarang. Kelompok perlakuan dibagi menjadi kelompok blended learning, kelompok ceramah, dan kelompok kontrol yang masing-masing terdiri dari 2 kelas dengan jumlah total 208 subjek. Data diperoleh dari kuesioner yang diisi oleh setiap subjek dan kemudian dianalisis menggunakan SPSS.Hasil Penelitian ini menunjukkan peningkatan pengetahuan dan sikap yang bermakna pada kelompok blended learning dan ceramah sebelum dan sesudah masing-masing diberikan penyuluhan dengan pendekatan blended learning dan ceramah (p=0,000) dan tidak terdapat perbedaan bermakna pada kelompok kontrol untuk pengetahuan (p=0,456) dan sikap (p=0,057). Penelitian ini juga menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan ceramah untuk selisih pengetahuan (p=0,000) dan selisih sikap (p=0,001), terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan blended learning untuk selisih pengetahuan (p=0,000) dan selisih sikap (p=0,000), dan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok ceramah dan blended learning untuk selisih pengetahuan (p=0,894) dan selisih sikap (p=0,294).Kesimpulan Terdapat pengaruh pendekatan blended learning terhadap pengetahuan dan sikap siswa SMA Kesatrian 1 Semarang tentang akne vulgaris.
PENGARUH PEMAKAIAN MASKER MADU TERHADAP DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS Fitriani, Ulfah; Budiastuti, Asih; Widodo, Aryoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.825 KB)

Abstract

Latar belakang: Akne vulgaris merupakan kelainan kulit kronik pada unit pilosebasea yang ditandai dengan seborrhea, formasi komedo terbuka dan tertutup, pustula dan papula yang erimatus, serta pada kasus yang berat dapat disertai pustul yang dalam dan pseudokista. Madu memiliki senyawa hidrogen peroksida (H2O2) yang efektif sebagai zat antibakteri. Sifat antibakteri madu membantu mengatasi infeksi pada luka sedangkan aksi anti inflamasinya dapat mengurangi nyeri yang berpengaruh pada proses penyembuhan. Tujuan: Mengetahui adanya pengaruh pemberian madu terhadap derajat keparahan Akne Vulgaris. Metode: Penelitian ini merupakan studi klinis dengan desain randomized pre and post test control group. Subjek penelitian adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek penelitian diacak kedalam kelompok kontrol dan perlakuan, masing-masing kelompok terdiri dari 20 subyek dan lama penelitian selama 4 minggu atau. Data yang diperoleh merupakan data primer dengan mengisi kuisioner, menghitung jumlah lesi AV dan menentukan derajat keparahan AV. Hasil: Lesi total AV awal penelitian kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p=0,301), begitu pula dengan lesi total AV akhir penelitian (p=0,229). Perbedaan total lesi AV awal (20,95±10,98) dan akhir (12,32±12,23) kelompok kontrol berbeda bermakna (p<0,005). Terdapat penurunan bermakna (p<0,001) dari lesi AV awal (25,11±13,32)  dan akhir (15,21±12,54) pada kelompok perlakuan. Delta lesi kelompok kontrol dan perlakuan juga tidak berbeda bermakna (p=0,698). Pada akhir penelitian, derajat keparahan AV antara kedua kelompok didapatkan hasil akhir tidak berbeda bermakna (p=1,000). Kesimpulan: Tidak didapatkan hubungan bermakna antara pemakaian masker madu dengan derajat keparahan AV selama 4 minggu.Kata kunci: Akne vulgaris, derajat keparahan, masker madu.
FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA PADA PEKERJA SALON Audina, Daisha Vika; Budiastuti, Asih; Widodo, Y.L Aryoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.297 KB)

Abstract

Latar Belakang: Dermatitis kontak merupakan reaksi peradangan pada kulit akibat bahan yang kontak dengan kulit. Dermatitis kontak akibat kerja dapat ditemui pada pekerja salon yang umunya timbul karena kontak dengan bahan penyebab ketika melakukan tugas seperti pewarnaan rambut, pelurusan, dan pengeritingan rambut.Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dan menjadi penyebab terjadinya dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja salon di kota Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dimana pengumpulan data dilakukan pada satu saat atau satu periode tertentu dan pengamatan studi hanya dilakukan satu kali. Teknik pengambilan sampel menggunakan cara cluster sampling dan didapat 41 pekerja salon di kecamatan Tembalang dan Banyumanik, kota Semarang. Data diambil dengan metode wawancara menggunakan instrument kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitasnya. Data yang didapatkan berupa data karakteristik responden, faktor yang berhubungan dengan terjadinya dermatitis kontak dan data klinis. Data tersebut kemudian dianalisis dengan uji chi square / uji fisher. Analisa data menggunakan uji regresi logistic dengan tingkat kemaknaan p<0,05; Interval Kepercayaan 95%.Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa dari 41 responden, 23 diantaranya mengalami dermatitis kontak akibat kerja (56,1%).  Hasil analisa statistik didapatkan jenis pekerjaan (p=0,049), frekuensi paparan (p=0,037), memiliki hubungan yang bermakna terhadap terjadinya dermatitis kontak akibat kerja. Sedangkan penggunaan alat pelindung diri (p=0,228), tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap terjadinya dermatitis kontak akibat kerja.Kesimpulan: Jenis pekerjaan dan frekuensi paparan merupakan faktor penyebab terjadinya dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja salon. Sedangkan penggunaan alat pelindung diri bukan merupakan faktor penyebab terjadinya dermatitis kontak pada pekerja salon.
KORELASI KADAR TNF-α DAN SKOR PSORIASIS AREA AND SEVERITY INDEX (PASI) PADA PASIEN PSORIASIS Budiastuti, Asih
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 2 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.837 KB)

Abstract

ABSTRACTCorrelation of serum TNF-? levels and psoriasis area and severity index (PASI) score in psoriatic patientsBackround: Psoriasis is a chronic inflammatory disease characterized by erythematous scaly patches. Psoriasis affects ±2.5% of world population, and 20-30% patients have moderate to severe psoriasis. Psoriatic patients have increased proinflammatory Th1 cytokines expression, including TNF-?, with relative deficiency of Th2 cytokines. Psoriasis area and severity index (PASI) is a subjective method which commonly used to measure disease severity. This study was aimed to determine the correlation betweenserum TNF-? level and PASI score, in order to obtain objective method for measuring disease severity.Method: This was an observational study performed psoriatic patients. Subjects underwent PASI score examination and serum TNF-? assay using ELISA.Result: Subjects were 16 patients (6 females and 10 males), with mean age of 51 years. Serum TNF-? levels ranged from 15,0-202,4 pg/mL. PASI score ranged from 0,3-55,8. The test showed no significant correlation between PASI score and serum TNF-? level. (?=-0,265; p=0,322)Conclusion: Serum TNF-? can not be used as clinical parameter of psoriasis severity.Keywords: Psoriasis, TNF-?, PASI scoreABSTRAKLatar belakang: Psoriasis adalah penyakit peradangan kronik dengan gambaran klinis berupa plakat bersisik berwarna merah terang. Penyakit ini mengenai ±2,5% dari populasi dunia, dimana 20-30% menderita psoriasis sedang sampai berat. Pada psoriasis terjadi peningkatan ekspresi sitokin pro inflamasi Th1, di antaranya TNF-?, dan defisiensi relatif sitokin Th2. Skor psoriasis area and severity index (PASI) adalah metode yang paling banyak digunakan untuk mengukur derajat keparahan psoriasis, namun metode ini bersifat subyektif. Penelitian ini bertujuan menentukan apakah terdapat korelasi antara kadar TNF-? serum dan skor PASI, guna mendapatkan parameter obyektif untuk mengukur derajat keparahan psoriasis.Metoda: Penelitian ini merupakan penelitian observasional pada pasien psoriasis. Subyek penelitian menjalani pemeriksaan skor PASI, lalu diperiksa kadar TNF-? serum menggunakan metode ELISA.Hasil: Subyek penelitian terdiri atas 16 penderita (6 wanita dan 10 laki-laki) dengan rerata usia 51 tahun. Rentang kadar TNF-? pada penderita 15,0 pg/mL -202,4 pg/mL. Rentang skor PASI penderita adalah 0,3-55,8. Uji korelasi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna (?=-0,265; p=0,322) antara skor PASI dan kadar TNF-?, tanpa pengendalian berbagai faktor pengganggu.Simpulan: Kadar TNF-? serum belum dapat dipakai sebagai parameter keparahan psoriasis