Bestari Jaka Budiman
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Rinosinusitis Kronis dengan Komplikasi Abses Periorbita Huriyati, Effy; Budiman, Bestari Jaka; Anwar, Heru Kurniawan
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAbses periorbita merupakan salah satu komplikasi dari rinosinusitis baik akut ataupun kronis. Beberapa faktor sangat berperan pada penyebab penyebaran rinosinusitis ke orbita. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik baik THT ataupun Mata, pemeriksaan nasoendoskopi, pemeriksaan penunjang tomografi komputer dengan gambaran perselubungan pada sinus paranasal dan orbita serta MRI. Penatalaksanaan konservatif berupa pemberian antibiotik intravena spektrum luas dan atau kombinasi, dekongestan serta kortikosteroid. Sedangkan pembedahan dapat melalui pendekatan eksternal atau pendekatan bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF). Dilaporkan satu kasus rinosinusitis kronis dengan komplikasi abses periorbita pada laki-laki umur 16 tahun dan telah diberikan terapi konservatif selama 48 jam tetapi tidak ada perbaikan sehingga dilanjutkan dengan pembedahan melalui pendekatan BSEFKata kunci: abses periorbita, rinosinusitis kronis, bedah sinus endoskopiAbstractPeriorbital abscess is a complication of acute or chronic rhinosinusitis. There was some factors can caused the spread of rhinosinusitis into orbital region. Diagnosis can be confirmed by anamnesis, physical examination either ENT department or Opthalmic department, nasoendoscopic, computer tomographic that showed homogenous appearence on the orbital and paranasal sinuses and also MRI. Conservative management with the provision of broad-spectrum and or combination intravenous antibiotics, decongestants and corticosteroid. The surgery management can be performed with esternal approach or functional endoscopic sinus surgery (FESS). One case of chronic rhinosinusitis with complications periorbital abscess in boy aged 16 years old had presented and had given conservative therapy for 48 hours, since there is no improvement, the management then continued with FESS.Keywords: periorbital abscess, chronic rhinosinusitis, endoscopic sinus surgery
Profil Pasien Rinosinusitis Kronik di Poliklinik THT-KL RSUP DR.M.Djamil Padang Trihastuti, Hesty; Budiman, Bestari Jaka; Edison, Edison
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Rinosinusitis kronik adalah inflamasi kronik pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang sering terjadi, tetapi belum ada data mengenai profil pasien rinosinusitis kronik di RSUP Dr.M.Djamil Padang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan mengambil data rekam medis THT-KL RSUP Dr.M.Djamil periode 1 Januari – 31 Desember 2012 dengan metode total sampling. Terdapat 63 kasus rinosinusitis kronik di poliklinik THT-KL RSUP Dr.M.Djamil Padang periode 1 Januari – 31 Desember 2012. Kasus rinosinusitis kronik paling banyak terjadi pada kelompok usia 46 – 55 tahun (22,22%) dan banyak terjadi pada perempuan (60,32%). Berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan paling banyak adalah deviasi septum (41,27%). Gejala klinik paling banyak adalah hidung tersumbat (88,89%). Berdasarkan pemeriksaan rinoskopi anterior dan nasoendoskopi ditemukan kelainan pada kavum nasi, konka inferior, konka media, dan sekret. Disimpulkan bahwa rinosinusitis kronik banyak terjadi pada usia dewasa, jenis kelamin perempuan, tanda dan gejala yang ditemukan deviasi septum, gejala berupa hidung tersumbat, sertaditemukan kelainan berdasarkan pemeriksaan rinoskopi anterior dan nasoendoskopi.Kata kunci: rinosinusitis kronik, pemeriksaan rinoskopi anterior, pemeriksaan nasoendoskopi AbstractChronic rhinosinusitis is a common chronic inflammation of the nose and paranasal sinuses mucosa, but there  is no data about profile of chronic rhinosinusitis patients at ENT clinic Dr.M.Djamil general hospital Padang. This research uses descriptive method by taking the data from the medical records at ENT clinic of Dr.M.Djamil general hospital during 1 January – 31 December 2012 with the method is total sampling. There are 63 chronic rhinosinusitis cases at ENT clinic Dr.M.Djamil Padang general hospital during 1 January – 31 December 2012. Most cases of chronic rhinosinusitis occurred in the age group 46 – 55 years old (22.22%) and higher in female (60.32%). The most sign and symptom finding is septal deviation (41.27%). The most clinical symptom is nasal obstruction (88.89%). Fromanterior rhinoscopy and nasoendoscopy examination, there are founded abnormalility of nasal cavity, inferior turbinate, middle turbinate, and nasal discharge. The conclusion is chronic rhinosinusitis often happened at adult ages, female, septal deviation as the most sign and symptom finding, nasal obstruction as the clinical symptom, and abnormal findings from anterior rhinoscopy and nasal endoscopy examination.Keywords: chronic rhinosinusitis, anterior rhinoscopy examination, nasal endoscopy examination
Faktor Risiko Non Viral Pada Karsinoma Nasofaring Rahman, Sukri; Budiman, Bestari Jaka; Subroto, Histawara
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak           Latar belakang: Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas epitel nasofaring yang sampai saat ini penyebabnya belum diketahui, infeksi virus Epstein Barr dilaporkan sebagai faktor dominan terjadinya karsinoma nasofaring tetapi faktor non viral juga berperan untuk timbulnya keganasan nasofaring. Tujuan: Untuk mengetahui faktor non viral  yang dapat meningkatkan kejadian karsinoma nasofaring sehingga dapat mencegah dan menghindari faktor-faktor non viral tersebut. Tinjauan Pustaka: Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas epitel nasofaring yang penyebabnya berhubungan dengan faktor viral dan non viral diantaranya asap rokok, ikan asin, formaldehid, genetik, asap kayu bakar , debu kayu, infeksi kronik telinga hidung tenggorok, alkohol dan obat tradisional. Kesimpulan: Pembuktian secara klinis dan ilmiah terhadap faktor non viral sebagai penyebab timbulnya karsinoma nasofaring masih belum dapat dijelaskan secara pasti. Faktor non viral merupakan salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan angka kejadian timbulnya keganasan nasofaring Kata kunci: karsinoma nasofaring, faktor risiko, non viral AbstractBackground: Nasopharyngeal carcinoma is a malignant epithelial nasopharyngeal tumor that until now the cause still unknown, Epstein barr virus infection had reported as predominant occurance of nasopharyngeal carcinoma but non viral factors may also contribute to the onset of the incidence of nasopharyngeal malignancy. Purpose: To find non viral factors that may increase the incidence of nasopharyngel carcinoma in order to prevent and avoid non-viral factors Literature: Nasopharyngeal carcinoma is a malignant tumor that causes nasopharyngeal epithelium associated with viral and non-viral factors such as cigarette smoke, salt fish, formaldehyde, genetic, wood smoke ,wood dust, ear nose throat chronic infections, alcohol, and traditional medicine. Conclusion: Clinically and scientifically proving the non-viral factors as the cause of nasopharyngeal carcinoma can not be explained with certainty. Non-viral factors only as one risk factor that can increase the incidence of the onset of nasopharyngeal carcinoma. Keywords:  nasopharyngeal carcinoma, risk factor, non viral
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN POTT’S PUFFY TUMOR DENGAN PENDEKATAN ENDONASAL DAN EKSTERNAL Hamdy, Faisal; Budiman, Bestari Jaka
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 4 (2019): Dipublikasi Desember 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i4.1112

Abstract

AbstrakPott?s puffy tumor adalah abses subperiosteal pada dinding anterior sinus frontal yang terjadi akibat osteomielitis tulang frontal. Pott?s Puffy tumor merupakan komplikasi dari sinusitis frontal dan trauma kepala pada bagian frontal. Pott?s Puffy tumor memberikan gejala klinis berupa bengkak dan edema pada dahi dan kulit kepala. Penatalaksanaan Pott?s puffy tumor bertujuan untuk drainase sinus, membersihkan jaringan tulang yang terinfeksi, dan membersihkan jaringan granulasi. Dilaporkan satu kasus rinosinusitis kronis dengan polip nasi dengan komplikasi Pott?s puffy tumor pada seorang wanita berusia 36 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, nasoendoskopi dan CT scan sinus paranasal. Penatalaksanaan yang dilakukan adalah Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) untuk drainase sinus frontal dan pendekatan perkutaneus (external approach) untuk membersihkan jaringan dan tulang yang terinfeksi. Pott?s puffy tumor merupakan komplikasi rinosinusitis kronis yang sangat jarang terjadi. Penatalaksanaan Pott?s puffy tumor dilakukan dengan pendekatan medikamentosa dan bedah untuk drainase sinus frontal dan untuk membersihkan jaringan dan tulang yang terinfeksi.
Trombosis Sinus Kavernosus Akibat Komplikasi Furunkulosis Hidung Budiman, Bestari Jaka; Irfandy, Dolly; Huriyati, Effy; Lestari, Dewi Yuri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trombosis sinus kavernosus merupakan kasus yang jarang, tetapi dapat mengancam kehidupan. Penyebab trombosis dapat berasal dari infeksi daerah sinonasal, midface atau orbita. Gejala klinis meliputi gejala yang melibatkan mata dan beberapa nervus kranial. Penatalaksanaan pada trombosis sinus kavernosus terdiri dari pemberian antibiotik, pembedahan terhadap sumber infeksi, kortikosteroid dan pemberian antikoagulan yang masih kontroversial. Dilaporkan satu kasus trombosis sinus kavernosus akibat komplikasi furunkulosis hidung pada pasien laki-laki 13 tahun dengan penurunan penglihatan pada kedua mata. Pasien diberi terapi antibiotik empirik dan kortikosteroid, memperlihatkan perbaikan. Simpulan studi ini ialah trombosis sinus kavernosus merupakan kondisi yang fatal. Terapi yang segera dan tepat dapat memberikan prognosis yang lebih baik. Penatalaksanaan medikamentosa merupakan pengobatan dasar trombosis sinus kavernosus.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Angiofibroma Septum Nasi Riskiah, Suci; Budiman, Bestari Jaka
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 3
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Angiofibroma merupakan tumor yang bersifat jinak secara histopatologis tetapi secara klinis bersifat ganas. Kasus Angiofibroma di septum nasi merupakan kasus yang jarang. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologi.  Sebagian besar dokter mempertimbangkan operasi sebagai pilihan penatalaksanaan. Laporan kasus: Dilaporkan pasien laki-laki    14 tahun dengan diagnosis angiofibroma septum nasi. Pada pasien dilakukan Rinoplasti eksterna untuk ekstirpasi tumor dalam bius umum. Ekstirpasi diawali dengan insisi traskolumela inverted V dan pasien dievaluasi selama 1 bulan. Kesimpulan: Angiofibroma septum salah satu tumor angiofibroma ekstranasofaring yang sangat jarang terjadi. Tumor ini memiliki histopatologi yang sama dengan angiofibroma nasofaring. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologi dan penatalaksanaan dengan cara ekstirpasi massa secara keseluruhan.
PENATALAKSANAAN PLEOMORFIK ADENOMA PALATUM Rahman, Sukri; Budiman, Bestari Jaka; Yolazenia, Yolazenia
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v38.i1.p66-72.2015

Abstract

AbstrakPleomorfik adenoma merupakan tumor jinak campuran yang terdiri dari komponen sel epitel, mioepitel dan mesenkim yang tersusun dalam beberapa variasi. Tumor ini paling sering ditemukan pada kelenjar liur. Kelenjar liur mayor yang paling umum dikenai adalah kelenjar parotis, sedangkan kelenjar liur minor paling sering terjadi pada palatum. Terapi pilihan untuk pleomorfik adenoma kelenjar liur adalah reseksi tumor. Kasus ini diajukan agar dokter umum dan dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok dapat mengetahui diagnosis dan penatalaksanaan pasien dengan pleomorfik adenoma pada palatum. Dilaporkan satu kasus pada seorang pasien laki-laki umur 49 tahun dengan benjolan yang tidak nyeri di palatum sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, histopatologi mengkonfirmasi pleomorfik adenoma sebagai diagnosisnya. Pada pasien ini dilakukan reseksi tumor sebagai penatalaksanaannya. Tumor jinak pada palatum sering berupa pleomorfik adenoma yang bila dilakukan reseksi tumor secara komplit memberikan prognosis yang baik.AbstractPleomorphic adenoma is a benign mixed tumour composed of epithelial, myoepithelial, and mesenchymal components arranged with various morphological patterns. This is the most common tumour of the salivary glands. The parotid gland was the most commonly affected major gland, and the palate the most common site of minor salivary gland involvement. Treatment of choice for pleomorphic adenoma of salivary gland is tumour resection. This case is presented to enlighten general practitioners and also otorhino-laryngologists about diagnosis and treatment of pleomorphic adenoma of the palate. Reported case of a 49 years old male with painless mass on the palate since 3 months before admission. Pathologic examination confirmed the diagnosis was pleomorphic adenoma. Tumour resection was performed to manage the patient. Pleomorphic adenoma is the most common benign tumour of the palate, which has good prognosis with complete resection of the tumour.
Penatalaksanan deviasi septum dengan septoplasti endoskopik metode open book Budiman, Bestari Jaka; Pulungan, Muhammad Rusli
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 42, No 1 (2012): Volume 42, No. 1 January - June 2012
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.51 KB) | DOI: 10.32637/orli.v42i1.33

Abstract

Background: Septal deviation is a nasal anatomical abnormality which is most commonly found. Septal deviation can occur without any symptom but could also lead to nasal disfunction or deformities that need correction. Septoplasty is a modern concept for the surgical correction of septal defects. Progress in endoscopy has provided a great benefit in septoplasty. Endoscopic septoplasty improves the precision of the operation by better visualization and zooming of the target, therefore reducing the complications of septoplasty. Endoscopic septoplasty with open book method is one of the methods used in septal deviation management. Purpose: To present the management of septal deviation by endoscopic septoplasty with open book method. Case: A case of septal deviation with crest right septum in a male 43 years old. Management: Open book method of endoscopic septoplasty. Conclusion: Management of septal deviation with open book method endoscopic septoplasty gives an excellent exposure to a wide  area of the septum. This condition enhance the effectiveness in the correction of septal abnormality and decreases the complication. Key words: endoscopy, septoplasty, septal deviation, , open book method.   Abstrak :  Latar Belakang: Deviasi septum merupakan kelainan anatomi hidung yang paling banyak ditemukan. Deviasi septum dapat muncul tanpa gejala namun dapat juga mengakibatkan kelainan fungsi hidung maupun kelainan bentuk sehingga perlu dilakukan koreksi. Septoplasti merupakan konsep modern bedah untuk melakukan koreksi kelainan septum. Kemajuan di bidang endoskopi telah memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan teknik septoplasti. Septoplasti endoskopik meningkatkan ketepatan target operasi dengan visualisasi yang baik dan pembesaran target, sehingga dapat mengurangi komplikasi yang terjadi akibat septoplasti. Septoplasti endoskopik dengan metode open book merupakan salah satu metode yang dipakai dalam penatalaksaan deviasi septum. Tujuan: Mempresentasikan penatalaksanaan deviasi septum dengan septoplasti endoskopik dengan metode open book. Kasus: Satu kasus deviasi septum dengan krista pada septum sebelah kanan pada seorang lakilaki umur 43 tahun. Penatalaksanaan: Septoplasti endoskopik dengan metode open book. Kesimpulan: Penatalaksanaan deviasi septum dengan septoplasti endoskopik metode open book  memberikan pemaparan septum yang baik dan area yang lebih luas. Kondisi ini memberikan kemudahan untuk melakukan koreksi terhadap kelainan septum dan mengurangi komplikasi.   Kata kunci: septoplasti, endoskopi, deviasi septum, , metode open book
Peran biofilm bakteri terhadap derajat keparahan rinosinusitis kronis berdasarkan skor Lund-Mackay Yolazenia, Y; Budiman, Bestari Jaka; Huriyati, Effy; Djamal, Aziz; Machmud, Rizanda; Irfandy, Dolly
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 47, No 2 (2017): Volume 47, No. 2 July - December 2017
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.193 KB) | DOI: 10.32637/orli.v47i2.220

Abstract

Latar belakang: Rinosinusitis kronis (RSK) adalah penyakit inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung lebih dari 12 minggu. Berbagai kondisi telah dikaitkan dengan patogenesis penyakit ini, seperti infeksi bakteri, jamur, superantigen, dan biofilm. Banyak penelitian telah menunjukkan terdapatnya biofilm bakteri pada pasien dengan RSK. Biofilm bakteri dapat memfasilitasi terjadinya resistensi pada antibiotik. CT Scan sinus paranasal (SPN) merupakan pemeriksaan penunjang pilihan untuk diagnosis radiologik RSK. Lund dan Mackay telah mengembangkan suatu sistem berdasarkan skor dari CT Scan SPN untuk menilai kuantifikasi proses peradangan pada sinus paranasal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan biofilm bakteri memiliki skor Lund-Mackay CT Scan SPN yang lebih tinggi pada saat pra operatif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran biofilm bakteri terhadap derajat keparahan RSK berdasarkan skor Lund-Mackay. Metode: Penelitian ini adalah penelitian cross-sectional dengan jumlah total sampel adalah 48 orang pasien RSK. Sekret hidung diambil menggunakan kapas lidi steril dengan swab pada meatus medius lalu dilakukan identifikasi bakteri dan pemeriksaan biofilm dengan tube method. Skor Lund-Mackay dihitung dari CT Scan SPN potongan koronal. Data dianalisis dengan uji Fisher. Hasil: Proporsi pasien RSK dengan skor Lund-Mackay yang tinggi lebih banyak pada pasien dengan biofilm (46,2%), dibandingkan tanpa biofilm (44,4%). Secara statistik tidak terdapat perbedaan bermakna pada skor Lund-Mackay antara pasien dengan biofilm dan tanpa biofilm (p=1,000). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara biofilm bakteri dengan derajat keparahan RSK berdasarkan skor Lund-Mackay. Kata Kunci: Rinosinusitis kronis, biofilm bakteri, tube method, skor Lund-Mackay ABSTRACT Background: Chronic rhinosinusitis (CRS) is inflammation of the nose and paranasal sinuses with the symptoms duration more than 12 weeks. Many conditions have been linked to its pathogenesis such as bacterial and fungal infection, superantigens and biofilm. Many studies showed the presence of bacterial biofilms in patients with CRS. Bacterial biofilms can facilitate the resistance to antibiotics. Paranasal sinuses (PNS) CT scan is the method of choice for radiological diagnosis of CRS. Lund and Mackay has developed a scoring system based on the CT finding to assess the quantification of inflammatory process in PNS. Some research suggested that patients with bacterial biofilms have higher Lund-Mackay score pre-operatively. Purpose: To determine the role of bacterial biofilms to the severity of CRS according to Lund-Mackay score. Methods: This was a cross-sectional study with 48 CRS patient’s sample. Nasal discharges were taken by swab in middle meatal using sterile cotton buds, followed by identification of bacteria and detection of bacterial biofilms using tube method. Lund-Mackay score was counted from coronal section of PNS CT Scan. Data was analyzed by Fisher’s exact test. Results: Proportion of patients CRS with high Lund-Mackay score was more common in patient with biofilm (46.2%) compared to patients without biofilm (44.4%). Statistically, there was no significant difference of Lund-Mackay score between patient with biofilm and without biofilm (p=1.00). Conclusion: There was no relationship between the bacterial biofilm with the severity of CRS according to Lund-Mackay score. Keywords: Chronic rhinosinusitis, bacterial biofilm, tube method, Lund-Mackay scores
Biofilm Bakteri pada Penderita Rinosinusitis Kronis Yolazenia, Yolazenia; Budiman, Bestari Jaka; Irfandy, Dolly
Jurnal Kesehatan Melayu Vol 1, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.208 KB) | DOI: 10.26891/jkm.v1i2.2018.106-113

Abstract

Banyak dilaporkan kegagalan pengobatan pada rinosinusitis kronis (RSK) disebabkan resistensi terhadap antibiotik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa biofilm bakteri berperan penting pada etiologi dan persistensi dari RSK. Penulisan tinjauan pustaka ini adalah untuk mengetahui implikasi biofilm bakteri pada penderita RSK. Rinosinusitis kronis adalah penyakit inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung dalam waktu lebih dari 12 minggu. Biofilm adalah suatu struktur komunitas sel-sel bakteri yang ditutupi oleh matriks polimer yang dihasilkan sendiri dan menempel pada permukaan. Berbagai penelitian menunjukkan terdapatnya biofilm bakteri pada mukosa sinonasal penderita RSK dan berhubungan dengan resistensi terhadap pengobatan dengan antibiotika. Berbagai pemeriksaan untuk mendeteksi biofilm yaitu Scanning Electron Microscopy (SEM), Transmission Electron Microscopy (TEM), Confocal Scanning Laser Microscopy (CSLM), modifikasi Calgary Biofilm Device Assay, Tube Method dan Congo Red Agar Method. Beberapa terapi potensial untuk mengatasi biofilm pada RSK sedang berkembang.