Ahmad Najib Burhani
The Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Jakarta

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Pluralism, Liberalism, and Islamism: Religious Outlook of Muhammadiyah Burhani, Ahmad Najib
Studia Islamika Vol 25, No 3 (2018): Studia Islamika
Publisher : Center for Study of Islam and Society (PPIM) Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.122 KB) | DOI: 10.15408/sdi.v25i3.7765

Abstract

Muhammadiyah has been perceived as an example of a successful blend between Islam and modernity. By adopting modern spirit of discipline, equality, and a hard work ethics, this organization has become a vibrant and independent movement. The number of Muhammadiyah educational and health institutions is only surpassed by those owned by the Indonesian government. Muhammadiyah has 177 universities; thousands of secondary, middle, and elementary schools, as well as hundreds of hospitals and other health institutions. However, the organization’s successes in social, educational, and economic do not necessarily indicate that it also embraces pluralistic values and religious tolerance. This paper, therefore, intends to describe Muhammadiyah’s position in the context of pluralism, liberalism, and Islamism. It argues that although Muhammadiyah is predominated by members with moderate religious inclinations, but a significant number of them are exclusively puritan in their theology. The organization’s focus on social services is the reason why Muhammadiyah has evaded Islamist tendencies.
The limits of religious freedom in Indonesia: with reference to the first pillar Ketuhanan Yang Maha Esa of Pancasila Mu'ti, Abdul; Burhani, Ahmad Najib
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 1 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v9i1.111-134

Abstract

Surveys and researches have indicated various factors leading to or instigating the rise of religious intolerance in Indonesia after the Reformasi in 1998. This study, however, aims to see intolerance and discrimination as something embedded in Indonesian ideology, i.e. Pancasila, which seems to be lacking in previous studies, including the studies on the connection between Pancasila and discriminative regulations implemented is several districts and provinces in Indonesia. The questions dealt with in this paper are the following: Why did religious radical groups able to exert their influence to the government and moderate Muslim majority in treating minorities? What are, if any, the constitutional and legal limits of religious freedom in Indonesia? This paper aims to scrutinize constitutional and legal documents, including the first pillar of Pancasila, to find their shortcomings in protecting religious freedom. This paper argues that Pancasila has set Indonesia into religiously monotheistic state, which provided the government the necessary tool to force non-theistic, polytheistic, and non-monotheistic religions to modify their theological beliefs in order to be accepted as recognized or official religions. Pancasila also justifies the existence of favoritism to certain religions deemed fit to this ideology. Berbagai survei dan penelitian telah menunjukkan berbagai faktor yang menyebabkan atau memicu bangkitnya intoleransi beragama di Indonesia setelah Reformasi tahun 1998. Penelitian ini ingin melihat intoleransi dan diskriminasi sebagai sesuatu yang secara tak sadar tertanam dalam ideologi Indonesia, yaitu Pancasila. Tema ini tampaknya kurang menjadi perhatian dalam studi sebelumnya, termasuk studi tentang hubungan antara Pancasila dan peraturan diskriminatif yang diterapkan di beberapa kabupaten dan provinsi di Indonesia. Pertanyaan yang dibahas dalam artikel ini diantaranya adalah: Mengapa kelompok-kelompok radikal keagamaan dapat mempengaruhi pemerintah dan mayoritas umat Muslim yang moderat dalam bersikap terhadap kelompok minoritas? Apa, jika ada, batasan konstitusional dan legal kebebasan beragama di Indonesia? Artikel ini bertujuan untuk meneliti dokumen dokumen konstitusional dan hukum, termasuk pilar pertama Pancasila, untuk menemukan kekurangan dalam melindungi kebebasan beragama. Artikel ini berargumen bahwa Pancasila telah menetapkan Indonesia menjadi negara monoteistik religius, yang memberikan pemerintah piranti yang diperlukan untuk memaksa agama-agama non-teistik, politeistis, dan non-monoteistik untuk memodifikasi keyakinan teologis mereka agar diterima sebagai agama yang diakui atau resmi. Pancasila juga membenarkan keberadaan favoritisme untuk agama-agama tertentu yang dianggap cocok dengan ideologi ini.
Fasting in Countries Where The Day is Very Long or Very Short: A Study of Muslims in the Netherlands Burhani, Ahmad Najib
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 51, No 1 (2013)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2013.511.159-188

Abstract

Ramadan falls both during winter and autumn months, when the days are cool and short, and spring and summer months, when the days are long and hot. Fasting in areas where the climate is extremely hot and the day is more than twenty hours is a double hardship that can be a dangerous assault on physical condition. In contrast to that, fasting in areas where the day is very short is, to some extent, like an interval between breakfast and lunch or between lunch and dinner. This article, therefore, intends to discover how Muslims in the countries where the day is either very long or very short deal with the problem of the fasting time. This research is based on the practices of some Muslims in the Netherlands with a variety of countries of origin. This article attempts to answer the following questions: How did they manage their fasting time in the summer or when the day is very long? How did they manage their fasting time in the winter or when the day is very short? What kind of fiqh book or fatwā did they use as reference? Did they think that fasting obligation was dangerous for their health when the day was very long?[Bulan Ramadan bisa tiba pada musim dingin dan musim gugur, ketika siang hari pendek dan sejuk, tetapi Ramadan juga bisa tiba pada musim semi dan musim panas, ketika siang hari sangat panjang dan panas. Puasa di tempat yang sangat panas dan dengan panjang siang hari lebih dari dua puluh jam adalah beban yang berat dan bisa berbahaya bagi kondisi fisik pelakunya. Sebaliknya, puasa di tempat yang siang harinya sangat pendek terasa tak seperti puasa karena ia hanya seperti interval antara makan pagi dan makan siang atau antara makan siang dan makan malam. Tulisan ini didasarkan pada penelitian terhadap praktik berpuasa orang-orang Islam di Belanda dari berbagai negara asal. Pertanyaan yang ingin dijawab dalam tulisan ini adalah: Bagaimana umat Islam Belanda melaksanakan puasa pada musim panas atau ketika siang hari teramat panjang? Bagaimana pula mereka menjalankan puasa pada musim gugur atau ketika siang hari sangat pendek? Buku fikih apa atau fatwa dari siapa yang mereka pakai sebagai dasar praktik ibadah puasa itu? Apakah mereka berpikir bahwa praktik puasa di musim yang siang harinya sangat panjang akan berbahaya bagi kesehatan mereka?
Sectarian Translation of the Qur’an in Indonesia: The Case of the Ahmadiyya Burhani, Ahmad Najib
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.251-282

Abstract

Ahmadiyya’s translations of the Quran have some distinctive characteristics compared to the translations from Sunni Muslims. However, these translations, particularly Soedowo-Dutch translation of Muhammad Ali’s The Holy Quran, have been influential in Indonesian Sunni community in the first half of the 20th century. Against the opposition from the Muhammadiyah and the fatwa from Muhammad Rashid Rida of Egypt, which prohibited the use of Ahmadiyya’s translation, the Soedewo-Dutch translation was widely used by Dutch-educated intelligentsia as a main source to know about Islam. This article specifically answers the following questions: Why did Ahmadiyya’s translations of the Quran have a significant place in Indonesia? What was the appeal of these translations to Indonesian intelligentsia? What is the contribution of these translations to the study of the Quran in this country? This paper argues that the success of Ahmadiyya’s translation, particularly the Dutch version, during the revolution era is based on three reasons: language (Dutch is the language of intelligentsia), content (which fit with the need of intelligentsia who seek a harmonious understanding between religie and wetenschap), and form (the only available rendering of the Quran in modern form of publication). In the context of ideology, the reception of Muslim intelligentsia was mainly for their contribution in defending Islam against the penetration of Christian mission and the coming of anti-religion ideologies, particularly materialism and atheism, by strongly challenging their doctrines. [Terjemah al-Quran versi Ahmadiyah memiliki beberapa karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan terjemah versi Islam sunni pada umumnya.  Namun demikian, terjemah seperti di atas, khususnya terjemah al-Quran dalam bahasa Belanda --yang dialih-bahasakan dari The Holy Qur’ān karya Muhammad Ali oleh Soedowo-- cukup berpengaruh di masyarakat muslim Indonesia pada paruh pertama abad ke-20. Bertentagan dengan fatwa dari Muhammadiyah maupun dari Muhammad Rashid Rida yang melarang penggunaan terjemah versi Ahmadiyyah, terjemha Soedewo ini justru menjadi rujukan bagi kalangan terdidik untuk memahami Islam. Tulisan ini secara khusus menjawab pertanyaan: mengapa terjemah al-Quran versi Ahmadiyyah ini cukup berpengaruh di Indonesia, apa yang menarik dari tterjemah ini bagi mereka, serta apa sumbangan pemikiran terjemah ini pada perkembangan keilmuan al-Quran di negeri ini. Menurut penulis, terjemah versi Ahmadiyyah, khususnya yang berbahasa Belanda, mengalami kesuksesan pada masa revolusi dipengaruhi oleh tiga hal: (1) bahasa Belanda  yyang dipakai adalah bahasa kalangan terdidik, (2) isinya sesuai dengan kebutuhan kalangan terpelajar yang ingin mencari pemahaman yang harmonis antara agama dan ilmu pengetahuan, dan (3) terjemah ini merupakan satu-satunya bentuk publikasi modern dari terjemah al-Quran yang ada pada masa itu. Dalam konteks ideologi, penerimaan kaum intelektual ini terutama terkait dengan upaya perlawanan Islam terhadap tekanan misi Kristen dan masuknya ideologi-ideologi anti agama, khususnya materialisme dan atheisme.]
THE IDEOLOGICAL SHIFT OF MUHAMMADIYAH FROM CULTURAL INTO PURITANICAL TENDENCY IN 1930s Burhani, Ahmad Najib
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.622 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v8i1.178

Abstract

Tulisan ini ingin menunjukkan adanya pergeseran ideologi di Muhammadiyah dari tendensi kultural menuju tendensi puritan. Pada awal berdirinya, Muhammadiyah merupakan representasi Islam varian Jawa. Ia lahir di Kauman, satu tempat dalam lingkungan tembok Kesultanan Yogyakarta, oleh sejumlah abdi dalem Kraton tersebut. Ia dibangun dengan inspirasi dan kesadaran seorang Islam-Jawa tulen, Raden Ngabehi Muhamad Darwisy (KH Ahmad Dahlan). Pada perkembangannya, terjadi satu pergeseran di organisasi yang berdiri 1912 ini, seolah-olah NU (Nahdlatul Ulama) lebih pas dipandang sebagai representasi Islam-Jawa daripada Muhammadiyah. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran ini. Diantarannya adalah masuk dan berkembangnya ideologi Wahabi, terutama setelah Mekah dan Madinah dikuasai Saud-Wahabi. Keterlibatan orang-orang dari Padang dalam Muhammadiyah juga berpengaruh dalam pembentukan sikap organisasi ini terhadap budaya lokal. Terlebih, ideologi Muhammadiyah banyak dipengaruhi oleh ulama besar dari Padang, Haji Rasul. Selain kedua hal tersebut, faktor lain yang ikut berpengaruh dalam membentuk karakter Muhammadiyah dalam kaitannya dengan budaya adalah pembentukan Majlis Tarjih yang berorientasi syari’ah. Pendirian lembaga ini dipelopori oleh Mas Mansur, seorang ulama dari daerah pesisir, Surabaya. Karakteristik keislaman daerah pesisir pantai dikenal lebih ketat dibandingkan daerah pedalaman (hinterland) seperti Yogyakarta. Kata kunci: Muhammadiyah, ideological shift, Majlis Tarjih, cultural tendency, puritanical tendency.
IDENTITAS DAN KESARJANAAN: MELINTASI BATAS DALAM STUDI TENTANG AHMADIYAH DI INDONESIA Burhani, Ahmad Najib
Harmoni Vol 16 No 2 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.989 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v16i2.15

Abstract

Who is more authoritative in researching certain religious minorities, insider or outsider? How to apply the concept of ‘detachment’, ‘neutrality’, and ‘bracketing’ in studying religious groups officially declared by majority of ulama and mainstream religious organizations as deviant cults like Ahmadiyah? And how would the various concepts, methods, and scientific theories, such as ‘going native’ and ‘participant observation’ be applied in the field? How to negotiate between faith and science, our identity as part of religious mainstream and orthodox group in studying communities deemed ‘heretic’? How does researcher’s identity as a non-Ahmadi affect his research and judgment about Ahmadiyah? This paper intends to discuss the author’s experience in studying Ahmadiyah, in applying various theories and academic principles in the study of this community, and how to behave towards individual conflicts and controversies surrounding Ahmadiyah issues. This paper is based on seven-year experience of living with, studying, and participating in the activities of Ahmadiyah in Indonesia, Singapore, Japan, India, England, and the United States.
FASTING IN COUNTRIES WHERE THE DAY IS VERY LONG OR VERY SHORT: A STUDY OF MUSLIMS IN THE NETHERLANDS Burhani, Ahmad Najib
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 51, No 1 (2013)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2013.511.159-188

Abstract

Ramadan falls both during winter and autumn months, when the days are cool and short, and spring and summer months, when the days are long and hot. Fasting in areas where the climate is extremely hot and the day is more than twenty hours is a double hardship that can be a dangerous assault on physical condition. In contrast to that, fasting in areas where the day is very short is, to some extent, like an interval between breakfast and lunch or between lunch and dinner. This article, therefore, intends to discover how Muslims in the countries where the day is either very long or very short deal with the problem of the fasting time. This research is based on the practices of some Muslims in the Netherlands with a variety of countries of origin. This article attempts to answer the following questions: How did they manage their fasting time in the summer or when the day is very long? How did they manage their fasting time in the winter or when the day is very short? What kind of fiqh book or fatw? did they use as reference? Did they think that fasting obligation was dangerous for their health when the day was very long?[Bulan Ramadan bisa tiba pada musim dingin dan musim gugur, ketika siang hari pendek dan sejuk, tetapi Ramadan juga bisa tiba pada musim semi dan musim panas, ketika siang hari sangat panjang dan panas. Puasa di tempat yang sangat panas dan dengan panjang siang hari lebih dari dua puluh jam adalah beban yang berat dan bisa berbahaya bagi kondisi fisik pelakunya. Sebaliknya, puasa di tempat yang siang harinya sangat pendek terasa tak seperti puasa karena ia hanya seperti interval antara makan pagi dan makan siang atau antara makan siang dan makan malam. Tulisan ini didasarkan pada penelitian terhadap praktik berpuasa orang-orang Islam di Belanda dari berbagai negara asal. Pertanyaan yang ingin dijawab dalam tulisan ini adalah: Bagaimana umat Islam Belanda melaksanakan puasa pada musim panas atau ketika siang hari teramat panjang? Bagaimana pula mereka menjalankan puasa pada musim gugur atau ketika siang hari sangat pendek? Buku fikih apa atau fatwa dari siapa yang mereka pakai sebagai dasar praktik ibadah puasa itu? Apakah mereka berpikir bahwa praktik puasa di musim yang siang harinya sangat panjang akan berbahaya bagi kesehatan mereka?
SECTARIAN TRANSLATION OF THE QUR’AN IN INDONESIA: THE CASE OF THE AHMADIYYA Burhani, Ahmad Najib
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.251-282

Abstract

Ahmadiyya?s translations of the Quran have some distinctive characteristics compared to the translations from Sunni Muslims. However, these translations, particularly Soedowo-Dutch translation of Muhammad Ali?s The Holy Quran, have been influential in Indonesian Sunni community in the first half of the 20th century. Against the opposition from the Muhammadiyah and the fatwa from Muhammad Rashid Rida of Egypt, which prohibited the use of Ahmadiyya?s translation, the Soedewo-Dutch translation was widely used by Dutch-educated intelligentsia as a main source to know about Islam. This article specifically answers the following questions: Why did Ahmadiyya?s translations of the Quran have a significant place in Indonesia? What was the appeal of these translations to Indonesian intelligentsia? What is the contribution of these translations to the study of the Quran in this country? This paper argues that the success of Ahmadiyya?s translation, particularly the Dutch version, during the revolution era is based on three reasons: language (Dutch is the language of intelligentsia), content (which fit with the need of intelligentsia who seek a harmonious understanding between religie and wetenschap), and form (the only available rendering of the Quran in modern form of publication). In the context of ideology, the reception of Muslim intelligentsia was mainly for their contribution in defending Islam against the penetration of Christian mission and the coming of anti-religion ideologies, particularly materialism and atheism, by strongly challenging their doctrines. [Terjemah al-Quran versi Ahmadiyah memiliki beberapa karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan terjemah versi Islam sunni pada umumnya.  Namun demikian, terjemah seperti di atas, khususnya terjemah al-Quran dalam bahasa Belanda --yang dialih-bahasakan dari The Holy Qur??n karya Muhammad Ali oleh Soedowo-- cukup berpengaruh di masyarakat muslim Indonesia pada paruh pertama abad ke-20. Bertentagan dengan fatwa dari Muhammadiyah maupun dari Muhammad Rashid Rida yang melarang penggunaan terjemah versi Ahmadiyyah, terjemha Soedewo ini justru menjadi rujukan bagi kalangan terdidik untuk memahami Islam. Tulisan ini secara khusus menjawab pertanyaan: mengapa terjemah al-Quran versi Ahmadiyyah ini cukup berpengaruh di Indonesia, apa yang menarik dari tterjemah ini bagi mereka, serta apa sumbangan pemikiran terjemah ini pada perkembangan keilmuan al-Quran di negeri ini. Menurut penulis, terjemah versi Ahmadiyyah, khususnya yang berbahasa Belanda, mengalami kesuksesan pada masa revolusi dipengaruhi oleh tiga hal: (1) bahasa Belanda  yyang dipakai adalah bahasa kalangan terdidik, (2) isinya sesuai dengan kebutuhan kalangan terpelajar yang ingin mencari pemahaman yang harmonis antara agama dan ilmu pengetahuan, dan (3) terjemah ini merupakan satu-satunya bentuk publikasi modern dari terjemah al-Quran yang ada pada masa itu. Dalam konteks ideologi, penerimaan kaum intelektual ini terutama terkait dengan upaya perlawanan Islam terhadap tekanan misi Kristen dan masuknya ideologi-ideologi anti agama, khususnya materialisme dan atheisme.]
ULAMA DAN NEGARA SANTRI Burhani, Ahmad Najib
Jurnal MAARIF Vol 14 No 1 (2019): Populisme Islam dan Tantangan Demokrasi Islam di Indonesia Pasca-Pilpres
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.126 KB)

Abstract

Dengan kemenangan Joko Widodo ? Ma?ruf Amin dalam Pemilihan Presiden 2019, ulama kembali menempati posisi penting dalam pemerintahan Republika Indonesia. Pertanyaannya, apakah dengan terpilihnya Ma?ruf Amin sebagai Wakil Presiden itu akan mendinginkan perpolitikan nasional yang selama ini sering terbelah antara kubu nasionalis dan Islamis? Apakah tampilnya Ma?ruf Amin, yang merupakan mantan rois ?am NU, sebagai bagian dari ashabul qoror (penentu kebijakan) akan bisa menghilangkan berbagai kebijakan yang kurang berpihak dari pemerintah terhadap minoritas atau justru melahirkan sektarianisme baru? Dua pertanyaan inilah yang ingin diangkat oleh artikel ini.
UNTUK ISLAM BERKEMAJUAN Burhani, Ahmad Najib
Jurnal MAARIF Vol 14 No 2 (2019): Memperkuat Kembali Moderatisme Muhammadiyah: Konsepsi, Interpretasi, Strategi da
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.851 KB)

Abstract

Hubungan antara Muhammadiyah dan budaya lokal di Indonesia sering menjadi tema kontroversial, baik di dalam organisasi ini maupun dalam wacana tentang Islam Indonesia. Muhammadiyah dikenal, salah satunya, sebagai gerakan purifikasi dan pemberantas TBC (Takhayyul, Bid?ah, dan Khurafat) yang kadang menempatkan posisinya saling berhadapan dengan budaya lokal. Namun demikian, sejak tahun 2000 lalu Muhammadiyah memperkenalkan konsep ?dakwah kultural? yang di antaranya mencoba memperbaiki citranya dalam kaitannya dengan berbagai budaya di Indonesia. Tulisan ini hendak membahas tentang hubungan antara kejawaan dan Muhammadiyah serta melihat tempat dari budaya lokal dalam gagasan ?Islam Berkemajuan? yang diusung Muhammadiyah sejak Muktamar ke-47 di Makassar 2015 lalu. Secara khusus, tulisan ini melihat pada reaksi beberapa warga Muhammadiyah terhadap buku ?Muhammadiyah Jawa? (2016). Beberapa pertanyaan yang didiskusikan dalam artikel ini di antaranya: Masihkah ada ruang untuk kejawaan di Muhammadiyah? Adakah apresiasi dari organisasi ini terhadap identitas Jawa? Apa hubungan antara Muhammadiyah dengan Islam Jawa?