Articles

Found 4 Documents
Search

IDENTIFIKASI KECACINGAN PADA SATWA LIAR DAN TERNAK DOMESTIK DI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS, LAMPUNG Candra, Dedi; Warganegara, Efrida; Bakri, Samsul; Setiawan, Agus
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 4 No. 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.128 KB) | DOI: 10.29244/avi.4.2.57-67

Abstract

Penyakit kecacingan dan interaksi antara satwa liar dengan ternak domestik di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) merupakan permasalahan yang harus mendapat perhatian serius dalam pengelolaan konservasi di TNWK dan pemeliharaan ternak di desa penyangga TNWK. Penelitian ini bertujuan untuk identifi kasi keberadaan cacing pada sampel tinja (feses) satwa liar (harimau, badak, dan gajah) dan ternak domestik (sapi, kerbau, dan kambing) di sekitar TNWK. Pengambilan sampel dilakukan pada musim hujan yaitu pada periode Januari-Juli 2014 dan Oktober 2014 - Februari 2015; dengan lokasi pengambilan mencakup 36 lokasi (11 lokasi di TNWK dan 25 lokasi di desa-desa penyangga). Identifikasi cacing dari feses dilakukan dengan metode natif, pengendapan dan pengapungan, penghitungan telur dengan metode Mc Master, dan telaah potensi cacing zoonosis dengan studi literatur. Tidak ditemukan cacing pada harimau, sementara itu pada badak dan gajah Sumatera ditemukan Paramphistomum spp dan Strongyloides spp. Cacing yang ditemukan pada kerbau, sapi dan kambing ialah Paramphistomum spp, Fasciola spp, Trichuris spp, Mecistocirrus spp, Strongylus spp, Bunostomum spp, Haemonchus spp, Strongyloides spp, Oesophagostomum spp, Nematodirrus spp, dan Trichostrongylus spp. Inang ternak domestik (kerbau dan sapi) berpotensi menjadi vektor penularan Paramphistomum spp ke satwa liar. Kemungkinan cacing gastrointestinal yang berpotensi sebagai zoonosis ialah Fasciola spp, Strongyloides spp, Oesophagostomum spp, Haemonchus spp, Trichostrongylus spp dan Trichuris spp.
OH-3 ONE HEALTH, TANTANGAN DAN PELUANG DALAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN RABIES PADA KONSERVASI GAJAH SUMATERA DI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS LAMPUNG Candra, Dedi; Semiawan, Indra Exploitasia; Anggraini, Diah Esti; Subakir, .; Burni, Endang; Agustina, Lu?lu?; Ambarwati, Endah; K, Elisabeth Devi; Muslih, Ichwan; Sari, Eka Nurmala; Suseno, Pebi Purwo; Saswiyanti, Enny; Siswanto, Joko; Triada, Romadona; Kristiyadi, Johanes Eko; Fauzi, Rama; Jatikusumah, Andri; Saputro, Ratmoko Eko; Gozali, Ahmad
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.896 KB)

Abstract

PENDAHULUANTaman Nasional Way Kambas (TNWK) yang terletak di provinsi Lampung adalah habitat hutan yang sangat penting untuk konservasi mamalia besar di Indonesia. Daerah ini adalah habitat alami bagi spesies satwa langka dan terancam punah di dunia termasuk gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Berdasarkan IUCN (2013) gajah Sumatra adalah spesies yang terancam punah dan berisiko menjadi punah (CITES APPENDIX I) dan dilindungi.Pusat Latihan Gajah (PLG) dengan luas sekitar 2.000 ha di TNWK adalah salah satu fasilitas penting untuk konservasi gajah Sumatera yang meripakan bagian penting dari konservasi alam Indonesia. PLG didirikan pada tanggal 27 Agustus 1985 memelihara gajah konflik yang bersasal dari Sumatera Selatan dan Lampung. PLG juga sebagai pusat konservasi gajah sumatera dan tempat tujuan wisata unggulan yang mendukung perekonomian masyarakat sekitar. Deforestasi, kerusakan habitat dan perburuan liar telah mengakibatkan penurunan populasi gajah Sumatra secara signifikan. Faktor lain yang penting adalah penyakit termasuk penyakit infeksi baru dan zoonosis.Tantangan Pencegahan dan pengendalian zoonosis dengan pendekatan one health dengah keterbatasan sumber daya manusia khususnya tenaga medis dan petugas lapangan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Kerjasama lintas sektor antara kesehatan manusia (Kementerian Kesehatan - Kemenkes), kesehatan hewan (Kementerian Pertanian - Kementan), kesehatan satwaliar (kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan - KLHK) dan Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) sangat diperlukan.Jumlah penyakit menular yang baru muncul (emerging infectious diseases) khususnya yang bersumber dari satwa liar mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir (Jones et al,. 2008). Perubahan iklim, introduksi spesies invasif, urbanisasi, kegiatan pertanian dan hilangnya biodiversitas termasuk deforestasi yang berimplikasi terhadap peningkatan penyebaran patogen menular. Deforestasi dianggap sebagai faktor yang paling berpengaruh secara langsung terhadap kemunculan penyakit baru terutama yang bersumber dari satwa liar (Sehgal. 2010).Zoonosis yang ?reservoir?nya satwa liar menjadi masalah kesehatan masyarakat di hampir semua benua yang mana penularan berbagai patogen nya dipengaruhi oleh banyak factor (Kruse et al,. 2004).Rabies penyakit hewan menular yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus(dari bahasa Yunani Lyssayang berarti mengamuk atau kemarahan), bersifat  akut serta menyerang susunan saraf pusat,  hewan  berdarah  panas dan  manusia.Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana sedapat mungkin memperkecil kesenjangan disiplin ilmu antara ahli penyakit menular, ahli satwa liar, ahli ekologi dan ahli sosial dalam meneliti dan memahami semua aspek yang terkait dengan penyakit baru muncul yang inang antaranya adalah satwa liar (Wilcox and Ellis B. 2006), hal ini juga terjadi pada petugas lapangan sektor kesehatan satwa liar. Upaya untuk mengatasi penyakit infeksi baru dan zoonosis pada satwa liar bergantung kepada jejaring lintas sektor dan lintas disiplin ilmu yang efisien di tingkat nasional, regional dan internasional, sehingga dapat dilakukan saling tukar menukar informasi untuk kewaspadaan dini serta respon tepat waktu dan efektif terhadap kemungkinan kemunculan wabah penyakit dapat dilakukan (Kruse et al,. 2004).?One Health? adalah suatu konsep satu kesehatan yang mencakup kesehatan manusia, hewan, dan lingkungannya yang saling berkaitan satu dengan lainnya (Katz et al,. 2010) yang merupakan peluang yang harus dimanfaatkan untuk pencegahan dan pengendalina Rabies untuk konservasi gajah.
DNA Isolation on Captive Sumatran Elephant in Elephant Training Center, Way Kambas National Park: A First Step towards Its ID Card L. Rustiati, Elly; Priyambodo, Priyambodo; Asiyah, Siti; Candra, Dedi; E. Anggraini, Diah; D. Krismuniarti, Elizabeth; Srihanto, Eko Agus; Angeliya, Liza; Nurcahyani, Nuning; Saswiyanti, Enny
The International Journal of Tropical Veterinary and Biomedical Research Vol 3, No 1 (2018): Vol. 3 (1) May 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.698 KB) | DOI: 10.21157/ijtvbr.v3i1.11368

Abstract

Elephant Training Center (ETC) Way Kambas National Park (WKNP) was built to support human-elephantmitigation conflict. The small population of captive sumatran elephant in ETC WKNP need a comprehensivestrategy in order to maintain the genetic variation of each individual and avoid inbreeding drive. Currently, geneticstudies have opened new field studies in ecology, included conservation ecology. Patterns in variation of populationhas been investigated by molecular method supporting species conservation effort. The captive sumatran elephant’sID Card is a necessary in database building, which included morphology, health status, and genetic profile. Geneticprofile in each ID Card was filled by cytogenetic and molecular profile for RADP result, that initiated with DNAisolation. The DNA sources collected by blood sampling protocol described by Asiyah et al. (2016) from captivesumatran elephant in ETC, WKNP, and be carried to laboratory in cold condition. The DNA sources stored at 4oCand isolated following commercial protocol. The result of DNA isolation stored at -20oC until amplificationanalysis. DNA isolation was successfully done, for further individual genetic ID building.
ASSESSMENT OF FERTILITY STATUS IN THE MALE SUMATRAN RHINO AT THE SUMATERAN RHINO SANCTUARY, WAY KAMBAS NATIONAL PARK, LAMPUNG AGIL, MUHAMMAD; SUPRIATNA, IMAN; PURWANTARA, BAMBANG; CANDRA, DEDI
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 15 No. 1 (2008): March 2008
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.983 KB) | DOI: 10.4308/hjb.15.1.39

Abstract

Sumatran rhino is the most endangered rhino species. Its population is estimated less than 300 individuals remaining in the wild with highly declining rate to 50% in the last 15 years. The number of male rhinoceroses in the captivity are very few, therefore the assessment of its fertility is very important in order to support the breeding success since the captive breeding success is very poor. The objectives of this study were (i) to determine the male reproductive status, (ii) to establish a reliable semen collection method, and (iii) to assess semen parameters of the fresh collected sample. Three methods of semen collection were examined to determine its fertilizing potential, i.e. (i) stimulated combination of artificial vagina (AV), penile massage (PM) and accessory gland massage (AGM); (ii) AV and PM; and (iii) only with PM. The first method gave the best result with an ejaculation success of 85.71% (6/7, n = 7). The second and third methods obtained an ejaculation success rate of 50% (2/4, n = 4)) and 25% (1/4, n = 4), respectively. The collected ejaculates had a volume of 1.2-12.4 ml with whitish to cream turbid colour and pH 6.90-6.99. Sperm concentration was (143-333) x 103 sperm/ml. The quality of the sperm was low with only approximately 1% of them moved forward slowly. Approximately 80% of the spermatozoa were immature (prox. cytoplasmic droplet) with head (macro-, microcephalic) and tail abnormalities (broken tail). Semen quality increased after several collections and the amount of immature sperm decreased up to 5%. Electroejaculation procedure could produce 34 ml semen, but no sperm was found in the ejaculate. Hence, the combination of AV, PM, and AGM could get higher volume of ejaculate compared to other methods, but sperm concentration was better obtained using AV and PM only. Repeated semen collection increased semen quality, although the male has low fertilizing capacity due to low sperm concentration (oligozoospermia) and small volume of the ejaculate (oligospermia). Key words: Sumatran rhino, semen, sperms, collection