Articles

Found 32 Documents
Search

PENGARUH PENCUCIAN SEL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN NILAI NUTRISI CHAETOCEROS GRACILIS Chilmawati, Diana; Suminto, Suminto
Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.669 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v1i2.11222

Abstract

Kuantitas dan kualitas sel diatom, Chaetoceros gracilis menjadi pembatas utama dalam produksi perikanan di hatchery.  Diduga kultur diatom mengalami pertumbuhan yang tidak stabil karena terkontaminasi oleh bakteri atau mikroorganisme lain.  Sel diatom tersebut akan mengalami penurunan produksi dan nilai nutrisinya dan apabila digunakan sebagai pakan alami akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan larva.  Salah satu cara untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan pencucian sel bibit / inokulan diatom yang dibudidayakan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh pencucian sel terhadap pola pertumbuhan sel diatom (C. gracilis) dan nilai nutrisi atau kandungan protein sel diatom tersebut pada fase kepadatan maksimum. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu tanpa pencucian sel; satu kali pencucian sel; dua kali pencucian sel dan tiga kali pencucian sel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencucian sel berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap pola pertumbuhan sel diatom (C. gracilis) dimana dapat mempersingkat durasi waktu adaptasi, memperpanjang fase stasioner dan menghasilkan kepadatan sel maksimum lebih tinggi.  Pencucian sel juga dapat meningkatkan nilai nutrisi atau kandungan protein sel diatom (C. gracilis) pada fase kepadatan maksimum.   KATA-KATA KUNCI : pencucian sel diatom, Chaetoceros gracilis, pertumbuhan dan nilai nutrisi
PENGARUH CHLORELLA SP. DARI HASIL PENCUCIAN BIBIT SEL YANG BERBEDA DALAM FEEDING REGIMES TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA KERAPU MACAN (EPINEPHELUS FUSCOGUTTATUS) Budianto, Panji; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kendala dalam budidaya kerapu macan adalah tingkat mortalitas yang tinggi pada fase larva.  Kematian larva diduga karena ukuran dan kandungan nutrisi pakan alami yang diberikan kurang sesuai dengan kebutuhan larva, serta adanya kontaminasi berupa bakteri dan mikroorganisme lain didalam pakan alami yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Chlorella  sp. dari hasil pencucian bibit sel yang berbeda dalam feeding regimes terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan larva  kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan mengetahui tingkat pencucian sel Chlorella sp. terbaik yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan. Metode penelitian adalah eksperimental laboratoris menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan.  Perlakuan itu adalah pemberian Chlorella  sp. tanpa pencucian (A), pemberian Chlorella sp. hasil pencucian 1 kali (B), pemberian Chlorella sp. hasil pencucian 2 kali (C), dan pemberian Chlorella sp. hasil pencucian 3 kali (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Chlorella  sp. dari hasil pencucian bibit sel kedalam feeding regimes tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang relatif, tetapi berbeda nyata terhadap tingkat kelulushidupan. Nilai pertumbuhan panjang relatif pada masing-masing perlakuan adalah 21,48±0,20 %/hari pada perlakuan A,  21,36±0,21 %/hari pada perlakuan B, 21,52±0,24 %/hari pada perlakuan C, dan 21,54±0,20%/hari pada perlakuan D. Nilai terbaik pada variabel kelulushidupan larva kerapu macan ditunjukkan pada perlakuan D dengan tingkat kelulushidupan larva D10 mencapai 7,78±0,19%, dibandingkan pada perlakuan A sebesar 5,22±0,51%. One of the problems of brown-marbled grouper culture were high mortality rate in the larval stage.  The mortality of larval stage assumed due to the size and nutritional content of live food was given less suitable for larvae requirements, as well as the presence of contaminants such as bacteria and other microorganisms in live food. The aims of this research was to know the effect of Chlorella sp. of the results different cell washing seeds in to feeding regimes on the growth and survival rate of brown-marbled grouper  (E. fuscoguttatus) larvae and to determine the best effect of the level of cell washing Chlorella sp. on growth and survival rate. The experiment method was used in this research by completely randomized design (CRD) with four treatments and three replicates respectivaly.  Those treatment were the addition of Chlorella sp. without cells seed washing (A), addition of Chlorella sp. with one times washed (B), addition of Chlorella sp. with two times washed (C), and addition of Chlorella sp. with three times washed (D). The results of research on showed that addition of Chlorella sp. with washed treatment in feeding regimes had no significant effect on the growth of brown-marbled grouper, but the significantly effect on the survival rate.  The growth valeu of relative length in the treatments, respectively were 21.48 ± 0.20 %/day on treatment A, 21.36 ± 0.21 %/day in treatment B , 21.52 ± 0.24 %/day in treatment C, and 21.54 ± 0.20 %/day in the treatment variable D. However, the best result on the survival rate of brown-marbled grouper larvae shown in treatment D with D10 larval survival rate reached 7.78 ± 0.19%, compared to treatment A was 5.22 ± 0.51%.
PENGARUH PAKAN BUATAN DENGAN TEPUNG IKAN PETEK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA STRAIN LARASATI (OREOCHROMIS NILOTICUS) Haryono, Hilda Noviyani; Pinandoyo, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dibudidayakan, namun pembudidaya sering  mengalami kendala harga pakan yang tinggi karena bahan baku seperti tepung ikan masih diimpor. Pakan ikan nila diimpor dengan harga beli pakan yang cukup tinggi sehingga menyebabkan biaya produksi menjadi tinggi. Salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan tepung ikan adalah dengan menggunakan sumber protein dari ikan rucah seperti ikan petek untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan nila.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung ikan petek dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan nila strain larasati (O. niloticus) dan mengetahui perlakuan terbaik dengan penambahan tepung ikan petek dalam pakan buatan yang memberikan pengaruh nilai RGR, EPP, PER, dan SR. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 19 Juli - 29 Agustus 2014 di Balai Benih Ikan Siwarak, Semarang. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL)  yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Ikan nila diberi pakan buatan dengan penambahan tepung ikan petek dengan dosis berbeda (39%; 42%; 45%; dan 48%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tepung ikan petek pada perlakuan D (48%) berpengaruh terhadap nilai RGR, EPP, PER, memberikan kelulushidupan sebesar 96,67%. Tilapia (Oreochromis niloticus) is a freshwater fish that has a high economic value and is widely cultivated, but farmers often have difficulty high feed prices for raw materials such as fish meal is imported. Tilapia fish feed imported for a purchase price of feed that is high enough to cause high production costs. One effort to reduce dependence on the use of fish meal is use one of protein sources from trash fish of Leioghnatus equulus that meets the nutritional needs of Tilapia fish.This study aimed to determine the effect of fish meal petek with different doses on artificial feed on the growth and survival of tilapia strains larasati (O. niloticus) and determine treatment with the addition of Leioghnatus equulus fishmeal in artificial feed on the best value of RGR value, FE, PER. This study was conducted on 19 July to 29 August 2014 Fish Seed Center Siwarak, Semarang. The research method is a method of experiment with a completely randomized design (CRD), which consists of 4 treatments and 3 replications. Tilapia fed the artificial with the addition of Leioghnatus equulus fishmeal with different doses (39%; 42%; 45%; and 48%). Based on the results of this study concluded that fish meal of Leioghnatus equulus at dose 48% in the diet affects the value of RGR, EPP, PER, the seed of tilapia (O. niloticus).
KARAKTERISASI DAN UJI POSTULAT KOCH BAKTERI GENUS VIBRIO YANG BERASAL DARI MEDIA KULTUR MASSAL MIKROALGA Rahmanto, Setyo Putro; Sarjito, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vibriosis adalah salah satu jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Penyakit ini merupakan salah satu kendala utama yang sering menyerang pembenihan maupun pembesaran udang. Penelitian ini bertujuan mengetahui agensia penyebab vibriosis yang berasal dari media kultur mikroalga dan gejala klinisnya pada udang vaname (Litopenaeus vannamei). Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode eksploratif. Metode pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Isolasi bakteri menggunakan media Thiosulphate Citrate Bile Salt Agar (TCBSA). Isolat dilakukan seleksi berdasarkan morfologi koloni untuk dilakukan uji postulat koch.  Udang vaname yang digunakan sebagai hewan uji untuk uji postulat koch adalah udang sehat dengan berat 1-1,5 g sebanyak 10 ekor untuk masing ? masing isolat dengan ulangan sebanyak 3 kali. Penyuntikan dilakukan pada ruas abdomen kedua dengan kepadatan bakteri 108 CFU/mL dengan dosis 0,1 mL. Pengamatan gejala klinis uji postulat koch dilakukan selama 96 jam. Identifikasi bakteri dilakukan dengan kriteria uji biokimia dan morfologi bakteri. Hasil penelitian didapatkan 21 isolat bakteri. Seleksi bedasarkan morfologi koloni bakteri didapatkan 6 isolat bakteri (TDS10, TDS12, TDS13, TDS15, TDS20, dan TDS9) untuk dilakukan uji postulat koch. Hasil identifikasi bakteri keenam isolat tersebut teridentifikasi sebagai Vibrio harveyi, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus, V. fischeri dan V. mimicus yang berpotensi sebagai agensia penyebab vibriosis. Vibriosis was one type of disease caused by genus Vibrio. This disease was one of the major problems in shrimp farming esspecially shrimp hatchery and rearing. Aims of this research to determine the cause of vibriosis derived on culture of microalgae and clinical sign vaname shrimp (Penaeus vannamei) affected by vibriosis. The method in this research used was exploratory research .The sampling method using was simple random sampling method . The isolation of bacteria used Thiosulphate Citrate Bile Salt Agar (TCBSA). Isolate the selection was conducted based on colony morphology for Postulat Koch 's test. Shrimp test used vaname for Postulat Koch 's test was healthy shrimp with weigh of 1-1.5 as 10 shrimps for every repilcation. The bacterial was injected on second abdominal segment with bacterial density of 108 CFU / mL and 0.1 mL volume. The observations of clinical sign for 96 hour after Postulate Koch?s test. Identification bacteria was carried by biochemical and morphological criterias test. The results were obtained 21 isolates. Selection was done based on bacterial colony morphology of bacterial isolates was obtained 6 isaolates (TDS10, TDS12, TDS13, TDS15, TDS20 and TDS9) these isolates was continue for postulates koch's test. The results of identification six bacterial isolates was identified as Vibrio harveyi, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus, V. fischeri and V. mimicus as an agent potentially cause vibriosis
PENGARUH KOMBINASI PAKAN ALAMI SEL FITOPLANKTON DAN BAHAN ORGANIK (BEKATUL, AMPAS TAHU, TEPUNG IKAN) YANG DIFERMENTASI TERHADAP PERFORMA PERTUMBUHAN OITHONA SP. Afifah, Farida Nur; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Oithona sp. merupakan salah satu jenis copepoda yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai substitusi pakan pengganti Artemia. Oithona sp. juga mempunyai  kandungan nutrisi yang lebih baik dari Artemia. Penelitian ini telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi pakan alami sel fitoplankton dan bahan organik (bekatul, ampas tahu, tepung ikan) yang difermentasi terhadap performa pertumbuhan Oithona sp., selain itu juga untuk mengetahui dosis kombinasi pakan alami sel fitoplankton dan bahan organik (bekatul, ampas tahu, tepung ikan) yang difermentasi yang memberikan performa pertumbuhan Oithona sp. terbaik.Metode yang digunakan selama penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5  perlakuan 3 kali ulangan. Kultur Oithona sp. dilakukan di botol kaca dengan volume 10 mL dan kepadatan awal Oithona sp. 1 ind/mL. Pemeliharaan dilakukan selama 21 hari. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu A (100% fitoplankton : 0% fermentasi), B (75% fitoplankton : 25% fermentasi), C (50% fitoplankton : 50% fermentasi), D (25% fitoplankton : 75% fermentasi), E (0% fitoplankton: 100% fermentasi). Pakan Alami sel fitoplankton yang digunakan yaitu Chaetoceros calcitrans dan Isochrysis galbana, sedangkan bahan organik yang digunakan yaitu bekatul ampas tahu dan tepung ikan dengan perbandingan 35%: 35%: 30%.Hasil penelitian menunjukkan pemberian kombinasi pakan alami sel fitoplankton dan bahan organik yang difermentasi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap performa pertumbuhan Oithona sp. Pemberian  fitoplankton 50% dan fermentasi 50% merupakan dosis terbaik dalam penelitian ini. Kepadatan puncak Oithona sp. dengan pemberian fitoplankton 50% dan fermentasi 50% mencapai 14,333 ± 0,115 ind/ml, sedangkan kepadatan naupli dengan pemberian fitoplankton 50% dan fermentasi 50% mencapai 6,930 ± 0,360 ind/ml, kepadatan copepodit 7,470 ± 0,321 ind/ml, kepadatan dewasa 8,970 ± 0,500 ind/ml. Oithona sp. is one of copepods that possibly can be developed as substitution food replacement for Artemia. This study was done with the aims to determined the effect of combination of live food organisms of fitoplankton cells and fermented organic matters on the growth performances of Oithona sp., moreover to determine the dosage of fitoplankton cells and fermented organic matters that gives the good growth  performances of Oithona sp.The method experiment used in this research. There was designed by completely randomized design (CRD) with five treatments and three replicates respectively. Those treatments were A (100% phytoplankton: 0% fermentation), B (75% phytoplankton: 25% fermentation), C (50% phytoplankton: 50% fermentation), D (25% of phytoplankton: 75% fermentation), E (0% phytoplankton: 100% fermentation). The culture was conducted in glass bottle with 10 ml in volume and the initial density of 1 ind/ml. Maintenance was caried out for 21 days. Chaetoceros calcitrans and Isochrysis galbana used as live food in this research. Rice bran, tofu waste and fish meal used as organic matters with a ratio 35% : 35% : 30%. The results showed combination of live food organism of fitoplankton cells and fermented organic matters were significantly effected (P<0.05) on the growth performances of Oithona sp. The treatment of phytoplankton 50% and 50% fermented organic matters was the best dosage that gives the good growth performances of Oithona sp. The highest density reached 14.333 ± 0.115 ind / ml, whereas naupli density, copepodit density, and adult density reached 6.930 ± 0.360 ind / ml, 7.470 ± 0.321 ind / ml, 8.970 ± 0.500 ind / ml respectively.
STUDI POLA PERTUMBUHAN DAN KUALITAS SEL CHLORELLA SP. YANG DIHASILKAN MELALUI TEKNOLOGI PENCUCIAN BIBIT SEL Andreas, Sigmund Qory; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di dalam kultur massal Chlorella sp. sering terjadi penurunan jumlah sel secara drastis dan lama fase stasioner berselang kurang dari satu hari. Hal  ini diduga karena terjadi hubungan tertutup antara bakteri kontaminan dengan Chlorella sp. di dalam kulturnya. Penelitian ini bertujuan untuk membersihkan Chlorella sp. dari bakteri kontaminan menggunakan teknologi pencucian bibit sel, sehingga dapat memperbaiki pola pertumbuhan dan kualitas sel yang dihasilkan. Metode penelitian ini adalah eksperimen, menggunakan RAL dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan itu adalah Chlorella sp. yang dikultur dengan tanpa pencucian bibit sel (A), dengan 1 kali pencucian (B), dengan 2 kali pencucian (C), dan dengan 3 kali pencucian (D). Variabel yang diamati yaitu pola pertumbuhan yang terdiri dari waktu adaptasi, laju pertumbuhan spesifik, lama waktu stasioner, kepadatan sel maksimum, kepadatan akhir kultur, dan kualitas sel dengan kandungan proteinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencucian bibit sel berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap pola pertumbuhan sel Chlorella sp., terutama pada lama waktu fase stasioner dan nilai kepadatan maksimum sel. Lama waktu fase stasioner pada bibit sel yang mengalami pencucian 3 kali terjadi selama 5,5 hari (D), lebih lama dibandingkan dengan tanpa pencucian bibit sel yaitu selama 2 hari (A) dan kepadatan maksimum sel Chlorella sp. perlakuan D (5,2 X 107 sel/ml), lebih banyak dibandingkan perlakuan A (1,4 X 107sel/ml). Kandungan protein sel Chlorella sp. pada perlakuan A (52,52 %) lebih rendah dibandingkan pada perlakuan D (54,93%). Dari hasil tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa pencucian bibit sel dapat memperbaiki pola pertumbuhan dan kandungan protein Chlorella sp. pada kulturnya. Mass culture of Chlorella sp. often occurred drastic decrease in the number of cells and a long in the stationary phase which less than one day. It is assumed that due to close correlation of bacterial contaminants on to Chlorella sp. cells in the culture. The aim of this study was cleaned seed cells of Chlorella sp. from the bacterial contaminants by washing cells technology so as to improve the growth pattern and quality of Chlorella cells. The experiment method was employed in this research. There was Completely Randomized Design method with 4 treatments and 4 replicaties, respectively. Those treatments were Chlorella sp. cells cultured with seed cells without washed (A), with one time washed (B), with two times washed (C) and with three times washed (D). Variables observed were growth pattern of Chlorella sp. cells ie: lag phase, specific growth rate, a long time of stationary phase, maximum cells density and the end of culture density, and cells quality with their protein content. The results showed that cells seed washing was significantly effect (p <0.05) on the growth pattern of Chlorella sp. cells, as specialy on the a long time of stationary phase and maximum density. The stationary phase for treatment which washed three times was 5.5 days, longer than the unwashed (2 days). Either on the cell maximum density that higher on treatment D (5.2 X 107 cell/ml) than treatment A (1.4 X 107cell/ml). The protein content also higher on treatment D (54.93%) than treatment A (52.52%). Those could be concluded that cells seed washing to maximalised the growth patterns and protein content of Chlorella sp. cells in culture.
PRODUKSI NAUPLII DAN COPEPODIT OITHONA SP. YANG DIKULTUR DENGAN PERBEDAAN DIET MIKROALGA (CHLORELLA VULGARIS, CHAETOCEROS CALCITRANS, DAN ISOCHRYSIS GALBANA) Syarifah, Dian Hidayah; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Oithona sp. dapat digunakan sebagai pakan alami kegiatan budidaya air laut. Nauplii dan copepodit Oithona sp. mempunyai ukuran yang sesuai untuk pakan pertama larva ikan.Perlu dilakukan kajian tentang produksi Oithona sp. agar mencapai maksimal sehingga mampu mencukupi kebutuhan dalam kegiatan budidaya. Kajian 5 diet mikroalga dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap produksi nauplii dan copepodit sekaligus untuk mendapatkan diet dengan hasil terbaik pada kedua stadia tersebut. Penelitian eksperimental laboratoris ini dilakukan di Laboratorium Pakan Hidup Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dengan rancangan percobaan acak lengkap (RAL) masing-masing 3 pengulangan untuk setiap perlakuan. Perlakuan diet berdasarkan pada dosis 0.01 mg berat kering mikroalga untuk setiap satu individu copepoda. Kelima perlakuan diet untuk kultur Oithona sp. selama 22 hari adalah C. vulgaris (Cv); Cv+I. galbana (Ig) (1:1); Cv+C. calcitrans (Cc) (1:1); Cc+Ig (1:1); dan Cv+CC+Ig (1:1:1). Kultur Oithona sp. dilakukan pada botol kaca vial 50 ml dengan volume air laut 10 ml dan kepadatan awal Oithona sp. stadia dewasa 1 ind.ml-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian diet mikroalga yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) pada produksi nauplii dan copepodit Oithona sp. Kepadatan nauplii (39,83 ± 2,334 ind.ml-1) dan copepodit (12,93 ± 0,170 ind.ml-1) adalah maksimum pada hari ke 22. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa diet Cc+Ig dan Cv+Cc+Ig masing-masing menghasilkan produksi nauplii dan copepodit terbaik. Diet Cc+Ig disarankan sebagai diet untuk pengembangan kultur Oithona sp. selanjutnya. Many research had showed that Oithona sp. could be used as a live food on marine culture activity. Nauplii and copepodit Oithona sp. have the suitable size for the fish fry. A studied about Oithona sp. production must be done to get the maximum production so it can fulfill the need of culture. The studied of 5 microalgal diet purposed to look for the diet effect for nauplii and copepodit production and also to got the best production of both stadia. This experimental laboratoris had done in Live Feed Laboratorium of Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara with Completely Randomized Design (CRD) triplicate for each treatment. Microalgal diet treatment based on 0.01 mg microalgal dry weight for one individu of copepod. That five trathments for 22 days Oithona sp. culture were C. vulgaris (Cv); Cv+ I. galbana (Ig) (1: 1); Cv+ C.calcitrans (Cc) (1:1); Cc+Ig (1:1); and Cv+Cc+Ig (1:1:1). Oithona sp. cultured on 50 ml vial glass bottle with 10 ml seawater and initial density of Oithona sp. adult stage was 1 ind.ml-1. The experimental result showed that the given of different microalgal diet had  significant effect  (P< 0,05) for nauplii and copepodit production of Oithona sp. Density of nauplii (39,83 ± 2,334 ind.ml-1) and copepodit (12,93 ± 0,170 ind.ml-1) were maximum on 22 day of culture respectively. Conclusion based on this experimental result was Cc+Ig and Cv+Cc+Ig diet produced the best result each on nauplii and copepodit density. Cc+Ig diet was suggested as the diet for the next development of Oithona sp. culture.
PERFORMA EFISIENSI PAKAN PERTUMBUHAN DAN KUALITAS NUTRISI ELVER SIDAT (ANGUILLA BICOLOR) MELALUI PENGKAYAAN PAKAN BUATAN DENGAN MINYAK IKAN Perdana, Asditra Anabela; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan sidat (Anguilla bicolor) merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai potensi ekspor. Kendala dalam budidaya sidat adalah perumbuhanya yang lambat. Penambahan minyak ikan ke dalam pakan buatan diduga dapat mempercepat pertumbuhan sidat stadia elver. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan minyak ikan dalam pakan buatan terhadap performa efisiensi pakan, pertumbuhan dan kualitas nutrisi elver sidat (A. bicolor). Ikan uji yang digunakan adalah ikan sidat dengan bobot rata-rata 9,25±0,3 g/ekor dan padat tebar 1 ekor/2l. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pukul 08.00 dan 16.00. Ikan uji dipelihara dalam ember plastik volume 30 liter air selama 50 hari. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Penambahan minyak ikan pada pakan buatan tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap SGR, EPP dan PER, dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap FCR dan SR; dan Tidak ada dosis terbaik penambahan minyak ikan dalam setiap perlakuan, baik perlakuan A (dosis minyak ikan 0%), B (dosis minyak ikan 2%), C (dosis minyak ikan 4%) maupun D (dosis minyak ikan 6%). Kualitas air pada media pemeliharaan masih berada dalam kondisi yang layak untuk budidaya ikan sidat. Eel (Anguilla bicolor) is one types of fish that have potential as an export commodity. The problem of culture of eel is on the growth that very slow. However, added fish oil into artificial feed as a substance that can accelerate growth in stadia Elver eels. This study aims to determine the effect of fish oil in feed on performance of Elver eel feed efficiency, growth and nutritional quality Elver eels (A. bicolor). The eel weight of 9.25 ± 0.3 g / tail in avarage and initial density of 1tail/2L were cultivated in 30L conical plastic bucket with 20L in water volumes during 50 days. Feeding was do 2 times a day at 08:00 and 16:00. This research was conducted by an experimental method using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 repetitions. The treatment in this study was the addition of fish oil in artificial feed ie: treatment A (dosage fish oil 0%), B (dosage fish oil 2%), C (dosage of fish oil 4%) and D (dosage of fish oil 6%). Data observed SGR, PER, FE, FCR, SR and water quality. The results showed that the addition of fish oil in artificial feed was no significant effect (P <0.01) on the SGR, FE and PER but no significant by effect (P> 0.05) on FCR and SR. There no best of dosage of 2% fish oil in the diet on SGR, PER, FE and FCR respectively. However, the water quality in the culture media was still in the proper conditions for the cultivation of eel.
PENGARUH PENGKAYAAN NUTRISI MEDIA KULTUR DENGAN SUSU BUBUK AFKIR TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS PRODUKSI CACING SUTERA (TUBIFEX SP.) Mi?raizki, Fauzi; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengkayaan nutrisi media kultur dengan susu bubuk afkir terhadap kuantitas dan kualitas produksi cacing sutera dan mengetahui kadar pemberian susu bubuk afkir yang memberikan hasil terbaik untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi cacing sutera. Materi uji yang digunakan adalah cacing sutera dengan kepadatan 150 g/m2. Wadah disusun bertingkat dengan sistem resirkulasi air dengan debit 0,6 liter/menit. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (tanpa susu bubuk afkir), B (susu bubuk afkir dengan dosis 2%), C (susu bubuk afkir dengan dosis 4%), dan D (susu bubuk afkir dengan dosis 6%). Data yang diamati meliputi pertumbuhan populasi, biomassa mutlak, kandungan nutrisi cacing sutera dan kualitas air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengkayaan nutrisi media kultur dengan susu bubuk afkir memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan populasi, biomassa mutlak, dan kandungan nutrisi cacing sutera. Pertumbuhan populasi tertinggi diperoleh pada perlakuan C (70,6x104 ind/m2). Pertumbuhan biomassa tertinggi diperoleh pada perlakuan D (886,80 g/m2). Kandungan tertinggi protein dan lemak cacing sutera masing-masing telah terjadi pada perlakuan A (48,63 %) dan perlakuan C (31,13%). Kualitas air selama penelitian untuk nilai suhu dan Oksigen terlarut (DO) dalam kisaran yang layak, sedangkan nilai pH dan ammonia dalam kisaran tidak layak, namun cacing selama penelitian masih dapat hidup dan tumbuh. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengkayaan nutrisi media kultur dengan susu bubuk afkir berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan populasi, biomassa dan kandungan nutrisi pada cacing sutera. Pengkayaan dengan dosis 4% memberikan hasil terbaik terhadap kuantitas dan kualitas cacing sutera. The research was aimed  to know the effect of nutrient enrichment in culture medium with rejected milk powder on the quantity and quality of Tubifex and determine the dose of the rejected milk powder that give the best result to increase the quantity and quality of Tubifex  production. The densityof Tubifex  used was      150g.m-2. The Nested containers were using water recirculation system with a water flow 0.6 liters. Min-1. The study was carried out experimentally by using a completely randomized design (CRD) of 4 treatments and 3 replications. The treatments in this research were treatment A (without rejected milk powder), B (rejected milk powder with a dose of 2%), C (rejected milk powder with a dose of 4%) and D (rejected milk powder with a dose of 6%). The data observed were population growth, the absolute biomass, nutrient content of Tubifex and water quality.The results showed that nutrient enrichment of culture medium with rejected milk powder were  significantly affected (P <0.05) on the growth population, the absolute biomass and nutrient content of Tubifex. The highest population growth was obtained in treatment C (70.6x104 ind.m­-2). The highest biomass production in treatment D (886.80 g.m-2). The highest protein content and the highest fat content of  Tubifex worm were obtained in treatment A (48.63%) and treatment C (31.13%) respectively . Variable value of water quality during the research as well as temperature and dissolved oxygen were in the feasible range for Tubifex grown. In addition  the value of pH  and ammonia was high range, but worms during the study can still live and grown. It was concluded that nutrient enrichment of culture medium with milk powder were  significantly affected on the growth population, the absolute biomass and nutrient content of Tubifex. The enrichment with a dose of 4% gave the best result on quantity and quality of Tubifex.
PENGARUH TEPUNG TELUR AYAM AFKIR PADA PAKAN BUATAN YANG BERPROBIOTIK TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LELE DUMBO (CLARIAS GARIEPINUS). (THE EFFECT OF CHICKEN EGGS REJECTS POWDER IN ARTIFICIAL FEED WITH ADDED PROBIOTIC ON EFFICIENCY FEED UTILIZATION, GROWTH AND SURVIVAL RATE OF DUMBO CATFISH (CLARIAS GARIEPINUS)) Suminto, Suminto; Susilowati, Titik; Wibowo, Bambang Argo; Chilmawati, Diana
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 13, No 2 (2018): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.778 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.13.2.111-118

Abstract

Pengembangan budidaya ikan lele, Clarias gariepinus sering terjadi kendala dengan biaya pakan yang terlalu tinggi (60-70% dari biaya produksi). Barangkali, penggunaan bahan baku lokal seperti pemanfaatan tepung telur ayam yang nilai nutrisinya tinggi, mudah didapat, dan murah harganya merupakan salah satu solusinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mengetahui pengaruh penambahan tepung telur ayam afkir dalam pakan buatan yang berprobiotik terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan lele dumbo (C. gariepinus). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang menggunakan  4 perlakuan dan masing-masing 3 kali kali ulangan. Perlakuan itu adalah pakan yang tanpa menggunakan tepung telur ayam afkir (Perlakuan A), pakan yang menggunakan tepung telur afkir masing-masing sebanyak 15%, 30%, dan 45% sebagai Perlakuan B, C, dan D. Ikan uji  bibit lele dumbo (C. gariepinus) yang ditebar mempunyai bobot rerata 2.04±0.05 g dengan kepadatan 1 ekor/L yang dipelihara selama 42 hari. Variabel data yang diukur meliputi Tingkat Konsumsi Pakan (TKP), Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP), Feed Convertion Ratio (FCR), Protein Efficiency Ratio (PER), Relative Growth Rate (RGR), dan Survival Rate (SR). Hasil penelitian ditunjukkan bahwa penggunaan tepung telur ayam afkir pada pakan buatan memberikan pengaruh yang nyata (p < 0.05) terhadap TKP, EPP, FCR, PER, dan RGR, tetapi tidak berpengaruh nyata (P?0,05) terhadap SR. Perlakuan dengan penambahan tepung telur ayam afkir sebanyak 30% (Perlakuan C) memberikan nilai terbaik untuik TKP sebesar 146,87%, EPP sebesar 88,77%, PER sebesar 2,61% dan RGR sebesar 7,65%/hari dari perlakuan lainnya. Monitoring nilai kualitas air pada media pemeliharaan telah menunjukkan bahwa pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji. Catfish cultivation development, Clarias gariepinus often occur constraints with the high cost of feed  (60-70% of the production cost). Perhaps, the use of local raw materials such as the utilization of rejected chicken egg with high nutritional value, easy to obtain, and cheap price is one of the solution. The purpose of this research was to know the effect of addition of rejected chicken egg  powder inprobiotized artificial feed on the efficiency of feed utilization, growth and survival rate of catfish, C. gariepinus. This study was used an experimental method with completely randomized design (RAL) by using 4 treatments and each of them 3 replications. The treatments were feed without use of rejected chicken egg powder  (Treatment A), feed using 15%, 30%, and 45% of powder  meals of rejected chicken egg  as treatment B, C, and D, respectively. Catfish, C. gariepinus seeds were stocked with a mean weight of 2.04 ± 0.05 g with a density of 1 tail / L and cultured  for 42 days. The data variables measured were  Total of Feed Consumption (TFC), Feed Utilization Efficiency (FUE), Feed Conversion Ratio (FCR), Protein Efficiency Ratio (PER), Relative Growth Rate (RGR), and Survival Rate (SR). The results showed that the use of chicken egg starch in artificial feed gave a real effect (p <0.05) on TFC, FUE, FCR, PER, and RGR, but no significant effect (P?0,05) on SR. Treatment with the addition of 30% chicken meal (Treatment C) had the best value for TFC at 146.87%, the FUE of 88.77%, the PER of 2.61%  and the RGR of 7.65% / day than of the another treatments. Monitoring of  water quality values on maintenance media has shown that at a reasonable range for the maintenance of catfish culture.