Gatot Ciptadi
Program Studi Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

STUDI SITOGENETIK TERNAK LOKAL UNTUK STANDARISASI KROMOSOM DAN DETEKSI ABNORMALITAS GENETIK TERNAK RUMINANSIA LOKAL Ciptadi, Gatot; Ihsan, M, Nur; Nurgiartiningsih, V.M. Ani
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 13, No 1 (2012): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.352 KB)

Abstract

Analisis kromosom ternak lokal di Indonesia sangat penting artinya karenamasih sangat terbatasnya data-data genetik dasar yang ada selama ini. Bagi ternak bibitanalisis kromosom perlu dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan munculnya cacatgenetik yang heriditer. Hal ini perlu dicermati mengingat bahwa peluang pewarisankepada generasi berikutnya adalah sangat besar terkait jumlah anak keturunan yangbisa dihasilkan dari seekor pejantan. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmenganalisis kromosom ternak ruminansia lokal di Indonesia yaitu sapi, kerbau dankambing. Pada ternak lokal Indonesia masih sangat terbatas dilakukan analisiskromosom, padahal sangat penting terutama bagi ternak bibit. Hasil penelitian ini dapatdigunakan sebagai bahan pertimbangan bagi strategi peningkatan kualitas genetikternak ruminansia lokal.Metode digunakan standart kariotyping menggunakan sampel darah (wholeblood/) dengan G banding. Kariotyping dilakukan dengan dasar standart yang sudahada. Preparasi kromosom menggunakan medium Karyo MAX (GIBCO/BRL),Colcemic Solution, Giemsa Stain dan Potasium chloride solution. Kultur sel dilakukanberdasarkan medode standar karyotyping mamalia. Minimal jumlah 5 buah spreadingMetafase II kromosom terbaik, dilakukan microfotografi dan kemudian dilakukananalisis kromosom dengan software cytovision image analysis, ditentukan normaltidaknya kromosom berdasarkan standart kariotyping.Hasil Penelitian ini tidak ditemukan ternak ruminansia dengan abnormalitasjumlah kromosom, sehingga bisa diartikan bahwa tidak ada beberapa abnormalitaskromosom karena genetik seperti translokasi roberston (2N=58) atau kelainan jumlahkromosom yang lain. Pada semua ternak yang diamati kromosomnya ditemukankromosom 2 N (sapi Madura 2 N = 60), kerbau (swamp buffalo, 2 N=50 ) danKambing (kambing PE dan kacang 2 N= 60) yang terdiri atas 58, 48 dan 58 autosomdan 2 seks kromosom. Analisis perlu ditingkatkan ketelitiannya menggunakan teknikFISH, immunofluorescent, cytovision image analysis dilengkapi soft ware yang sesuai.Ruminansia lokal Indonesia perlu dilakukan penyusunan standart kariotyping,khususnya pada ruminansia yang diproduksi sperma bekunya untuk keperluanimplementasi Inseminasi Buatan, sangat direkomendasikan untuk dilakukankariotyping sebagai jaminan normalitas genetik serta bebas cacat genetik heriditer.Kata Kunci: Kariotyping, Kromosom, Ruminansia, Abnormalitas Genetik.CYTOGENETIC ANALYSIS FOR KARYOTYPE STANDARITATION ANDDETECTION OF GENETIC ABNORMALITY OF LOCAL RUMINANTABSTRACTOn the basis of the important of chromosome abnormalites and their negative effectin the near future, chromosomal investigation of breeding domestic animals and theirprogeny began in different countries. Chromosomal abnormality are usually consideredto be a plague and are to eliminate. In Indonesia, where Artificial Insemination (AI)implementation have started intensively, chromosomal aberration can be identified andculled from breeding program. This work has so far has been neglected in Indonesia.Method performed by collecting blood samples from ruminant (Madura, Buffaloand Goat) Sample of 0.5 ml of blood sample per animal was added to 5 mlchromosomal medium (Karyo MAX ^Gibco), placed in incubator at 38 oC. After 70hours, culture tube were removed from incubator, add to 1 ml working solution ofcolchicines and kept for 2 – 3 hours. The tubes were centrifuge at 1000 RPM for 10minute using PBS and supernatant was discarded, doing for 2 times respectively. Thepellet toghly packed cells added then by fixative solution. Slides were prepared bydropping the cell suspension on the glass slide and dried then stainned with Giemsastain for 10 minute. Slides were examined under high power phase-contrastmicroscope to study the chromosome spread in the single cells.Result showed that the 2N diploid number of chromosome or 3 ruminat werenormal (cattle 2N=60, Swamp buffalo 2N=50 Goat 2N=60), there were 58 autosomeand 2 sex chromosome in all animals observed. It was observed that all ruminanttested in these research were normal categories. The karyotype analysis showed thatthe chromosomes of one cell and different individual each breed varied in size, shapeand position of centromere. How ever, it was strongly recommended to performedchromosomal investigation of breeding ruminants especially for Artificial Inseminationbull purposes and others Indonesia local specific species using advanced sophisticatedtools of analysis like cytovision image analysis of fluorescent technique.Key Words: Karyotiping, Ruminant Chromosome, Abnormalities.
PERBEDAAN KUALITAS SEMEN DAN PRODUKSI SEMEN BEKU PADA BERBAGAI BANGSA SAPI POTONG Zamuna, Karim Khalifa; Susilawati, Trinil; Ciptadi, Gatot; Marjuki, Marjuki
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 16, No 2 (2015): TERNAK TROPIKA
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.887 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2015.016.02.1

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan produksi semen beku pada berbagai bangsa sapi potong dan untuk mengetahui produksi semen pada masing-masing  individu pada bangsa yang sama. Penelitian dilakukan di Balai Inseminasi Buatan Daerah Ungaran Jawa Tengah Indonesia. Materi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah catatan produksi semen yang terdiri kualitas semen segar dan jumlah straw semen beku pada bulan Januari sampai Desember tahun 2014  sebanyak  39 ekor sapi  yang terdiri dari 18 ekor sapi Simental, 8 ekor sapi  Limousin, 8 ekor PO dan 5 ekor sapi Brahman. Pengencer yang dipergunakan adalah skim kuning telur.  Metode yang dipergunakan adalah studi kasus dengan rancangan acak kelompok. Variabel yang diamati adalah Volume semen, Konsentrasi, Motilitas individu, total spermatozoa dan total spermatozoa yang motil. Hasilnya menunjukkan volume sapi Limousin yang terbanyak = 7,2 + 1,3 ml, diikuti oleh  oleh sapi simental = 6,8 + 1,6 ml,  sapi PO = 6,1 + 1,2 ml dan yang paling sedikit adalah sapi Brahman = 4,2 + 1,8 ml. Rata-rata volume semen pada berbagai bangsa terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05). Rata-rata persentase motilitas spermatozoa sapi  Simental =  57,8 + 13,05 %, Sapi  Limousin = 61,17 +1.37%, sapi PO = 63,5 + 6,62 %  dan  Brahman = 44,8 + 25,33 %, Rata-rata persentase motilitas pada berbagai bangsa tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05). Rata-rata Total spermatozoa dan total spermatozoa yang motil pada sapi Simental adalah 9.320,3 + 2.461,2 and 5.532,9 + 2.314,2 ; Sapi Limousin = 11.266,9 + 1.159,6 dan  7.908,9 + 3.851,2; Sapi PO = 8.995,1 + 2.860,8 dan  5.651,6 + 2.418,4 , Sapi  Brahman =  6.189,3 + 22,6 dan  3.053,3 + 4.356,6. Rata-rata kedua parameter ini tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada berbagai bangsa sapi  (P>0,05). Rata-rata produksi semen beku per hari pada sapi  Simental 280,67 + 68,57 straw ; sapi Limousin 315,6 + 44,32 straw ;  sapi PO 275,15 +70,61  straw  dan sapi   Brahman 225,18 + 59,74 straw. Rata-rata produksi semen beku tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada berbagai bangsa sapi  (P>0,05). Volume semen, motilitas individu dan produksi semen beku harian masing-masing  individu pada bangsa yang sama pada sapi Limousin, Simental, PO dan Brahman terdapat perbedaan yang sangat nyata (P<0,05). Keyword: Sapi Limousin , Sapi Simental, Sapi PO dan Sapi Brahman
STUDI KASUS TINGKAT PEMOTONGAN DOMBA BERDASARKAN JENIS KELAMIN, KELOMPOK UMUR DAN BOBOT KARKAS DI TEMPAT PEMOTONGAN HEWAN WILAYAH MALANG Muhammad, Syafrizal; Ciptadi, Gatot; Budiarto, Agus
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 1 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO)
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.988 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2017.018.01.7

Abstract

 This research was conducted in private Slaughterhouses located in Ngunutsari Village on November 10th to December 10th, 2016. The purpose of this research is to know the level of the slaughtered sheep in the Malang. The sample used equals 105 sheep from of age less 1 to 4 years consisting of 12 rams and 93 ewes. The method used in this research is a case study. Research location was obtained by purposive sampling. Animals used in the research was selected by total sampling. Data observed was presented in average value and standard deviation for being descriptive analysis. Results showed that the level of sheep slaughtered in the age less than 1 year reached 31.43%, therefore the slaughtered of rams as much 1.9% and ewes 29.52% of the total slaughter. The level of ewe slaughtered has increased each week from 1st week 17.14%, 2nd week 16.2%, 3rd week 26.67%, and 4th week 28.57% in comparison with the Rams. The average of ram carcass weight from of age less 1 to 4 years in a row is 8.95 ± 0.07, 9.8 ± 2.68, 8.45 ± 0.63, 12.05 ± 3.6, and 20.64 ± 5.43 ± with level 10.66 ± 2.34 kg, whereas in the ewe is 6.99 ± 1.19, 7.26 ± 1.12, 8.21 ± 1.2, 12.01 ± 1.93, and 11.38 ± 3.29 with level 9.17 ± 2.35 kg. It was concluded that the level of slaughter reach 88.57% of ewe whiles the ram reach 11.43%. The level slaughter of sheep from of age less than 1 year reach 31.43% consists of the ram reach 1.9% and ewe reaches 29.52% of the total slaughter. Percentage of carcass of the sheep of age less than 1 year to 4 year in successive is 49,91%, 46,92%, 40,49%, 39,73%, 41,72% on Rams and 46,40%, 40,63%, 42,75%, 46,40%, 46,99% on Ewe..Keywords: Level Slaughter, Sheep, Slaughterhouse
KOMPETENSI PERKEMBANGAN OOSIT KAMBING KACANG DENGAN DIAMETER BERBEDA PADA MEDIUM YANG DISUPLEMENTASI CAIRAN FOLIKEL (DEVELOPMENTAL COMPETENCE OF KACANG GOAT OOCYTES WITH DIFFERENT DIAMETER ON MEDIUM WITH FOLLICULAR FLUID SUPPLEMENTATION) Harris, Ali; Rahayu, Sri; Ciptadi, Gatot
Jurnal Veteriner Vol 16 No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the developmental competence of local goats oocytes on thebasis of their diameter in the medium supplemented with follicular fluid. Ovaries obtained fromSlaughterhouse, Malang City were collected and washed with NaCl containing streptomycin and penicillinat 32-35oC. Oocytes were obtained by follicular aspiration using a 10 ml syringe and needle 18 G needle.Oocytes were then divided into 3 groups on based at their diameter, group 1 (<160,5 ?m), group 2 (160,5-170,0?m) and group 3 (> 170,0?m). Follicular fluid was obtained by pooling the goat follicular fluid fromfollicles which have 3-8 mm in diameter. Maturation medium used was TCM-199 + 10% follicularfluid.Oocytes matured for 26 hours at 39oC and 5% CO2 with maximum humidity. Observation of oocytedevelopmental competence includes level cumulus cell expansion and maturation level of the nucleus. Theresults showed that the oocytes in groups 2 (160,5-170,0?m) and 3 (> 170,0?m) have a maximum ofcumulus expansion level 1 (63,8 and 74%) and metaphase II (56,6% and 68,5%).It is concluded that thediameter of oocytes had an influence on oocyte developmental competence (p <0,05), and can be consideredfor oocytes selection criteria.
PERFORMANS REPRODUKSI SAPI PERANAKAN ONGOLE DAN PERANAKAN LIMOUSIN PADA PARITAS BERBEDA DI KECAMATAN PACIRAN KABUPATEN LAMONGAN Fauziah, Laili Windah; Busono, Woro; Ciptadi, Gatot
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 16, No 2 (2015): TERNAK TROPIKA
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.343 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2015.016.02.7

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan performans reproduksi sapi Peranakan Ongole dan Peranakan Limousin pada paritas 2 dan 3. Penelitian ini dilakukan di Paciran, Kabupaten Lamongan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi Peranakan Ongole dan Peranakan Limousin yang masing-masing terdiri dari 2 paritas yaitu paritas 2 dan 3 dimana setiap paritas terdiri dari 30 ekor ternak. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan pengumpulan data primer dan data sekunder. Variabel yang diamati adalah Service per Conception (S/C),Days open (DO), Calving Interval (CI) dan Conception Rate (CR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata S/C, DO, CI dan CR dari sapi Peranakan Ongole dan Peranakan Limousin pada paritas 2 dan 3 sebesar masing-masing sebesar1,2 ± 0,4; 117,8 ± 16,5 hari; 397,6 ± 16,6 hari dan79%. Disimpulkan bahwa nilai tampilan reproduksi sapi Peranakan Ongole dan Peranakan Limousin di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan memiliki nilai yang baik akan tetapi perlu perbaikanmengenai DO dan CI yang masih panjangKata kunci: calving interval, conception rate, days open, service per conception.
DISTRIBUSI Solen sp DI PERAIRAN KABUPATEN BANGKALAN Wahyuni, Eva Ari; Insafitri, I; Ciptadi, Gatot; Ihsan, Mohammad Nur
Jurnal Kelautan Vol 9, No 1: April (2016)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v9i1.1051

Abstract

DISTRIBUTION OF Solen sp IN BANGKALAN WATERSSolen sp potential needs to be developed on the island of Madura, particularly in Bangkalan. Solen sp utilization has increased which has the potential to overfishing. Therefore, this study aims to determine the density of Solen sp and their ecology in the waters Modung village, Modung District, Bangkalan. The experiment was conducted in April 2015 using the descriptive method. The materials used include Solen sp and physico-chemical parameters of the environment (temperature, salinity, pH, and substrate). The analyzes were conducted at the Laboratory of Marine Science, Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura by using the tool grabsampler, sieveshaker, and pipetting with gravimetric method. The analysis shows the range of values of temperature between 29-300C, salinity between 31-32 ppt, pH were 7.9-8.0 and the type of substrate in the form of sandy mud, as well as the density of Solen sp from 8-10 individuals/m2. All measurement results indicate normal conditions and in accordance with the sea water quality standard for marine life, which can be a suitable habitat for the growth and development of Solen sp. This condition is thought to affect the density of Solen sp.Keywords: Bangkalan, density, distribution, Solen sp, substrate.ABSTRAKPotensi Solen sp perlu dikembangkan di pulau Madura, khususnya di Kabupaten Bangkalan. Pemanfaatan Solen sp mengalami peningkatan sehingga berpotensi overfishing. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan Solen sp dan ekologinya di perairan desa Modung, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2015 dengan metode deskriptif. Materi dan bahan yang digunakan diantaranya Solen sp dan parameter fisika-kimia lingkungan (suhu, salinitas, pH, dan substrat). Analisa dilakukan di Laboratorium Ilmu Kelautan, Program studi/Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo Madura dengan menggunakan alat grabsampler, sieveshaker, dan pemipetan dengan metode gravimetri. Hasil analisa menunjukkan kisaran nilai suhu 29-300C, salinitas 31-32 ppt, pH 7.9-8.0, dan jenis substrat berupa lumpur berpasir, serta kepadatan Solen sp 8-10 individu/m2. Semua hasil pengukuran menunjukkan kondisi normal dan sesuai dengan baku mutu air laut untuk biota laut, sehingga dapat menjadi habitat yang cocok untuk tumbuh dan kembang Solen sp. Kondisi ini diduga mempengaruhi kepadatan Solen sp.   Kata kunci:  Bangkalan, distribusi, kepadatan, Solen sp, substrat.
Siklus Estrus Induk Kambing Peranakan Boer F1 Dengan Perlakuan Penyapihan Dini Pada Masa Post Partum Zakaria, Muhammad Rizar; W.M, Agung Pramana; Ciptadi, Gatot
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.169 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penyapihan dini pada masa post partum terhadap siklus estrus induk kambing peranakan Boer F1 (Crossbreed Boer dan PE). Selama post partum, regulasi siklus estrus akan dihambat oleh prolaktin dan oksitosin yang dipengaruhi oleh mekanisme suckling. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 9 ekor induk kambing dalam 3 kelompok yakni kelompok penyapihan selang waktu 42 hari post partum (PP), 56 hari post partum (PP), dan 91 hari post partum sebagai kontrol. Pengamatan siklus estrus dengan menggunakan vaginal smear. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dengan pendekatan kualitatif secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, interval siklus estrus kedua pasca sapih pada induk kambing kontrol  saat fase proestrus adalah 2 hari, fase estrus selama 2 hari, fase metestrus selama 2 - 3 hari, dan fase diestrus terjadi selama 14 - 15 hari. Selain itu siklus estrus pertama pasca sapih pada perlakuan penyapihan 42 hari (6 minggu), 56 hari (8 minggu), dan kontrol pada selang 91 hari (13 minggu) post partum adalah berkisar 16,7 ± 2,65 hari, 17,7 ± 1,53 hari , dan 10,3 ± 3,06 hari. Sedangkan siklus estrus kedua pasca sapih secara berturut – turut adalah berkisar 18 ±  1 hari, 19 ± 1,73 hari, dan 20,7 ± 1,58 hari. Hasil uji analisis menunjukkan bahwa tidak ada beda nyata (p>0,05) antar semua kelompok pada siklus estrus pertama pasca sapih. Kesimpulannya, interval siklus estrus kedua pasca sapih pada kelompok induk kambing sapih 42 hari PP adalah 18 hari dan sapih 56 hari PP adalah 19 hari dan kontrol rata – rata berkisar 20,7 hari. Kata kunci : Estrus, Post partum, Vaginal Smear
UJI KUALITAS SPERMATOZOA KAMBING BOER HASIL PEMBEKUAN MENGGUNAKAN MR. FROSTY ® PADA TINGKAT PENGENCERAN ANDROMED® BERBEDA Munazaroh, Anis Mei; Wahjuningsih, Sri; Ciptadi, Gatot
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 14, No 2 (2013): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.142 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan pengencer Andromedpada level yang berbeda dengan menggunakan Mr. Frosty® selama proses pembekuan terhadapkualitas spermatozoa kambing Boer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalahpercobaan atau eksperimental dengan jenis rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap(RAL) dengan 4 perlakuan masing-masing 10 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalahspermatozoa kambing Boer diencerkan menggunakan Andromed dengan perbandingan 1:4 (P1),1:8 (P2), 1:12 (P3), dan 1:16 (P4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pengencerAndromed memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap viabilitas, motilitas danabnormalitas spermatozoa kambing Boer setelah pendinginan dan pembekuan. Nilai rataanviabilitas, motilitas dan abnormalitas spermatozoa terbaik pada perlakuan P1 baik padapendinginan dengan nilai masing-masing sebesar 88,67+4,16 %; 66,33+1,53, dan 4,67+0,57 %.Pada pembekuan nilai rataan viabilitas, motilitas dan abnormalitas spermatozoa kambing Boersebesar 61,6+8,6 %; 51+6,5 % dan 8,4+1,77 %. Kesimpulan dari penelitian ini diperolehmotilitas, viabilitas dan abnormalitas terbaik pada tingkat pengenceran Andromed sebanyak 1:4(P1).Kata kunci: Kambing Boer, spermatozoa, pembekuan, pengencer andromed, Mr. Frosty®
STUDI KASUS TINGKAT PEMOTONGAN KAMBING BERDASARKAN JENIS KELAMIN, KELOMPOK UMUR DAN BOBOT KARKAS DI TEMPAT PEMOTONGAN HEWAN KOTA MALANG Wahyudi, Eko; Ciptadi, Gatot; Budiarto, Agus
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 1 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO)
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.305 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2017.018.01.9

Abstract

The research was conducted at Malang goat slaughterhouse on November 10th to December 10th 2016. This study is to determine the number of goat slaughter based on sex, age group, and carcass weight. The material used as many as 128 goats. The method used is a case study. Data observed was presented in average value and standard deviation for being descriptive analysis. Results showed the slaughter rate of male goat reached 14.06% and females reached 85.94%. The slaughter rate of goat aged less than 1 year is 28.91%, age 1 - 1.5 years are 22.66%, age 1.5 - 2.5 years are 13.28%, 2.5 - 3.5 years old is 14.06% and age is 3.5 - 4 years 21.09%. The average carcass weight of male goat which less than 1 year - 4 years vary between 10.37±3.58 kg - 22.77±4.51 kg, and female goat carcass weight 10.9±2.21 kg - 19.63±4.32 kg. The conclusion of this research is that female goat slaughter at Malang goat slaughterhouse is very high reach 85.94% while the male slaughter is only 14.06%. The highest goat slaughter rate aged less than 1 year reached 28.91% consist male goat 4.69% and female 24.21%. Male and female goat carcasses percentage aged less than 1 year - 4 years varies between 48.32% - 50.34% and 48.55% - 49.31%. From this research, it is suggested to reduce female livestock slaughter and further research is needed on the level of productive doe slaughter in Malang slaughterhouse area. Keywords: Slaughter rate, Goat, Slaughterhouse
THE IMPROVEMENT AND APPLICATION OF EI-GUN (ELECTRICAL INSEMINATION GUN) FOR ARTIFICIAL INSEMINATION (AI) USING GOAT FRESH SEMEN Dewi, Mirsa Ita; Ciptadi, Gatot; Radiati, Lilik Eka
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 17, No 2 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO)
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.796 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2016.017.02.3

Abstract

Electrical Insemination Gun (EI-GUN) was a tool for Artificial Insemination (AI) using fresh semen with an electric control system. The research objective was to produced EI-GUN for AI using fresh semen on small ruminants (goat). The research was conducted from March to June 2015. The process of EI-GUN creation implemented in Design and Prototype Laboratory and Aero Modeling Research Laboratory at Engineering Faculty, University of Brawijaya (UB). Testing tools EI-GUN on goat was conducted in the Sumber Sekar Laboratory, Animal Husbandry Faculty, UB.  The methods of research were literature study, tool specification determination, designing EI-GUN, running test, semen evaluation passed EI-GUN and application on Goat. EI-GUN has seven important parts, which supports each other in this operating system. Those parts consist of stylet, servo, system controlled, insemination pump, connecting rod, battery, and holder. EI-GUN work system sucked the semen into insemination pump as much as 5 ml, and release the semen 0.25 ml appropriate standard of AI. It was applicable for 20 times AI. The results showed that the cell motility of spermatozoa ≥ 70% were still in ranging of Indonesian National Standard (SNI). Keywords: artificial insemination, EI-GUN, fresh semen.