M. Dahlan
Balai Penelitian Tanaman Serealia, Jalan Dr. Ratulangi, Kotak Pos 173 Maros 90514

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

PENENTUAN STRUKTUR KRISTAL ALMG2 ALLOY DENGAN DIFRAKSI NEUTRON Ismul Hadi, Arif; Sumariyah, Sumariyah; Dahlan, M.; Mohtar, Mohtar
BERKALA FISIKA Vol 14, No 2 (2011): Berkala Fisika
Publisher : BERKALA FISIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.535 KB)

Abstract

The determination of crystallography structure of AlMg2 alloy has been done by neutron diffraction. In fabrication process, it was addressed by rolling phases. The first by hot rolling with thickness follows: 8.35 mm; 7.00 mm; 5.6 mm; 2.60 mm; 1.65 mm ± 0.05 at  425 0C temperature extended by cold rolling: 1.65 mm to 1.30 mm ± 0,07 thickness at normal temperature. Counting of the data was started by activate of detector from 110 to 400 angle with 0.075 overstep and preset monitor count of 60,000 at 26 MW. Processing of the data using of microcomputer 16 bit NEC PC-9801 VM2. The results show that the AlMg2 alloy structure are FCC system with lattice parameter (a) = 4.0817 A0.   Keywords: AlMg2 alloy, neutron diffraction, and FCC
Karakterisasi Kemiripan Genetik Koleksi Inbrida Jagung Berdasarkan Marka Mikrosatelit Pabendon, Marcia Bunga; Dahlan, M.; Sutrisno, Sutrisno; George, M. L.C.
Jurnal AgroBiogen Vol 2, No 2 (2006): Oktober
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Information on genetic relationships among available crop germplasm such as maize inbred lines, has important implications to breeding programs. A set of 26 maize inbreds togeher with six standard lines from CIMMYT (CML51, CML292, CML202, CML206, CML236, dan CML396), was characterized using 26 SSR markers, which were coverage of the maize genomes. The objective of this study was to analyze genetic diversities among the Indonesian maize inbred collections. Polymorphism Information Content (PIC) value and the observed genetic distance indicated the existence of large variabilities among the inbreds. Cluster analysis based on 27% of the Jaccard’s similarity coefficient placed the inbreds into three groups. Genetic distances among all the possible pairs without the standard maize lines varied from 0.32 (KSX360F2-5-1-3-1v vs KSX2601F2-5-1-1-v) to 0.88 (PT963298-1-B-B-Bv vs Mr13). Cluster and Principal Coordinate Analysis of the genetic distances, revealed a clear differentiation of the inbred lines into groups according to their source populations. This clustering were consistent with those of the known pedigree records of the inbreds based on their morphological characters. These results support the use of morphological traits in the production of maize hybrids. The SSR markers proved to be effective to characterize, identify, and demonstrate genetic similarities among the maize inbred lines.
MEMBANGUN MANUSIA BERKUALITAS MELALUI PENDIDIKAN Dahlan, M.
FIKRAH Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Ibn Khaldun University, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.002 KB)

Abstract

Dalam pembangunan, manusia adalah perencana, pelaku, pengendali serta tujuan dari pembangunan. Oleh karena itu pengembangan kualitas sumber daya manusia merupakan prioritas utama yang harus ditingkatkan, sehingga dengan demikian ia dapat memiliki segala kemampuan yang dibutuhkan dalam pembangunan di segala bidang. Manusia yang berkualitas dapat memanfaatkan segala potensinya dan mampu merebut peluang di masa depan bagi kejayaan bangsa dan negara. Faktor manusia menjadi paling menentukan akan berhasil atau gagalnya bangsa untuk tetap tegak dalam persaingan global karena yang membedakan kemampuan suatu bangsa dengan bangsa lainnya adalah kualitas manusianya.Upaya pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia berkualitas dapat dilakukan melalui berbagai jalur, diantaranya melalui pendidikan. Pendidikan ini merupakan jalur peningkatan kualitas sumber daya manusia yang lebih menekankan pada pembentukan kualitas dasar, misalnya keimanan dan ketakwaan, kepribadian, kecerdasan, kedisiplinan, kreativitas dan sebagainya.
ISLAM DAN BUDAYA LOKAL : Adat Perkawinan Bugis Sinjai Dahlan, M.
Jurnal Diskursus Islam Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akulturasi adalah pencampuran antara budaya lokal dengan ajaran Islam karena adanya pengaruh yang saling mempengaruhi. Adaptasi, adalah penyesuaian budaya lokal terhadap ajaran Islam. Integrasi, adalah pembauran antara budaya lokal dengan ajaran Islam sehingga menjadi kesatuan. Adanya hubungan timbal balik antara Islam dan budaya lokal' berdasarkan kaidah bahwa, al-adah muhakkamat (adat itu dihukum-kan) atau lebih lengkapnya adat adalah syariah yang dihukumkan, demikian pula adat atau akhlak dan kebiasaan pada suatu masyarakat adalah sumber hukum dalam Islam, kecuali pada segi akidah, tidak berlaku untuk kaidah tadi, maka kedatangan Islam di suatu tempat selalu mengakibatkan adanya tajdid (pembaruan) pada masyarakat menuju ke arah yang lebih baik, tetapi pada saat yang sama Islam tidak mesti distruptif, yakni bersifat memotong suatu masyarakat dari masa lampaunya semata, melainkan juga dapat ikut melestarikan apa saja yang baik dan benar dari masa lampau itu dan bisa dipertahankan dalam ajaran universal Islam yang disebut 'urf. Asimilasi budaya lokal dalam perkawinan bugis lerhadap ajaran Islam di Sinjai, disebut sebagai asimilasi kultural spiritual karena ditemukannya perpaduan antara budaya lokal dengan budaya yang berkembang sekarang, di dalamnya mongandung nilai-nilai agama yang sakral.ABSTRACTThe acculturation is a mixture of the local wisdom with the teachings of Islam as they both influence each other. The adaptation is an adjustment of the local cultures against Islamic teachings. The integration is a blending of the local cultures with the Islamic tenets so that it becomes unity. The reciprocal relationship between Islam and the local cultures is based on a principle that al-ddah muhakkamat (custom has been stipulated) or in more completely, the custom is a syari’ah convicted as well as moral values and custom in a society is the source of laws in Islam, excluded in the creed (akidah) field in which the principle is not an effect, so that the arrival of Islam in a particular place is quite often led to tajdid (renewal) in the society toward a better condition, while at the same time, Islam does not necessarily disrupt, that is, cutting off a society from their past, but Islam is able to maintain something good and right from the past and also can be kept in the universal Islamic teachings called ‘urf. The assimilation of the local culture in Bugis wedding ceremony with the teachings of Islam in Sinjai for example, can be called as a cultural - spiritual assimilation because it has been found the fusion of the local culture with the current growing culture, containing the sacral religious values.
Nabi Muhammad saw. (Pemimpin Agama dan Kepala Pemerintahan) Dahlan, M.
RIHLAH Vol 6, No 2 (2018): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i2.6912

Abstract

This article aimed to know about the process of preaching of the Prophet Muhammad saw. in spreading Islam, and the leadership of the Prophet Muhammad saw. as the leader of the religion and nation. The first principle is the construction of the Masjid, the second is the Ukhuwwah Islamiyyah, the third is the relationship of friendship among other parties that are Muslims.The greatest success of Prophet Muhammad is able to become the leader of the country and religion which has laid on the foundations of politics in the state of life and with it has become the origin of the spread of Islam until it is able to master 2/3 of the world and become the largest religion nowadays.The realization of the Medina Charter is evidence of the nature of the Prophet Muhammad's vision. He not only emphasized Muslims, but he also accommodated the interests of the Jews and united the two peoples under his leadership. The Prophet Muhammad saw. succeeded in creating unity, as well as brotherhood between the Muhajirin and Anshar. Among the Anshar, Prophet Muhammad saw.is admitted to have recaptured the interconnected relations that had always been hostile. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui: (1) bagaimana proses dakwah Nabi Muhammad saw. dalam menyebarkan agama Islam, (2) bagaimana kepemimpinan Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin Agama dan pemimpin negara.Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, ia segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar pertama, pembangunan masjid, Dasar kedua, adalah ukhuwwah islamiyyah, Dasar ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang beragama Islam.Kesuksesan terbesar Nabi Muhammad adalah mampu menjadi pemimpin negara dan (sekaligus agama) yang telah meletakkan dasar-dasar politik dalam kehidupan bernegara dan dengan hal tersebut telah menjadi cikal bakan tersebarnya agama Islam hingga mampu menguasai 2/3 dunia dan menjadi agama terbesar hingga sekarang. Terwujudnya Piagam Madinah merupakan bukti sifat kenegarawan Nabi Muhammad saw. Beliau tidak hanya mementingkan umat Islam, tapi juga mengakomodasi kepentingan orang Yahudi dan mempersatukan kedua umat seumpun ini di bawah kepemimpinannya. Bagi umat Islam Nabi Muhammad saw. berhasil menciptakan persatuan dan kesatuan, serta persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Di kalangan kaum Anshar Nabi diakui telah merekat kembali hubungan antarsuku yang sebelumnya selalu bermusuhan.