Articles

Found 13 Documents
Search

KEPADATAN VEKTOR DAN STATUS RESISTENSI LARVA AEDES AEGYPTI DI DESA PANCUR PUNGAH KECAMATAN MUARA DUA KABUPATEN OKUS TAHUN 2019 Handayani, Dwi; Hidayatullah, Fadjar Siddiq; Anwar, Chairil; Warni, Sulfa Esi; Dalilah, Dalilah; Ambarita, Lasbudi P; Prasasty, Gita Dwi
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.267 KB) | DOI: 10.32539/JKK.V7I2.9710

Abstract

Keberhasilan pengendalian penyakit demam berdarah dengue tergantung dari status kerentanan vektor terhadap insektisida yang digunakan. Sampai saat ini dikenal dua vektor DBD yaitu Aedes aegypti sebagai vektor utama dan Aedes albopictus sebagai vektor sekunder. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kepadatan vektor Aedes aegypti dan status resistensinya terhadap larvasida Temephos di Desa Pancur Pungah Kabupaten Muara Dua Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Sampel pada penelitian ini adalah 100 buah rumah, tempat penampungan air, dan larva yang ditemukan di dalam tempat penampungan air. Tempat penampungan air dan larva didalamnya diidentifikasi kemudian dilakukan penghitungan dan uji larvasida dilakukan dengan menggunakan Temephos 0,02 ppm sebanyak 5 kali pengulangan. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 389 tempat penampungan air dan 55 diantaranya terdapat larva. Hasil perhitungan menunjukkan HI: 35, CI: 14,1 dan BI: 55 dan uji larvasida menunjukkan semua larva yang dipaparkan terhadap Temephos 0,02 ppm mengalami kematian. Dari perhitungan tersebut didapatkan kepadatan vektor berada pada intensitas sedang dan status kerentanannya masih sensitive atau susceptible terhadap Temephos. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bagi kebijakan pengendalian vektor DBD setempat.
DISTRIBUSI TANAMAN DAN NILAI EKONOMI HUTAN KEMASYARAKATAN DI KECAMATAN BATUKLIANG UTARA KABUPATEN LOMBOK TENGAH (PLANT DISTRIBUTION AND ECONOMIC VALUE OF COMMUNITY FORESTS IN NORTH BATUKLIANG SUB-DISTRICT, CENTRAL LOMBOK REGENCY) Siregar, Chairil Anwar; Harianja, Alfonsus H.; Dalilah, Dalilah; Cahyono, Sidiq; Ulfah, Soraya
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 16, No 2 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.753 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2019.16.2.115-131

Abstract

ABSTRACTCommunity forest (HKm) as one scheme of social forestry has been established in Central Lombok Regency since 1999 and was legalized in 2010. The HKm covered an area of 1,809.5 ha and has formed an agroforestry pattern since it was first established 13 years ago. However, the plant distribution and economic value of production area remain unknown. Therefore this research is designed to record plant composition and calculate the economics value of HKm in the research area. Survey method using analysis of vegetation was carried out to measure the plant composition. Sampling intensity was 0.01% or 1.81 ha with a total number of sample plots were 45. Survey was also used to calculate the economic value, with sampling intensity of 1% or in total 32 households. The results showed that the plant composition consists of mature trees (2.02%), young trees (4.12%), sapling (26.44%) and seedling (67.41%). The plant density was 11,462 ind/ha and dominated by Coffea sp., Musa sp., Durio zibethinus, Theobroma cacaoa and Arthocarpus heterophyllus with proportion of 24.08%; 13.70%; 9.25%; 7.48% and 5.30%, respectively. Total economic value in the average was Rp 6,366,484/household/year or Rp 530,540/household/month. There was a downward trend in HKm production due to increased vegetation coverage. Exchange rate of HKm commodities can be improved by applying supporting strategic programs in HKm developments.   ABSTRAKPembangunan Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Kabupaten Lombok Tengah telah dimulai sejak tahun 1999 dalam bentuk ijin sementara pengelolaan HKm dan kemudian diterbitkan Ijin Usaha Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (IUP-HKm) pada tahun 2010 dengan luas areal 1.809,5 ha. Kawasan HKm dalam waktu tiga belas tahun (2000-2013) telah  membentuk formasi hutan pola agroforestri. Namun demikian, distribusi tanaman dan nilai produksi kawasan belum diketahui. Untuk itu dilaksanakan penelitian guna mengetahui komposisi tanaman dan nilai produksinya. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan melakukan analisa vegetasi untuk mengetahui distribusi tanaman dengan intensitas sampling sebesar 0,01% atau 1,81 ha dengan jumlah plot sebanyak 45 unit. Untuk mengetahui nilai ekonomi dari produksi tanaman dalam HKm, dilaksanakan wawancara terhadap petani penggarap HKm dengan intensitas sampling 1% atau sebanyak 32 petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi tanaman yang ada dalam areal HKm terdiri dari strata pohon sebesar 2,02%, tiang 4,12%, pancang 26,44% dan semai 67,4%. Kerapatan tanaman 11.462 btg/ ha yang didominasi oleh tanaman kopi (Coffea sp.), pisang (Musa sp.), durian (Durio zibethinus), coklat (Theobroma cacao) dan nangka (Arthocarpus heterophyllus) dengan proporsi berturut-turut 24,08%; 13,70%; 9,25%; 7,48% dan 5,30%. Nilai ekonomi yang diperoleh rumah tangga petani rata-rata sebesar Rp 6.366.484/tahun atau Rp 530.540/bulan. Terdapat kecenderungan penurunan nilai produksi HKm akibat semakin meningkatnya penutupan lahan. Untuk meningkatkan nilai tukar komoditas HKm, diperlukan program strategis yang dapat mendorong pembangunan HKm.
Identifikasi spesies nyamuk genus Mansonia dan deteksi molekuler terhadap mikrofilaria/larva cacing Brugia malayi pada nyamuk genus Mansonia Dalilah, Dalilah; Anwar, Chairil; Theodorus, Theodorus; Saleh, Irsan
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 4, No 2 (2017): April 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filariasis merupakan penyakit menular menahun dengan kecacatan seumur hidup yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria. Daerah endemis filariasis di Indonesia tersebar cukup luas.  Sebanyak 70% kasus ini disebabkan oleh Brugia malayi. Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan termasuk salah satu wilayah endemis filariasis malayi. Pemutusan transmisi vektor merupakan  unsur utama program eliminasi filariasis limfatik sehingga metode deteksi untuk mengetahui ada tidaknya infeksi larva pada nyamuk adalah sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis spesises nyamuk Mansonia sebagai vektor filaria di Banyuasin dan mendeteksi DNA mikrofilaria/larvafilaria Brugia malayi pada tubuh vektor. Penelitian ini merupakan uji laboratoris yang dilaksanakan pada  tiga Rukun Tetangga (RT) di Desa Sungai Rengit Murni yang lokasinya berdekatan dengan sungai/rawa dan pemukiman. Sampel adalah semua nyamuk genus Mansonia betina. Penangkapan dilakukan dengan umpan hewan/sapi yang dimasukkan di dalam kelambu. Identifikasi nyamuk dilakukan di Lokalitbang P2B2 Baturaja dan identifikasi molekuler dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi RSMH Palembang. Populasi nyamuk yang berhasil ditangkap dengan umpan sapi sebanyak 3085 ekor dengan populasi nyamuk dominan berasal dari genus Culex dan Mansonia.Sebanyak tujuh spesies nyamuk genus Mansoniaditemukan yakni : Ma. uniformis, Ma. africana, Ma. indiana, Ma. dives, Ma. annulifera, Ma. annulata dan Ma. Bonneae. Total jumlah nyamuk Mansonia yang didapat berjumlah 906 ekor yang dibagi dalam 50 pool. Pada hasil pemeriksaan laboratorium molekuler didapat hasil tidak munculnya pita di titik 322 bp atau 644 bp yang merupakan rantai DNA dari Brugia malayi. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa ditemukan tujuh spesies nyamuk dari genus Mansonia. Pada uji molekuler tidak ditemukan larva/mikrofilaria. Sebagai saran dilakukan penelitian lebih lanjut dengan metode pemeriksaan molekuler yang lebih spesifik untuk mendeteksi keberadaan mikrofilaria dalam tubuh vektor, memperbanyak jumlah sampel sehingga peluang untuk ditemukannya akan semakin besar.
Investigasi resistensi Anopheles sp. terhadap insektisida piretroid dan kemungkinan terjadinya mutasi gen voltage gated sodium channel (VGSC) Haryanto, Didid; Dalilah, Dalilah; Anwar, Chairil; Prasasti, Gita Dwi; Handayani, Dwi; Ghiffari, Ahmad
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 15, No 3 (2018): November
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5994/jei.15.3.134

Abstract

Penggunaan insektisida golongan piretroid secara luas dan terus menerus dalam pencegahan penularan malaria dapat menimbulkan mutasi gen voltage gate sodium channel (VGSC) pada vektor nyamuk yang dikenal dengan mutasi knockdown resistance (kdr). Mutasi gen ini membuat sensitifitas ikatan protein VGSC dengan insektisida menurun sehingga menyebabkan resistensi. Timbulnya resistensi insektisida piretroid pada nyamuk vektor dapat menjadi penghambat keberhasilan pemutusan penularan penyakit malaria sehingga deteksi adanya mutasi mutlak diperlukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status resistensi insektisida piretroid dan mengidentifikasi mutasi pada gen VGSC kodon 1014 penanda resistensi nyamuk Anopheles sp. yang menjadi vektor malaria di Provinsi Sumatera Selatan. Sampel diambil di tiga Kabupaten, yaitu Muara Enim, Ogan  Komering Ulu (OKU), dan Lahat. Uji awal kerentanan terhadap insektisida piretroid (permetrin 0,75%) dilakukan sesuai standar WHO tahun 2016 pada spesies dominan, yaitu Anopheles vagus Dönitz. Selanjutnya, identifikasi mutasi gen VGSC pada kodon 1014 dilakukan pada An. vagus dan spesies Anopheles barbirostris van der Wulp yang tertangkap, dengan teknik seminested-PCR dan dilanjutkan dengan analisis sekuensing. Hasil uji kerentanan Anopheles sp. di Kabupaten Muara Enim menunjukkan resisten terhadap piretroid, sedangkan di Kabupaten Lahat dan OKU masih rentan terhadap insektisida piretroid. Sementara, analisis sekuensing PCR menunjukkan tidak terjadi perubahan basa alel kdr pada target site insektisida gen VGSC sehingga dapat disimpulkan secara molekuler belum ditemukan adanya mutasi pada gen VGSC kdr allel penanda resistensi insektisida piretroid. 
The Efficacy of Red Ginger Fraction (Zingiber officinale Roscoe var. rubrum) as Insecticidal Aedes aegypti Anwar, Chairil; Syukur, KM Yahya; Dalilah, Dalilah; Salni, Salni; Novrikasari, Novrikasari
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 2 No. 2 (2018): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bsm.v2i2.40

Abstract

Aedes aegypti is a vector of Dengue Hemoragic Fever. The use of synthetic chemical insecticide is the most common way to control Ae. aegypti. However, since it can cause resistency if it is used in a wide scale with high frequency and continously, it requires an alternative way. Red ginger (Zingiber officinale Roscoe var. rubrum) is one of natural insecticide which is safe to be used to control Ae. aegypti. This research aims was to determine the activity of active fraction of red ginger to mortality of Ae. aegypti. It was a quasi-experiment research with post test only control design. Twenty Ae. aegypti Liverpool strain were the sample of this research with 5 concentration for each and 4 times repetition. The result showed that concentration 0.5%, 1.0%, 1.5%, 2.0% and 2.5% causing mortality percentage of 32.5%, 33.8%, 51.3%, 58.8% and 65.0% respectively. One way Anova test showed p-value < α (0.00 < 0.05). It was concluded that there was a significant difference of various concentration of active fraction n-heksan of red ginger extract to the mortality of Ae. aegypti. The lethal concentration (LC50) was 2.409%. It was suggested to continue this research with reppellant or bio-assay test method.   Key words: Toxicity, extract, fraction, Aedes aegypti, Insecticidal
The Relationship Between Soil Transmitted Helminthes (STH) Infection and Nutritional Status in Students of State Elementary School Number (SDN) 200 Palembang Indonesia Anwar, Chairil; Annisa, Saraswati; Dalilah, Dalilah; Novrikasari, Novrikasari
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 2 No. 2 (2018): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bsm.v2i2.39

Abstract

Infection of Soil Transmitted Helminthes (STH) is caused by intestinal nematodes where as in its life cycle, soil is needed as the media for the eggs or larvae to mature into effective forms, most commonly happen to children of school age. This infection is still one of the main problems in public health, including Indonesia. STH infection are widely distributed in tropical and subtropical areas. Lack of personal hygiene, poor environmental sanitation and low socioeconomic status are some factors that plays role in increasing the occurrence of the infection. This infection is also one of the causes responsible for malnutrition in children by decreasing appetite and food intake thus ensued adverse consequences such as declining growth pace, impairment of physical health, and weakening cognitive function. This study was conducted to analyze the association of STH infection with nutritional status of SDN 200 students in  Kertapati District, Palembang. This study was an analytic observational research with a cross sectional research design. Samples consist of 107 students chosen using proportional stratified random sampling technique. Data was collected by direct interview using questionnaires, measuring body weight and height to obtain nutritional status which then classified using CDC 2000 growth curve while fecal contamination was examined using Kato Katz and modified Harada Mori methode in the Laboratory of Parasitology Medical Faculty of Universitas Sriwijaya. Data then analyzed using Chi-square test. From 107 students, 27.1% infection of STH was found on 29 students with 6 students (20.7%) infected by A. lumbricoides and 23 students (79.3%) infected by T. trichiura. Proportion of malnutrition status was found at 43.9%. Statistical test showed a significant association between STH infection and nutritional status (p=0.036; OR=3.167; Cl 95%: 1.163-15.237). There was a significant association between STH infection and nutritional status in students of SDN 200 Kelurahan Kemas Rindo Kertapati District Palembang City.
Papaya Leaf (Carica papaya L.) Active Fraction Effective as Bioinsectiside Against Anopheles species (Diptera: Culicidae) Larva Invitro Study Anwar, Chairil; Febriyanto, Febriyanto; Dalilah, Dalilah
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 2 No. 1 (2018): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bsm.v2i1.15

Abstract

ABSTRACT   Malaria is one of the spread-disease that become a global public health problem included Indonesia. One of the controlling approach of vector-borne disease is by avoiding direct contact of human and mosquitoes. Natural insecticide is an alternative method that can be used. Carica papaya L. is one of the natural insecticide because contains of alkaloid, flavonoid and saponin. This research was aimed to determine the activity of active fraction. was a quasi-experiment research with post test only group design. This research was conducted in April – June 2017. Extraction and fractination was performed in laboratory of MIPA Biologi of Sriwijaya University. The experiment was performed in laboratory of Entomologi Baturaja. The sample of the research was Anopheles sp. larva instar III and IV. Larvacide test used 6 different concentrations which was 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1,0% and 2,0% with aquadest as a control. Anova test and post hoc analysis with SPSS 22 software. The result of efficacy test to Anopheles sp. larva showed that N-hexan was the fraction with highest larvacide ability that kill 95% larva at 2% concentration level. Thin layer chromatography test showed a compound of Terpenoid. Activity test of active fraction N-heksan of papaya leaf with the highest mortality rate 92,5% and the lowest 46,25%. LC50 fraction N-heksan of papaya leaf was high toxicity at 24 hours of observation. Anova test showed there was significant influence and difference of various concentration of active fraction of papaya leaf to the mortality of Anopheles sp. larva with p value < α (0,00<0,05).   Key words             : Anopheles sp. larva, N-hexan fraction of papaya leaf, larvacide  
Prevalensi, Insidensi, dan Karakteristik Klinikohistopatologi Fibrocystic Change Cesariana, Vindy; Dewi, Citra; Dalilah, Dalilah

Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v2i2.65

Abstract

Fibrocystic change (FCC) meliputi suatu perubahan histologi payudara yang ditandai dengan kombinasi kista yang bervariasi, pertumbuhan fibrosa, dan proliferasi epitel. Kelainan ini berhubungan dengan dengan perubahan hormonal selama siklus menstruasi, sering terjadi pada usia 20-50 tahun dengan gejala klinis payudara terasa seperti benjolan saat diraba. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi, insidensi, dan karakteristik klinikohistopatologi FCC yang diperiksa secara histopatologi. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang dan pengumpulan data sekunder diperoleh dari rekam medik pasien. Subjek penelitian adalah seluruh pasien yang menjalani pemeriksaan histopatologi jaringan payudara dan memenuhi kriteria inklusi. Prevalensi FCC yaitu sebesar 24,29%. Rentang usia pasien berkisar antara 13-68 tahun. Perbandingan antara perempuan dan laki-laki yang menderita FCC adalah 46,2:1. Lokasi lesi terbanyak pada payudara kiri. Keberadaan FCC dengan lesi penyerta lebih sering ditemui daripada lesi FCC tunggal. Temuan lesi penyerta dikelompokkan menjadi satu hingga empat lesi penyerta yang ditemui bersamaan diagnosis FCC. Insidensi FCC terbanyak pada kelompok usia 26-45 tahun. Mayoritas penderita adalah perempuan. Keberadaan kelompok lesi penyerta tunggal terbanyak ditemui berupa ductal hyperplasia diikuti kelompok dua lesi penyerta terbanyak yaitu ductal hyperplasia dan FAM.
The Influence of Chlorine to The Egg Hatchability of Aedes Aegypti Irwinsyah, Fajri; Dalilah, Dalilah; Triwani, Triwani
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 50, No 4 (2018): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aedesaegypti adalah nyamuk yang membawa virus serotip DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4, dimana semua serotype ini dapat menyebabkan Demam Berdarah (Lestari, 2007). Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh konsentrasi kaporit terhadap daya tetas telur Aedesaegypti. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh pada berbagai dosis kaporit terhadap persentase penetasan telur Aedesaegypti. Makin tinggi konsentrasi kaporit maka ada kecenderungan makin sedikit jumlah telur yang menetas. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian post test only group design dengan berbagai konsentrasi kaporit yaitu 0 mg/l ; 2 mg/l; 4 mg/l; 8 mg/l dan 10,0 mg/l; 12,5 mg/l; 15 mg/l. Data hasil eksperimen akan di analisis statistic yaitu ujinormalitas, uji kruskal wallis dan analisis probit LC 50. Hasil dari uji normlitas didapat bahwa nilai P<0,05 yang artinya nilai tidak normal. Karena nilai p tidak terdistribusi normal maka uji selanjutnya yang akan digunakan adalah krukal wallis. Hasil dari analisis kruskal wallis akan melihat nilai bermakna atau signifikan bermakna, didapatkan bahwa konsentrasi 10 mg/l; 12,5 mg/l; 15 mg/l, dimana pada konsentrasi ini daya tetas telur terhambat dan analisis probit menunjukkan bahwa daya hambat terhadap penetasan telur 50% pada konsentrasi kaporit 1,3880 mg/l. Berdasarkan hasil tersebut kaporit dapat  digunakan sebagai alternative pengendalian vector demam berdarah. 
Hubungan Infeksi Cacing Soil Transmitted Helminths (STH) dengan Status Gizi pada Siswa Sekolah Dasar Negeri 200 Kelurahan Kemasrindo Kecamatan Kertapati Kota Palembang Annisa, Saraswati; Dalilah, Dalilah; Anwar, Chairil
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 50, No 2 (2018): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, termasuk Indonesia. Infeksi ini disebabkan oleh cacing golongan nematoda usus yang dalam siklus hidupnya membutuhkan media tanah untuk proses pematangan telur atau larva menjadi bentuk yang infektif, terjadi terutama pada anak usia prasekolah dan anak usia sekolah. Infeksi ini adalah salah satu penyebab dari kekurangan gizi pada anak karena dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan dan asupan makanan sehingga dapat menyebabkan konsekuensi yang merugikan seperti penurunan kecepatan pertumbuhan, lemahnya kesehatan fisik, lemahnya fungsi kognitif, hingga malnutrisi pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan infeksi cacing STH dengan status gizi pada siswa Sekolah Dasar Negeri 200 Kelurahan Kemasrindo Kecamatan Kertapati Kota Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 107 siswa yang dipilih dengan teknik proportional stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner, pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk mendapatkan satus gizi yang kemudian diklasifikasikan dengan menggunakan kurva pertumbuhan CDC 2000, dan pemeriksaan feses menggunakan metode Kato Katz dan Harada Mori modifikasi yang dilakukan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil penelitian didapatkan dari 107 siswa, proporsi infeksi STH sebesar 27,1% (29 siswa) dengan rincian infeksi tunggal A. lumbricoides ditemukan pada 6 (20,7%) siswa dan infeksi tunggal T. trichiura pada 23 (79,3%) siswa. Proporsi status gizi kurang ditemukan sebesar 43,9%. Dari hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi STH dan status gizi (p=0,036; OR=3,167; CI 95%: 1,163-15,237). Terdapat hubungan antara infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) dan status gizi pada siswa SDN 200 Kelurahan Kemasrindo Kecamatan Kertapati Kota Palembang.