Astrilia Damayanti
Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

PEMUNGUTAN MINYAK ATSIRI MAWAR (Rose Oil) DENGAN METODE MASERASI Damayanti, Astrilia; Fitriana, Endah Ayu
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 1, No 2 (2012): December 2012
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v1i2.2543

Abstract

Minyak mawar merupakan salah satu produk minyak bunga yang memungkinkan diproduksi di Indonesia dengan kualitas ekspor. Manfaat dari minyak mawar adalah untuk parfum, kosmestik, dan obat-obatan. Minyak mawar dapat diproduksi dengan menggunakan metode diantaranya maserasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui rendemen minyak atsiri mawar merah (Rosa damascena) dan komponen minyak atsiri yang terambil dengan etanol dan n-heksana. Bahan baku yang digunakan berupa mahkota bunga mawar sebanyak 50 gram yang dipotong kecil-kecil, kemudian direndam dalam pelarut dengan perbandingan 1:3. Pelarut yang digunakan yaitu etanol dan n-heksana. Proses maserasi dilakukan dengan pengadukan selama 1 menit secara manual pada suhu ruang dan didiamkan selama 12 jam di tempat tertutup dan gelap (tanpa terkena cahaya). Hasil maserasi berupa ekstrak mawar dipisahkan dengan cara penyaringan dan pemerasan bunga. Filtrat yang mengandung minyak bunga mawar dievaporasi dengan  rotary vacuum evaporator. Maserasi menggunakan etanol pada suhu 60ºC selama 20 menit, sedangkan maserasi menggunakan n-heksana pada suhu 55 ºC selama 10 menit. Minyak atsiri hasil maserasi bunga mawar merah dilakukan uji GC-MS. Komponen utama minyak atsiri dari bunga mawar dengan pelarut etanol dan pelarut n-heksana secara berurutan adalah phenyl ethyl alcohol (2,73%) dan (31,69%). Rendemen hasil maserasi minyak bunga mawar dengan pelarut etanol adalah 8,76%, sedangkan pelarut n-heksana menghasilkan 0,34 %. Rose oil is one of the flower oil products which is potentially produced in Indonesia with export quality. The uses of rose oils are for perfume, cosmestics, and medicine. Rose oil can be produced using methods such as maceration. The purpose of this reasearch was to determine the yield of essential oil of red roses (Rosa damascena) and the essential oil components taken using ethanol and n-hexane. The raw material used was 50 grams of red roses which subsequently soaked into solvent with ratio of 1:3. The solvent used were ethanol and n-hexane. Maceration process was carried out by manually stirring for 1 minute at room temperature and kept for 12 hours in a closed and dark (without exposure to light) place. Maceration result in the form of rose extract was separated by filtration and extortion of flowers. The filtrate containing rose oil was evaporated using rotary vacuum evaporator. Maceration temperature using ethanol was 60 ºC for 20 minutes, while using n-hexane was 55ºC for 10 minutes. The essential oils produced from maceration process of red roses was analysed using GC-MS. The main components of the essential oil of roses extracted using solvents of ethanol and n-hexane sequentially were phenyl ethyl alcohol (2.73%) and (31.69%). The yield of the rose oil maceration with ethanol was 8.76%, while the solvent of n-hexane yield 0.34%.
Kualitas Refined-Glyserin Hasil Samping Reaksi Transesterifikasi Minyak Sawit dengan Menggunakan Variasi Katalis Damayanti, Astrilia; Pita Rengga, Wara Dyah
Jurnal Kompetensi Teknik Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak sawit merupakan minyak nabati yang dapat mengalami proses transesterifikasi dengan alkohol untuk menghasilkan alkil ester. Jika alkohol yang digunakan adalah metanol, maka akan menghasilkan metil ester yang biasa disebut biodiesel yang ramah lingkungan. Hasil samping dari proses transesterifikasi ini adalah gliserin dalam jumlah sekitar 40% dari total produk. Gliserin merupakan senyawa yang memegang peranan penting dalam perkembangan industri obat-obatan, makanan, kosmetik, pelumas, tembakau, dll. Jika kebutuhan biodiesel meningkat, maka jumlah gliserin sebagai produk samping juga meningkat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah katalis optimum dalam reaksi transesterifikasi minyak sawit, perbandingan yield gliserin terhadap katalis KOH dan NaOH, serta kualitas refined-glyserin hasil pemurnian gliserin Variabel yang divariasikan adalah katalis KOH dan NaOH dengan komposisi katalis masing-masing  0,2%; 0,4%; 0,6%  dan 1,0%. Perbandingan mol minyak dan metanol adalah 6:1. Hasil penelitian didapatkan kondisi optimum katalis NaOH dan KOH untuk reaksi transesterifikasi minyak sawit dengan metanol yang menghasilkan yield metil ester terbanyak dicapai pada 0,6%. Yield gliserin terbesar pada KOH yaitu 16,75%  dan yield gliserin untuk NaOH adalah 16%. Kualitas refined-glyserin hasil pemurnian gliserin untuk NaOH adalah gliserin 43,90%, 70,57%, dan 96,42%, sedangkan untuk KOH adalah gliserin 39,40%, 67,11%, dan 97,35%. Kata kunci : minyak sawit,transesterifikasi, refined-glyserin, katalis.
PENGARUH SUHU TERHADAP KECEPATAN REAKSI PADA REAKSI HIDROLISIS LIGNOSELULOSA DARI TONGKOL JAGUNG DENGAN ASAM ENCER PADA KONDISI NON-ISOTERMAL Damayanti, Astrilia
Jurnal Kompetensi Teknik Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar terus mengalami peningkatan di dunia, khususnya di Indonesia. Penggunaan etanol untuk bahan bakar dapat menurunkan ketergantungan terhadap minyak luar negeri, mengurangi polusi udara, dan mengurangi dampak pemanasan global. Secara umum produksi bioetanol meliputi tiga proses yaitu hidrolisis, fermentasi dan pemurnian hasil. Penelitian ini mempelajari pengaruh suhu terhadap kinetika reaksi hidrolisis tongkol jagung dengan katalisator asam sulfat encer. Variabel suhu yang diteliti antara 433 – 493 K. Model kinetika homogen dipilih untuk mempelajari kinetikanya. Percobaan dilakukan dengan memasukkan 1 L larutan asam sulfat 0,18 N dan 300 g tongkol jagung ke dalam autoclave. Ketika mencapai suhu 373 K diambil sebagai waktu 0 menit dan sampel diambil kira-kira 6 ml. Setelah mencapai suhu yang diinginkan, suhu dijaga konstan. Selama proses, setiap 5 menit temperatur dicatat dan diambil sampelnya. Kemudian konsentrasi gula dalam sampel dianalisis dengan metode Fehling. Percobaan dijalankan pada variabel suhu. Percobaan menghasilkan data suhu dan konsentrasi gula pada berbagai waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinetika reaksi hidrolisis dapat didekati dengan model homogen orde dua semu. Pengaruh suhu terhadap konstanta kecepatan reaksi mengikuti persamaan Arrhenius, dengan nilai k sebesar 1.3987.10-3, 2.1658.10-3, 3.6974.10-3, and 5.8996.10-3 L/(mol.menit) untuk masing-masing suhu 433, 453, 473, and 493 K.   Kata kunci: bioetanol, hidrolisis, homogen, kinetika, tongkol jagung
Pengaruh Suhu terhadap Kecepatan Reaksi pada Reaksi Hidrolisis Lignoselulosa dari Tongkol Jagung dengan Asam Encer pada Kondisi Non-isotermal Damayanti, Astrilia; -, Megawati
Jurnal Kompetensi Teknik Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar terus mengalami peningkatan di dunia,khususnya di Indonesia. Penggunaan etanol untuk bahan bakar dapat menurunkanketergantungan terhadap minyak luar negeri, mengurangi polusi udara, dan mengurangi dampakpemanasan global. Secara umum produksi bioetanol meliputi tiga proses yaitu hidrolisis,fermentasi dan pemurnian hasil. Penelitian ini mempelajari pengaruh suhu terhadap kinetika reaksihidrolisis tongkol jagung dengan katalisator asam sulfat encer. Variabel suhu yang diteliti antara433 – 493 K. Model kinetika homogen dipilih untuk mempelajari kinetikanya. Percobaan dilakukandengan memasukkan 1 L larutan asam sulfat 0,18 N dan 300 g tongkol jagung ke dalam autoclave.Ketika mencapai suhu 373 K diambil sebagai waktu 0 menit dan sampel diambil kira-kira 6 ml.Setelah mencapai suhu yang diinginkan, suhu dijaga konstan. Selama proses, setiap 5 menittemperatur dicatat dan diambil sampelnya. Kemudian konsentrasi gula dalam sampel dianalisisdengan metode Fehling. Percobaan dijalankan pada variabel suhu. Percobaan menghasilkan datasuhu dan konsentrasi gula pada berbagai waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinetikareaksi hidrolisis dapat didekati dengan model homogen orde dua semu. Pengaruh suhu terhadapkonstanta kecepatan reaksi mengikuti persamaan Arrhenius, dengan nilai k sebesar 1.3987.10-3,2.1658.10-3, 3.6974.10-3, dan 5.8996.10-3 L/(mol.menit) untuk masing-masing suhu 433, 453, 473,and 493 K.Kata kunci: bioetanol, hidrolisis, homogen, kinetika, tongkol jagung
Pembuatan Metil Ester (Biodiesel) dari Biji Ketapang Damayanti, Astrilia
Jurnal Kompetensi Teknik Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pohon ketapang sering dijadikan sebagai pohon peneduh di taman-taman dan tepi jalan. Adanya kandungan minyak pada biji ketapang dimungkinkan untuk dimanfaatkan menjadi metil ester (biodiesel). Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar diesel yang dibuat dari bahan baku yang dapat diperbaharui seperti minyak nabati dan lemak hewan. Sintesis biodiesel terdiri dari ekstraksi biji ketapang dan transesterifikasi menggunakan metanol dan minyak biji ketapang dengan perbandingan mol metanol terhadap minyak yang digunakan adalah 6:1 dengan katalis basa sebesar 0,5-1% berat minyak. Rendemen metil ester minyak biji ketapang dari Kampus Unnes Sekaran lebih besar dari Kampus UI Depok, yaitu 85,067% serta hasil analisis metil ester minyak biji ketapang dari Kampus Unnes Sekaran memenuhi persyaratan Biodiesel SNI 04-7182-2006.Kata kunci: metil ester, biji ketapang, rendemen metil ester
BIOHYDROGEN PRODUCTION BY REUSING IMMOBILIZED MIXED CULTURE IN BATCH SYSTEM Damayanti, Astrilia; Sarto, Sarto; Sediawan, Wahyudi Budi
International Journal of Renewable Energy Development Vol 9, No 1 (2020): February 2020
Publisher : Center of Biomass & Renewable Energy, Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1326.691 KB) | DOI: 10.14710/ijred.9.1.37-42

Abstract

Biohydrogen production via dark fermentation is a prospective renewable energy technology. In the process, reused of immobilized mixed culture is very important as their activities greatly influencehydrogen production. The aim of this work was to evaluate the reuse of alginate beads affecting the biohydrogen production for 45 days. This study in batch reactor were performed using glucose 10 M as substrate, alginate and activated carbon as immobilization matrix materials, chicken eggshell as buffer, and cow dung biodigester as mixed culture. Hydrogen and pH on fermentation product are investigated by gas chromatography (GC) technique and pH meter, respectively. The colony diameter on immobilized and co-immobilized mixed culture was observed using optical microscope and colony diameter was measured using Image-Pro Plus Software v4.5.0.29. The surface morphology of immobilization and co-immobilization beads were determined using scanning electron microscope (SEM). The results showed that the colonies growth observed using optical microscopy or SEM was apparent only in the immobilization of mixed culture. The average growth and diameter of colonies per day were 90 colonies and 0.025 mm, respectively. The weight of beads and pH during the 45-day fermentation process for bead immobilization of mixed culture were 1.32?1.95 g and 6.25?6.62, correspondingly, meanwhile, the co-immobilizations of the mixed culture were 1.735?2.21g and 6.25?6.61, respectively. In addition, the average hydrogen volume of glucose fermented using an eggshell buffer and reusing the immobilization and co-immobilization beads was 18.91 mL for 15 cycles.©2020. CBIORE-IJRED. All rights reserved
ESSENTIAL OIL EXTRACTION OF FENNEL SEED (FOENICULUM VULGARE) USING STEAM DISTILLATION Damayanti, Astrilia; Setyawan, Eko
International Journal of Science and Engineering Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.783 KB) | DOI: 10.12777/ijse.3.2.12-14

Abstract

Indonesia is a potential country in developing essential oils which is each part of the plants produce essential oils such as leaf, seed, fruit, and root. One of the potential plants is fennel. Fennel oil distillation used fennel seed from Cepogo District, Boyolali Regency. The characteristics of the seed are; the color is black and the length is 0,2 centimeters. The condition operation to exctract of the fennel seed are 1 atm and 7,5 hours. The calculation of the time started when the first fennel oil dropped into the decanter. It finished when the fennel oil was not dropped anymore. The color is bright and muddy. The last process is add 1% (m/m) Na2SO4 anhidrous into fennel oil to absorp remain water in it. The distillation process produce fennel oil102,125 grams. Sample of fennel oil tested which are density test, solubility on 90% alcohol, GC-MS test, and AAS test. The result shows that fennel oil from the fennel seed is 2,0425%. The tested samples contain the brightest and the muddies sample. The density of 0,9500 and 0,949 g/cc respectively that is not fulfill to  the Food Chemical Codex (FCC). Samples solubility in 90% alcohol (1:3) is fulfill to the the Food Chemical Codex (FCC).  Three main components of the brightest sample are anethole (47,51%), estragole (22,41%), and  ?-fensone (21,92%) while the muddiest sample?s components are anethole (52,38%), estragole (21,37%),and ?-fensone (15,74%). The AAS test shows that fennel oil contains 65,1473 ppm which does not fulfill the Indonesian National Standards of  patchouli and clove leaf oil. [Keywords? essential oil; extraction; fennel seed; steam distillation
PENGOLAHAN BIJI MAHONI (Swietenia Macrophylla King) SEBAGAI BAHAN BAKU ALTERNATIF BIODIESEL Damayanti, Astrilia; Bariroh, Siti
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 1, No 1 (2012): June 2012
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v1i1.2539

Abstract

Peningkatan kebutuhan minyak bumi yang terus menerus akan mengakibatkan kelangkaan bahan bakar minyak. Sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, salah satunya adalah biodiesel. Bahan baku potensial untuk memproduksi biodiesel yang tidak bersaing dengan bahan baku pangan contohnya adalah biji mahoni (swietenia macrophylla king). Tahapan yang diperlukan dalam percobaan biodiesel adalah proses pengambilan minyak biji mahoni dengan proses penyangraian, degumming, dan proses transesterifikasi. Alat yang diperlukan dalam pembuatan biodiesel yaitu: labu alas bulat dilengkapi kondensor, gelas ukur, pengaduk magnetik, alat-alat gelas lab, dan lain sebagainya. Proses pengambilan minyak dilakukan dengan penyangraian yang hasilnya di degumming dengan asam fosfat 5% b/b pada suhu 80ºC selama 15 menit. Degumming bertujuan untuk menghilangkan getah, lendir, protein, resin dan gum. Proses kedua yaitu transesterifikasi dengan metanol 1:6 (minyak dan mtanol) dengan KOH 0,1 N pada suhu 60ºC selama 1 jam. Setelah diperoleh metil ester, dilakukan proses pencucian atau penetralan metil ester pada suhu pemanasan 104ºC untuk menghilangkan kadar airnya. Dari hasil percobaan diperoleh rendemen minyak sebesar 86,92%, uji densitas 874,08 kg/m³, viskositas 3,07 mm2/s, dan bilangan asam 0,5601 mg KOH/g. Metil ester yang dihasilkan telah sesuai dengan SNI-04-7182-2006. An increased demand of the fossil fuel would lead to scarcity of the fossil fuel in the future. An alternative of environmentally friendly energy sources is biodiesel. It is accounted that the resources for producing biodiesel should not compete with food raw materials, such as mahogany grain, (swietenia macrophylla king). The necessary steps in the experiment of producing biodiesel are process of taking the mahogany seed-oil by using roasting method, degumming, and transesterification process. The required equipments for producing biodiesel were round-bottom flask equipped with condenser, measuring cylinder, magnetic stirrer, other lab-glassware, etc. Firstly, the process of taking the oil from mahogany seed was carried by using roasting method; then the result was degummed by using 5wt% of Phosphate acid at 80 oC for 15 minutes. The degumming process was aimed to remove sap, mucus, proteins, resin and gum. The second step was transesterification process using methanol 1:6 (oil and methanol) and 0.1N KOH solutions, which was carried out at 60 oC for 1 hour. Once the methyl ester was produced, the next steps were washing and neutralization of methyl ester at heating temperature of 104 oC to remove the water content in the methyl ester. The obtained yield from the experiments was 86.92%. The tested density, viscosity, and the acid value were 874.08 kg/m³, 3.07 mm2/s, and 0.5601 mg KOH/g, respectively. The produced Methyl ester is in accordance with SNI-04-7182-2006.
KINETICS OF ENZYMATIC HYDROLYSIS OF PASSION FRUIT PEEL USING CELLULASE IN BIO-ETHANOL PRODUCTION Megawati, Megawati; Damayanti, Astrilia; Putri, Radenrara; Pratama, Angga; Muftidar, Tsani
Reaktor Volume 20 No.1 March 2020
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/reaktor.20.1.10-17

Abstract

This research aims to study the hydrolysis of passion fruit peel using cellulase and its evaluation for ethanol production. Passion fruit peel is a fruit processing waste that has not been utilized properly. Passion fruit peel contains holo-cellulose (64% w/w), which can be converted into ethanol through hydrolysis followed by fermentation. Hydrolysis using cellulase is more efficient and its fermentation using yeast to produce ethanol is common. The hydrolysis is carried out at various enzyme ratios (3, 5, 7, and 9% v/v) and at temperature 30 oC, material concentration 5 g/100 mL, pH 4-5, and shaking speed 160 rpm. The kinetics chosen were heterogeneous models; they were the fractal model by Valjamae and Kopelman. Before being hydrolyzed, the essential oil and pectin in passion fruit peel were extracted, because the compositions were quite high; the results were around 16.23 and 11.36% w/w, respectively. The effect of the enzyme ratio to the sugar concentration by hydrolysis is very significant. At 9 h, the glucose concentration reached 45.38, 51.86, 60.50, 66.00 g/L at various enzyme ratios of 3, 5, 7, 9% v/v. During the hydrolysis, the glucose concentration continues to increase and starts to decrease after 9 h. Hydrolyzate solution fermentation obtained from hydrolysis in various enzyme ratios showed consistent results; the higher the enzyme ratio and glucose, and the higher the ethanol will be (5.6, 6.8, 7.6, and 8.9% v/v). The kinetics model by Valjamae is more appropriate to describe the enzymatic hydrolysis mechanism of passion fruit peel than Kopelman. The fractal exponent values obtained from Valjamae and Kopelman models were 0.28 and 0.27. In Valjamae model, the enzyme ratio rises, from 3 to 9% v/v, the rate constant rises from 0.22 to 0.53 1/h. In Kopelman model, the rate constant rises too, from 0.21 to 0.51 1/h.Keywords: bio-ethanol; cellulase; enzymatic hydrolysis; fractal kinetic; passion fruit peel
PENGOLAHAN SAMPAH DAUN KERING MENJADI BRIKET ARANG SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Damayanti, Astrilia; Wijaya, Burhan Rubai; Rahayu, Rr Sri Ratna
Rekayasa Vol 9, No 1 (2011): Juli 2011
Publisher : Unnes Journal. Research and Community Service Institute, Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan semakin menipisnya cadangan minyak bumi Indonesia, Pemerintah mengalihkan  minyak tanah dengan LPG (bahan bakar gas). Oleh karena itu, perlu bahan bakar alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Salah satunya adalah mengolah sampah daun kering menjadi briket arang. Materi kajian ini disusun berdasarkan hasil observasi dan identifikasi lapangan, dan pengumpulan data yang bersumber dari studi literatur dan uji laboratorium dari hasil pembuatan briket arang. Metode kegiatan meliputi persiapan bahan baku (blotong, daun kering, kulit durian), pencampuran bahan baku dengan menggunakan perekat, dan pencetakan adonan briket menggunakan pipa pralon dan alat press manual. Hal tersebut dilakukan melalui praktik pembuatan briket dari daun kering, blotong dan kulit durian serta uji nilai kalor masing-masing bahan baku di laboratorium. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa nilai kalor briket (Kal/g) limbah kulit durian dengan karbonasi, blotong tanpa karbonasi, dan batubara, berturut-turut adalah 7670, 3863,402, 7540, dan 4310.