Articles

Found 32 Documents
Search

THE EFFECT OF VITAMIN E SUPPLEMENTATION ON THE HISTOPATHOLOGICAL CHANGES OF THE HEARTS MICE GIVEN HIGH FAT DIET Daud, Razali
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 1, No 1 (2007): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v1i1.3121

Abstract

The aim of this study was to determine the protective effect of vitamin E on mice heart. Twentyfivemalemiceweighing±40gattheageof3monthswereused.Themicewereadaptedforaweekandfedbasaldiet.Themicewerefednormaldietascontrol(group1),highfat+50IUVitaminE(groupII);highfat + 100 IU Vitamin E (group III) high fat + 200 IU Vitamin E (group IV); high fat + 400 IUVitamin E (Group V). Diet was given about 10% body weight, water was given ad libitum every day. After 3 months, all animal were then killed. The hearts were collected for routine histopathologicalexamination. The result indicate that lesions in the heart consist of swollen eosinophilic hyalinization ofcytoplasm, vacuolization, and necrosis myocardium (cardiomiopathy) in all mice receiving high fat dietwith less than 400 IU Vitamin E.Keywords: high fat diet, vitamin E, cardiovascular diseases 
Effect of Vitamin E Supplementation in the Low Density Lipoprotein Consentration and Histopatologic Changes of the Wistar Rats Aorta Given High Fat Diet Daud, Razali
Jurnal Medika Veterinaria Vol 8, No 1 (2014): J. Med. Vet.
Publisher : UNIVERSITAS SYIAH KUALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.355 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v8i1.3341

Abstract

The aims of this research were: a) to determine the protective effect of vitamin E in the low density lipoprotein concentration and aorta , b) to give information, especially in the relationship between the high fat diet and the incidence of cardiovascular diseases. Twenty five male wistarrats weighing 200–250 grams at the age of 3 months were used in this study. Completely randomized design was implemented for thisexperiment. The rats were acclimated for a week and fed with CP 521 (basal). The rats were then randomly allotted into 5 groups, 5 sampleseach. The rats were fed basal (CP 521) as control (G I), high fat diet (CP 521 + palm oil 10%) + 50 IU vitamin E (G II), high fat diet fat + 100IU vitamin E (G III), high fat diet + 200 IU vitamin E (G IV) and high fat diet + 400 IU vitamin E (G V). Diets were given about 10% of bodyweigh and it’s fed up every day. Water was given ad libitum. Based on statistically analysis showed that very significance (P<0,01) between thetreatment. Result indicated that given high fat diet + 400 IU vitamin E could apparently reduce LDL concentration, Lesion in the aortaconsisting of hemorrhagic and hyperemic were found in all rats receiving high fat diet supplemented with less than 400 IU vitamin E. The ratsreceiving high fat diet + 400 IU vitamin E (G V) the aorta were normal. It was concluded that the diet containing high fat and high vitamin Esupplementation (400 IU ration) in the diet could protected the incidence of atherosclerosis.____________________________________________________________________________________________________________________Key words: atherosclerosis, high fat diet, vitamin E, 
PENGARUH SUPLEMENTASI VITAMIN E TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS HATI TIKUS PUTIH WISTAR YANG DIBERI RANSUM LEMAK TINGGI Daud, Razali
JURNAL SAINS PERTANIAN Jurnal S. Pertanian 4 (1) : 48-52 (2014)
Publisher : JURNAL SAINS PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh vitamin E terhadap gambaran histopatologis hati tikus putih (Wistar) yang diberi ransum tinggi lemak. Dua puluh lima ekor tikus putih jantan digunakan dalam penelitian ini dan dibagi secara acak dalam 5 kelompok perlakuan, tiap kelompok terdiri dari 5 ekor. Tikus putih KI, diberi ransum CP 521; KII, diberi ransum CP 521 + minyak kelapa 10% (ransum lemak tinggi) + vitamin E 50 lU; KIII , diberi ransum lemak tinggi + vitamin E 100 lU; KIV, diberi ransum lemak tinggi + vitamin E 200 lU; dan KV, diberi ransum lemak tinggi + vitamin E 400 lU. Perlakuan dilaksanakan selama 3 bulan. Setelah 3 bulan, hati diambil untuk pemeriksaan rutin histopatologis dengan metode mikroteknik dan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE). Hasil pengamatan secara mikroskopik, pada kelompok KI dan KV menunjukkan histopatologis hati dalam keadaan normal, tetapi pada KII, KIII, dan KIV, terlihat adanya degenerasi hepatosit. Dapat disimpulkan bahwa pemberian ransum lemak tinggi + vitamin E 400 IU mampu melindungi terhadap degenerasi hepatosit.Kata kunci: ransum lemak tinggi, degenerasi hepatosit
THE USE OF SOUR SOUP (ANNONA MURRICATA) SEED POWDER AS ACARICIDE ON COW AND GOAT Fahrimal, Yudha; Daud, Razali; Chandra, Adi; Iqbal, Syauki; Roslizawaty, Roslizawaty
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 4, No 1 (2010): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v4i1.9797

Abstract

This research was aimed to study curative effect of sour soup seed powder on cattle invested with ticks and goat infected with scabies. This study was using 12 cattle invested with ticks and 12 goats with scabies. The cattle divided into 4 groups (S1, S2, S3 and S4) while goats were divided into 3 groups (K1, K2, and K3) equally. For cattle with ticks group S1 received water (control group), while group S2, S3, and S4 received 1%, 5%, and 10% sour soup powder respectively. Ticks that fell to the ground and not engorged were collected and identified. Statistical analysis showed that all concentrations of sour soup were effective in paralyzing and or killing ticks of the genera Boophilus sp. and Dermacentor sp. but were not effective against Rhipicepalus sp. For goats with scabies, groups K1, K2, and K3 received 1, 5 and 10% sour soup powder respectively mixed with water applied to whole area of infected and uninfected skin surrounding infected area. Number of mites per cm2 before and after treatment was counted. Statistical analysis showed that 1, 5, and 10% sour soup powder effective in reducing the number of scabies mites on day 1 and 7 after treatment and were significantly different from those number of mites before treatment (P 0.01). Statistical analysis also showed that no significant difference among concentration of sour soup seed powder in decreasing the number of mites (P 0.05).
RESPONS ANTIBODI AYAM PETELUR YANG DIBERIKAN PROTEIN EKSKRETORI/SEKRETORI DAN DITANTANG DENGAN TELUR INFEKTIF ASCARIDIA GALLI D, Darmawi; Balqis, Ummu; Tiuria, Risa; Soejoedoeno, Retno Damayanti; Pasaribu, Fachriyan Hasymi; Hambal, Muhammad; Daud, Razali
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 2 (2013): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i2.929

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui respons antibodi dalam serum ayam petelur terhadap ekskretori/sekretori, dan ditantang dengan telur infektif Ascaridia galli (A. galli) Sebanyak 12 ekor ayam dibagi dalam empat kelompok. Kelompok pertama adalah ayam yang tidak diimunisasi dan tidak diinfeksi (kontrol), kelompok kedua adalah ayam yang diimunisasi dengan dosis 260 µg ekskretori/sekretori larva A. galli, kelompok ketiga adalah ayam yang diinfeksi dengan dosis 1000 telur infektif A. galli, dan kelompok keempat adalah ayam yang diimunisasi dengan dosis 260 µg ekskretori/sekretori dan satu minggu kemudian ditantang dengan dosis 1000 telur infektif A. galli. Respons antibodi pada masing-masing kelompok dianalisis dengan uji enzymelinkedimmunosorbantassay (ELISA) setiap satu minggu selama 10 minggu pascainfeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imunisasi dan atau infeksi dapat memicu peningkatan titer antibodi serum secara signifikan (P 0,05) selama 10 minggu pascainfeksi. Titer tertinggi adalah 2,63±1,20 OD (optical density) dicapai pada minggu ke-3 pascainfeksi dan titer terendah adalah 1,51±0,48 OD pada minggu ke-0. Ekskretori/sekretori dapat memicu respons antibodi serum ayam petelur terhadap A. galli.
PENGARUH PENINGKATAN SUHU TERHADAP JUMLAH ERITROSIT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Bangsa, Puja Cikal; -, Sugito; -, Zuhrawati; Daud, Razali; Asmilia, Nuzul; -, Azhar
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.789 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2985

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh peningkatan suhu terhadap jumlah eritrosit ikan nila. Sampel yang digunakan adalah darah ikan nila yang berasal dari 18 ekor ikan nila dengan bobot badan berkisar 40-50 g. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acaklengkap (RAL) pola searah dengan tiga perlakuan dan enam kali ulangan. Perlakuan P1 sebagai kontrol merupakan perlakuan dengan suhu akuarium 29±1°C, P2 merupakan perlakuan dengan suhu akuarium 32±1°C, dan P3 merupakan perlakuan dengan suhu akuarium 35±1°C. Ukuran akuarium pada masing-masing kelompok perlakuan adalah 80 x 60 x 40 cm dengan ketinggian air 30 cm. Perlakuan dilakukan selama 15hari dan pada hari ke-16 dilakukan pengambilan sampel darah. Darah diambil melalui vena caudalis. Data dianalisis dengan analisis varian(ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Rata-rata (±SD) jumlah eritrosit ikan nila (106/mm3) pada P1, P2, dan P3 masing-masing adalah 3,01x106/mm3; 2,63x106/mm3; dan 2,08x106/mm3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu berpengaruh (P<0,05) terhadap jumlaheritrosit ikan nila. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan suhu air 32±1°C dan 35±1°C dalam akuarium dapat menurunkan jumlah eritrosit ikan nila.
PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTELMINTIK ALBENDAZOLE DAN LEVAMISOLE TERHADAP ASCARIDIA GALLI SECARA IN VITRO Balqis, Ummu; Hambal, Muhammad; Darmawi, .; Harris, Abdul; Rasmaidar, .; Athaillah, Farida; Muttaqien, .; Azhar, .; Ismail, .; Daud, Razali
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 4 No. 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.142 KB) | DOI: 10.29244/avi.4.2.97-102

Abstract

Penelitian ini meneliti aktivitas antelmintik albendazole dan levamisole terhadap hambatan motilitas, percepatan waktu paralisis, dan motilitas cacing Ascaridia galli dewasa secara in vitro. Sebanyak empat ekor cacing masing dibuat triplikat dalam NaCl 0,9% masing-masing dengan konsentrasi 15 mg/ml Albendazole, dan 0.6 mg/ml Levamisole. Motilitas cacing diamati pada interval 10, 20, 30, dan 40 jam. Paralisis dan kematian diamati pada tampilan tidak ada pergerakan badan pada bagian kepala dan ekor cacing. Hasil menunjukkan bahwa aktivitas albendazole dan levamisole terhadap mortalitas A. galli berturut-turut terjadi pada 40 dan 30 jam pasca inkubasi. Levamisole dapat menghambat motilitas A. galli pada jam ke 10 dan juga menyebabkan lebih awal paralisis pada 6,75 ± 0,50 jam pasca inkubasi. Kajian tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas antelmintik levamisole lebih awal dibandingkan efek albendazole pada cacing A. galli.
PENGARUH PENGGUNAAN GETAH BATANG PISANG KEPOK (Musaparadisiaca forma typica) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA OPERASI PADA ANJING LOKAL (Canis familiaris) Daud, Razali
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.709 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2996

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi getah batang pisang kepok dalam proses penyembuhan luka operasi. Penelitian ini menggunakan 10 ekor anjing lokal (Canis familiaris) sehat yang berumur rata-rata 6 bulan dengan bobot badan 6-7 kg. Sebelum perlakuan dilaksanakan, semua anjing diadaptasikan selama tujuh hari di dalam kandang individu, setiap anjing dilakukan operasi laparotomi. Anjing dibagi dalam dua kelompok secara acak. Kelompok I diinjeksi penisilin-G dan dioleskan salep oksitetrasiklin pagi dan sore sebagai kontrol, kelompok II dioleskan getah batang pisang kepok pagi dan sore hari sebagai perlakuan. Pengamatan dilakukan setiap hari pada pagi hari sampai luka operasi sembuh. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif berdasarkan pengamatan makroskopis terhadap luka kelompok I dan dibandingkan dengan kelompok II berdasarkan adanya kemerahan, kebengkakan, dan pertautan tepi luka. Pada kelompok II terjadi penyembuhan luka operasi yang sama dengan kelompok I. Dapat disimpulkan bahwa, penggunaan getah batang pisang kepok dapat menyembuhkan luka, sama halnya dengan proses kesembuhan luka yang menggunakan injeksi penisilin-G dan dioleskan salep oksitetrasiklin.
PERBANDINGAN LUAS RONGGA PELVIS SAPI ACEH INDUKAN DAN SAPI BALI INDUKAN DI ACEH BESAR (Comparison of pelvic sizes of Aceh and Bali Cows in Aceh Besar Regency) nasution, dara aftika; riady, ginta; daud, razali; hasan, muhammad; fahrimal, yudha; helmi, teuku zahrial
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.676 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.2637

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan luas rongga pelvis sapi aceh betina indukan dan sapi bali betina indukan di Aceh Besar. Pengukuran luas rongga pelvis sapi dilakukan dengan menggunakan alat rice pelvimeter. Sampel yang digunakan meliputi 10 ekor sapi aceh betina indukan dan 8 ekor sapi bali betina indukan dengan umur 2,9 - 4,4 tahun. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata rongga pelvis sapi bali betina indukan dan sapi aceh betina indukan, yaitu (218,25 ± 27,47) dan (149,60 ± 16,70) cm2. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa rongga pelvis sapi bali indukan lebih besar (p<0,01) dari pada rongga pelvis sapi aceh indukan. Luas rongga pelvis pada kedua sampel diklasifikasikan “besar”.Kata kunci : sapi aceh, sapi bali, rongga pelvis, rice pelvimeter ABSTRACTK This study aims to compare the pelvic sizes of aceh and bali cows in Aceh Besar regency. The measurement of the pelvic sizes of the sampled cows were carried out using rice pelvimeter tool. Sampled cows consisted of  ten Aceh cows and  eight Bali cows, with ages ranging from 2.9 - 4.4 years. Data collected were analysed using t-test. The result of this study showed that the pelvic sizes of bali cows and aceh cows were;(218.25 ± 27.47) and (149.60 ± 16.70) cm2, respectively. Statistical analysis showed that pelvic size of bali cows are highly significantly larger (p<0,01) than of aceh cows. The pelvic sizes of both sampled cows are classified as "large".Keyword : aceh cow, bali cow, pelvic area, rice pelvimeter
HUBUNGAN LINGKAR SKROTUM DAN KONSENTRASI SPERMATOZOA PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA (PE) JANTAN (The Relationships of Scrotal Circumference and Sperm Concentration in Male Ettawa Cross Breed) Hendri, Muhammad; Riady, Ginta; Daud, Razali
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 2, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.797 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v2i1.5932

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lingkar skrotum dan konsentrasi spermatozoa pada kambing peranakan ettawa (PE) jantan. Penelitian menggunakan 10 ekor kambing PE jantan yang dibagi dalam dua kelompok umur yaitu kelompok I umur 1-1,5 tahun dan kelompok II umur 2-4 tahun. Pengukuran lingkar skrotum menggunakan scrotal measuring tape dan penampungan semen menggunakan elektroejakulator. Analisis data menggunakan koefisien korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan lingkar skrotum kambing PE jantan pada kelompok umur I dan II yaitu (24,1±1,5) dan (26,4±0,9) cm dengan rataan konsentrasi spermatozoa (1.630±533,5) dan (2.074±262,2) x 106/ml. Hasil analisis koefisien korelasi antara lingkar skrotum dan  konsentrasi  spermatozoa yaitu (r = 0,673) menunjukkan hubungan yang positif sangat nyata (p<0,01). Semakin besar lingkar skrotum maka konsentrasi spermatozoa semakin tinggi.Kata kunci: Lingkar skrotum, konsentrasi spermatozoa, dan kambing PE. ABSTRACT This study aims to know the relationships of scrotal circumference and sperm concentration in male Ettawa Cross Breed. Data for this study were obtained from 10 males Ettawa Cross Breed which were divided into two age groups. Group I age 1-1,5 years and group II age 2-4 years. Measurement of scrotal circumferences were obtained by using scrotal measuring tape and collection of semen were carried out using electroejaculator. Data were analysed by using correllation coefficient. The result showed that the scrotal circumference of male ettawa cross breed in group I and II were (24,1±1,5) and (26,4±0,9) cms with sperm concentration (1.630±533,5) and (2.074±262,2) x 106/ml. The analysis results of this study showed that the relationship of scrotal circumference and sperm concentration (r = 0, 673) were found to be highly significantly different (p<0,01). The greater of scrotal circumference, the higher of sperm concentration. Key words: Scrotal circumference, sperm concentration, and Ettawa cross breed.                                                                                                    
Co-Authors . Azhar . Darmawi . ISMAIL Abdul Harris Abdullah Hamzah, Abdullah Agustina, Iin Al Azhar Amiruddin Amiruddin Arman Sayuti Athaillah, Farida AZHAR - Azhar Azhar budianto panjaitan Chandra, Adi Cut Nila Thasmi, Cut Nila Darmawi D Darmawi Darmawi Darniati Darniati Dasrul Dasrul Dian Masyitah, Dian Dian Pratiwi Dwina Aliza Dwinna Aliza Eliawardani Eliawardani, Eliawardani Elsa Mariane Ramadani, Elsa Mariane Erdiansyah Rahmi Erina Erina Fachriyan Hasymi Pasaribu Faisal Jamin Farida Farida Fauzi, Mirna Safrani Fazil, Raivan Gholib Gholib, Gholib Ginta Riady Ginting, Septian Tri Mulyana Hamdan Hamdan Hamdani Budiman Hamny Hamny Helmi, T. Zahrial HENNIVANDA, HENNIVANDA Herrialfian, Herrialfian Herrialfian, Herrialfian Intan Fitri Aprila, Intan Fitri Iqbal, Syauki Ismail Ismail Juli Melia Khairiah Khairiah M. Hanafiah M. Nur Salim Mahdi Abrar Maldini, Audi Mamas, Muhammad Anshar Maryam Maryam Maryulia Dewi Muhammad Hambal Muhammad Hasan Muhammad Hendri Mulyadi Adam, Mulyadi Muslina Muslina, Muslina Mustafa Sabri Muttaqien Bakri, Muttaqien Muttaqien Muttaqien, Muttaqien Muttaqien, . nasution, dara aftika Nazaruddin Nazaruddin Nazarudin, Nazarudin Nova Lianda, Nova Nurul Hadi, Nurul Nurul Hidayati Nuzul Asmilia Puja Cikal Bangsa, Puja Cikal Rahayu, Nur Inda Rahayu, Yezi Gita Rahmi, Irfani Rasmaidar Rasmaidar Rasmaidar, . Retno Damayanti Soejoedoeno Rinidar Rinidar, Rinidar Risa Tiuria Rizki, Adistya Putra rosadi, permata Roslizawaty -, Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty, Roslizawaty Rosmaidar Rosmaidar, Rosmaidar Rusdiana, Supardi Rusli Rusli Rusli Sulaiman Sugito - Sugito Sugito Syafruddin Syafruddin Syinta Ramadhani, Syinta T. Armansyah T. Fadrial Karmil Teuku Zahrial Helmi Tongku Nizwan Siregar Ummu Balqis Winaruddin Winaruddin Yudha Fahrimal Z, Zuhrawati Zainuddin Zainuddin Zuhrawati -, Zuhrawati Zuhrawati NA Zuhrawati Zuhrawati, Zuhrawati Zulfan, Muhammad